Skip navigation.

A Journey To Inner Life

Reflection

Menyadari Kembali Relasi Nasionalisme dan Pendidikan


Nasionalisme adalah kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kesatuan (Reksosusilo 2007:50). Menarik, bahwa nasionalisme itu pertama-tama adalah kesadaran, maka dari itu, nasionalisme dimungkinkan untuk dapat ditularkan dan dapat diejawantahkan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu cara penular-annya melalui pendidikan yang mana, dengan proses pembelajarannya, seseorang dimampukan untuk sampai pada kesadaran itu sendiri.

Berdasarkan hal di atas, sejauh mana relasi pendidikan dalam kaitannya de-ngan nasionalisme, terutama dalam membangun kesadaran tersebut. Apakah menularkan nasionalisme mungkin melalui pendidikan? Dan apakah hal itu masih relevan sementara di Indonesia sendiri wajah pendidikan tengah berwarna buram tak karuan?


Pertemuan Pendidikan dan Nasionalisme

Dapat dikatakan bahwa pertemuan pendidikan dan nasionalisme terjadi dalam Boedi Oetomo, suatu organisasi yang muncul karena situasi dan kesadaran masa itu. Organisasi bentukan dr. Wahidin bersama kawan-kawan tersebut bertujuan untuk “meringankan beban hidup bangsa Jawa, melalui perkembangan yang harmonis dan kerohanian.” Mereka membantu pendidikan anak pribumi dengan cara mengumpulkan beasiswa untuk mereka.

Organisasi ini sungguh menaruh minat dalam pendidikan. Hal ini nampak dari penuturan Nagazumi, sebagaimana dikutip oleh P. Swantoro demikian,

“...; para angotanya selalu terpacu untuk mengejar perkembangan intelektual, menolak kesetiaan membuta yang emosional dan tidak terjerumus pada sikap apatis terhadap hal-hal spiritual.”

Maka tidak mengherankan jika melalui usaha pendidikan mereka, masyarakat terutama Jawa dan Madura mulai mengalami perubahan intelektual terutama dalam mengerti keadaan mereka saat itu sebagaimana dicita-citakan oleh dr. Wahidin yang disampaikan oleh dr. Soetomo demikian,

“Orang berubah menjadi lain makhluk, merasa tergerakkan, gemetar seluruh tubuh dan tulangnya, pemandangannya menjadi luas, perasaannya menjadi halus, cita-citanya menjadi elok. Orang merasakan akan kewajibannya yang mahaluhur di dunia ini.”

Meski amat disayangkan bahwa itu tidak sepenuhnya berhasil dicapai.

Selain Boedi Oetomo muncul pulalah Indische Partij yang berhaluan politis dan Sarekat Islam, yang mana kesemua organisasi ini muncul untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan, melalui cara mereka sendiri-sendiri. Kemunculan mereka membuat nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Kesadaran yang demikian itu (nasionalisme) membuat masyarakat mulai berani untuk melakukan gerakan perlawanan meski itu masih benih.

Hal ini nampak dari kemarahan rakyat Indonesia yang marah akan kesemena-menaan Belanda yang ketika hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, menggunakan uang rakyat Indonesia sebagai modalnya. Peristiwa ini kemudian oleh Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) diungkapkan dalam rupa tulisan berjudul “Als ik Nederlands was” (seandainya saya seorang Belanda) yang menyebabkan ia dijebloskan ke penjara. Kemarahan tersebut menengarai suatu kesadaran akan kondisi hidup mereka yang mana hak-haknya telah dirampas dan dipergunakan semena-mena oleh penjajah. Sementara tulisan tadi menengarai bahwa pendidikan telah turut mengambil bagian dalam membentuk kesadaran itu, terutama untuk mengar-tikulasikan ke-kecewaan itu.

Demikianlah pertemuan pendidikan dan nasionalisme yang terjadi di dalam Boedi Oetomo. Bagaimanapun juga organisasi yang lahir demi mengembangkan pendidikan intelektual bagi rakyat ini, meski tidak seratus persen berhasil, telah mengawali suatu babak baru yaitu menanamkan benih nasionalisme, melalui usaha pendidik-an mereka.

Pendidikan Indonesia

Sekarang ada baiknya melihat wajah pendidikan di Indonesia saat ini yang tengah buram dirong-rong musuh, bukan penjajah kompeni tapi musuh baru yang saat ini tengah “meduduki” pendidikan. Untuk keperluan itu akan dicoba dilihat dari tiga komponen utama pendidikan, dengan menyoal tentang:

Lembaga pendidikan

Sebagai suatu lembaga perlulah memiliki visi dan misi. Lembaga pendidikan pun sama halnya. Adapun permasalahannya adalah bahwa visi tersebut tidak pernah menjadi tindakan. Visi yang demikian tidak akan memberi sumbangsih apapun bagi pendidikan. Contohnya, dalam usaha mendidik subyek didik, kurangnya penterlibatan guru dalam merumuskan kurikulum, membuat guru sendiri tidak mampu menerap-kan atau menyelaraskan dengan visi tersebut, akibatnya jelas visi itu tidak dapat dicapai secara maksimal.

Selain visi dan misi, rupanya bahasa pendidikan di Indonesia adalah bahasa pabrik, yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses, sehingga di sini peran subyek didik tak lebih daripada sekedar hasil ciptaan, sedang lembaga pendidikan di sini tak lebih dari sekedar alat untuk mencetaknya.

Hal ketiga adalah adanya ketidakadlian dalam pendidikan terutama karena pendidikan di indonesia masih berkelaminkan “kaya dan miskin”. Mereka yang kaya secara otomatis mendapatkan ruang dan kesempatan yang lebih jika dibandingkan dengan mereka yang miskin, dan ini sungguh terasa. Sangat memprihatinkan bahwa pendidikan jatuh dalam semangat ini tanpa lagi memedulikan faktor intelek yang di-miliki oleh subyek didik.

Guru

Guru sering disebut juga pahlawan tanpa tanda jasa. Yang demikian pantas disandang hanya oleh mereka (para guru) yang memiliki dedikasi terhadap pendidikan, proses-proses pembelajarannya, dan interaksi antar pribadi dengan subyek didik. Di Indonesia ada banyak guru. Masalahnya apakan semuanya berkualitas?

