Sudahkan Nabi Muhammad Sholallohu'alaihiwasallam menjadi idola?
Thursday, April 14, 2011 7:13:58 AM
Islam, dan sebagian orang tua tidak kenal secara
mendalam siapa itu Nabi Muhammad SAW,
apalagi mejadikannya sebagai idola atau pujaan.
Yang mereka idolakan kebanyakan bintang film,
bintang sinetron, penyanyi, atau pemain
sepakbola, bahkan tokoh politik. Padahal
semestinya, idola orang Muslim itu adalah Nabi
Muhammad SAW. Mengapa? Karena hanya
dengan mencontoh kehidupan Rasulullah, kita
akan hidup bahagia di dunia, apalagi di akhirat
nanti, sebagimana yang telah diperoleh para
Sahabat Rasulullah SAW..
Tulisan ini saya tujukan khusus untuk kaum
Muslimin dan Muslimat, sehubungan dengan hari
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada
tanggal 12 Rabiul Awal yang jatuh pada tanggal 26
Februar1 2010. Tetapi bila ada saudara-saudara
kami di luar agama Islam ingin membacanya,
tidak ada salahnya, karena tulisan ini tidak
menyinggung atau merendahkan agama lain.
Malah ada baiknya, untuk menambah
pengetahuna Anda, demi meningkatkan toleransi
kerukunan hidup umat beragama di Indonesia,
dan siapa tahu anda mendapat Hidayah dari Allah
SWT. Amin.
Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad
Nabi Muhammad SAW dilahirkan sekitar 570
Masehi di Makkah. Ayahnya, Abdullah, meninggal
beberapa pekan sebelum kelahirannya. Karena
merupakan kebiasaan bagi seorang bayi yang
baru lahir untuk disusui seorang ibu angkat, pada
awalnya Nabi dipelihara oleh seorang wanita
Badui, Halimah.
Ibunda Nabi, Siti Aminah, meninggal dunia saat
usia Nabi enam tahun dan beliaupun tinggal
dengan kakeknya, Abdul Mutthalib. Hanya dua
tahun kemudian, kakeknya juga meninggal, dan
Nabi pun berada dalam pemeliharaan pamannya,
Abu Thalib, seorang pedagang. Perasaan
kehilangan di usia yang demikian muda
menjadikannya pribadi yang pemikir dan sensitif.
Ia sangat menekankan perlunya mengasihi anak
yatim, wanita, sebagai golongan lemah dalam
masyarakat. Sebagai seorang laki-laki, ia
menggembala domba di padang pasir. Sejak kecil
Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur dan
terpercaya, sehingga mendapat julukan Al Amin.
Maulid Nabi Muhammad SAW.
Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul
Awal Tahun Gajah atau sekitar tahun 570 Masehi,
yang di kalangan umat islam lebih dikenal dengan
Maulid Nabi. Perayaan Maulid Nabi merupakan
tradisi yang berkembang di masyarakat Islam
jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara
substansi, peringatan ini adalah ekspresi
kegembiraan dan penghormatan kepada
Rasulullah Muhammad SAW. Karena Nabi
Muhammad SAW sendiri tidak pernah
merayakan maulid beliau, maka sebagian umat
Islam menganggap perayaan Maulid ini bid ’ah.
Namun demikian, sebagian besar Muslim
Indonesia, merayakan Maulid Nabi setiap tahun,
termasuk Maulid Nabi yang dilaksanakan secara
Nasioanal, yang selalu dihadiri oleh Kepala Negara,
para pejabat tinggi dan duta besar negara-negara
Islam.
Perayaan Maulid Nabi pertama kali diperkenalkan
oleh Abu Said al-Qakburi, seorang Gubernur Irbil,
di Irak pada masa pemerintahan Sultan
Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Ada yang
berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal
dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah
untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi
Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat
juang kaum muslimin.
Di kehidupan masa kini, kita telah mafhum dan
mengenal berbagai macam peringatan hari-hari,
baik itu hari kenegaraan seperti Hari
Kemerdekaan, dll. Peringatan itu untuk
mensyukuri atau merenungan segala nikmat
yang telah dianugerahkan Allah kepada kita yang
sampai detik ini masih dapat kita nikmati. Rasa
syukur dan renungan itu tidak haram, karena
dengan merenungi segala nikmat tersebut, insya-
Allah kita akan menjadi orang yang pandai
bersyukur. Allah berfirman: ”Barangsiapa
bersykur, maka Aku akan menambah nikmat-Ku,
tapi bila kamu ingkar, maka Azab-Ku amat pedih
(QS Ibrahim:7).
Maka, suatu hal yang sangat penting dan utama
dalam peringtan Maulid Nabi Muhammad SAW
ini, adalah hendaknya kita dapat meneladani atau
mencontoh cara hidup beliau, berdasarkan apa
yang diajarkan dan dicontohkan Nabi SAW,
Kekasih Allah SWT. Karena, hanya dengan
mencontoh kehidupan Rasulullah SAW itu, kita
akan menjadi orang yang beruntung,
sebagaimana firman Allah: ”(Yaitu) orang-orang
yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat
dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh
mereka mengerjakan yang ma ’ruf dan melarang
mereka dari mengerjakan yang mungkar dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk
dan membuang dari mereka beban-beban dan
belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka
orang-orang yang beriman kepadanya,
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti
cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya
(Al-Qur ’an), mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Al-A’raa 7:157)
Pribadi Yang Mulia
Nabi Muhham SAW adalah seorang manusia
yang sangat sempurna, yang sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Dia-lah Kekasih Allah. Nama
Nabi Muhammad SAW selalu ”digandengkan”
dengan Nama Allah. Nama Muhammad Saw
sendiri sudah ada sejak Nabi Adam diciptakan.
Allah sendiri memuji akhlak dan budi pekerti Nabi
Muhammad SAW sebagaimana firman-
Nya: ”Sungguh Muhammad memiliki budi pekerti
yang agung! (QS. Al-Qalam: 4).
Jangankan kita, para sahabat saja tak sanggup
melukiskan keindahan akhlak Rasulullah SAW.
Apabila mereka ditanya tentang bagaimana akhlak
Rasulullah SAW, mereka hanya bisa menangis.
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan
tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi SAW.
Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak
Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena
mereka terkenang akan junjungan mereka.
Paling-paling mereka hanya mampu
menceritakan satu peristiwa yang paling indah
dan berkesan dalam interaksi mereka dengan
Nabi terakhir ini.
Ketika Siti Aisyah r.a, istri Nabi SAW ditanya oleh
seorang Badui tentang akhlak Nabi SAW, beliau
hanya menjawab: ”Akhlak Muhammad itu Al-
Qur’an”. Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan
bahwa Nabi SAW itu bagaikan Al-Qur’an berjalan.
Badui itu tidak puas, bagaimana mungkin ia
segera mengetahu akhlak Nabi kalau ia harus
membaca seluruh kandungan Al Qur ’an. Aisyah
akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca
dan menyimak Surat Al-Mu ’minun ayat 1-11,
yaitu: ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang
yang beriman, (yaitu) orang-orang khusuk dalam
shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan
diri dari perbuuatan dan perkataan yang tidak
berguna, dan orang-orang yang menunaikan
zakat, dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka
atau budak yang mereka miliki, maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang selain itu, maka
mereka itulah orang-orang yang melampaui
batas. Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya,
dan orang-orang yang menjaga shalatnya.
Mereka itulah orang-orang yang mewarisi,
mewarisi surga Firadaus. Mereka kekal di
dalamnya ”
Dan ketika didesak pertanyaan tentang kesan
beliau terhadap suaminya, Nabi Muhammad
SAW, Aisyah menjawab, “Ah semua perilakunya
indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita
saat terindah baginya, sebagai seorang isteri.
“ Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan
kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami
sudah bersentuhan, suamiku berkata, ”Ya Aisyah,
izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih
dahulu. ” Apalagi yang dapat lebih
membahagiakan seorang isteri, karena dalam
sejumput episode tersebut terkumpul kasih
sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat
dari seorang suami, yang juga seorang utusan
Allah.
Suatu saat, Nabi Muhammad SAW membuat
khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh
Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya.
Aisyah keluar membuka pintu rumah. Dia terkejut
bukan kepalang melihat suaminya tidur di depan
pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di
sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku
pulang sudah larut malam, aku khawatir
mengganggu tidurmu sehingga aku tidak
mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di
depan pintu. ”
Mari berkaca di diri kita masing-masing.
Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi
SAW mengingatkan, “Berhati-hatilah kamu
terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan
ditanya di hari akhir tentangnya. ” Para sahabat
pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka
dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun
dan mengecam mereka.
Ada seorang sahabat yang mempunyai kesan
yang paling indah ketika sahabat tersebut
terlambat datang ke Majelis SAW. Tempat sudah
penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat
tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang
mau memberinya tempat. Di tengah
kebingungannya, Rasul SAW memanggilnya.
Rasulullah SAW memintanya duduk di dekatnya.
Tidak cukup dengan itu, Rasulullah SAW pun
melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat
tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk.
Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata,
menerima sorban tersebut namun tidak
menjadikannya alas duduk akan tetapi malah
mencium sorban Nabi SAW tersebut.
Begitulah akhlak Rasulullah SAW, sebagai
pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani
bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah
pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil
sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul
Yang Mulia?.
Nabi Muhammad SAW juga terkenal suka
memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab
hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa
sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar,
Rasulullah SAW selalu memujinya. Abu Bakar-
lah yang menemani Rasulullah SAW ketika hijrah.
Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika
Rasulullah SAW sakit. Tentang Umar, Rasulullah
SAW pernah berkata, “Syetan saja takut dengan
Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka
Syetan lewat jalan yang lain. ” Dalam riwayat lain
disebutkan, “Nabi SAW bermimpi meminum
susu. Belum habis satu gelas, Nabi SAW
memberikannya pada Umar yang meminumnya
sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul
apa maksud (ta ’wil) mimpimu itu? Rasulullah
SAW menjawab “ilmu pengetahuan.”Tentang
Utsman, Rasulullah SAW sangat menghargai
Utsman karena itu Usman menikahi dua putri
Nabi SAW hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain
(pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasulullah
SAW bukan saja menjadikannya ia menantu,
tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan
keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah
pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia
merupakan orang munafik.”
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada
seorang rekan yang punya sembilan kelebihan
dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik
berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu
dan melupakan yang sembilan. Ah …ternyata kita
belum suka memuji; kita masih suka mencela.
Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad
SAW Buktinya, dalam Al-Qur ’an Allah memanggil
para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub,
Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi
Muhammad SAW Allah menyapanya dengan
“ Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat
menghormati beliau.
Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW
berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi
Allah akan memanggilku, aku tak ingin di Padang
Mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin
menuntut balas karena perbuatanku pada kalian.
Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku
pada kalian, ucapkanlah !” Para sahabat terdiam,
namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba
bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau
memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau
meluruskan posisiku dengan tongkatmu. Aku tak
tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku
ingin menuntut balas hari ini. ” Para sahabat lain
terpana, tidak menyangka ada yang berani
berkata seperti itu. Umar langsung berdiri dan
siap “membereskan” orang itu. Tapi Rasulullah
SAW melarangnya. Rasulullah SAW menyuruh
Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti
Aisyah yang berada di rumah Nabi SAW
keheranan ketika Nabi Rasulullah SAW meminta
tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang
terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada
sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah
semua yang Rasulullah SAW berikan pada
mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat
itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga
terlihatlah tubuh Rasulullah SAW. Nabi SAW
berkata, “Lakukanlah!” Detik-detik berikutnya
menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi
suatu keanehan. Sahabat tersebut malah
menciumi perut Nabi Rasulullah SAW dan
memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh
maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu
dan merasakan kulitku bersentuhan dengan
tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu
wahai Rasulullah ”. Seketika itu juga terdengar
ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat
tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi SAW itu
tidak mungkin diucapkan kalau Rasulullah SAW
tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat.
Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin
dekat, ia ingin memeluk Rasulullah SAW sebelum
Allah memanggil Rasulullah SAW ke hadirat-Nya.
Nabi Muhammad SAW ketika melaksanakan Haji
Wada ’, di Padang Arafah yang terik, dalam
keadaan sakit, masih menyempatkan diri
berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi SAW
dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil
berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan
ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai
Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti,
apa jawaban kalian ?” Para sahabat terdiam dan
mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi
Rasulullah SAW melanjutkan, “Bukankah telah
kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar,
bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku
karena menahan lapar bersama kalian, bukankah
aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian,
bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu
dari Allah …..?” Untuk semua pertanyaan itu, para
sahabat menjawab, “Benar ya Rasulullah!”
Kemudian, Rasulullah SAW pun mendongakkan
kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah
saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah
saksikanlah!”. Nabi SAW meminta kesaksian Allah
bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya.
Rakhmatan Lil Alamin
Nabi Muhammad SAW sebenarnya bukan untuk
orang Islam saja, atau hanya untuk manusia saja.
Tapi Nabi Muhammad Saw merupakan rakhmat
bagi seluruh alam, artinya bagi seluruh jagat raya
ini, baik bumi, langit dan tata surya serta semua
makhluk yang ada di antara keduanya, seperti
matahari, bulan, bintang, manusia, hewan,
tumbuh-tumbuahan dlsb. Firman Allah
SWT : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu,
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam. ” (Surah Al-Anbiya’:107).
Tanamkanlah cinta sedalamnya kepada Rasulullah
SAW dengan mencontoh akhlak, ibadah dan
sunnah beliau. Bersalawatlah selalu kepada Nabi,
karena bukti orang yang mencintai seseorang,
ialah sering menyebut-nyebut namanya.
Lihatlah betapa cintanya Bilal bin Rabbah kepada
Nabi SAW. Setelah wafatnya Rasulullah SAW,
beliau menolak untuk menjadi muazzin di Mesjid
Nabawi, karena khawatir dirinya tidak dapat
membendung air mata dan rasa rindu
mengenang saat bersama Rasulullah. Beliau
akhirnya hijrah ke Syam untuk berjihad mengikuti
jejak langkah para sahabat Nabi, meninggalkan
Madinah, kota dimana dia selalu bersama orang
yang sangat dikasihinya.
Setelah sekian lama berada di kota Damascus,
Bilal didatangi Rasulullah SAW di dalam mimpi.
Rasul bersabda: “Wahai Bilal, apakah yang
menahanmu? Sudah lama engkau tidak datang
menjengukku?. ” Lalu Bilal pun bergegas
menziarahi Madinah. Di Madinah, Bilal dibujuk
oleh cucunda Nabi, yakni Hassan dan Hussein
untuk mengumandangkan azan. Bilal akhirnya
setuju.
Saat mendengar suara emas Bilal, sayup-sayup di
Madinah terdengar dengan ratapan dan tangisan.
Banyak orang melihat melalui jendela dan keluar
dari rumah menuju ke jalanan. Sambil menahan
rasa rindu kepada Rasulullah SAW, mereka
bertanya, “Apakah Rasulullah SAW telah
dihidupkan kembali?” Ada pula yang berbisik
dengan linangan air mata, “Marhaban ya
Rasulullah, Marhaban ya Rasulullah.”
