Pengendalian Hama Tikus Terpadu
Wednesday, January 2, 2013 2:20:48 PM
Tikus sawah merupakan hama utama padi yang memyebabkan kerusakan tanaman rata – rata 17% per tahun. Tikus sawah merusak tanaman pada semua stadia umur. Untuk mengatasinya diperlukan usaha yang sungguh – sungguh dan terus menerus selama musim tanam.
PERMASALAHAN DI TINGKAT PETANI
> Pengendalian sering dilakukan jika sudah terjadi serangan karena lemahnya monitoring yang menyebabkan keterlambatan penanganan
> Kurangnya pemahaman tentang aspek dinamika populasi tikus
> Kurangnya keperdulian petani dan lemahnya organisasi tingkat petani terhadap pelaksanaan pengendalian
> Adanya presepsi mistis atau mitos “ den baguse”
TEKNIS PELAKSANAAN PENGENDALIAN
1. Pemanfaatan Musuh Alami.
Yaitu dengan memanfaatkan musuh alamiah tikus seperti ular,kucing,anjing,burung elang, maupun burung hantu ( Tito Alba )
2. Kultur Teknis
Yaitu pengendalian yang diintregasikan dengan budidaya padi. Metode ini bertujuan mengkondisikan lingkungan sawah agar kurang mendukung untuk kelangsungan hidup dan reproduksi. Yang meliputi:
> Tanam dan panen serempak dalam hamparan luas. Bertujuan untuk membatasi kelangsungan ketersedian pakan.
> Pola tanam yang tepat yaitu padi-padi-palawija, padi-padi-bero atau padi-palawija-padi. Bertujuan menekan ketersedian pakan, menekan kerapatan populasi dan menekan siklus hidup tikus.
> Pengaturan jarak tanam/tanam jajar legowo. Dengan adanya lorong yang terbuka membuat tikus kurang suka untuk tinggal karena akan mudah diketahui oleh musuh alaminya.
Jajar Legowo Di Grogolan Kec. Karanggede
3. Sanitasi Habitat
Dilakukan selama musim tanam padi dengan membersihkan lingkungan dan pematang dari semak dan gulma biar tidak digunakan untuk sarang.
4. Fumigasi / Pengemposan Massal
Dilakukan secara serentak pada awal tanam yang melibatkan seluruh masyarakat tani. Efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya dalam sarang.

5. Pengumpanan Rodentisida.
Efektif dilakukan pada awal musim tanam saat padi vase vegetatif dan dilakukan serentak. Tata cara pengumpanan sebagai berikut:
> Pra Umpan. Adalah melakukan pengumpanan selama 2 - 3 hari tanpa mencampur dengan racun rodentisida. Bertujuan untuk merangsang tikus memakan umpan pada bumbung umpan dan tikus tidak jera karena tidak ada efek apapun setelah memakanya. Ingat tikus adalah binatang yang cerdik dan sangat peka terhadap lingkungan maupun makananya.
> Pengumpanan . Inilah pengumpanan yang sesungguhnya yaitu mencampur umpan dengan racun rodentisida. Ketika tikus merasa nyaman dengan tahap Pra Umpan dan pada hari ke 3 atau 4 dilakukan Pengumpanan akan membuahkan hasil yang optimal karena banyak tikus yang memakan umpan bercampur racun rodentisida.
> Penempatan Umpan. Tempatkan umpan dalam bumbung pelindung, bisa terbuat dari bambu, tempurung kelapa atau bahan yang lain. Bertujuan agar umpan yang bercampur racun terlindung dari hewan ternak maupun udara lembab ataupun hujan sehingga umpan akan lebih awet dan hemat biaya. Tikus juga merasa nyaman dikala memakan umpan tersebut karena merasa terlindung dari musuh alaminya.
Bumbung Tempat Umpan dari bambu
Bumbung Tempat Umpan dari tempurung kelapa
6. Gerakan Bersama ( Gropyokan Massal )
Adalah pengendalian tikus dengan cara menggali atau membongkar sarang tikus yang dilakukan secara berkelompok atau bersama – sama. Gerakan ini efektif dilalukan pada kondisi lahan bero.
7. Penerapan TBS
TBS merupakan pengendalian tikus dengan menggunakan tanaman perangkap seluas 25m2 dalam suatu hamparan luas dengan pola tanam serempak. Tanaman perangkap ditanam 3 minggu lebih dulu dibanding tanaman lainya. Tanaman perangkap terletak pada petak yang strategis untuk pengendalian tikus.
8. Penerapan LTBS
Merupakan bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60cm yang membatasi antara persawahan dengan habitat tikus dan tanpa tanaman perangkap. Setiap jarak 20 m diberi perangkap berupa bubu perangkap tikus

WASPADALAH DAN INGAT
1. Jumlah tikus yang terbunuh bukanlah suatu keberhasilan namun populasi tikus yang masih hiduplah yang wajib diwaspadai. Ingat sepasang tikus akan berkembang biak menjadi ± 2000 ekor dalam setahun.
2. Pengamatan dan monitoring sejak dini wajib dilakukan dengan mengamati lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tikus secara terus menerus sepanjang musim tanam.
3. Ingat tikus merupakan binatang yang sangat cerdik dan hidup secara berkelompok waspadalah kemungkinan terjadinya migrasi atau perpindahan secara tiba-tiba dari daerah lain.
4. Pengendalian tikus tidak bisa dilakukan secara individu, karena justru akan menyebabkan kerusakan yang lebih tinggi.
REKOMENDASI PHT
POPT/PHP Kec. Karanggede.
Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali
Jl Karanggede – Gemolong Km 1 Pos, 57381
Email : bppkaranggede@gmail.com
http//www.bppkaranggede.wordpress.com
- >