Ini merupakan masalah yang pelik yang tidak mudah untuk dipecahkan. Dapat dikatakan bahwa guru-guru di Indonesia mengalami kondisi yang memprihatinkan. Mendiang Rm. Haryanto, CM membuat anekdot tentang guru, ia mendefinisikan guru bukan sebagai “sing digugu lan ditiru” (diteladan dan ditiru.), melainkan “gubuk usang rawan utang.”

Banyak guru hidup serba kekurangan, mau tak mau ini menimbulkan suatu mentalisme tersendiri, mentalisme memenuhi diri sendiri dan bukannya aktualisasi diri sebagaimana diungkapkan oleh Maslow. Sehingga dalam mengajar pun tidak dapat maksimal atau justru sekenanya saja, lantaran merasa tidak ada gunanya mengajar, meski tidak dapat dikecualikan di sini ada juga guru yang hidup serba berkecukupan tetapi dedikasi untuk pendidikan nol, lantaran terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga situasi demikian sungguh sangat tidak menguntungkan tetapi Indonesia patut bersyukur karena tidak semua guru seperti demikan ada juga yang baik kendati hidup dalam kekurangan mereka inilah pahlawan tanpa tanda jasa.

Subyek Didik

Pengaruh globalisasi bagi subyek didik juga tidak dapat diremehkan, terutama dengan kemajuan teknologinya. Kecanggihan teknologi semakin memper-instant kehidupan manusia. Saking instant­-nya justru menimbulkan efek negatif, terutama dalam membentuk semangat individualisme karena melupakan unsur proses.

Pengaruhnya pada subyek didik nampak jelas dan ada kaitannya dengan ba-hasa pendidikan bahasa pabrik, yaitu proses menjadi tidak lagi bermakna. Bukan ha-nya proses pribadi akan tetapi juga proses bersama. Alhasil, subyek bisa jadi kehilangan kepekaan sosial, apatis, dan cenderung berjuang untuk diri sendiri.

Melihat persoalan di atas, sungguh amat tidak dimungkinkan semangat nasionalisme dapat tumbuh melalui pendidikan sebagaimana pernah terjadi dalam Boedi Oetomo, karena komponen-komponen utama pendidikan tengah kewalahan melawan musuh-musuh baru itu. Jika demikian jangankan menumbuhkan kesadaran nasionalisme, menanamkan saja tentunya juga amat sulit. Lantas apa yang sekiranya dapat dilakukan? Bukan dengan mengubah sistem pendidikan yang ada secara keseluruhan tetapi pertama-tama adalah dengan menanamkan beberapa kesadaran baru dalam setiap komponen tadi.

Beberapa Kesadaran

Kesadaran pertama adalah kesadaran akan adanya musuh bersama. Harus disadari bahwa pendidikan dulu diarahkan untuk melawan penjajahan, dengan cara mela-tih intelektual masyarakat kala itu agar mampu mengartikulasikan segala rasa ketertindasan mereka terhadap penjajah. Dan memang itu efektif, serta kenyataannya pendidikan berhasil untuk menyampaikan kesadaran nasionalisme. Akan tetapi untuk se-karang bangsa Indonesia bukannya lagi melawan penjajah tetapi berbagai persoalan di atas yang saat ini tengah mengakar kuat. Jika hal di atas tidak dianggap musuh yang perlu dilawan maka luka yang besar itu akan tetap menganga dan membusukkan segalanya.

Kesadaran akan adanya musuh bersama ini dapat dimunculkan jika dalam pendidikan secara terus menerus ditumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas serta melibakan komponen masyarakat yang ada, dalam artian membuka kesempatan pendidikan bagi siapapun tanpa membedakan berdasarkan “kelamin kaya ataupun miskin”. Jika ini dapat ditanamkan maka musuh yang ada akan dapat dilawan.

Di samping itu perlu juga peran sejarah di sini, karena segala yang terjadi saat ini bagaimanapun juga bermula di masa lalu. Kesadaran nasionalisme akan dapat tumbuh jika pendidikan memberikan juga kemungkinan-kemungkinan untuk mengakses sejarah sebanyak mungkin sehingga masyarakat dapat melek akan situasi saat ini dengan belajar dari sejarah sebelumnya, sehingga tidak terjatuh dalam hal yang sama kendati berwajah berbeda.

Akhirnya, nasionalisme sekali lagi adalah kesadaran berbangsa dan bernegara dalam satu kesatuan. Kesadaran akan hidup berbangsa dan bernegara memang perlu dibentuk, dan ini adalah suatu proses. Bukan hanya proses individu namun juga pro-ses bersama karena ini menyangkut bangsa. Kesadaran itu perlu agar baik pendidikan maupun nasionalisme dapat tetap berjalan beriringan dan tentunya membawa perubahan sebagaimana pernah tercatat dalam sejarah Indonesia, yang mana bangsa ini berhasil mengalahkan penjajahan, musuh pada waktu itu, bukankah demikian?

Daftar Pustaka
Buku:


Freire, Paulo. Politik Pendidikan. Yogyakarta: READ (Research, Education and Dialogue), 2002.

O’neil, F. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Reksosusilo. Filsafat Wawasan Nusantara. Malang: STFT Widya Sasana, 2007.


Website:


http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow's_hierarchy_of_needs, diakses tanggal 13 Maret 2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo, diakses pada tanggal 27 Februari 2009.

http://organisasi.org/organisasi-pergerakan-nasional-budi-utomo-menghadapi-kekuasaan-kolonial- hindia-belanda-tahun-1908, diakses pada tanggal 12 Maret 2009.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/20/08021292/boedi.oetomo.dan.nagazumi, diakses tanggal 27 Februari 2009.

http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=3726, diakses tanggal 29 Februari 2009.

Kisah Sepasang Telur Paskah


Dulu ketika aku kecil, perayaan Paskah menjadi suatu perayaan yang amat menyenangkan bagiku. Di paroki, bersama anak-anak Allah yang lainnya aku saling bercanda, kejar-kejaran, main kelereng dan bermain permainan lain yang menyenangkan. Senyum-senyum selalu tersungging di wajah kami, bahkan ada yang tertawa lebar-lebar ketika melihat kekonyolan-kekonyolan yang tejadi.

Semuanya itu menjadi lebih bersemarak ketika mbak Rosa–pembina kami–memukul genta-genta kecil yang dibawanya. Itu pertanda kalau kami harus segera mengunci mulut-mulut manis kami untuk mulai berdoa, sebelum acara mencari telur Paskah dimulai. Tiba-tiba saja...

