Thursday, February 10, 2011 4:00:10 PM
Reflection
Setiap manusia pernah mengalami momen kekaguman, yakni saat ketikadirinya menyadari dan merasakan keindahan di hadapannya. Itulah saat di manadirinya terpesona akan segala yang ia jumpai. Sedikit cerita, beberapa waktu laluselepas masa pembinaan di Seminarium Internum CM, saya bersama konfrater lainnya mendaki G. Panderman dengan ketinggian 2000 m dpl. Kami berangkat pukulsembilan malam dan baru tiba sekitar jam setengah dua belas malam di puncak.Selama pendakian boleh dikatakan tidak ada hal yang menarik untuk diperhatikan,selain semuanya serba gelap, saya juga lebih fokus dalam mengatur nafas saya.Setibanya di puncak pun yang saya temui adalah kelelahan dan kedinginan yangmenyelimuti tubuh saya, tak ada hal lain yang ingin saya lakukan kecuali tidur setelahtenda didirikan.
Keesokan harinya di pagi yang begitu cerah dan sejuk di atas gunung sayaterbangun oleh kicauan burung-burung. Pikir saya, “Ah, indahnya pagi ini.” Saya punmulai beranjak dari tenda dan keluar untuk melihat suasana pagi di atas Panderman.Tidak saya sangka betapa indah pagi hari di puncak Panderman ini. Angin sejuk berhembus semilir menerpa wajah saya yang kusut dan lebih dari itu hangatnya sinar mentari pagi seakan-akan memberi semangat baru dalam diri ini. Dalam segalakekaguman itulah saya baru menyadari betapa indahnya semuanya itu. Saya takjubdengan segala keindahan hidup ini.
Sepulang dari pendakian itu, memang kelelahan secara fisik tak lagi dapatdikelabui namun demikian hati ini entah mengapa justru begitu bersemangat, seakan-akan menemukan kekuatan baru untuk menapaki kehidupan. Dalam benak saya, mungkin inilah kekuatan yang Tuhan berikan lewat keindahan kehidupan.
Merenungkan kembali kisah pendakian itu membuka pemahaman saya yanglebih luas akan keindahan. Diam dan hening menjadi yang pertama dalam memahamikeindahan karena dalam keheningan itulah saya justru dipertemukan dengannya.Pertemuan dengan keindahan inilah yang kemudian melahirkan rasa kagum dan terpesona akan segala hal yang saya jumpai. Dalam merasakan itu semua saya kemudian menyadari betapa keindahan itu nampak dalam proses kehidupan ini.Pendek kata, ketika saya mengalami apa itu keindahan sebenarnya saya mengalami pula kehidupan ini. Kehidupan itu indah.

Lebih dari itu, proses kehidupan manusia (mungkin lebih tepat demikian)merupakan pula suatu keindahan, dari kelahiran hingga kematiannya semuanya indah.Hal ini mengingatkan saya akan berbagai syair dalam mazmur yang rupa-rupanyamengenangkan keindahan proses kehidupan manusia ini. Mazmur-mazmur itumengidungkan sekaligus mengisahkan proses kehidupan manusia secara jujur yangmenuturkan segala suka dan duka dalam hidup ini, kecemasan dan harapan didalamnya. Dan, bahwa kemudian semuanya itu dibawa di hadapan Allah Sang Pencipta kehidupan ini.
Keindahan pada akhirnya mengarahkan manusia pada Tuhan. Sebab,melaluinya manusia diajak untuk menyadari bahwa ada kekuatan Tuhan yangmenghidupkan. Untuk itulah maka manusia ketika mengalami keindahan, iasenantiasa bersyukur kepada Tuhan karena kehidupan yang Ia berikan atas dirinya.Itulah yang sungguh menyemangati manusia bahkan di saat sulit sekalipun, sebab dalam hidup senantiasa ada harapan baru. Betapa mulia nama-Mu, ya Tuhan!
Thursday, November 4, 2010 4:36:17 AM
Reflections
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama (Kis 4:32). Nrimo Ing Pandum Nrimo Ing Pandum (menerima apa yang menjadi bagiannya) merupakan salah satu falsafah hidup orang Jawa. Falsafah ini mengandung banyak makna yang sarat akan kearifan orang Jawa sendiri. Namun, Nrimo ing pandum seringkali dimengerti secara kurang tepat hanya sebagai ungkapan pasrah kepada Tuhan akan apa yang menjadi 'bagiannya'. Semisal demikian, kalau hari ini saya mendapat upah Rp. 7000,- syukur kepada Allah, kalau besok saya hanya mendapat Rp. 5000,- syukur kepada Allah, dan seterusnya. Intinya, boleh dikatakan bahwa konsep nrimo ing pandum itu menjadikan seseorang tidak berambisi untuk memperoleh sesuatu hasil yang lebih besar, hal ini dapat dimengerti karena orang Jawa, terutama mereka yang hidupnya sederhana, senantiasa meletakkan setiap usahanya itu di dalam kersaning Gusti Allah. Pengertian tersebut tidak salah tetapi barangkali hanya mengungkapkan sebagian kecil dari arti nrimo ing pandum sendiri. Nrimo ing pandum dalam arti luas dapat dimengerti demikian, mengusahakan segenap daya yang ada, apa yang dapat diusahakan, berkenaan dengan apa yang menjadi hasilnya, biarlah Tuhan yang memberikan, karena hanya Ia-lah sang adil itu. Penekanan di sini bahwa manusia tidak hanya berpasrah dan berpangku tangan ketika ia mengupayakan sesuatu ketika ia bekerja. Karena umumnya pasrah ini, meski merupakan sikap yang baik, dimengerti sebagai tanpa bekerja terlalu keras (ngoyo). Hal inilah yang seringkali pula menimbulkan kecenderungan untuk malas ketika bekerja. Ungkapan nrimo ing pandum ini analog dengan salah satu peribahasa bahasa latin, yakni Homo proponit, sed Deus disponit (Man proposes but God disposes). Peribahasa ini berarti bahwa manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Apa artinya ini? Apa kaitannya dengan konsep nrimo ing pandum? Kiranya yang dimaksud adalah bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia diletakkan/dikaitkan dalam rencana atau penyelenggaran Ilahi Allah. Ketika itu semua diletakkan dalam penyelenggaraan Ilahi, kiranya hasil bukanlah sesuatu yang utama karena sekali lagi Allah-lah yang menentukan itu semua. Melalui perbandingan ini maka pengertian akan nrimo ing pandum ini mendapatkan pengertian yang lebih dalam. Dengannya, manusia tidak lagi terikat dengan apa yang namanya bondo donya, ia tidak lagi lekat akan benda maupun suatu hal. Semuanya itu menjadi mungkin karena Allah sendiri yang menyediakannya bagi manusia. Mungkin ini lah keutamaan kemiskinan dalam budaya Jawa yang diajarkan dalam konsep nrimo ing pandum.Nrimo Ing Pandum Dalam Iman Katolik Dalam Gereja Katolik, mungkin konsep yang sama persis dengan nrimo ing pandum tidak ditemukan. Namun demikian, semangat dari konsep ini ada dalam gereja, dan secara khusus hal itu dapat ditemukan dalam semangat awali gereja perdana dan dalam kehidupan religius.
