Sejarah Ciamis
Friday, February 10, 2012 7:06:24 PM
Menurut sejarawan W.J Van der
Meulen, Pusat Asli Daerah
(kerajaan) Galuh, yaitu disekitar
Kawali (Kabupaten Ciamis
sekarang). Selanjutnya W.J Van
der Meulen berpendapat bahwa
kata "galuh", berasal dari kata
"sakaloh" berarti "dari sungai
asalnya", dan dalam lidah
Banyumas menjadi "segaluh".
Dalam Bahasa Sansekerta, kata
"galu" menunjukkan sejenis
permata, dan juga biasa
dipergunakan untuk menyebut
puteri raja (yang sedang
memerintah) dan belum menikah.
Sebagaimana riwayat kota-
kabupaten lain di Jawa Barat,
sumber-sumber yang
menceritakan asal-usul suatu
daerah pada umumnya tergolong
historiografi tradisional yang
mengandung unsur-unsur mitos,
dongeng atau legenda disamping
unsur yang bersifat historis.
Naskah-naskah ini antara lain
Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo
Jawa, Wawacan Sajarah Galuh,
dan juga naskah Sejarah Galuh
bareng Galunggung, Ciung
Wanara, Carita Waruga Guru,
Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini
umumnya ditulis pada abad ke-18
hingga abad ke-19. Adapula
naskah-naskah yang sezaman atau
lebih mendekati zaman Kerajaan
Galuh. Naskah-naskah tersebut,
diantaranya Sanghyang Siksakanda
‘Ng Karesian, ditulis tahun 1518,
ketika Kerajaan Sunda masih ada
dan Carita Parahyangan, ditulis
tahun 1580.
Berdirinya Galuh sebagai kerajaan,
menurut naskah-naskah kelompok
pertama tidak terlepas dari tokoh
Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama.
Dalam laporan yang ditulis Tim
Peneliti Sejarah Galuh (1972),
terdapat berbagai nama kerajaan
sebagai berikut: Kerajaan Galuh
Sindula (menurut sumber lain,
Kerajaan Bojong Galuh) yang
berlokasi di Lakbok dan
beribukota Medang Gili (tahun 78
Masehi?); Kerajaan Galuh
Rahyang berlokasi di Brebes
dengan ibukota Medang
Pangramesan; Galuh Kalangon
berlokasi di Roban beribukota
Medang Pangramesan; Galuh
Lalean berlokasi di Cilacap
beribukota di Medang Kamulan;
Galuh Pataruman berlokasi di
Banjarsari beribukota Banjar
Pataruman; Galuh Kalingga
berlokasi di Bojong beribukota
Karangkamulyan; Galuh Tanduran
berlokasi di Pananjung beribukota
Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di
Tegal beribukota di
Medangkamulyan; Galuh Pakuan
beribukota di Kawali; Pajajaran
berlokasi di Bogor beribukota
Pakuan; Galuh Pataka berlokasi di
Nanggalacah beribukota Pataka;
Kabupaten Galuh Nagara Tengah
berlokasi di Cineam beribukota
Bojonglopang kemudian
Gunungtanjung; Kabupaten Galuh
Imbanagara berlokasi di Barunay
(Pabuaran) beribukota di
Imbanagara dan Kabupaten Galuh
berlokasi di Cibatu beribukota di
Ciamis (sejak tahun 1812).
Untuk penelitian secara historis,
kapan Kerajaan Galuh didirikan,
dapat dilacak dari sumber-sumber
sezaman berupa prasasti. Ada
prasasti yang memuat nama
"Galuh", meskipun nama tanpa
disertai penjelasan tentang lokasi
dan waktunya. Dalam prasasti
berangka tahun 910, Raja Balitung
disebut sebagai "Rakai Galuh".
Dalam Prasasti Siman berangka
tahun 943, disebutkan bahwa
"kadatwan rahyangta I mdang I
bhumi mataram ingwatu galuh".
Kemudian dalam sebuah Piagam
Calcutta disebutkan bahwa para
musuh penyerang Airlangga lari
ke Galuh dan Barat, mereka
dimusnahkan pada tahun 1031
Masehi. Dalam beberapa prasasti
di Jawa Timur dan dalam Kitab
Pararaton (diperkirakan ditulis
pada abad ke-15), disebutkan
sebuah tempat bernama "Hujung
Galuh" yang terletak di tepi
sungai Brantas. Nama Galuh
sebagai ibukota disebut berkali-
kali dalam naskah sebuah prasasti
berangka tahun 732, ditemukan di
halaman Percandian Gunung
Wukir di Dukuh Canggal (dekat
Muntilan sekarang).
