"Wellcome to my operamini Tobing79"

Horas...3x....!

sejarah islam di tanah batak

Tuanku Rao: Teror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak
for everyone

dari berbagai sumber.

Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama.

Sebagaimana seluruh wilayah di Asia Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu), yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina. Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira.

Maka pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833. Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816-1820 dan kemudian mengislamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.

Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Caivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu. Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara. Bahkan akibat agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri sampai Malaya.

Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan marga Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga Singamangaraja X. Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, marga Siregar sering melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu- sesuai tradisi Batak.

Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan. Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar -yang datang bersama pasukan Paderi, di bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja. Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.

Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual" kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir. Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh. Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngolan. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya. Tubuh Pongkinangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah Danau dan kemudian dibuang ke air.

Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya dengan berpegangan pada kayu, Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.

Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.

Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya. Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat khitan dan syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak!

Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.

Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun.

Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku Marajo (Harahap).

Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda. Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah.

Orang-orang marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 - 4 untuk kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran. Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit.

Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan. Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X.

Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja. Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=4737

Catatan:

Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku yang ditulis oleh Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, "Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak", Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964.

Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyut dari Mangaraja Onggang Parlindungan (hlm. 358). Dari ayahnya, Sutan Martua Raja Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh warisan sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari Willem Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman. Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya. Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut.

Mayjen TNI (Purn.) T. Bonar Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung sejarah Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Parlindungan Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. Parlindungan Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku tersebut.

SINYAL HILANGaplikasi mirc di hanphone

Comments

Unregistered user Monday, May 24, 2010 3:06:26 AM

Anonymous writes: cerita pantek

Unregistered user Sunday, August 8, 2010 1:42:04 AM

Anonymous writes: sumbernya banyak yang salah, terlampau terikat sama reference bahwa islam dari gujarat... padahal jauh dari itu, islam sdh masuk saat masa kekhalifahan sahabat nabi...abad 6-7,

Unregistered user Saturday, March 26, 2011 2:47:23 AM

Anonymous writes: dari FFI ya, cape dech

Unregistered user Saturday, March 26, 2011 4:56:55 AM

Anonymous writes: Jika di jawa ada para Wali di Sumatera ada juga para Padri. Tuanku Rao adalah salah satu Padri itu. Perdebatan muncul pd buku Tuanku Rao karangan Mangaradja Onggang Parlindungan yang sebenarnya pengarang sendiri mengakui bahwa buku capita selecta ini mendapat data dari org tuanya, yang data-data itu sudah dimakan rayap dan banyak yg sudah tidak bisa terbaca lagi. Sehingga jelas keakuratannya sangat kecil. perlukah diperdebatkan? sebuah buku yang mencampuradukkan fakta sejarah, mitos, imajinasi, dan folklore (dongeng). Satu-satunya sumber hanyalah memoar Tuanku nan Renceh yang disalin dari tulisan-tulisan berbahasa Arab ke Latin oleh Sutan Martua Raja—ayah Mangaradja Onggang Parlindungan. Ketika saya membaca buku karangan Mangaradja Onggang terbitan 1964 ini, saya anggap saja membaca sebuah Novel Sejarah.

Unregistered user Friday, April 15, 2011 5:19:01 PM

Anonymous writes: ternyata penulis cerita ini penipu alias pembohong, atau pangota...............karena perang paderi tidak ada unsur teror tapi penulis ini adalah peneror yang bodoh akan sejarah sok tahu sejarah tapi bodoh sekali............alias dodong

Unregistered user Monday, August 15, 2011 6:00:15 AM

Anonymous writes: mhwahhaaa... ngaco lu bos...

Unregistered user Monday, August 15, 2011 7:19:40 AM

Anonymous writes: hoaxxxx... bisa bikin perpechan krena sumber yg kaco...

Unregistered user Monday, August 15, 2011 1:28:29 PM

wisoka prihat siregar writes: baru ini saya bisa tahu sejarah batak "MARSIALANGAN PUANG" DANG TARBOTO DO AHU MAMBACA ON, BOI BAH AHU NUAENG MAR HARMONY DOHOT CHEMISTRY TO BUKU ON,ASA HU BOTO MEMANGT BONAR MANANG DAONG ISI NI BARITA ON, MANTAOP DAN BAGUS ISI BERITANYA....MENJADI SUATU PENASARAN BAGI SAYA, sepengetahuan saya pernah baca buku merah AHU SISINGAMANGARAJA dankisah keluarga sisingamangaraja ada istri keluarga TUAN sisingamangaraja boru ni raja SIREGAR. hormat saya, SAYA WISOKA PRIHAT SIREGAR http://www.youtube.com/user/siregarwisoka

