Skip navigation.

Putra Pratama's page

Assalamualaikum

Tugas LTM MPKT I : LOGIKA

, , ,

1. Definisi Logika
Kata logika berasal dari bahasa Yunani logos yang digunakan dalam beberapa arti, seperti: ‘ucapan, bahasa, kata, pengertian, pikiran, akal budi, ilmu’ (Poespoprodjo, 1985: 2). Dari sini kemudian diturunkan kata sifat logis yang sudah sangat sering terdengar dalam percakapan kita sehari-hari. Orang berbicara tentang perilaku yang tidak logis, tentang tata cara yang logis, tentang penjelasan yang logis, tentang jalan pikiran yang logis, dan sejenisnya. Dalam semua kasus itu, kata logis digunakan dalam arti yang kurang lebih sama dengan ‘masuk akal’ atau singkatnya, segala sesuatu yang sesuai dengan dan dapat diterima oleh akal sehat. Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.

Menurut Irving M. Copi dalam bukunya yang berjudul Introduction to Logic, logika didefinisikan sebagai suatu studi tentang metode-metode dan prinsip-prinsip yang digunakan dalam membedakan penalaran yang tepat dari penalaran yang tidak tepat. (Copi, Irving M. 1976: 3). Tetapi definisi ini pun tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa seseorang dengan sendirinya mampu menalar atau berpikir secara tepat hanya jika ia mempelajari logika. Namun di lain pihak, harus juga diakui bahwa orang yang telah mempelajari logika jadi sudah memiliki pengetahuan mengenai metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir, mempunyai kemungkinan lebih besar untuk berpikir secara tepat bila dibandingkan dengan orang yang sama sekali tidak pernah berkenalan dengan prinsip-prinsip dasar yang melandasi setiap kegiatan penalaran. Dengan kata lain, logika tidak hanya menyangkut soal pengetahuan, melainkan juga soal kemampuan atau keterampilan. Kedua aspek ini berkaitan erat satu dengan yang lain. Pengetahuan mengenai metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir harus dimiliki bila seseorang ingin melatih kemampuannya dalam berpikir, dan sebaliknya, seseorang hanya bisa mengembangkan keterampilannya dalam berpikir bila ia sudah menguasai metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir. Antara keduanya terdapat kaitan yang saling melengkapi satu sama lainnya dalam proses pemikiran yang logis.

Keterampilan berpikir harus terus-menerus dilatih dan dikembangkan dan untuk itu, mempelajari logika secara akademis, khususnya logika formal sambil tetap menekuni latihan-latihan secara serius. Dengan cara ini, seseorang lambat laun diharapkan mampu untuk mengenali setiap bentuk kesesatan berpikir , termasuk kesesatan berpikir yang dilakukannya sendiri.





2. Jenis Logika
Logika dapat dikelompokkan berdasarkan aspek-aspek seperti sumber darimana pengetahuan logika itu diperoleh, sejarah perkembangannya, bentuk dan isi argumen, serta proses atau tata cara penyimpulannya.

2.1 Logika Berdasarkan Sumber

2.1.1 Logika Alamiah
Dari nama istilah ini sudah nampak apa maksudnya. Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Hukum-hukum logika yang dibawa sejak lahir ini memungkinkan manusia dapat bekerja dan bertindak baik secara spontan maupun secara sadar. Dengan kata lain, mendasarkan diri pada akal sehat saja, manusia mampu berpikir dan bertindak. Tetapi hukum-hukim logika ini hanya dapat membantu manusia dalam menghadapi hal-hal keseharian yang bersifat rutinitas dan sepele. Bila manusia mulai dihadapkan kepada masalah-masalah kompleks, maka logika alamiah dengan hokum-hukum akal sehatnya sudah tidak dapat diandalkan. Untuk tujuan inilah diperlukan logika ilmiah untuk memecahkan permasalahan yang lebih rumit.

2.1.2 Logika Ilmiah
Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Dengan demikian, berbeda dengan logika alamiah yang didapati secara kodrati, logika ilmiah justru harus diperoleh dengan mempelajari dan menguasai hokum-hukum penalaran sebagaimana mestinya. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan berpikir atau, paling tidak, menguranginya.

