Menyadari Kembali Relasi Nasionalisme dan Pendidikan
Saturday, 18. July 2009, 04:26:37
Nasionalisme adalah kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kesatuan (Reksosusilo 2007:50). Menarik, bahwa nasionalisme itu pertama-tama adalah kesadaran, maka dari itu, nasionalisme dimungkinkan untuk dapat ditularkan dan dapat diejawantahkan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu cara penular-annya melalui pendidikan yang mana, dengan proses pembelajarannya, seseorang dimampukan untuk sampai pada kesadaran itu sendiri.
Berdasarkan hal di atas, sejauh mana relasi pendidikan dalam kaitannya de-ngan nasionalisme, terutama dalam membangun kesadaran tersebut. Apakah menularkan nasionalisme mungkin melalui pendidikan? Dan apakah hal itu masih relevan sementara di Indonesia sendiri wajah pendidikan tengah berwarna buram tak karuan?
Pertemuan Pendidikan dan Nasionalisme
Dapat dikatakan bahwa pertemuan pendidikan dan nasionalisme terjadi dalam Boedi Oetomo, suatu organisasi yang muncul karena situasi dan kesadaran masa itu. Organisasi bentukan dr. Wahidin bersama kawan-kawan tersebut bertujuan untuk “meringankan beban hidup bangsa Jawa, melalui perkembangan yang harmonis dan kerohanian.” Mereka membantu pendidikan anak pribumi dengan cara mengumpulkan beasiswa untuk mereka.
Organisasi ini sungguh menaruh minat dalam pendidikan. Hal ini nampak dari penuturan Nagazumi, sebagaimana dikutip oleh P. Swantoro demikian,
“...; para angotanya selalu terpacu untuk mengejar perkembangan intelektual, menolak kesetiaan membuta yang emosional dan tidak terjerumus pada sikap apatis terhadap hal-hal spiritual.”
Maka tidak mengherankan jika melalui usaha pendidikan mereka, masyarakat terutama Jawa dan Madura mulai mengalami perubahan intelektual terutama dalam mengerti keadaan mereka saat itu sebagaimana dicita-citakan oleh dr. Wahidin yang disampaikan oleh dr. Soetomo demikian,
“Orang berubah menjadi lain makhluk, merasa tergerakkan, gemetar seluruh tubuh dan tulangnya, pemandangannya menjadi luas, perasaannya menjadi halus, cita-citanya menjadi elok. Orang merasakan akan kewajibannya yang mahaluhur di dunia ini.”
Meski amat disayangkan bahwa itu tidak sepenuhnya berhasil dicapai.
Selain Boedi Oetomo muncul pulalah Indische Partij yang berhaluan politis dan Sarekat Islam, yang mana kesemua organisasi ini muncul untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan, melalui cara mereka sendiri-sendiri. Kemunculan mereka membuat nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Kesadaran yang demikian itu (nasionalisme) membuat masyarakat mulai berani untuk melakukan gerakan perlawanan meski itu masih benih.
Hal ini nampak dari kemarahan rakyat Indonesia yang marah akan kesemena-menaan Belanda yang ketika hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, menggunakan uang rakyat Indonesia sebagai modalnya. Peristiwa ini kemudian oleh Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) diungkapkan dalam rupa tulisan berjudul “Als ik Nederlands was” (seandainya saya seorang Belanda) yang menyebabkan ia dijebloskan ke penjara. Kemarahan tersebut menengarai suatu kesadaran akan kondisi hidup mereka yang mana hak-haknya telah dirampas dan dipergunakan semena-mena oleh penjajah. Sementara tulisan tadi menengarai bahwa pendidikan telah turut mengambil bagian dalam membentuk kesadaran itu, terutama untuk mengar-tikulasikan ke-kecewaan itu.
Demikianlah pertemuan pendidikan dan nasionalisme yang terjadi di dalam Boedi Oetomo. Bagaimanapun juga organisasi yang lahir demi mengembangkan pendidikan intelektual bagi rakyat ini, meski tidak seratus persen berhasil, telah mengawali suatu babak baru yaitu menanamkan benih nasionalisme, melalui usaha pendidik-an mereka.
