Aku mau merusaknya, justru dia menyelamatkanku
Wednesday, December 23, 2009 8:28:16 AM
Seorang juru dakwah (penyeru) dari jenis dan arah yang lain merumuskan jalan dan tujuan untuk dirinya sendiri. Akan tetapi jalan dan tujuan itu menghantarkannya pada kehancuran dan kerusakan. Ia melaksanakan semua rencananya, hingga ia sendiri jatuh sebagai korban dari gadis yang mengetahui bagaimana cara menghadapi orang-orang seperti dia.
Alangkah indanya masa lalu! Alangkah kerasnya pula masa lalu! Dua sifat itu menyatu dalam memori seorang laki-laki. Dua sifat yang saling bertolak belakang.
Aku berusaha mengenang masa lalu untuk melihat masa kecilku yang polos. Namun, aku juga berusaha lari dari kenangannya, agar aku tidak melihat penderitaan yang aku alami pada masa remajaku. Karena, tatkala usiaku menginjak 15 tahun, aku mengalami pertarungan yang paling dahsyat; pertarungan antara jalan kebaikan dan jalan keburukan. Tapi, sialnya aku justru memilih jalan keburukan. Maka setan pun memberiku selempang yang paling mahal baginya dan jadilah aku sebagai pengikut setianya. Namun tidak lama kemudianm aku belum puas, aku memberontaknya dan dia (setan) berbalik menjadi pengikutku. Aku mengambil jalan keburukan dan mereguk airnya yang pahit, bahkan lebih pahit daripada empedu. Dan demi Allah, tiada hari bagiku tanpa terlibat dalam aksi penghancuran ikatan norma-norma dan nilai-nilai yang luhur. Sampai akhirnya namaku menjadi simbol kejahatan dan kesesatan.
Suatu ketika, perhatianku tertuju pada soerang gadis yang tinggal satu kampung denganku. Dia seringkali memandangiku dengan tatapan mata yangentah apa artinya. Tetapi bukan tatapan mata cinta dan kasih sayang, kendati aku tidak mengenal arti cinta dan sayang karena ketika itu aku tidak punya hati. Pikiranku selalu dihantui oleh tatapan-tatapan yang sering menghentikan langkahku. Sehingga aku berhasrat untuk menggaet gadis tersebut. Sesaat kemudia aku mengambil sebuah puisi yang kata orang termasuk puisi cinta. Puisi itu aku kirimkan kepadanya melalui pintu rumahnya. Tetapi, aku sama sekali tidak mendapatkan jawaban atau respon apapun darinya.
Setelah kejadian itu aku dikuasai oleh niat jahatku dan aku bertekad untuk menyesatkan gadis tersebut, suka atau tidak suka. Aku pun mulai menulis puisi tanpa menyebutkan namaku. Akhirnya, dia mendengar kabar itu, namun dia tidak mengambil tindakan apapun.
Suatu malam aku pulang kurang lebih pada pukul 04.00 pagi. Aku termasuk orang yang bersembunyi di siang hari dan suka berkeliaran di malam hari. Tiba-tiba di depan rumahku ku temukan sebuah buku tentang dzikir-dzikir Nabi Shalallahu’alaihi wassalam. Mukaku langsung merah. Aku mengumpulkan semua keinginan jahat yang ada di dalam diriku, karena aku tahu bahwa pengirimnya adalah gadis itu. Dia telah menyatakan perang denganku. Ketika itu aku berpiikir untuk menulis puisi tentang kisah cinta antara aku dan dia, lalu aku menyebarkannya di kampung kami. Itu berarti aku akan merusak kehormatannya.
Aku duduk sambil menangkap ide-ide yang dihembuskan oleh setan kepadaku untuk menulis puisi itu. Setelah selesai menuliskannya aku langsung mengirimnya ke rumah gadis itu dengan sebuah ancaman; puisi itu akan aku sebarkan ke[ada seluruh kenalannya. Kurir pengantar puisiku datang kepadaku dengan membawa beberapa butr kurma dan megatakan bahwa hari ini gadis itu berpuasa dan sedang menunggu saat berbuka. “Dia mengirimkan kurma itu kepada Anda sebagai hadiah atas puisi yang anda kiirimkan kepadanya.” ujarnya. “Dan dia juga mengatakan bahwa dia akan berdoa kepada Allah pada saat berbuka puasa agar anda mendapatkan hidayah.” sambungnya.