2.2 Logika Berdasarkan Sejarah Perkembangannya.

2.2.1 Logika Klasik
Jenis logika ini merupakan ciptaan Aristoteles (384-322 SM), salah seorang filsuf besar yang hidup di zaman Yunani Kuno. Dialah orang pertama yang melakukan pemikiran sistematis tentang logika. Karena alasan itu, logika ciptaannya itu disebut logika Aristoteles atau logika tradisional. Namun demikian, ia sendiri tidak memakai istilah logika, melainkan istilah analitika dan dialektika. Dengan analitika dimaksudkan penyelidikan terhadap argumen-argumen yang bertolak dari putusan-putusan yang benar, sedangkan dialektika adalah penyelidikan terhadap argument-argumen yang bertolak dari putusan-putusan yang masih diragukan kebenarannya. Istilah logika dalam arti seperti yang dikenal seperti sekarang baru diperkenalkan oleh Alexander Aphrodisias pada permulaan abad III Masehi.

Menurut bukunya Richard B.Angel “Reasoning and Logic”, Aristoteles sendiri meninggalkan enam buah buku khusus yang membicarakan ilmu logika ini yang oleh murid-muridnya diberi nama “Organon”.
Keenam buku tersebut adalah Categoriae (mengenai pengertian-pengertian), De Interpretatie (mengenai keputusan-keputusan), Analitica Priora (mengenai silogisme), Analitica Posteriora (mengenai pembuktian), Topika (mengenai berdebat), dan De Sophistic Elenchis (mengenai kesalahan-kesalahan berpikir).

Adalah Theoprostus yang kemudian mengembangkan ilmu logika Aristoteles itu dan sekaligus menyebarkannya sampai di kemudian hari masuk ke dalam dunia Islam.

Didunia Islam, ilmu logika ini tidak diterima begitu saja dengan mulus, tapi direspon dengan berbagai macam pendapat oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka. Ibnu Salih dan Imam Nawawi misalnya, mereka sangat menentang penggunaan ilmu logika. Penentangan mereka itu bukan hanya sebatas menentang tidak setuju atau tidak sepakat tapi jauh lebih keras dari itu. Penentangan mereka sampai kepada mengharamkan ilmu logika untuk digunakan didalam dunia Islam.

Namun demikian, sebagian besar dari mereka (Jumhur Ulama) membolehkan mempelajari ilmu logika dengan syarat orang-orang yang akan mempelajarinya sudah kokoh iman dan cukup akalnya.

Selain penolakan yang tegas serupa diatas, diantara mereka ada juga yang malah menganjurkannya, seperti Al-Ghazali, Al-Farabi , Al-Kindi dan lain-lain. Al-Kindi bukan hanya menganjurkan tapi malah mempelajari dan sekaligus menyelidiki logika Yunani secara khusus, bahkan Al-Farabi melakukannya lebih mendalam lagi dari apa yang sudah dilakukan oleh Al-Kindi.

2.2.2 Logika Modern
Ilmu logika modern mulai tampak ke permukaan ketika beberapa ahli matematika Inggris, seperti A. de Morgan (1806-1871) dan George Boole (1815-1864), mencoba menerapkan prinsip matematika ke dalam logika klasik. Dengan menggunakan lambing-lambang non-bahasa atau lambing-lambang matematis, mereka berhasil merintis lahirnya suatu jenis logika lain, yakni logika modern, yang disebut juga logika simbolis atau logika matematis, yang sejak pertengahan abad ke-19 dibedakan dari logika klasik.


2.3 Logika Berdasarkan Bentuk dan Isi Argumen

2.3.1 Logika Formal
Persoalan mengenai bentuk penalaran yang menjadi pusat penyelidikan dalam logika formal, tidak lain merupakan persoalan yang menyangkut proses penalaran. Dalam hal ini yang dipertanyakan adalah: apakah proses penalaran (dari premis-premis ke kesimpulan) dalam suatu argumen tertentu tepat atau tidak, lurus atau tidak? Bila ternyata proses penalarannya tepat, maka kesimpulan yang dihasilkan pasti tepat juga. Dalam logika formal, argument seperti ini disebut argumen yang sahih (valid). Jadi, suatu argumen hanya dapat dikatakan sahih dari segi bentuk, bila kesimpulan penalaran tersebut memang diturunkan secara tepat atau lurus dari premis-premisnya atau, dengan kata lain, bila kesimpulan yang ditarik itu sungguh-sungguh merupakan implikasi logis dari premis-premisnya.

