Skip navigation.

exploreopera

| Help

Sign up | Help

****************************************************



Kairo
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.
Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!"
Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.
Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.
"Bangunkan saja!" kata seorang penumpang.
"Iya, bangunkan saja!" teriak yang lainnya.

Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming. Salah seorang mencoba mendekatinya, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!

Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.

Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....

Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...

Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...

Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...

Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.

Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada!

Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a'lam.
blue

*********************************************************

Comments

avatar
KEAJAIBAN DI KOTA MEKAH
Kisah buat yang ingin mempunyai anak (doa agar mempunyai keturunan)


USIA engkau 50 tahun. Dengan akal yang sehat, sudah tidak mungkin, sama sekali; engkau mengandung. Tetapi demi Allah yang Maha Kaya dan Perkasa, usia 50 tahun bukanlah halangan untuk menciptakan satu keajaiban.

Allah Maha Besar. Tidakkah kau mempercayai-Nya?
Selepas solat dzuhur, suami engkau menyentuh. Entah apa sebabnya, dia hanya bilang mau melepaskan keinginan di tanah suci. Engkau memberi. Kemudian seusai mandi kalian berdua bergerak ke Masjidil Haram ke pintu Nadwah. Sesudah Ashar, segera ke Taneim. Di sini engkau berniat umrah dan sebaik pulang ke tanah haram, engkau mulai bertawaf seiring dengan suami mulai jam 6 petang. Ternyata waktu-waktu begini tidak panas kerana matahari sedang turun membenam diri mengikut perintah Ilahi yang menciptakannya tetapi perlahan-lahan juga orang sudah ramai untuk bertawaf. Alhamdulillah engkau telah selesai mengerjakan umrah sebelum adzan Isya'. Sempat engkau lihat ke langit, bulan bersabit tergantung di langit, Kaabah yang mulia tersergam agam dan agung entah kenapa membuatkan engkau tersedu.

30 tahun menikah tanpa anak. Sekali ini sangat ingin meminta. Seorang memadai ya Allah.
Sesungguhnya isteri Zakaria lebih tua dari aku, doa engkau kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kemudian engkau duduk di shaf sembahyang yang menghadap Ka’bah. Masjidil Haram waktu awal malam; dengung bacaan al-Quran berbaur bagai suara lebah. Engkau lihat juga petugas Masjidil Haram cekatan mengatur jemaah wanita dan lelaki supaya berjauhan, juga mencegah jemaah Iran yang terkadang sedikit emosional di depan pintu ka’bah dan Maqam Ibrahim bersilih dengan pemandangan kumpulan lelaki dalam kain ihram, bertawaf mengharapkan kebaikan dari Tuhan. Engkau sedikit terganggu, ada jemaah muslimah tergesa mencari shaf yang kosong sambil menggendong bayi, mereka mengenakan jubah berbagai warna.
Engkau pejamkan mata.
Engkau buka lagi.
Engkau lihat lagi langit, bulan sabit masih cantik tersangkut.
Kumpulan merpati melayang rendah sesekali hilang di sebalik menara Hilton Mekah, muncul kembali di celah istana tamu, seolah bertengger di tingkat suite Dar al Taqwa Intercontinental hotel. Merpati-merpati indah sedang tekun beribadah. Engkau terhirup bau wangi, harum menusuk hidung. Melihat langit lagi, awan tipis dan angin sesekali sepoi saja tiupannya melanggar pakaian pada tubuh, menampar pipi. Engkau pegang tasbih di tangan.
Adzan Isya pun berkumandang. Engkau sholat. Lirih suara imam membacakan surah Yaasin, penawar hati di dalam al-Quran.
Kemudian, sesudah solat usai, engkau menuju ke arah Multazam, lantas engkau berdoa lagi.
50 tahun, engkau ingin mempunyai anak.
Suami engkau pernah berkata, “Tak apa Hajar. Abang sudah redha dengan ketentuan Allah. Kita bahagia bersama dan tentu sahaja ada hikmah besar yang tidak pernah kita maklumi.”
Tetapi kali ini engkau meminta, meminta, meminta.
Engkau pulang bersama suami, bersama bergandengan tangan mengarah ke Asia Palace, di depan warung bersebelahan dengan hotel engkau singgah sebentar untuk membeli air mineral.
Tiba-tiba engkau dihadang nenek negro. Ia berkerudung serba hitam. Pipinya berkerut dan tangannya; sepuluh jari berbalut kain berwarna jingga yang kian pudar. Matanya kuyu. Bibir nenek negro itu bagian bawah lebih tebal dari bagian atas dan sedikit terjulur dan engkau sadar di kedua-dua lengan terpasang gelang perak yang berat. Dia berdiri di muka pintu warung tidak bersuara dan hanya pergi setelah diberi air mineral.

“Minggir Hajar, nenek gila ingin lewat.” Kata suamimu, menggandeng tangan untuk memberi jalan kepada nenek berkulit hitam legam itu. Dia menoleh ke arah engkau, merenung tepat seolah-olah memahami kata-kata suami engkau dan marah menyala pada matanya terpanah membakar rasa dalam jiwa engkau. Engkau Telan air liur, engkau perlahan-lahan cuba tersenyum. Nenek negro masih tajam merenung tanpa reaksi dan kemudian perlahan-lahan dia juga tersenyum.
“Abang Jangan ngomong begitu lagi. Marah dia.”
“Argh…. bukannya dia ngerti.”
“Tak ngerti pun tak baik bilang begitu, orang gila di kota Mekah jangan-jangan wali Allah.”