Aku langsung mengambil kurma itu dan membuangnya ke tanah. Mataku merah menyala dengan penuh rasa kejahatan, dan aku mengancamnya bahwa cepat atau lambat aku akan membalas kelakuannya. Aku tidak akan perah membiarkannya berjalan di jalan kebaikan selama aku hidup. Dan aku pun mulai memburunya ketika dia berangkat ke masjd atau pulang dari masjid. Aku melontarkan kata-kata hinaan dan ejekan kepadanya. Gadis-gadis yang bersamanya pada saat itu hanya tertawa terbahak-bahak. Meskipun demikian, ejekan-ejekan tersebut tidak membuat dirinya terusik. Hari-hari berlalu dan aku merasa bahwa semua upayaku untuk menyesatkan gadis itu telah gagal. Dia masih tetap mengirimkan buku-buku kecil tentang agama kepadaku. Dan setiap hari Senin dan Kamis (saat dia berpuasa), dia tetap mengirimkan kurma kepadaku. Seolah-olah bahasa tubuhnya mengatakan bahwa dia telah berhasil mengalahkan aku. Itulah anggapanku terhadap tindakan-tindakannya.
Beberapa bulan kemudian aku pergi ke luar negeri untuk mencari kebahagiaan dan kesenangan dunia yang tidak kutemukan di negaraku. Aku tinggal di sana sekitar 4 bulan. Selama aku di luar negeri pikiranku selalu dihantui oleh gadis itu. Bagaimana mungkin dia dapat selamat dari semua rencana yang aku buat untuknya? Aku pikir, begitu sampai di nagaraku aku akan langsung memulai perang lagi dengannya dengan pila yang jauh lebih keji dan licik. Aku badkan memutuskan akan membuatnya meninggalkan relijiusitasnya dan beralih mengikuti jalan keburukan. Jadwal kepulanganku tiba. Hari itu adalah hari Kamis, hari saat dia menjalankan ibadah puasanya. Ketika disuguhi kopi dan kurma di dalam pesawat terbang, aku meminum kopi itu dan membuang kurmanya. Karena, kurma adalah simbol orang yang berpuasa dan membuatku teringat pada gadis tersebut.
Pesawat mendarat di bandara kotaku pada pukul 13.00 siang, aku naik taksi menuju rumahku. Setibanya di rumah, aku langsung dikunjungi teman-temanku. Mereka mendapatkan hadiah dariku, dan semuanya adalah hadiah-hadiah yang keji. Namun hadiah yang paling mahal dan paling keji aku berikan sebagai hadiah istimewa kepada gadis tersebut. Aku ingin melihat reaksinya setelah menerima hadiah itu. Aku s egera keluar untuk memburu gadis itu di dekat masjid sebelum shalat Maghrib, aku tahu gadis itu sangat rajin menunaikan shalat di masjid, karena disana ada jam’iyah (kelompok) khusus wanita untuk menghafal Al Qur’an.
Tidak lama sesuadah adzan dikumandangkan, waktu iqamat pun tiba, tetapi aku tidak melihatnya. Aku terheran-heran dan berkata di dalam hati, “Jangan-jangan gadis itu sudah berubah ketika aku pergi ke luar negeri, dan kini dia menjauhi masjid dan benar-benar menanggalkan relijiusitasnya.” Aku pun pulang ke rumah sambil berharap prediksiku itu benar. Dan ketika aku membolak-balik buku-buku di rumahku, tiba-tiba aku menemukan sebuah mushaf (Al Qur’an) yang bertuliskan “Hadiah untuk Anda. Semoga Allah menunjukkan Anda ke jalan-Nya yang lurus. Tertanda …. (nama gadis itu).” Aku langsung menjauhkan mushaf itu dariku dan bertanya kepada pembantuku, “Siapa yang membawa mushaf itu ke sini?” Tapi dia tidak menjawab.
