Skip navigation.

Kisahku

Spiritual & Supranatural

**************************************************************



Bismillahirrohmaniirrohim
Saya ingin sekali lebih mendekatkan diri kepada Allah, di tengah kesibukan keduniaan dan fatamorgana dunia. Ketemulah saya dengan khuruj ini sebagai salah satu jalan di antara ribuan jalan lainnya.
Dimulai perjalanan di Masjid kecil di Subang. Dipimpin oleh seorang Amir lulusan pesantren yang besar di Jawa timur, beliau sangat fasih dengan dalil” dan hadist”. Beranggotakan sembilan orang, bahkan ada dua orang dari anggota kami yang hafiz Al Qur'an (Subhanallah). Banyak pengetahuan agama yang dibabarkan oleh beliau (Amir), yang tidak semata diambil dari buku tapi dari berbagai pengalaman pahit getir kehidupan di dunia.
Dimulai dengan kisah asalnya khuruj, kemudian diterangkan berbagai adab/aturan.
Adab makan, adab berpakaian, adab bicara, adab di kamar kecil, adab taklim, adab jaulah, adab memasuki dan berada di Masjid, adab tidur di Masjid, adab musyawarah dll. Yang lebih penting tentang keutamaan sholat fardhu berjamaah tepat waktu dan sholat” sunnah lainnya. Kisah Nabi Muhammad dan para sababat beliau (RA). Disinilah kutemukan kedamaian, arti dari persaudaraan, persamaan, tiada murid dan guru di antara kami, saling membagi ilmu, saling keterikatan antara hati kami.

Bahkan seorang kyai yang di pesantrennya selalu dihormati oleh para santrinya dan dimuliakan oleh masyarakat, memasak makanan buat kami. Berlepotan bau asap dan bau bumbu dapur. Kemudian kami makan bersama” dalam satu piring atau wadah yang sama memakai tangan langsung. Diiringi dengan sunnah rosul, mencicipi garam terlebih dahulu, yang berfungsi menghindarkan/menghilangkan 70 penyakit di badan (Sungguh ironis dari kehidupan kita sehari”, yang selama ini makan dengan piring, sendok, garpu dan makanan yang mahal tentu saja yang sangat lezat, appertizer, dissert, tak peduli berapapun harganya, lezat, nikmat, kenyang, tak peduli di sekitar kita banyak yang kekurangan atau kelaparan). Bagi yang belum pernah merasakan pasti ada rasa jijik/geli. Tapi aku terharu akan rasa kebersamaan itu, padahal dalam keluarga kamipun sudah dibiasakan makan dengan piring, minum dengan gelas tersendiri. Tapi, ketika kami memakan dalam kebersamaan inilah, walau dengan lauk pauk yang sederhana, kami merasakan suatu keistimewaan, betapa lezatnya rasa masakan ini. Sedap, nikmat, dan khas, tak bisa ditandingi oleh koki terkenal sekalipun dari penjuru dunia. Silakan kalau Anda ingin membuktikan.

Hari pertama kami lalui, setiap taklim diiringi doa, banyak yang menangis. Materi-materi yang disampaikan memberikan dorongan/inspirasi yang cukup kuat bagi saya untuk lebih rajin beribadah, tepat waktu dan berjamaah. Yang kedua, saya juga mendapat dorongan dan motivasi yang kuat untuk berkarir. Tapi tidak lupa untuk menyisihkan di Jalan Allah (shodaqoh).
Aku berpikir, bahwa kami bukan mengajak orang untuk berbuat kebaikan, tetapi sebenarnya diri kami sendirilah yang diajak, harus banyak merenung (eling), berpikir lebih dalam dan lebih jauh tentang diri kami sendiri. Betapa kami dulu”nya sangat meremehkan ibadah. Tidak tepat waktu, dengan berbagai alasan kesibukan dunia dll. Betapa kami sangat pelit untuk mengeluarkan uang di jalan Allah. Betapa kami hanya takut atau sungkan terhadap orang karena jabatan, kedudukan, dan keduniaannya. Di sini kami diingatkan bahwa kami semua sama di mata Allah swt. Yang membedakan hanya iman/ibadah atau ketakwaannya.

Hari pertama, Tidur hanya beralaskan sajadah…. dan matras tipis. Kami tinggalkan springbed/kasur kami yang empuk di rumah. Kami tinggalkan keluarga yang kami cintai. Kegelimangan harta dunia yang selama ini mengelabui kebersihan iman kami.