Disebutkan bahwa umat yang beriman kepada Kristus itu hidup sehati dan sejiwa. Sehati sejiwa. Ini mengandaikan bahwa umat perdana waktu itu hidup dengan rukun dan damai karena antara umat yang satu dengan yang lain saling memahami. Adanya saling memahami di antara mereka memungkinkan atau memunculkan suatu semangat untuk saling berbagi satu sama lain.
Mereka bekerja dan hasil yang mereka peroleh dikumpulkan bersama, baru setelah itu dibagikan secara bersama-sama. Dan, patut dicatat di sini bahwa tidak seorang pun menganggap itu semua sebagai miliknya sendiri. Apakah benar demikian? Kiranya hal ini hendak mengatakan bahwa umat kala itu hidup tanpa merasa terikat akan harta benda. Mereka terikat oleh iman akan Yesus Kristus, dan sekali lagi hal itu nampak dalam kata-kata sebelumnya bahwa mereka hidup sehati dan sejiwa. Inilah semangat kemiskinan awali dari Gereja perdana.
Semangat kemiskinan itu kemudian menjadi keutamaan yang masih tetap langgeng hingga jaman ini. Hal ini nampak nyata dalam kaul yang diucapkan, entah privat atau pun publik, entah agung atau pun sederhana, oleh mereka yang memutuskan untuk hidup membaktikan diri secara khusus demi Kerajaan Allah. Kemiskinan diharapkan mampu membebaskan orang dari keterikatan pada milik dan mendorongnya pada solidaritas dengan orang yang terpaksa hidup melarat . Hal ini tak lepas dari teladan Yesus sendiri sebagaimana tertulis dalam Fil 2:6-7, demikian,
"yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."
Melalui pembahasan singkat di atas kiranya konsep nrimo ing pandum dalam kebudayaan Jawa memiliki semangat yang sama dengan iman katolik terutama sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya. Hal ini di satu sisi mengandaikan bahwa dalam kearifan Jawa ada ruang yang memang memungkinkan nilai-nilai kristiani itu dapat tumbuh dengan subur dan di lain sisi ini merupakan tantangan untuk bagaimana menerapkan iman Kristen itu secara tepat. Akhirnya, usaha untuk menggali kearifan baik dalam budaya lokal maupun dalam Tradisi Kristen sendiri, kiranya mampu semakin membawa umat untuk semakin mengimani kepercayaannya kepada Kristus sekaligus menjadi beradab tanpa lupa akan budaya sendiri yang diwarisi dan dimilikinya.Daftar Pustaka Heuken, A. Ensiklopedi Gereja II. Jakarta: Cipta Loka Caraka. 1992.
Saturday, July 18, 2009 4:26:37 AM
Education
Nasionalisme adalah kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kesatuan (Reksosusilo 2007:50). Menarik, bahwa nasionalisme itu pertama-tama adalah kesadaran, maka dari itu, nasionalisme dimungkinkan untuk dapat ditularkan dan dapat diejawantahkan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu cara penular-annya melalui pendidikan yang mana, dengan proses pembelajarannya, seseorang dimampukan untuk sampai pada kesadaran itu sendiri.
Berdasarkan hal di atas, sejauh mana relasi pendidikan dalam kaitannya de-ngan nasionalisme, terutama dalam membangun kesadaran tersebut. Apakah menularkan nasionalisme mungkin melalui pendidikan? Dan apakah hal itu masih relevan sementara di Indonesia sendiri wajah pendidikan tengah berwarna buram tak karuan?Pertemuan Pendidikan dan Nasionalisme
Dapat dikatakan bahwa pertemuan pendidikan dan nasionalisme terjadi dalam Boedi Oetomo, suatu organisasi yang muncul karena situasi dan kesadaran masa itu. Organisasi bentukan dr. Wahidin bersama kawan-kawan tersebut bertujuan untuk “meringankan beban hidup bangsa Jawa, melalui perkembangan yang harmonis dan kerohanian.” Mereka membantu pendidikan anak pribumi dengan cara mengumpulkan beasiswa untuk mereka.
Organisasi ini sungguh menaruh minat dalam pendidikan. Hal ini nampak dari penuturan Nagazumi, sebagaimana dikutip oleh P. Swantoro demikian, “...; para angotanya selalu terpacu untuk mengejar perkembangan intelektual, menolak kesetiaan membuta yang emosional dan tidak terjerumus pada sikap apatis terhadap hal-hal spiritual.”
Maka tidak mengherankan jika melalui usaha pendidikan mereka, masyarakat terutama Jawa dan Madura mulai mengalami perubahan intelektual terutama dalam mengerti keadaan mereka saat itu sebagaimana dicita-citakan oleh dr. Wahidin yang disampaikan oleh dr. Soetomo demikian, “Orang berubah menjadi lain makhluk, merasa tergerakkan, gemetar seluruh tubuh dan tulangnya, pemandangannya menjadi luas, perasaannya menjadi halus, cita-citanya menjadi elok. Orang merasakan akan kewajibannya yang mahaluhur di dunia ini.”