Pendidikan Indonesia
Sekarang ada baiknya melihat wajah pendidikan di Indonesia saat ini yang tengah buram dirong-rong musuh, bukan penjajah kompeni tapi musuh baru yang saat ini tengah “meduduki” pendidikan. Untuk keperluan itu akan dicoba dilihat dari tiga komponen utama pendidikan, dengan menyoal tentang:
Lembaga pendidikan
Sebagai suatu lembaga perlulah memiliki visi dan misi. Lembaga pendidikan pun sama halnya. Adapun permasalahannya adalah bahwa visi tersebut tidak pernah menjadi tindakan. Visi yang demikian tidak akan memberi sumbangsih apapun bagi pendidikan. Contohnya, dalam usaha mendidik subyek didik, kurangnya penterlibatan guru dalam merumuskan kurikulum, membuat guru sendiri tidak mampu menerap-kan atau menyelaraskan dengan visi tersebut, akibatnya jelas visi itu tidak dapat dicapai secara maksimal.
Selain visi dan misi, rupanya bahasa pendidikan di Indonesia adalah bahasa pabrik, yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses, sehingga di sini peran subyek didik tak lebih daripada sekedar hasil ciptaan, sedang lembaga pendidikan di sini tak lebih dari sekedar alat untuk mencetaknya.
Hal ketiga adalah adanya ketidakadlian dalam pendidikan terutama karena pendidikan di indonesia masih berkelaminkan “kaya dan miskin”. Mereka yang kaya secara otomatis mendapatkan ruang dan kesempatan yang lebih jika dibandingkan dengan mereka yang miskin, dan ini sungguh terasa. Sangat memprihatinkan bahwa pendidikan jatuh dalam semangat ini tanpa lagi memedulikan faktor intelek yang di-miliki oleh subyek didik.
Guru
Guru sering disebut juga pahlawan tanpa tanda jasa. Yang demikian pantas disandang hanya oleh mereka (para guru) yang memiliki dedikasi terhadap pendidikan, proses-proses pembelajarannya, dan interaksi antar pribadi dengan subyek didik. Di Indonesia ada banyak guru. Masalahnya apakan semuanya berkualitas?
Ini merupakan masalah yang pelik yang tidak mudah untuk dipecahkan. Dapat dikatakan bahwa guru-guru di Indonesia mengalami kondisi yang memprihatinkan. Mendiang Rm. Haryanto, CM membuat anekdot tentang guru, ia mendefinisikan guru bukan sebagai “sing digugu lan ditiru” (diteladan dan ditiru.), melainkan “gubuk usang rawan utang.”
Banyak guru hidup serba kekurangan, mau tak mau ini menimbulkan suatu mentalisme tersendiri, mentalisme memenuhi diri sendiri dan bukannya aktualisasi diri sebagaimana diungkapkan oleh Maslow. Sehingga dalam mengajar pun tidak dapat maksimal atau justru sekenanya saja, lantaran merasa tidak ada gunanya mengajar, meski tidak dapat dikecualikan di sini ada juga guru yang hidup serba berkecukupan tetapi dedikasi untuk pendidikan nol, lantaran terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga situasi demikian sungguh sangat tidak menguntungkan tetapi Indonesia patut bersyukur karena tidak semua guru seperti demikan ada juga yang baik kendati hidup dalam kekurangan mereka inilah pahlawan tanpa tanda jasa.
Subyek Didik
Pengaruh globalisasi bagi subyek didik juga tidak dapat diremehkan, terutama dengan kemajuan teknologinya. Kecanggihan teknologi semakin memper-instant kehidupan manusia. Saking instant-nya justru menimbulkan efek negatif, terutama dalam membentuk semangat individualisme karena melupakan unsur proses.
Pengaruhnya pada subyek didik nampak jelas dan ada kaitannya dengan ba-hasa pendidikan bahasa pabrik, yaitu proses menjadi tidak lagi bermakna. Bukan ha-nya proses pribadi akan tetapi juga proses bersama. Alhasil, subyek bisa jadi kehilangan kepekaan sosial, apatis, dan cenderung berjuang untuk diri sendiri.
Melihat persoalan di atas, sungguh amat tidak dimungkinkan semangat nasionalisme dapat tumbuh melalui pendidikan sebagaimana pernah terjadi dalam Boedi Oetomo, karena komponen-komponen utama pendidikan tengah kewalahan melawan musuh-musuh baru itu. Jika demikian jangankan menumbuhkan kesadaran nasionalisme, menanamkan saja tentunya juga amat sulit. Lantas apa yang sekiranya dapat dilakukan? Bukan dengan mengubah sistem pendidikan yang ada secara keseluruhan tetapi pertama-tama adalah dengan menanamkan beberapa kesadaran baru dalam setiap komponen tadi.
Beberapa Kesadaran
Kesadaran pertama adalah kesadaran akan adanya musuh bersama. Harus disadari bahwa pendidikan dulu diarahkan untuk melawan penjajahan, dengan cara mela-tih intelektual masyarakat kala itu agar mampu mengartikulasikan segala rasa ketertindasan mereka terhadap penjajah. Dan memang itu efektif, serta kenyataannya pendidikan berhasil untuk menyampaikan kesadaran nasionalisme. Akan tetapi untuk se-karang bangsa Indonesia bukannya lagi melawan penjajah tetapi berbagai persoalan di atas yang saat ini tengah mengakar kuat. Jika hal di atas tidak dianggap musuh yang perlu dilawan maka luka yang besar itu akan tetap menganga dan membusukkan segalanya.
Kesadaran akan adanya musuh bersama ini dapat dimunculkan jika dalam pendidikan secara terus menerus ditumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas serta melibakan komponen masyarakat yang ada, dalam artian membuka kesempatan pendidikan bagi siapapun tanpa membedakan berdasarkan “kelamin kaya ataupun miskin”. Jika ini dapat ditanamkan maka musuh yang ada akan dapat dilawan.
Di samping itu perlu juga peran sejarah di sini, karena segala yang terjadi saat ini bagaimanapun juga bermula di masa lalu. Kesadaran nasionalisme akan dapat tumbuh jika pendidikan memberikan juga kemungkinan-kemungkinan untuk mengakses sejarah sebanyak mungkin sehingga masyarakat dapat melek akan situasi saat ini dengan belajar dari sejarah sebelumnya, sehingga tidak terjatuh dalam hal yang sama kendati berwajah berbeda.
Akhirnya, nasionalisme sekali lagi adalah kesadaran berbangsa dan bernegara dalam satu kesatuan. Kesadaran akan hidup berbangsa dan bernegara memang perlu dibentuk, dan ini adalah suatu proses. Bukan hanya proses individu namun juga pro-ses bersama karena ini menyangkut bangsa. Kesadaran itu perlu agar baik pendidikan maupun nasionalisme dapat tetap berjalan beriringan dan tentunya membawa perubahan sebagaimana pernah tercatat dalam sejarah Indonesia, yang mana bangsa ini berhasil mengalahkan penjajahan, musuh pada waktu itu, bukankah demikian?
Daftar Pustaka
Buku:
Freire, Paulo. Politik Pendidikan. Yogyakarta: READ (Research, Education and Dialogue), 2002.
O’neil, F. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Reksosusilo. Filsafat Wawasan Nusantara. Malang: STFT Widya Sasana, 2007.
Website:
http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow's_hierarchy_of_needs, diakses tanggal 13 Maret 2009.
http://id.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo, diakses pada tanggal 27 Februari 2009.
http://organisasi.org/organisasi-pergerakan-nasional-budi-utomo-menghadapi-kekuasaan-kolonial- hindia-belanda-tahun-1908, diakses pada tanggal 12 Maret 2009.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/20/08021292/boedi.oetomo.dan.nagazumi, diakses tanggal 27 Februari 2009.
http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=3726, diakses tanggal 29 Februari 2009.
























