Skip navigation.

Log in | Sign up

BEAUTIFUL MIND

Connecting People

VoIP Akan Lebih Berkembang Dibanding Seluler

Perkembangan VoIP (voice over internet protocol) diyakini akan lebih berkembang dibanding teknologi seluler di kemudian hari. Hal ini dikarenakan saat ini penetrasi internet di Indonesia masih terbuka luas.
Hal ini dikemukakan penggiat VoIP rakyat yang sekaligus pakar internet Indonesia, Onno W. Purbo, dalam acara seminar VoIP di Manchester United Cafe Sarinah, Jakarta, kemarin. Ia bahkan percaya kemampuan teknologi VoIP yang mengandalkan jaringan internet akan lebih laku di kemudian hari dibanding teknologi seluler yang ada saat ini.
VoIP diprediksi mampu menekan biaya operasional perusahaan khususnya budget Telekomunikasi. Asumsinya, jika penggunaan komunikasi perusahaan mengandalkan teknologi VoIP maka hanya akan dikenakan biaya berlangganan internet saja dan semua billing komunikasi lokal maupun SLJJ akan hilang. Inilah yang akan menjadi perhitungan menarik bagi setiap perusahaan dalam menekan biaya operasional perusahaan.
Namun yang menjadi permasalahan saat ini adalah perangkat infrastruktur pendukung VoIP yang saat ini masih tergolong jauh dari jangkauan. Untuk penggunaan VoIP individu saja, beberapa perangkat yang digunakan, seperti ponsel-ponsel Nokia seri E, masih dibandrol dengan harga di kisaran 5 jutaan. Sama halnya dengan perangkat pendukung VoIP untuk perusahaan, seperti handset PABX yang harganya lebih dari USD300. Belum lagi terhalang oleh terbatasnya kapasitas bandwidth yang ada saat ini.
Selain infrastruktur VoIP yang masih jauh dari jangkauan dan kapasitas bandwidth yang terbatas, penetrasi internet di Indonesia pun tergolong masih sedikit. saat ini saja baru sekira delapan persen pengguna internet di Indonesia dari total penduduk yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa.
Namun rintangan-rintangan tersebut diyakini akan berubah seiring dengan perilaku penggunaan voip yang makin marak pada beberapa tahun ke depan. Sebab permasalahan ini sama halnya dengan yang pernah dialami teknologi seluler pada puluhan tahun lalu, dimana handset dan tarif yang berlaku masih dianggap sangat mahal.

Qualcomm : Wimax Tidak Lebih Bagus dari 3G

Teknologi WiMax yang disebut-sebut sebagai teknologi paling mutakhir abad ini ternyata dianggap tidak memeliki kualitas yang lebih baik daipada 3G. Pernyataan ini diungkapkan CEO Qualcomm, Paul Jacobs.

Menurutnya, solusi internet nirkabel WiMax diprediksi akan kalah saing dengan kemampuan teknologi generasi ke-3. Bahkan pamornya pun akan kalah dengan 3G. Jacobs mengkritik kualitas layanan dan koneksi jaringan WiMax yang ada saat ini.

"Jaringan WiBro, versi WiMax yang ada di Korea Selatan, sepertinya telah menjadi kesalahan yang fatal di daerah tersebut. Menurut Jacobs kualitasnya masih lebih bagus teknologi nirkabel 3G WCDMA yang digunakan AT&T. Ia mampu menyediakan koneksi internet yang lebih cepat dan lebih berkualitas,"ujar jacobs, seperti dilansir Cellular News.

