Skip navigation.

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu!

Tutuplah dengan ucapan syukur.

Maraknya Razia Ponsel di Sekolah


Di sekolah-sekolah menengah saat ini banyak siswanya yang membawa ponsel.

Karena banyak penyimpangan yang terjadi, menyebabkan adanya kebijakan DISDIKPORA dan sekolah untuk melakukan penertiban.
Sebenarnya razia ponsel itu perlu atau tidak?
Saya pikir tidak perlu,asal Si Murid juga menggunakan ponsel dengan bijak.
Bagaimana opini anda?

Jamur Kasur


Hallo kawan,
sabtu sore kemarin seperti biasanya Aku mencari pakan(rumput) untuk my Bunny yang memang ketagihan makan salah satu jenis rumput yang tumbuh di pinggiran sungai Citanduy.
Aku tak merasa sendirian karena Aku ditemani oleh kawanan nyamuk yang baik hati, kudonorkan sedikit darahku untuk mereka.
Saat Aku asik bercanda dengan mereka rasanya ikatan batin di antara kami semakin kuat, bagai rantai yang dulu pernah menaklukan anjing-anjing gila milik tetanggaku.

Saat melewati suatu semak belukar perhatianku pecah ketika melihat jamur seperti kue. Tanpa pikir panjang (memang tidak bisa berpikir terlalu panjang), Aku mulai sibuk berhipotesis. Karena semakin penasaran, kucolek-colek saja jamur itu dengan ranting kayu kering yang memang jamak ditemukan di kebun orang.
Colek-colek seperti pakai sabun colek membuatku makin ketagihan. Bentuk yang seperti kue dengan diameter sekitar 10cm s.d. 15cm dan tekstur yang empuk seperti spons bila ditekan akan kembali ke bentuk semula terasa begitu menarik bagiku.
Apakah di antara kalian ada yang tahu nama spesies tersebut?

Sunah Belajar Sembilan Tahun

Assalamualaikum wr.wb, salam sejahtera bagi kita semua!
Indonesia,sebuah negeri nan indah,terbentang dari Tanah Rencong hingga Tanah Papua. Menyimpan begitu banyak kekayaan alam yang tidak akan habis hanya untuk membeli 100 mobil mewah bagi setiap anggota dewan(wakil rakyat) yang tak terlalu merakyat. Namun bagaimana dengan nasib rakyat?
Apakah Anda sering mendengar istilah wajib belajar sembilan tahun? Saya yakin Anda pernah mendengarnya walaupun hanya sekali seumur hidup.
Kata "wajib" mempunyai makna memaksa, bila tidak dilakukan akan mendapat hukuman/sanksi. Tapi apakah Anda pernah melihat seorang warga negara ini dihukum hanya karena tidak sekolah? Tentu tidak.
Bila ada kewajiban seharusnya ada juga hak yang mereka miliki, pendidikan murah (masih jauh untuk bisa gratis total), fasilitas yang memadai bagi warganya di seluruh pelosok negeri. Dan semua itu belum bisa dipenuhi dari jaman orde lama sampai saat ini.
Apa gunanya pemerintah mewajibkan sesuatu hal jika mereka belum bisa memenuhi kewajibannya?
Bagaimana mau belajar kalau perut merasa lapar?
Bagaimana mau belajar kalau terus memikirkan rumahnya yang hampir roboh?
Ah terlalu banyak problem, jadi bingung yang mana yang mau ditulis!
Dengan segala hormat, untuk saat ini sebaiknya pemerintah segera mengganti istilah wajib belajar sembilan tahun dengan sunah belajar sembilan tahun yang lebih realistis dapat diterima nalar.
Wassalam

Balik lagi deh ke sekolah

hari ni gw masuk sekolah lagi males banged rasanya coz tadi pagi upacara and gw ga bawa topi so dikumpulin ma temen2 yg juga g bawa topi. panasan sampai kulit tropis nan eksotik ini smakin kelabu. tak apalah gw emank salah. haha. . . yapz w emank nunggu nilai ulangan fisika keluar. smoga ja bagus. amin

