PASUK WETUNING DASAK SARE : SYAWAL BENING
Sunday, September 4, 2011 12:02:58 AM
Bunga rampai budaya berpikir positif suku-suku bangsa:
Aceh, Bali, Banjar, Batak Toba, Betawi, Bajau, Bugis yang 4, Buton, Dayak, Flores, Gayo, Jawa, Madura, Mandailing, Melayu, Cina, India, Singh, Pathan, Malayalam, Minang, Suluk, Sasak, Sunda, Iban, Murut, Bidayuh, Kadazan, Dusun, Melanau, Semai, Senoi, Ulu, Perak, Siam, Pattani, Kampuchea, Australi dan Kariba.
Aceh, Bali, Banjar, Batak Toba, Betawi, Bajau, Bugis yang 4, Buton, Dayak, Flores, Gayo, Jawa, Madura, Mandailing, Melayu, Cina, India, Singh, Pathan, Malayalam, Minang, Suluk, Sasak, Sunda, Iban, Murut, Bidayuh, Kadazan, Dusun, Melanau, Semai, Senoi, Ulu, Perak, Siam, Pattani, Kampuchea, Australi dan Kariba.
File : PASUK WETUNING DASAK SARE 02092011
PASUK WETUNING DASAK SARE : SYAWAL BENING
Mantra Meditasi 9 Penjuru
Kemanusiaan itu relatif, dan subjektif.
Timbul dari jiwa dan kejiwaan.
Mana mungkin kita mengatakan kebinatangan saat kita ber-jiwaan kasian kepada binatang, pet, ternakan, belaan.
Atau, kehantuan.
Kita sebut kemanusiaan, antara kita yang...bisa berbicara.
Hadir kita di sini sangat relatif dan subjektif.
Jangan tak-endahkan telefon saya jika saya masih menghubungi Tuan, Puan, Dato, Datuk, Tan Sri, Puan Sri, Tuanku, Tengku, Raja, Sultan, Agung, Bapak Presiden.
Bedanya kita ialah pada mata, telinga, mulut dan poket.
Penulisan yang relatif dan subjektif itu terkait sangat dengan kejiwaan. Andainya, si Isteri yang keluar rumah meninggalkan keluarga tersayang, pasti ada hambatan dan cabaran peribadi, tak perlu dikesahkan, elakkan kita dari subahat dan fitnah.
Apakah ilmu dari pandangan mata setiap insan yang berupaya kejiwaan kemanusiaan pada saat dia melemparkan hujah atas meja dan ke muka manusia di depan, belakang kiri dan kanan seperti doa yang bertempiaran maksudnya di masjid, gereja, kuil dan bawah pohon beringin. Satu. Hanya satu tujuan, supaya, agar, mungkin, yang rendah itu untuk di nekmati bahasa sebutan si pembaca dan penilaian kompetensi bertutur dan fakta yang tertulis terlontar dan terlukiskan di wajah nya teman, kawan, rakan dan taulan. Yang tertinggi itu ialah pengumpulan ilmu, penampungan pendapat kata hikmat dari sebutan fakta dan hidayah.
Hadirnya kita di sini di aduk-gaulkan bersama semua adalah syarat kemanusiaan yang ril, realitas kehidupan yang wajib kita duduk dan meng-amati, demi melihat perbedaan antara kita, bagai satu indikator kemanusiaan yang mahu disampaikan oleh setiap manusia yang punya, yang tidak punya dan yang akan punya. Tidak semestinya kita sokong kepada sesiapapun jika sesaorang itu lemah, rusak, merusakkan mau nya kita, tetapi, wajar kita dengar kenapa dia bisa jadi rusak, dirusakkan, dan jatuh lembek di depan kita.
Apakah kita punya kemanusiaan. Sering kita melihat fizik sains menyatakan ikan besar makan ikan kecil dan pada saatnya pertama kali si anak kecil diceritakan kepada mereka subjek itu, mereka akan bertanya, ... "kenapa?", yang terhambur keluar dari mulutnya. Seringkali saatnya kita di mobil dan pesawatnya tidak membuka pintu otomatis kita bertanya, ''kenapa'', dan terhambur keluar caci maki kommentar dari mulut peribadi yang membayar belinya mobil itu.
Hadirnya kita di sini tidak berbayar dan tidak semestinya juga kita wajib mendengar apapun kata manusia sebab ~ kita ada satu soalandi belakang tempurung kepala kita ..."kenapa ?".
Setiap yang ada bersama kita akan pergi, setiap yang haus akan di basahi, setiap yang di genggam ada jugak terlepas bayarannya walaupun tanggungjawab kita sudah dituntaskan dan usai kerja, genggaman akan lepas-genggam. Perkenalan kita hanya sekali, tetapi hidup bukan sekali. Saya tidak berhajat menggurui sesiapa di sini, atau teman-teman yang saya bawa masuk ke grup ini, melainkan hanyalah menunjukkan bahawa, hidup bukan sekali, masih ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan ke seribu satu jenis dunia di luar sana yang siap menanti ..... kehidupan kita dan kemanusiaan.
Andaikata hilaf saya itu besar, jabat tangan genggam hangat ini membara, keluarlah dan tinggalkan dari grup ini, jangan dihiraukan mereka, dan maafkan saya yang menitip semua dari lingkungan saya ke sini.
Andaikata tiada lagi hub telefon dan maunya rasa bersua lagi, apabila timbulnya curiga, maka lafazkanlah perkataan kalimah akher yang di munajatkan oleh baginda Rasul Muhammad sebelum dia meninggalkan Mekah dengan pesan. Kehausan saya ada minumnya di sini, Kelaparan saya ada makannya di sini. Mungkin juga saya akan melepaskan, saatnya saya sudah kekenyangan, andainya saat itu sampai (andaikata) pabila saya tiada lagi kemanusiaan. *(Reg#463)
Nota September
Bunga rampai budaya berpikir positif suku-suku bangsa:
Aceh, Bali, Banjar, Batak Toba, Betawi, Bajau, Bugis yang 4, Buton, Dayak, Flores, Gayo, Jawa, Madura, Mandailing, Melayu, Cina, India, Singh, Pathan, Malayalam, Minang, Sasak, Sunda, Iban, Murut, Bidayuh, Kadazan, Dusun, Melanau, Semai, Senoi, Ulu, Perak, Siam, Pattani, Kampuchea, Australi dan Kariba.
Nota : ARDK2011