“He...telulnya cudah kamu cimpan?” tanya kakakku lirih ketika doa dimulai.

“Jangan khawatil kak, ade udah cimpan di tempat yang aman.” Sahutku meyakinkannya.

“Ya udah, nanti jangan lupa bantu aku ya.” Katanya memelas.

“Ok bos!”anggukku.

Doa selesai diucapkan oleh mbak Rosa, kini pesta cari telur dimulai. Kebiasaan di parokiku demikian, masing-masing anak membawa telur paskah dari rumah, dihias semenarik mungkin, lalu setiba di paroki segera menyembunyikannya. Pesta ini dimaksudkan agar kami mencari telur-telur paskah ini selain milik kami pribadi. Siapa yang mendapat paling banyak telur paskah, dialah yang menang.

Bersama dengan kakak, aku segera mencari telur-telur itu. Aku mendapat sepuluh butir telur sedangkan kakak empat belas butir, total ada duapuluh empat butir yang kami temukan. Perolehan itu membuat kakakku menang. Sebagai hadiah, mbak Rosa memberikan sepasang telur Paskah dari batu pualam. Warnanya hitam mengkilat, halus, dan ada ukiran salib Kristus di tengahnya.

Mataku dan mata kakak berbinar-binar melihat hadiah indah ini. Tak henti-hentinya kami memegang hadiah ini. Eh...rasanya ingin terus menatapnya, apalagi menatap ukiran salib Yesus tadi. Rasanya begitu menggembirakan dan damai kalau menatapnya.

“Eh...kak, ade boleh minta satu?”pintaku.

“Boleh, nih...kamu ini saja ya.”katanya sambil memberiku telur itu.

“Ue...makasih kak, tapi nanti kalau ketukar gimana?”tanyaku lagi.

“Iya ya, gimana kalau kita beri gambar di baliknya?”usulnya. Karena tidak ada pilihan lagi, aku pun setuju saja. Kami sepakat menggambar wajah anak yang tersenyum. Kini telur itu seakan-akan menggambarkan diri kami sendiri, bagaimana rukunnya kami sebagai seorang saudara. Sungguh indah dan memang begitu indah, bukan begitu?

Tetapi kenangan-kenangan masa lalu itu rasanya seperti mimpi, yang membuatku muak kalau mengingatnya, aku ingin melupakannya. Pengalaman itu membuatku merasa pedih sekali.

Beberapa saat semenjak itu, ketika bermain-main harta yang terpendam, aku lupa dimana aku memendam kedua telur Paskah itu. Melihat itu kakak menjadi sangat marah, kami bertengkar.

Lama-kelamaan hubunganku dengan kakak memburuk, kami mulai sering bertengkar, kami tidak lagi akur bahkan sampai sekarang. Rasanya hari-hari bagaikan neraka, setiap hari kami selau adu mulut, dan paling parah kami menjadi tidak banyak omong lagi. Hubungan saudara kami seakan-akan putus.

Kalau saja aku tidak memendam telur-telur Paskah itu, mungkin hubunganku dengan kakak bisa jadi berbeda dari sekarang, seandainya aku lebih cermat lagi waktu itu, mungkin kakak tidak akan seperti ini. Seandainya...

Di tengah keputusasaan dan kesedihanku, mau tak mau hidup tetap berlangsung. Kini aku berumur duapuluh empat tahun, sedangkan kakak akan berumur duapuluh lima. Dua minggu lagi ia akan berulang tahun. Dalam hati kecilku, aku ingin meminta maaf padanya, aku tidak betah kalau hidup seperti ini terus. Tetapi lewat apa, lha dianya kalau melihat aku pasti melengos. Aku butuh sesuatu yang dapat aku jadikan hadiah.

Lama aku merenung. Hatiku gundah, namun justru karena itulah, entah mengapa aku berdoa. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini dengan sadar aku berdoa.

“Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sadar bahwa aku ingin agar aku rukun dengan kakakku. Aku mau berdamai dan kembali ceria seperti masa kanak-kanak dulu. Satu yang kumohon, yaitu rahmatMu agar aku mampu menemukan kebahagiaan itu lagi dalam hidupku ini.”ungkapku dalam hati.
Terbesit dalam benakku seketika itu juga gambaran sepasang telur Paskah yang hilang itu. Ya, itu jawabannya. Aku harus mencari dan menemukannya, waktuku hanya dua minggu. Dan inilah kesempatanku. TUHAN TELAH MEMBERI JALAN!

Tanpa pikir panjang lagi aku berlari, menuju lapangan sekolah tempat aku bermain dulu. Meski hari sudah malam aku tetap nekad untuk menemukannya. Aku mencoba mengingat dimana kira-kira aku memendamnya. Merasa tidak menemukan serpihan-serpihan masa lalu, aku pun mulai menggali, menggali, dan menggali.

Di penghujung kesadaranku, aku meneteskan air mataku, pelupukku basah karena penyesalan mendalam, perasaan bersalah menghantamku begitu sangat. Entah mengapa, tiba-tiba dunia ini terasa berputar-putar, suara perlahan lahan lenyap, semua cahaya meredup dan gelap. Tiada apapun kecuali kegelapan. Aku pingsan.

Antara sadar atau tidak ada suara seorang memanggilku, “Des, bangun Des, he...bangun he...” semua yang tampak gelap kini menjadi terang. Aku terangkat dari kegelapan itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mampu melihat. Begitu sadar, aku amat terkejut ketika mendapati kakakku duduk di sampingku, dengan raut wajah cemas.

“Hei bodoh, kamu kenapa malam-malam begini ke sini?”

“Ee...aku mencari telur yang aku hilangkan waktu itu,”jawabku sambil menundukkan kepala karena saking takutnya.

“O, rupanya kamu mencari barang itu, tha. Kenapa kamu mencarinya sekarang? Kenapa tidak diwaktu yang lain? Kenapa malam hari begini? Bodoh amat sich, kamu ini. Coba pikir nanti kalau ada apa-apa dengan kamu bagaimana. Kamu ini anak perempuan semata wayang lho Des, ingat itu!”ucap kakakku dengan nada khawatir.

“Aku hanya ingin telur itu ditemukan, Kak. Aku mau itu jadi hadiah saat kakak ulang tahun nanti. Aku mau kita rukun lagi, tertawa bersama, ngobrol hal-hal yang konyol seperti waktu kita kecil, aku mau ...”

