CerPen
Wednesday, 15. April 2009, 17:36:21
Senja Untuk Wisnu
Oleh:Yauma
Senja lambat-lambat jatuh, melewati bongkahan awan. Senja kuning telur. Awan putih krayon. Anak-anak gaduh. Mereka main bola.
"Anjing, tangkaplah bolanye!" teriak satu anak.
"Pajo!" sahut anak lain. Ia menolak. Yang lain terkekeh.
Burung berkicau. Hinggap berdua-dua bercumbu di kabel listrik. Lalu terbang menghambur ketika deru motor mendekat.
Wisnu, ini sore yang rancu.
Wisnu, aku cinta padamu.
Mungkin kau tidak bisa tidur nyenyak di sana. Sibuk menulis laporan tentang perang. Bertanya-jawab dengan anak-anak pengungsi yang wajahnya kusam kena debu, kasar kena pasir. Kau memangku gadis yang paling mungil. Baju bunga-bunganya bebercak kehitaman di bagian dada. Rambutnya hitam kepirangan kena matahari gurun. Dia bilang, orang tuanya tewas dua hari lalu ditembak serdadu bermata biru.
Atau, kau tengah memotret si bocah laki-laki yang bersimpuh dekat sepatumu. Yang sebelah matanya berair. Sebelah lagi buta kena bogem tentara saat ketahuan melempar batu. Dia baru delapan tahun. Larinya belum gesit. Tapi ia nekat melawan tentara yang hampir memerkosa kakaknya.
Usianya tak jauh beda dari putrimu. Tapi dia tak sempat merasakan desir angin dari sepeda yang melaju, milik dia sendri. Tak sempat belajar menulis huruf. Tak sempat belajar Bahasa Inggris. Beberapa hal itu membuatnya jauh beda dari Sentarum. Aku tahu Wisnu. Mengingat itu, matamu basah.
Bisa juga kau sekarang sedang duduk di tikar bersama pria-pria bersorban, dekat reruntuhan rumah mereka. Di bahu-bahu mereka tersandang senjata, bukan sajadah. Beberapa pemuda menggenggam batu. Tangan mereka bebercak darah. Berbulan-bulan lalu mereka masihmenatapmu curiga. Sebab kau Katolik. Teman Yahudi, kaum yang hendak merebut tanah mereka. Bau mayat menguar. Tubuh orang mati bertumpuk 100 meter dari tempat kau bersila. Udara gersang, kering, dan gerah. Mengeringkan darah dan air mata.
Tidak Wisnu!
Jangan bilang senapan mereka sudah terkokang di perutmu!
Kau ditodong karena mereka tak percaya kau wartawan. Kalau benarpun, tak ada bedanya. Mereka sudah putus asa. Beribu berita sudah terbit. Tapi mereka dibombardir tembakan, sedang bantuan tak kunjung datang. Masih saja terdengar jeritan-jeritan pilu perempuan-perempuan di tengah malam di siang bolong di sela-sela adzan, entah gadis atau janda atau hamil atau bersuami atau anak-anak.Mayat-mayat berserakan seperti sampah seperti remah.
Tapi jangan takut Wisnu. Jangan pernah takut.
Ah, sore ini rawan, Wisnu.
Maaf, aku tak tahu apa yang kubicarakan.
Hari sudah gelap. Hujan deras mengucur tak henti dua hari belakangan. Seperti air mata. Seperti kerinduan. Seperti cinta kasih yang ingin dimuntahkan. Namun sore ini, kehabisan tenaga. Hingga aku bisa melihat awan yang berarak. Prajurit pulang, katamu suatu waktu.
Aku melihat awan Wisnu. Aku merindukan matamu. Awan itu sudah pulang. Kau belum.
Aku ingat cita-citamu. Ingin mengelilingi dunia. Kau orang bebas yang ingin menulis banyak hal. Kau benci kekuasaan. Maka kau benci perang. Yak kan? Kau mau melawan dengan tulisan.
Aku hanya bisa menulis kerinduan yang entah akan kualamatkan ke mana. "Aku akan pergi ke daerah perang," katamu sejurus sebelum keberangkatan. Lalu tak berjejak. Meninggalkan aku yang masih bertanya-tanya, perlukah cinta dipenuhi haru-biru. Tapi apalah yang kutahu tentang cinta, Wisnu? Selain ia dipuja-puji dan ditulis banyak pujangga. Mungkin cinta seperti angin, tak berwarna tak berwujud tapi membelai meniup menghembus. Entahlah, yang jelas ia lima huruf.
