Kisahku

Spiritual & Supranatural

Subscribe to RSS feed

Ritual Malam 1 Suro .....

, ,

Mohon dilihat dari sisi Supranatural....







Penarikan Pusaka di suatu tempat .....
bersama Neng Inem, bang Khiepoet, Ko Salim, Ko Sarva
dan sesepuh'' kami....





Tawasulan.....

kebetulan saya kebagian pertama kirim doa......

dilanjutkan oleh sesepuh kami.....



Sesepuh kami trance.....
menunjukkan tempat jatuhnya pusaka



Pencarian pusaka.....

menggunakan metode telor ayam kampung....









kebetulan.....

kami bagian dokumentasi ....

Orbs di belakang Ko Salim di foto beberapa kali yang masih di tempatnya semula...





Hasil penarikan......

dengan kerendahan hati.....




bagian saya .....
dengan kerendahan hati.....

On Air di Radio

, ,

Membahas tentang dunia supranatural & Indonesia AMulets





MisterI Rumah Tusuk Sate (Wawancara dng Trans TV)




Tusuk Sate
Rumah tusuk sate adalah rumah yang terletak di pertigaan jalan dengan salah satu sisi jalannya berhadapan langsung dengan rumah tersebut. Ada juga yang menggambarkan lokasi rumah tusuk sate seperti huruf T.

Rumah Tusuk Sate:
“Sebuah Lokasi yg sering mengundang Bencana tapi juga memanggil rejeki”
1. Karena Letaknya, Sehingga pengaruh angin yg disertai debu dan kotoran banyak masuk. Debu & Kotoran sudah tentu bermuatan berbagai kuman dan penyakit.
2. Adanya Pengaruh sinar lampu dari kendaraan yg lewat pada malam hari. Secara psikologis sering kali membuat gelisah, dan kadang menjadi rasa ketakutan seseorang.
3. Mudah menjadi sasaran dari kecelakaan lalu lintas.
4. Dihubungkan dengan prospek dan nilai investasi, karena banyak yg ketakutan atas cerita tsb, maka jarang orang yg berani menempatinya. Kalau ada yg ingin menjualnya, biasanya harganya lebih murah.
5. Pengaruh Rumah yg sering mendatangkan berbagai masalah kesehatan, sudah barang tentu efeknya akan mempengaruhi segi keuangan. Biaya” yg tidak terduga dan di luar perencanaan, akan banyak mengalir keluar.


Cara Menyiasatinya:
1. Buka Pintu ke arah samping
2. Ada Kolam air di halaman.
3. Penanaman pohon
4. kaca cermin\Dinding Penghalang

Tidak semua yg tinggal di posisi itu menjadi jelek, dalam arti luas baik kesehatan maupun keuangannya. Banyak sekai yg yg sukses karena seseorang menempati rumah tusuk sate karena Energinya dah sesuai. Tempat ini untuk usaha toko atau rumah makan sangat strategis.

-----------------------------------------------------------------

Bersama Trans TV....
kami mencoba menelusuri beberapa Rumah Tusuk Sate....

Insya ALlah akan di tayangkan Jum'at 21 Oktober 2011
Pkl 13.00 WIB....

Wawancara kami....

dengan kerendahan hati....




Rumah Tusuk Sate di Daerah Jaktim



Di t4 ini pemilik rumah... banyak mendapatkan penampakan .....
sering mendapatkan gangguan di saat akan tertidur...
atau masuk ke dalam mimpi....

rumahnya menjadi jalan bagi dunia sebelah.....

dan kami sempat bersinggungan dengan makhluk tersebut.....
dan maaf ... sempat kami masukkan botol.........

Proses syuting.........




-----------------------------------------------------------------

Di salah satu kamar
di Rumah Tusuk Sate....



sosok yang kami tangkap di botol.....
mohon dilihat dari Supranatural......



Fenomena wanita yang melahirkan tanpa hamil (wwcr trans TV)

BELAKANGAN masyarakat dibuat heboh dengan kabar beberapa orang wanita yang melahirkan bayi tanpa kehamilan.

Berita dari TV



wawancara kami .....





Benarkah ini ada unsur campur tangan dari Jin.............

Hanya Allah yang Tahu

Jadwal Puasa Ramadhan 1432 H / 2011 M

Silakan di unduh.......