Ya Allah… aku sedang berada di jalan-Mu….
Aku sedang berada di rumah-Mu…
Dzikir, kalimat” taubat selalu berkumandang dari bibir
Dan hatiku….
Aku pejamkan mataku dari yang bathil…
Aku cuci otakku….
Aku pendam nafsuku dari eforia dunia…

Sekali lagi aku berdiam dalam kekosongan….
istiqomah.....


Bersambung

http://www.youtube.com/watch?v=zSfXcW9NfKo

***********************************Jadwal Puasa 1429 H / 2008 M

Comments

Kiyudi (Supranaturalis: 08161830337) 3. July 2008, 07:23

Berdasarkan tempat berdakwah terbagi menjadi dua, yaitu intiqoli dan maqomi.
Intiqoli yaitu dakwah di tempat orang lain atau kampung lain dengan berpindah atau dengan melakukan perjalanan dengan masa tertentu. Orang di sekitar tempat yang di datangi di harapkan akan memberi bantuan untuk kerja dakwah sehingga terjalin kerjasama antara pendatang dengan orang tempatan, sebagaimana kerjasama yang terjalin antara Sahabat muhajirin dan anshor di Madinah pada jaman Rasulullah saw.
Sedangkan maqomi adalah dakwah di tempatnya masing-masing. Setiap pekerja di anjurkan untuk meluangkan beberapa jam setiap harinya untuk bersilaturahmi dengan orang-orang di sekitar tempatnya masing-masing untuk mendakwahkan agama.

Dalam berdakwah juga di kenal istilah amalan secara infirodi dan Ijtima’i. Infirodi yaitu amalan secara individu sedangkan ijtima’i secara berkelompok(berjamaah). Begitu pula dalam berdakwah juga bisa di lakukan secara infirodi maupun ijtima’i.

Pekerja dakwah di anjurkan untuk mengikuti tertib-tertib dan arahan-arahan yang di sepakati guna menjalankan dakwah, misalnya ketika keluar di jalan Allah (khuruj fi sabilillah) hendaknya memperbanyak da’wah ilallah, ta’lim wa ta’lum, dzikir wal ibadah,dan khidmat. Mengurangi masa makan dan minum, tidur dan istirahat, bicara sia-sia, keluar dari lingkungan masjid. Menghadapi segala kesulitan dengan sabar. Jangan menyinggung masalah politik, khilafiyah (perbedaan pendapat di kalangan ulama), status sosial, dan derma sumbangan dalam berdakwah (ketika keluar). (Tidak boleh menyinggung masalah politik dan khilafiyah karena membicarakan hal tersebut ketika keluar di jalan Allah bisa menimbulkan perdebatan dan perpecahan di antara jamaah). Dan masih banyak arahan-arahan lainnya.

Kiyudi (Supranaturalis: 08161830337) 3. July 2008, 07:29

Untuk kawasan tertentu ada masjid yang di jadikan markaz (bahasa arab untuk kata centre/pusat). Di situlah biasanya para pekerja dakwah melakukan ijtima’ (pertemuan).

Dalam ijtima’ tersebut juga di bentuk jama’ah-jamaah yang akan di kirim ke berbagai tempat untuk berdakwah. Pada malam ijtima’ di adakan bayan (majelis penerangan untuk menerangkan maksud serta tujuan dakwah dan tabligh). Petugas bayan (mubayin) memberikan nasihat serta dorongan kepada para jamaah agar memikul tanggung jawab agama dengan cara mengorbankan sebagian dari harta, diri dan waktu, untuk keluar di jalan Allah. Bayan di akhiri dengan tasykil yaitu tawaran serta bujukan kepada para jamaah untuk mengorbankan sebagian harta, diri dan waktu untuk keluar di jalan Allah dengan masa tertentu dalam rangka mendakwahkan agama. Kemudian orang yang berniat untuk ikut keluar (khuruj fi sabilillah) mendaftarkan diri untuk di data. Di sana juga biasanya di bacakan kitab Hayatus-Shohabah yang berisi perjuangan dan pengorbanan para sahabat untuk agama, sehingga para jamaah bisa meneladani para sahabat r.a. dalam mengamalkan dan memperjuangkan agama. Dengan begitu juga bisa dirasakan bahwa pengorbanan para jamaah belum ada apa-apanya di bandingkan pengorbanan para sahabat r.a dalam membela agama. Orang yang mendapat tugas membaca kitab Hayatus-Sohabah haruslah orang ‘Alim(berilmu).

