Wednesday, 20. May 2009, 16:17:38
jalan sunyi
akhirnya kutempuh jalan yang sunyi
mendendangkan lagu bisu
sendiri di lubuk hati
puisi yang kusembunyikan dari kata-kata
cinta yang tak kan kutemukan bentuknya
kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku
biarlah aku yang terus berusaha mengetuk pintu rumahmu
kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku
biarlah para kekasih rahasia Allah yang mengusap-usap kepalaku
mungkin engkau memerlukan darahkku
untuk melepas dahagamu
mungkin engkau butuh kematianku
untuk menegakkan hidupmu
ambillah... ambillah...
akan kumintakan izin kepada Allah yang memilikinya
sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan
dan kurindukan
download mp3 jalan sunyi
Thursday, 5. March 2009, 11:58:04
info
Wednesday, 25. February 2009, 15:27:31
Free Download
Thursday, 12. February 2009, 15:19:13
Emha Ainun Nadjib
Kalau mungkin, kapan-kapan berkunjunglah ke Kantor Perdana Menteri Israel dan mintalah diizinkan memasuki ruangan khusus yang berisi segala data tentang Indonesia.
Segala sisi data dan fakta tentang NKRI, pemetaan kekayaan alamnya, kekuatan-kelemahan politik dan militernya, pemetaan sosial budayanya, daftar tokoh-tokoh segala bidang, update peristiwaperistiwa apa pun yang diperbarui dalam ukuran minggu. Secara intelijen maupun secara ilmu pengetahuan, jangan dulu tidak percaya bahwa Israel lebih mengetahui Indonesia dibanding Indonesia mengetahui dirinya sendiri.
Kalau masih mau bersabar hati dan berlapang pikiran, tuliskan di dalam dirimu probabilitas bahwa Israel mengetahui sesuatu yang khusus tentang Indonesia -- masa silam hingga masa depan -- yang Indonesia sendiri sebagian pernah tahu tapi malas mengidentifikasinya, sebagian lain memang belum pernah tahu sama sekali. Iseng-iseng bukalah us-israel.org dan pandangilah center main display peta Republik Indonesia dengan sejumlah tempat ditandai dengan warna merah mencolok, seolah-olah ia dibikin oleh Indonesia dan tentang Indonesia.
***
Karena semua orang "berbunyi" sama tentang penyerbuan Gaza terakhir ini, ketika ada yang bertanya, saya menjawab: "Saya membayangkan bukan Gaza yang diserbu oleh Israel,tapi Indonesia". Lho kok? "Saya tidak mengharapkan hal itu akan pernah benar-benar terjadi, tetapi Indonesia perlu mulai belajar bahwa orang lain jauh lebih mengerti kekuatan dan kelemahannya dibanding dirinya sendiri.
Juga saya ingin memerhatikan gelagat, apakah dengan pengetahuan Israel yang mumpuni tentang Indonesia itu akan membuat Israel sedemikian berani "bermusuhan" dengan Indonesia, ataukah sebaliknya...." Saya tidak akan memperpanjang tema ini, apalagi sampai surut jauh ke belakang pra-Nabi Ibrahim, era Parikesit dan banjir Nuh yang menyusun kepulauan-kepulauan, dst.
Saya tidak mau merepotkan bangsa Indonesia yang selalu asyik dengan keahliannya menikmati kehidupan apa adanya, untuk tenggelam dalam penggalan-penggalan waktu, untuk berpikir sejengkal dan tidak memerlukan orientasi futurologis yang agak sedikit panjang ke depan -- justru karena bangsa Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga tidak memerlukan kesiapan apa pun untuk menghadapi apa pun. Setiap saat bangsa Nusantara ini siap ditabrak oleh apapun: bahkan oleh penderitaan dan kehancuran yang seberapa parah pun.
Sekarang,dan itu sudah sejak lima tahun terakhir: bangsa besar ini sibuk dengan tiga hal. Pertama,pemilihan pemimpin.Kedua, pemilihan pemimpin.Ketiga, pemilihan pemimpin. Tanpa pernah benarbenar peduli apakah pemimpin yang dipilihnya itu memang pemimpin, apakah pula pemilihan dan pemilihan dan pemilihan itu lebih besar manfaatnya ataukah mudaratnya.