EUTROFIKASI

Eutrofikasi merupakan
problem lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh limbah fosfat
(PO3-), khususnya dalam
ekosistem air tawar. Definisi
dasarnya adalah pencemaran air
yang disebabkan oleh
munculnya nutrient yang
berlebihan ke dalam ekosistem
air. Air dikatakan eutrofik jika
konsentrasi total phosphorus
(TP) dalam air berada dalam
rentang 35-100 µg/L. Sejatinya,
eutrofikasi merupakan sebuah
proses alamiah di mana danau
mengalami penuaan secara
bertahap dan menjadi lebih
produktif bagi tumbuhnya
biomassa. Diperlukan proses
ribuan tahun untuk sampai pada
kondisi eutrofik. Proses alamiah
ini, oleh manusia dengan segala
aktivitas modernnya, secara
tidak disadari dipercepat
menjadi dalam hitungan
beberapa dekade atau bahkan
beberapa tahun saja. Maka
tidaklah mengherankan jika
eutrofikasi menjadi masalah di
hampir ribuan danau di muka
Bumi, sebagaimana dikenal
lewat fenomena algal bloom.
Daftar isi
Akibat eutrofikasi
Kondisi eutrofik sangat
memungkinkan alga, tumbuhan
air berukuran mikro, untuk
tumbuh berkembang biak
dengan pesat (blooming) akibat
ketersediaan fosfat yang
berlebihan serta kondisi lain
yang memadai. Hal ini bisa
dikenali dengan warna air yang
menjadi kehijauan, berbau tak
sedap, dan kekeruhannya yang
menjadi semakin meningkat.
Banyaknya eceng gondok yang
bertebaran di rawa-rawa dan
danau-danau juga disebabkan
fosfat yang sangat berlebihan
ini. Akibatnya, kualitas air di
banyak ekosistem air menjadi
sangat menurun. Rendahnya
konsentrasi oksigen terlarut,
bahkan sampai batas nol,
menyebabkan makhluk hidup air
seperti ikan dan spesies lainnya
tidak bisa tumbuh dengan baik
sehingga akhirnya mati.
Hilangnya ikan dan hewan
lainnya dalam mata rantai
ekosistem air menyebabkan
terganggunya keseimbangan
ekosistem air. Permasalahan
lainnya, cyanobacteria (blue-
green algae) diketahui
mengandung toksin sehingga
membawa risiko kesehatan bagi
manusia dan hewan. Algal bloom
juga menyebabkan hilangnya
nilai konservasi, estetika,
rekreasional, dan pariwisata
sehingga dibutuhkan biaya
sosial dan ekonomi yang tidak
sedikit untuk mengatasinya.
Sejarah pengetahuan
tentang eutrofikasi
Problem eutrofikasi baru
disadari pada dekade awal abad
ke-20 saat alga banyak tumbuh
di danau-danau dan ekosistem
air lainnya. Problem ini disinyalir
akibat langsung dari aliran
limbah domestik. Hingga saat itu
belum diketahui secara pasti
unsur kimiawi yang
sesungguhnya berperan besar
dalam munculnya eutrofikasi ini.
Melalui penelitian jangka panjang
pada berbagai danau kecil dan
besar, para peneliti akhirnya bisa
menyimpulkan bahwa fosfor
merupakan elemen kunci di
antara nutrient utama tanaman
(karbon (C), nitrogen (N), dan
fosfor (P)) di dalam proses
eutrofikasi.
Sebuah percobaan berskala
besar yang pernah dilakukan
pada tahun 1968 terhadap
Danau Erie (ELA Lake 226) di
Amerika Serikat membuktikan
bahwa bagian danau yang
hanya ditambahkan karbon dan
nitrogen tidak mengalami
fenomena algal bloom selama
delapan tahun pengamatan.
Sebaliknya, bagian danau lainnya
yang ditambahkan fosfor
(dalam bentuk senyawa fosfat)-
di samping karbon dan nitrogen-
terbukti nyata mengalami algal
bloom.
Menyadari bahwa senyawa
fosfatlah yang menjadi
penyebab terjadinya eutrofikasi,
maka perhatian para saintis dan
kelompok masyarakat pencinta
lingkungan hidup semakin