Kelebihan mereka dalam berdakwah adalah kerelaan mereka mengorbankan keperluannya untuk kepentingan dakwah. Mereka rela mengorbankan sebagian harta, diri dan waktu mereka untuk mendakwahkan agama sampai melewati batas pulau dan batas negara. Dalam berdakwah mereka siap di caci dan di maki, hal itu tidak akan menghentikan mereka. Hubungan antara pekerja dakwah ini sangat erat, mereka memiliki kesatuan hati yang sangat kuat, di dalamnya ada kasih sayang, dan semangat mengutamakan orang lain (itsar). Keindahan hubungan mereka dapat di lihat dari ijtima’-ijtima’ yang di adakan. Kasih sayang ini bukan hanya untuk sesama pekerja dakwah saja. Dalam berdakwah jamaah senantiasa berusaha menjalin hubungan dengan baik kepada orang-orang yang di temui. Dalam berdakwah di anjurkan menghindari perdebatan serta berdakwah dengan penuh hikmah dan bijak. Para Da’i di anjurkan menghadirkan sifat okromul muslimin (memuliakan sesama muslim) terutama kepada Ulama yang di jumpai.

Tidak ada paksaan dalam menjalankan usaha dakwah ini. Walaupun para masyaikh dan Syuro senantiasa memberi arahan-arahan dan nasihat dalam mengamalkan dakwah, tapi dalam pelaksanaanya apakah akan di amalkan atau tidak kembali kepada setiap individu.

Kiyudi (Supranaturalis: 08161830337) 3. July 2008, 07:33

Para masyaikh(ulama) juga senantiasa mengingatkan kepada orang-orang yang bekerja di bawah usaha dakwah tersebut bahwa tujuan utama dalam mengamalkan dakwah tersebut adalah untuk memperbaiki diri (ishlah), memperbaiki orang lain bukanlah tujun utama mereka dalam berdakwah.

Amalan dakwah yang telah di konsepkan sangat bagus dan mulia, tapi yang menjalankan dan mengamalkan juga manusia biasa yang datang dari berbagai latar belakang. Tidak mungkin bisa terhindar dari kesalahan. Jika di cari-cari kekurangan mereka, tentu akan banyak di temukan, hal ini wajar. Di antara mereka sudah ada yang bertugas untuk mengarahkan dan meluruskan.

Secara realita kondisi umat saat ini pada umumnya sudah jauh dari apa yang di wasiatkan Rasulullah saw. Banyak masjid di bangun namun semakin sedikit yang memakmurkannya. Masjid sudah semakin megah namun semakin sepi dari amalan. Pemuda-pemuda kita lebih bangga menirukan gaya selebriti daripada Nabi kita. Kita sebagai Umat Islam tidak sadar telah ikut terbawa budaya barat. Kini agama, satu-satunya yang menjadi sebab kebahagiaan, kemuliaan dan kejayaan dunia akhirat di anggap sesuatu yang tidak penting sehingga di abaikan begitu saja. Dengan memberi ummat kitab tebal kemudian kita cuma berharap agar umat mengamalkanya sementara mereka belum memahami kepentingan agama merupakan perkara yang hampir mustahil.

Opini masyarakat terbentuk dari apa yang mereka lihat, masyarakat sudah kesulitan melihat kehidupan islam yang sesungguhnya. Cara bagaimana bermu’amalah, mu’asyaroh, berakhlak yang dulu pernah di ajarkan Rasulullah saw kini telah hilang dari umat Islam. Jika dulu ada yang bertanya bagaimana akhlak Rasulullah saw maka bisa di jawab akhlak beliau adalah Al-quran. Namun saat ini kehidupan Islami seolah-olah hanya di dalam buku-buku saja......

Di jaman sekarang ini, budaya materialisme sudah sangat kental dalam kehidupan masyarakat, masih adanya sekelompok orang yang mau berkorban untuk mendakwahkan agama merupakan suatu rahmat dari Allah swt yang seharusnya kita tolong dan kita syukuri.

Thola’albadru‘alaina mintsaniyatilwada’ wajaba syukru ‘alaina maada’alillahida’.
(Telah terbit purnama di atas kita muncul dari tsaniyatul wada’, wajib bersyukur atas kita selama masih ada Da’i yang mengajak kepada Allah)……


Billahitaufiq Wal Hidayah
Wassalammu’alaikum wr wb

Imelda ”uciha” katherina 9. July 2008, 13:36

masyarakat /umat islam saat ini bener2 menyedihkan,mari kita berusaha kembali pada Allah dan Rasullulah Muhammad saw
Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
S M T W T F S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31