Meski amat disayangkan bahwa itu tidak sepenuhnya berhasil dicapai.
Selain Boedi Oetomo muncul pulalah Indische Partij yang berhaluan politis dan Sarekat Islam, yang mana kesemua organisasi ini muncul untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan, melalui cara mereka sendiri-sendiri. Kemunculan mereka membuat nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Kesadaran yang demikian itu (nasionalisme) membuat masyarakat mulai berani untuk melakukan gerakan perlawanan meski itu masih benih.
Hal ini nampak dari kemarahan rakyat Indonesia yang marah akan kesemena-menaan Belanda yang ketika hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, menggunakan uang rakyat Indonesia sebagai modalnya. Peristiwa ini kemudian oleh Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) diungkapkan dalam rupa tulisan berjudul “Als ik Nederlands was” (seandainya saya seorang Belanda) yang menyebabkan ia dijebloskan ke penjara. Kemarahan tersebut menengarai suatu kesadaran akan kondisi hidup mereka yang mana hak-haknya telah dirampas dan dipergunakan semena-mena oleh penjajah. Sementara tulisan tadi menengarai bahwa pendidikan telah turut mengambil bagian dalam membentuk kesadaran itu, terutama untuk mengar-tikulasikan ke-kecewaan itu.
Demikianlah pertemuan pendidikan dan nasionalisme yang terjadi di dalam Boedi Oetomo. Bagaimanapun juga organisasi yang lahir demi mengembangkan pendidikan intelektual bagi rakyat ini, meski tidak seratus persen berhasil, telah mengawali suatu babak baru yaitu menanamkan benih nasionalisme, melalui usaha pendidik-an mereka.Pendidikan Indonesia
Sekarang ada baiknya melihat wajah pendidikan di Indonesia saat ini yang tengah buram dirong-rong musuh, bukan penjajah kompeni tapi musuh baru yang saat ini tengah “meduduki” pendidikan. Untuk keperluan itu akan dicoba dilihat dari tiga komponen utama pendidikan, dengan menyoal tentang: Lembaga pendidikan
Sebagai suatu lembaga perlulah memiliki visi dan misi. Lembaga pendidikan pun sama halnya. Adapun permasalahannya adalah bahwa visi tersebut tidak pernah menjadi tindakan. Visi yang demikian tidak akan memberi sumbangsih apapun bagi pendidikan. Contohnya, dalam usaha mendidik subyek didik, kurangnya penterlibatan guru dalam merumuskan kurikulum, membuat guru sendiri tidak mampu menerap-kan atau menyelaraskan dengan visi tersebut, akibatnya jelas visi itu tidak dapat dicapai secara maksimal.
Selain visi dan misi, rupanya bahasa pendidikan di Indonesia adalah bahasa pabrik, yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses, sehingga di sini peran subyek didik tak lebih daripada sekedar hasil ciptaan, sedang lembaga pendidikan di sini tak lebih dari sekedar alat untuk mencetaknya.
Hal ketiga adalah adanya ketidakadlian dalam pendidikan terutama karena pendidikan di indonesia masih berkelaminkan “kaya dan miskin”. Mereka yang kaya secara otomatis mendapatkan ruang dan kesempatan yang lebih jika dibandingkan dengan mereka yang miskin, dan ini sungguh terasa. Sangat memprihatinkan bahwa pendidikan jatuh dalam semangat ini tanpa lagi memedulikan faktor intelek yang di-miliki oleh subyek didik.Guru
Guru sering disebut juga pahlawan tanpa tanda jasa. Yang demikian pantas disandang hanya oleh mereka (para guru) yang memiliki dedikasi terhadap pendidikan, proses-proses pembelajarannya, dan interaksi antar pribadi dengan subyek didik. Di Indonesia ada banyak guru. Masalahnya apakan semuanya berkualitas?
Ini merupakan masalah yang pelik yang tidak mudah untuk dipecahkan. Dapat dikatakan bahwa guru-guru di Indonesia mengalami kondisi yang memprihatinkan. Mendiang Rm. Haryanto, CM membuat anekdot tentang guru, ia mendefinisikan guru bukan sebagai “sing digugu lan ditiru” (diteladan dan ditiru.), melainkan “gubuk usang rawan utang.”
Banyak guru hidup serba kekurangan, mau tak mau ini menimbulkan suatu mentalisme tersendiri, mentalisme memenuhi diri sendiri dan bukannya aktualisasi diri sebagaimana diungkapkan oleh Maslow. Sehingga dalam mengajar pun tidak dapat maksimal atau justru sekenanya saja, lantaran merasa tidak ada gunanya mengajar, meski tidak dapat dikecualikan di sini ada juga guru yang hidup serba berkecukupan tetapi dedikasi untuk pendidikan nol, lantaran terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga situasi demikian sungguh sangat tidak menguntungkan tetapi Indonesia patut bersyukur karena tidak semua guru seperti demikan ada juga yang baik kendati hidup dalam kekurangan mereka inilah pahlawan tanpa tanda jasa.Subyek Didik
Pengaruh globalisasi bagi subyek didik juga tidak dapat diremehkan, terutama dengan kemajuan teknologinya. Kecanggihan teknologi semakin memper-instant kehidupan manusia. Saking instant-nya justru menimbulkan efek negatif, terutama dalam membentuk semangat individualisme karena melupakan unsur proses.
Pengaruhnya pada subyek didik nampak jelas dan ada kaitannya dengan ba-hasa pendidikan bahasa pabrik, yaitu proses menjadi tidak lagi bermakna. Bukan ha-nya proses pribadi akan tetapi juga proses bersama. Alhasil, subyek bisa jadi kehilangan kepekaan sosial, apatis, dan cenderung berjuang untuk diri sendiri.
Melihat persoalan di atas, sungguh amat tidak dimungkinkan semangat nasionalisme dapat tumbuh melalui pendidikan sebagaimana pernah terjadi dalam Boedi Oetomo, karena komponen-komponen utama pendidikan tengah kewalahan melawan musuh-musuh baru itu. Jika demikian jangankan menumbuhkan kesadaran nasionalisme, menanamkan saja tentunya juga amat sulit. Lantas apa yang sekiranya dapat dilakukan? Bukan dengan mengubah sistem pendidikan yang ada secara keseluruhan tetapi pertama-tama adalah dengan menanamkan beberapa kesadaran baru dalam setiap komponen tadi.Beberapa Kesadaran
Kesadaran pertama adalah kesadaran akan adanya musuh bersama. Harus disadari bahwa pendidikan dulu diarahkan untuk melawan penjajahan, dengan cara mela-tih intelektual masyarakat kala itu agar mampu mengartikulasikan segala rasa ketertindasan mereka terhadap penjajah. Dan memang itu efektif, serta kenyataannya pendidikan berhasil untuk menyampaikan kesadaran nasionalisme. Akan tetapi untuk se-karang bangsa Indonesia bukannya lagi melawan penjajah tetapi berbagai persoalan di atas yang saat ini tengah mengakar kuat. Jika hal di atas tidak dianggap musuh yang perlu dilawan maka luka yang besar itu akan tetap menganga dan membusukkan segalanya.
Kesadaran akan adanya musuh bersama ini dapat dimunculkan jika dalam pendidikan secara terus menerus ditumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas serta melibakan komponen masyarakat yang ada, dalam artian membuka kesempatan pendidikan bagi siapapun tanpa membedakan berdasarkan “kelamin kaya ataupun miskin”. Jika ini dapat ditanamkan maka musuh yang ada akan dapat dilawan.
Di samping itu perlu juga peran sejarah di sini, karena segala yang terjadi saat ini bagaimanapun juga bermula di masa lalu. Kesadaran nasionalisme akan dapat tumbuh jika pendidikan memberikan juga kemungkinan-kemungkinan untuk mengakses sejarah sebanyak mungkin sehingga masyarakat dapat melek akan situasi saat ini dengan belajar dari sejarah sebelumnya, sehingga tidak terjatuh dalam hal yang sama kendati berwajah berbeda.
Akhirnya, nasionalisme sekali lagi adalah kesadaran berbangsa dan bernegara dalam satu kesatuan. Kesadaran akan hidup berbangsa dan bernegara memang perlu dibentuk, dan ini adalah suatu proses. Bukan hanya proses individu namun juga pro-ses bersama karena ini menyangkut bangsa. Kesadaran itu perlu agar baik pendidikan maupun nasionalisme dapat tetap berjalan beriringan dan tentunya membawa perubahan sebagaimana pernah tercatat dalam sejarah Indonesia, yang mana bangsa ini berhasil mengalahkan penjajahan, musuh pada waktu itu, bukankah demikian?Daftar PustakaBuku:
Freire, Paulo. Politik Pendidikan. Yogyakarta: READ (Research, Education and Dialogue), 2002.
O’neil, F. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Reksosusilo. Filsafat Wawasan Nusantara. Malang: STFT Widya Sasana, 2007.Website:
http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow%27s_hierarchy_of_needs, diakses tanggal 13 Maret 2009.
http://id.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo, diakses pada tanggal 27 Februari 2009.
http://organisasi.org/organisasi-pergerakan-nasional-budi-utomo-menghadapi-kekuasaan-kolonial- hindia-belanda-tahun-1908, diakses pada tanggal 12 Maret 2009.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/20/08021292/boedi.oetomo.dan.nagazumi, diakses tanggal 27 Februari 2009.
http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=3726, diakses tanggal 29 Februari 2009.
Thursday, March 26, 2009 1:52:49 PM
Eastertide
Dulu ketika aku kecil, perayaan Paskah menjadi suatu perayaan yang amat menyenangkan bagiku. Di paroki, bersama anak-anak Allah yang lainnya aku saling bercanda, kejar-kejaran, main kelereng dan bermain permainan lain yang menyenangkan. Senyum-senyum selalu tersungging di wajah kami, bahkan ada yang tertawa lebar-lebar ketika melihat kekonyolan-kekonyolan yang tejadi.
Semuanya itu menjadi lebih bersemarak ketika mbak Rosa–pembina kami–memukul genta-genta kecil yang dibawanya. Itu pertanda kalau kami harus segera mengunci mulut-mulut manis kami untuk mulai berdoa, sebelum acara mencari telur Paskah dimulai. Tiba-tiba saja...
“He...telulnya cudah kamu cimpan?” tanya kakakku lirih ketika doa dimulai.
“Jangan khawatil kak, ade udah cimpan di tempat yang aman.” Sahutku meyakinkannya.
“Ya udah, nanti jangan lupa bantu aku ya.” Katanya memelas.
“Ok bos!”anggukku.
Doa selesai diucapkan oleh mbak Rosa, kini pesta cari telur dimulai. Kebiasaan di parokiku demikian, masing-masing anak membawa telur paskah dari rumah, dihias semenarik mungkin, lalu setiba di paroki segera menyembunyikannya. Pesta ini dimaksudkan agar kami mencari telur-telur paskah ini selain milik kami pribadi. Siapa yang mendapat paling banyak telur paskah, dialah yang menang.
Bersama dengan kakak, aku segera mencari telur-telur itu. Aku mendapat sepuluh butir telur sedangkan kakak empat belas butir, total ada duapuluh empat butir yang kami temukan. Perolehan itu membuat kakakku menang. Sebagai hadiah, mbak Rosa memberikan sepasang telur Paskah dari batu pualam. Warnanya hitam mengkilat, halus, dan ada ukiran salib Kristus di tengahnya.
Mataku dan mata kakak berbinar-binar melihat hadiah indah ini. Tak henti-hentinya kami memegang hadiah ini. Eh...rasanya ingin terus menatapnya, apalagi menatap ukiran salib Yesus tadi. Rasanya begitu menggembirakan dan damai kalau menatapnya.