AllahummaSolli ala Muhammad.
Uswatun Khasanah
Secara fisik, Muhammad merupakan manusia
sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah,
suri tauladan bagi seluruh umat manusia, sesuai
dengan firman-Nya:
“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu
suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi
orang-orang yang mengharapkan menemui Allah
dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-
banyak ” (QS Al Ahzab: 21).
Secara batiniah Rasulullah mempunyai sifat-sifat
yang terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap
manusia tanpa kecuali. Tetapi sayang, tidak
semua manusia menyadari keberadaan unsur
tersebut, apalagi mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga tidak
mengherankan bila banyak orang yang mengaku
umat Nabi Muhammad SAW. umat yang sangat
terpuji, justru banyak melakukan perbuatan
tercela.
Hal ini karena mereka belum dapat menghayati
Muhammad dalam nilai-nilai terpuji, di setiap
aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal
setiap hari mereka selalu mengatakan dalam
shalat: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain
Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
Utusan Allah ”. Kalimat Syahadat tersebut
mempunyai makna yang sangat dalam sekali,
yaitu saksinya seorang yang menyaksikan kepada
siapa dia bersaksi. Secara hakikat, makna simbolis
dari “wa asyhadu an la Muhammad Rasulullah”
adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah
ditempati oleh unsur terpuji yaitu Nur
Muhammad, yang harus diimani dan diikuti
sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur ’an:
”Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu ” QS Ali Imran: 31).
Cinta Rasulullah SAW
Bila kita benar-benar cinta kepada Rasulullah
SAW, tidak cukup hanya dengan pujian dan
salawat saja. Bukti cinta kita kepada Rasulullah
SAW adalah dengan mengamalkan seluruh
hadist-hadistnya. Hadist Nabi ini ada tiga bagian
besar, yaitu 1. Penampilan (termasuk cara
berpakaian dan pelihara jenggot), 2. Cara hidup
sehari hari (mulai bangun tidur sampai tidur
kembali) seperti makan, minum, mandi, buang
air, tidur, ibadah shalat, puasa, pernikahan,
hubungan suami-istri, perdagangan, dlsb), dan 3.
Fikir Rasulullah, bagaimana agar semua umat
Rasulullah SAW masuk surga.
1. Mengamalkan hadist-hadist dan ajaran
Rasulullah SAW.
Banyak sekali hadist-hadist Rasulullah sebagai
kecintaan Rasul kepada umatnya. Tentu bukti
cinta kita adalah dengan mengamalkan hadist-
hadist tersebut. ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah
aku (Nabi), maka Allah akan mencintaimu dan
mengampuni dosa-dosamu ’ (QS Ali Imran:31)
2. Memperbanyak shalawat dan pujian untuk Nabi
SAW
Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Allah dan
para Malaikat bershalawat kepada Nabi . Wahai
orang-orang beriman, bershalawatlah kepadanya
dan ucapkanlah salam .. ‘
3. Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar
Allah berfirman: ”Kalian adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah yang
mungkar, dan kalian beriman kepada Allah ….(QS
Ali Imran:110)
Selama 23 tahun Nabi Muhammad SAW sejak
diangkat sebagai Rasulullah SAW, beliau dan para
sahabat bukan hanya menjalankan ibadah, tapi
berdakwah. Karena dakwah, Islam tersebar ke
seluruh dunia, sehingga sampai ke negara kita
Indonesia. Islam masuk ke Indonesia bukan
karena dibawa oleh burung atau diterbangkan
oleh angin, tapi oleh manusia, juru dakwah.
Indonesia saat ini merupakan ”negara Islam”
terbesar, setidaknya dalam jumlah, karena kalau
dari kualitas, ”ntar dulu”, kata orang Betawi. Islam
tersebar di Indonesia bukan dengan cara
kekerasan atau perang, tapi dengan akhlak yang
indah, yang dibawa oleh para da ’i terdahulu, yang
lebih dikenal sebagai ”pedagang” sehingga orang
dengan sukarela masuk Islam, tanpa disuruh atau
dipaksa.