Penampilan Kami di Bukan 4 Mata (bahu Laweyan)

Suasana pengambilan shooting bukan 4 mata
hari Rabu, 04-05-2011



links: http://www.youtube.com/watch?v=2s246wv-Gg8

Bagian yang di cut.....
Proses penerawangan apakah wanita itu termasuk Bahu Laweyan.... Jodoh ke depannya....
atau tertutup jodohnya..... (CMIIW) ..........

dengan kerendahan hati













sisi cerita dari Bahu Laweyan....

LINTAH HIJAU DALAM KEMALUAN ISTRIKU

Kisah mistis ini sungguh menggetarkan perasaan. Bagaimana bisa vagina seseorang dihuni oleh seekor binatang berupa Lintah Hijau? Apakah ini penyakit, atau mungkin kutukan...?

Ketika kakiku menginjak Bumi Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan, hatiku langsung terpaut erat di sana. Alamnya yang gemerlap indah dan masih perawan, sungguh telah menawan hatiku. Sungai-sungai, hutan, rawa-rawa, dan bukit-bukitnya begitu elok dan membuatku serasa telah menemukan dunia baru.

Aku pun yakin terikat erat dengan Lambung Mangkurat begitu berkenalan dengan Eva, seorang gadis Dayak Manyan yang telah merampas jiwaku. Aku begitu mencintai gadis ini, bahkan mungkin dialah cinta pertamaku yang sebenarnya. Karena itu aku ingin segera menikah dengan Eva, tetapi kawan-kawanku melarang atau paling tidak memperingatkan agar aku berpikir ulang untuk mewujudkan niat itu.

"Eva bukan seorang gadis, dia tidak perawan lagi!" kata Bonar, mengingatkan.

"Walau Eva seorang janda, apa salahnya? Aku mencintainya," jawabku, tegas

"Masalahnya, dia telah menjanda empat kali. Kalau kau menikah dengannya, dia akan menajdi janda untuk kelima kalinya!" sahut Damai sambil menepuk bahku.

"Jadi, dia telah beberapa kali menikah?" tanyaku keheranan. Terus terang, baru kali ini aku mendengar informasi itu. Walau aku tahu Eva berstatus sebagai janda, namun kupikir dia baru sekali menikah. Ya, dia cerai mati karena suaminya meninggal akibat suatu penyakit. Demikian yang pernah aku dengar.

"Kau ini selalu ketinggalan kereta. Makanya, sebelum kau memutuskan untuk menikahi Eva, lebih baik cari dulu informasi agar kamu tidak terjemurus," tambah si Bonar pula.

"Dari mana kalian tahu semua ini?" tanyaku, penasaran.

"Ya, dari mulut ke mulut!" sahut Ripto yang sejak tadi hanya diam saja.

Ah, informasi mengenai status Eva yang telah menjanda empat kali ini terus terang sangat mengganggu pikiranku. Aku tidak bisa tinggal diam. Eva harus kuajak bicara mengenai hal ini. Sebab, jangan-jangan Bonar, Damai, dan juga Ripto hanya ingin memanas-manasiku. Ya, bisa saja mereka bercanda untuk menutup perasaan cemburu.. Kalau ini bernar, sungguh canda mereka sangat keterlaluan.

Hari itu, aku sengaja menemui Eva dan mengajaknya bicara berdua. Biasanya kami berdua hanya berbincang-bincang di teras rumahnya. Tetapi sekarang aku diajak duduk di sebatang kayu ulin yang tergolek di samping rumah. Di tempat itu kami dapat berbicara tanpa diganggu oleh adik-adiknya yang sangat akrab denganku.

"Abang mau tahu tentang kehidupan masa laluku, bukan?" Eva mulai membuka pembicaraan. Sepertinya dia sudah bisa membaca perasaanku.

"Bagaimana kau tahu?" tanyaku, heran.

"Setiap calon suami selalu ingin tahu masa lalu calon isterinya. Tidak terkecuali Abang. Ini suatu hal yang wajar, dan aku tidak perlu merasa tersinggung karenanya."

"Benar, Eva. Tapi sebelumnya aku mohon maaf. Semua ini terpaksa aku lakukan, karena aku tidak ingin masa lalumu menjadi kendala kehidupan rumah tangga kita nantinya," jawabku coba bersikap bijak.

