A Journey To Inner Life

Reflection

Moralitas Kematian Sokrates

The difficulty, my friends, is not in avoiding death, but in avoiding unrighteousness; for that runs faster than death. Kesulitannya, teman-temanku, bukanlah pada menghindari kematian, tetapi pada menghindari kepalsuan, sebab kepalsuan datang jauh lebih cepat daripada kematian.

Pengantar

Kematian Sokrates adalah sebuah tragedi dalam sejarah perjalanan filsafat. Kematiannya seakan-akan membuka mata banyak orang saat itu, bahwa inilah konsekuensi riskan dari mempertahankan suatu kebenaran yang didapat melalui aktivitas filsafatnya. Akan tetapi, apakah kematian—sebagaimana telah ditempuh oleh Sokrates—dapat sungguh-sungguh dipandang atau sekurang-kurangnya dapat dipahami sebagai suatu tindakan yang tepat yang diambil oleh Sokrates? Dapatkah kematian itu dikatakan baik? Apakah ini juga kebenaran/kebijaksanaan? Di bawah ini akan diuraikan kematian dalam terang Apologia Sokrates, yang mana Sokrates menjadi titik tolak refleksi kematian ini, terutama kematian oleh sebab kebenaran/kebijaksanaan.

Konsep “(Jiwa) yang Baik”

Dalam Apologia, Sokrates, diceritakan mengajukan pembelaannya atas tuduhan-tuduhan para penuduhnya di hadapan para dewan. Dalam usahanya itu, ia memberikan pembelaan yang boleh dikata menjebol kebekuan manusia yang cenderung puas diri dalam kesempitan cara berpikir (dan karenanya juga melukai cita rasa publik bahkan juga citarasa religius elit masyarakat pada waktu itu).

Akibatnya jelas bahwa ia akhirnya dijatuhi hukuman mati. Kematian Sokrates adalah kematian demi kebenaran. Kebenaran di sini tak lain adalah kebijaksanaan, yang dalam konteks Yunani kuno berarti pengetahuan. Bagi Sokrates sendiri, pengetahuan itu berarti adalah pengetahuan akan “yang baik“.

Adapun “yang baik“ itu adalah eudaimonia (Yun.) yang sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan. Yang dimaksud Sokrates ini bukan sekadar kebahagiaan tetapi memiliki arti yang lebih dalam, yaitu sebagai suatu paham eksistensial yang menunjuk pada keadaan objektif, yakni berkembangnya seluruh aspek atau dimensi kemanusiaan seorang individu. Dengan paham ini maka jelaslah bahwa tujuan hidup manusia itu tak lain adalah membuat dirinya atau jiwanya berkembang secara menyeluruh dan sebaik mungkin. Dan “yang baik” itu dalam tataran spiritualitas Sokrates adalah Tuhan sang kesempurnaan kebijaksanaan.

Manusia musti memikirkan “yang baik“ itu, mencarinya, memahaminya, menghayatinya, dan melakukannya. Jika orang memiliki keutamaan ini, tentunya akan melakukan yang baik. Sebagai contoh, apabila orang tahu apa artinya tolong-menolong maka dalam hidupnya tolong-menolong inilah yang hendaknya terjadi atau ditindakkan dalam kehidupan ini. Baginya (Sokrates) ketika orang tahu yang baik itu maka sudah barang tentu dia berlaku baik, oleh karena itu menurut Sokrates kejahatan itu identik dengan ketidaktahuan.

Pemikiran yang sedemikian ini membawa serta konsekuensi-konsekuensi yang sering tidak mengenakkan bagi mereka (misalnya: kesukaran-kesukaran, ketakutan, rasa malu, dsb.), apabila seseorang ingin dengan sungguh-sungguh mencari dan menindakkan “yang baik” tersebut. Orang di sini bertemu dengan yang namanya realitasnya, al. realitas kehadirannya, realitas kehadiran sesamanya, realitas tatanan hidup bersama dengan sesamanya, realitas dunia dimana ia berada, realitas relasinya dengan dunia, realitas Tuhannya dan realitas relasinya dengan Tuhan dalam hidupnya, dan realitas segala sesuatu yang ambil bagian di dalamnya.

Berhadapan dengan segala realitas di atas, belum tentu manusia mampu untuk memahaminya, karena memang tidak mudah. Butuh yang namanya keberanian untuk menghadapi itu semua di samping penggerak lain yaitu “yang baik“. Ini penting! Mengapa? Usaha menggapai kebijaksanaan itu sekali lagi riskan dan bahkan berbahaya.

Refleksi Kematian Sokrates

Sokrates tidak takut akan kematian. Baginya kematian adalah baik. Timbullah suatu permasalahan di sini, mengapa kematian itu baik? Untuk mengawalinya perlulah diketahui terlebih dahulu bahwa ketika Sokrates diadili dan kemudian mengajukan pembelaannya, ia pertama-tama menempatkan dirinya sebagai seorang warga Athena yang baik yang taat pada hukum serta demi ketaatannya kepada Tuhan. Ketaatan-ketaatan inilah yang mendorongnya melakukan pembelaannya—pembelaan yang intinya menyangkal segala tuduhan-tuduhan yang tidak benar dari para penuduhnya.

