My Opera is closing 3rd of March

PASUK WETUNING DASAK SARE : Ardeka Balian Aga

Mantra Meditasi 9 Penjuru

Fiksi Mantra dalam Lipatan Sejarah

, , , ,

Dukun berasap kemenyan Temenggong....wayang kulit jadi sebutan, bunyi rantai di pelabuhan semakin kencang, anak di buai ditinggalkan, ibu terjaga ... sang pedanda membawa tikar menganyam ketupat duduk bersila, rapat kaki terbukak paha. Sang mustika pembawa pelita masuk ke kamar buang senjata di kata pusaka...

Fiksi Mantra dalam Lipatan Sejarah

Susunan ARDK2011

Apabila sejarah dalam fiksi, sanskreta berpuisi, mantra bercermin :

Betapa hebat cermin ajaib Sang Nila Utama tidak diberitahu makrifatnya sehinggalah cerita hanya di takok Temasek di Langgar Todak. Parameswara di tukar cerita, budak pintar di bunuh, tiada yang paham sebalik ayat pendua, alam gemuruh meminta hujan. Jangan kau simpan, si anak bunian, si cucu panglima si waris alam, gema mantra melingkari sumpah janji tertumpah darah mengalir di Laut Cina ke Selat Sunda lepas ke Lautan India melewati Selat Bali dan Solomon. Makrifat hikayat bunyi rantai waktu malam di pelabuhan Singapura tidak dipaham oleh pencetek-pikir budaya, apakan daya mata di silap, petaka di tuba. Cermin ajaib ditinggalkan. Maka dikatakan rantai terus berbunyi waktu malam berhantu sampai ke hari ini, bunyi yang menuntut janji untuk berbalas dendam. Bunyi yang menghantui. Cermin ajaib di keluarkan semula dengan tongkat sakti si dukun terbang malam dengan mantra dan jampi. Alam Melayu dicerminkan. Tiada siapa yang memahami, malam menjadi sepi. 100 tahun sejarah kembali, tok jampi timbul fakta sejarah. Dukun berasap kemenyan Temenggong, kain pelikat naik ke pasung, anak di buai berduyun-duyun. Hebat si cermin, muka tok dalang kelihatan, wayang kulit jadi sebutan, bunyi rantai di pelabuhan semakin kencang, anak di buai ditinggalkan, ibu terjaga padi nak di tuai habis terbakar. Dulu, sang pedanda membawa tikar menganyam ketupat duduk bersila, rapat kaki terbukak paha. Sang mustika pembawa pelita masuk ke kamar buang senjata di kata pusaka, ketam di sikat kayu belati dikata membantai penjajah durjana. Cermin berkata, di mana ajaibnya, wajah mu nampak tidak bercahaya, panggillah dukun asaplah kemenyan bukak lah daku gempala berita, geger lah aku pecah lah kaca. Itu lah berita saat kau baca penulis di upah menjadi sampah di tulis dalam sejarah, berita kau tahu yang benar di dalam rumah, istana pustaka segala manusia, sayang tak mudah janji kau sumpah, berita kau tahu, diam kau bisu. Pedanda hadir, 100 tahun memuja, tikar mengkuang di buka, kemenyan di asap, suasana gelap, cermin didirikan di samping buai anak mintak di dukung, Pedanda senyap. Cermin berkata.

Nota ARDK2011





Sekularisma, Perjanjian, Ketetapan Fakta sejarah, kesuburan minda, kebangkitan rakyat

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28