“Cukup! Cukup, aku tahu, jangan kamu lanjutkan. Ak...akupun juga. Des, maafkan aku karena sikapku selama ini. Ma...”

Mendengar itu, air mata kebahagiaan melinang di pipiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, setelah sekian lama kami pun mampu berdamai. Kami menemukan kerukunan kami yang telah lama hilang. Rupanya Tuhan mengabulkan doaku. Ia memberi yang terbaik, Ia begitu baik.

Telur-telur Paskah itu akhirnya tidak kami temukan. Namun kami yakin, mereka tidak menghilang. Mereka telah menetas dan kini hidup dan bangkit dalam diri kami. Telur-telur itu akan tetap tersenyum.

Moralitas Kematian Sokrates

The difficulty, my friends, is not in avoiding death, but in avoiding unrighteousness; for that runs faster than death. Kesulitannya, teman-temanku, bukanlah pada menghindari kematian, tetapi pada menghindari kepalsuan, sebab kepalsuan datang jauh lebih cepat daripada kematian.

Pengantar

Kematian Sokrates adalah sebuah tragedi dalam sejarah perjalanan filsafat. Kematiannya seakan-akan membuka mata banyak orang saat itu, bahwa inilah konsekuensi riskan dari mempertahankan suatu kebenaran yang didapat melalui aktivitas filsafatnya. Akan tetapi, apakah kematian—sebagaimana telah ditempuh oleh Sokrates—dapat sungguh-sungguh dipandang atau sekurang-kurangnya dapat dipahami sebagai suatu tindakan yang tepat yang diambil oleh Sokrates? Dapatkah kematian itu dikatakan baik? Apakah ini juga kebenaran/kebijaksanaan? Di bawah ini akan diuraikan kematian dalam terang Apologia Sokrates, yang mana Sokrates menjadi titik tolak refleksi kematian ini, terutama kematian oleh sebab kebenaran/kebijaksanaan.

Konsep “(Jiwa) yang Baik”

Dalam Apologia, Sokrates, diceritakan mengajukan pembelaannya atas tuduhan-tuduhan para penuduhnya di hadapan para dewan. Dalam usahanya itu, ia memberikan pembelaan yang boleh dikata menjebol kebekuan manusia yang cenderung puas diri dalam kesempitan cara berpikir (dan karenanya juga melukai cita rasa publik bahkan juga citarasa religius elit masyarakat pada waktu itu).

Akibatnya jelas bahwa ia akhirnya dijatuhi hukuman mati. Kematian Sokrates adalah kematian demi kebenaran. Kebenaran di sini tak lain adalah kebijaksanaan, yang dalam konteks Yunani kuno berarti pengetahuan. Bagi Sokrates sendiri, pengetahuan itu berarti adalah pengetahuan akan “yang baik“.

Adapun “yang baik“ itu adalah eudaimonia (Yun.) yang sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan. Yang dimaksud Sokrates ini bukan sekadar kebahagiaan tetapi memiliki arti yang lebih dalam, yaitu sebagai suatu paham eksistensial yang menunjuk pada keadaan objektif, yakni berkembangnya seluruh aspek atau dimensi kemanusiaan seorang individu. Dengan paham ini maka jelaslah bahwa tujuan hidup manusia itu tak lain adalah membuat dirinya atau jiwanya berkembang secara menyeluruh dan sebaik mungkin. Dan “yang baik” itu dalam tataran spiritualitas Sokrates adalah Tuhan sang kesempurnaan kebijaksanaan.

Manusia musti memikirkan “yang baik“ itu, mencarinya, memahaminya, menghayatinya, dan melakukannya. Jika orang memiliki keutamaan ini, tentunya akan melakukan yang baik. Sebagai contoh, apabila orang tahu apa artinya tolong-menolong maka dalam hidupnya tolong-menolong inilah yang hendaknya terjadi atau ditindakkan dalam kehidupan ini. Baginya (Sokrates) ketika orang tahu yang baik itu maka sudah barang tentu dia berlaku baik, oleh karena itu menurut Sokrates kejahatan itu identik dengan ketidaktahuan.

Pemikiran yang sedemikian ini membawa serta konsekuensi-konsekuensi yang sering tidak mengenakkan bagi mereka (misalnya: kesukaran-kesukaran, ketakutan, rasa malu, dsb.), apabila seseorang ingin dengan sungguh-sungguh mencari dan menindakkan “yang baik” tersebut. Orang di sini bertemu dengan yang namanya realitasnya, al. realitas kehadirannya, realitas kehadiran sesamanya, realitas tatanan hidup bersama dengan sesamanya, realitas dunia dimana ia berada, realitas relasinya dengan dunia, realitas Tuhannya dan realitas relasinya dengan Tuhan dalam hidupnya, dan realitas segala sesuatu yang ambil bagian di dalamnya.

Berhadapan dengan segala realitas di atas, belum tentu manusia mampu untuk memahaminya, karena memang tidak mudah. Butuh yang namanya keberanian untuk menghadapi itu semua di samping penggerak lain yaitu “yang baik“. Ini penting! Mengapa? Usaha menggapai kebijaksanaan itu sekali lagi riskan dan bahkan berbahaya.

Refleksi Kematian Sokrates

Sokrates tidak takut akan kematian. Baginya kematian adalah baik. Timbullah suatu permasalahan di sini, mengapa kematian itu baik? Untuk mengawalinya perlulah diketahui terlebih dahulu bahwa ketika Sokrates diadili dan kemudian mengajukan pembelaannya, ia pertama-tama menempatkan dirinya sebagai seorang warga Athena yang baik yang taat pada hukum serta demi ketaatannya kepada Tuhan. Ketaatan-ketaatan inilah yang mendorongnya melakukan pembelaannya—pembelaan yang intinya menyangkal segala tuduhan-tuduhan yang tidak benar dari para penuduhnya.

Sokrates merasa perlu melakukan pembelaan itu karena ia sadar bahwa apa yang telah ia perbuat selama ini (aktivitas pencarian kebijaksanaan) adalah benar, dan ia pun tidak menginginkan orang-orang berada dalam kesesatan hanya karena tuduhan-tuduhan yang ditunjukkan kepadanya. Hasil dari pembelaannya adalah hukuman mati bagi dirinya, sebagaimana diinginkan oleh para penuduhnya daripada dengan keberadaannya, mereka terus dirong-rong karena nyata-nyata kedapati hanya berlagak bijaksana namun tidak sama sekali.

