Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani....
Tuesday, July 13, 2010 3:56:04 AM
Kekonsistenan Yesus Menurut Markus 10:45
Falsafah dasar Yesus Kristus tentang penginjilan sebenarnya berkisar seputar pemahaman tentang diri-Nya dan misi-Nya. Rentetan pemahaman tentang pribadi Yesus dan misi-Nya dapat dilihat dalam penjelasan di bawah ini.
a. Yesus melihat diri-Nya sebagai “Pemberita yang diurapi Allah” (Pemberita Mesias) dengan tugas Mesianik (Lukas 4:18) yang datang untuk melakukan pekerjaan sebagai Imam Raja, Imam Besar (pemberi berkat); imam — yang memberi diri sebagai korban. Tugas Mesianik ini berhubungan dengan pekerjaan tebusan, di mana Ia telah dikhususkan untuk itu. Dari pihak Allah, Ia adalah korban anugerah untuk menebus manusia berdosa. Sedangkan dari pihak manusia, Ia adalah korban pengganti, yaitu mengambil tempat manusia. Dia dikutuk dan dihukum untuk menggantikan manusia (1Petrus 2:22-24 — banding Yesaya 53). Inilah inti berita Injil (1Yohanes 4:10).
b. Yesus melihat diri-Nya sebagai “Pemberita yang diutus” dengan suatu berita (Pemberita Rasul/Apostle) dengan tugas apostolik. Untuk ini bacalah Lukas 4:19, yang berbicara tentang tugas misioner/penginjilan. Tugas ini menyangkut “datang sebagai utusan Allah” dengan “karya pembebasan”, yaitu pembebasan dalam segala bidang atau pembebasan total. Bila Yesus membebaskan, Ia membebaskan secara total, yaitu meliputi segi materi dan non materi manusia itu dari kuasa dosa (Galatia 5:1). Jadi, berita pembebasan Yesus itu harus bekerja dalam segala bidang pula. Pembebasan rohani adalah kunci dalam pembebasan di segala segi kehidupan. Semua yang telah dibebaskan akan hidup dalam rahmat Tuhan (Yohanes 17:18).
c. Yesus melihat diri-Nya sebagai Penyataan Kerajaan/Pemerintahan Allah. Di sini Ia melihat diri-Nya sebagai “tanda” bagi manifestasi kerajaan itu (Lukas 17:20-21).
Kehadiran Yesus di bumi adalah sebagai “tanda” bahwa kerajaan Allah memulai babak pembebasan dan penguasaan-Nya secara baru di bumi (Matius 16:21-28; Markus 8:31 — 9:1; Lukas 9:22-27). Dengan demikian, berita penginjilan adalah berita “kerajaan Allah”, berita yang berkisar pada Alkitab; berita sekitar pribadi Yesus Kristus, dan berita kristologis. Berita pembebasan ini bertumpu pada pribadi Yesus Kristus dan dimensinya bergerak pada batas yang berikut.
1. Penyataan kerajaan Allah adalah penyataan pembebasan Kristus yang membebaskan dari kuasa dosa. Yohanes Pembaptis menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Markus 1:4) dan Yesus Kristus menyerukan: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Markus 1:15). Yohanes dan Yesus menyampaikan berita kerajaan itu yang dapat dibuktikan sebagai “menyatakan diri” dalam pertobatan.
Dalam pertobatan, Allah membebaskan para petobat itu dari dosa dan mengklaim kekuasaan pemerintahan-Nya atas mereka yang telah dibebaskan itu. Dalam penginjilan, berita “Kerajaan Allah” datang dalam kuasa pembebasan yang diwujudkan melalui “pertobatan”. Pertobatan (berita kerajaan) harus mendapat tempat dalam tugas penginjilan itu.
2. Penyataan kerajaan Allah adalah penyataan pembebasan Allah yang menekankan kepada “kewajiban taat” dari mereka yang telah dibebaskan. Hal in dapat diungkapkan dalam cara berikut.
Menyambut kerajaan Allah — datanglah kerajaan-Mu. Orang yang telah dibebaskan akan menggunakan kebebasan untuk memberikan kesempatan kepada Allah memerintah hidupnya (Matius 6:10).
“Menyaksikan” kuasa kerajaan Allah itu bekerja (Matius 6:13), yaitu dalam pengudusan, pengampunan, kecukupan kebutuhan sehari-hari, kerelaan mengampuni, bertahan terhadap pencobaan atau kejahatan (Matius 6:9-13).