Hari kedua aku keluar rumah. Aku menunggu gadis itu di pintu masjid sambil membawa mushaf yang akan ku serahkan kembali kepadanya. Aku akan katakan juga padanya bahwa aku tidak membutuhkannya, bahkan aku akan menjauhkannya dari mushaf itu dalam waktu dekat. Aku menunggu gadis itu, tapi dia tidak datang. Sampai beberapa hari tetap saja hasilnya nihil. Dan aku tidak pernah meilhatnya. Maka aku pun pergi ke dekat rumahnya dan bertanya kepada anak-anak yang bermain bersama adik-adik gadis itu. “Apakah di fulanah ada?” tanyaku. Mereka malah balik bertanya, “Mengapa Anda bertanya seperti itu? Barangkali Anda bukan warga kampung sini ya?” Aku menjawab, “Ya! Aku warga sini. Tetapi aku membawa surat dari seorang teman untuk gadis itu.” Tadinya aku menginginkan agar mereka (anak-anak tersebut) mengantarkan surat itu kepada sang gadis, tapi mereka mengatakan kepadaku, “Orang yang Anda tanyakan itu sudah dipanggil oleh Allah ketika sedang sujud di masjid, lebih dari dua bulan yang lalu.”
Saat itu juga aku terhenyak, tersentak, aku juga tidak tahu apa yang menimpaku. Aku merasa dunia berputar-putar dan aku hampir jatuh tersungkur. Hatiku tiba-tiba menjadi lunak dan airmataku pun mengalir. Mata yang sekian lama tidak mengenal airmata, tiba-tiba mengucurkan airmata dengan derasnya. Akan tetapi, untuk apa kesedihan ini? Apakah karena kematiannya yang khusnul khatimah, ataukah karena hal lain? Aku tidak bisa konsentrasi dan tidak mengerti apa penyebab dan arti dari kesedihan yang sangat berat itu.
Aku pulang ke rumahku dengan berjalan kaki. Sementara tubuhku limbung, tak tahu arah ke mana akan pergi. Aku lalu duduk sambil mengetuk pintu, sementara kunci pintu ada di dalam sakuku. Aku menjadi lupa dengan segala sesuatu, aku bahkan lupa siapa diriku. Aku terus-menerus terkenang dengan tatapan gadis itu, kemana pun aku pergi. Dan setelah itu, aku benar-benar yakin bahwa tatapan mata gadis itu bukanlah tatapan mata yang keji atau lainnya, melainkan tatapan mata iba dan kasihan kepadaku.
Dia benar-benar ingin menjauhkan aku dari jalan keburukan. Setelah kematiannya itu aku memutuskan untuk meninggalkan keluargaku. Aku benar-benar menjauhkan diri dari keluargaku dan semua orang selama lebih dari satu tahun. Aku tinggal di tempat yang jauh dari kampungku dan keadaanku pun berubah total. Bayangan tentang gadis itu selalu ada di mataku dan tidak pernah meninggalkanku, bahkan didalam kesendirianku. Aku seakan melihatnya ketika ia pergi ke masjid dan ketika pulang ke rumahnya.
Banyak temanku yang berusaha mencari tahu tentang alasanku menjauhi masyarakat, tentang motivasiku dan pilihanku untuk hidup menyendiri. Tetapi aku tidak pernah memberitahu mereka.
Sementara mushaf hadiah dari gadis itu selalu bersamaku. Aku menciuminya dan selalu menangis. Pada saat itu aku segera mengambil air wudhu dan berdiri untuk melaksanakan shalat. Tetapi aku jatuh tersungkur. Setiap kali aku berusaha berdiri, aku selalu jatuh. Seumur hidupku aku tidak pernah melaksanakan shalat. Aku berusaha keras untuk berdiri, hingga Allah berkenan menolongku dan aku mampu mengucapkan nama-Nya. Aku memohon dan menangis kepada Allah agar berkenan mengampuniku dan melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada gadis itu. Gadis itulah yang selalu berusaha memperbaiki aku, sementara aku sendiri berusaha merusaknya. Aku berandai-andai, jika dia belum mati, maka tentulah dia sangat bangga melihatku sudah berniat berjalan di jalan yang lurus ini. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mempu menolak keputusan Allah.