2.3.2 Logika Material
Bila logika formal berbicara tentang tepat tidaknya proses penalaran, maka logika material berurusan dengan benar tidaknya proposisi-proposisi yang membentuk suatu argumen.Itu berarti suatu argumen hanya dapat dikatakan benar dari segi isi, bila semua proposisinya (premis-premis dan kesimpulan) benar, dan itu artinya, bila semua dalam

suatu argument tidak benar, maka argumen tersebut, sebagai satu kesatuan, dari segi isi, dikatakan tidak benar. Dengan demikian, dalam suatu argumen ada dua persoalan yang harus dibedakan secara tegas, yakni kesahihan bentuk dan kebenaran isi.

2.4 Logika Berdasarkan Proses Penyimpulan

2.4.1 Logika Deduktif
Logika deduktif secara khusus memperhatikan penalaran deduktif. Dalam penalaran ini, akal budi bertolak dari pengetahuan lama yang bersifat umum, dan atas dasar itu menyimpulkan suatu pengetahuan baru yang bersifat khusus. Penalaran deduktif ini biasanya terwujud dalam suatu bentuk logis yang disebut silogisme. Silogisme adalah argument yang terdiri dari tiga proposisi atau pernyataan: proposisi pertama dan kedua (premis-premis) merupakan titik tolak atau landasan penalaran, sedangkan proposisi ketiga (kesimpulan) merupakan tujuan penalaran, yang dihasilkan berdasarkan hubungan yang terjalin antara premis-premisnya. Hubungan antara premis-premis dan kesimpulan , dengan demikian merupakan hubungan yang tak terpisahkan satu dari yang lain. Tepat tidaknya sifat hubungan tersebut menjadi pusat pengamatan logika deduktif. Itu berarti, setiap argumen deduktif adalah sahih atau tidak sahih, dan tugas logika deduktif adalah untuk menjelaskan sifat dari hubungan antara premis-premis dan kesimpulan dalam argumen yang sahih, sehingga dengan itu kita dapat membedakan argumen-argumen yang sahih dari argumen-argumen yang tidak sahih.

2.4.2 Logika Induktif
Jenis logika ini berurusan dengan penalaran induktif. Tidak seperti dalam penalaran deduktif, dalam penalaran induktif, akal budi justru beranjak dari pengetahuan lama mengenai sejumlah kasus sejenis yang bersifat khusus, individual, dan konkret yang ditemukan dalam pengalaman inderawi, dan atas dasar itu menyimpulkan pengetahuan baru yang bersifat umum.

Setiap argumen induktif selalu memiliki tiga ciri khas, yakni pertama, sintesis, artinya kesimpulan ditarik dengan jalan mensinstesiskan atau menggabungkan kasus-kasus yang terdapat dalam premis-premis, kedua, general artinya kesimpulan yang ditarik selalu meliputi jumlah kasus yang lebih banyak atau yang lebih umum sifatnya ketimbang jumlah kasus yang terhimpun dalam premis-premis, ketiga, aposteriori artinya kasus-kasus konkret yang dijadikan landasan atau titik tolak argumen, selalu merupakan buah hasil pengamatan inderawi.


3.Proposisi

3.1 Pengertian Proposisi
Proposisi adalah merupakan ungkapan lahiriah dari putusan. Sebagai ungkapan lahiriah dari putusan proposisi itu selalu terdiri dari rangkaian kata-kata yang berfungsi sebagai subjek dan predikat. Hubungan antar subjek dan predikat ini senantiasa berbentuk pengakuan atau pengingkaran semata tentang sesuatu yang lain. Maka, proposisi dapat dirumuskan sebagai pernyataan yang di dalamnya manusia mengakui atau mengingkari sesuatu tentang sesuatu yang lain.

3.2 Unsur-Unsur Proposisi
a.)Subjek: sesuatu yang tentangnya pengakuan atau pengingkaran ditujukan.
b.)Predikat: sesuatu yang diakui atau diingkari tentang subjek.
c.)Kopula: penghubung antara subjek dan predikat, yang sekaligus memberi bentuk (pengakuan atau pengingkaran) pada hubungan tersebut.

Perlu kita ketahui bahwa ketiga unsur tersebut hanya terdapat di dalam proposisi kategoris standar. Adapun sebuah proposisi disebut proposisi kategoris jika apa yang menjadi predikat diakui atau diingkari secara mutlak (tanpa syarat) tentang apa yang menjadi subjek.

Dalam logika sebuah kalimat hanya dapat disebut sebagai proposisi bila memenuhi cirri-ciri sebagai berikut:
1.)Mengandung subjek dan predikat yang dihubungkan dalam sebuah pernyataan.
2.)Mengandung sifat pengakuan atau pengingkaran.
3.)Mengandung nilai benar atau salah.


