KEAGUNGAN DAN KEBESARAN HANYA MILIK ALLAH
Saturday, March 28, 2009 12:32:15 PM
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberi peringatan kepada diri saya sendiri dan sekalian saudaraku yang muslim. Saya tuliskan semula tanpa sebarang suntingan, sebahagian kandungan Kitab Hadis Qudsi, yang menghuraikan Hadis Qudsi ke-17.
Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:
(Hadis Qudsi Riwayat Muslim dari Abu Sa'id dan riwayat Samuwaih dari Abu Sa'id dan juga riwayat Thabarani yang bersumber dari Ali r.a)[/QUOTE]Keperkasaan dan kemuliaan itu ibarat kain-Ku, keagungan dan kebesaran itu ibarat selendang-Ku. Barang siapa berusaha menyamai Aku sedikitpun nescaya akan Ku-siksa.
Kata "al-'Izz" asal maknanya kemuliaan, (lawan kehinaan). Namun kemuliaan di sini, hasil kekuatan yang tidak terkalahkan orang lain, kerana itu kita ertikan al-'Izzu itu keperkasaan dan kemuliaan.
Sifat "izzah" terdapat dalam beberapa ayat Quran, sedang kata "Aziz" terdapat pada puluhan ayat:
Sesungguhnya semua keperkasaan dan kemuliaan itu adalah kepunyaan Allah.
(Q.S 4 an-Nisa: 139)
(Q.S 35 Fathir: 10)[/QUOTE][/ALIGN]Barang siapa yang hendak memperoleh keperkasaan dan kemuliaan, sesungguhnya keperkasaan dan kemuliaan kepunyaan Allah.
Dalam hadis Qudsi disebutkan:
Setiap kemuliaan yang tidak diridhai Allah pada hakikatnya adalah kehinaan
Kemuliaan seperti itu bersifat palsu, berlaku untuk sementara saja, seperti: kenaikan pangkat, pujian dan sanjungan yang tidak wajar dan tidak diridhai Allah.
Didalam hadis Qudsi ini dikemukakan dua sifat khusus yang ditonjolkan yang hanya dimiliki oleh Allah s.w.t saja. Makhluk Allah tidak boleh merebutnya, menyamai atau menyekutuinya, sifat tersebut adalah sifat izzah (keperkasaan dan kemuliaan) dan sifat kibr (keagungan dan kebesaran).
Ada sifat lain yang kadang-kadang makhluk-Nya boleh bersifat dengan sifat itu sebagai pinjaman sementara dan bukan menurut hakikat yang sebenarnya, seperti sifat kasih sayang (rahman) dan pemurah (karim).
Kedua sifat yang disebutkan di atas diibaratkan oleh Allah sebagai kain sarung dan selendang, yang sudah tentu tidak boleh direbut, dipakai atau digunakan oleh yang lain.
Perumpamaan itu semata-mata hanyalah untuk mendekatkan pengertiannya kepada akal kita sebagai makhluk-Nya. Barang siapa yang hendak menyamai-Nya atau menyekutui-Nya, dirinya akan dilemparkan Allah ke dalam neraka dan disiksa setimpal dengan perkosaannya.
Tegasnya, orang yang kebetulan dianugerahi kemuliaan, misalnya kenaikan pangkat, mendapat pangkat yang tinggi, memegang fungsi wewenang, dipilih rakyat menjadi wakilnya dan lain-lain, tidak menyalahgunakan anugerah tersebut sehingga seolah-olah berkuasa mutlak, gagah, sombong, sewenang-wenang dan seenaknya saja menggunakan kekuasaannya. Berbuat semacam itu sudah termasuk menyekutui sifat Allah, berdosa kepada Allah, durhaka dan menyombong kepada Allah. Kemuliaan yang diperolehinya itu dipalsukan oleh dirinya dan berlaku sementara saja.
Apabila kemuliaan yang dicapai itu tidak dengan cara wajar, misalnya dengan paksaan, ancaman atau sogokan dan sebagainya, kemuliaan itu jelas tidak diridhai Allah dan hanyalah palsu belaka.
Kemuliaan yang diperoleh dengan cara tidak benar, bukan hal yang mustahil di dunia ini, tapi perbuatan demikian termasuk ancamanan hadis tersebut (ini).
Orang yang mendapat kemuliaan, apa lagi cara mencapainya tidak diridhai Allah, mengarah pada sifat sombong atau takabbur. Orang yang sombong atau takabbur telah menyekutui sifat Allah, dan perbuatan itu termasuk kejahatan besar, yang tidak disukai masyrakat ataupun perorangan (individu).
Di dalam Quran digambarkan sebagai berikut:
(Q.S 40 al-Mu'min: 35)[/QUOTE][/ALIGN]Demikianlah Allah menutup setiap hati orang yang takabbur, lagi merasa perkasa.
(Q.S 16 an-Nahl: 29)[/QUOTE][/ALIGN]Masuklah kalian ke dalam pintu-pintu neraka Jahannam, kekal di dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat kediaman bagi orang-orang yang mutakabbir.
Oleh kerana itu, ya Allah, berilah kami sifat ikhlas, jauhkanlah kami dari sifat riya', takabbur dan sombong serta sifat-sifat atau perbuatan yang mendekati perbuatan menyekutukan Engkau, ya Allah, ya ar-hamarrahimin. Amin.
Sumber:
K.H.M Ali Usman, H.A.A Dahlan & Dr. H.M.D Dahlan (tanpa tarikh), Hadith Qudsi, Cetakan IX, Kuala Lumpur: Pustaka Al-Azhar








How to use Quote function: