☆OASE HATI☆

” Innallaha la yanzhuru ilaajsamikum wa la ila shuwarikumwalakin yanzhuru ila qulubikum ””Sesungguhnya Allah tidakmelihat fisik kalian dan rupakalian akan tetapi Allah melihathati kalian ” (HR. Muslim)

Subscribe to RSS feed

Sudahkan Nabi Muhammad Sholallohu'alaihiwasallam menjadi idola?

Saat ini mungkin kebanyakan generasi muda
Islam, dan sebagian orang tua tidak kenal secara
mendalam siapa itu Nabi Muhammad SAW,
apalagi mejadikannya sebagai idola atau pujaan.
Yang mereka idolakan kebanyakan bintang film,
bintang sinetron, penyanyi, atau pemain
sepakbola, bahkan tokoh politik. Padahal
semestinya, idola orang Muslim itu adalah Nabi
Muhammad SAW. Mengapa? Karena hanya
dengan mencontoh kehidupan Rasulullah, kita
akan hidup bahagia di dunia, apalagi di akhirat
nanti, sebagimana yang telah diperoleh para
Sahabat Rasulullah SAW..
Tulisan ini saya tujukan khusus untuk kaum
Muslimin dan Muslimat, sehubungan dengan hari
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada
tanggal 12 Rabiul Awal yang jatuh pada tanggal 26
Februar1 2010. Tetapi bila ada saudara-saudara
kami di luar agama Islam ingin membacanya,
tidak ada salahnya, karena tulisan ini tidak
menyinggung atau merendahkan agama lain.
Malah ada baiknya, untuk menambah
pengetahuna Anda, demi meningkatkan toleransi
kerukunan hidup umat beragama di Indonesia,
dan siapa tahu anda mendapat Hidayah dari Allah
SWT. Amin.
Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad
Nabi Muhammad SAW dilahirkan sekitar 570
Masehi di Makkah. Ayahnya, Abdullah, meninggal
beberapa pekan sebelum kelahirannya. Karena
merupakan kebiasaan bagi seorang bayi yang
baru lahir untuk disusui seorang ibu angkat, pada
awalnya Nabi dipelihara oleh seorang wanita
Badui, Halimah.
Ibunda Nabi, Siti Aminah, meninggal dunia saat
usia Nabi enam tahun dan beliaupun tinggal
dengan kakeknya, Abdul Mutthalib. Hanya dua
tahun kemudian, kakeknya juga meninggal, dan
Nabi pun berada dalam pemeliharaan pamannya,
Abu Thalib, seorang pedagang. Perasaan
kehilangan di usia yang demikian muda
menjadikannya pribadi yang pemikir dan sensitif.
Ia sangat menekankan perlunya mengasihi anak
yatim, wanita, sebagai golongan lemah dalam
masyarakat. Sebagai seorang laki-laki, ia
menggembala domba di padang pasir. Sejak kecil
Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur dan
terpercaya, sehingga mendapat julukan Al Amin.
Maulid Nabi Muhammad SAW.
Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul
Awal Tahun Gajah atau sekitar tahun 570 Masehi,
yang di kalangan umat islam lebih dikenal dengan
Maulid Nabi. Perayaan Maulid Nabi merupakan
tradisi yang berkembang di masyarakat Islam
jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara
substansi, peringatan ini adalah ekspresi
kegembiraan dan penghormatan kepada
Rasulullah Muhammad SAW. Karena Nabi
Muhammad SAW sendiri tidak pernah
merayakan maulid beliau, maka sebagian umat
Islam menganggap perayaan Maulid ini bid ’ah.
Namun demikian, sebagian besar Muslim
Indonesia, merayakan Maulid Nabi setiap tahun,
termasuk Maulid Nabi yang dilaksanakan secara
Nasioanal, yang selalu dihadiri oleh Kepala Negara,
para pejabat tinggi dan duta besar negara-negara
Islam.
Perayaan Maulid Nabi pertama kali diperkenalkan
oleh Abu Said al-Qakburi, seorang Gubernur Irbil,
di Irak pada masa pemerintahan Sultan
Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Ada yang
berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal
dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah
untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi
Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat
juang kaum muslimin.
Di kehidupan masa kini, kita telah mafhum dan
mengenal berbagai macam peringatan hari-hari,
baik itu hari kenegaraan seperti Hari
Kemerdekaan, dll. Peringatan itu untuk
mensyukuri atau merenungan segala nikmat
yang telah dianugerahkan Allah kepada kita yang
sampai detik ini masih dapat kita nikmati. Rasa
syukur dan renungan itu tidak haram, karena
dengan merenungi segala nikmat tersebut, insya-
Allah kita akan menjadi orang yang pandai
bersyukur. Allah berfirman: ”Barangsiapa
bersykur, maka Aku akan menambah nikmat-Ku,
tapi bila kamu ingkar, maka Azab-Ku amat pedih
(QS Ibrahim:7).
Maka, suatu hal yang sangat penting dan utama
dalam peringtan Maulid Nabi Muhammad SAW
ini, adalah hendaknya kita dapat meneladani atau
mencontoh cara hidup beliau, berdasarkan apa
yang diajarkan dan dicontohkan Nabi SAW,
Kekasih Allah SWT. Karena, hanya dengan
mencontoh kehidupan Rasulullah SAW itu, kita
akan menjadi orang yang beruntung,
sebagaimana firman Allah: ”(Yaitu) orang-orang
yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat
dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh
mereka mengerjakan yang ma ’ruf dan melarang
mereka dari mengerjakan yang mungkar dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk
dan membuang dari mereka beban-beban dan
belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka
orang-orang yang beriman kepadanya,
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti
cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya
(Al-Qur ’an), mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Al-A’raa 7:157)
Pribadi Yang Mulia
Nabi Muhham SAW adalah seorang manusia
yang sangat sempurna, yang sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Dia-lah Kekasih Allah. Nama
Nabi Muhammad SAW selalu ”digandengkan”
dengan Nama Allah. Nama Muhammad Saw
sendiri sudah ada sejak Nabi Adam diciptakan.
Allah sendiri memuji akhlak dan budi pekerti Nabi
Muhammad SAW sebagaimana firman-
Nya: ”Sungguh Muhammad memiliki budi pekerti
yang agung! (QS. Al-Qalam: 4).
Jangankan kita, para sahabat saja tak sanggup
melukiskan keindahan akhlak Rasulullah SAW.
Apabila mereka ditanya tentang bagaimana akhlak
Rasulullah SAW, mereka hanya bisa menangis.
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan
tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi SAW.
Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak
Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena
mereka terkenang akan junjungan mereka.
Paling-paling mereka hanya mampu
menceritakan satu peristiwa yang paling indah
dan berkesan dalam interaksi mereka dengan
Nabi terakhir ini.
Ketika Siti Aisyah r.a, istri Nabi SAW ditanya oleh
seorang Badui tentang akhlak Nabi SAW, beliau
hanya menjawab: ”Akhlak Muhammad itu Al-
Qur’an”. Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan
bahwa Nabi SAW itu bagaikan Al-Qur’an berjalan.
Badui itu tidak puas, bagaimana mungkin ia
segera mengetahu akhlak Nabi kalau ia harus
membaca seluruh kandungan Al Qur ’an. Aisyah
akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca
dan menyimak Surat Al-Mu ’minun ayat 1-11,
yaitu: ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang
yang beriman, (yaitu) orang-orang khusuk dalam
shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan
diri dari perbuuatan dan perkataan yang tidak
berguna, dan orang-orang yang menunaikan
zakat, dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka
atau budak yang mereka miliki, maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang selain itu, maka
mereka itulah orang-orang yang melampaui
batas. Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya,
dan orang-orang yang menjaga shalatnya.
Mereka itulah orang-orang yang mewarisi,
mewarisi surga Firadaus. Mereka kekal di
dalamnya ”
Dan ketika didesak pertanyaan tentang kesan
beliau terhadap suaminya, Nabi Muhammad
SAW, Aisyah menjawab, “Ah semua perilakunya
indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita
saat terindah baginya, sebagai seorang isteri.
“ Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan
kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami
sudah bersentuhan, suamiku berkata, ”Ya Aisyah,
izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih
dahulu. ” Apalagi yang dapat lebih
membahagiakan seorang isteri, karena dalam
sejumput episode tersebut terkumpul kasih
sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat
dari seorang suami, yang juga seorang utusan
Allah.
Suatu saat, Nabi Muhammad SAW membuat
khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh
Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya.
Aisyah keluar membuka pintu rumah. Dia terkejut
bukan kepalang melihat suaminya tidur di depan
pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di
sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku
pulang sudah larut malam, aku khawatir
mengganggu tidurmu sehingga aku tidak
mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di
depan pintu. ”
Mari berkaca di diri kita masing-masing.
Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi
SAW mengingatkan, “Berhati-hatilah kamu
terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan
ditanya di hari akhir tentangnya. ” Para sahabat
pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka
dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun
dan mengecam mereka.
Ada seorang sahabat yang mempunyai kesan
yang paling indah ketika sahabat tersebut
terlambat datang ke Majelis SAW. Tempat sudah
penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat
tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang
mau memberinya tempat. Di tengah
kebingungannya, Rasul SAW memanggilnya.
Rasulullah SAW memintanya duduk di dekatnya.
Tidak cukup dengan itu, Rasulullah SAW pun
melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat
tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk.
Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata,
menerima sorban tersebut namun tidak
menjadikannya alas duduk akan tetapi malah
mencium sorban Nabi SAW tersebut.
Begitulah akhlak Rasulullah SAW, sebagai
pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani
bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah
pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil
sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul
Yang Mulia?.
Nabi Muhammad SAW juga terkenal suka
memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab
hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa
sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar,
Rasulullah SAW selalu memujinya. Abu Bakar-
lah yang menemani Rasulullah SAW ketika hijrah.
Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika
Rasulullah SAW sakit. Tentang Umar, Rasulullah
SAW pernah berkata, “Syetan saja takut dengan
Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka
Syetan lewat jalan yang lain. ” Dalam riwayat lain
disebutkan, “Nabi SAW bermimpi meminum
susu. Belum habis satu gelas, Nabi SAW
memberikannya pada Umar yang meminumnya
sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul
apa maksud (ta ’wil) mimpimu itu? Rasulullah
SAW menjawab “ilmu pengetahuan.”Tentang
Utsman, Rasulullah SAW sangat menghargai
Utsman karena itu Usman menikahi dua putri
Nabi SAW hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain
(pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasulullah
SAW bukan saja menjadikannya ia menantu,
tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan
keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah
pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia
merupakan orang munafik.”
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada
seorang rekan yang punya sembilan kelebihan
dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik
berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu
dan melupakan yang sembilan. Ah …ternyata kita
belum suka memuji; kita masih suka mencela.
Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad
SAW Buktinya, dalam Al-Qur ’an Allah memanggil
para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub,
Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi
Muhammad SAW Allah menyapanya dengan
“ Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat
menghormati beliau.
Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW
berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi
Allah akan memanggilku, aku tak ingin di Padang
Mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin
menuntut balas karena perbuatanku pada kalian.
Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku
pada kalian, ucapkanlah !” Para sahabat terdiam,
namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba
bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau
memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau
meluruskan posisiku dengan tongkatmu. Aku tak
tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku
ingin menuntut balas hari ini. ” Para sahabat lain
terpana, tidak menyangka ada yang berani
berkata seperti itu. Umar langsung berdiri dan
siap “membereskan” orang itu. Tapi Rasulullah
SAW melarangnya. Rasulullah SAW menyuruh
Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti
Aisyah yang berada di rumah Nabi SAW
keheranan ketika Nabi Rasulullah SAW meminta
tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang
terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada
sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah
semua yang Rasulullah SAW berikan pada
mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat
itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga
terlihatlah tubuh Rasulullah SAW. Nabi SAW
berkata, “Lakukanlah!” Detik-detik berikutnya
menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi
suatu keanehan. Sahabat tersebut malah
menciumi perut Nabi Rasulullah SAW dan
memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh
maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu
dan merasakan kulitku bersentuhan dengan
tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu
wahai Rasulullah ”. Seketika itu juga terdengar
ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat
tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi SAW itu
tidak mungkin diucapkan kalau Rasulullah SAW
tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat.
Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin
dekat, ia ingin memeluk Rasulullah SAW sebelum
Allah memanggil Rasulullah SAW ke hadirat-Nya.
Nabi Muhammad SAW ketika melaksanakan Haji
Wada ’, di Padang Arafah yang terik, dalam
keadaan sakit, masih menyempatkan diri
berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi SAW
dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil
berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan
ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai
Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti,
apa jawaban kalian ?” Para sahabat terdiam dan
mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi
Rasulullah SAW melanjutkan, “Bukankah telah
kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar,
bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku
karena menahan lapar bersama kalian, bukankah
aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian,
bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu
dari Allah …..?” Untuk semua pertanyaan itu, para
sahabat menjawab, “Benar ya Rasulullah!”
Kemudian, Rasulullah SAW pun mendongakkan
kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah
saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah
saksikanlah!”. Nabi SAW meminta kesaksian Allah
bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya.
Rakhmatan Lil Alamin
Nabi Muhammad SAW sebenarnya bukan untuk
orang Islam saja, atau hanya untuk manusia saja.
Tapi Nabi Muhammad Saw merupakan rakhmat
bagi seluruh alam, artinya bagi seluruh jagat raya
ini, baik bumi, langit dan tata surya serta semua
makhluk yang ada di antara keduanya, seperti
matahari, bulan, bintang, manusia, hewan,
tumbuh-tumbuahan dlsb. Firman Allah
SWT : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu,
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam. ” (Surah Al-Anbiya’:107).
Tanamkanlah cinta sedalamnya kepada Rasulullah
SAW dengan mencontoh akhlak, ibadah dan
sunnah beliau. Bersalawatlah selalu kepada Nabi,
karena bukti orang yang mencintai seseorang,
ialah sering menyebut-nyebut namanya.
Lihatlah betapa cintanya Bilal bin Rabbah kepada
Nabi SAW. Setelah wafatnya Rasulullah SAW,
beliau menolak untuk menjadi muazzin di Mesjid
Nabawi, karena khawatir dirinya tidak dapat
membendung air mata dan rasa rindu
mengenang saat bersama Rasulullah. Beliau
akhirnya hijrah ke Syam untuk berjihad mengikuti
jejak langkah para sahabat Nabi, meninggalkan
Madinah, kota dimana dia selalu bersama orang
yang sangat dikasihinya.
Setelah sekian lama berada di kota Damascus,
Bilal didatangi Rasulullah SAW di dalam mimpi.
Rasul bersabda: “Wahai Bilal, apakah yang
menahanmu? Sudah lama engkau tidak datang
menjengukku?. ” Lalu Bilal pun bergegas
menziarahi Madinah. Di Madinah, Bilal dibujuk
oleh cucunda Nabi, yakni Hassan dan Hussein
untuk mengumandangkan azan. Bilal akhirnya
setuju.
Saat mendengar suara emas Bilal, sayup-sayup di
Madinah terdengar dengan ratapan dan tangisan.
Banyak orang melihat melalui jendela dan keluar
dari rumah menuju ke jalanan. Sambil menahan
rasa rindu kepada Rasulullah SAW, mereka
bertanya, “Apakah Rasulullah SAW telah
dihidupkan kembali?” Ada pula yang berbisik
dengan linangan air mata, “Marhaban ya
Rasulullah, Marhaban ya Rasulullah.”
AllahummaSolli ala Muhammad.
Uswatun Khasanah
Secara fisik, Muhammad merupakan manusia
sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah,
suri tauladan bagi seluruh umat manusia, sesuai
dengan firman-Nya:
“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu
suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi
orang-orang yang mengharapkan menemui Allah
dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-
banyak ” (QS Al Ahzab: 21).
Secara batiniah Rasulullah mempunyai sifat-sifat
yang terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap
manusia tanpa kecuali. Tetapi sayang, tidak
semua manusia menyadari keberadaan unsur
tersebut, apalagi mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga tidak
mengherankan bila banyak orang yang mengaku
umat Nabi Muhammad SAW. umat yang sangat
terpuji, justru banyak melakukan perbuatan
tercela.
Hal ini karena mereka belum dapat menghayati
Muhammad dalam nilai-nilai terpuji, di setiap
aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal
setiap hari mereka selalu mengatakan dalam
shalat: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain
Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
Utusan Allah ”. Kalimat Syahadat tersebut
mempunyai makna yang sangat dalam sekali,
yaitu saksinya seorang yang menyaksikan kepada
siapa dia bersaksi. Secara hakikat, makna simbolis
dari “wa asyhadu an la Muhammad Rasulullah”
adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah
ditempati oleh unsur terpuji yaitu Nur
Muhammad, yang harus diimani dan diikuti
sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur ’an:
”Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu ” QS Ali Imran: 31).
Cinta Rasulullah SAW
Bila kita benar-benar cinta kepada Rasulullah
SAW, tidak cukup hanya dengan pujian dan
salawat saja. Bukti cinta kita kepada Rasulullah
SAW adalah dengan mengamalkan seluruh
hadist-hadistnya. Hadist Nabi ini ada tiga bagian
besar, yaitu 1. Penampilan (termasuk cara
berpakaian dan pelihara jenggot), 2. Cara hidup
sehari hari (mulai bangun tidur sampai tidur
kembali) seperti makan, minum, mandi, buang
air, tidur, ibadah shalat, puasa, pernikahan,
hubungan suami-istri, perdagangan, dlsb), dan 3.
Fikir Rasulullah, bagaimana agar semua umat
Rasulullah SAW masuk surga.
1. Mengamalkan hadist-hadist dan ajaran
Rasulullah SAW.
Banyak sekali hadist-hadist Rasulullah sebagai
kecintaan Rasul kepada umatnya. Tentu bukti
cinta kita adalah dengan mengamalkan hadist-
hadist tersebut. ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah
aku (Nabi), maka Allah akan mencintaimu dan
mengampuni dosa-dosamu ’ (QS Ali Imran:31)
2. Memperbanyak shalawat dan pujian untuk Nabi
SAW
Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Allah dan
para Malaikat bershalawat kepada Nabi . Wahai
orang-orang beriman, bershalawatlah kepadanya
dan ucapkanlah salam .. ‘
3. Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar
Allah berfirman: ”Kalian adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah yang
mungkar, dan kalian beriman kepada Allah ….(QS
Ali Imran:110)
Selama 23 tahun Nabi Muhammad SAW sejak
diangkat sebagai Rasulullah SAW, beliau dan para
sahabat bukan hanya menjalankan ibadah, tapi
berdakwah. Karena dakwah, Islam tersebar ke
seluruh dunia, sehingga sampai ke negara kita
Indonesia. Islam masuk ke Indonesia bukan
karena dibawa oleh burung atau diterbangkan
oleh angin, tapi oleh manusia, juru dakwah.
Indonesia saat ini merupakan ”negara Islam”
terbesar, setidaknya dalam jumlah, karena kalau
dari kualitas, ”ntar dulu”, kata orang Betawi. Islam
tersebar di Indonesia bukan dengan cara
kekerasan atau perang, tapi dengan akhlak yang
indah, yang dibawa oleh para da ’i terdahulu, yang
lebih dikenal sebagai ”pedagang” sehingga orang
dengan sukarela masuk Islam, tanpa disuruh atau
dipaksa.
Tapi saat ini, umat Islam mayoritas di Indonesia,
tapi kehidupan kebanyakan mereka sangat
menyedihkan, jauh dari ajaran agama Islam.
Mesjid tidak terhitung jumlahnya, setiap RW atau
dusun ada satu mesjid bahkan ada beberapa
musholla, tapi umumnya kosong. Yang shalat
paling banyak 1-2 saf saja. Malah banyak mesjid
di kampung yang shalat hanya satu orang, yaitu
muazin saja. Bahkan ada beberapa mesjid
berubah menjadi sangkar kambing, karena sudah
lama tidak ada yang shalat di situ.
Banyak sekali orang Indonesia yang tidak shalat,
terutama anak-anak muda. Mesjid hanya diisi
jamaah yang sudah ”hampir magrib”, yang KTP-
nya sudah ”seumur hidup”. Orang Islam saat ini
tingkah laku dan cara hidupnya, tidak lagi Islami,
baik cara berpakaian, berdandan, berdagang,
acara pernikahan, dlsb. Banyak orang Islam yang
minum khamar, berjudi, korupsi, berzinah, dlsb,
jauh dari akhlah yang dicontohkan Rasulullah
SAW dan para sahabat.
Dakwah Cara Rasulullah
Sekarang banyak ”ustadz” dan alim ulama, yang
bertaraf nasional, memberikan tauziah dan
ceramah dimana-mana, melalui TV, radio atau
langsung melalui tabligh akbar dihadapan ribuan
orang dan jutaan pemirsa, tapi tidak ada orang
non Muslim yang tertarik masuk Islam. Mengapa?
Karena akhlak dan perilaku kebanyakan orang
Islam saat ini tidak beda dengan mereka yang
non Muslim. Disamping itu, dakwah para ustadz
yang ”ngetop” itu, tidak sesuai dengan cara
dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat, yang
tidak meminta upah dan mendatangi ummat.
Mereka menerima bayaran sampai puluhan juta
rupiah sekali tampil, bukan ikhlas karena Allah,
sehingga ”bayan” atau ceramah agama mereka
tidak ada ”ruh”nya, tidak ada kekuatan. Karena
pada hakikatnya yang dapat memberikan hidayah
adalah Allah SWT, bukan karena kepintaran dan
kehebatan ceramah seorang da ’i atau ustadz.
Saat ini dakwah cara Rasulullah SAW sudah mulai
dihidupkan kembali, ada lebih dari 200 negara
termasuk Indonesia, yang mengirim jamaah ke
seluruh dunia. Orang lain menyebutnya jamaah
tabligh, padahal kami sendiri tidak pernah
menamakan diri seperti itu. Mereka datang dari
berbagai negara ke Indonesia, mengajak orang
Islam kembali shalat, yang sudah shalat diajak
kembali ke mesjid.
Mereka mengorbankan diri, harta dan waktunya
di jalan Allah. Tidak ada yang membiayai, bukan
Pemerintah, LSM atau organisasi apapun. Mereka
berdakwah dari satu negeri ke neggeri lain, dari
pulau ke pulau, darai kota ke kota, dari desa ke
desa, dari mesjid ke mesjid dan dari rumah ke
rumah serta dari orang ke orang langsung
bertatapan muka, tanpa bayaan serupiahpun,
malah mereka menggunakan harta dan uang
mereka sendiri. Mereka hanya mengharap ”upah”
dan keredhoan Allah sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah SAW.
Berkat usaha dakwah, saat ini umat Islam
berkembang di seluruh dunia, di Amerika Serikat,
negara-negara Eropa termasuk Inggris, Prancis
dan Italia, Jepang, Korea, temasuk di Israel ada
markas dakwah. Ribuan mesjid sudah berdiri di
negara-negara yang tadinya tidak mengenal Islam
samasekali.
Rasulullah SAW Sangat Mencintai Ummatnya
Rasulullah SAW adalah orang yang sangat cinta
dan peduli dengan umatnya, sehingga
digambarkan Allah SWT: ”Sungguh telah datang
kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian
sendiri. Ia merasakan beratnya penderitaan kalian,
sangat mendambakan (keimanan dan
keselamatan) kalian, dan amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang beriman ’ (QS
At Taubah:128)
Begitu cintanya Rasul terhadap umatnya sehingga
ucapan terakhir beliau sesaat sebelum
menghembuskan nafas terakhir adalah: ”umatti…
umatti … ummatti..’. Annisa,….annisa , annisa dan
As-shalat, …. as-shalat, as shalat…. Karena
Rasulullah SAW telah menyaksikan, bahwa di
akhir zaman, umat Islam semakin banyak
jumlahnya, tapi cuma KTP saja. Tidak
menjalankan perintah-perintah Allah, terutama
shalat, padahal amal yang paling utama setelah
iman kepada Allah, adalah shalat. Apabila shalat
kita baik, maka amal-amal yang lain akan menjadi
baik. Tapi bila shalatnya amburadul, apalagi bila
tidak shalat sama sekali, maka amal-amal yang
lain seperti puasa, zakat, haji dlsb, tidak akan
” diperhitungkan” sama sekali.
Shalat yang paling sempurna (shalat fardhu),
untuk lelaki dewasa adalah WTC (bukan World
Trade Center-tapi waktu, tempat, cara). Waktu
shalat, di awal waktu, beberapa saat setelah azan
dikumandangkan (bukan entar-entar dulu-shalat
Zuhur saat menjelang waktu Ashar misalnya).
Tempatnya di mesjid atau musholla atau dimana
azan dikumandangkan (bukan di rumah atau di
kantor). Caranya berjamaah, bukan shalat sendiri-
sendiri. Rasulullah SAW tidak pernah sekalipun
shalat fardhu di rumah!!! Kalau kita merasa umat
Muhammad SAW, ikutilah cara beliau, maka kita
akan selamat. Pada saat hampir wafaatnya pun,
Rasulullah tetap shalat berjamaah di mesjid.
Karena tak kuat lagi berdiri, beliau terpaksa ”diapit”
oleh dua sahabat, dan yang disuruh menjadi
imam shalat saat itu adalah Abu Bakar Sidieq.
Rasulullah juga sangat mengkhawtirkan kaum
wanita, bukan karena beliau ”gila wanita”
sebagaimana sering difitnah oleh orang-orang
yang tidak menyukai Islam, tapi karena Rasulullah
SWT sudah melihat isi Neraka kebanyakan
wanita, saat beliau Isra ’ Mi’raj.
Mengapa Kita Harus Berdakwah?
Kalau kita hanya mengandalkan amal ibadah saja,
jangankan untuk ditukar dengan surganya Allah,
ditukar dengan nikmat berupa sebelah biji mata
saja, amal ibadah kita tidak cukup. Coba evaluasi
lah amal ibadah kita masing-masing. Sejak kapam
kita mulai shalat, jangan-jangan tidak sama-sekali,
adakah shalat kita yang benar-benar khusuk?
Jangan-jangan semua shalat kita ”busuk”, fisik kita
shalat tapi pikiran melayang entah kemana.
Bagaimana puasa kita?, jangan-jangan puasa
Ramadhanpun tidak, apalagi puasa sunah. Zakat
kita bagaimana?, jangan-jangan tidak pernah
berzakat, hanyan bayar fitrah 2,5 liter beras setiap
tahun padahal kita kaya dan banyak harta. Haji
bagaimana? Apalagi pergi haji dengan uang
haram, hasil korupsi. Apalagi bila ditambah
dengan dosa-dosa kita yang pernah kita perbuat,
maka timbangan amal kita tambah ”jomplang”
lagi, lebih banyak dosa dari pada amalnya.
Bagaimana caranya agar kita dapat ”mengejar”
timbangan amal kita, padahal umur kita sangat
singkat? Camkan baik-baik firman Allah ini ”Hai
orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku
tunjukkan suatu perdagangan yang dapat
menyelamatkan kamu dari Azab yang pedih? ,
(yaitu) kamu beriman kepada Allah, dan Rasul-
Nya dan ber-jihad di jalan Allah dengan harta dan
jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui .Niscaya Allah akan Mengampuni
dosa-dosamu dan Memasukkan kamu ke dalam
Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,
dan memasukkan kamu ke tempat tinggal yang
baik di dalam Surga Adn. Itulah keberuntungan
yang besar ” (QS As Shaff: 10-12):
Allah sendiri telah mendakwahkan siapa Dia, Allah
berfirman ”Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak
ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku,
maka sembahlah Aku dan diri-kanlah shalat untuk
mengingat-Ku ” (QS Thahaa:14)
Untuk memperkenalkan kepada manusia siapa
diri-Nya, maka Allah telah menurunkan para Nabi
dan Rasul, mulai Nabi Adam As sampai Nabi
Muhammad SAW. Nabi-nabi terdahulu sebelum
Nabi Muhammad, hanya berdakwah untuk
kaumnya pada kurun waktu tertentu. Tapi Nabi
Muhammad SAW, adalah Nabi penutup untuk
seluruh alam. Allah tidak akan menurunkan Nabi
lagi.
Saat ini Rasulullah SAW telah tiada, padahal tugas
kenabian beliau tidak berakhir saat beliau wafat,
tapi sampai Hari Kiamat nanti. Para sahabat juga
sudah tidak ada lagi. Maka, tugas kita semua umat
Islam untuk meneruskan usaha kenabian (bukan
menjadi Nabi), yaitu berdakwah, mengajak
berbuat makruf dan mencegah yang mungkar.
Merupakan farddhu a ’in, bukan hanya tugas ustaz
atau alim ulama saja. Tentunya sesuai dengan
kemampuan kita masing-masing, karena ”Allah
tidak akan membebani seseorang, melainkan
sesuai dengan kemapuannya ”(QS Al
Baqarah:286))
Dakwah (mengajak) dan tabligh (menyampaikan)
ini adalah untuk diri kita sendiri untuk
meningkatkan iman kita. Rasulullah pernah
bersaba: ”Apabila kalian ingin ilmu, maka dekat-
dekatlah padaku, tapi bila kalian ingin iman, maka
pergilah jauh dariku ”. Maka tidak heran bila dari
123 ribu sahabat, hanya 10 persen saja yang
meninggal dan dikebumikan di Tanah Arab.
Sebagian besar lainnya meninggal dan dikubur di
seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mereka rela
meninggalkan Rasulullah yang sangat mereka
cintai demi untuk menyebarkan agama Allah,
padahal tiga hari saja tak berjumpa Nabi, mereka
sangat rindu.
Sebagai perumpaman, bagaimana agar kita
disayangi atasan kita? Tentu kita menjalankan
segala tugas dan perintah bos bukan?. Sehingga
apapun yang kita minta termasuk kenaikan gaji,
akan diberikan sang majikan. Bagaimana bila ”Bos”
itu adalah ”Raja dari semua raja”, Allah?. Itulah
yang telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah
SAW, sehingga Allah Ridho kepada mereka dan
mereka ridho kepada Allah. Adakah anugerah dan
kebahagiaan yang melebihi daripada keridhoan
Allah? Tidak ada!
Sekarang terserah kita mau menfaatkan
kesempatan yang Allah berikan atau tidak.
Mumpung kita masih ada umur dan kesempatan.
Tidak ada paksaan dalam agama. Selanjutnya
terserah anda.

Dalam Keterbatasan kita

Bismillah...
Manusia mencapai kedewasaan, bukan hanya
dengan melenggang mudah dalam hidup ini.

Yang terjadi, kedewasaan adalah buah dari susah
dan gembira, cemas dan harap, benci dan rindu,
tangis dan senyum, serta tiada dan ada.

Aku yakin, kematangan itu akan terbentuk jika di
tengah kesibukan kita, kita pun harus melakukan
hal baik di saat yang sama. Akan lebih baik jika
ada saja hal manfaat yang tercipta buat orang
lain.

kita sudah menyiapkan Ramadhan terbaik,
dengan mengkhususkan diri pada bulan tersebut
dengan sejuta aktivitas ibadah "biasa" ; shoum,
tarawih, tilawah, qiyamul lail, dll. Dan ternyata,
Allah memberi kepercayaan yang mahal pada
kita. Maka, Ramadhan yang lebih terbaik
mungkin, jika dalam kesibukan kita yang luar
biasa itu, aktivitas biasa itu pun masih bisa
dilakukan.

Kita adalah manusia yang tidak tahu diri, selalu
saja dalam genangan dosa. Dan ternyata masih
sangat banyak teman, saudara dan manusia
sekeliling kita yang membutuhkan sentuhan kita.

Maka, manusia terbaik adalah yang bisa berbagi
hikmah, memberikan sumbangsih samar kecil
lentera kehidupan bagi lingkungan.

Kita adalah seorang anak yang tidak akan pernah
bisa membalas budi orang tua, terutama ibu. Dan
sampai sekarang pun, hanya ungkapan
"seandainya aku bisa lebih berbakti...".

Maka, anak
terbaik mungkin yang tetap selalu berusaha keras
membangunkan jembatan surga untuknya,
bahkan jika mungkin dengan semua amal
hidupnya.

Kita adalah sahabat bagi teman-teman kita, tapi
tetap saja kita tak bisa sebenar-benarnya berbagi
dengannya dalam cemas sedihnya. Dan kita
hanya selalu memberikan selamat atas
kesuksesannya.

Maka, sahabat sebenarnya
mungkin yang lebih memilih menjadi tumpuan
gundah, daripada hiasan senyuman.

karena..., bukankah ujian sebenarnya itu adalah
kemauan berinfak oleh orang yang sedang tidak
berpunya? Dan bukan mendapatkan sebanyak-
banyak nya harta, untuk kemudian
menginfakkanya sebanyak-banyaknya.

Jika kemudian diri kita letih, maka yakinlah...
bahwa kita tetap akan berlalu darinya.
biarkan aku berbagi yang sebenarnya...,
dalam cemas, bukan dalam bahagiamu

IYYAKA NA’BUDU….,

Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Akbar Ibnu Arabi
dalam kitabnya Al Futuhat Al Makkiyah. Berikut
petikannya:
Seorang ustadz bercerita bahwa ia memiliki
seorang murid kecil yang terbiasa membaca Al
Quran kepadanya. Suatu hari, ia melihat wajah
muridnya sayu. Ia pun bertanya tentang kondisi
murid itu kepada teman-temannya. Ada yang
menjawab bahwa anak itu telah shalat malam
dengan mengkhatamkan seluruh Al Quran.
Ia lalu bertanya kepadanya, “Wahai anakku, saya
diberitahu bahwa kamu semalam
mengkhatamkan seluruh Al Quran dalam
shalatmu.”
“Benar, ustadz.” jawab murid itu.
“Wahai anakku, nanti malam, bayangkanlah
wajahku di depanmu sewaktu kamu shalat lalu
bacalah Al Quran di hadapanku dan jangan kamu
lalai.”
“Ya, ustadz.”
Ketika pagi hari, ia bertanya, “Apakah kamu sudah
melakukan apa yang aku pesankan?”
“Sudah, ustadz.”
“Apakah kamu mengkhatamkan Al Quran?”
“Tidak, aku tak mampu menyelesaikan lebih dari
separo Al Quran.”
“Wahai anakku, itu cukup baik. Nanti malam,
hadirkanlah bayangan wajah salah seorang
sahabat Rasulullah, mereka adalah orang-orang
yang telah mendengarkan Al Quran langsung dari
Rasulullah, lalu bacalah di depannya dan hati-hati
jangan sampai salah.”
“Insyaallah, ustadz. Saya akan lakukan.” jawab
sang murid.
Keesokan harinya, ia bertanya lagi, “Apakah kamu
sudah melakukan apa yang aku pesankan?”
Murid itu menjawab, “Saya tak mampu
membaca lebih dari seperempat Al Quran.”
“Baiklah, nanti malam kamu bayangkan wajah
Rasulullah yang telah menerima wahyu Al Quran
itu dan sadarlah di depan siapa kamu sedang
membaca.”
“Baik, ustadz.”
Keesokan harinya, ketika guru bertanya, murid itu
menjawab,
“Aku tak mampu membaca lebih dari satu juz
saja atau sekitar itu.”
“Wahai anakku, nanti malam kamu bayangkan
wajah Jibril yang telah mendiktekan Al Quran
kepada Rasulullah, bacalah di depannya dan
sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”
“Baik, ustadz.”
Keesokan harinya, ketika ia bertanya, murid itu
menjawab,
“Saya tidak mampu membaca lebih dari beberapa
ayat saja.” sambil menyebutkan ayat-ayat Al
Quran yang ia baca.
“Wahai anakku, malam nanti bertaubatlah kepada
Allah dan menunduklah. Ketahuilah bahwa orang
yang sedang shalat itu adalah orang yang sedang
berduaan dengan tuhannya. Renungkanlah apa
yang kamu baca. Yang terpenting bukanlah
memperbanyak bacaan, tapi tadabbur
(menghayati) ayat-ayat yang kamu baca. Maka,
jangan sampai kamu lalai.”
Keesokan harinya, sang guru tidak menemui
murid itu. Ada yang mengatakan bahwa ia
sedang sakit. Lalu ia menjenguknya.
Ketika melihat wajah ustadznya, murid itu
menangis sambil berkata,
“Wahai ustadz, semoga Allah membalas anda
dengan kebaikan. Aku belum pernah menyadari
bahwa aku telah berbohong kecuali semalam tadi.
Semalam aku telah membayangkan wajah Allah
dalam shalatku, lalu aku pun merasa berat ketika
membaca Al Quran di depan-Nya, aku tidak bisa
menyelesaikan surat Al Fatihah kecuali hanya
sampai Maliki Yaumiddin saja. Ketika aku hendak
membaca Iyyaka na’budu, aku malu. Aku merasa
telah berdusta di hadapan Allah. Aku mengaku
hanya menyembah-Nya saja, tapi kenyataannya
aku masih lalai dalam menyembah-Nya. Aku
tidak bisa ruku’ sampai terbit fajar. Aku takut
menghadap Allah dalam keadaan yang tidak aku
sukai ini.”
Tiga hari kemudian, murid tersebut meninggal
dunia. Ketika dimakamkan, sang ustadz
mengunjungi kuburannya lalu bertanya tentang
keadaannya di sana. Tiba-tiba ia mendengar suara
pemuda itu dari bawah kuburan, “Wahai Ustadz,
saya hidup di sisi Sang Maha Hidup. Dia tidak
menghisabku sedikit pun.”
Kemudian ustadz itu pulang ke rumahnya dalam
keadaan sakit, ia terbaring di atas ranjang akibat
melihat kejadian itu. Tak lama kemudian, ia pun
meninggal dunia menyusul pemuda tersebut.
Syaikh Ibnu Arabi berkata, “Barangsiapa
membaca iyyaka na’budu seperti bacaan pemuda
itu, ia telah benar-benar membacanya.”
(Sumber: Al Futuhan Al Makkiyah: Safar 6 hal. 297
cet. Sorbon; 2/6-7 Maktabah Syamilah)
Saudaraku, sudah berapa kali kita shalat?
Pernahkah kita merasakan apa yang dirasakan
oleh pemuda tadi? Sungguh, seandainya setiap
orang yang shalat menghayati ayat-ayat yang
sedang ia baca, niscaya shalat itu akan menjadi
energi luar biasa yang akan merubah dirinya.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu
mencegah perbuatan keji dan mungkar.”
Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang
shalat sedang berduaan dengan Tuhannya.”
Wallahu a’lam bis showab.
Semoga bermanfaat

WANITA SHOLEHAH

Wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan
dunia, mengalahkan tumpukan Emas, intan dan
permata serta perhiasan dunia apapun. hanya
wanita shalihlah yang mampu melahirkan
generasi rabbani yang selalu siap memikul risalah
Islamiyah menuju puncak kejayaan
Shalihah atau tidaknya seorang wanita
bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah.
Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan
saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga
bagi remaja putri. mulialah wanita shalihah. Di
dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya
dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika
ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di
surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan
Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini
adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan
adalah wanita shalihah”.(HR.Muslim).
Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt.
memberikan gambaran wanita shalihah sebagai
wanita yang senantiasa mampu menjaga
pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan
Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air
wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah.
Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-
Quran.
Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas
kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya
seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-
jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan
kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur
katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang
penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul
bahwa kemuliaannya bersumber dari
kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya,
senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya
tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang
dijumpainya diberikan senyuman manis.
Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas
dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.
Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul.
Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus
bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari
orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada
Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan
bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu
menjaga akhlaknya.
Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah
kemampuannya memelihara rasamalu. Dengan
adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak
tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat
sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-
Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin
kurang iman seseorang, makin kurang rasa
malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin
buruk kualitas akhlaknya.
Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita
yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-
rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris
yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga
kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi
orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah
yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan
bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan
pemiliknya sendiri.
Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya,
wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa
dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah
bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan
merasa minder dengan keterbatasannya.
Pribadinya begitu indah sehingga make upapa
pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya
kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa
make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan
tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-
orang di sekitarnya.
Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka
belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-
orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari
mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri
Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan
kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau
bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-
anak.
Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah
penentram batin, pendukung setia, dan penguat
semangat suami dalam berjuang di jalan Allah
Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan
dirinya demi membela perjuangan Rasulullah.
Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah,
hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh
Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah
meninggal.
Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab
keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan
tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu
yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak.
Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah
ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah
proses. Di sini, faktor keturunan memainkan
peran. Begitu pun dengan pola pendidikan,
lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang
tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu
yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses.
Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau
tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya
pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut
berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang
sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak
akan rugi jika seorang remaja putri menjaga
sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan
jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah
dengan orang-orang yang akan menambah
kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah
ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal
pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman
disekelilingnya. ”
Peran wanita shalihah sangat besar dalam
keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar
bahwa di belakang seorang pemimpin yang
sukses ada seorang wanita yang sangat hebat.
Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di
dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang
akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan
sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung
dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius.
Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika
tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah
pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan
tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali
puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita
tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang
kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi
tiang yang kuat, kaum wanita harus terus
berusaha menjadi wanita shalihah dengan
mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan
terus berusaha menjaga kehormatan diri dan
keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona
wanita shalihah akan melekat pada diri kaum
wanita.
Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri
shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara
akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah
bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah,
sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk)
meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah
ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara
separuh lainnya. ” (HR Thabrani dan Hakim).

MENEPIS SIFAT SOMBONG

SOMBONG, takabbur, atau merasa diri besar adalah masalah yang sangat serius. Kita harus berhati-hati dengan persoalan ini. Sebab kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah selamanya. Hadirnya rasa takabbur sangat halus sekali. Banyak orang telah merasa tawadhu (rendah hati) padahal dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap takabburnya. Tentang sikap takabbur ini Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu. (HR Muslim). Allah benar-benar mengharamkan surga untuk dimasuki orang-orang takabbur. Takabbur hanya layak bagi Allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Sedang seluruh makhluk hanya sekadar menerima kemurahan dari-Nya.

Penyakit takabbur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun.

Perhatikan penampilan orang takabbur! Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukkan gambaran orang yang benar-benar buruk perangainya.

Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang bisa disombongkan. Atau kalau Allah mau, dia bisa terlahir dengan kemampuan otak yang minim. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah suku pedalaman di hutan belantara, maka pada saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan untuk makan malam. Apa lagi yang bisa disombongkan?

Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pada kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim). Jika dalam hati kita ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya ada, itu pertanda kita telah masuk dalam deretan orang-orang sombong.

Sebagian orang ada yang merasa dirinya paling mulia, baik, salih, dekat pada Allah, dikabul doanya, berkah urusannya, dan lainnya. Ketika ada kebaikan lalu kita laporkan padanya, dia berkata: Oh, siapa dulu dong yang mendoakannya? Dan ketika kita datang padanya dengan keluhan berupa musibah, dia berkata: Ah, itu sih tidak aneh, saya pernah mengalaminya lebih parah dari itu.

Ini adalah gambaran kesombongan. Orang merasa diri lebih dekat pada Allah, lalu memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan. Perilaku seperti ini jika diteruskan akan merugikan pelakunya. Hakikatnya, semua kebaikan dan keburukan terjadi karena izin Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi (atas takdir) Allah. (QS An Nisaa 4:78). Kita tidak berdaya membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tidak menghen daki hal itu terjadi. Sekalipun berupa doa atau puasa, tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita punya kuasa atas kebaikan dan keburukan. Wallahu alam***

------------------------

TERUNTUK SAHABATKU

Penulis:
Ummu
Habibah
Muroja ’ah:
Ustadz Abu Salman
Assalamualaikum warohmatullohi
wabarokatuh
Wahai sahabatku bagaimanakah kabarmu
hari ini? Apakah engkau sudah
mempersaksikan di hadapan seluruh
makhluk dan malaikat yang menjunjung
‘Arsy yang agung dan malaikat seluruhnya
bahwa engkau seorang muslim?
Mempersaksikan bahwa Dia lah Robb yang
agung, yang paling pedih azabnya
sekaligus paling luas rahmatnya, sebagai
Dzat yang satu-satunya berhak diberikan
seluruh kecintaan, rasa takut dan harap
dengan ketundukan dan penyerahan diri
yang sempurna?
Sahabatku, sudahkah engkau bertekad hari
ini untuk mengerjakan sunnah Rosululloh
dengan benar dan ikhlas di atas syariat
yang haq, yang tidak dinodai kebatilan
syahwat dan syubhat yakni dengan cara
mengikuti metode pemahaman dan
pengamalan islam yang dilakukan oleh
sahabat yang mustaqiim?
Sahabatmu menulis risalah ini saat hatinya
sedang terbang melihat sahabatnya yang
mencintai agama Allah … menginginkan
kebaikan pada dirinya dan orang-orang
yang disayanginya …
Sahabatmu menulis risalah ini
mengharapkan agar sekiranya risalah ini
menjadi batu perbaikan untuk meraih
metode pemahaman dan pengamalan
islam yang lurus dan meraih jalan
kebaikan …
Sahabatmu menulis risalah ini dengan niat
-yang semoga Alloh meluruskannya- yang
menginginkan kebaikan bagi engkau wahai
sahabatku …
Sahabatmu menulis risalah ini dengan
harapan semoga melapangkan dada,
menjernihkan akal dan bisa diterima oleh
hati …
Sahabatmu menulis risalah ini agar ilmu
menjadi bersinar dan tersebar … dan
menjadi pembuka menuju jalan ke jannah-
Nya …
Sahabatmu menulis risalah ini dan sangat
mengharapkan persatuan kata dalam satu
shaf yang sama, bersama-sama menapaki
atsar Rosullulloh dan sahabatnya dan
meraih beribu-ribu keindahan iman yang
dicapai tholabul ‘ilmi…
Sahabatmu menulis risalah ini dan dia
yakin dengan pasti dan tanpa ragu
didalamnya ada kesalahan dan
kekurangan … karenanya dia memohon
ampun kepada Alloh dan memohon maaf
kepadamu sahabatku …
Tausiyah Untukku dan Untukmu
Sahabatku, bacalah apa yang Allah
firmankan padamu …
“Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang
tidak mengetahui ?” (Az-Zumar: 9)
“Allah meninggikan orang-orang yang
beriman diantara kalian dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. ” (Al-Mujadillah: 11)
“Sesungguhnya orang yang takut kepada
Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah
orang-orang yang berilmu. ” (Fathir: 28)
Sahabatku, ingatlah pesan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu…
“Barangsiapa yang Allah menghendaki
suatu kebaikan pada dirinya maka Dia
memberinya pemahaman dalam masalah
dien. ” (HR. Bukhori Muslim)
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-
Nya, penghuni langit dan bumi termasuk
pula semut di dalam liangnya, termasuk
pula ikan paus, benar-benar bersholawat
kepada orang yang mengajarkan kebaikan
pada manusia. ” (HR. Tirmidzi)
“Kelebihan orang yang berilmu atas ahli
ibadah ialah seperti kelebihan rembulan
pada malam purnama atas seluruh bintang
gemintang. Sesungguhnya orang-orang
yang berilmu itu adalah para pewaris para
nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar
dan dirham, tetapi mewariskan ilmu.
Barang siapa mengambil ilmu itu, berarti
dia telah mengambil bagian yang
banyak. ” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
“Sesungguhnya para malaikat benar-benar
mengepakkan sayap-sayapnya pada
orang-orang yang mencari ilmu, karena
ridho terhadap apa yang dicarinya. ” (HR.
Imam Ahmad dan Ibnu Majah)
“Barang siapa meniti suatu jalan untuk
menuntut ilmu maka Allah memudahkan
jalan baginya ke surga. ” (HR. Muslim)
“Barangsiapa yang didatangi kematian pada
saat dia sedang mencari ilmu, yang
dengan ilmu itu dia hendak menghidupkan
islam, maka antara dirinya dan para nabi
hanya ada satu derajat di surga. ” (HR. Ath-
Thabrani)
Ketahuilah sahabatku… hukum mencari
ilmu dien adalah wajib. Rosululloh
bersabda, “Mencari ilmu itu wajib atas
setiap muslim.” (HR. Ahmad dan Ibnu
Majah)
Ketahuilah sahabatku… diantara semua
ilmu ada ilmu yang terpuji dan ada ilmu
yang tercela. Dan di antara ilmu yang
terpuji ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan
ada yang hukumnya fardhu kifayah. Ilmu
yang hukumnya fardhu ‘ain adalah ilmu
yang dengannya engkau dapat mengenal
Allah, melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya dalam setiap
gerak-gerikmu, ucapanmu, perbuatanmu
yang kau tampakkan maupun yang ada di
dalam hatimu. Sedangkan ilmu yang
termasuk fardhu kifayah adalah setiap ilmu
yang dibutuhkan untuk menjaga
kelangsungan hidup di dunia seperti ilmu
kedokteran dan farmasi.
Maka ilmu yang fardhu ‘ain wajib untuk
dicari oleh setiap muslim sedangkan ilmu
yang fardhu kifayah adalah wajib untuk
dicari oleh seorang muslim, namun apabila
sudah dikerjakan oleh sebagian muslim
maka gugur kewajiban yang lain.
Ketahuilah sahabatku… jadilah salah
seorang diantara dua jenis manusia.
Pertama jadilah orang yang sibuk dengan
dirimu sendiri dengan hal yang fardhu ‘ain.
Kedua setelah selesai dengan kesibukan diri
sendiri berilah manfaat pada orang lain
dengan hal yang fardhu kifayah. Jangan
menjadi orang yang hanya sibuk
memperbaiki orang lain sebelum
memperbaiki diri sendiri. Perhatikanlah hati
dan amalanmu. Jika engkau belum bisa
menata diri sendiri dan hatimu, maka
janganlah engkau menyibukkan diri
dengan yang fardhu kifayah sebab orang
lain telah banyak yang mengamalkan ilmu
ini. Orang yang hendak mencelakakan
dirinya sendiri dengan memperbaiki
keadaan orang lain adalah orang yang
bodoh. Perumpamaan dirinya seperti
orang yang di dalam pakaiannya tersusupi
kalajengking, lalu dia mengendap-endap
untuk menghalau seekor lalat agar tidak
hinggap di tubuh orang lain di
sampingnya.
Jika engkau sudah bisa menata diri sendiri,
engkau boleh menyibukkan diri dengan
ilmu yang fardhu kifayah. Mulailah mencari
ilmu dari Kitabullah dan Sunnah baru
engkau mendalami ilmu yang lain.
Janganlah engkau menghabiskan umurmu
dalam satu jenis ilmu karena ingin
mendapatkan predikat spesialisasi.
Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak
sementara umur manusia sangat terbatas.
Maka pilihlah ilmu yang paling bermanfaat
bagimu yang dengannya engkau bisa
meraih ridho Allah.
Sahabatmu ini pernah mendapatkan
nasihat, “Sempatkan waktumu menemui
majelis-majelis ta’lim yang lurus aqidah,
akhlaq dan manhajnya sekalipun harus
menempuh jalan yang jauh dan sulit.
Sempatkan hatimu untuk menerima
belaian dan makanan berupa ilmu. Ingat
dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu
bagi hati bagaikan air bagi ikan. Apa jadinya
ikan tanpa air? Lalu apa jadinya hati tanpa
ilmu ?”
Namun sahabatmu ini sibuk sekali dengan
urusan dunia dan prestasi, menganggap
bahwa dunia sudah cukup untuk menepis
musibah dan meraih kebahagiaan.
Kebahagiaan datang lalu pergi dan hatinya
terasa begitu kering. Musibah datang silih
berganti dan membuat hatinya semakin
kering hingga sahabatmu ini mendapat
nasehat lagi …
Zuunuun rodhiyallahu ‘anhu berkata,
“Wahai saudaraku berdirilah di hadapan
tuhanmu seperti anak kecil di hadapan
ibunya. Setiap kali ia dipukul oleh ibunya, ia
malah bergerak ke arahnya dan setiap kali
ia diusir ia malah mendekatinya.
Keadaannya tetap seperti itu sampai sang
ibu mendekapnya. ”
Sabarlah jika engkau sedang ditimpa
musibah, berdoalah kepada Allah agar
semua itu bisa mengurangi dan
menghapus dosa-dosamu. Kembalilah
pada Allah dan carilah solusi dari
Rosulullah. Sesungguhnya dalam Islam
terdapat solusi bagi seluruh permasalahan.
Dan cukupkan dirimu dengan solusi yang
Allah dan Rosul-Nya berikan. Karena Allah
lah yang Maha Bijaksana, menentukan
yang terbaik bagi hambaNya. Dan
memang, solusi terbaik atas seluruh
urusan adalah islam, agama yang
sempurna dan indah dari segala segi.
Kebahagiaan hakiki ada pada Islam.
Sahabatku… bersabarlah untuk terus
melangkah menggapai manisnya iman.
Kita tidak akan pernah tahu, kapan umur
kita pupus. Maka manfaatkanlah waktu
untuk bersegera merajut manfaat dalam
ridho Allah. Perjalanan sungguh amat jauh
dan berat karenanya perlu bekal yang
banyak agar kita tidak merugi. Dan
kumpulkan bekal itu sekarang karena kita
tidak tahu sampai kapan kita hidup. Bahkan
sampai besok pagi pun kita tidak tahu
apakah kita masih hidup.
Kelak di akherat, Robb kita tidak akan
menanyakan: Bagaimana duniamu?
Apakah orang tuamu kau bahagiakan
dengan duniamu?
Tidak, sama sekali tidak…
Justru Robb kita akan bertanya: Untuk apa
masa mudamu kau gunakan? Dan semoga
saat itu walidain kita akan bangga dengan
kesholehan anaknya, bukan dengan hal-hal
yang dibanggakan di dunia tapi hakikatnya
menjadi tamparan yang amat menyakitkan
bagi mereka di akherat. Manakah yang
engkau ridho atasnya sahabatku?
Jangan tertipu oleh alasan-alasan maya
yang dibisikkan syaithon untuk
membenarkan yang salah, menghalalkan
yang haram dan menyamarkan hal-hal
yang jelas.
Sahabatku… tentulah kita semua tahu
bahwa terbukanya pintu taubat adalah
hingga ditariknya nyawa sampai
tenggorokan. Setelah itu tertutuplah pintu
taubat untuk selamanya dan tak berguna
lagi penyesalan sesudah itu. Tapi
sahabatku, tak seorang pun tahu kapan
kematian menjemput, kapan pintu taubat
ditutup, apakah tahun depan, bulan depan,
malam ini atau setelah beranjak dari tempat
ini?? Tak ada satu makhluk pun yang
mengetahuinya hingga begitu banyak
manusia meremehkan bersegera dalam
bertaubat dan dalam keadaan merasa
aman dengan ilmu, amal, dan agama yang
ia miliki sekarang. Padahal barangsiapa
yang merasa aman dengan agamanya
maka Allah mencabut agamanya pada saat
itu juga.
Sahabatmu ini hanya bisa berdoa semoga
dalam kesendirian kita masing-masing kita
tetap bersemangat berpegang teguh
terhadap al-haq, tetap istiqomah,
menjunjung nilai-nilai sunnah dalam setiap
tingkah, langkah, menit dan detik kita. Kita
berlindung kepada Allah dari fitnahnya
dunia dan segala perhiasannya. Semoga
kita diselamatkan dari tipu daya dan bisikan
syaithon yang melalaikan kita dari
mengingat agungnya akherat.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan
Maha Mengetahui. Kita sudah mengetahui
maknanya. Lalu kapankah kita
mengamalkan?
Risalah ini hanya sekadar mengingatkanmu
sahabatku, sesungguhnya ilmu yang kita
pelajari di kampus bermanfaat. Tidak ada
yang melarang kita untuk mempelajarinya,
bahkan sangat dianjurkan demi
kemaslahatan umat Islam. Apalagi jika kita
belajar untuk birul waliddain, tentu
pahalanya akan lebih berlipat lagi. Tapi
sekali lagi sahabatku, tentu engkau sudah
mampu mempertimbangkan manakah
yang seharusnya lebih didahulukan, bahwa
ilmu yang kita pelajari hukumnya fardhu
kifayah dan butuh ilmu yang fardhu ‘ain
sebagai landasannya. Sahabatku, engkau
sudah dewasa dan engkaulah yang berhak
menentukan jalan yang akan engkau
tempuh. Sahabatmu ini sekedar
menyampaikan ilmu yang sudah sampai
padanya. Karena sahabatmu ini sangat
menyayangimu karena Allah dan berharap
kelak bertemu denganmu di surgaNya dan
masih bersamamu ketika menuai ridho-
Nya dan memandang wajah-Nya.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Dari sahabatmu…
Ummu Habibah
Maroji’:
Ru’yatul Waq’iyah
Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah Al
Maqdisi
***
Artikel www.muslimah.or.id