Tapi saat ini, umat Islam mayoritas di Indonesia,
tapi kehidupan kebanyakan mereka sangat
menyedihkan, jauh dari ajaran agama Islam.
Mesjid tidak terhitung jumlahnya, setiap RW atau
dusun ada satu mesjid bahkan ada beberapa
musholla, tapi umumnya kosong. Yang shalat
paling banyak 1-2 saf saja. Malah banyak mesjid
di kampung yang shalat hanya satu orang, yaitu
muazin saja. Bahkan ada beberapa mesjid
berubah menjadi sangkar kambing, karena sudah
lama tidak ada yang shalat di situ.
Banyak sekali orang Indonesia yang tidak shalat,
terutama anak-anak muda. Mesjid hanya diisi
jamaah yang sudah ”hampir magrib”, yang KTP-
nya sudah ”seumur hidup”. Orang Islam saat ini
tingkah laku dan cara hidupnya, tidak lagi Islami,
baik cara berpakaian, berdandan, berdagang,
acara pernikahan, dlsb. Banyak orang Islam yang
minum khamar, berjudi, korupsi, berzinah, dlsb,
jauh dari akhlah yang dicontohkan Rasulullah
SAW dan para sahabat.
Dakwah Cara Rasulullah
Sekarang banyak ”ustadz” dan alim ulama, yang
bertaraf nasional, memberikan tauziah dan
ceramah dimana-mana, melalui TV, radio atau
langsung melalui tabligh akbar dihadapan ribuan
orang dan jutaan pemirsa, tapi tidak ada orang
non Muslim yang tertarik masuk Islam. Mengapa?
Karena akhlak dan perilaku kebanyakan orang
Islam saat ini tidak beda dengan mereka yang
non Muslim. Disamping itu, dakwah para ustadz
yang ”ngetop” itu, tidak sesuai dengan cara
dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat, yang
tidak meminta upah dan mendatangi ummat.
Mereka menerima bayaran sampai puluhan juta
rupiah sekali tampil, bukan ikhlas karena Allah,
sehingga ”bayan” atau ceramah agama mereka
tidak ada ”ruh”nya, tidak ada kekuatan. Karena
pada hakikatnya yang dapat memberikan hidayah
adalah Allah SWT, bukan karena kepintaran dan
kehebatan ceramah seorang da ’i atau ustadz.
Saat ini dakwah cara Rasulullah SAW sudah mulai
dihidupkan kembali, ada lebih dari 200 negara
termasuk Indonesia, yang mengirim jamaah ke
seluruh dunia. Orang lain menyebutnya jamaah
tabligh, padahal kami sendiri tidak pernah
menamakan diri seperti itu. Mereka datang dari
berbagai negara ke Indonesia, mengajak orang
Islam kembali shalat, yang sudah shalat diajak
kembali ke mesjid.
Mereka mengorbankan diri, harta dan waktunya
di jalan Allah. Tidak ada yang membiayai, bukan
Pemerintah, LSM atau organisasi apapun. Mereka
berdakwah dari satu negeri ke neggeri lain, dari
pulau ke pulau, darai kota ke kota, dari desa ke
desa, dari mesjid ke mesjid dan dari rumah ke
rumah serta dari orang ke orang langsung
bertatapan muka, tanpa bayaan serupiahpun,
malah mereka menggunakan harta dan uang
mereka sendiri. Mereka hanya mengharap ”upah”
dan keredhoan Allah sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah SAW.
Berkat usaha dakwah, saat ini umat Islam
berkembang di seluruh dunia, di Amerika Serikat,
negara-negara Eropa termasuk Inggris, Prancis
dan Italia, Jepang, Korea, temasuk di Israel ada
markas dakwah. Ribuan mesjid sudah berdiri di
negara-negara yang tadinya tidak mengenal Islam
samasekali.