***
Israel berani dan telah berhasil mempermainkan dunia, tetapi Indonesia terbukti juga sangat berani dan sukses mempermainkan dirinya sendiri. Israel setuju pada usulan PBB.Lumayan puas menempelengi harga diri Palestina dan membunuhi ratusan warganya,sekarang Israel menjadi pihak yang memiliki kearifan dan kemuliaan karena mau beristirahat menempeleng. Dia tidak mendapat sanksi apa pun dari PBB,dari Negaranegara Arab,serta dari siapa pun saja. Nanti kalau ritme sudah bergulir dan momentumnya tiba: tempeleng lagi.
Yang bingung di muka bumi karena dipermainkan oleh Israel bukan hanya Umat beragama, bukan hanya PBB, dan siapa pun lainnya, tapi bahasa dan kata juga kebingungan. Israel istirahat mbedil di puncak "krisis kemanusiaan" Palestina. Dunia makna bingung tentang kapan Palestina mengalami krisis kemanusiaan, karena dari sudut tafsir apa pun sesungguhnya Israellah yang mengalami krisis kemanusiaan. Kita juga kebingungan.
Sebuah lembaga nasional berteriak, "Boikot Amerika Serikat!" Teriakan itu disebar ke media-media sesudah diketik dengan alat bikinan Bill Gates atau Steve Jobs, dan petugasnya karena capekmungkin delivery orderMcD. Kelompok-kelompok berkumpul dengan idiom "Umat Islam"yang menyatakan bermusuhan dengan Umat Kristen dan Yahudi.Jangan sampai kelompok Kristen yang gabung dengan Hamas di Palestina serta orang-orang Yahudi warga Israel yang antipenyerbuan Gaza mendengar idiom itu.
Semua negara-negara Arab sudah dikasih tahu sebelumnya bahwa Israel akan menyerbu Palestina.Dan syukur alhamdulillah mereka tidak berbuat apa-apa sehingga Perang Dunia bisa dihindarkan. Jangan terlalu setia, jangan terlalu bermoral, demi supaya tidak terjadi global war yang menyengsarakan semua makhluk. Israel sangat hafal mengamati "sela-sela air hujan".
Orang sibuk Natal dan Tahun Baru, Obama sudah presiden tapi belum bertugas, jadwal gencatan senjata telah berakhir: maka sebuah "upper-cut" dahsyat dilayangkan ke dagu Palestina. Manusia di gurun itu meraungraung, kita semua manusia di bumi menangis, Chavez mengusir Dubes Israel, pemimpin-pemimpin kita melontarkan rudal kutukan, dan kita rakyat militan berkumpul menyiapkan ilmu kebal melawan peluru tentara Israel,kemudian minta Palestina memfasilitasi keberangkatan kita ke medan perang.
Memfasilitasi itu tidak dijelaskan apakah berarti minta disediakan tiket Jakarta-Cairo PP. Sekarang,karena senapan prajurit Israel dirundukkan dan tidak dikokang lagi, segera kita dangdutan dan ngegosiptainment lagi. Nanti, kalau suara bedil menyalak lagi, kita demo lagi sesaat. Dunia tidak memerlukan penyelesaian tuntas dan mendasar atas permasalahan apa pun yang menimpanya dan yang diciptakannya sendiri.
Source: Seputar Indonesia Kolom Opini, 12 Januari 2009
Saturday, 7. February 2009, 06:58:02
laptop, kontempkasi
5 Februari 2009 sekitar pukul 21.00, ada seseorangg datang. Bukan ke kamar saya melainkan ke kamar “gerombolan Madura”, kamar di mana beberapa teman kuliah sekaligus teman-teman “terbaik” saya untuk saat ini tinggal. Kamar di mana saya biasa menghabiskan waktu untuk ngobrol mulai dari yang serius sampai dengan yang cekakaan. Kamar di mana Ibnu Katsir, Ibnu Sina, Ulil Abshar, Quraish Shihab, Roem Rowi, Karsa-Kaji, dll. didiskusikan sambil tak melupakan mbok penjual gorengan yang istiqamah datang ke asrama setiap senja beserta orang-orang semisalnya.