Dengan mengajukan Sokrates dalam persidangan dan mengajukan hukuman mati sebagai hukuman yang layak bagi Sokates karena telah merusak moral kaum muda dan mengajarkan agama baru, para penuduh berangapan Sokrates akan takut atau setidaknya gentar dihadapan mereka. Namun ternyata tidak, malahan ia berkata kepada para penuduhnya, “Aku memandang ini sebagai sebuah bukti bahwa apa yang telah terjadi padaku adalah sesuatu yang baik, dan barang siapa di antara kita yang berpikir bahwa kematian adalah sesuatu yang jahat mereka itu salah.”

Kematian yang dianggapnya baik ini berkaitan dengan pemahamannya akan kematian itu sendiri yang erat kaitannya dengan “yang baik” tadi. Baginya kematian adalah suatu keadaan ketiadaan dan sama sekali tanpa kesadaran, atau sebuah perubahan dan perpindahan jiwa dari dunia ini ke tempat yang lain.

Ini dapat dimengerti demikian. Bagi Sokrates kebijaksanaan tertinggi itu hanyalah milik Tuhan dan bukannya manusia karena milik manusia itu terbatas dan tidak sempurna. Oleh karena itu maka tujuan dari apa yang dicari di dunia ini (kebijaksanaan) adalah Tuhan itu sendiri atau “yang baik” itu. Bahkan hal ini kembali dipertegas dengan pernyataannya bahwa kematian adalah keuntungan. Jelaslah sekarang bahwa seluruh pengembaraan Sokrates memuncak pada hal ini. Maka dari itu kalau memang dihadapkan pada kematian ia berani. Ia beranggapan, kematian demi apa yang telah ia lakukan selama ini, tak lain adalah usahanya juga untuk menggapai “yang baik” itu, atau bahkan jika perlu dapat juga dipandang sebagai pemenuhan pengembaraannya dalam mencari kebijaksanaan sejati.

Melihat ini dapatlah dipahami mengapa kematian itu baik, namun mengapa Sokrates lebih memilih hal ini? Sampailah di sini bahwa memang tidak ada pilihan lain baginya saat itu selain pilihan menjalani hukuman kematian. Perlulah pada poin ini diingat kembali cerita dalam Apologia. Dengan berbagai cara Sokrates menjelaskan bahwa tuduhan-tuduhan para penuduhnya itu salah, namun usahanya pun tetap tidak dapat meyakinkan para dewan waktu itu. Rupanya di sinilah ia melihat bahwa kepalsuan telah begitu merasuk dalam anggota dewan yang sebagian besar membencinya lantaran pernah merasa sakit hati olehnya.

Untuk itulah dia lebih memilih untuk mati. Ia rela menanggung ketidakadilan daripada ia sendiri berbuat yang tidak adil. Kekonsistenannya dengan apa yang dihayatinya ini merupakan sesuatu penegasan kembali pendiriannya. Apabila dia melanggar apa yang ia yakini dan ia wartakan, itu sama halnya bahwa ia menipu dirinya sendiri. Hal ini mau mengatakan suatu yang penting bahwa apabila ia menipu dirinya, berarti selama ini yang dicarinya tak lain adalah kebijaksanaan yang semu, yang akhirnya menempatkan dia sama halnya dengan para penuduhnya.

Kebijaksanaan sejati akan “yang baik” adalah yang dikejar, diusahakan, dan kemudian dihayati oleh Sokrates. Demi mempertahankan dan memperjuangkannya ia rela mati. Ungkapan bahwa kematian ini baik harus dimengerti dalam konteks ini, bahwa kematian adalah usahanya untuk tetap mempertahankan yang baik ini. Oleh karena ini penting maka diungkapkanlah kata-kata sebagaimana menjadi pembuka tulisan ini, agar mereka yang mendengarkannya tidak lagi terjebak dalam kepalsuan, yang mungkin sebenarnya hanya bayangan semu dari yang benar itu, namun saking terpukaunya malahan menganggap hal itu sebagai suatu kebenaran/kebijaksanaan sejati.

Penutup

Kematian atau lebih tepatnya kemartiran Sokrates ini membawa siapa saja yang merenungkannya kepada kesadaran akan pentingnya “yang baik” yang ada dalam kehidupan ini. Sederhana namun sering terhalang oleh pikiran-pikiran sempit yang malah terkadang mengaburkan maknanya, lantaran tidak pernah direfleksikan secara mendalam.

Kepuasan dan kenyamanan dengan hanya memperoleh bayangan semu dari “yang baik” ini bukanlah suatu yang patut diteruskan karena hanya akan membawa hidup ini pada pendangkalan dan bukannya pada perkembangan jiwa yang baik, yakni jiwa yang selalu mengembara, mencari, dan menemukan kebijaksanaan sejati. Inilah kepalsuan yang menurut Sokrates harus dihindari.

Sehelai daun...?



Daun-daun pasti akan berguguran dan mati.

Namun, berkat kematiannnya tanah menjadi subur.

Dengan demikian ia mati untuk hidup.

Perubahan...

Ketika aku datang pagi ini, suasana di bawah embong Brantas terasa begitu lengang, atau bahkan amat sepi. Omong demi omong, akhirnya aku tahu bahwa ’si humoris’ itu, atau Mas Ujang rupanya hendak pulang ke Cirebon, untuk bertemu keluarganya.

Sejauh aku mengenal Mas Ujang, tak ada kata lain selain jujur untuk mendeskripsikan dirinya. Mengapa? Tentu ada alasannya. Mas Ujang adalah orang yang apa adanya, baik dalam penampilan maupun tingkah lakunya. Meski tidak banyak bicara, orang senang dengan keberadaannya, karena ia mempedulikan mereka.

Satu hal yang aku ingat dan aku pelajari dari cerita tentang kehidupan masa lampaunya adalah tentang perubahan hidupnya. Mas Ujang bukanlah kaum terpelajar, di jenjang SD ia hanya sempat mengenyam pendidikan samapai kelas dua, itupun juga berhenti di tengah jalan. Keluarganya miskin. Dia pernah menikah, namun rupanya tidak berjalan langgeng. Sang istri meninggalkan dia entah kemana perginya dengan meninggalkan dua orang anak.