Rasulullah SAW Sangat Mencintai Ummatnya
Rasulullah SAW adalah orang yang sangat cinta
dan peduli dengan umatnya, sehingga
digambarkan Allah SWT: ”Sungguh telah datang
kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian
sendiri. Ia merasakan beratnya penderitaan kalian,
sangat mendambakan (keimanan dan
keselamatan) kalian, dan amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang beriman ’ (QS
At Taubah:128)
Begitu cintanya Rasul terhadap umatnya sehingga
ucapan terakhir beliau sesaat sebelum
menghembuskan nafas terakhir adalah: ”umatti…
umatti … ummatti..’. Annisa,….annisa , annisa dan
As-shalat, …. as-shalat, as shalat…. Karena
Rasulullah SAW telah menyaksikan, bahwa di
akhir zaman, umat Islam semakin banyak
jumlahnya, tapi cuma KTP saja. Tidak
menjalankan perintah-perintah Allah, terutama
shalat, padahal amal yang paling utama setelah
iman kepada Allah, adalah shalat. Apabila shalat
kita baik, maka amal-amal yang lain akan menjadi
baik. Tapi bila shalatnya amburadul, apalagi bila
tidak shalat sama sekali, maka amal-amal yang
lain seperti puasa, zakat, haji dlsb, tidak akan
” diperhitungkan” sama sekali.
Shalat yang paling sempurna (shalat fardhu),
untuk lelaki dewasa adalah WTC (bukan World
Trade Center-tapi waktu, tempat, cara). Waktu
shalat, di awal waktu, beberapa saat setelah azan
dikumandangkan (bukan entar-entar dulu-shalat
Zuhur saat menjelang waktu Ashar misalnya).
Tempatnya di mesjid atau musholla atau dimana
azan dikumandangkan (bukan di rumah atau di
kantor). Caranya berjamaah, bukan shalat sendiri-
sendiri. Rasulullah SAW tidak pernah sekalipun
shalat fardhu di rumah!!! Kalau kita merasa umat
Muhammad SAW, ikutilah cara beliau, maka kita
akan selamat. Pada saat hampir wafaatnya pun,
Rasulullah tetap shalat berjamaah di mesjid.
Karena tak kuat lagi berdiri, beliau terpaksa ”diapit”
oleh dua sahabat, dan yang disuruh menjadi
imam shalat saat itu adalah Abu Bakar Sidieq.
Rasulullah juga sangat mengkhawtirkan kaum
wanita, bukan karena beliau ”gila wanita”
sebagaimana sering difitnah oleh orang-orang
yang tidak menyukai Islam, tapi karena Rasulullah
SWT sudah melihat isi Neraka kebanyakan
wanita, saat beliau Isra ’ Mi’raj.
Mengapa Kita Harus Berdakwah?
Kalau kita hanya mengandalkan amal ibadah saja,
jangankan untuk ditukar dengan surganya Allah,
ditukar dengan nikmat berupa sebelah biji mata
saja, amal ibadah kita tidak cukup. Coba evaluasi
lah amal ibadah kita masing-masing. Sejak kapam
kita mulai shalat, jangan-jangan tidak sama-sekali,
adakah shalat kita yang benar-benar khusuk?
Jangan-jangan semua shalat kita ”busuk”, fisik kita
shalat tapi pikiran melayang entah kemana.
Bagaimana puasa kita?, jangan-jangan puasa
Ramadhanpun tidak, apalagi puasa sunah. Zakat
kita bagaimana?, jangan-jangan tidak pernah
berzakat, hanyan bayar fitrah 2,5 liter beras setiap
tahun padahal kita kaya dan banyak harta. Haji
bagaimana? Apalagi pergi haji dengan uang
haram, hasil korupsi. Apalagi bila ditambah
dengan dosa-dosa kita yang pernah kita perbuat,
maka timbangan amal kita tambah ”jomplang”
lagi, lebih banyak dosa dari pada amalnya.