Membuktikan “kuasa kerajaan Allah” dalam pengalaman dan sikap hidup, yaitu dengan bertanggung jawab memberikan prioritas kepada-Nya (Matius 6:33). Kuasa kerajaan Allah itu dalam hal ini akan terbukti bekerja hari ini dan di sini, menjawab tantangan hari ini dalam segala segi hidup serta menjadi landasan bagi pembebasan hari esok yang merupakan rahasia bagi manusia. Dengan demikian, penginjilan dalam falsafah Yesus jelas berkisar sekitar diri-Nya sendiri (kristologi) dan dinyatakan dalam pekerjaan-Nya sebagai Mesias dengan karya penebusan-Nya, sebagai Rasul dalam karya pembebasan-Nya, dan kuasa kerajaan Allah dengan kedaulatan pemerintahan-Nya yang penuh berkat.
Pelayanan Yesus dalam Hubungannya dengan Penginjilan
Dalam bagian ini akan disoroti berturut-turut dasar, motivasi, dan praktik pelayanan Yesus Kristus dalam pelebaran kerajaan Allah.
a. Dasar pelayanan Yesus Kristus adalah kasih. Allah dengan bertumpu pada kasih-Nya, mengutus Yesus ke dunia (Yohanes 3:16; 1Yohanes 4). Dan dengan bertumpu pada kasih pula, Yesus memberi perintah yang merupakan dasar penginjilan (Yohanes 13:2, 34-35). Penginjilan hanya dapat terlaksana atas dasar kasih, yaitu kasih kepada jiwa-jiwa yang tersesat.
b. Motivasi pelayanan Yesus Kristus adalah kasih. Di dalam konteks kasihlah Yesus mengungkapkan motif pelayanan-Nya, yaitu Ia datang untuk melayani dan melayani (Yohanes 13:1-20; Markus 10:45). Hal ini disebut pula Mandat Pastoral. Yesus datang bukan untuk menjadi tuan, tetapi untuk menjadi pelayan dan melayani.
c. Praktik pelayanan Yesus adalah pelayanan dalam kasih.
1. Yesus memenuhi tugas mesianik, apostolik, dan kerajaan. Orang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan, yang kusta menjadi tahir, yang tuli dapat mendengar, yang mati dibangkitkan, yang miskin mendengar berita kabar baik (Matius 11:2-5; Lukas 4:18-19, 7:19-22; Matius 12:28-34).
2. Yesus melaksanakan tugas penginjilan dalam “three fold ministry” pelayanan lipat tiga (Matius 9:35) secara utuh dan sempurna, ke mana pun Ia pergi, yaitu:
Mengajar, yaitu menjelaskan tentang firman Allah guna melenyapkan ketidaktahuan serta mengubah konsepsi kepada pengetahuan dan pengenalan akan Allah secara benar.
Berkhotbah atau memberitakan Injil kerajaan Allah yang menyelamatkan serta membebaskan dari dosa. – Menyembuhkan, yang menggambarkan bahwa di dalam pembebasan Allah melalui Yesus Kristus, ada pembebasan fisik dari akibat dosa, ini menyangkut pembebasan total dari Allah.
Dasar bagi semua pelaksanaan ini adalah kasih (Markus 6:34) dan praktik pelayanan kasih beranjak dari dasar dan motif pelayanan kasih. Dengan demikian, dalam kasihlah penginjilan dilaksanakan dan digerakkan ke segala segi dengan segala cara untuk membebaskan dan menunjang hidup dalam pembebasan/kebebasan secara utuh dan menyeluruh.