4. Penyimpulan Deduktif dan Silogisme

4.1Pengertian Penyimpulan Deduktif dan Silogisme
Menurut definisi, deduksi adalah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih umum, membuahkan kesimpulan yang lebih khusus. Ditinjau dari segi cara menurunkan kesimpulan, penyimpulan (penalaran) itu dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu penyimpulan langsung dan penyimpulan tak langsung. Penyimpulan langsung adalah penalaran yang hanya bertolak dari sebuah premis, dan, atas dasar itu, langsung menurunkan kesimpulan. Sebaliknya, penyimpulan tak langsung adalah jika proses penalaran tersebut bergerak dari proposisi pertama (premis mayor) dan, dengan melalui proposisi kedua (premis minor), menghasilkan kesimpulan. Penalaran tidak langsung inilah yang nantinya terwujud dalm suatu bentuk (struktur) logis yang disebut silogisme.

4.2 Penalaran Langsung
Salah satu prosedur yang lazim digunakan dalam mempraktekkan penalaran langsung adalah dengan melakukan konversi. Konversi disini maksudnya adalah pengungkapan kembali makna yang terkandung dalam sebuah proposisi dengan cara menukarkan tempat subjek dengan predikatnya tanpa mengubah kualitas proposisi tersebut.

4.3 Penalaran Tak Langsung
Seperti telah disebutkan sebelumnya, penalaran tidak langsung diwujudkan dalam satu bentuk logis yang disebut silogisme. Karena, menurut sifat pengakuan dan pengingkaran predikat tentang subjek, kita mengenal dua macam proposisi, yaitu proposisi kategoris dan proposisi hipotesis.


5. Kesesatan Berpikir
Secara sederhana kesesatan berpikir dapat dibedakan dalm dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material. Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap hukum-hukum silogisme. Sebaliknya, kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran . Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) dan juga karena memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya (kesesatan relevansi).

5.1 Kesesatan Bahasa
Salah satu model kesesatan bahasa yang sering dilakukan orang adalah kesesatan amfiboli. Kesesatan ini dapat terjadi karena kekeliruan penempatan suatu kata dalam sebuah kalimat sehingga makna kalimat tersebut menjadi bercabang atau ambigu.


5.2 Kesesatan Relevansi
Kesesatan relevansi timbul apabila seseorang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya. Artinya secara logis kesimpulan tersebut tidak merupakan implikasi dari premisnya. Penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak menampakkan sama sekali hubungan logis antara premis dan kesimpulannya. Berikut ini disebutkan beberapa jenis kesesatan relevansi yang umum dilakukan.

a.) Argumentum Ad Hominem
Kesesatan argumentum ad hominem terjadi bila seseorang berusaha untuk menerima atau menolak suatu gagasan bukan berdasarkan factor penalaran yang terkandung dalm gagasan tersebut, melainkan berdasarkan alasan yang berhubungan dengan pribadi dari orang yang melontarkan gagasan.

b.) Argumentum Ad Populum
Argumentum ad populum adalah penalaran yang diajukan untuk meyakinkan para pendengar dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat atau orang banyak.

c.) Argumentum Ad Verecundiam
Jenis kesesatan relevansi ini sangat mirip dengan argumentum ad hominem. Bila dalam argumentum ad hominem yang menjadi acuan adalah pribadi orang yang menyampaikan gagasan, maka dalam argumentum ad verecundiam ini, nilai suatu penalaran terutama dir\tentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya.

d.) Ignatio Elenchi
Kesesatan ignatio elenchi ini terjadi bila seseorang menarik kesimpulan yang sebenarnya tidak memiliki relevansi dengan premisnya. Dengan demikian ketiga jenis kesesatan yang sudah disebutkan terdahulu (argumentum ad hominem, argumentum ad populum, dan argumentum ad verecundiam) dapat dikategorikan sebagai bagian dari kesesatan ignoratio elenchi ini.


Daftar Pustaka

Meliono, Irmayanti. 2008 Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi, Depok: Lembaga Penerbit FEUI

http://www.wikipedia.com/logika

Latihan Mengetik 10 JariEmotional Intelligence

How to use Quote function:

  1. Select some text
  2. Click on the Quote link

Write a comment

Comment
(BBcode and HTML is turned off for anonymous user comments.)

If you can't read the words, press the small reload icon.


Smilies

December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31