meningkat terhadap
permasalahan ini. Ada kelompok
yang condong memilih cara-cara
penanggulangan melalui
pengolahan limbah cair yang
mengandung fosfat, seperti
detergen dan limbah manusia,
ada juga kelompok yang secara
tegas melarang keberadaan
fosfor dalam detergen. Program
miliaran dollar pernah
dicanangkan lewat institusi St
Lawrence Great Lakes Basin di
AS untuk mengontrol
keberadaan fosfat dalam
ekosistem air. Sebagai
implementasinya, lahirlah
peraturan perundangan yang
mengatur pembatasan
penggunaan fosfat,
pembuangan limbah fosfat dari
rumah tangga dan permukiman.
Upaya untuk menyubstitusi
pemakaian fosfat dalam
detergen juga menjadi bagian
dari program tersebut.
Asal fosfat
Menurut Morse et al [1], 10
persen berasal dari proses
alamiah di lingkungan air itu
sendiri (background source), 7
persen dari industri, 11 persen
dari detergen, 17 persen dari
pupuk pertanian, 23 persen dari
limbah manusia, dan yang
terbesar, 32 persen, dari limbah
peternakan. Paparan statistik di
atas (meskipun tidak persis
mewakili data di Tanah Air)
menunjukkan bagaimana
berbagai aktivitas masyarakat di
era modern dan semakin
besarnya jumlah populasi
manusia menjadi penyumbang
yang sangat besar bagi lepasnya
fosfor ke lingkungan air.
Mengacu pada buku Phosphorus
Chemistry in Everyday Living,
manusia memang berperan
besar sebagai penyumbang
limbah fosfat. Secara fisiologis,
jumlah fosfat yang dikeluarkan
manusia sebanding dengan
jumlah yang dikonsumsinya.
Tahun 1987 saja rata-rata orang
di AS mengonsumsi dan
mengekskresi sejumlah 1,4 lb
(pounds) fosfat per tahun.
Bersandar pada data ini, dengan
sekitar 290 juta jiwa populasi
penduduk AS saat ini, maka
sekitar 406 juta pounds fosfor
dikeluarkan manusia AS setiap
tahunnya.
Lantas, berapa jumlah fosfor
yang dilepaskan oleh penduduk
bumi sekarang yang sudah
mencapai sekitar 6,3 miliar jiwa?
Jika dihitung, akan menghasilkan
sebuah angka yang sangat
fantastis! Ini belum termasuk
fosfat yang terkandung dalam
detergen yang banyak
digunakan masyarakat sehari-
hari dan sumber lainnya seperti
disebut di atas.
Tanpa pengelolaan limbah
domestik yang baik, seperti
yang terjadi di negara-negara
dunia ketiga, tentu bisa
dibayangkan apa dampaknya
terhadap lingkungan hidup,
khususnya ekosistem air.
Berapa sebenarnya jumlah
fosfor (P) yang diperlukan oleh
blue-green algae (makhluk hidup
air penyebab algal bloom) untuk
tumbuh? Ternyata hanya
dengan konsentrasi 10 part per
billion (ppb/sepersatu miliar
bagian) fosfor saja blue-green
algae sudah bisa tumbuh. Tidak
heran kalau algal bloom terjadi di
banyak ekosistem air. Dalam
tempo 24 jam saja populasi alga
bisa berkembang dua kali lipat
dengan jumlah ketersediaan
fosfor yang berlebihan akibat
limbah fosfat di atas.
Tentu saja limbah fosfat yang
lepas ke lingkungan air akan
mengalami pengenceran di
sungai-sungai, di samping
sebelumnya telah melewati pula
tahap pengolahan limbah
domestik. Yang disebut terakhir
secara ketat hanya berlaku di
negara maju seperti AS dan
Eropa. Berdasarkan ini pun,
ternyata masih akan tersisa
sejumlah 12-31 ppb fosfor yang
notabene lebih dari cukup bagi
tumbuhnya blue-green algae.
Bisa diperkirakan (sebelum
akhirnya dibuktikan) kandungan
fosfat di banyak aliran sungai
dan danau di Indonesia,
khususnya di kota-kota besar,
akan jauh lebih tinggi dari angka
yang disebutkan di atas. Dari sini