"Apa yang ingin Abang ketahui?" tanya Eva sambil menatapku.

Aku hanya diam tergugu. Batinku sungguh tak tega untuk menanyakan hal yang dipergunjingkan oleh teman-temanku semalam. Aku tak ingin melihat wanita cantik itu bersedih.

"Aku taku apa yang sedang berkecamuk di dalam hati Abang!" kata Eva seperti menebak. "Ya, pasti Abang sudah mendengar cerita tentang aku yang sudah menikah empat kali? Itu, benar Bang. Aku tidak membantahnya. Dan kalau kita berjodoh, abang adalah suamiku yang kelima. Dan perlu Abang ketahui, keempat suamiku meninggal setelah menikahiku. Paling lama hanya tiga bulan. Itupun mereka hanya berhubungan badan denganku sekali saja. Itulah kisah tentang aku, Bang. Sekarang, terserang sikap Abang bagaimana!"

Seperti layaknya terbius, aku tetap diam seribu bahasa. Tenggorokanku seperti tercekat oleh perasaan yang begitu mengharu di dalam hatiku.

"Sekarang, apa yang Abang perlu ketahui lagi tentang diriku?" tanya Eva seakan coba mencairkan suasana.

"Eva, apakah kamu punya ilmu atau apa yang dapat mencelakai para suamimu?" aku balik bertanya dengan suara yang agak gemetar. Aku sungguh tak mau menyakiti hatinya.

"Ilmu? Saya tidak punya, Bang! Tapi, semua ini mungkin karena tadirku yang buruk," jawabnya dengan nada sedih.

"Apakah di tubuhmu ada tanda atau sEvacam gambar seperti tato, misalnya?" pancingku.

"Mengapa Abang tanyakan itu?"

"Soalnya, di Jawa ada perempuan yang setiap kali menikah suaminya pasti meninggal. Mereka disebut Bahu Laweyan. Biasanya, di tubuh mereka ada sEvacam tato atau tanda bawaan sejak lahir," jawabku.

"Tidak. Tidak ada, Bang. Tubuh Eva mulus, kok. Nanti Abang bisa periksa. Atau kalau Abang mau sekarang juga boleh."

"Tidak, tidak usah. Abang percaya, kok!" jawabku agak kikuk.

Dengan pandangan menerawang, Eva lalu berkata, "Terus terang, saya juga tidak senang dengan keadaan saya yang aneh ini, Bang. Kalau diibaratkan penyakit, Eva juga ingin sembuh. Eva tidak ingin hanya sebentar bersama Abang. Eva sangat mencintai Abang. Demi Tuhan, Eva takut nasib Abang akan sama seperti nasib suami-suami Eva terdahulu!" air mata Eva mulia mengalir di atas wajahnya yang halus dan inosen itu.

"Apakah dengan suami-sumai terdahulu Eva tidak mencintainya?"

"Hidup manusia memang penuh misteri, Bang. Bahkan Eva menganggap seperti perjudian. Empat kali menikah, ada empat alasan mengapa Eva menganggap bahwa Abang adalah jodoh Eva. Sejak pertama kali melihat Abang, Eva percaya bahwa Abang adalah ayah dari anak-anak Eva nanti. Terus terang, pernikahan Eva sebelumnya adalah karena orang tua semata."

"Baiklah kalau begitu. Abang akan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dalam dirimu. Kalau sudah ketemu penyebabnya pastilah ada jalan keluarnya," kataku sambil menyusut air matanya yang telah menganaksungai di atas wajah cantiknya. Untuk menenangkannya, kubiarkan Eva larut dalam pelukanku.

***

Akhirnya, aku berpamitan pulang ke kampung halamanku di Jawa Tengah. Sebelum berpisah Eva menghadiahiku ciuman di pipi. Lembut dan sejuk. Ah, cinta yang teramat dalam membuatku begitu merasakan ketulusan di dalam hati Eva. Dan tekadku kian mantap untuk mencari jalan keluar atas apa yang dialami oleh wanita yang sangat aku cintai itu.