Peristiwa ditinggal pergi sang istri tanpa pamit itu rupanya menjadikan hidupnya menjadi sulit. Ia mengalami kelimpungan, depresi, dan stress bahkan mungkin kekecewaan yang tak terungkapkan. Tak tahan akan hal itu, dalam kelimpungannya, ia nekat berjalan tanpa tujuan.

Dari Cirebon, Jawa Barat, akhirnya ia sampai ke Malang, Jawa Timur. Saat itu dikatakan bahwa ia seperti orang yang mengenaskan, baju kotor dan lusuh, rambut acak-acakan, dan tubuh yang begitu kotor dan lemah. Untunglah pada saat itu ada orang baik yang menolongnya dalam kelimpungannya itu, orang itu tak lain adalah Pak Jan. pertolongan yang diberikan oleh Pak Jan itu sederhana, ia hanya memberinya makan, membawanya ke gubuknya, dan ketika perlahan-lahan ia mampu menerima kenyataannya, Pak Jan mulai mengajarinya cara memulung. Dapat dikatakan bahwa sejak saat itu juga antara Pak Jan dan Mas Ujang terjalin persahabatan yang akrab, dan sejak saat itu pulalah kehidupannya berubah.

Bagi Mas Ujang, kedua anak yang ditinggalkan oleh istrinya maupun persahabatan dengan Pak Jan atau bahkan warga kampung sekitarnya kemudian, rupanya menjadi semacam semangat baru, pengharapan baru bagi hidupnya. Pengalaman kelamnya rupanya menyadarkan dirinya bahwa hidupnya berubah, dan sekaligus menyadarkan dia bahwa Tuhan masih mencintainya dengan tetap memberi apa-apa yang baik dalam hidupnya.

Untuk segala hal itulah, dengan semangat baru itu ia akhirnya memutuskan bekerja sebagai pemulung. Usaha yang dilakukannya dengan sepenuh tenaga itu kini membuahkan hasil, sekarang ia menjadi penimbang. Dan tak berhenti pada itu saja, dengan penghasilannya ia masih mampu membiayai sekolah anaknya. Yah itulah Mas Ujang, tak peduli apa kata orang, satu yang penting adalah bahwa ia diubah oleh Kasih Tuhan.

Sebenarnya pengalaman Mas Ujang ini merupakan suatu undangan Tuhan pada semua orang. Undangan untuk berubah atau diubah oleh kasih-Nya yang tak berkesudahan. Dan utuk itulah kemurnian hati untuk mau diubah itu menjadi hal yang perlu. Sobat, inilah salah satu panggilan hidup kita…hidup dalam kasih Allah dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup.

“…life must be understood backwards. But… it must be live forwards.” Soren Kierkegaard

Grace Has Its Moment

“Grace has its moment.”
Vincent de Paul to Bernard Codoing
March 16, 1644
SV II, 372

“As for myself, in spite of my age, I say before God that I do not feel exempt from the obligation of laboring for the salvation of those poor people, for what could hinder me from doing so? If I cannot preach everyday, all right! I will preach twice a week; if I cannot preach more important sermons, I will strive to preach less important ones; and if the people do not hear me, then what is there to prevent me from speaking in a friendly, homely way to those poor folk, as I am now speaking to you, gathering them around me as you are now?”

SV XI, 136

“The earth Possesses his body, the heaven his soul, but his spirit remains with you.”

SV XI, 72

“Love is inventive…even to infinity.”

SV XI, 146

“All good which is done by them comes from God.”

SV I, 182

“But turn you’re medal and you will see by the ligth of faith that the Son Of God, whose wil it was to be poor, is reprensented to us.”

SV XI, 32

“You must empty yourself in order to put on Jesus Christ.”

SV XI, 343

“May God instill in you…a deep love for Our Lord Jesus Christ, who is our father, our mother, and our all.”

SV V, 534

“God’s Spirit is neither violent nor hasty.”

SV II, 276

“There is no better way to assure our eternal happiness than to live and die in the service of the poor within the arms of providence and in real renunciation of ourselves by following Jesus Christ.”

SV III, 392

We are weak O God


We are weak O God
And capable of giving in at the first assault.

By Your pure loving kindness
You have called us;
May your infinite goodness, please,
Now help us persevere

For our part, with your holy grace,
we will try with all our strength
to summon up
all the service and all the faithfulness that you ask of us.
So give us, O God, give us the grace to persevere untill death.

This what I ask of you
Trough the merits of Our Lord Jesus Christ
With confidence that you will remember me

SV IX, 360

Dalam segala kelemahan, aku besryukur boleh menemukan-Mu dalam sampah-sampah para pemulung

Awalnya adalah……

Pengalaman merupakan awal perubahan setiap orang, sejauh itu direfleksikan dan direnungkan. Umumnya, orang banyak berubah karakternya, hidupnya, paradigmanya, dan sebagainya berkat pengalaman yang ia alami—entah itu besar ataupun kecil.

Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa banyak tokoh dunia dan lokal yang terkenal berubah ketika bertemu dengan pengalaman, sebut saja Bunda Teresa, Uskup Oscar Romero, atau Ibu Kartini maupun tokoh yang lain.

Namun sebenarnya bukan mereka saja, tetapi juga kita yang hidup di dunia ini. sadar atau tidak kita senantiasa berubah, dan selalu awal dari perubahan itu adalah pengalaman.

Pengalaman pertama-tama menyentuh hati, karena dengan pengalaman kita semacam melakukan dialog batin dengan diri kita sendiri ketika bertatap dengan pengalaman tadi. Dan demikian hati kitalah yang tergerak. Tergeraknya hati inilah yang membuat hidup seseorang berubah—entah itu menjadi baik atau menjadi jahat—yang jelas dalam perubahan selalu mengharapkan yang terbaik untuk semua.

Bagiku pengalaman itulah awal dari kemartiran setiap orang, bukan lagi menjadi manusia lama melainkan manusia baru dalam Kristus Yesus. Dan bagiku menjadi martir pertama-tama bukan karena perbuatanya melainkan proses yang telah dilakukan sehingga ia menemukan dan tergerak untuk mewartakan

Pengalaman itu adalah CINTA....!!!