Ayat ini menggambarkan tujuan Kristus turun ke dunia. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Layakkah Yesus dilayani? Tentu lebih dari layak. Jika raja atau presiden dan pemimpin-pemimpin dunia saja layak, Tuhan pasti jauh lebih layak dari mereka. Tapi apakah Yesus mementingkan hakNya? Ternyata tidak. Tuhan Yesus memilih untuk melepaskan hakNya, bukannya meminta pelayanan paling mewah dan top sebagai Raja di atas segala raja, tapi justru datang untuk melayani, bahkan memberikan nyawaNya sebagai tebusan untuk kita semua. Paulus mengatakan hal itu juga. Meski Yesus adalah Allah, namun Dia tidak merasa bahwa kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6-7). Semua itu sebagai bagian dari besarnya kasih Allah kepada kita yang ingin kita semua diselamatkan. Untuk menggenapinya Yesus harus mengalami peristiwa yang sungguh mengenaskan. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (ay 8). Semua demi kita, dan hari ini ketika kita memperoleh jawaban pasti mengenai pintu keselamatan, ketika hari ini kita bisa menikmati hadirat Tuhan yang kudus, semua itu kita peroleh lewat pengorbanan Yesus yang begitu luar biasa. Bayangkan, Yesus yang seharusnya layak mendapat pelayanan yang terbaik di muka bumi ini, lebih dari presiden atau pemimpin dunia sekalipun, tapi ternyata memilih untuk mengesampingkan itu semua demi menyelamatkan kita, menolong kita keluar dari kebinasaan, menebus semua dosa-dosa manusia di atas kayu salib. Bahkan kelahiranNya di muka bumi ini pun tidak menggambarkan sosok Putera dari Pemimpin di atas segala pemimpin. Anak pejabat atau orang terkemuka akan membutuhkan pelayanan dan tempat terbaik di muka bumi ini, namun Tuhan justru memilih kelahiran Yesus di dalam sebuah kandang. Tidak ada kemewahan, tidak ada pesta dan tidak ada gegap gempita apa-apa, namun kelahiran Yesus sungguh bermakna luar biasa besar yang hasilnya saat ini juga turut kita nikmati.
Menurut ke-empat Injil Yesus mengajarkan bahwa Dia akan menderita sengsara dan akan mati. Ia memberi banyak perhatian pada kamatianNya yang akan menyusul itu, terutama pada masa-masa khir pelayananNya (Matius 16:21; Markus 8:31; 9:31; 10:33-34; Lukas 9:22, 44; 12:37; Yohanes 6:51; 10:11-19). Tapi menjelang kurun waktu Markus 2:2o Ia mulai mempersiapkan murid-muridNya untuk siap menerima kenyataan yang akan terjadi, yakni bahwa Ia harus menderita dan mati. Ia menekankan bahwa penderitaanNya adalah sesuai kehendak Allah dan dalam hal itu Dia sendiri ikhlas memilih untuk menanggung sengsara dan mati demi umatNya (Markus 10:45; 14:24; Yohanes 10:11-18 ).
Ucapan Tuhan Yesus yang menetapkan pelembagaan Perjamuan Kudus jelas menyatakan hakekat kematianNya di kayu salib adalah pengorbanan. Ia memberikan raga-Nya untuk disiksa demi umat manusia, dan darahNya untuk dicurahkan demi keselamatan yang kekal (Lukas 22:19-20; Matius 26:27-28; Markus 14:22-24, bandingkan dengan Yohanes 14:2; 10:15; 19:30). KematianNya memungkinkan tersedianya pengampunan dosa (Matius 26:27-28 ), dan perjanjian baru antara Allah dan manusia diadakan (Lukas 22:20). Justru Yesus mengajarkan bahwa melalui kematianNya tersedia berkat abadi bagi banyak orang dan tercipta hubungan baru antara Allah dan manusia – melalui pengampunan dosa hasil karya pengorbananNya menyerahkan nyawaNya menjadi korban tebusan dosa. Bahasa yang Ia gunakan untuk mengungkapkan hal ini jelas diwarnai gambaran Hamba yang menderita sengsara karena menanggung hukuman dosa bagi banyak orang dan memberi mereka kebenaran (Yesaya 52:13-53:12).
Pekerjaan Allah dalam melepaskan umat-Nya Israel dari perbudakan di
Mesir (#/TB Kel 6:5; Ul 7:8*).
Keluaran 6:5 (6-4) tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku.
Ulangan 7:8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.
Demikianlah Yesus Kristus datang untuk
” memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (#/TB Mr 10:45*).
Markus 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Matius 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Matius 26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
Lukas 2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
Lukas 2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
Lukas 24:46 Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,
Yohanes 1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
Yohanes 6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
PB menekankan beberapa kebenaran mengenai kematian Kristus.
1) Kematian itu suatu pengorbanan, yaitu korban darah-Nya (bd.
#/TB 1Kor 5:7; Ef 5:2*)
2) Kematian itu adalah untuk orang lain, yaitu Dia tidak mati bagi diri
sendiri, tetapi untuk orang lain (#/TB Rom 5:8; 8:32; Mr 10:45; Ef 5:2*).
3) Kematian itu bersifat penggantian, yaitu Kristus mengalami kematian
sebagai hukuman atas dosa kita, sebagai pengganti kita (#/TB Rom 6:23*;
4) Kematian itu adalah mendamaikan, yaitu kematian Kristus demi orang
berdosa memuaskan sifat Allah yang benar dan keadaan moral-Nya, sehingga
dengan demikian mengalihkan murka Allah dari orang berdosa yang
bertobat. Integritas Allah menuntut bahwa dosa dihukum dan korban
pendamaian dibuat untuk kita. Melalui korban pendamaian oleh darah
Kristus, kekudusan Allah tetap tidak berkompromi dan Dia sanggup
menyatakan kasih karunia dan kasih-Nya dalam keselamatan dengan adil.