“Eh...kak, ade boleh minta satu?”pintaku.
“Boleh, nih...kamu ini saja ya.”katanya sambil memberiku telur itu.
“Ue...makasih kak, tapi nanti kalau ketukar gimana?”tanyaku lagi.
“Iya ya, gimana kalau kita beri gambar di baliknya?”usulnya. Karena tidak ada pilihan lagi, aku pun setuju saja. Kami sepakat menggambar wajah anak yang tersenyum. Kini telur itu seakan-akan menggambarkan diri kami sendiri, bagaimana rukunnya kami sebagai seorang saudara. Sungguh indah dan memang begitu indah, bukan begitu?
Tetapi kenangan-kenangan masa lalu itu rasanya seperti mimpi, yang membuatku muak kalau mengingatnya, aku ingin melupakannya. Pengalaman itu membuatku merasa pedih sekali.
Beberapa saat semenjak itu, ketika bermain-main harta yang terpendam, aku lupa dimana aku memendam kedua telur Paskah itu. Melihat itu kakak menjadi sangat marah, kami bertengkar.
Lama-kelamaan hubunganku dengan kakak memburuk, kami mulai sering bertengkar, kami tidak lagi akur bahkan sampai sekarang. Rasanya hari-hari bagaikan neraka, setiap hari kami selau adu mulut, dan paling parah kami menjadi tidak banyak omong lagi. Hubungan saudara kami seakan-akan putus.
Kalau saja aku tidak memendam telur-telur Paskah itu, mungkin hubunganku dengan kakak bisa jadi berbeda dari sekarang, seandainya aku lebih cermat lagi waktu itu, mungkin kakak tidak akan seperti ini. Seandainya...
Di tengah keputusasaan dan kesedihanku, mau tak mau hidup tetap berlangsung. Kini aku berumur duapuluh empat tahun, sedangkan kakak akan berumur duapuluh lima. Dua minggu lagi ia akan berulang tahun. Dalam hati kecilku, aku ingin meminta maaf padanya, aku tidak betah kalau hidup seperti ini terus. Tetapi lewat apa, lha dianya kalau melihat aku pasti melengos. Aku butuh sesuatu yang dapat aku jadikan hadiah.
Lama aku merenung. Hatiku gundah, namun justru karena itulah, entah mengapa aku berdoa. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini dengan sadar aku berdoa.
“Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sadar bahwa aku ingin agar aku rukun dengan kakakku. Aku mau berdamai dan kembali ceria seperti masa kanak-kanak dulu. Satu yang kumohon, yaitu rahmatMu agar aku mampu menemukan kebahagiaan itu lagi dalam hidupku ini.”ungkapku dalam hati.
Terbesit dalam benakku seketika itu juga gambaran sepasang telur Paskah yang hilang itu. Ya, itu jawabannya. Aku harus mencari dan menemukannya, waktuku hanya dua minggu. Dan inilah kesempatanku. TUHAN TELAH MEMBERI JALAN!
Tanpa pikir panjang lagi aku berlari, menuju lapangan sekolah tempat aku bermain dulu. Meski hari sudah malam aku tetap nekad untuk menemukannya. Aku mencoba mengingat dimana kira-kira aku memendamnya. Merasa tidak menemukan serpihan-serpihan masa lalu, aku pun mulai menggali, menggali, dan menggali.
Di penghujung kesadaranku, aku meneteskan air mataku, pelupukku basah karena penyesalan mendalam, perasaan bersalah menghantamku begitu sangat. Entah mengapa, tiba-tiba dunia ini terasa berputar-putar, suara perlahan lahan lenyap, semua cahaya meredup dan gelap. Tiada apapun kecuali kegelapan. Aku pingsan.
Antara sadar atau tidak ada suara seorang memanggilku, “Des, bangun Des, he...bangun he...” semua yang tampak gelap kini menjadi terang. Aku terangkat dari kegelapan itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mampu melihat. Begitu sadar, aku amat terkejut ketika mendapati kakakku duduk di sampingku, dengan raut wajah cemas.
“Hei bodoh, kamu kenapa malam-malam begini ke sini?”
“Ee...aku mencari telur yang aku hilangkan waktu itu,”jawabku sambil menundukkan kepala karena saking takutnya.
“O, rupanya kamu mencari barang itu, tha. Kenapa kamu mencarinya sekarang? Kenapa tidak diwaktu yang lain? Kenapa malam hari begini? Bodoh amat sich, kamu ini. Coba pikir nanti kalau ada apa-apa dengan kamu bagaimana. Kamu ini anak perempuan semata wayang lho Des, ingat itu!”ucap kakakku dengan nada khawatir.
“Aku hanya ingin telur itu ditemukan, Kak. Aku mau itu jadi hadiah saat kakak ulang tahun nanti. Aku mau kita rukun lagi, tertawa bersama, ngobrol hal-hal yang konyol seperti waktu kita kecil, aku mau ...”
“Cukup! Cukup, aku tahu, jangan kamu lanjutkan. Ak...akupun juga. Des, maafkan aku karena sikapku selama ini. Ma...”
Mendengar itu, air mata kebahagiaan melinang di pipiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, setelah sekian lama kami pun mampu berdamai. Kami menemukan kerukunan kami yang telah lama hilang. Rupanya Tuhan mengabulkan doaku. Ia memberi yang terbaik, Ia begitu baik.
Telur-telur Paskah itu akhirnya tidak kami temukan. Namun kami yakin, mereka tidak menghilang. Mereka telah menetas dan kini hidup dan bangkit dalam diri kami. Telur-telur itu akan tetap tersenyum.
Friday, February 6, 2009 12:20:27 PM
Philosophy
The difficulty, my friends, is not in avoiding death, but in avoiding unrighteousness; for that runs faster than death. Kesulitannya, teman-temanku, bukanlah pada menghindari kematian, tetapi pada menghindari kepalsuan, sebab kepalsuan datang jauh lebih cepat daripada kematian.