Akhirnya, aku selalu memanjatkan doa tulus untuknya dan memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya. Aku juga berharap, mudah-mudahan aku dapat berjumpa dengannya di tempat yang penuh rahmat-Nya. Dan aku berdoa semoga Allah berkenan membangkitkan aku dan dia bersama hamba-hamba-Nya yang shaleh, amin.
***
(semoga bermanfaat)
Alangkah indanya masa lalu! Alangkah kerasnya pula masa lalu! Dua sifat itu menyatu dalam memori seorang laki-laki. Dua sifat yang saling bertolak belakang.
Aku berusaha mengenang masa lalu untuk melihat masa kecilku yang polos. Namun, aku juga berusaha lari dari kenangannya, agar aku tidak melihat penderitaan yang aku alami pada masa remajaku. Karena, tatkala usiaku menginjak 15 tahun, aku mengalami pertarungan yang paling dahsyat; pertarungan antara jalan kebaikan dan jalan keburukan. Tapi, sialnya aku justru memilih jalan keburukan. Maka setan pun memberiku selempang yang paling mahal baginya dan jadilah aku sebagai pengikut setianya. Namun tidak lama kemudianm aku belum puas, aku memberontaknya dan dia (setan) berbalik menjadi pengikutku. Aku mengambil jalan keburukan dan mereguk airnya yang pahit, bahkan lebih pahit daripada empedu. Dan demi Allah, tiada hari bagiku tanpa terlibat dalam aksi penghancuran ikatan norma-norma dan nilai-nilai yang luhur. Sampai akhirnya namaku menjadi simbol kejahatan dan kesesatan.
Suatu ketika, perhatianku tertuju pada soerang gadis yang tinggal satu kampung denganku. Dia seringkali memandangiku dengan tatapan mata yangentah apa artinya. Tetapi bukan tatapan mata cinta dan kasih sayang, kendati aku tidak mengenal arti cinta dan sayang karena ketika itu aku tidak punya hati. Pikiranku selalu dihantui oleh tatapan-tatapan yang sering menghentikan langkahku. Sehingga aku berhasrat untuk menggaet gadis tersebut. Sesaat kemudia aku mengambil sebuah puisi yang kata orang termasuk puisi cinta. Puisi itu aku kirimkan kepadanya melalui pintu rumahnya. Tetapi, aku sama sekali tidak mendapatkan jawaban atau respon apapun darinya.
Setelah kejadian itu aku dikuasai oleh niat jahatku dan aku bertekad untuk menyesatkan gadis tersebut, suka atau tidak suka. Aku pun mulai menulis puisi tanpa menyebutkan namaku. Akhirnya, dia mendengar kabar itu, namun dia tidak mengambil tindakan apapun.
Suatu malam aku pulang kurang lebih pada pukul 04.00 pagi. Aku termasuk orang yang bersembunyi di siang hari dan suka berkeliaran di malam hari. Tiba-tiba di depan rumahku ku temukan sebuah buku tentang dzikir-dzikir Nabi Shalallahu’alaihi wassalam. Mukaku langsung merah. Aku mengumpulkan semua keinginan jahat yang ada di dalam diriku, karena aku tahu bahwa pengirimnya adalah gadis itu. Dia telah menyatakan perang denganku. Ketika itu aku berpiikir untuk menulis puisi tentang kisah cinta antara aku dan dia, lalu aku menyebarkannya di kampung kami. Itu berarti aku akan merusak kehormatannya.
Aku duduk sambil menangkap ide-ide yang dihembuskan oleh setan kepadaku untuk menulis puisi itu. Setelah selesai menuliskannya aku langsung mengirimnya ke rumah gadis itu dengan sebuah ancaman; puisi itu akan aku sebarkan ke[ada seluruh kenalannya. Kurir pengantar puisiku datang kepadaku dengan membawa beberapa butr kurma dan megatakan bahwa hari ini gadis itu berpuasa dan sedang menunggu saat berbuka. “Dia mengirimkan kurma itu kepada Anda sebagai hadiah atas puisi yang anda kiirimkan kepadanya.” ujarnya. “Dan dia juga mengatakan bahwa dia akan berdoa kepada Allah pada saat berbuka puasa agar anda mendapatkan hidayah.” sambungnya.
