RUANG IMAJENASI TANPA BATAS

Menembus kepekaan batin

Subscribe to RSS feed

Tersalip Do'a


:habibah

Hamba tak dapat sembunyi tepat seperti getar yang tak pernah kau sentuh itu
hamba tepat mencari lewat mata yang kasap meraba dengan kerisauan tak tertata. Tetap meraba dahaga yang tak terwakili.
Jika paduka berkenan, hamba menuju kesana dalam cemarut nyalak tak berujung pangkal.

Pernahkah sinar hamba tak penuh karena paduka jauh, hingga melengkung-lengkung mengikuti permukaan bumi yang cembung
Hingga hilang saat pancaranmu datang mengenai rindu yang tak pantas kusandang.
Duh..., jiwa.
Jika jalan tak tertunjuk; tak bermakna mengapa kau sanggup_kan hamba menempuh terjal dan badai
Apakah kesanggupan adalah keterpasungan untuk lurus menempuh keluh?
Atau tulus mengeluh meski tak tersentuh?

Hamba telah membuat luka-luka yang metaforik, yang tak sanggup dilafalkan kata
Apakah paduka telah mejelma makna sebap maknapun telah terkotomi oleh kehausan; saat hamba merasa sebagai hamba yang hiba
bukankah jalan yang terang adalah ketika hamba bukan apa-apa
sebap butiran debu itu kotoran yang harus dibasuh
Izinkan aku tetap mencuri makna seperti getar yang tak pernah kau sentuh itu.
Hingga hamba tepat menyintai kembali tiap untai misteri sebagai mana keindahan.
Tetap dan tak meraba dan hanya kesediaan menyentuh tiap luka.

sebait sajak yang pulang

1/
Bersama angin rinduku menggagapi; jauh
ada ceruk sunyi dalam geriap sesedap mawar
tak kunjung usai risau meyekat; memahat
selayak pendaki menyurat ka'idah wajah indah
berputar tiada usai menunda kejemuan
2/
menyusuri 13 tahun sungai
sebagai perenang yang asin oleh tiap simpul
menyelam di ikal rambutmu, mencumbu ribuan gurita
meski kau kata aku bukan pelaut sejati
aku bahagia sebagai suamimu
setidaknya bisa menjadi rembulan yang pernah membedakan antara malam dan siang di kerjap matamu
3/
istriku
kini dua nyiur menjepit sinarku;
kegelapan menyesatkan mu entah kemana
bersama angin rinduku menggagapi; teramat jauh
ceruk hitam dan aroma mawar
gurita dan arus asin menyatu di mulutmu
mungkin benar aku bukan pelaut sejati.

sebait sajak yang pulang

1/
Bersama angin rinduku menggagapi; jauh
ada ceruk sunyi dalam geriap sesedap mawar
tak kunjung usai risau meyekat; memahat
selayak pendaki menyurat ka'idah wajah indah
berputar tiada usai menunda kejemuan
2/
menyusuri 13 tahun sungai
sebagai perenang yang asin oleh tiap simpul
menyelam di ikal rambutmu, mencumbu ribuan gurita
meski kau kata aku bukan pelaut sejati
aku bahagia sebagai suamimu
setidaknya bisa menjadi rembulan yang pernah membedakan antara malam dan siang di kerjap matamu
3/
istriku
kini dua nyiur menjepit sinarku;
kegelapan menyesatkan mu entah kemana
bersama angin rinduku menggagapi
; jauh
ceruk hitam dan aroma mawar
gurita dan arus asin menyatu di mulutmu
mungkin benar aku bukan pelaut sejati.

Maaf temanku

oleh : jabrixs
Pikirkanku adalah lautanmu, yang angkuh
begitu dalam kau menyelam, termakan gelombang
"Itu cintaku," katamu. Disitu kau tanam gelembung.
Dan buih-buih bergelanyut sanyut
, seperti pori-pori tempat aku bernafas

Terpekurlah, disitu 'pikiranku' mengukur tiap senja tiba
meraih angin yang lewat, seperti luka, didada
mengharap ada kabar termuat disana
seperti membaca rasa di sakit yang tak dua

"Itu tembang-tembang kenangan" yang lewat, kearahku
di jendela purba, bersejinkat 'wajahnya'
seakan mencuri usiaku
berlama di sisi penantian

maafkan aku
temanku
teman yang tak setiap pejam selalu ada
memimpikan semua
pesanmu
tak selindap hening
malam kemarin
tak mengerami otak yang berlumur janji itu
"bening" tak ada lagi mimpimu dikamar ini
tak sedingin salju, telah cair segalanya
rencak pengharap dikota putih
itu telah gelap tanpa lampu
dimana,
damai langkahmu selalu berucap hendak menuju.

Maafkankan
penindasan itu telah berlalu
kurayapi langit dengan petir, menyambar, kemana tempurung kepala
mu selalu berakhir
ada aku atau tak ada, saat tegas kepedihan terasa
luka rata di semua tubuhmu
tapi itu, haluan layarkita
menuju
kesitu takdir itu

menjeputmu
seperti memeras semua hujan, kemurungan, dan detak sakit yang tiada ujung
meski langit butuh mendung
meski semua ladang butuh ciuman sang hujan

menyatukan hati tak semudah memelukmu
akalsehat itu, temanku

artinya memaksa mendung mengembara di langit-langit
artinya hujan isi seluruh bait-bait
tanaman di ladang ini

pikiran laut
bergelombanglah pikirkanmu
temanku
maafkan aku
bukan aku kalah
ada saat lain selain mimpi,
selain cinta dan pengembaraan


(untukmu temanku "jiwaku"yang selalu hidup)
February 2012
M T W T F S S
January 2012March 2012
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29