Orang yang datang itu, tentu saja orang Madura juga. Entah apa yang dia bicarakan dengan beberapa teman saya karena meskipun saya agak paham dengan bahasa Madura, waktu itu saya terkonsentrasi pada tulisan berjudul .... di Majalah Islamia. Namun di sela-sela pembicaraan tersebut disebut pula nama saya. Tak lama kemudian, seorang teman saya menawarkan kepada saya dengan agak sungkan agar ikut dengan orang yang datang itu ke Hotel Santika. Ternyata ada sebuah laptop yang perlu “dioperasi” karena terserang virus.
Say iyakan. Dan setelah mempersiapkan “senjatasenjata” yang saya anggap perlu, saya dan orang yang datang itu berangkat menuju tempat. Keadaan gerimis. Jaket “Mourinho” saya pilih untuk melindungi tubuh saya. Ternyata, tempatnya adalah sebuah kamar di lantai empat.
Sampai di tempat, saya disambut dengan kalimat “Madura...”. Saya tersenyum dalam hati. Hari gini kok masih ada orang rasis. Tapi tak apa. Saya hanya berurusan dengan laptop, bukan dengan Suku, Bangsa, Ras, atau Agama.
Laptop saya cek sebentar. Kasus yang seringkali saya temui, kerusakan yang disebabkan oleh serangan virus Sality dan Virut. Pilihan saya jatuhkan pada CD Mini-PE. Dan benar, seratus lebih file terinfeksi. Sebagian besar repaired sebagian kecil namun urgen seperti explorer.exe, deleted. Tak ada pilihan lain selain install ulang.
Kendalanya, Laptop tersebut “kosongan”: tak ada CD driver nya. Tak berpikir panjang, Windows XP Dark Edition Full Version menjadi pilihan. Dan, barangkali inilah kasus pertama yang saya alami, segala driver yang diperlukan laptop tersebut, dijawab tuntas oleh Windows XP Dark Edition Full Version. Padahal biasanya selalu saja ada yang bermasalah. Terutama pada driver wireless nya. Selanjutnya, beberapa aplikasi saya install, terutama Kaspersky Anti-Virus versi 7.125, dan drive D saya scan kembali. Hasilnya, puluhan virus ditemukan dan dibabat habis.
Secangkir kopi belum habis. Namun pekerjaan sudah selesai. Sekitar pukul 23.00, hotel Santika kami tinggalkan. Selanjutnya, acara makan-makan pun dimulai. Tempatnya di “restoran” perempatan Wonocolo. Jarang-jarang lho saya bisa makan enak, apalagi gratis. Dan itulah yang terjadi. Sambil menunggu pesanan, kami ngobrol. Lumayan enak teman saya ini dalam perbincangan mekipun terkadang juga agak gak nyambung. Teman baru saya ini ternyata bekerja sebagai pengawas domestik di Bandara Junda dengan gaji per bulan 3 juta. Wow, 10 kali lipat dari gaji saya dulu ketika bekerja sebagai operator warnet.
Sebungkus rokok Surya 16 disodorkan ke hadapan saya. Dibuka dan diambil satu oleh teman baru saya ini, lalu menghisapnya. Saya pun mengikuti tindakan yang dia lakukan terhadap rokok tersebut. Karena, sebagaimana yang saya duga, rokok tersebut pun toh pada akhirnya menjadi milik saya.
Acara makan-makan selesai, sebungkus rokok masuk ke dalam jaket “Mourinho” saya. Saya pun di antar ke “kandang” saya: kamar pojok selatan lantai dua Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sebelum berpamitan pulang, teman baru saya ini menjabat tangan saya, dan di sela-sela tangan saya pun diselipkan lipatan kertas yang tanpa perlu saya lihat sudah saya mengerti: uang. Kertas tersebut terus saya genggam sampai ke kamar. Baru saya buka ketika saya merasa sudah waktunya saya buka: Rp. 20.000,-
Jadi, satu setengah jam malam itu, pendapatan saya adalah secangkir kopi + sebungkus rokok + sepiring nasi + selembar uang. Jika dirupiahkan, secangkir kopi bernilai Rp. 2000,-; sebungkus rokok bernilai Rp. 10.000,-; sepiring nasi bernilai Rp. 10.000,-; dan selembar uang tersebut adalah Rp. 20.000,-. Jumlah total sama dengan Rp. 42.000,-.
