Melukis Puisi di Matamu
Wednesday, March 23, 2011 3:22:50 PM
Matamu sepasang coklat tua
yang teduh. Memandangmu,
seperti rindang pepohonan di
tengah kolam seroja. Aku
tercebur. Jatuh dan
mencintaimu. Dan cinta: berpendar dalam berjuta pixel
warna. Memancar di percik
cipratan airmatamu. Dan di sejuk tatapanmu, aku
melukis puisi. Sebab di sana ada
spektrum cinta. Membuat rindu
seteduh biru lautan yang
anggun menyusun ombak
gemuruh. Membuat kecemasan membias ungu seperti langit
malam menunggu bintangbintang
berlabuh. Membuat harapan secerah
mentari di jendela subuh. Yang
membuat merah wajah kita,
setiap kali tak dapat menahan
dahsyatnya ledakan jantung.
Dan seikat pelangi mencercahkan seluruh warna
dalam satu goresan senyum. Bulu matamu yang lepas, biar
kujadikan kuas, hanya agar
semua terlukis seindah rindu
padamu. Kutahu tanganku tak
mampu menoreh warna selembut
tatapanmu, menggoreskan kata selembut ucapan mu. Tidak juga
mataku dan tidak juga mulutku.
yang teduh. Memandangmu,
seperti rindang pepohonan di
tengah kolam seroja. Aku
tercebur. Jatuh dan
mencintaimu. Dan cinta: berpendar dalam berjuta pixel
warna. Memancar di percik
cipratan airmatamu. Dan di sejuk tatapanmu, aku
melukis puisi. Sebab di sana ada
spektrum cinta. Membuat rindu
seteduh biru lautan yang
anggun menyusun ombak
gemuruh. Membuat kecemasan membias ungu seperti langit
malam menunggu bintangbintang
berlabuh. Membuat harapan secerah
mentari di jendela subuh. Yang
membuat merah wajah kita,
setiap kali tak dapat menahan
dahsyatnya ledakan jantung.
Dan seikat pelangi mencercahkan seluruh warna
dalam satu goresan senyum. Bulu matamu yang lepas, biar
kujadikan kuas, hanya agar
semua terlukis seindah rindu
padamu. Kutahu tanganku tak
mampu menoreh warna selembut
tatapanmu, menggoreskan kata selembut ucapan mu. Tidak juga
mataku dan tidak juga mulutku.


