HUT Uda Bas
Sunday, May 8, 2011 3:21:37 PM
Gelisah Kita untuk Timur Tengah
Oleh Shofwan Karim
Sejak Proklamasi Kemerdekaan sampai sekarang, hubungan antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, kecuali Israel, hampir tidak pernah mengalami gangguan berarti. Kecuali kasus-kasus TKI yang selalu dapat dieliminir oleh Indonesia dan mitra negera-negara di Timur Tengah itu.
Beberapa negara di wilayah Asia Barat Daya itu, telah berjasa menyatakan secara de jure Indonesia sebagai negara merdeka mendahului pengakuan resmi negara-negara di belahan kontinen lain.
Mesir, Palestina dan Arab Saudi pada 9 Juni 1947, di Kairo, bahkan dengan dihadiri Menlu H. Agus Salim secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia.
Padahal waktu itu masih terjadi agresi oleh Belanda dan Sekutu lainnya ke beberapa wilayah Indonesia . Berturut-turut Siria, Irak, Yaman, memelopori bersama Afghanistan, Iran dan Turki mendukung kemerdekaan RI.
Hutang sejarah lahirnya RI dan pengakuan politik oleh negara-negara Timur Tengah, tentu saja telah didahului oleh jasa yang paling tinggi yaitu Iman yang menghunjam di kalbu kita dan Islam yang kita pakai dalam hidup di dunia ini. Kiblat kita adalah Ka’batullah di tengah kota Suci Mekkah.
Dan Mesir? Adalah sumber kecerdasan kita, inspirasi intelektual serta sumber kemajuan berfikir bagai lautan ilmu yang ditimba para tokoh kita sejak awal abad lalu sampai sekarang .
Lalu, gejolak Timur Tengah yang dimulai dari Tunisa, Mesir, Libya, Aljazair, Yaman, Bahrain, Oman dan Siria yang berlangsung sejak ujung tahun lalu sampai hari ini, tentulah menimbulkan dampak yang tidak sedikit kepada bangsa kita. Mulai dari dampak materi sampai ke dampak psikologis dan keruhanian yang tak dapat dielakkan.
Para pakar enerji sudah semakin pesimis, gejolak itu akan mengancam ketersediaan energi Indonesia. Para investor, ketar-ketir akan investasi mereka di Indonesia yang mungkin terganggu dan investor kita yang juga ada yang berinvestasi di Timur Tengah.
Yayasan Timur Tengah yang banyak membantu peningkatan kapasitas umat juga telah memberi aba-aba, bahwa donasi ke sini sudah terganggu dan masa depannya gelap.
Tenaga Kerja Indonesia yang hampir sejuta setengah orang, di lebih 20-an negara di Timur Tengah kini galau. Ada yang pulang tetapi tentu saja ada yang tinggal di sana dengan keadaan yang tidak pasti.
Mahasiswa kita yang belajar di berbagai negara tempat lahirnya agama-agama samawi itu ada yang sempat pulang ke Tanah Air. Mereka belum merasa gres untuk kembali ke sana. Begitu pula mereka yang berada di sana, belum melihat titik cerah seperti masa lalu.
Akankah Timur Tengah menjadi wilayah konflik yang berkepanjangan? Masa 60 tahun sampai sekarang wilayah konflik itu adalah Israel yang mencaplok wilayah Palestina. Akan tetapi hari-hari sekarang dan ke depan ini, sepertinya menjadi bara api yang bergelora dan membakar ke mana-mana. Ironisnya, wilayah ini adalah pusat bumi dalam makna yang sebenarnya dan lebih dari itu adalah pusat umat Islam sedunia. (SK).***
Oleh Shofwan Karim
Sejak Proklamasi Kemerdekaan sampai sekarang, hubungan antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, kecuali Israel, hampir tidak pernah mengalami gangguan berarti. Kecuali kasus-kasus TKI yang selalu dapat dieliminir oleh Indonesia dan mitra negera-negara di Timur Tengah itu.
Beberapa negara di wilayah Asia Barat Daya itu, telah berjasa menyatakan secara de jure Indonesia sebagai negara merdeka mendahului pengakuan resmi negara-negara di belahan kontinen lain.
Mesir, Palestina dan Arab Saudi pada 9 Juni 1947, di Kairo, bahkan dengan dihadiri Menlu H. Agus Salim secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia.
Padahal waktu itu masih terjadi agresi oleh Belanda dan Sekutu lainnya ke beberapa wilayah Indonesia . Berturut-turut Siria, Irak, Yaman, memelopori bersama Afghanistan, Iran dan Turki mendukung kemerdekaan RI.
Hutang sejarah lahirnya RI dan pengakuan politik oleh negara-negara Timur Tengah, tentu saja telah didahului oleh jasa yang paling tinggi yaitu Iman yang menghunjam di kalbu kita dan Islam yang kita pakai dalam hidup di dunia ini. Kiblat kita adalah Ka’batullah di tengah kota Suci Mekkah.
Dan Mesir? Adalah sumber kecerdasan kita, inspirasi intelektual serta sumber kemajuan berfikir bagai lautan ilmu yang ditimba para tokoh kita sejak awal abad lalu sampai sekarang .
Lalu, gejolak Timur Tengah yang dimulai dari Tunisa, Mesir, Libya, Aljazair, Yaman, Bahrain, Oman dan Siria yang berlangsung sejak ujung tahun lalu sampai hari ini, tentulah menimbulkan dampak yang tidak sedikit kepada bangsa kita. Mulai dari dampak materi sampai ke dampak psikologis dan keruhanian yang tak dapat dielakkan.
Para pakar enerji sudah semakin pesimis, gejolak itu akan mengancam ketersediaan energi Indonesia. Para investor, ketar-ketir akan investasi mereka di Indonesia yang mungkin terganggu dan investor kita yang juga ada yang berinvestasi di Timur Tengah.
Yayasan Timur Tengah yang banyak membantu peningkatan kapasitas umat juga telah memberi aba-aba, bahwa donasi ke sini sudah terganggu dan masa depannya gelap.
Tenaga Kerja Indonesia yang hampir sejuta setengah orang, di lebih 20-an negara di Timur Tengah kini galau. Ada yang pulang tetapi tentu saja ada yang tinggal di sana dengan keadaan yang tidak pasti.
Mahasiswa kita yang belajar di berbagai negara tempat lahirnya agama-agama samawi itu ada yang sempat pulang ke Tanah Air. Mereka belum merasa gres untuk kembali ke sana. Begitu pula mereka yang berada di sana, belum melihat titik cerah seperti masa lalu.
Akankah Timur Tengah menjadi wilayah konflik yang berkepanjangan? Masa 60 tahun sampai sekarang wilayah konflik itu adalah Israel yang mencaplok wilayah Palestina. Akan tetapi hari-hari sekarang dan ke depan ini, sepertinya menjadi bara api yang bergelora dan membakar ke mana-mana. Ironisnya, wilayah ini adalah pusat bumi dalam makna yang sebenarnya dan lebih dari itu adalah pusat umat Islam sedunia. (SK).***