Tetapi jujur, sebenarnya saya lebih suka seandainya kesemuanya berbentuk uang. Bukan karena saya gila uang, tetapi saat ini saya sedang membutuhkan sebuah printer dan beberapa buku untuk menunjang penggarapan skripsi. Begitulah suasana yang harus diterima jika kita mempunyai kemampuan usaha namun tidak mempunyai tempat resmi. Perlakuan tak resmi pula lah yang akan kita terima.
Namun bagaimanapun, kesemuanya itu tetap saya syukuri. Kesyukuran terbesar adalah, bahwa saya, setidaknya dalam lingkup tertentu, bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. “Bermanfaat” merupakan suatu keadaan yang sangat berbeda dengan keadaan “dimanfaatkan”: suatu keadaan yang sangat saya benci, apalagi “memanfaatkan” orang lain.
Monday, 2. February 2009, 16:20:06
Emha Ainun Nadjib
Beberapa bulan sebelum Indonesia masuk 2009, orang saling bertanya: ”Siapa ya, sebaiknya presiden kita nanti?” Kemudian mereka menyebut sejumlah nama, membandingkannya, memperdebatkannya, atau membiarkan nama- nama itu berlalu dalam dialog yang tak selesai.
Atmosfer dialog tentang calon presiden diwarnai oleh berjenis-jenis nuansa, latar belakang ilmu dan pengetahuan, kecenderungan budaya, fanatisme golongan, pandangan kebatinan, juga berbagai wawasan yang resmi maupun serabutan. Namun, semuanya memiliki kesamaan: perhatian yang mendalam kepada kepemimpinan nasional dan cinta kasih yang tak pernah luntur terhadap bangsa, tanah air, dan negara.
Itu berlangsung ya di warung-warung, bengkel-bengkel motor, serambi masjid, gardu ronda, juga di semua lapisan: kantor-kantor profesional, ruangan-ruangan kaum cendekiawan, istana-istana kaum pengusaha, termasuk di sekitar meja- meja pemerintahan sendiri. Ketika saatnya tiba, mereka memilih: ada yang berdiam diri bergeming dari posisinya sekarang bersama pemerintahan presiden yang sedang berkuasa. Ada yang menoleh ke kemungkinan mendulang harapan ke pemimpin tradisional. Ada yang merapat ke pemimpin yang pernah memimpin dan kembali mencalonkan diri. Atau kepada kemungkinan lain: pergerakan terjadi ke berbagai arah, lama maupun baru. Dan, semuanya selalu sangat menggairahkan.
Memiliki pola kearifan
Rakyat Indonesia, entah apa asal-usul genealogis dan peradabannya dahulu kala, memiliki pola kearifan, empati dan toleransi, serta semacam sopan santun yang khas dan luar biasa. Bagi rakyat, Ibu Pertiwi itu semacam Ibunya, Negara (KRI) itu semacam Bapaknya, dan pemerintah itu kekasihnya. Kekasih yang selalu disayang, dimaklumi, dimaafkan. Suatu saat rakyat bisa sangat marah kepada pemerintah, tetapi cintanya tetap lebih besar dari kemarahannya sehingga ujung kemarahannya tetap saja menyayangi kembali, memaklumi, dan memaafkan.
Rakyat Indonesia sangat tangguh sehingga posisinya bukan menuntut, menyalahkan, dan menghukum pemerintahnya, melainkan menerima, memafhumi kekurangan, dan sangat mudah memaafkan kesalahan pemerintahnya. Bahkan, rakyat begitu sabar, tahan dan arifnya tatkala sering kali mereka yang dituntut, dipersalahkan, dan dihukum oleh pemerintahnya. Itulah kekasih sejati.
Kekasih sejati memiliki keluasan jiwa, kelonggaran mental, dan kecerdasan pikiran untuk selalu melihat sisi baik dari kepribadian dan perilaku kekasihnya. Prasangka baik dan kesiagaan bersyukur selalu menjadi kuda-kuda utama penyikapannya terhadap pihak yang dikasihinya. Kekasih sejati tidak memelihara kesenangan untuk menemukan kesalahan kekasihnya, apalagi memperkatakannya. Kegagalan kekasihnya selalu dimafhuminya, kesalahan kekasihnya selalu pada akhirnya ia maafkan.