kita bisa mengetahui betapa
seriusnya persoalan yang
diakibatkan oleh limbah fosfat
ini
Penanganan eutrofikasi
Dewasa ini persoalan eutrofikasi
tidak hanya dikaji secara lokal
dan temporal, tetapi juga
menjadi persoalan global yang
rumit untuk diatasi sehingga
menuntut perhatian serius
banyak pihak secara terus-
menerus. Eutrofikasi merupakan
contoh kasus dari problem yang
menuntut pendekatan lintas
disiplin ilmu dan lintas sektoral.
Ada beberapa faktor yang
menyebabkan penanggulangan
terhadap problem ini sulit
membuahkan hasil yang
memuaskan. Faktor-faktor
tersebut adalah aktivitas
peternakan yang intensif dan
hemat lahan, konsumsi bahan
kimiawi yang mengandung
unsur fosfat yang berlebihan,
pertumbuhan penduduk Bumi
yang semakin cepat, urbanisasi
yang semakin tinggi, dan
lepasnya senyawa kimia fosfat
yang telah lama terakumulasi
dalam sedimen menuju badan
air.
Lalu apa solusi yang mungkin
diambil? Menurut Forsberg [2],
yang utama adalah dibutuhkan
kebijakan yang kuat untuk
mengontrol pertumbuhan
penduduk (birth control). Karena
apa? Karena sejalan dengan
populasi warga Bumi yang terus
meningkat, berarti akan
meningkat pula kontribusi bagi
lepasnya fosfat ke lingkungan
air dari sumber-sumber yang
disebutkan di atas. Pemerintah
juga harus mendorong para
pengusaha agar produk
detergen tidak lagi mengandung
fosfat. Begitu pula produk
makanan dan minuman
diusahakan juga tidak
mengandung bahan aditif
fosfat. Di samping itu, dituntut
pula peran pemerintah di sektor
pertanian agar penggunaan
pupuk fosfat tidak berlebihan,
serta perannya dalam
pengelolaan sektor peternakan
yang bisa mencegah lebih
banyaknya lagi fosfat lepas ke
lingkungan air. Bagi masyarakat
dianjurkan untuk tidak
berlebihan mengonsumsi
makanan dan minuman yang
mengandung aditif fosfat.
Di negara-negara maju
masyarakat yang sudah memiliki
kesadaran lingkungan (green
consumers) hanya membeli
produk kebutuhan rumah
sehari-hari yang mencantumkan
label "phosphate free" atau
"environmentally friendly".
Negara-negara maju telah
menjadikan problem eutrofikasi
sebagai agenda lingkungan
hidup yang harus ditangani
secara serius. Sebagai contoh,
Australia sudah mempunyai
program yang disebut The
National Eutrophication
Management Program, yang
didirikan untuk mengoordinasi,
mendanai, dan menyosialisasi
aktivitas riset mengenai masalah
ini. AS memiliki organisasi
seperti North American Lake
Management Society yang
menaruh perhatian besar
terhadap kelestarian danau
melalui aktivitas sains,
manajemen, edukasi, dan
advokasi.
Selain itu, mereka masih
mempunyai American Society of
Limnology and Oceanography
yang menaruh bidang kajian
pada aquatic sciences dengan
tujuan menerapkan hasil
pengetahuan di bidang ini untuk
mengidentifikasi dan mencari
solusi permasalahan yang
diakibatkan oleh hubungan
antara manusia dengan
lingkungan.
Negara-negara di kawasan Eropa
juga memiliki komite khusus
dengan nama Scientific
Committee on Phosphates in
Europe yang memberlakukan
The Urban Waste Water
Treatment Directive 91/271
yang berfungsi untuk
menangani problem fosfat dari
limbah cair dan cara
penanggulangannya. Mereka
juga memiliki jurnal ilmiah
European Water Pollution
Control, di samping
Environmental Protection
Agency (EPA) yang
memberlakukan peraturan dan
pengawasan ketat terhadap
pencemaran lingkungan.