Pengantar
Kematian Sokrates adalah sebuah tragedi dalam sejarah perjalanan filsafat. Kematiannya seakan-akan membuka mata banyak orang saat itu, bahwa inilah konsekuensi riskan dari mempertahankan suatu kebenaran yang didapat melalui aktivitas filsafatnya. Akan tetapi, apakah kematian—sebagaimana telah ditempuh oleh Sokrates—dapat sungguh-sungguh dipandang atau sekurang-kurangnya dapat dipahami sebagai suatu tindakan yang tepat yang diambil oleh Sokrates? Dapatkah kematian itu dikatakan baik? Apakah ini juga kebenaran/kebijaksanaan? Di bawah ini akan diuraikan kematian dalam terang Apologia Sokrates, yang mana Sokrates menjadi titik tolak refleksi kematian ini, terutama kematian oleh sebab kebenaran/kebijaksanaan.
Konsep “(Jiwa) yang Baik”
Dalam Apologia, Sokrates, diceritakan mengajukan pembelaannya atas tuduhan-tuduhan para penuduhnya di hadapan para dewan. Dalam usahanya itu, ia memberikan pembelaan yang boleh dikata menjebol kebekuan manusia yang cenderung puas diri dalam kesempitan cara berpikir (dan karenanya juga melukai cita rasa publik bahkan juga citarasa religius elit masyarakat pada waktu itu).
Akibatnya jelas bahwa ia akhirnya dijatuhi hukuman mati. Kematian Sokrates adalah kematian demi kebenaran. Kebenaran di sini tak lain adalah kebijaksanaan, yang dalam konteks Yunani kuno berarti pengetahuan. Bagi Sokrates sendiri, pengetahuan itu berarti adalah pengetahuan akan “yang baik“.
Adapun “yang baik“ itu adalah eudaimonia (Yun.) yang sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan. Yang dimaksud Sokrates ini bukan sekadar kebahagiaan tetapi memiliki arti yang lebih dalam, yaitu sebagai suatu paham eksistensial yang menunjuk pada keadaan objektif, yakni berkembangnya seluruh aspek atau dimensi kemanusiaan seorang individu. Dengan paham ini maka jelaslah bahwa tujuan hidup manusia itu tak lain adalah membuat dirinya atau jiwanya berkembang secara menyeluruh dan sebaik mungkin. Dan “yang baik” itu dalam tataran spiritualitas Sokrates adalah Tuhan sang kesempurnaan kebijaksanaan.
Manusia musti memikirkan “yang baik“ itu, mencarinya, memahaminya, menghayatinya, dan melakukannya. Jika orang memiliki keutamaan ini, tentunya akan melakukan yang baik. Sebagai contoh, apabila orang tahu apa artinya tolong-menolong maka dalam hidupnya tolong-menolong inilah yang hendaknya terjadi atau ditindakkan dalam kehidupan ini. Baginya (Sokrates) ketika orang tahu yang baik itu maka sudah barang tentu dia berlaku baik, oleh karena itu menurut Sokrates kejahatan itu identik dengan ketidaktahuan.
Pemikiran yang sedemikian ini membawa serta konsekuensi-konsekuensi yang sering tidak mengenakkan bagi mereka (misalnya: kesukaran-kesukaran, ketakutan, rasa malu, dsb.), apabila seseorang ingin dengan sungguh-sungguh mencari dan menindakkan “yang baik” tersebut. Orang di sini bertemu dengan yang namanya realitasnya, al. realitas kehadirannya, realitas kehadiran sesamanya, realitas tatanan hidup bersama dengan sesamanya, realitas dunia dimana ia berada, realitas relasinya dengan dunia, realitas Tuhannya dan realitas relasinya dengan Tuhan dalam hidupnya, dan realitas segala sesuatu yang ambil bagian di dalamnya.
Berhadapan dengan segala realitas di atas, belum tentu manusia mampu untuk memahaminya, karena memang tidak mudah. Butuh yang namanya keberanian untuk menghadapi itu semua di samping penggerak lain yaitu “yang baik“. Ini penting! Mengapa? Usaha menggapai kebijaksanaan itu sekali lagi riskan dan bahkan berbahaya.
Refleksi Kematian Sokrates
Sokrates tidak takut akan kematian. Baginya kematian adalah baik. Timbullah suatu permasalahan di sini, mengapa kematian itu baik? Untuk mengawalinya perlulah diketahui terlebih dahulu bahwa ketika Sokrates diadili dan kemudian mengajukan pembelaannya, ia pertama-tama menempatkan dirinya sebagai seorang warga Athena yang baik yang taat pada hukum serta demi ketaatannya kepada Tuhan. Ketaatan-ketaatan inilah yang mendorongnya melakukan pembelaannya—pembelaan yang intinya menyangkal segala tuduhan-tuduhan yang tidak benar dari para penuduhnya.
Sokrates merasa perlu melakukan pembelaan itu karena ia sadar bahwa apa yang telah ia perbuat selama ini (aktivitas pencarian kebijaksanaan) adalah benar, dan ia pun tidak menginginkan orang-orang berada dalam kesesatan hanya karena tuduhan-tuduhan yang ditunjukkan kepadanya. Hasil dari pembelaannya adalah hukuman mati bagi dirinya, sebagaimana diinginkan oleh para penuduhnya daripada dengan keberadaannya, mereka terus dirong-rong karena nyata-nyata kedapati hanya berlagak bijaksana namun tidak sama sekali.
Dengan mengajukan Sokrates dalam persidangan dan mengajukan hukuman mati sebagai hukuman yang layak bagi Sokates karena telah merusak moral kaum muda dan mengajarkan agama baru, para penuduh berangapan Sokrates akan takut atau setidaknya gentar dihadapan mereka. Namun ternyata tidak, malahan ia berkata kepada para penuduhnya, “Aku memandang ini sebagai sebuah bukti bahwa apa yang telah terjadi padaku adalah sesuatu yang baik, dan barang siapa di antara kita yang berpikir bahwa kematian adalah sesuatu yang jahat mereka itu salah.”