Azan sudah bernyanyi, Wisnu.
Pulanglah.
Aku menunggumu dengan sebuah kecupan.
Selamat ulang tahun.
Di balik jendela yang membias jingga,
Desember sebelum Natal 2008
© KOMPAS.com.
Oleh:Yauma
Senja lambat-lambat jatuh, melewati bongkahan awan. Senja kuning telur. Awan putih krayon. Anak-anak gaduh. Mereka main bola.
"Anjing, tangkaplah bolanye!" teriak satu anak.
"Pajo!" sahut anak lain. Ia menolak. Yang lain terkekeh.
Burung berkicau. Hinggap berdua-dua bercumbu di kabel listrik. Lalu terbang menghambur ketika deru motor mendekat.
Wisnu, ini sore yang rancu.
Wisnu, aku cinta padamu.
Mungkin kau tidak bisa tidur nyenyak di sana. Sibuk menulis laporan tentang perang. Bertanya-jawab dengan anak-anak pengungsi yang wajahnya kusam kena debu, kasar kena pasir. Kau memangku gadis yang paling mungil. Baju bunga-bunganya bebercak kehitaman di bagian dada. Rambutnya hitam kepirangan kena matahari gurun. Dia bilang, orang tuanya tewas dua hari lalu ditembak serdadu bermata biru.
Atau, kau tengah memotret si bocah laki-laki yang bersimpuh dekat sepatumu. Yang sebelah matanya berair. Sebelah lagi buta kena bogem tentara saat ketahuan melempar batu. Dia baru delapan tahun. Larinya belum gesit. Tapi ia nekat melawan tentara yang hampir memerkosa kakaknya.
Usianya tak jauh beda dari putrimu. Tapi dia tak sempat merasakan desir angin dari sepeda yang melaju, milik dia sendri. Tak sempat belajar menulis huruf. Tak sempat belajar Bahasa Inggris. Beberapa hal itu membuatnya jauh beda dari Sentarum. Aku tahu Wisnu. Mengingat itu, matamu basah.
Bisa juga kau sekarang sedang duduk di tikar bersama pria-pria bersorban, dekat reruntuhan rumah mereka. Di bahu-bahu mereka tersandang senjata, bukan sajadah. Beberapa pemuda menggenggam batu. Tangan mereka bebercak darah. Berbulan-bulan lalu mereka masihmenatapmu curiga. Sebab kau Katolik. Teman Yahudi, kaum yang hendak merebut tanah mereka. Bau mayat menguar. Tubuh orang mati bertumpuk 100 meter dari tempat kau bersila. Udara gersang, kering, dan gerah. Mengeringkan darah dan air mata.
Tidak Wisnu!
Jangan bilang senapan mereka sudah terkokang di perutmu!
Kau ditodong karena mereka tak percaya kau wartawan. Kalau benarpun, tak ada bedanya. Mereka sudah putus asa. Beribu berita sudah terbit. Tapi mereka dibombardir tembakan, sedang bantuan tak kunjung datang. Masih saja terdengar jeritan-jeritan pilu perempuan-perempuan di tengah malam di siang bolong di sela-sela adzan, entah gadis atau janda atau hamil atau bersuami atau anak-anak.Mayat-mayat berserakan seperti sampah seperti remah.
Tapi jangan takut Wisnu. Jangan pernah takut.
Ah, sore ini rawan, Wisnu.
Maaf, aku tak tahu apa yang kubicarakan.
Hari sudah gelap. Hujan deras mengucur tak henti dua hari belakangan. Seperti air mata. Seperti kerinduan. Seperti cinta kasih yang ingin dimuntahkan. Namun sore ini, kehabisan tenaga. Hingga aku bisa melihat awan yang berarak. Prajurit pulang, katamu suatu waktu.
Aku melihat awan Wisnu. Aku merindukan matamu. Awan itu sudah pulang. Kau belum.
Aku ingat cita-citamu. Ingin mengelilingi dunia. Kau orang bebas yang ingin menulis banyak hal. Kau benci kekuasaan. Maka kau benci perang. Yak kan? Kau mau melawan dengan tulisan.