Sokrates merasa perlu melakukan pembelaan itu karena ia sadar bahwa apa yang telah ia perbuat selama ini (aktivitas pencarian kebijaksanaan) adalah benar, dan ia pun tidak menginginkan orang-orang berada dalam kesesatan hanya karena tuduhan-tuduhan yang ditunjukkan kepadanya. Hasil dari pembelaannya adalah hukuman mati bagi dirinya, sebagaimana diinginkan oleh para penuduhnya daripada dengan keberadaannya, mereka terus dirong-rong karena nyata-nyata kedapati hanya berlagak bijaksana namun tidak sama sekali.

Dengan mengajukan Sokrates dalam persidangan dan mengajukan hukuman mati sebagai hukuman yang layak bagi Sokates karena telah merusak moral kaum muda dan mengajarkan agama baru, para penuduh berangapan Sokrates akan takut atau setidaknya gentar dihadapan mereka. Namun ternyata tidak, malahan ia berkata kepada para penuduhnya, “Aku memandang ini sebagai sebuah bukti bahwa apa yang telah terjadi padaku adalah sesuatu yang baik, dan barang siapa di antara kita yang berpikir bahwa kematian adalah sesuatu yang jahat mereka itu salah.”

Kematian yang dianggapnya baik ini berkaitan dengan pemahamannya akan kematian itu sendiri yang erat kaitannya dengan “yang baik” tadi. Baginya kematian adalah suatu keadaan ketiadaan dan sama sekali tanpa kesadaran, atau sebuah perubahan dan perpindahan jiwa dari dunia ini ke tempat yang lain.

Ini dapat dimengerti demikian. Bagi Sokrates kebijaksanaan tertinggi itu hanyalah milik Tuhan dan bukannya manusia karena milik manusia itu terbatas dan tidak sempurna. Oleh karena itu maka tujuan dari apa yang dicari di dunia ini (kebijaksanaan) adalah Tuhan itu sendiri atau “yang baik” itu. Bahkan hal ini kembali dipertegas dengan pernyataannya bahwa kematian adalah keuntungan. Jelaslah sekarang bahwa seluruh pengembaraan Sokrates memuncak pada hal ini. Maka dari itu kalau memang dihadapkan pada kematian ia berani. Ia beranggapan, kematian demi apa yang telah ia lakukan selama ini, tak lain adalah usahanya juga untuk menggapai “yang baik” itu, atau bahkan jika perlu dapat juga dipandang sebagai pemenuhan pengembaraannya dalam mencari kebijaksanaan sejati.

Melihat ini dapatlah dipahami mengapa kematian itu baik, namun mengapa Sokrates lebih memilih hal ini? Sampailah di sini bahwa memang tidak ada pilihan lain baginya saat itu selain pilihan menjalani hukuman kematian. Perlulah pada poin ini diingat kembali cerita dalam Apologia. Dengan berbagai cara Sokrates menjelaskan bahwa tuduhan-tuduhan para penuduhnya itu salah, namun usahanya pun tetap tidak dapat meyakinkan para dewan waktu itu. Rupanya di sinilah ia melihat bahwa kepalsuan telah begitu merasuk dalam anggota dewan yang sebagian besar membencinya lantaran pernah merasa sakit hati olehnya.

Untuk itulah dia lebih memilih untuk mati. Ia rela menanggung ketidakadilan daripada ia sendiri berbuat yang tidak adil. Kekonsistenannya dengan apa yang dihayatinya ini merupakan sesuatu penegasan kembali pendiriannya. Apabila dia melanggar apa yang ia yakini dan ia wartakan, itu sama halnya bahwa ia menipu dirinya sendiri. Hal ini mau mengatakan suatu yang penting bahwa apabila ia menipu dirinya, berarti selama ini yang dicarinya tak lain adalah kebijaksanaan yang semu, yang akhirnya menempatkan dia sama halnya dengan para penuduhnya.

Kebijaksanaan sejati akan “yang baik” adalah yang dikejar, diusahakan, dan kemudian dihayati oleh Sokrates. Demi mempertahankan dan memperjuangkannya ia rela mati. Ungkapan bahwa kematian ini baik harus dimengerti dalam konteks ini, bahwa kematian adalah usahanya untuk tetap mempertahankan yang baik ini. Oleh karena ini penting maka diungkapkanlah kata-kata sebagaimana menjadi pembuka tulisan ini, agar mereka yang mendengarkannya tidak lagi terjebak dalam kepalsuan, yang mungkin sebenarnya hanya bayangan semu dari yang benar itu, namun saking terpukaunya malahan menganggap hal itu sebagai suatu kebenaran/kebijaksanaan sejati.

Penutup

Kematian atau lebih tepatnya kemartiran Sokrates ini membawa siapa saja yang merenungkannya kepada kesadaran akan pentingnya “yang baik” yang ada dalam kehidupan ini. Sederhana namun sering terhalang oleh pikiran-pikiran sempit yang malah terkadang mengaburkan maknanya, lantaran tidak pernah direfleksikan secara mendalam.

Kepuasan dan kenyamanan dengan hanya memperoleh bayangan semu dari “yang baik” ini bukanlah suatu yang patut diteruskan karena hanya akan membawa hidup ini pada pendangkalan dan bukannya pada perkembangan jiwa yang baik, yakni jiwa yang selalu mengembara, mencari, dan menemukan kebijaksanaan sejati. Inilah kepalsuan yang menurut Sokrates harus dihindari.

Sehelai daun...?Kisah Sepasang Telur Paskah

Comments

Gregorius Agungaboutgre Wednesday, June 3, 2009 1:51:09 PM

justru yang cacat dipilih Allah untuk mencelikkan mata dunia...!
thx...Dominus vobiscum.lol

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

June 2012
M T W T F S S
May 2012July 2012
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30