Bagaimana caranya agar kita dapat ”mengejar”
timbangan amal kita, padahal umur kita sangat
singkat? Camkan baik-baik firman Allah ini ”Hai
orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku
tunjukkan suatu perdagangan yang dapat
menyelamatkan kamu dari Azab yang pedih? ,
(yaitu) kamu beriman kepada Allah, dan Rasul-
Nya dan ber-jihad di jalan Allah dengan harta dan
jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui .Niscaya Allah akan Mengampuni
dosa-dosamu dan Memasukkan kamu ke dalam
Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,
dan memasukkan kamu ke tempat tinggal yang
baik di dalam Surga Adn. Itulah keberuntungan
yang besar ” (QS As Shaff: 10-12):
Allah sendiri telah mendakwahkan siapa Dia, Allah
berfirman ”Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak
ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku,
maka sembahlah Aku dan diri-kanlah shalat untuk
mengingat-Ku ” (QS Thahaa:14)
Untuk memperkenalkan kepada manusia siapa
diri-Nya, maka Allah telah menurunkan para Nabi
dan Rasul, mulai Nabi Adam As sampai Nabi
Muhammad SAW. Nabi-nabi terdahulu sebelum
Nabi Muhammad, hanya berdakwah untuk
kaumnya pada kurun waktu tertentu. Tapi Nabi
Muhammad SAW, adalah Nabi penutup untuk
seluruh alam. Allah tidak akan menurunkan Nabi
lagi.
Saat ini Rasulullah SAW telah tiada, padahal tugas
kenabian beliau tidak berakhir saat beliau wafat,
tapi sampai Hari Kiamat nanti. Para sahabat juga
sudah tidak ada lagi. Maka, tugas kita semua umat
Islam untuk meneruskan usaha kenabian (bukan
menjadi Nabi), yaitu berdakwah, mengajak
berbuat makruf dan mencegah yang mungkar.
Merupakan farddhu a ’in, bukan hanya tugas ustaz
atau alim ulama saja. Tentunya sesuai dengan
kemampuan kita masing-masing, karena ”Allah
tidak akan membebani seseorang, melainkan
sesuai dengan kemapuannya ”(QS Al
Baqarah:286))
Dakwah (mengajak) dan tabligh (menyampaikan)
ini adalah untuk diri kita sendiri untuk
meningkatkan iman kita. Rasulullah pernah
bersaba: ”Apabila kalian ingin ilmu, maka dekat-
dekatlah padaku, tapi bila kalian ingin iman, maka
pergilah jauh dariku ”. Maka tidak heran bila dari
123 ribu sahabat, hanya 10 persen saja yang
meninggal dan dikebumikan di Tanah Arab.
Sebagian besar lainnya meninggal dan dikubur di
seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mereka rela
meninggalkan Rasulullah yang sangat mereka
cintai demi untuk menyebarkan agama Allah,
padahal tiga hari saja tak berjumpa Nabi, mereka
sangat rindu.
Sebagai perumpaman, bagaimana agar kita
disayangi atasan kita? Tentu kita menjalankan
segala tugas dan perintah bos bukan?. Sehingga
apapun yang kita minta termasuk kenaikan gaji,
akan diberikan sang majikan. Bagaimana bila ”Bos”
itu adalah ”Raja dari semua raja”, Allah?. Itulah
yang telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah
SAW, sehingga Allah Ridho kepada mereka dan
mereka ridho kepada Allah. Adakah anugerah dan
kebahagiaan yang melebihi daripada keridhoan
Allah? Tidak ada!
Sekarang terserah kita mau menfaatkan
kesempatan yang Allah berikan atau tidak.
Mumpung kita masih ada umur dan kesempatan.
Tidak ada paksaan dalam agama. Selanjutnya
terserah anda.