Harus ditekankan bahwa Allah sendirilah yang telah menetapkan Kristus
sebagai korban pendamaian. Allah tidak perlu diajak untuk menunjukkan
kasih dan belas kasihan-Nya, sebab “Allah mendamaikan dunia dengan
diri-Nya oleh Kristus” (#/TB 2Kor 5:19; bd. #/TB Yoh 3:16; Rom 5:8; 8:3,32*;
#/TB 1Kor 8:6; Ef 4:4-6*).
5) Kematian itu adalah penebusan, yaitu suatu korban untuk menebus atau
membayar kerugian karena dosa. Dalam pengertian ini, kematian Kristus
sebagai korban adalah dalam rangka meniadakan kesalahan akibat dosa.
Melalui kematian Kristus kesalahan dan kuasa dosa yang memisahkan Allah
dengan orang percaya ditiadakan.
6) Kematian Kristus itu mujarab, artinya kematian-Nya sebagai korban
pendamaian mengandung khasiat untuk menghasilkan efek penebusan penuh
yang diinginkan, bila kita menerimanya dengan iman.
7) Kematian itu adalah kemenangan, yaitu di salib Kristus berjuang dan
menang atas kuasa dosa, Iblis, dan segala kekuatan jahat yang
membelenggu manusia. Kematian Kristus adalah kemenangan awal Allah atas
musuh-musuh rohani Allah dan manusia (#/TB Rom 8:3; Yoh 12:31-32*;
#/TB Kol 2:15*). Jadi, kematian Kristus bersifat menebus. Dengan membayar
tebusan dengan hidup-Nya sendiri (#/TB 1Pet 1:18-19*), Dia membebaskan
kita dari musuh yang memperbudak umat manusia, yaitu dosa (#/TB Rom 6:6*),
kematian (#/TB 2Tim 1:10; 1Kor 15:54-57) dan Iblis (#/TB Kis 10:38*),
sehingga membebaskan kita untuk melayani Allah (#/TB Rom 6:18*;
Semua hasil di atas dari kematian Kristus sebagai korban membuka peluang
keselamatan bagi semua orang, tetapi hanya benar-benar dialami oleh mereka
yang oleh iman menerima Yesus Kristus dan kematian-Nya bagi mereka.
Aplikasi
(1) Hal yang menarik bahwa Kepemimpinan yang melayani juga telah menjadi pemahaman penting dalam praktek kepemimpinan secara umum. Ketika memberi sambutan dalam acara pemberian Penghargaan Citra Pelayanan Prima2008 yang diberikan kepada 80 unit pelayanan publik terbaik di Istana Negara pada tanggal 31 Oktober 2008, Presiden SBY menegaskan bahwa setiap pemimpin hendaknya memberi pelayanan yang terbaik bagi warganya. Bukan sebaliknya, malah minta dilayani. Sangat jelas apa yang diminta presiden SBY. Bahwa pemimpin itu harus melayani dalam arti melakukan tugas dan tanggungjawabnya sebaik mungkin bagi kepentingan masyarakat. Namun sudahkah demikian pemimpin-pemimpin kita? Dan bagaimana pemimpin-pemimpin yang mengaku atau paling tidak menganggap dirinya sebagai pemimpin kristen, sudahkah menerapkan kepemimpinan yang melayani sebagaimana mengacu kepada kepemimpinan Yesus? Ini adalah suatu tantangan bagi kesaksian setiap pemimpin kristen.
(2) Pemimpin yang melayani berarti kepemimpinan yang menghambakan diri. Identitas pemimpin Kristen adalah sebagai “hamba. Kata “hamba” berasal dari kata servant/slave atau doulos (Yunani), ebed (Ibrani) berarti seorang yang sedang dalam status sebagai pelayan atau budak. Tugasnya adalah mengerjakan pekerjaan menurut kehendak tuannya, tidak ada bantah-bantahan. Suatu sikap penyerahan segala “hak pribadi” secara utuh untuk diatur oleh majikannya. Berarti ia sedang menyangkal dirinya atau tidak berhak lagi atas hak pribadinya. Hak itu sudah melebur/menyatu dengan hak tuannya. Dan Yesus sendiri telah menerapkan kepemimpinan demikian dalam hidupnya (Mrk. 10:45).