Kematian yang dianggapnya baik ini berkaitan dengan pemahamannya akan kematian itu sendiri yang erat kaitannya dengan “yang baik” tadi. Baginya kematian adalah suatu keadaan ketiadaan dan sama sekali tanpa kesadaran, atau sebuah perubahan dan perpindahan jiwa dari dunia ini ke tempat yang lain.
Ini dapat dimengerti demikian. Bagi Sokrates kebijaksanaan tertinggi itu hanyalah milik Tuhan dan bukannya manusia karena milik manusia itu terbatas dan tidak sempurna. Oleh karena itu maka tujuan dari apa yang dicari di dunia ini (kebijaksanaan) adalah Tuhan itu sendiri atau “yang baik” itu. Bahkan hal ini kembali dipertegas dengan pernyataannya bahwa kematian adalah keuntungan. Jelaslah sekarang bahwa seluruh pengembaraan Sokrates memuncak pada hal ini. Maka dari itu kalau memang dihadapkan pada kematian ia berani. Ia beranggapan, kematian demi apa yang telah ia lakukan selama ini, tak lain adalah usahanya juga untuk menggapai “yang baik” itu, atau bahkan jika perlu dapat juga dipandang sebagai pemenuhan pengembaraannya dalam mencari kebijaksanaan sejati.
Melihat ini dapatlah dipahami mengapa kematian itu baik, namun mengapa Sokrates lebih memilih hal ini? Sampailah di sini bahwa memang tidak ada pilihan lain baginya saat itu selain pilihan menjalani hukuman kematian. Perlulah pada poin ini diingat kembali cerita dalam Apologia. Dengan berbagai cara Sokrates menjelaskan bahwa tuduhan-tuduhan para penuduhnya itu salah, namun usahanya pun tetap tidak dapat meyakinkan para dewan waktu itu. Rupanya di sinilah ia melihat bahwa kepalsuan telah begitu merasuk dalam anggota dewan yang sebagian besar membencinya lantaran pernah merasa sakit hati olehnya.
Untuk itulah dia lebih memilih untuk mati. Ia rela menanggung ketidakadilan daripada ia sendiri berbuat yang tidak adil. Kekonsistenannya dengan apa yang dihayatinya ini merupakan sesuatu penegasan kembali pendiriannya. Apabila dia melanggar apa yang ia yakini dan ia wartakan, itu sama halnya bahwa ia menipu dirinya sendiri. Hal ini mau mengatakan suatu yang penting bahwa apabila ia menipu dirinya, berarti selama ini yang dicarinya tak lain adalah kebijaksanaan yang semu, yang akhirnya menempatkan dia sama halnya dengan para penuduhnya.
Kebijaksanaan sejati akan “yang baik” adalah yang dikejar, diusahakan, dan kemudian dihayati oleh Sokrates. Demi mempertahankan dan memperjuangkannya ia rela mati. Ungkapan bahwa kematian ini baik harus dimengerti dalam konteks ini, bahwa kematian adalah usahanya untuk tetap mempertahankan yang baik ini. Oleh karena ini penting maka diungkapkanlah kata-kata sebagaimana menjadi pembuka tulisan ini, agar mereka yang mendengarkannya tidak lagi terjebak dalam kepalsuan, yang mungkin sebenarnya hanya bayangan semu dari yang benar itu, namun saking terpukaunya malahan menganggap hal itu sebagai suatu kebenaran/kebijaksanaan sejati.
Penutup
Kematian atau lebih tepatnya kemartiran Sokrates ini membawa siapa saja yang merenungkannya kepada kesadaran akan pentingnya “yang baik” yang ada dalam kehidupan ini. Sederhana namun sering terhalang oleh pikiran-pikiran sempit yang malah terkadang mengaburkan maknanya, lantaran tidak pernah direfleksikan secara mendalam.
Kepuasan dan kenyamanan dengan hanya memperoleh bayangan semu dari “yang baik” ini bukanlah suatu yang patut diteruskan karena hanya akan membawa hidup ini pada pendangkalan dan bukannya pada perkembangan jiwa yang baik, yakni jiwa yang selalu mengembara, mencari, dan menemukan kebijaksanaan sejati. Inilah kepalsuan yang menurut Sokrates harus dihindari.
Saturday, November 15, 2008 4:05:57 PM
Poem
[/COLOR]
Daun-daun pasti akan berguguran dan mati.
Namun, berkat kematiannnya tanah menjadi subur.
Dengan demikian ia mati untuk hidup.
Saturday, November 8, 2008 2:09:32 PM
Me And The Poor
Ketika aku datang pagi ini, suasana di bawah embong Brantas terasa begitu lengang, atau bahkan amat sepi. Omong demi omong, akhirnya aku tahu bahwa ’si humoris’ itu, atau Mas Ujang rupanya hendak pulang ke Cirebon, untuk bertemu keluarganya.
Sejauh aku mengenal Mas Ujang, tak ada kata lain selain jujur untuk mendeskripsikan dirinya. Mengapa? Tentu ada alasannya. Mas Ujang adalah orang yang apa adanya, baik dalam penampilan maupun tingkah lakunya. Meski tidak banyak bicara, orang senang dengan keberadaannya, karena ia mempedulikan mereka.
Satu hal yang aku ingat dan aku pelajari dari cerita tentang kehidupan masa lampaunya adalah tentang perubahan hidupnya. Mas Ujang bukanlah kaum terpelajar, di jenjang SD ia hanya sempat mengenyam pendidikan samapai kelas dua, itupun juga berhenti di tengah jalan. Keluarganya miskin. Dia pernah menikah, namun rupanya tidak berjalan langgeng. Sang istri meninggalkan dia entah kemana perginya dengan meninggalkan dua orang anak.
Peristiwa ditinggal pergi sang istri tanpa pamit itu rupanya menjadikan hidupnya menjadi sulit. Ia mengalami kelimpungan, depresi, dan stress bahkan mungkin kekecewaan yang tak terungkapkan. Tak tahan akan hal itu, dalam kelimpungannya, ia nekat berjalan tanpa tujuan.