Call Center Telkomsel Terbaik Se-Asia Pasific

Telkomsel sebagai wakil Indonesia di ajang internasional Asia Pacific Call Center Award (APCS) yang digelar di Hongkong, berhasil meraih penghargaan dengan predikat Excellence atau memberikan tingkat kepuasan tertinggi bagi pelanggan selular.
Asia Pacific Customer Service Award (APCS) merupakan penghargaan bergengsi bagi layanan pelanggan terbaik yang diikuti oleh 24 operator dari berbagai negara, seperti : China, Hongkong, Thailand, Philipina, Malaysia, Indonesia dan Australia.
GM Customer Service Telkomsel Ririn Widaryani mengatakan,Predikat terbaik diraih Telkomsel setelah melalui serangkaian seleksi ketat dewan juri tingkat Asia Pasifik melalui presentasi dan interview tentang Call Center Management, Service Quality Management dan Customer Retention dan Customer Satisfaction.
Hal yang membanggakan tentunya karena ini menunjukkan bahwa segala upaya yang dilakukan Telkomsel sesuai dengan standar internasional, sekaligus semakin meyakinkan bahwa apa kami lakukan sejalan dengan perkembangan layanan seluler di berbagai negara maju di dunia. Telkomsel yang saat ini dipercaya melayani 44,5 juta pelanggan, mewakili Indonesia setelah menjadi pemenang di tingkat nasional April lalu.
Penghargaan ini merupakan bukti keseriusan Telkomsel dalam mengembangkan Customer Service sebagai garda depan perusahaan yang langsung bersinggungan secara emosional dengan para pelanggan kami.Kami menyediakan beragam pilihan akses pelayanan on-line 24 jam berupa: Call Center atau dikenal dengan Caroline (Customer Care By Online), website, email, dan sms. Bahkan Layanan kami telah dilengkapi jaminan manajemen mutu bersertifikasi standar internasional ISO.
Bahkan dalam rangka menghadirkan solusi pelayanan terbaik, di tahun 2007 Telkomsel menggandeng Graham Technology menambah kapasititas Call Center menjadi dua kali lipat sekaligus mengimplementasikan teknologi terkini pada aplikasi GT-X untuk mengakomodir kebutuhan akan kualitas pelayanan pelanggan.
Call Center Telkomsel merupakan call center tersibuk di Indonesia dengan jumlah 1,2 juta call per hari yang ditangani oleh sekitar 4.000 petugas pelayanan yang didukung sistem canggih IVR (interactive voice response).
Pelanggan dapat mengakses GRATIS layanan Call Center 24 jam dengan akses 111 untuk pelanggan kartuHALO dan 116 untuk simPATI dan kartu AS, serta akses khusus pelanggan Corporate yakni 128. Juga tersedia akses dari nomor lain adalah 08071811811.
Seiring dengan tuntutan pasar dan perkembangan teknologi Telkomsel terus meningkatkan kualitas pelayanan pelanggan, dimana saat ini telah dibuka akses video call center 136 mempergunakan teknologi 3G, seperti yang telah banyak dilakukan perusahaan-perusahaan di negara maju. Hal ini tentunya akan meningkatkan experience pelanggan, jika dulu hanya mendengar suara kini bisa saling melihat wajah layaknya bertatap muka langsung.
Penghargaan ini melengkapi beberapa penghargaan sebelumnya baik nasional maupun internasional seperti : Best Call Center Award dari CCSL (Center for Customer Satisfaction & Loyalty) dan ICCA (Indonesia Call Center Association), sertifikasi mutu ISO 9001:2000 dan Asian Mobile News Award 2007.

Memasarkan 3G, Diantara Perang Tarif Murah

Sudah setahun berlalu sejak operator-operator seluler indonesia mengimplementasikan teknologi 3G. Sebagai sebuah teknologi yang menandai generasi berikutnya yang lebih mutakhir dalam perkembangan teknologi seluler, kehadiran teknologi 3G diharapkan memberikan warna baru dalam dunia telekomunikasi seluler Indonesia. Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkannya, layanan-layanan 3G diharapkan dapat diterima dengan baik oleh pasar Indonesia.
Kenyataanya, masyarakat tidak menyambut teknologi 3G dengan gegap gempita. Perhatian khalayak lebih banyak tercurah pada tarif murah yang ditawarkan oleh operator-operator telekomunikasi, untuk hubungan telepon maupun sms. Segera masyarakat terpukau oleh telekomunikasi berharga murah yang ditawarkan. Saat ini anda bisa menggunakan handphone untuk berlama-lama menelepon, tanpa perlu khawatir biayanya akan mengganggu keuangan anda.
Tak pelak lagi, konsentrasi para operator-operator telekomunikasi selulerpun beralih untuk bersaing menyajikan layanan telepon dan sms yang semakin murah. Perang tarif tak bisa dihindari. Harus diakui bahwa telepon dan sms masih menjadi barang dagangan utama bagi para operator komunikasi seluler, sehingga mau tidak mau mereka harus berusaha menyajikan layanan telepon dan sms yang kompetitif, dalam segi kualitas ataupun harga.
Pertanyaannya, ditengah perang tarif murah ini, masihkah ada kemungkinan untuk memasarkan layanan-layanan berbasis 3G? Apakah investasi begitu besar yang telah dikeluarkan para operator telekomunikasi seluler untuk implementasi 3G hanya sia-sia belaka? Apakah masyarakat memang tidak membutuhkan teknologi 3G, ataukah layanan-layanan yang ada belum mampu menyentuh kebutuhan masyarakat?

Siapakah "Pemain" Terbaik Telekomunikasi Dunia?