Selama di kampung, waktu senggangku kuhabiskan untuk mencari tahu penyakit apa sebenarnya yang bersarang di tubuh calon isteriku itu. Namun hampir semua orang pintar yang kutanya selalu menggelengkan kepalanya. Tidak tahu apa yang ada dalam diri Eva. Alhasil, usahaku mencari tahu itu akhirnya gagal. Dan aku memutuskan untuk kembali ke Lambung Mangkurat. di tempat ini aku bekerja di perusahaan penebangan kayu yang beroperasi di pedalaman Kalimantan Tengah. Tepatnya di Tumbang Samba, beberapa kilometer sebelum Rantau Asem. Sedangkan Eva tinggal di Banjarmasin. Kami bertemu tiga bulan sekali di saat aku ke Kantor Pusat untuk menyampaikan laporan Triwulanan.

Aku tak ingin berputus asa. Setibanya kembali di Kalimantan, aku terus mencari informasi ke orang pintar di sana. Namun, sejumlah sesepuh orang Dayak di sepanjang Sungai Katingen yang sudah kutanyai, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan.

Setelah berkeliling tanpa hasil, akhirnya aku nasib mempertemukanku dengan seorang Kyai di daerah Kota Kandangan. Menurut silsilahnya, beliau masih keturunan Kyai yang dulu datang dari Kerajaan Demak membantu Pangeran Samudera. Beliau adalah Kyai Abdullah Syafei.

"Saya heran. Setelah setelah sekian puluh tahun saya tidak mendengar adanya kasus seperti ini, sekarang muncul lagi di Banjarmasin," kata sang Kyai setelah mendengar suluruh rangkaian cerita yang aku tuturkan mengenai Eva.

"Sebenarnya apa yang tengah dialami oleh calon isteri saya itu, Kyai. Penyakit atau kutukan?" tanyaku setengah mendesak.

"Begini, agar lebih jelas lagi, saya kira calon isterimu ajaklah kesini. Dengan demikian aku dapat memastikan apa yang tengah dialaminya," kata Kyai Abdullah Safei.

"Baiklah, Kyai. Besok Eva akan saya ajak menghadap Kyai. Lebih cepat lebih baik." kataku menyanggupi.

Setelah berpermitan saya lalu kembali ke Banjarmasin. Setibanya di Banjarmasin, aku temui Eva dan kuceritakan prihal pertemuanku dengan Kyai Abdullah. Akhirnya, Eva mau berobat ke Kyai Abdullah di Kandangan.

Hari itu, kami kembali bertatap muka dengan Kyai Abdullah. Setelah berbincang-bincang sejenak, Eva diminta untuk keluar sebentar. Setelah dia keluar, Kyai memintaku agar segera menikahi Eva.

"Apakah tidak berbahaya, Kyai?" tanyaku sedikit kuatir.

"Tidak! Hanya kamu yang dapat menyembuhkan calon isterimu itu. Dengan menikahinya secara resmi, kamu telah menjadi suaminya, maka kamu dapat menghilangkan penyebab penyakit calon isterimu itu," jelas Kyai Abdullah.

"Bagaimana mungkin, Kyai?" desakku.

"Ketahuilah, di rahim calon isterimu itu dihuni oleh seekor binatang langka berwujud Lintah Hijau. Binatang itu suka sekali menghisap air mani. Dia akan menempel ke ujung penis yang masuk ke dalam, maaf, lubang vagina," jelas Kyai lagi.

"Kenikmatan yang luar biasa akan dirasakan oleh suami tanpa menyadari adanya bahaya yang mengancam jiwanya. Sewaktu menghisap sperma ludah Lintah Hijau yang sangat beracun itu memasuki tubuh korbannya melalui saluran sperma atau saluran kencing. Akibat pertama yang dialami korban adalah impotensi total. Bekerjanya racun itu sangat hebat dan cepat. Tidak lebih dari empat jam si korban sudah dibuat tidak berdaya. Kemudian menjalar ke seluruh tubuh dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh," tambahnya membuat bulu kudukku merinding.

"Bagaimana orang tega melakukan kekejaman seperti itu, Kyai?" tanyaku sambil menekan perasaan.

"Sebenarnya Lintah Hijau itu tadinya dimaksudkan untuk mencegah perselingkuhan. Siapa yang berhubungan dengan isterinya tanpa mengetahui bahwa isterinya dihuni Lintah Hijau, dalam waktu yang sangat singkat akan meninggal."

"Apakah Kyai tahu bagaimana Eva memiliki itu?"