Dari Cirebon, Jawa Barat, akhirnya ia sampai ke Malang, Jawa Timur. Saat itu dikatakan bahwa ia seperti orang yang mengenaskan, baju kotor dan lusuh, rambut acak-acakan, dan tubuh yang begitu kotor dan lemah. Untunglah pada saat itu ada orang baik yang menolongnya dalam kelimpungannya itu, orang itu tak lain adalah Pak Jan. pertolongan yang diberikan oleh Pak Jan itu sederhana, ia hanya memberinya makan, membawanya ke gubuknya, dan ketika perlahan-lahan ia mampu menerima kenyataannya, Pak Jan mulai mengajarinya cara memulung. Dapat dikatakan bahwa sejak saat itu juga antara Pak Jan dan Mas Ujang terjalin persahabatan yang akrab, dan sejak saat itu pulalah kehidupannya berubah.
Bagi Mas Ujang, kedua anak yang ditinggalkan oleh istrinya maupun persahabatan dengan Pak Jan atau bahkan warga kampung sekitarnya kemudian, rupanya menjadi semacam semangat baru, pengharapan baru bagi hidupnya. Pengalaman kelamnya rupanya menyadarkan dirinya bahwa hidupnya berubah, dan sekaligus menyadarkan dia bahwa Tuhan masih mencintainya dengan tetap memberi apa-apa yang baik dalam hidupnya.
Untuk segala hal itulah, dengan semangat baru itu ia akhirnya memutuskan bekerja sebagai pemulung. Usaha yang dilakukannya dengan sepenuh tenaga itu kini membuahkan hasil, sekarang ia menjadi penimbang. Dan tak berhenti pada itu saja, dengan penghasilannya ia masih mampu membiayai sekolah anaknya. Yah itulah Mas Ujang, tak peduli apa kata orang, satu yang penting adalah bahwa ia diubah oleh Kasih Tuhan.
Sebenarnya pengalaman Mas Ujang ini merupakan suatu undangan Tuhan pada semua orang. Undangan untuk berubah atau diubah oleh kasih-Nya yang tak berkesudahan. Dan utuk itulah kemurnian hati untuk mau diubah itu menjadi hal yang perlu. Sobat, inilah salah satu panggilan hidup kita…hidup dalam kasih Allah dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup.
“…life must be understood backwards. But… it must be live forwards.” Soren Kierkegaard
Wednesday, November 5, 2008 5:43:12 AM
Words Of St. Vincent de Paul
“Grace has its moment.”
Vincent de Paul to Bernard Codoing
March 16, 1644
SV II, 372
“As for myself, in spite of my age, I say before God that I do not feel exempt from the obligation of laboring for the salvation of those poor people, for what could hinder me from doing so? If I cannot preach everyday, all right! I will preach twice a week; if I cannot preach more important sermons, I will strive to preach less important ones; and if the people do not hear me, then what is there to prevent me from speaking in a friendly, homely way to those poor folk, as I am now speaking to you, gathering them around me as you are now?”
SV XI, 136
“The earth Possesses his body, the heaven his soul, but his spirit remains with you.”
SV XI, 72
“Love is inventive…even to infinity.”
SV XI, 146
“All good which is done by them comes from God.”
SV I, 182
“But turn you’re medal and you will see by the ligth of faith that the Son Of God, whose wil it was to be poor, is reprensented to us.”
SV XI, 32
“You must empty yourself in order to put on Jesus Christ.”
SV XI, 343
“May God instill in you…a deep love for Our Lord Jesus Christ, who is our father, our mother, and our all.”
SV V, 534
“God’s Spirit is neither violent nor hasty.”
SV II, 276
“There is no better way to assure our eternal happiness than to live and die in the service of the poor within the arms of providence and in real renunciation of ourselves by following Jesus Christ.”
SV III, 392
Tuesday, November 4, 2008 4:11:11 PM
Me And The Poor
We are weak O God
And capable of giving in at the first assault.
By Your pure loving kindness
You have called us;
May your infinite goodness, please,
Now help us persevere
For our part, with your holy grace,
we will try with all our strength
to summon up
all the service and all the faithfulness that you ask of us.
So give us, O God, give us the grace to persevere untill death.
This what I ask of you
Trough the merits of Our Lord Jesus Christ
With confidence that you will remember me
SV IX, 360
Dalam segala kelemahan, aku besryukur boleh menemukan-Mu dalam sampah-sampah para pemulung
Tuesday, November 4, 2008 3:38:15 AM
Martyria
Pengalaman merupakan awal perubahan setiap orang, sejauh itu direfleksikan dan direnungkan. Umumnya, orang banyak berubah karakternya, hidupnya, paradigmanya, dan sebagainya berkat pengalaman yang ia alami—entah itu besar ataupun kecil.
Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa banyak tokoh dunia dan lokal yang terkenal berubah ketika bertemu dengan pengalaman, sebut saja Bunda Teresa, Uskup Oscar Romero, atau Ibu Kartini maupun tokoh yang lain.
Namun sebenarnya bukan mereka saja, tetapi juga kita yang hidup di dunia ini. sadar atau tidak kita senantiasa berubah, dan selalu awal dari perubahan itu adalah pengalaman.
Pengalaman pertama-tama menyentuh hati, karena dengan pengalaman kita semacam melakukan dialog batin dengan diri kita sendiri ketika bertatap dengan pengalaman tadi. Dan demikian hati kitalah yang tergerak. Tergeraknya hati inilah yang membuat hidup seseorang berubah—entah itu menjadi baik atau menjadi jahat—yang jelas dalam perubahan selalu mengharapkan yang terbaik untuk semua.
Bagiku pengalaman itulah awal dari kemartiran setiap orang, bukan lagi menjadi manusia lama melainkan manusia baru dalam Kristus Yesus. Dan bagiku menjadi martir pertama-tama bukan karena perbuatanya melainkan proses yang telah dilakukan sehingga ia menemukan dan tergerak untuk mewartakan
Pengalaman itu adalah CINTA....!!!