UKHTY...JAGALAH SUARAMU

Ukhti, Jagalah Suaramu!
Penulis:
Ummu Aufa
Muroja ’ah:
Ustadz Abu
Salman (Pengajar Ma’had ‘Ilmi
Putri)
Anugerah kecantikan yang Allah berikan
kepada wanita dari berbagai sisinya dapat
menimbulkan dampak kebaikan dan
keburukan baik untuk dirinya sendiri atau
lawan jenisnya. Bak mutiara indah yang
senantiasa menebarkan kilauannya. Namun
kilauan itu juga dapat menjadi ladang
kemaksiatan jika tidak dijaga oleh
pemiliknya seperti dicuri atau dirampas.
Begitu pula keindahan dari seorang wanita
akan mengundang keburukan jika tidak
dijaga dengan baik. Keburukan yang akan
timbul antara lain munculnya fitnah dari
dalam dirinya. Sebagaimana telah
disabdakan oleh Rosululloh ShollAllahu
‘ Alaihi Wa salam, bahwa Wanita adalah
salah satu perhiasan dunia yang bisa
menjadi FITNAH.
“Tidaklah ada fitnah sepeninggalanku yang
lebih besar bahayanya bagi laki-laki selain
fitnah wanita. Dan sesungguhnya fitnah
yang pertama kali menimpa bani Israil
adalah disebabkan oleh wanita. ” (Hadits
shahih diriwayatkan oleh Muslim no 2740
[97])
“Hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah
pertama kali yang menimpa bani isroil
disebabkan oleh wanita. ” (Hadits shahih
diriwayatkan oleh Muslim no 2742 [99])
Segala keindahan yang terdapat dalam diri
seorang wanita harus dijaga, bahkan hal
yang dianggap remeh pun seperti “suara”.
Tanpa pernah kita sadari, suara juga bisa
mendatangkan fitnah, meskipun suara itu
keluar bukan dimaksudkan secara khusus
untuk melagukannya atau untuk menarik
perhatian. Untuk itu Allah telah melarang
kaum Hawa untuk berlemah lembut dalam
berbicara dengan laki-laki agar tidak timbul
keinginan orang yang didalam hatinya
terdapat penyakit seperti firman-Nya:
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah
seperti wanita yang lain jika kamu
bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk
dalam berbicara dengan mendayu-dayu
sehingga berkeinginanlah orang yang ada
penyakit dalam hatinya. ” (Al Ahzab: 32)
Saudariku, ayat ini turun untuk
memperingatkan kita agar lebih berhati-hati
dalam mengeluarkan suara kita. Allah juga
melarang wanita untuk tidak berkata
dengan lemah lembut dengan laki-laki yang
bukan mahromnya, Peringatan itu pun
semula Allah turunkan untuk Laki-laki di
zaman Nabi yang kita tahu bahwa
keimanan mereka lebih kuat dan akhlaknya
lebih bagus daripada laki-laki di zaman
sekarang.
Maka dari itu berbicaralah seperlunya saja
dengan laki-laki yang bukan mahrom. Jika
memang ada keperluan yang sangat
darurat maka berbicara dibalik tabir itu lebih
baik, seperti perintah Allah kepada kaum
mukmin tatkala meminta sesuatu dengan
wanita yang bukan mahrom dari balik
tabir, Allah Subhanahu wa Ta ’ala berfirman:
“Apabila kamu meminta sesuatu kepada
mereka (isteri-isteri nabi), Maka mintalah
dari belakang tabir. Cara yang demikian itu
lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. ” (Al
Ahzab: 53)
Wahai ukhti, jagalah suara kita agar tidak
menjadi fitnah yang besar bagi kaum
Adam. Semoga Allah mengampuni kita
semua wahai saudariku dengan keindahan-
keindahan yang mengandung fitnah ini.
Janganlah kita berbangga hati dengan
keindahan yang kita punyai karena
sesungguhnya di balik keindahan tersebut
terdapat ujian bagi kita. Wallahu a ’lam
bisshowab
Maraji’:
Fatwa-Fatwa Ulama, Nasihat ulama Besar
untuk Wanita Muslimah
***
Artikel www.muslimah.

JAGALAH KEHORMATANMU...DUHAI UKHTY

Menjadi laki-laki atau perempuan memang
bukan pilihan kita. Tetapi menjadi laki-laki yang
baik atau buruk adalah sebuah pilihan dalam
genggaman kita. Terlebih-lebih bagi
perempuan, mau menjadi wanita shalihat atau
ahli maksiat adalah pilihan yang harus diambil.
Dalam setiap tayangan TiVi, dapat dipastikan
bahwa wanita senantiasa menghiasi semua
program. Iklan-iklanpun bertaburan bintang-
bintang wanita sekalipun barang yang dijual
tidak ada hubungan sama sekali dengan wanita.
Wanita sudah menjadi bagian penting dalam
promosi, bahkan komoditi itu sendiri.
Tak jarang, wanita-wanita seperti ini menjadikan
profesi bintang publikasi sebagai cita-cita dan
tujuan hidupnya karena dengannya popularitas
dapat diraih dan duitpun menumpuk di
kantong. Untuk mencapai tujuannya ini tak
jarang mereka menggunakan segala cara.
Tubuh yang Allah anugerahkan untuk dijaga
kehormatan dan ditutupi auratnya justru
dieksploitasi habis-habisan. Tak sedikit yang
kemudian menggadaikannya …
Duhai diri, apa yang akan kau sampaikan di
hadapan Rabbmu di hari pengadilan nanti?
Ketika lidah dikunci dan setiap helai rambut
menjadi saksi? Tatkala lisan tak berfungsi dan
setiap degup hati dimintai
pertanggungjawaban?
Itulah sebabnya menjadi wanita shalihat adalah
sebuah keharusan. Karena wanita shalihat akan
menjadi ibu shalihat dan ibu shalihat saja yang
akan melahirkan generasi shalih dan shalihat.
Dan hanya generasi shalih-shalihat yang
mampu menjadikan dunia seisinya aman dan
sentausa dalam ridla Allah SWT.
Oleh karena itu saudariku, tutuplah auratmu
agar tak ada mata yang menjadi liar karenanya.
Tutuplah dengan sempurna agar tak ada celah
bagi setan untuk membeliakkan mata saudara-
saudara kita. Lindungi aurat kita dengan santun
dan mulia. Bukan ditutup tapi ditonjolkan. Bukan
ditutup tapi diketatkan. Bukan ditutup tapi
dibelah tinggi.
Tolonglah saudara-saudara lelaki kita agar teduh
mata hatinya ….
Duhai diri, tak cukup hanya menjilbabi fisikmu.
Wajah cantik muslimah pun menggugah selera.
Teduhkan wajahmu dengan malu kepada Allah
SWT agar setiap senyummu menjadi sedekah,
bukan penghias mimpi para jejaka. Jadikan
lantunan suaramu sebagai tadzkirah bukan
penghias telinga yang membuai para
pendengarmu. Setiap sepak terjangmu jadikan
jihad di jalanNYA agar barakah setiap amalmu.
Siapapun kelak yang menjadi suamimu adalah
mukmin shalih yang engkau percayakan
sepenuhnya di tangan Rabbmu..
Wahai saudariku muslimah, jagalah
kehormatanmu dan bersiaplah menyongsong
dunia yang penuh persaingan!
Berjilbab bukanlah halangan untuk maju! Aisyah
ra adalah contoh nyata bahwa hijab tidak
menghalangi beliau sebagai guru para sahabat
radliyyallaahu anhum. Ketinggian ilmu Bunda
Aisyah tidak ada tandingannya. Shahabiyah
yang lainpun menorehkan tinta emas dalam
sejarah panjang kegemilangan Islam.
Semuanya dilakukan dengan elegan,
bermartabat dan berkualitas. Bukan dengan cara
pintas yang menggadaikan harkat dan jati diri
kita.
Wahai Ukhti shalihat, melesatlah ke depan
memimpin kaum wanita karena di tanganmulah
nasib bangsa ini ditentukan melalui generasi
yang akan engkau lahirkan. Yakinlah bahwa
setiap insan yang terlahir dari rahimmu adalah
khalifah yang dinanti oleh dunia yang tengah
sekarat ini….

ANAKKU, DENGARKAN NASEHATKU!