Engkau naik ke tingkat atas, makan minum dan sudah lima hari, setiap kali makan tengah hari serta makan malam engkau mengumpulkan berbagai jenis buah-buahan yang dibekal oleh paket umrah. Ada pisang, limau, jeruk dan anggur. Engkau bawa semua naik ke atas dan isi di dalam wadah yang asalnya kecil kini mengembung menjadi besar.
Engkau tidur dengan perut kekenyangan. Sebelum mata terpejam, engkau terbayangkan nenek negro lagi. Kemudian engkau terus lelap. Di dalam tidur nenek negro muncul tersenyum kepada engkau dan berkata. Mula-mula butir katanya tidak jelas tetapi kemudian bicara itu menjadi jelas. Nenek negro ternyata fasih berbahasa Melayu dan Arab.

“Siti Hajar, akan aku bacakan ayat kedua surah al-Insan bahwa: Sesungguhnya Kami mencipta manusia daripada nutfah yang bercampur.”

Engkau terjaga, dikejutkan suami dan meminta lagi. Engkau pun memberi. Sesudah selesai, engkau mandi dan azan pertama berkumandang dari Masjidil Haram. Berdua kalian bergerak ke al Haram, engkau bawa berisi buah-buahan.
“Buat apa Hajar?” Tanya suami engkau.
“Sedekah, daripada tidak dimakan. Kita beri kepada musafir atau orang-orang yang tidur di perkarangan masjid.”
Engkau berpisah dengan suami di hadapan eskalator menuju ke pintu Umrah. Janji bertemu sesudah subuh. Engkau sedang mengedarkan mata mencari jika ada orang yang layak disedekahkan buah-buahan itu apabila tiba-tiba muncul nenek negro. Dia senyum kepada engkau. Engkau senyum kepadanya. Engkau unjukkan wadah berisi buah-buahan. Dia lebih tersenyum.

Tiba” Nenek negro, di luar dugaan memegang perut dan menekan rahim engkau.
“Allah berfirman dalam al-Mukminun pada ayat yang empat belas bahwa: Kemudian daripada nutfah Kami jadikannya alaqah.”
Engkau terpieranjat.
Nenek negro berbisik lagi, “Kemudian daripada alaqah Kami jadikan mudghah.”
Engkau bingung. Sungguh-sungguh bingung.
“Bacalah Hajar ayat-ayat Tuhan dalam surah al-Hajj yang kelima: Kemudian jadilah kamu mudghah yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna kejadiannya.”
Engkau meneteskan air mata.
Nenek negro tersenyum dan menyambung, “Baca jugalah ayat ke sembilan dalam surah as-Sajdah apabila Tuhan mengesahkan: Kemudian Dia menyempurnakan kejadian dan meniupkan roh ke dalamnya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan akal tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

Kemudian nenek negro pergi membiarkan engkau terdesak di hadapan pintu Umrah seorang diri hingga terdengar azan Subuh dilantnkankan dengan merdu dan beralun indah terdengar dalam kalbu.

Hari demi hari berlalu, dan engkau berangkat untuk pulang ke tanah air.

Di hadapan warung, saat menawar beli buah tin dan zaitun sekali lagi engkau berjumpa dengan nenek negro yang sama. Masih mengulang laku tempoh hari, berdiri menghadang di warung dan hanya pergi jika diberi sebotol air mineral. Engkau menegurnya, tetapi dia berbuat acuh tidak acuh dan sama sekali tidak peduli seolah-olah tuli dan tidak mengerti.
Dia memandang kosong ke arah engkau seolah-olah tidak mengenali.
Apakah tandanya Tuhan........? Tanya engkau berulang kali.
Sehari kemudian, seusai tawaf wida, engkau pun naik ke dalam bus dan bergerak menuju ke Jeddah. Engkau meneteskan air mata, terharu berpisah dengan kebesaran Allah, berharap dapat kembali lagi. Entah kapan. Janganlah berpisah terlalu lama. Engkau lempar pandangan ke luar jendela, terlihat seorang wanita yang engkau harapkan, nenek negro melambai sambil tersenyum. Engkau balas lambaian dan tersedu. Tidak engkau sedari zygotei sudah berlaku. Segumpal darah beku ibarat lintah atau endometriumii sedang berlaku di dalam rahim engkau. Bahwa tanda-tanda kebesaran Tuhan sedang terjadi.
Sebulan kemudian di dalam rahim engkau, berkembang somitesiii menjadi vertebraeiv maka tulang-tulang pun membentuk di dalam daging yang terselimut somatic mesodermv.

Sungguh-sungguh al-Quran satu mukjizat agung menjelaskan kejadian manusia lebih awal mengatasi pengetahuan ilmu embriologi. Engkau bermimpi lagi apabila kandungan engkau sudah sarat. Demi Allah, nenek negro datang lagi. Kali ini lebih berseri tersenyum menampakkan giginya yang rongak.
“Maka Hajar, tidakkah kau bersyukur dan lebih percaya bahawa Tuhan itu Maha Besar?” Nenek negro memegang tasbih butir seribu, kerudungnya lebih baik dari yang dulu dan serba putih bercahaya, di bawah Masjidil Haram berkerlipan cahaya neon dan kesibukan manusia beribadat kepada Allah. Nenek negro di kota Mekah pun meresap hilang dari mimpi. 50 tahun dan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.
Usia engkau 50 tahun. Dengan akal yang jernih, sudah tidak mungkin, sama sekali; engkau mengandung. Tetapi demi Allah yang Maha Kaya dan Hebat, usia 50 tahun bukanlah halangan untuk mencipta satu keajaiban.

By Yudi Prayitno, # 28. April 2008, 05:00:51

Write a comment

Comment
(BBcode and HTML is turned off for anonymous user comments.)

Please type this security code : 201e29

Smilies