Aku langsung mengambil kurma itu dan membuangnya ke tanah. Mataku merah menyala dengan penuh rasa kejahatan, dan aku mengancamnya bahwa cepat atau lambat aku akan membalas kelakuannya. Aku tidak akan perah membiarkannya berjalan di jalan kebaikan selama aku hidup. Dan aku pun mulai memburunya ketika dia berangkat ke masjd atau pulang dari masjid. Aku melontarkan kata-kata hinaan dan ejekan kepadanya. Gadis-gadis yang bersamanya pada saat itu hanya tertawa terbahak-bahak. Meskipun demikian, ejekan-ejekan tersebut tidak membuat dirinya terusik. Hari-hari berlalu dan aku merasa bahwa semua upayaku untuk menyesatkan gadis itu telah gagal. Dia masih tetap mengirimkan buku-buku kecil tentang agama kepadaku. Dan setiap hari Senin dan Kamis (saat dia berpuasa), dia tetap mengirimkan kurma kepadaku. Seolah-olah bahasa tubuhnya mengatakan bahwa dia telah berhasil mengalahkan aku. Itulah anggapanku terhadap tindakan-tindakannya.
Beberapa bulan kemudian aku pergi ke luar negeri untuk mencari kebahagiaan dan kesenangan dunia yang tidak kutemukan di negaraku. Aku tinggal di sana sekitar 4 bulan. Selama aku di luar negeri pikiranku selalu dihantui oleh gadis itu. Bagaimana mungkin dia dapat selamat dari semua rencana yang aku buat untuknya? Aku pikir, begitu sampai di nagaraku aku akan langsung memulai perang lagi dengannya dengan pila yang jauh lebih keji dan licik. Aku badkan memutuskan akan membuatnya meninggalkan relijiusitasnya dan beralih mengikuti jalan keburukan. Jadwal kepulanganku tiba. Hari itu adalah hari Kamis, hari saat dia menjalankan ibadah puasanya. Ketika disuguhi kopi dan kurma di dalam pesawat terbang, aku meminum kopi itu dan membuang kurmanya. Karena, kurma adalah simbol orang yang berpuasa dan membuatku teringat pada gadis tersebut.
Pesawat mendarat di bandara kotaku pada pukul 13.00 siang, aku naik taksi menuju rumahku. Setibanya di rumah, aku langsung dikunjungi teman-temanku. Mereka mendapatkan hadiah dariku, dan semuanya adalah hadiah-hadiah yang keji. Namun hadiah yang paling mahal dan paling keji aku berikan sebagai hadiah istimewa kepada gadis tersebut. Aku ingin melihat reaksinya setelah menerima hadiah itu. Aku s egera keluar untuk memburu gadis itu di dekat masjid sebelum shalat Maghrib, aku tahu gadis itu sangat rajin menunaikan shalat di masjid, karena disana ada jam’iyah (kelompok) khusus wanita untuk menghafal Al Qur’an.
Tidak lama sesuadah adzan dikumandangkan, waktu iqamat pun tiba, tetapi aku tidak melihatnya. Aku terheran-heran dan berkata di dalam hati, “Jangan-jangan gadis itu sudah berubah ketika aku pergi ke luar negeri, dan kini dia menjauhi masjid dan benar-benar menanggalkan relijiusitasnya.” Aku pun pulang ke rumah sambil berharap prediksiku itu benar. Dan ketika aku membolak-balik buku-buku di rumahku, tiba-tiba aku menemukan sebuah mushaf (Al Qur’an) yang bertuliskan “Hadiah untuk Anda. Semoga Allah menunjukkan Anda ke jalan-Nya yang lurus. Tertanda …. (nama gadis itu).” Aku langsung menjauhkan mushaf itu dariku dan bertanya kepada pembantuku, “Siapa yang membawa mushaf itu ke sini?” Tapi dia tidak menjawab.