Puncak kekuatan dan cinta rakyat Indonesia, si kekasih sejati, kepada pemerintahnya, adalah menumbuhkan rasa percaya diri kekasihnya, menjaga jangan sampai kekasihnya merasa tak dibutuhkan. Rakyat Indonesia selalu memelihara suasana hubungan yang membuat pemerintah merasa mantap bahwa ia sungguh-sungguh diperlukan oleh rakyatnya. Rakyat Indonesia selalu bersikap seolah-olah ia membutuhkan pemerintahnya, presidennya, beserta seluruh jajaran birokrasi tugas dan kewajibannya. Bahkan, rakyat mampu menyembunyikan rasa sakit hatinya agar si pemerintah kekasihnya tidak terpuruk hatinya dan merasa gagal.
Lebih dari itu, meski sering kali rakyat merasa bahwa keberadaan pemerintahnya sebenarnya lebih banyak mengganggu daripada membantu, lebih banyak merugikan daripada menguntungkan, atau lebih banyak mengisruhkan daripada menenangkan, rakyat tak akan pernah mengungkapkan kandungan hatinya itu, demi kelanggengan percintaannya dengan pemerintah si kekasih.
Rakyat sangat menjaga diri untuk tidak mengungkapkan bahwa siapa pun presiden yang terpilih nanti tak akan benar-benar mampu menyelesaikan komplikasi masalah yang mengerikan yang mereka derita. Rakyat tidak akan pernah secara transparan menyatakan bahwa seorang presiden saja, siapa pun dia, takkan sanggup berbuat setingkat dengan tuntutan dan kebutuhan obyektif rakyatnya meski disertai kabinet yang dipilih tanpa beban pembagian kekuasaan dan berbagai macam bentuk kolusi, resmi maupun tak resmi.
Begitu banyak yang mencalonkan diri jadi presiden dan situasi itu ditelan oleh rakyat dengan keluasan cinta. Rakyat melakukan dua hal yang sangat mulia. Pertama, menyimpan rahasia pengetahuan bahwa di dalam nurani dan estetika peradaban mereka: pemimpin yang tidak menonjolkan diri dan tidak merasa dirinya adalah pemimpin sehingga ia tidak mencalonkan diri menjadi pemimpin, sesungguhnya lebih memberi rasa aman dan lebih menumbuhkan kepercayaan dibandingkan pemimpin lain yang merasa dirinya layak jadi pemimpin sehingga mencalonkan diri jadi pemimpin.
Kemuliaan kedua yang dilakukan rakyat adalah jika pemilu tiba, mereka tetap memilih salah seorang calon pemimpin karena berani menanggung risiko hidup yang tidak aman. Keberaniannya menanggung risiko itu mencerminkan kekuatan hidupnya, yang sudah terbukti berpuluh-puluh tahun di rumah negaranya.
Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/06/00324081/rakyat.sebagai.kekasih.sejati
Monday, 2. February 2009, 16:09:59
KONTEMPLASI
Terimakasih kepada mas k4l0nk atas kritik,saran, dan spirit yang diberikan ke saya.
"Anda kali ini beruntung"
Memang, saya dalam hal ini beruntung. Dan semoga saya selalu dinaungi keberuntungan.karena, dengan sedikit pengetahuan yang saya dapatkan secara otodidak dan naluriah tentang per-komputer-an,saya bisa mendapatkan tambahan pemasukan. Padahal, sebagaimana mas k4l0nk pertanyakan "Masa sih toko² komputer ga ada yg bisa menangani ini", di luar sana sangat banyak orang yang kemampuannya jauh di atas saya. nah, kebetulan saja, service-an komputer yang didatangi oleh orang-orang yang akhirnya membawa komputernya ke tempat saya, pengetahuannya sama sedikitnya dengan saya.
Prlu juga diketahui, "tempat saya" bukanlah sebuah counter atau semisal toko komputer. "tempat saya" hanyalah sebuah kamar sesak di sebuah lingkungan agak rusak: asrama pesantren mahasiswa iain susan ampel surabaya.
