Saturday, 14. November 2009, 03:37:20
Sajak
Sajak buat petani petani.
Cerah, nan menawan!
Sayup, semilir angin menerpa dinding2 bumi.
Serasa hembus kehidupan menyiram bumi dan jiwa petaniku -petaniku.
Gaduh! Riuh!
Dentuman cangkul menghantam tanah, lenguhan sapi menarik bajak, senandung tembang jawa pembajak, gemricik air karena hujan smalam, sendau gurau petani petani, dan traktor bajak pertanda modernisasi menderu menumpahkan kotoran kotoran polusi.
Sungguh Agung kau Tuhanku, pertanda khidupan kini nampak kmbali.
Dan mulialah engkau petani petani.
Saturday, 20. June 2009, 08:25:53
Petani
Wednesday, 15. April 2009, 17:36:21
CerPen
Senja Untuk Wisnu
Oleh:Yauma
Senja lambat-lambat jatuh, melewati bongkahan awan. Senja kuning telur. Awan putih krayon. Anak-anak gaduh. Mereka main bola.
"Anjing, tangkaplah bolanye!" teriak satu anak.
"Pajo!" sahut anak lain. Ia menolak. Yang lain terkekeh.
Burung berkicau. Hinggap berdua-dua bercumbu di kabel listrik. Lalu terbang menghambur ketika deru motor mendekat.
Wisnu, ini sore yang rancu.
Wisnu, aku cinta padamu.
Mungkin kau tidak bisa tidur nyenyak di sana. Sibuk menulis laporan tentang perang. Bertanya-jawab dengan anak-anak pengungsi yang wajahnya kusam kena debu, kasar kena pasir. Kau memangku gadis yang paling mungil. Baju bunga-bunganya bebercak kehitaman di bagian dada. Rambutnya hitam kepirangan kena matahari gurun. Dia bilang, orang tuanya tewas dua hari lalu ditembak serdadu bermata biru.
Atau, kau tengah memotret si bocah laki-laki yang bersimpuh dekat sepatumu. Yang sebelah matanya berair. Sebelah lagi buta kena bogem tentara saat ketahuan melempar batu. Dia baru delapan tahun. Larinya belum gesit. Tapi ia nekat melawan tentara yang hampir memerkosa kakaknya.
Usianya tak jauh beda dari putrimu. Tapi dia tak sempat merasakan desir angin dari sepeda yang melaju, milik dia sendri. Tak sempat belajar menulis huruf. Tak sempat belajar Bahasa Inggris. Beberapa hal itu membuatnya jauh beda dari Sentarum. Aku tahu Wisnu. Mengingat itu, matamu basah.
Bisa juga kau sekarang sedang duduk di tikar bersama pria-pria bersorban, dekat reruntuhan rumah mereka. Di bahu-bahu mereka tersandang senjata, bukan sajadah. Beberapa pemuda menggenggam batu. Tangan mereka bebercak darah. Berbulan-bulan lalu mereka masihmenatapmu curiga. Sebab kau Katolik. Teman Yahudi, kaum yang hendak merebut tanah mereka. Bau mayat menguar. Tubuh orang mati bertumpuk 100 meter dari tempat kau bersila. Udara gersang, kering, dan gerah. Mengeringkan darah dan air mata.
Tidak Wisnu!
Jangan bilang senapan mereka sudah terkokang di perutmu!
Kau ditodong karena mereka tak percaya kau wartawan. Kalau benarpun, tak ada bedanya. Mereka sudah putus asa. Beribu berita sudah terbit. Tapi mereka dibombardir tembakan, sedang bantuan tak kunjung datang. Masih saja terdengar jeritan-jeritan pilu perempuan-perempuan di tengah malam di siang bolong di sela-sela adzan, entah gadis atau janda atau hamil atau bersuami atau anak-anak.Mayat-mayat berserakan seperti sampah seperti remah.
Tapi jangan takut Wisnu. Jangan pernah takut.
Ah, sore ini rawan, Wisnu.
Maaf, aku tak tahu apa yang kubicarakan.
Hari sudah gelap. Hujan deras mengucur tak henti dua hari belakangan. Seperti air mata. Seperti kerinduan. Seperti cinta kasih yang ingin dimuntahkan. Namun sore ini, kehabisan tenaga. Hingga aku bisa melihat awan yang berarak. Prajurit pulang, katamu suatu waktu.
Aku melihat awan Wisnu. Aku merindukan matamu. Awan itu sudah pulang. Kau belum.
Aku ingat cita-citamu. Ingin mengelilingi dunia. Kau orang bebas yang ingin menulis banyak hal. Kau benci kekuasaan. Maka kau benci perang. Yak kan? Kau mau melawan dengan tulisan.
Aku hanya bisa menulis kerinduan yang entah akan kualamatkan ke mana. "Aku akan pergi ke daerah perang," katamu sejurus sebelum keberangkatan. Lalu tak berjejak. Meninggalkan aku yang masih bertanya-tanya, perlukah cinta dipenuhi haru-biru. Tapi apalah yang kutahu tentang cinta, Wisnu? Selain ia dipuja-puji dan ditulis banyak pujangga. Mungkin cinta seperti angin, tak berwarna tak berwujud tapi membelai meniup menghembus. Entahlah, yang jelas ia lima huruf.
Azan sudah bernyanyi, Wisnu.
Pulanglah.
Aku menunggumu dengan sebuah kecupan.
Selamat ulang tahun.
Di balik jendela yang membias jingga,
Desember sebelum Natal 2008
© KOMPAS.com.
Tuesday, 31. March 2009, 13:12:28
Bahasa
Seperti yg di posting oleh
Sartono Mengapa Kita Perlu Bangga pada Bahasa Indonesia

