- Beranda Barat Rumah Tua -

Mencoba membebaskan kegelisahan hidup meski tidak sepenuhnya.

Subscribe to RSS feed

Sekian tahun tak membuka komunitas opera, tak ku tahu seorang teman baik itu telah tiada.. Met jalan sahabat! Smoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sana . . (Sassie kirana; tulisanmu masih jelas terbaca!)

Epitaf 2


jejak kakimu masih tertinggal di halaman.
Menandakan engkau pernah ada , menghirupi udara kefanaan.
tak ada lagi yang bisa ku kunjungi.
Melainkan bersama sepotong doa , dan juga sbuah keyakinan bahwa aku akan menyusulmu kemudian.

Purnama


Ku lihat senyum bidadari di wajah bulan.
Berpendar pendar penuh keramahan.
: aku hanyut dalam takjub!

Tahajud 2

malam membuka kerudungnya yang kudus. Mengundang cahaya kunang bersama doa doa jiwa yg terjaga.
Tuhan! Aku terbuai. .

Kota

Kotamu mengajakku bermimpi,
mimpi menenggelamkan matahari.
Kotamu mengajakku berkhianat,
berkhianat pada nurhani.

Lagu Hidup

Mengalirlah hidup. Mengalirlah seperti anak anak sungai yang rindu bertemu bibir laut.
Aku selembar daun yang terhanyut, telah di tasbihkan hanya untuk mengenal sebuah kesetiaan.

Epitaf


Selembar daun rebah kembali pada tanah.
Ada gerimis mengiris.
Ada kabut datang menjemput.
Tuhan! Betapa fana ia.

Sajak Sederhana


Ku pikir amat mudah membuat puisi.
Duduk termenung di pagi hari , sembari menunggu embun meleleh dari pucuk pucuk daun hati.
Lalu merangkainya menjadi bait bait pelangi dan menempelkanya pada lengkungan garis matahari.
Ah! Langit kotaku sedang tak cerah hari ini.
Embun menguap terseduh menjelma udara ; Api!

ritual sebuah gelas


bagaimana engkau akan bisa menjadi sbuah gelas yang sempurna tanpa melewati proses pembakaran?!
Sebelum akhirnya menjadi piala piala yang indah, terpajang di meja perjamuan malam.

tahajud


Dzikir daun daun, menenggelamkan aku pada hening sajadah malam.
Ada doa lirih terucap!
Tuhan! aku tak kuasa atas malamku yang terbelah!