Pada bagian carita Parahyangan,
disebutkan bahwa Prabu Maharaja
berkedudukan di Kawali. Setelah
menjadi raja selama tujuh tahun,
pergi ke Jawa terjadilah perang di
Majapahit. Dari sumber lain
diketahui bahwa Prabu Hayam
Wuruk, yang baru naik tahta pada
tahun 1350, meminta Puteri
Prabu Maharaja untuk menjadi
isterinya. Hanya saja, konon, Patih
Gajah Mada menghendaki Puteri
itu menjadi upeti. Raja Sunda
tidak menerima sikap arogan
Majapahit ini dan memilih
berperang hingga gugur dalam
peperangan di Bubat. Puteranya
yang bernama Niskala Wastu
Kancana waktu itu masih kecil.
Oleh karena itu kerajaan dipegang
Hyang Bunisora beberapa waktu
sebelum akhirnya diserahkan
kepada Niskala Wastu Kancana
ketika sudah dewasa. Keterangan
mengenai Niskala Wastu Kancana,
dapat diperjelas dengan bukti
berupa Prasasti Kawali dan
Prasasti Batutulis serta
Kebantenan.
Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke
tangan Senapati dari Mataram.
Invasi Mataram ke Galuh semakin
diperkuat pada masa Sultan
Agung. Penguasa Galuh, Adipati
Panaekan, diangkat menjadi
Wedana Mataram dan cacah
sebanyak 960 orang. Ketika
Mataram merencanakan serangan
terhadap VOC di Batavia pada
tahun 1628, massa Mataram di
Priangan bersilang pendapat.
Rangga Gempol I dari Sumedang
misalnya, menginginkan
pertahanan diperkuat dahulu,
sedangkan Dipati Ukur dari Tatar
Ukur, menginginkan serangan
segera dilakukan. Pertentangan
terjadi juga di Galuh antara
Adipati Panaekan dengan adik
iparnya Dipati Kertabumi, Bupati
di Bojonglopang, anak Prabu
Dimuntur keturunan Geusan Ulun
dari Sumedang. Dalam
perselisihan tersebut Adipati
Panaekan terbunuh tahun 1625.
Ia kemudian diganti puteranya
Mas Dipati Imbanagara yang
berkedudukan di Garatengah
(Cineam sekarang).
Pada masa Dipati Imbanagara,
ibukota Kabupaten Galuh
dipindahkan dari Garatengah
(Cineam) ke Calingcing. Tetapi
tidak lama kemudian dipindahkan
ke Bendanagara (Panyingkiran).
Pada Tahun 1693, Bupati
Sutadinata diangkat VOC sebagai
Bupati Galuh menggantikan
Angganaya. Pada tahun 1706, ia
digantikan pula oleh Kusumadinata
I (1706-1727).
Pada pertengahan abad ke-19,
yaitu pada masa pemerintahan
R.A.A. Kusumadiningrat menjadi
Bupati Galuh, pemerintah kolonial
sedang giat-giatnya melaksanakan
tanam paksa. Rakyat yang ada di
Wilayah Galuh, disamping dipaksa
menanam kopi juga menanam
nila. Untuk meringankan beban
yang harus ditanggung rakyat,
R.A.A. Kusumadiningrat yang
dikenal sebagai "Kangjeng Perbu"
oleh rakyatnya, membangun
saluran air dan dam-dam untuk
mengairi daerah pesawahan. Sejak
Tahun 1853, Kangjeng Perbu
tinggal di kediaman yang dinamai
Keraton Selagangga.
Antara tahun 1859-1877,
dilakukan pembangunan gedung di
ibu kota kabupaten. Disamping itu
perhatiannya terhadap pendidikan
pun sangat besar pula. Kangjeng
Perbu memerintah hingga tahun
1886, dan jabatannya diwariskan
kepada puteranya yaitu Raden
Adipati Aria Kusumasubrata.
Pada tahun 1915, Kabupaten
Galuh dimasukkan ke Keresidenan
Priangan, dan secara resmi
namanya diganti menjadi
Kabupaten Ciamis.
translator