"Warisan orang tua. Ketika ibunya meninggal Eva masih kecil. Lintah Hijau akan keluar dari sarangnya begitu yang dihuni meninggal. Maka oleh ayahnya Linta Hijau itu diambil dan dimasukkan ke dalam vagina anaknya. Sayang sekali sebelum sempat memberitahukan keberadan Lintah Hijau dan penangkalnya ayah Eva menyusul isterinya. Meninggal."

"Apakah Kyai sudah punya penangkalnya?" tanyaku.

"Belum. Baru akan saya buat. Nanti akan kuberkan kepadamu menjelang kalian menikah."

Ringkas cerita, aku dan Eva sudah menetapkan hari pernikahan. Satu minggu menjelang hari H, aku kembali ke Kandangan untuk mengambil penangkal Lintah Hijau itu. Aku tidak tahu terbuat dari bahan apa. Sepintas seperti fosfor.

Ya, bubuk berwarna hijau. Bila di tempat gelap tampak menyala. Wadahnya berupa botol kaca bergaris tengah 5 cm dengan panjang 12 cm.

Akhirnya, kami menikah. Pestanya cukup meriah. Setelah pesta usai kami berdua mendapat kesempatan untuk menikmati malam pertama. Tentu saja aku punya tugas untuk membebaskan isteriku dari Lintah Hijau terkutuk itu.

"Demi kebahagian kita, turuti saja perintahku. Aku tidak mungkin membuatmu menderita," bisikku dengan mesra.

"Terserah Abang saja, asal Abang bahagia!" jawabnya dengan suara bergetar.

Aku mulai bereaksi sesuai petunjuk Kyai Abdullah. Lampu kamar kumatikan. Untuk sekejap aku tidak mampu melihat apapun. Kemudian aku naik ke ranjang. Kubisikan ke telinga isterku agar melapaskan pakaiannya. Ia menurutinya.

Kemudian kaki isteriku sedikit kutekuk, lalu kusuruh dia dalam posisi mengangkang. Dengan cepat botol yang berisi bubuk hijau itu kubuka tutupnya lalu kuletakkan di depan kemaluan isteriku. Di dalam gelap bubuk hijau tampak menyala.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, kulihat kemaluan isteriku memancarkan warna hijau terang. Dari lubang kemaluannya keluar seekor Lintah berwarna hijau terang. Makhlun aneh itu bergerak perlahan menuju ke botol yang kutaruh di depan kemaluan isteriku. Seorang tersedot oleh bubuk di dalam botol, makhluk itu terus masuk ke dalamnya.

Begitu Lintah itu memasuki botol sampai di tengah, segera kututup botol itu dan kumasukkan ke dalam kantong hitam yang sudah disiapkan oleh Pak Kyai. Lalu, kupeluk isteriku dengan penuh haru.

Semalaman itu kami hanya tidur sambil berpelukan. Tidak ada nafsu. Yang ada hanya cinta kasih dan sayang. Aku sangat bahagia sebab telah membebaskan isteriku dari "penyakit" atau boleh disebut sebagai "kutukan" yang maha dahsyat.

Setelah beberapa hari meminum ramuan dan membersihkan kemaluan air pemberian Kyai Abdullah, barulah kami dapat berhubungan badan. Dan kami hidup bahagia sampai sekarang. (****)

dari kumpulan kisah mistery

Nongol di Trans 7



Berawal dari kegiatan Ziarah kami........
di malam Jum'at pada tanggal 11 November 2010, di makam Dewi Rengganis (Nyi Buyut Anewi)
di Suradita, Cisauk, Serpong. Jeng Inem,Istri saya melihat kumpulan bunga bangkai yang langka,
berpuluh-puluh tumbuh di sekitar makam tersebut. Bunga bangkai yang langka itu....
mudah''an ini pertanda bagus... bagi kami, warga sekitar dan terutama bangsa Indonesia ini.
Alhasil kami nonggol di Berita trans 7, tiga hari berturut-turut.
pada 13, 14 dan 15 November pukul 06.30 WIB.

smile

Hasil Jepretan Jeng Inem (Istri) di Karang Hawu

Singgah di 308 (Samudra Beach Hotel) 1/08/10

Singgah di Pelabuhan Ratu.....

February 2012
S M T W T F S
January 2012March 2012
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29