Abdul malik berkata, bahwa pada suatu hari
ketika Auf bin Muhallim al Syaibani, salah
seorang pemimpin bangsawan arab yang
dihormati selama jaman jahiliyah, menikahkan
putrinya Ummu Iyas dengan Harits bin Amr al
Kindi. ia disiapkan untuk dibawa ke pengantin
pria. Kemudian ibu Umamah mendekatinya dan
memberi saran:

“Anakku, bila nasehat yang hendak kusampaikan
kepadamu dianggap tidak perlu karena alasan tata
karma kebangsawanan, maka tidak perlu bagimu.
Namun hal ini akan berguna sebagai pengingat
bagi mereka yang mudah lupa dan akan
membantu mereka yang bijak.”

Anakku bila seorang wanita mampu melakukan
segala hal tanpa seorang suami karena kekayaan
ayahnya dan ia selalu membutuhkan ayahnya,
maka kamu paling mampu melakukannya tanpa
seorang suami. Akan tetapi (ketahuilah, bahwa)
wanita diciptakan untuk pria karena pria (juga)
diciptakan untuk wanita.”

“Anakku, kamu akan meninggalkan rumah
tempat engkau dibesarkan tempat engkau
pertama kali berjalan, untuk menuju suatu tempat
yang kamu tidak tahu, menuju hubungan
bersama orang yang belum kamu kenal benar.
Dengan menikahi kamu, suamimu telah menjadi
tuan bagi dirimu, sehingga jadilah seperti seorang
hamba padanya dan ia akan menjadi seperti
hamba untukmu.”

“Wahai anakku, dengarkanlah nasehat dariku
tentang sepuluh sifat yang akan menjadi
ketetapandan peringatan bagimu.”

Pertama dan kedua (wahai anakku) senanglah
engkau menjadi sahabatnya dan mendengarkan
serta mematuhinya karena rasa suka membawa
kedamaian bagi jiwa dan mendengar serta
mematuhi suami akan menyenangkan Allah.”

“Wahai anakku! Untuk yang ketiga dan keempat
adalah pastikan bahwa engkau beraroma wangi
dan tampil cantik. Ia tidak boleh melihat satupun
yang tidak rapi pada dirimu dan tidak boleh
mencium sesuatu kecuali aroma menyenangkan
dari tubuhmu. Kahl adalah bahan kecantikan
paling baik, dan air lebih baik dari pada
wewangian yang paling langka sekalipun.

Untuk yang kelima dan keenam wahai ankku,
“Siapkan makanannya tepat pada waktunya dan
jangan berisik pada saat ia tidur, karena rasa lapar
yang bergelora seperti air yang membara dan
mengganggu tidurnya akan membuatnya
(mudah) marah.”

“Wahai anakku! Yang ketujuh dan kedelapan
adalah menjaga para hamba (pembantu) dan
anak-anaknya dan menjaga harta bendanya
karena menjaga dan memelihara anak-anak serta
hambanya menunjukkan pengelolaan yang baik.”

Sedangkan yang kesembilan dan kesepuluh
wahai anakku, “Janganlah pernah
mengungkapkan rahasianya dan jangan pernah
membantah perintahnya karena bila kamu
mengungkapkan rahasianya. Kamu tidak akan
pernah merasa aman dari penghianatan yang
mungkin saja dilakukannya dan bila kamu tidak
patuh dan hatinya akan diisi dengan kebencian
terhadap kamu.”

“Berhati-hatilah anakku, dalam menunjukkan
kesenangan di hadapannya pada saat ia sedang
marah dan jangan pernah menunjukkan wajah
murah pada saat ia senang. Karena yang pertama
menunjukkan kurangnya pertimbangan
sedangkan yang kedua akan membuatnya tidak
senang.”

“Wahai anakku! Tunjukkan kepadanya
penghormatan dan penghargaan sebanyak yang
engkau bias dan seiya-sekatalah dengannya
sebisamu sehingga ia akan menikmati keramahan
dan persahabatan kalian.”
“Ketahuilah anakku! Bahwa engkau tidak akan
mencapai apa yang kamu ingin lakukan sampai
kamu mendahulukan kesenangannya sebelum
kesenanganmu dan keinginanmu sebelum
keinginanmu dengan cara apa pun, baik yang
kamu sukai atau tidak.”

“Akhirnya, semoga Allah swt memilihkan yang
terbaik untukmu dan melindungimu.” Amiiiiin!

Demikianlah nasihat dari ibu Umamah kepada
Ummu Iyas di saat menjelang pesta
perkawinannya!

KARAKTERISTIK SEORANG WIRAUSAHA ISLAM

Dalam ajaran Islam, ada beberapa sifat atau
karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang
wirausaha, yaitu :

1. Sifat takwa, tawakal, dzikir dan syukur
Sifat-sifat di atas harus benar-benar
dilaksanakan dalam kehidupan (praktek bisnis)
sehari-hari. Ada jaminan dari Allah bahwa :
barang sapa yang takwa kepada Allah, maka
Allah akan mengadakan baginya jalan keluar,
dan Allah memberinya rizki dari arah yang
tidak disangka-sangka. Tawakal ialah suatu
sifat penyerahan diri kepada Allah secara aktif,
tidak cepat menyerah. Berdzikir artinya selalu
menyebut Asma Allah dalam hati dengan
merendahkan diri dan rasa takut serta tidak
mengeraskan suara dalam segala keadaan.
Selalu ingat Allah membuat hati menjadi
tenang, segala usaha dapat dilakukan dengan
kepala dingin dan lancar. Selain itu rasa syukur
juga akan membuat hati menjadi tenang,
ungkapan rasa syukur ini dapat dilakukan baik
secara diam-diam dalam hati maupun
diucapkan dengan lisan atau dalam bentuk
perbuatan.

2. Jujur
Dalam suatu hadis dinyatakan : Kejujuran itu
akan membawa ketenangan dan
ketidakjujuran akan menimbulkan keragu-
raguan (HR. Tirmidzi). Jujur dalam segala
kegiatan bisnis, menimbang, mengukur,
membagi, berjanji, membayar hutang, jujur
dalam berhubungan dengan orang lain akan
membuat ketenangan lahir dan batin.

3. Niat suci dan ibadah
Bagi seorang muslim melakukan bisnis adalah
dalam rangka ibadah kepada Allah. Demikian
pula hasil yang diperoleh dalam bisnis akan
dipergunakan kembali di jalan Allah.

4. Adzan dan bangun lebih pagi
Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya,
agar mulai bekerja sejak pagi hari, selesai
sholat subuh, jangan kamu tidur, bergeraklah,
carilah rizki dari Tuhanmu. Para malaikat akan
turun dan membagi rizki sejak terbit fajar
sampai terbenam matahari.

5. Toleransi
Toleransi, tenggang rasa, tepo seliro, lamat
diawak katuju diurang (Minang) harus dianut
oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang
bisnis. Dengan demikian tampak orang bisnis
itu supel, mudah bergaul, komunikatif, praktis,
tidak banyak teori, fleksibel, pandai melihat
situasi dan kondisi, toleransi terhadap
langganan, dan tidak kaku.

6. Berzakat dan berinfaq
Mengeluarkan zakat dan infaq harus menjadi
budaya muslim yang bergerak dalam bidang
bisnis. Harta yang dikelola dalam bidang
bisnis, laba yang diperoleh harus disisihkan
sebagian untuk membantu anggota
masyarakat yang membutuhkan. Dalam
ajaran Islam sudah jelas bahwa harta yang
dizakatkan dan diinfaqkan tidak akan hilang,
melainkan menjad tabungan yang berlipat
ganda baik di dunia maupun diakhirat. Sebuah
hadis yang diriwayatkan oleh Muslim
menyatakan :
� Tidaklah harta itu akan berkurang karena
disedekahkan dan Allah tidak akan
menambahkan orangyang suka memberi
maaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang
yang suka merendahkan diri karena Allah
melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman,
yang artinya : Berinfaqlah kamu, niscaya Allah
akan memberi belanja kepadamu
(Muttafaq �Alaih).
Al Qur�an menyatakan : Barang siapa yang
takwa kepada Allah, niscaya Allah akan
memberi jalan keluar baginya. Dan Allah
memberi rizki dari arah atau sumber yang
tidak disangka-sangka. (QS. At Thalaq : 2-3).

7. Silaturrahmi
Orang bisnis seringkali melakukan silaturrahmi
dengan partner bisnisnya ataupun dengan
langganannya. Hal ini sesuai dengan ajaran
Islam bahwa seorang Islam harus selalu
mempererat silaturrahmi satu sama lain.
Manfaat silaturrahmi ini di samping
mempererat ikatan persaudaraan, juga sering
kali membuka peluang-peluang bisnis yang
baru. Hadis Nabi menyatakan :
Siapa yang ingin murah rizkinya dan panjang
umurnya, maka hendaklah ia mempererat
hubungan silaturrahmi (HR. Bukhari).
Kegiatan produksi saat ini sudah
menggunakan mesin yang serba canggih,
tidak dapat dilakukan oleh orang-orang awam,
akan tetapi harus menggunakan manajemen
yang baik. Haruslah seorang wirausaha yang
akan mengurusnya, sebab segala sesuatu
urusan akan hancur apabila diurus oleh orang
yang bukan ahlinya. Seperti dinyatakan dalam
hadis berikut :
Apabila urusan di serangkan kepada yang
bukan ahlinya, maka tunggulah
kehancurannya (HR. Bukhari).

Fungsi-fungsi manajemen seperti planning,
organizing, actuating, controlling, sangat
membutuhkan seorang wirausaha dalam
pelaksanaannya, seupaya perusahaan,
organisasi dapat berjalan sesuai dengan yang
diharapkan.
June 2013
M T W T F S S
May 2013July 2013
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30