Keutamaan Kemiskinan dalam Nrimo Ing Pandum
Thursday, November 4, 2010 4:36:17 AM
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama (Kis 4:32).
Nrimo Ing Pandum
Nrimo Ing Pandum (menerima apa yang menjadi bagiannya) merupakan salah satu falsafah hidup orang Jawa. Falsafah ini mengandung banyak makna yang sarat akan kearifan orang Jawa sendiri. Namun, Nrimo ing pandum seringkali dimengerti secara kurang tepat hanya sebagai ungkapan pasrah kepada Tuhan akan apa yang menjadi 'bagiannya'. Semisal demikian, kalau hari ini saya mendapat upah Rp. 7000,- syukur kepada Allah, kalau besok saya hanya mendapat Rp. 5000,- syukur kepada Allah, dan seterusnya. Intinya, boleh dikatakan bahwa konsep nrimo ing pandum itu menjadikan seseorang tidak berambisi untuk memperoleh sesuatu hasil yang lebih besar, hal ini dapat dimengerti karena orang Jawa, terutama mereka yang hidupnya sederhana, senantiasa meletakkan setiap usahanya itu di dalam kersaning Gusti Allah. Pengertian tersebut tidak salah tetapi barangkali hanya mengungkapkan sebagian kecil dari arti nrimo ing pandum sendiri.
Nrimo ing pandum dalam arti luas dapat dimengerti demikian, mengusahakan segenap daya yang ada, apa yang dapat diusahakan, berkenaan dengan apa yang menjadi hasilnya, biarlah Tuhan yang memberikan, karena hanya Ia-lah sang adil itu. Penekanan di sini bahwa manusia tidak hanya berpasrah dan berpangku tangan ketika ia mengupayakan sesuatu ketika ia bekerja. Karena umumnya pasrah ini, meski merupakan sikap yang baik, dimengerti sebagai tanpa bekerja terlalu keras (ngoyo). Hal inilah yang seringkali pula menimbulkan kecenderungan untuk malas ketika bekerja.
Ungkapan nrimo ing pandum ini analog dengan salah satu peribahasa bahasa latin, yakni Homo proponit, sed Deus disponit (Man proposes but God disposes). Peribahasa ini berarti bahwa manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Apa artinya ini? Apa kaitannya dengan konsep nrimo ing pandum? Kiranya yang dimaksud adalah bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia diletakkan/dikaitkan dalam rencana atau penyelenggaran Ilahi Allah. Ketika itu semua diletakkan dalam penyelenggaraan Ilahi, kiranya hasil bukanlah sesuatu yang utama karena sekali lagi Allah-lah yang menentukan itu semua. Melalui perbandingan ini maka pengertian akan nrimo ing pandum ini mendapatkan pengertian yang lebih dalam. Dengannya, manusia tidak lagi terikat dengan apa yang namanya bondo donya, ia tidak lagi lekat akan benda maupun suatu hal. Semuanya itu menjadi mungkin karena Allah sendiri yang menyediakannya bagi manusia. Mungkin ini lah keutamaan kemiskinan dalam budaya Jawa yang diajarkan dalam konsep nrimo ing pandum.
Nrimo Ing Pandum Dalam Iman Katolik
Dalam Gereja Katolik, mungkin konsep yang sama persis dengan nrimo ing pandum tidak ditemukan. Namun demikian, semangat dari konsep ini ada dalam gereja, dan secara khusus hal itu dapat ditemukan dalam semangat awali gereja perdana dan dalam kehidupan religius.
Disebutkan bahwa umat yang beriman kepada Kristus itu hidup sehati dan sejiwa. Sehati sejiwa. Ini mengandaikan bahwa umat perdana waktu itu hidup dengan rukun dan damai karena antara umat yang satu dengan yang lain saling memahami. Adanya saling memahami di antara mereka memungkinkan atau memunculkan suatu semangat untuk saling berbagi satu sama lain.
Mereka bekerja dan hasil yang mereka peroleh dikumpulkan bersama, baru setelah itu dibagikan secara bersama-sama. Dan, patut dicatat di sini bahwa tidak seorang pun menganggap itu semua sebagai miliknya sendiri. Apakah benar demikian? Kiranya hal ini hendak mengatakan bahwa umat kala itu hidup tanpa merasa terikat akan harta benda. Mereka terikat oleh iman akan Yesus Kristus, dan sekali lagi hal itu nampak dalam kata-kata sebelumnya bahwa mereka hidup sehati dan sejiwa. Inilah semangat kemiskinan awali dari Gereja perdana.
Semangat kemiskinan itu kemudian menjadi keutamaan yang masih tetap langgeng hingga jaman ini. Hal ini nampak nyata dalam kaul yang diucapkan, entah privat atau pun publik, entah agung atau pun sederhana, oleh mereka yang memutuskan untuk hidup membaktikan diri secara khusus demi Kerajaan Allah. Kemiskinan diharapkan mampu membebaskan orang dari keterikatan pada milik dan mendorongnya pada solidaritas dengan orang yang terpaksa hidup melarat . Hal ini tak lepas dari teladan Yesus sendiri sebagaimana tertulis dalam Fil 2:6-7, demikian,
"yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."
Melalui pembahasan singkat di atas kiranya konsep nrimo ing pandum dalam kebudayaan Jawa memiliki semangat yang sama dengan iman katolik terutama sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya. Hal ini di satu sisi mengandaikan bahwa dalam kearifan Jawa ada ruang yang memang memungkinkan nilai-nilai kristiani itu dapat tumbuh dengan subur dan di lain sisi ini merupakan tantangan untuk bagaimana menerapkan iman Kristen itu secara tepat. Akhirnya, usaha untuk menggali kearifan baik dalam budaya lokal maupun dalam Tradisi Kristen sendiri, kiranya mampu semakin membawa umat untuk semakin mengimani kepercayaannya kepada Kristus sekaligus menjadi beradab tanpa lupa akan budaya sendiri yang diwarisi dan dimilikinya.
Daftar Pustaka
Heuken, A. Ensiklopedi Gereja II. Jakarta: Cipta Loka Caraka. 1992.