Untuk pertama kalinya pada 2007 World Communication Awards yang akan dihadirkan pada 28 November nanti akan disertakan mengenai penggunaan inovatif bidang teknologi. Juri nantinya diperkirakan akan mengurangi 19 entry menjadi hanya 5, masing-masing 2 untuk BT asal Inggris dan saingannya asal Perancis, Orange, dan satu dari vendor software OnRelay.
BT Group dan Orange Business Services juga termasuk dalam daftar singkat untuk penghargaan Best Global Operator. Selain Orange dan BT Group, NTT Communications asal Jepang dan operator virtualnya, Vanco juga masuk nominasi. Orange Business Services tahun lalu memenangkan penghargaan itu, tetapi akankah mereka meraih kembali penghargaan itu tahun ini?
Selama ini diperkirakan, perusahan itu memiliki kesempatan dan Orange diprediksi memiliki rencana pertumbuhan yang kuat dan jelas di setiap wilayah dunia. Apalagi mereka memiliki kekuatan menjalin referensi konsumen yang kuat untuk melakukan backup entry-nya.
Akan tetapi, bukan hanya Orange Business Services yang memukau. Finalis lain juga mengesankan. BT misalnya. Perusahaan ini digambarkan sebagai bisnis global dengan jangkauan besar, permintaan konsumen yang banyak, termasuk sejumlah pemenang baru yang signifikan. Sementara itu, NTT dilukiskan sebagai "kekuatan yang muncul di luar kawasan regionalnya. Lantas, bagaimana dengan Vanco? Perusahaan ini diperkirakan menyediakan entry yang unggul dengan dukungan informasi yang baik dan iklim kompetisi yang terbuka lebar.
Selain itu, NTT, Orange, dan Vanco juga dijadikan 5 finalis untuk kategori Best Managed Service. Sebenarnya, penghargaan Best Customer Service yang selalu diperdebatkan ini diikuti oleh 9 perusahaan. Selain BT, Orange Business Services, NTTComOne, dan Vanco yang cukup menonjol, kompetisi ini juga menghadirkan lawan-lawan sekaliber Cable & Wireless, Easynet, mobilkom Austria, Rackspace Managed Hosting, dan TTX Ltd.
Dengan ketatnya kompetisi iini, sektor telekomunikasi diperkirakan akan meraih perhatian konsumen di tahun 2007 ini. Pemenang tahun lalu, Roshan (Perusahaan Pengembangan Telekomunikasi asal Afghanistan) mampu mengungguli 7 finalis lainnya karena mengalami kesuksesan dalam persaingan tajam memerangi buta huruf secara besar-besaran yang melanda negara itu.
Sebelum menjadi pemenang, Roshan menghadapi kompetisi tajam. Namun, anggota operator Afghanistan Afghan Wireless dan JSC Kazakhtelecom menyatakan, eksepsi performa keuangan dalam pasar dalam negeri mereka mengalami persaingan dan menempatkan Mobilink GSM asal Pakistan dalam daftar kategori penghargaan. Sementara itu, Afsat Communications Africa mendapat komentar sebagai pihak yang terkemuka untuk pengembangan karyawan dan konsisten dalam pengembangan dan performa selama bertahun-tahun.
Sementara itu, perwakilan Latin America, AES Communications Rio de Janeiro dan Local Servicos de Telecomunicacoes dari Brazil digambarkan sebagai perusahaan luar biasa dengan kisah suksesnya. Dengan pengecualian masuknya Ethernet over SDH dari Colt Telecom, semua finalis dalam kategori Best New Service berasal dari bisnis mobile. Tawaran voicemail-to-text dari SpinVox memikat perhatian juri, sama seperti yang dilakukan layanan DVB-H mobile TV dari 3 Italia, tawaran RFID dari Globe Telecom asal Filipina, dan layanan M2M dari Orange Business Services.
Berkaitan dengan penghargaan, Best Technology diperkirakan akan diperebutkan oleh AT&T, Blueslice Networks, Entone, ip.access, IPWireless, Jasper Wireless, Nortel, dan Microsoft Connected Services Sandbox. Semuanya berharap mengikuti jejak pemenang tahun lalu Actelis Networks yang menjaring penghargaan untuk produk penyedia carrier Ethernet over copper.
Kategori menarik lainnya meliputi Best Wholesale Carrier yang akan diperebutkan antara lain oleh TeliaSonera International Carrier, iBasis, BT, AT&T, Belgacom International Carrier Services, VSNL, dan AES Communications Rio de Janeiro. Orange Business Services juga diperkirakan akan bersaing ketat dengan T-Mobile UK, 3, Telstra, dan Bharti Airtel.