Umat Katolik Perintis Di Indonesia

Umat katolik perintis di Inonesia sebenarnya sudah ada sejak abad ke-7, tepatnya tahun 645 M. Titik awal, adanya umat perintis ini sebenarnya berawal dari Antakya (Antiokhia). Antakya ini merupakan kota yang memegang peranan penting karena pada saat itu kota ini merupakan kota terbesar ketiga imperium Romawi sekaligus satu-satunya kota pelabuhan yang menghubungkan musafir dari Asia dengan timur tengah. Di samping itu, di antakya ini ternyata terdapat jalan menuju kota seleucia-ktesifon, yang merupakan ibukota kerajaan Persia Neo-Sassanide. Dari situ pulalah terdapat hubungan dengan jaringan lalu lintas seluruh asia, termasuk Indonesia.

Seluruh daerah di atas baik Antakya hingga Seleucia-Ktesifon, akhirnya menjadi daerah kerasulan dan pewartaan Injil, dan pada waktu itu berkembang dinamis di Suriah. Para misionaris Suriah pada saat itu terkenal dengan keyakinan rohani yang murni. Dikatakan murni karena mereka selalu menyebarkan iman mereka itu dengan cara damai yaitu dengan mengunjungi suku bangsa satu dengan lain, tanpa pernah membentuk laskar bersenjata yang selalu di pimpin oleh seorang Amir.

Bertolak dari semua hal di atas, ada baiknya bila kita mengetahui latar belakang berdirinya Gereja Suriah Timur untuk lebih mengetahui kondisi Gereja ini.

Pada abad ke-3, panggung politik dunia ini dikuasai oleh dua negara yaitu, Roma dan Persia Neo-Sassanide. Ketegangan antara kedua negara ini ternyata turut memengaruhi perkembangan Gereja saat itu karena pada saat itu Gereja Suriah ini berada dalam kekuasaan batriq Antakya yang merupakan wilayah Romawi.

Hal ini kian diperuncing oleh kaisar Valerianus yang menetapkan agama kristiani sebagai agama negara, karena hal ini semakin menimbulkan sikap anti kristiani bagi kerajaan Persia. Untuk mengatasi kekhawatiran Gereja, maka diadakan sinode yang hasilnya menetapkan gereja Suriah Timur sebagai Gereja otonom.

Sinode itu mengukuhkan imannya kepada putusan-putusan Konsili Nicea, sehingga sifat kekatolikan mereka tak dapat diragukan. Namun, pada tahun 431 ajaran Nestorius yang menjabat batriq Gereja Konstatinopel, dicap bidaah dalam Konsili Ekumenis III di Efesus. Ajaran Nestorius ini menentang, gelar Bunda Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos), karena menurutnya hal ini akan menimbulkan kesalah pahaman bagi orang yang tidak terdidik, seolah-olah mengandung makna bahwa Maria juga Bunda Allah Tritunggal. Untuk menjawab hal itu maka Gereja menegaskan kesatuan Pribadi Kristus dalam Konsili Khalsedon.

Demi keutuhan iman maka ajaran Nestorius ini ditolak dan ia dipecat dari jabatan keuskupannya. Para imam dan mereka yang terpaksa lari karena memihak ajarannya ternyata diterima baik di Persia. Bahkan Persia menggunakan perselisihan teologis ini untuk memperkuat perselisihan dengan Roma. Awalnya Gereja Suriah Timur ini tidak terpengaruh dengan adanya pertentangan itu namun, karena gereja ini berada di daerah Persia maka mau tak mau akhirnya memaksa mereka untuk membenarkan pendapat Nestorius. Namun, walaupun gereja Suriah timur ini terpaksa membenarkan pendapat Nestorius dan diberi cap Gereja Nestorian, mereka tetap berpegang pada ajaran gereja katholik Roma, dan pada tahun 1533 gereja ini menetapkan kesatuan dengan Gereja Roma. Dari sinilah kemudian ada berbagai usaha untuk mewartakan Injil ke Asia dan salah satunya adalah Indonesia.

Tentang masuknya Gereja Katolik yang lebih awal, belum ditemukan data purbakala yang pasti. Sumber tertua yang mengabarkan adanya umat dan Gereja serani di kepulauan Indonesia memuat berita, bahwa mereka itu sudah banyak jumlahnya. Tentang kapan mulainya dan bagaimana keadaan mereka kemudian tidak diterangkan apa-apa.

Berita masuknya Gereja Katolik ke Indonesia terdapat dalam sebuah buku yang berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is wa’l-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu yang berarti Daftar berita-berita tentang gereja-gereja dan pertapaan-pertapaan dari provinsi-provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya. Buku yang di karang oleh ahli sejarah Shaykh Abu Aalih al-Armini ini memuat berita tentang 707 gereja dan pertapaan Serani yang tersebar di beberapa negara. Berita Pansur yang di bawa oleh Shaykh Abu Salih memberitakan tentang keadaan di Sumatera bahwa di daerah Sumatera banyak terdapat Gereja dan semuanya adalah dari Nazara Nasathirah, dan demikianlah keadaan di situ. Dan dari situ berasallah kapur barus dan bahan itu merecik dari pohon. Dalam kota itu terdapat satu gereja dengan nama: Bunda Perawan Murni Maria.

Adapun minat dari para ahli sejarah Arab Muslim terhadap sejarah agama “Nasara” adalah untuk menyingkap tabir masa lampau dan juga untuk menjalin persahabatan dengan orang Serani terpelajar. Para serani seperti para Imam dan wiharawan Kristiani membuka hubungan dengan para ahli sejarah dengan melakukan pengajaran ilmu, kesenian, filsafat dan sejarah kepada orang Muslimin, dengan begitu para pengarang arab-muslim bersyukur kepada para rohaniwan Kristiani atas bimbingan mengenai ilmu pengetahuan. Dari para ahli yang berminat tersebut seperti Shaykh Abu Salih Al-Armini yang berkerja pada masa pemerintahan ketiga Khulafa Fatimiyah yang terakhir di Mesir yang melakukan usaha untuk mengupas sumber-sumber tertulis yang sudah ada dengan menambahkan hasil penyelidikan yang telah dilakukan sendiri. Abu Salih telah berhasil menemukan fakta dan berita baru; seluruhnya diberitakan olehnya dengan bahan historis mengenai hampir 900 tempat ibadah Kristiani di Afrika dan Asia. Melalui proses pengujian maka berita Pansur oleh Abu Salih dinyatakan lulus.

