Skip navigation.

A Journey To Inner Life

Reflection

Perubahan...

Ketika aku datang pagi ini, suasana di bawah embong Brantas terasa begitu lengang, atau bahkan amat sepi. Omong demi omong, akhirnya aku tahu bahwa ’si humoris’ itu, atau Mas Ujang rupanya hendak pulang ke Cirebon, untuk bertemu keluarganya.

Sejauh aku mengenal Mas Ujang, tak ada kata lain selain jujur untuk mendeskripsikan dirinya. Mengapa? Tentu ada alasannya. Mas Ujang adalah orang yang apa adanya, baik dalam penampilan maupun tingkah lakunya. Meski tidak banyak bicara, orang senang dengan keberadaannya, karena ia mempedulikan mereka.

Satu hal yang aku ingat dan aku pelajari dari cerita tentang kehidupan masa lampaunya adalah tentang perubahan hidupnya. Mas Ujang bukanlah kaum terpelajar, di jenjang SD ia hanya sempat mengenyam pendidikan samapai kelas dua, itupun juga berhenti di tengah jalan. Keluarganya miskin. Dia pernah menikah, namun rupanya tidak berjalan langgeng. Sang istri meninggalkan dia entah kemana perginya dengan meninggalkan dua orang anak.

Peristiwa ditinggal pergi sang istri tanpa pamit itu rupanya menjadikan hidupnya menjadi sulit. Ia mengalami kelimpungan, depresi, dan stress bahkan mungkin kekecewaan yang tak terungkapkan. Tak tahan akan hal itu, dalam kelimpungannya, ia nekat berjalan tanpa tujuan.

Dari Cirebon, Jawa Barat, akhirnya ia sampai ke Malang, Jawa Timur. Saat itu dikatakan bahwa ia seperti orang yang mengenaskan, baju kotor dan lusuh, rambut acak-acakan, dan tubuh yang begitu kotor dan lemah. Untunglah pada saat itu ada orang baik yang menolongnya dalam kelimpungannya itu, orang itu tak lain adalah Pak Jan. pertolongan yang diberikan oleh Pak Jan itu sederhana, ia hanya memberinya makan, membawanya ke gubuknya, dan ketika perlahan-lahan ia mampu menerima kenyataannya, Pak Jan mulai mengajarinya cara memulung. Dapat dikatakan bahwa sejak saat itu juga antara Pak Jan dan Mas Ujang terjalin persahabatan yang akrab, dan sejak saat itu pulalah kehidupannya berubah.

Bagi Mas Ujang, kedua anak yang ditinggalkan oleh istrinya maupun persahabatan dengan Pak Jan atau bahkan warga kampung sekitarnya kemudian, rupanya menjadi semacam semangat baru, pengharapan baru bagi hidupnya. Pengalaman kelamnya rupanya menyadarkan dirinya bahwa hidupnya berubah, dan sekaligus menyadarkan dia bahwa Tuhan masih mencintainya dengan tetap memberi apa-apa yang baik dalam hidupnya.

Untuk segala hal itulah, dengan semangat baru itu ia akhirnya memutuskan bekerja sebagai pemulung. Usaha yang dilakukannya dengan sepenuh tenaga itu kini membuahkan hasil, sekarang ia menjadi penimbang. Dan tak berhenti pada itu saja, dengan penghasilannya ia masih mampu membiayai sekolah anaknya. Yah itulah Mas Ujang, tak peduli apa kata orang, satu yang penting adalah bahwa ia diubah oleh Kasih Tuhan.

Sebenarnya pengalaman Mas Ujang ini merupakan suatu undangan Tuhan pada semua orang. Undangan untuk berubah atau diubah oleh kasih-Nya yang tak berkesudahan. Dan utuk itulah kemurnian hati untuk mau diubah itu menjadi hal yang perlu. Sobat, inilah salah satu panggilan hidup kita…hidup dalam kasih Allah dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup.

“…life must be understood backwards. But… it must be live forwards.” Soren Kierkegaard

Grace Has Its MomentSehelai daun...?

How to use Quote function:

  1. Select some text
  2. Click on the Quote link

Write a comment

Comment
(BBcode and HTML is turned off for anonymous user comments.)

If you can't read the words, press the small reload icon.


Smilies

Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31