Being Humble...?
Monday, 3. November 2008, 10:48:26
Begitu datang, aku disambut dan disuruh masuk ke gubuknya yang ala kadarnya. Ngobrol sambil nyamil ‘Assorted Biscuit’ menjadi sarana kehangatan silaturahmi ini sekaligus juga sebagai sarana untuk lebih mengenal sosok Pak Jan–yang aku kunjungi.
Ada satu hal yang ia katakan, yang bagiku mengesan, “Eee...mumpung badha, Mas, nggor pisan-pisan sa’ tahun (eee... mumpung hari raya, Mas, hanya sekali setahun).” Konteks ucapan ini adalah saat aku bertanya, “Apakah ada juga yang bersilaturahmi ke sini?” rupa-rupanya orang kampung sekitar turut bersilaturahmi ke tempat beliau, baik dewasa maupun anak-anak. Nah di sinilah jawaban tadi muncul, yakni ketika Pak Jan memberi uang sebesar Rp. 2000,00 untuk anak-anak kecil yang datang padanya.
Jumlah Rp. 2000,00 untuk setiap anak adalah jumlah pengeluaran yang besar bagi orang seperti Pak Jan. Omong demi omong, akhirnya aku tahu bahwa setiap harinya sebenarnya beliau hanya mendapat Rp. 20.000,00 untuk hal ini aku tidak habis pikir!
Apa yang membuatku heran adalah pertama-tama karena beliau adalah seorang pemulung yang dilihat dari segi ekonomis kekurangan, bahkan untuk makan sehari pun kurang. Kedua karena beliau secara fisik sudah tua, tidak mungkin lagi bagi beliau untuk setiap harinya mengumpulkan uang dua puluh ribu rupiah, kalaupun bisa itu pun harus berjalan lebih jauh lagi dari area yang biasa beliau lewati.
Di samping itu di Malang, sekarang banyak sekali pemulung (lihat bahkan di kalangan orang kecil pun juga terjadi perebutan nafkah meski tidak terang-terangan terjadi) lantaran dirasa lebih menguntungkan bekerja sebagai pemulung daripada menjadi tukang becak, dsb, ketika lahan pekerjaan bagi mereka yang menganggur (apalagi yang tidak terdidik) tidak lagi tersedia.
Melihat itu semua aku teringat kata-kata St. Vinsensius, demikian, “Orang yang rendah hati lebih menganggap orang lain lebih penting daripada dirinya.” Dan kerendah-hatian inilah yang kutemui pada sosok Pak Jan dan juga inti yang kutemukan dari pengalaman ini.
Bagiku ini semacam memberikan percikan kesadaran baru bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang dengan kesungguhan hatinya lebih mementingkan orang lain daripada dirinya, seperti kata St. Yohanes Peng Inj., “ Biarlah aku menjadi semakin kecil tapi Ia harus semakin besar .”
Mungkin bagi sebagian orang, ini sulit. Mengapa? Menjadi “man for others” —yang rendah hati dan mau mengorbankan dirinya untuk orang lain—tampaknya kurang menjadi sesuatu keutamaan yang menjiwai dan menggerakkan orang, termasuk juga aku—entah sadar atau tidak.
Kalau mau ditilik kembali, sebenarnya perjalanan menjadi rendah hati adalah suatu proses. Namun, tidak bisa hanya dengan kata-kata nasihat seperti di atas, perlu pula yang namanya tindakan karena kalau tidak disertai demikian kata-kata memang akan terasa hampa dan (mungkin) sama sekali tidak membawa kesegaran bagi yang membaca, apalagi menggerakkan.
Di saat yang bersamaan perlu pula dimunculkan suatu sikap dalam diri ini untuk tidak hanya menggantungkan diri pada hal-hal yang di luar diri kita (tindakan dan hanya tindakan) demi hanya untuk memenuhi yang sekedar namanya rasa segar, rasa kebaruan, dan mungkin juga rasa senang yang sifatnya praktis akan tetapi semu dan sama sekali tidak sesuai dengan semangat rendah hati tadi.
Sikap apa? Ya tak lain tak bukan adalah sikap untuk senantiasa sadar dan waspada. Keduanya memang perlu pula dilatih dan juga ditumbuhkan bersamaan. Ini adalah tantangan untuk sekali lagi berani melihat ke dalam diri masing-masing dan memaknai peristiwa-peristiwa yang ada yang telah terjadi selama ini. Orang tidak mungkin bisa menjadi rendah hati dan mengarahkan dirinya untuk orang lain kalau ia masih terbelenggu pada dirinya sendiri, entah itu kesenangannya, fantasi-fantasinya, dsb.
Akhirnya, pengalaman tadi menjadi bekal dalam hidup ini lebih-lebih bagi hidupku. Sebenarnya pengalaman ini mau berkata banyak hal, namun aku sadar aku masih dalam taraf ini yah moga-moga bisa lebih mendalam lagi. Menjadi rendah hati seperti Pak Jan pemulung itu, memang bukan suatu hal yang sekali jadi tetapi itu proses maka salah apabila orang tidak ingin “sakit” dalam berproses, terutama dalam memaknai setiap peristiwa hidup sehari-hari. Beranilah menjadi rendah hati entah itu apa kata orang! Beranilah memaknai peristiwa-peristiwa hidup! BERANILAH MEMULAI ITU SEMUA!















Aljawari # 4. November 2008, 03:35