My Opera is closing 3rd of March

Sahabat Hutan

Media Revolusi Manajemen Pengelolaan Hutan

Subscribe to RSS feed

Revolusi Manajemen Pengelolaan Hutan

Assalaamu'alaikum

Selamat datang di ruang ini, tempat kita mempersiapkan perencanaan, perencanaan, operasi, dan pengawasan terhadap manajemen pengelolaan hutan.

Hal yang perlu kita pikirkan sebelum memulai suatu perencanaan adalah persiapan tentunya, meliputi survey data sekunder dan primer. Data-data sekunder biasanya dapat kita peroleh dari instansi-instansi pemerintah dan lembaga-lembaga swasta yang ada di sekitar kita atau lembaga swasta asing (NGO). Sedangkan data-data primer dapat kita peroleh dengan pelaksanaan eksperimen-eksperimen di laboratorium atau studi kasus di suatu tempat yang memiliki permasalahan kehutanan yang sesuai. Semua data yang ada tentunya tidak dapat kita olah secara langsung karena membutuhkan teknik dan metode pengolahan, Sumber daya manusia, dan fasilitas yang memadai agar hasil olahan menunjukkan validitas yang tinggi dan reliabilitas yang optimal. Mungkin dalam hal metode pengelolaan, dapat dengan menggunakan metode manajemen konvensional atau syari'ah (Dalam Term Islam) yang sudah tercakup dalam disiplin ilmu akutansi, kita perlu memilih dengan objektif, mana sistem pengelolaan yang efektif. Adapun Dalam hal Sumber daya manusia kita memerlukan kuntitas dan kulaitas, kuantitas harus optimal dan kualitas harus baik, baik ditinjau dari segi kompetensinya maupun perilaku-moral yang dimilikinya. Fasilitas juga dilengkapi secara efektif dan efisien agar tidak terjadi pemborosan tidak berarti atau kekurangan fungsi dalam penggunaannya nanti.
Sementara ini, kita memiliki permasalahan dalam memilih sistem pengelolaan dan individu-individu yang kita serahkan tugas dalam melaksanakan pengelolaan tersebut, sedangkan dalam hal penyediaan fasilitas, maka tidak ada masalah yang berarti. Permasalahan dalam penyediaan sistem pengelolaan dan individu-individu ini, adalah terletak pada benturan nilai-nilai yang ada (Agama, misalnya)dengan sistem tersebut, serta kualitas moral individu-individu tersebut. Kedua hal tersebut jika tidak ditangani dengan segera akan mengakibatkan bencana-bencana besar yang --tentu saja--merugikan semua pihak, baik pada saat terjadinya bencana itu maupun setelahnya. Misalnya, bencana banjir bandang yang terjadi di binjai pada tanggal 20 juni yang lalu, atau bencana banjir tahunan yang melanda jakarta, atau bencana banjir bahorok yang menimpa bengkulu pada tahun 2003 yang lalu. Bencana-bencana tersebut tentu saja telah "terencana" sebelumnya oleh sistem pengelolaan yang ada dan moral individu-individu yang berkaitan dengannya. Tidak ada orang yang dapat menyangsikan tingginya teknologi yang dipakai dalam mengelola daerah tersebut, seperti penggunaan satelite, penakar curah hujan otomatis, stasiun cuaca, stasiun pencatat banjir, software-software canggih, dan perangkat teknologi lainnya. Tidak ada orang-orang yang dapat menyagsikan kemampuan intelektual para ahli di bidang hidrologi, atau geologi, tanah, bendungan, sungai, tata kota dan bidang lainnya. Namun yang terjadi adalah sebagaimana yang saya ungkapkan di atas tadi, yaitu sistem pengelolaan dan moral individu yang tidak berkualitas. Demikian, sedikit uraian mengenai penyebab dari bencana-bencana "terencana" yang tejadi di setiap daerah di indonesia. Berikutnya, yang perlu kita pikirkan bersama adalah solusi apa yang dapat kita terapkan secara praktis untuk merubah total, atau minimal merevisi sistem pengelolaan tersebut beserta kualitas moral individu yang terkait dengannya.

Assalaamu'alaikum
February 2014
S M T W T F S
January 2014March 2014
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28