Hari kedua aku keluar rumah. Aku menunggu gadis itu di pintu masjid sambil membawa mushaf yang akan ku serahkan kembali kepadanya. Aku akan katakan juga padanya bahwa aku tidak membutuhkannya, bahkan aku akan menjauhkannya dari mushaf itu dalam waktu dekat. Aku menunggu gadis itu, tapi dia tidak datang. Sampai beberapa hari tetap saja hasilnya nihil. Dan aku tidak pernah meilhatnya. Maka aku pun pergi ke dekat rumahnya dan bertanya kepada anak-anak yang bermain bersama adik-adik gadis itu. “Apakah di fulanah ada?” tanyaku. Mereka malah balik bertanya, “Mengapa Anda bertanya seperti itu? Barangkali Anda bukan warga kampung sini ya?” Aku menjawab, “Ya! Aku warga sini. Tetapi aku membawa surat dari seorang teman untuk gadis itu.” Tadinya aku menginginkan agar mereka (anak-anak tersebut) mengantarkan surat itu kepada sang gadis, tapi mereka mengatakan kepadaku, “Orang yang Anda tanyakan itu sudah dipanggil oleh Allah ketika sedang sujud di masjid, lebih dari dua bulan yang lalu.”
Saat itu juga aku terhenyak, tersentak, aku juga tidak tahu apa yang menimpaku. Aku merasa dunia berputar-putar dan aku hampir jatuh tersungkur. Hatiku tiba-tiba menjadi lunak dan airmataku pun mengalir. Mata yang sekian lama tidak mengenal airmata, tiba-tiba mengucurkan airmata dengan derasnya. Akan tetapi, untuk apa kesedihan ini? Apakah karena kematiannya yang khusnul khatimah, ataukah karena hal lain? Aku tidak bisa konsentrasi dan tidak mengerti apa penyebab dan arti dari kesedihan yang sangat berat itu.
Aku pulang ke rumahku dengan berjalan kaki. Sementara tubuhku limbung, tak tahu arah ke mana akan pergi. Aku lalu duduk sambil mengetuk pintu, sementara kunci pintu ada di dalam sakuku. Aku menjadi lupa dengan segala sesuatu, aku bahkan lupa siapa diriku. Aku terus-menerus terkenang dengan tatapan gadis itu, kemana pun aku pergi. Dan setelah itu, aku benar-benar yakin bahwa tatapan mata gadis itu bukanlah tatapan mata yang keji atau lainnya, melainkan tatapan mata iba dan kasihan kepadaku.
Dia benar-benar ingin menjauhkan aku dari jalan keburukan. Setelah kematiannya itu aku memutuskan untuk meninggalkan keluargaku. Aku benar-benar menjauhkan diri dari keluargaku dan semua orang selama lebih dari satu tahun. Aku tinggal di tempat yang jauh dari kampungku dan keadaanku pun berubah total. Bayangan tentang gadis itu selalu ada di mataku dan tidak pernah meninggalkanku, bahkan didalam kesendirianku. Aku seakan melihatnya ketika ia pergi ke masjid dan ketika pulang ke rumahnya.
Banyak temanku yang berusaha mencari tahu tentang alasanku menjauhi masyarakat, tentang motivasiku dan pilihanku untuk hidup menyendiri. Tetapi aku tidak pernah memberitahu mereka.
Sementara mushaf hadiah dari gadis itu selalu bersamaku. Aku menciuminya dan selalu menangis. Pada saat itu aku segera mengambil air wudhu dan berdiri untuk melaksanakan shalat. Tetapi aku jatuh tersungkur. Setiap kali aku berusaha berdiri, aku selalu jatuh. Seumur hidupku aku tidak pernah melaksanakan shalat. Aku berusaha keras untuk berdiri, hingga Allah berkenan menolongku dan aku mampu mengucapkan nama-Nya. Aku memohon dan menangis kepada Allah agar berkenan mengampuniku dan melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada gadis itu. Gadis itulah yang selalu berusaha memperbaiki aku, sementara aku sendiri berusaha merusaknya. Aku berandai-andai, jika dia belum mati, maka tentulah dia sangat bangga melihatku sudah berniat berjalan di jalan yang lurus ini. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mempu menolak keputusan Allah.
Akhirnya, aku selalu memanjatkan doa tulus untuknya dan memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya. Aku juga berharap, mudah-mudahan aku dapat berjumpa dengannya di tempat yang penuh rahmat-Nya. Dan aku berdoa semoga Allah berkenan membangkitkan aku dan dia bersama hamba-hamba-Nya yang shaleh, amin.
***
(semoga bermanfaat)