"100rb itu masih kecil mas"
Bagi saya, 100 ribu adalah besar. Jadi, ukuran besar-kecil sesuatu, sebaiknya kita kembalikan pada diri kita masing-masing.
"Semangat ya... gunakan fasilitas gratis di warnet untuk aktualisasi diri"
Terimakasih. Hanya saja, terhitung mulai tanggal 1 Februari 2009, saya sudah tidak lagi berstatus operator warnet, dengan alasan: praktikum, skripsi,dan hafalan 4 juz Alquran.
"Saya aja belum bisa membangun arsitektur komputer sendiri"
Tampaknya, "darah " sastra saya masih mengalir dalam tubuh kata-kata saya. Sehingga, mas k4l0nk mungkin memahami kata "membangun" sebagai sebuah kesombongan. Saya hanya bermaksud, bahwa Windows-nya, saya yang menginstallnya.
"Saya lupa tuh berapa ratus PC dan Notebook bahkan Mac yg pernah saya tangani. Saya bantu, kemudian lupakan itu"
Saya baru berapa puluh. jadi jelas, kemampaun dan keberuntungan saya jauuuh lebih sedikit dibanding dari kemampaun dan keberuntungan mas k4l0nk.
Saya mengingat mereka, bukan berarti saya pamrih. saya mengingat mereka, untuk saya jadikan sebagai bagian dari kehidupan saya.
"Masa sih? saya menggunakan DarkLite 2008-2009 masih ada kok "Start boot from CD..."
Berikut ini saya sertakan capture dari Windows Dark Edition (Bukan DarkLite, karena saya juga punya CD-nya) "versi lama" dan "versi baru" ketika di autoply. Sekadar untuk menunjukkan bedanya. Dan, Boot from DVD (bukan from CD), hanya ada di versi lama. Saya bisa berkata begini, karena saya sudah cukup lama berinteraksi dengan Windows XP Dark Ediion, versi lama maupun baru.Windows Dark Edition "Versi Lama"
Windows Dark Edition "Versi Baru"
Friday, 23. January 2009, 18:01:54
Windows
Alhamdulillah. Allah tidak pernah dan tidak akan bisa miskin.
Mengapa saya berkata demikian? Di luar dugaan, kerja saya dalam "mengakali" laptop baru milik kakak teman saya, dihargai dengan cukup besar: Rp. 100.000,-
Sebuah rekor bagi saya, karena selama ini, saya maksimal hanya mendapatkan Rp.30.000. Dan minimal, ucapan terimakasih, meskipun ada juga yang tidak mengucapkan apa-apa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Saya sudah lupa berapa buah komputer maupun laptop yang terselamatkan oleh sedikit pengetahuan saya tentang virus, BIOS, Software, dan Windows. Saya juga sudah lupa buah komputer maupun laptop yang "pondasinya" adalah saya yang membangunnya.
Yang jelas, saya tidak pernah lupa kepada orang-orang yang komputer atau pun laptopnya pernah saya tangani. Dan sebaliknya, saya berhusnudzan kepada orang-orang tersebut bahwa mereka tidak akan lupa kepada saya.
Mengapa? Karena mereka biasanya datang kepada saya sambil membawa komputer atau laptopnya dalam keadaan tidak mampu ditangani oleh orang lain. Bahkan ada kasus sebuah service-an komputer, gagal--bahkan menambah lebih rusak--dalam melakukan troubleshooting sehingga pemilik komputer akhirnya membawa komputernya ke tempat saya.
Yang luar biasa lagi, sampai ada seorang kawan baik yang dalam hal "menjaga kelangsungan hidup" komputernya, berkata: aku tidak bisa hidup tanpa Faishal. Saya sebagai orang yang dimaksud, hanya bisa tersenyum sambil mengingatkan: hanya Allah saja yang berkuasa atas kehidupan. Kesedikittahuan saya tentang tetek bengek komputer, tak lain adalah kehendak dan kuasa Allah belaka. Kehendak yang tidak pernah saya mengerti, karena windows, virus, software... Sangat tidak sejalan dengan studi saya saat ini: tafsir hadits.