(3) Pemimpin yang melayani berarti kepemimpinan yang mendasarkan otoritasnya pada pengorbanan. Yesus mengajarkan bahwa ciri khas dan kebesaran pemimpin spiritual terletak bukan pada posisi dan kuasanya, melainkan pada pengorbanannya. Hanya melalui melayani, seseorang menjadi besar (Mrk. 10:43-44). Pemimpin yang memberi keteladanan dan pengorbanan akan memiliki wibawa spiritual untuk memimpin orang lain.
(4) Pemimpin yang melayani berarti pemimpin yang menempatkan posisinya di bawah kontrol Kristus. Seorang pemimpin Kristen bukan menjadi orang nomor satu dalam gereja, sebab Kristus adalah Kepala Gereja. Ia memimpin namun juga dipimpin oleh Pemimpin Agung, Tuhan Yesus (Yoh. 13:13). Dengan demikian kerendahan hati dalam kepemimpinannya akan riil dalam praktiknya. Dan pemimpin yang demikian juga akan selalu (1) bersikap terbuka dikoreksi oleh siapa saja tanpa merasa tersinggung atau direndahkan, (2) dan mau untuk terus belajar akan kepemimpinan yang lebih baik. Untuk apa? Agar kepemimpin yang dilakukan sesuai dengan kehendak Tuhan dan sungguh memuliakan Tuhan, bukan sebaliknya.
DRFT_WBTC Sama halnya seperti Anak Manusia, Ia tidak datang supaya orang lain melayani-Nya, melainkan Anak Manusia datang untuk melayani orang lain, dan memberikan hidup-Nya menyelamatkan banyak orang.”
TB Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
BIS Sebab Anak Manusia pun tidak datang untuk dilayani. Ia datang untuk melayani dan untuk menyerahkan nyawa-Nya untuk membebaskan banyak orang.”
FAYH Karena Mesias sendiri berada di sini bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak.”
TL Karena Anak manusia pun bukannya datang supaya dilayani, melainkan supaya melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi orang banyak.”
KSI Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
DRFT_SB Karena Anak-manusia pun bukannya datang hendak dilayani, melainkan supaya melayani, serta memberikan nyawanya menjadi tebusan orang banyak.”
BABA Sbab Anak-manusia pun sudah datang bukan-nya mau di-layankan oleh orang, ttapi spaya boleh layankan sama orang, dan kasi nyawa-nya mnjadi tbusan kerna orang banyak.”
KL1863 Karna Anak-manoesia djoega boekan dateng {Yoh 13:14; Fil 2:7} maoe dilajani, melainken maoe melajani, serta kasih {Efe 1:7; Kol 1:14; 1Ti 2:6; Tit 2:14} djiwanja djadi teboesan banjak orang.
KL1870 Karena Anak-manoesia pon datang boekan hendak dilajani, melainkan hendak melajani dan memberikan djiwanja akan teboesan banjak orang.
DRFT_LDK Karana lagi ‘Anakh ‘Insan sudah tijada datang ‘akan deperbowat chidmet padanja, hanja ‘akan berbowat chidmet sendirij, dan memberij djiwanja ‘akan harga tubusan ganti ‘awrang banjakh.
ENDE Karena Putera manusiapun datang bukan untuk dilajani, melainkan untuk melajani, dan menjerahkan njawaNja untuk menebus banjak orang.
BBE For truly the Son of man did not come to have servants, but to be a servant, and to give his life for the salvation of men.
MESSAGE That is what the Son of Man has done: He came to serve, not to be served–and then to give away his life in exchange for many who are held hostage.”
NKJV “For even the Son of Man did not come to be served, but to serve, and to give His life a ransom for many.”
PHILIPS For the Son of Man himself has not come to be served but to serve, and to give his life to set many others free.”
RWEBSTR For even the Son of man came not to be ministered to, but to minister, and to give his life a ransom for many.
GWV It’s the same way with the Son of Man. He didn’t come so that others could serve him. He came to serve and to give his life as a ransom for many people.”
NET For even the Son of Man did not come to be served but to serve, and to give his life as a ransom* for many.”
NET 10:45 For even the Son of Man did not come to be served but to serve, and to give his life as a ransom
sn The Greek word for ransom (λύτρον, lutron) is found here and in Matt 20:28 and refers to the payment of a price in order to purchase the freedom of a slave. The idea of Jesus as the “ransom” is that he paid the price with his own life by standing in humanity’s place as a substitute, enduring the judgment that was deserved for sin.
for many.”











