Wednesday, March 23, 2011 2:29:07 PM
Bila kau seumpama laut dan
hujan, algoritma ini merelasikan
ombak dan hujan: Ombak itu
pelukan, hujan itu deras bisikan,
dan gemuruh adalah dentum
cinta yang tak henti menghantam dada,
menghujamkan airmata ke
penjuru semesta, menjelma
kepakkepak camar yang
menjaga samudera. Perahu itu
aku. Di ujung tanjung, debar
jantungmu melantunkan ombak.
Jemarimu menggulung rindu. Di
ujung kelambu kalbu, bermanja
menghelai lembar demi lembar
rambutmu seakan menyisir pantai. Pasir adalah kanvas
perjalananku, tempat setiap
jejak kucetak dengan sajak,
jejak yang kauhimpun di lengan
ombak: memelukku. Pantai itu
aku, selalu rapat di sisimu. Hujan. Di sudut buku katakata
berdesakan memasuki guguran
hujan. Langit seakan berkilatan
menggoreskan tanda seru.
Cahaya menjelma gemuruh.
Hujan membasuh unggun sajakku, mengeramas setiap
aksara, menggenangi ruh huruf
dengan bening airmata. Lalu
tersisa sebagai butiran yang
menetes di akhir paragraf. Dan
di halaman berikutnya itu aku. Aku, yang selalu hanyut
bersamamu.
hujan, algoritma ini merelasikan
ombak dan hujan: Ombak itu
pelukan, hujan itu deras bisikan,
dan gemuruh adalah dentum
cinta yang tak henti menghantam dada,
menghujamkan airmata ke
penjuru semesta, menjelma
kepakkepak camar yang
menjaga samudera. Perahu itu
aku. Di ujung tanjung, debar
jantungmu melantunkan ombak.
Jemarimu menggulung rindu. Di
ujung kelambu kalbu, bermanja
menghelai lembar demi lembar
rambutmu seakan menyisir pantai. Pasir adalah kanvas
perjalananku, tempat setiap
jejak kucetak dengan sajak,
jejak yang kauhimpun di lengan
ombak: memelukku. Pantai itu
aku, selalu rapat di sisimu. Hujan. Di sudut buku katakata
berdesakan memasuki guguran
hujan. Langit seakan berkilatan
menggoreskan tanda seru.
Cahaya menjelma gemuruh.
Hujan membasuh unggun sajakku, mengeramas setiap
aksara, menggenangi ruh huruf
dengan bening airmata. Lalu
tersisa sebagai butiran yang
menetes di akhir paragraf. Dan
di halaman berikutnya itu aku. Aku, yang selalu hanyut
bersamamu.


