Umat Katolik Perintis Di Indonesia
Tuesday, November 4, 2008 3:26:34 AM
Seluruh daerah di atas baik Antakya hingga Seleucia-Ktesifon, akhirnya menjadi daerah kerasulan dan pewartaan Injil, dan pada waktu itu berkembang dinamis di Suriah. Para misionaris Suriah pada saat itu terkenal dengan keyakinan rohani yang murni. Dikatakan murni karena mereka selalu menyebarkan iman mereka itu dengan cara damai yaitu dengan mengunjungi suku bangsa satu dengan lain, tanpa pernah membentuk laskar bersenjata yang selalu di pimpin oleh seorang Amir.
Bertolak dari semua hal di atas, ada baiknya bila kita mengetahui latar belakang berdirinya Gereja Suriah Timur untuk lebih mengetahui kondisi Gereja ini.
Pada abad ke-3, panggung politik dunia ini dikuasai oleh dua negara yaitu, Roma dan Persia Neo-Sassanide. Ketegangan antara kedua negara ini ternyata turut memengaruhi perkembangan Gereja saat itu karena pada saat itu Gereja Suriah ini berada dalam kekuasaan batriq Antakya yang merupakan wilayah Romawi.
Hal ini kian diperuncing oleh kaisar Valerianus yang menetapkan agama kristiani sebagai agama negara, karena hal ini semakin menimbulkan sikap anti kristiani bagi kerajaan Persia. Untuk mengatasi kekhawatiran Gereja, maka diadakan sinode yang hasilnya menetapkan gereja Suriah Timur sebagai Gereja otonom.
Sinode itu mengukuhkan imannya kepada putusan-putusan Konsili Nicea, sehingga sifat kekatolikan mereka tak dapat diragukan. Namun, pada tahun 431 ajaran Nestorius yang menjabat batriq Gereja Konstatinopel, dicap bidaah dalam Konsili Ekumenis III di Efesus. Ajaran Nestorius ini menentang, gelar Bunda Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos), karena menurutnya hal ini akan menimbulkan kesalah pahaman bagi orang yang tidak terdidik, seolah-olah mengandung makna bahwa Maria juga Bunda Allah Tritunggal. Untuk menjawab hal itu maka Gereja menegaskan kesatuan Pribadi Kristus dalam Konsili Khalsedon.
Demi keutuhan iman maka ajaran Nestorius ini ditolak dan ia dipecat dari jabatan keuskupannya. Para imam dan mereka yang terpaksa lari karena memihak ajarannya ternyata diterima baik di Persia. Bahkan Persia menggunakan perselisihan teologis ini untuk memperkuat perselisihan dengan Roma. Awalnya Gereja Suriah Timur ini tidak terpengaruh dengan adanya pertentangan itu namun, karena gereja ini berada di daerah Persia maka mau tak mau akhirnya memaksa mereka untuk membenarkan pendapat Nestorius. Namun, walaupun gereja Suriah timur ini terpaksa membenarkan pendapat Nestorius dan diberi cap Gereja Nestorian, mereka tetap berpegang pada ajaran gereja katholik Roma, dan pada tahun 1533 gereja ini menetapkan kesatuan dengan Gereja Roma. Dari sinilah kemudian ada berbagai usaha untuk mewartakan Injil ke Asia dan salah satunya adalah Indonesia.
Tentang masuknya Gereja Katolik yang lebih awal, belum ditemukan data purbakala yang pasti. Sumber tertua yang mengabarkan adanya umat dan Gereja serani di kepulauan Indonesia memuat berita, bahwa mereka itu sudah banyak jumlahnya. Tentang kapan mulainya dan bagaimana keadaan mereka kemudian tidak diterangkan apa-apa.
Berita masuknya Gereja Katolik ke Indonesia terdapat dalam sebuah buku yang berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is wa’l-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu yang berarti Daftar berita-berita tentang gereja-gereja dan pertapaan-pertapaan dari provinsi-provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya. Buku yang di karang oleh ahli sejarah Shaykh Abu Aalih al-Armini ini memuat berita tentang 707 gereja dan pertapaan Serani yang tersebar di beberapa negara. Berita Pansur yang di bawa oleh Shaykh Abu Salih memberitakan tentang keadaan di Sumatera bahwa di daerah Sumatera banyak terdapat Gereja dan semuanya adalah dari Nazara Nasathirah, dan demikianlah keadaan di situ. Dan dari situ berasallah kapur barus dan bahan itu merecik dari pohon. Dalam kota itu terdapat satu gereja dengan nama: Bunda Perawan Murni Maria.
Adapun minat dari para ahli sejarah Arab Muslim terhadap sejarah agama “Nasara” adalah untuk menyingkap tabir masa lampau dan juga untuk menjalin persahabatan dengan orang Serani terpelajar. Para serani seperti para Imam dan wiharawan Kristiani membuka hubungan dengan para ahli sejarah dengan melakukan pengajaran ilmu, kesenian, filsafat dan sejarah kepada orang Muslimin, dengan begitu para pengarang arab-muslim bersyukur kepada para rohaniwan Kristiani atas bimbingan mengenai ilmu pengetahuan. Dari para ahli yang berminat tersebut seperti Shaykh Abu Salih Al-Armini yang berkerja pada masa pemerintahan ketiga Khulafa Fatimiyah yang terakhir di Mesir yang melakukan usaha untuk mengupas sumber-sumber tertulis yang sudah ada dengan menambahkan hasil penyelidikan yang telah dilakukan sendiri. Abu Salih telah berhasil menemukan fakta dan berita baru; seluruhnya diberitakan olehnya dengan bahan historis mengenai hampir 900 tempat ibadah Kristiani di Afrika dan Asia. Melalui proses pengujian maka berita Pansur oleh Abu Salih dinyatakan lulus.
Kelanjutan berita yang di bawa oleh Abu Salih mengalami penyusutan seiring berkembangnya zaman. Keadaan Gereja yang terdapat di Sumatera sudah berbeda karena sudah masuk agama baru seperti Islam. Seperti yang ditulis oleh J. Dauvilier bahwa “sekaligus membasmi warisan rohani India dan jemaah-jemaah Kristiani, seperti juga di Asia Sentral”, tulisan ini menunjukan bahwa Islam telah masuk di sumatera dan berita terakhir berasal dari Ludovicus de Varthema pada tahun 1506-1508 yang melaporkan bahwa di Sumatera tidak terdapat adanya Gereja Khaldea.
Dengan demikian, kota Barus yang dahulu disebut pancur adalah tempat kediaman umat Kristiani tertua di Indonesia, dan umat di sana bukanlah umat gereja Nestorian melainkan secara sah umat gereja Katholik.















Unregistered user # Tuesday, March 29, 2011 1:15:20 AM