Kembali ke laptop kakak teman saya yang saya akali, kasusnya adalah laptop tersebut sudah sedemikian rupa disetting untuk hanya bisa "hidup" dengan Windows Vista atau Linux. Sehingga, Windows Dark Edition gagal menjalankan "tugasnya". Saya coba dengan Windows XP SP 3, juga gagal. MiniPE pun gagal. Akhirnya, Windows X-Code saya coba.
Luar biasa. Windows "buatan" Indonesia ini ternyata bisa. Hanya saja, sebelumnya, settingan di BIOS saya ubah, yaitu pada settingan SATA nya: dari AHCI ke IDE.
Anehnya, pada bagian pemartisian, di layar telah ada dua bagian: E dan unpartioned. Berhubung teman saya meminta agar laptopnya menggunakan Windows Dark Edition, setelah Windows X-Code terinstall, CD Windows Dark Edition saya masukkan dan restart untuk booting. Tapi... gagal. Layar blank.
Otak saya putar. Saya menduga bahwa kegagalan terjadi karena fitur boot otomatis nya Dark Edition versi baru yang mana tidak ada "Press Enter to boot from DVD". Ingatan saya melayang ke CD Windows versi lama yang sudah berada di tumpukan "koleksi CD rusak" di lemari saya. CD "rusak" tersebut saya masukkan sambil berharap keberuntungan... Restart, dan... Dugaan saya tidak meleset. Dark Edition Full Option version terpasang dengan baik.
Ternyata, pekerjaan saya belum selesai. CD driver bawaan laptop, ternyata "vista Only". Sehingga, laptop yang rencanaya mau dibawa malam itu juga, terpaksa menginap di lemari saya karena ada satu proses kerja lagi: download driver ACER Aspire 4730Z for XP.
Ternyata, ada juga orang yang "baik hati" menyempatkan diri meng-upload file driver yang saya cari sehingga tahap akhir kerja saya tidak menemui kesulitan berarti.
Belum selesai. Keesokan paginya, dalam keadaan belum tidur semalaman karena ngetes wireless laptop tersebut, pukul 04:52, sebuah sms dari pemilik laptop meminta saya untuk mengantarkan laptop tersebut ke tempatnya: Perumahan Trosobo Indah. Saya maklumi, karena Allah memberinya sebuah "kenikmatan": sakit thypus.
Demikianlah ceritanya. Saya tidak sedang mempromosikan diri, tidak pula sedang berimajinasi. Saya hanya menuliskan hasil sebuah kontemplasi.
Monday, 19. January 2009, 21:33:18
Internet
Pengen punya website, saya kemudian mengumpulkan informasi. Akhirnya bertemu dengan CO.CC dan 000WEBHOST.
Selanjutnya saya ikuti petunjuk-petunjuk dari beberapa blogger dan wordpresser yang telah lebih dulu tahu tentang dua hal tersebut. Akhirnya jadilah "Website Saya". Meski saya belum bisa memastikan bagamana selanjutnya, sebab sampai dengan posting ini saya turunkan, masih berstatus "Under Construction".
Klik di sini untuk mengunjungi website saya he... he...
Terimakasih atas kunjungan Anda.
Monday, 19. January 2009, 21:19:54
PCMAV
PCMAV 2.0 yang digembar-gemborkan "sejak dulu kala" akhirnya berhasil saya dapatkan.
Kemarin malam, baik yang terintegrasi dengan ClamAV maupun yang tidak, telah saya coba. Tampilannya menarik, tapi kurang tahu dengan kualitasnya. Karena PC saya sudah sangat aman dengan Kaspersky AV 7.0. Hanya saja, pas saya coba di komputer user di warnet saya, keanehan terjadi (pada PCMAV 2.0 terintegrasi). Setiap kali (saya coba dua kali) selesai proses download update-an, komputer restart sendiri dan... koneksi dengan komputer server terputus.
Founding father PCMAV, apakah memang dirancang begitu?
Download PCMAV 2.0 (Without Integration)Download PCMAV 2.0 (integrated with ClamAV) - Maaf, link belum tersedia
1 2 3 4 5 ... 19 Next »
Showing posts 1 -
10 of 187.