Seorang ahli politik dan pengarang dari Irlandia yaitu Thomas Osborne Davies (1814-1845) pernah menyampaikan pernyataan yang selalu menjadi catatan bagi para politikus, yaitu "A people without a language of its own, is only half a nation". Artinya kurang lebih suatu bangsa (negara) yang tidak memiliki bahasa yang berasal dari miliknya sendiri, dianggap 'setengah bangsa' atau bukanlah bangsa yang besar. Bisa diartikan bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki bahasanya sendiri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki bahasa nasionalnya sendiri.
Read more...
Saturday, 28. March 2009, 06:35:49
Adenium
Lihat adeniumku! Kliatan ga terurus.

Jika libur panjang memang kesempatan buat pulkam skeluarga. Tapi tiap kali liat koleksi tanaman hiasku jd sedih. Makin hari makin berkurang, seperti adenium adenium kesayanganku.


Yang paling besar busuk karena kbanyakan air pdhl dah 5 th aku pliara dan bentuknya uda lumayan bagus juga beberapa yg laen bernasib sama. Hixzz... Yg paling menyedihkan lg adalah adenium itu adalah adenium indukan yg aku gunakan untuk persilangan.
Wednesday, 4. March 2009, 16:12:40
Tekno
Ini baru sebuah teknologi

. Dalam menyikapi krisis energi dan perkembangan Informasi Teknologi, ZTE (cnet) vendor ponsel asal cina membuat handset tenaga surya yang cukup diisi ulang dengan sinar matahari. Perusahaan China ini mengungkap ponsel tenaga surya produksinya yang murah meriah dibanding para rival.
Menurut ZTE, ponsel yang rencananya akan dipasarkan pada bulan Juni 2009 itu memang ditujukan bagi masyarakat miskin seperti Haiti, Samoa dan Papua New Guinea yang sukar mendapat listrik.
Panel tenaga surya ada di belakang ponsel. Isi ulang selama 1 jam di saat matahari bersinar penuh dan diklaim mampu menyediakan 15 menit talk time. Ponsel ini juga bisa diisi ulang dengan charger biasa. Harganya hanya US$ 40 saja. Hehehe brarti negara kita ga masuk kategori miskin listrik, tapi sering mati lampu yah.
Thursday, 12. February 2009, 13:30:21
Mesin, opera, Bahasa Jawa, Javascript
Tim developer Opera Software memilih nama Carakan untuk mesin Javascript terbaru yang tengah dikembangkannya. Uniknya, nama Carakan diambil langsung dari Bahasa Jawa yang berarti daftar huruf Jawa yang dikenal sebagai Hanacaraka.
Read more...
Thursday, 12. February 2009, 12:21:42
vs, hacker, Vendor
Situs Diserang, Kaspersky Bantah Kecurian
Hackers Blog. Kaspersky Lab langsung melakukan investigasi menyeluruh setelah hacker berhasil menyerang situsnya di usa.
Read more...
Sunday, 8. February 2009, 17:05:15
kangen., tempoe doeloe, Pasar, traditional
Wednesday, 4. February 2009, 09:18:58
Jangan, Sayang!
Dibudang sayang Ditendang jangan.
Itu ungkapan yg pas untuk indosat. Telkomsel Flash yang saat ini di puji hingga gaungnya bener bener menggaung

tiba tiba ngadat, melambat, lalu macet cet.

. Ini keduakalinya yang ku alami semenjak aku pake Flash. Pertama sebagai penutup 2008 skaligus pembuka tahun 2009. T-sel Flash ngadat, ada kata maklum karena bertepatan dengan Natal dan Tahun Baru. Jadi ada kemungkinan pemakaian Voice Call dan SMS meningkat praktis ruang kosong untuk GPRS tercaploknya.
Read more...
1 2 3 Next »
Showing posts 1 -
10 of 24.