Kelanjutan berita yang di bawa oleh Abu Salih mengalami penyusutan seiring berkembangnya zaman. Keadaan Gereja yang terdapat di Sumatera sudah berbeda karena sudah masuk agama baru seperti Islam. Seperti yang ditulis oleh J. Dauvilier bahwa “sekaligus membasmi warisan rohani India dan jemaah-jemaah Kristiani, seperti juga di Asia Sentral”, tulisan ini menunjukan bahwa Islam telah masuk di sumatera dan berita terakhir berasal dari Ludovicus de Varthema pada tahun 1506-1508 yang melaporkan bahwa di Sumatera tidak terdapat adanya Gereja Khaldea.

Dengan demikian, kota Barus yang dahulu disebut pancur adalah tempat kediaman umat Kristiani tertua di Indonesia, dan umat di sana bukanlah umat gereja Nestorian melainkan secara sah umat gereja Katholik.

Being Humble...?

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini aku bersilaturahmi ke tempat orang miskin. Sebenarnya hal silaturahmi ini sudah biasa, karena pasti setiap Idul Fitri aku mengunjungi tetangga-tetangga entah waktu di seminari ataupun di rumah. Bedanya sekarang ini kulakukan dengan orang miskin yang tentunya membawa makna tersendiri bagi hidupku.

Begitu datang, aku disambut dan disuruh masuk ke gubuknya yang ala kadarnya. Ngobrol sambil nyamil ‘Assorted Biscuit’ menjadi sarana kehangatan silaturahmi ini sekaligus juga sebagai sarana untuk lebih mengenal sosok Pak Jan–yang aku kunjungi.

Ada satu hal yang ia katakan, yang bagiku mengesan, “Eee...mumpung badha, Mas, nggor pisan-pisan sa’ tahun (eee... mumpung hari raya, Mas, hanya sekali setahun).” Konteks ucapan ini adalah saat aku bertanya, “Apakah ada juga yang bersilaturahmi ke sini?” rupa-rupanya orang kampung sekitar turut bersilaturahmi ke tempat beliau, baik dewasa maupun anak-anak. Nah di sinilah jawaban tadi muncul, yakni ketika Pak Jan memberi uang sebesar Rp. 2000,00 untuk anak-anak kecil yang datang padanya.
Jumlah Rp. 2000,00 untuk setiap anak adalah jumlah pengeluaran yang besar bagi orang seperti Pak Jan. Omong demi omong, akhirnya aku tahu bahwa setiap harinya sebenarnya beliau hanya mendapat Rp. 20.000,00 untuk hal ini aku tidak habis pikir!

Apa yang membuatku heran adalah pertama-tama karena beliau adalah seorang pemulung yang dilihat dari segi ekonomis kekurangan, bahkan untuk makan sehari pun kurang. Kedua karena beliau secara fisik sudah tua, tidak mungkin lagi bagi beliau untuk setiap harinya mengumpulkan uang dua puluh ribu rupiah, kalaupun bisa itu pun harus berjalan lebih jauh lagi dari area yang biasa beliau lewati.

Di samping itu di Malang, sekarang banyak sekali pemulung (lihat bahkan di kalangan orang kecil pun juga terjadi perebutan nafkah meski tidak terang-terangan terjadi) lantaran dirasa lebih menguntungkan bekerja sebagai pemulung daripada menjadi tukang becak, dsb, ketika lahan pekerjaan bagi mereka yang menganggur (apalagi yang tidak terdidik) tidak lagi tersedia.

Melihat itu semua aku teringat kata-kata St. Vinsensius, demikian, “Orang yang rendah hati lebih menganggap orang lain lebih penting daripada dirinya.” Dan kerendah-hatian inilah yang kutemui pada sosok Pak Jan dan juga inti yang kutemukan dari pengalaman ini.

Bagiku ini semacam memberikan percikan kesadaran baru bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang dengan kesungguhan hatinya lebih mementingkan orang lain daripada dirinya, seperti kata St. Yohanes Peng Inj., “ Biarlah aku menjadi semakin kecil tapi Ia harus semakin besar .”

Mungkin bagi sebagian orang, ini sulit. Mengapa? Menjadi “man for others” —yang rendah hati dan mau mengorbankan dirinya untuk orang lain—tampaknya kurang menjadi sesuatu keutamaan yang menjiwai dan menggerakkan orang, termasuk juga aku—entah sadar atau tidak.

Kalau mau ditilik kembali, sebenarnya perjalanan menjadi rendah hati adalah suatu proses. Namun, tidak bisa hanya dengan kata-kata nasihat seperti di atas, perlu pula yang namanya tindakan karena kalau tidak disertai demikian kata-kata memang akan terasa hampa dan (mungkin) sama sekali tidak membawa kesegaran bagi yang membaca, apalagi menggerakkan.

Di saat yang bersamaan perlu pula dimunculkan suatu sikap dalam diri ini untuk tidak hanya menggantungkan diri pada hal-hal yang di luar diri kita (tindakan dan hanya tindakan) demi hanya untuk memenuhi yang sekedar namanya rasa segar, rasa kebaruan, dan mungkin juga rasa senang yang sifatnya praktis akan tetapi semu dan sama sekali tidak sesuai dengan semangat rendah hati tadi.

Sikap apa? Ya tak lain tak bukan adalah sikap untuk senantiasa sadar dan waspada. Keduanya memang perlu pula dilatih dan juga ditumbuhkan bersamaan. Ini adalah tantangan untuk sekali lagi berani melihat ke dalam diri masing-masing dan memaknai peristiwa-peristiwa yang ada yang telah terjadi selama ini. Orang tidak mungkin bisa menjadi rendah hati dan mengarahkan dirinya untuk orang lain kalau ia masih terbelenggu pada dirinya sendiri, entah itu kesenangannya, fantasi-fantasinya, dsb.

Akhirnya, pengalaman tadi menjadi bekal dalam hidup ini lebih-lebih bagi hidupku. Sebenarnya pengalaman ini mau berkata banyak hal, namun aku sadar aku masih dalam taraf ini yah moga-moga bisa lebih mendalam lagi. Menjadi rendah hati seperti Pak Jan pemulung itu, memang bukan suatu hal yang sekali jadi tetapi itu proses maka salah apabila orang tidak ingin “sakit” dalam berproses, terutama dalam memaknai setiap peristiwa hidup sehari-hari. Beranilah menjadi rendah hati entah itu apa kata orang! Beranilah memaknai peristiwa-peristiwa hidup! BERANILAH MEMULAI ITU SEMUA!
Download Opera, the fastest and most secure browser
November 2009
M T W T F S S
October 2009December 2009
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30