Unregistered user Tuesday, September 20, 2011 5:21:45 AM

Anonymous writes: Terlepas dari budaya, marga dan agama, saya melihat thread ini sangat masuk akal. Bila disesuaikan dengan pola budaya, penyebaran penduduk, marga, komposisi religion di tanah batak sangat sesuai dengan thread diatas. Saya senang dengan fakta, tidak terikat dengan kepentingan pribadi dan golongan. Kikis habis semua kebohongan, tunjukkan mentalitas kebenaran. Banyak BERITA FAKTA SEJARAH sekarang, kalau di web " INTERNET FILTERING". Bila di TV "CENSORED".

Unregistered user Tuesday, September 20, 2011 5:31:26 AM

Anonymous writes: Di tanah batak bagian utara saja masih ada istilah: " Perang Batak, silom, dalle, pidari. Ternyata itu merunut pada perang batak dulu. Dulu, di daerah Batak Selatan banyak penduduk dari Batak Utara bermukim dan menggarap tanah. Namun karena pemaksaan untuk menghilangkan marga (maka disebut dalle), dan masuk ke religi tertentu (disebut silom), banyak dari mereka pulang ke Batak Utara dan sampai sekarang cerita itu masih ada. Katanya, bila tidak mau dipaksa oleh pemenang Perang Batak untuk suatu hal tertentu , mereka akan dihabisi dan dibunuh.

Unregistered user Thursday, September 22, 2011 3:38:14 PM

Anonymous writes: hanya sebagian kecil yang betul tapi kebanyakan salah.

Unregistered user Tuesday, September 27, 2011 10:52:53 AM

Anonymous writes: sisingamangaraja?? muslim kan??

Unregistered user Saturday, December 10, 2011 7:51:45 AM

Aldo nainggolan writes: Sejarah batak sangat memberi kita pengetahuan yg mentradisi. Semoga suku batak untuk ke depan,bisa menjalin perdamaian. Walau pun ada perbedaan dalam menganut agama. Semua satu tujuan,hanya perbedaan pelaksanaan.

Unregistered user Tuesday, December 27, 2011 9:42:37 AM

dato writes: KAYAKNYA ARTIKEL INI HOAX, ALIAS TIPU2.... HAMBALI KOQ SYIAH? TRUS SYIAH KOQ JDI JENISARI (PASUKAN ELIT TURKI YG SUNI) ...GA NYAMBUNG BUNG... ARTIKEL2 HOAX GINI EMANG CIRI DARI INDONESIA FAITHFREEDOM... NGAWUR2 BUNG...KELIHATAN GOBLOK dan BODOHNYA MEREKA

Unregistered user Thursday, January 26, 2012 5:45:56 PM

Anonymous writes: Penulisan yang sangat rapi dan bagus dengan pengaturan alur yang amat menarik seakan membawa pembaca terlibat dalam cerita yang membuat penasaran, "Apakah penulis seorang yang frustrasi, putus asa, atau pecundang yang tak siap menghadapi kebenaran?" Saran saya. Sebelum memfitnah, hendaknya dalami dulu dengan sepenuh hati apa dan siapa yang hendak difitnah agar cerita yang menggelikan ini lebih bermakna. Orang Batak bukan pemfitnah Orang Batak bukan pecundang Orang Batak bukan seperti anda Camkan itu..!

Unregistered user Friday, February 10, 2012 4:02:36 AM

Panciloooooooook writes: Bagi yang merasa Keturunan Raja Batak, kuharap semua setuju akan buku Tuanku Rao, karena sampai saat ini masi terasa dan tersirat semua kekejaman si Imam bonjol ini di tanah batak. Seandainya Imam bonjol tidak menggenosoida Bangso Batak dan mendoktrin Tapsel, mungkin sampai saat ini Bangso Batak akan KOMPAK dan tidak terpecah belah.., dan hanya orang yang bukan keturunan Raja Bataklah yang mengejek buku ini, karena wajar mereka tidak tahu dan malu mengakuinya.., bisa kita lihat sekarang, penyebaran agama mereka masi selalu dengan perang, seperti di Thailand, Philipin, India, dan dimana mana, seperti itulah yang terjadi dulu di Tanah Batak... itu adalah FAKTA!!!!!!! HORAS BANGSO BATAK!!!!!!!

Write a comment

New comments have been disabled for this post.