Aku hanya bisa menulis kerinduan yang entah akan kualamatkan ke mana. "Aku akan pergi ke daerah perang," katamu sejurus sebelum keberangkatan. Lalu tak berjejak. Meninggalkan aku yang masih bertanya-tanya, perlukah cinta dipenuhi haru-biru. Tapi apalah yang kutahu tentang cinta, Wisnu? Selain ia dipuja-puji dan ditulis banyak pujangga. Mungkin cinta seperti angin, tak berwarna tak berwujud tapi membelai meniup menghembus. Entahlah, yang jelas ia lima huruf.
Azan sudah bernyanyi, Wisnu.
Pulanglah.
Aku menunggumu dengan sebuah kecupan.
Selamat ulang tahun.
Di balik jendela yang membias jingga,
Desember sebelum Natal 2008
© KOMPAS.com.








Roxanne # 23. April 2009, 04:26
hmm, kenapa gak coba baca punyaku?
kunjungin ya!
http://my.opera.com/theRoxanne/blog/2009/03/15/go-roxanne-1
comment en subcribe kalo kamu suka ya!
Atma Senthir # 23. April 2009, 09:10
UDIEN_ROY # 4. May 2009, 01:26
Anonymous # 12. May 2009, 14:21
Salam kenal semuanya..
Wah..terima kasih banyak kepada Atma yang memuat cerpen ini di sini. Kebetulan sedang meng-Google blog sendiri, ternyata....
Wah, sangat mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman semua, udienroy, theRoxanne, dan Senthir001.
Jika berkesempatan, blogwalking ke yaumaidea.blogspot.com ya...
Atma Senthir # 13. May 2009, 08:48
Welcome back kang udin! Kyknya dah jd web master neh
ARMED™ # 15. May 2009, 23:15
Met pagi jg buat smuaa
Atma Senthir # 16. May 2009, 02:37
Stefanus Aditya # 24. May 2009, 21:09
Atma Senthir # 25. May 2009, 12:02
ARMED™ # 26. May 2009, 00:47
Atma Senthir # 26. May 2009, 04:21
ARMED™ # 1. June 2009, 00:40
Beryl Rizky Saputra # 19. June 2009, 18:05
>gw Ksni tdi ga sempat bC post tu
panjang kik kik kik
met pagi Semua
Atma Senthir # 20. June 2009, 08:35
Beryl Rizky Saputra # 20. June 2009, 19:26
Atma Senthir # 21. June 2009, 02:21
Beryl Rizky Saputra # 21. June 2009, 10:10
Atma Senthir # 21. June 2009, 14:11
Beryl Rizky Saputra # 21. June 2009, 18:16
Atma Senthir # 22. June 2009, 01:08
ARMED™ # 22. June 2009, 08:27
Beryll dsni jg qm
klo mau yg ringan INI ADA coba aja
Atma Senthir # 22. June 2009, 12:31
ARMED™ # 23. June 2009, 04:46
Atma Senthir # 23. June 2009, 04:54
ARMED™ # 26. June 2009, 07:42
Roxanne # 28. June 2009, 06:31
Cuman mw bilang bg yang kenal ma the Roxanne ada informasi nie!
Roxanne blog baru!
http://my.opera.com/MusicChord/blog/
Kunjungin ya!
jgn lupa kasi komen!
Atma Senthir # 30. June 2009, 13:34
ARMED™ # 1. July 2009, 03:28
Beryl Rizky Saputra # 19. September 2009, 03:27
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.”
Bila kata merangkai dusta..
Bila langkah membekas lara…
Bila hati penuh prasangka…
Dan bila Ada langkah yang menoreh luka.
Mohon bukakan pintu maaf…
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin
Atma Senthir # 19. September 2009, 03:32
Dedox0297 # 19. September 2009, 17:12
Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini
Kemenangan akan kita gapai
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT
Kami sekeluarga menghaturkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Taqobalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin.
Atma Senthir # 20. September 2009, 04:37
Hadi # 1. November 2009, 04:45
Atma Senthir # 1. November 2009, 04:58
Hadi # 1. November 2009, 05:00
ARMED™ # 2. November 2009, 11:47
Hadi # 2. November 2009, 12:24
ARMED™ # 24. November 2009, 03:59
Hadi # 15. December 2009, 02:09
Atma Senthir # 16. December 2009, 03:00