Pencarian Syariat Musafir I II III
Monday, September 5, 2011 9:37:37 PM
Arab dari Bani Quraisy mengajar pewaris bungsu subjek pembagian harta. Di dengar dan di jawab.... "Tak mungkin lah aku sorang lelaki yang punya upaya mau aku rebutkan dari saudaraku yang perempuan, yang lemah. Tak mungkin lah aku akan patuh pada ajaran kamu sesuai adat agama kamu kecuali aku hibahkan kepada wasiat uang simpanan ibubapaku itu sesuai mahunya mereka untuk melihat harta mereka dibagikan kepada orang fakir lagi memerlukan, sementara tanah yang ada itu janganlah dipecahkan kepada bagian kecil tetapi disiapkan tanah itu untuk saudara-saudara yang tidak punya rumah dan dialah yang menjaga harta itu ke anak cucu ibuku."
PENCARIAN SYARIAT MUSAFIR : HUJUNG RAMADHAN I
BERAPA YANG CUKUP ITULAH YANG CUKUP
Dalam pen''carian'' kepada Nya, membawa saya ke Nagoya Jepang, ke hujung tanduk pulau utara Jepang. Berbeda dengan pengalamannya saya waktu pen''carian'' yang bermula titik di Doha, di daerah benua sana. Berbeda juga saatnya di daerah Afrika. Si Guide Jepang saya itu, menjemput saya dari Malaysia ternyata pengamal Buddha. Saat tiba di sana, tiba-tiba, dia jadi tidak banyak bicara, lain caranya waktu mula jumpa di Malaysia. Dia lebih diam di sana. Perjalanan kami itu sepi, sepi bgt. Waktu dikejut saya untuk bangun tdur juga dia hanya menggosok kaki nya ke jari kaki saya. Tiada suara. Saat kami bertemu dengan beberapa kepala kampung di sana, akhirnya saya sampai ke destinasinya, di Shinto temple yang agak lama, dalam daerah sepi hutan/gunung. Saya diberikan sekeping kertas/card. Tertulis sesuatu di atasnya. 15 tahun sebelum saya ke Jepang itu, saya telah diberikan sepotong ayat yang sama, oleh temen saya di kantor, seorang Jepun, tapi pada kali ini ianya sama ---tertulis di atas kertas yang di beri oleh guru pengamal Shinto. Tapi kami tidak berbicara sepatah kata pun. Saya bertanya dengan guide saya, dia diam tapi membawa saya pulang ke Tokyo secepatnya.
Di Tokyo, saya diketemukan di acara dinner private bersama sesaorang, dan dia ialah pengamal Shinto, bedanya dia tinggal dalam lingkunagn kota, dan ahli korporat. Diterangkan maksud tulisan di kertas dan banyak lagi card mula melayang terbang di sekitar kamar begitu dia membaca apa artinya Shinto dan "tulisan" yang sama dengan ''sepotong'' ayat yang saya terima 15 tahun sebelum itu. Ternyata kebetulannya, saya di bawa ke Tokyo pada malam Lailatul Qadar. Sehingga 1 Syawal, kemudian saya kembali ke KL. Pengalaman ber''hijrah'' itu yang dalam sepi selama hampir 30 hari itu, apa yang saya dapat selain dari bahan buku yang saya maukan, saya telah bertemu dengan tamadun "sepi" tapi "melakukan". 30 hari rasanya saya berbicara dengan orang hanya kurang dari 100 patah perkataan.
Setibanya saya dipulangkan ke rumah bersama anak saya, guide saya tadi menyatakan kesyukuran dia dan memberi nasehat terakhir kepada saya seperti ini ..."Apakah yang cukup dalam ke-cukupan, maka baiknya kamu diam jangan berkata apa pun kepada anak kamu, selain dari memimpin tangan mereka, tunjukkan jawaban kepada persoalan yang ditimbulkan oleh mereka..dan kamu diam, pimpin mereka" ... Sejak itu, guide Jepang saya pergi.
Apa pelajaran di sini ialah : Antara Doha, Afrika Utara dan Jepang, banyak bedanya. Sebutan ''Insyallah" itu banyak di Doha kerna budaya, dan "pimpin" fizikal yang menjadikan itu, banyak di Jepang.
Saya, hanya manusia biasa yang menyesuaikan apa maunya lingkungan saya. 6 bulan kemudian, ibu saya meninggal, sesuai firasat jelmaan kata guru Shinto itu, "apa yang cukup sudah dia cukup"...kebetulan.
Alfatehah buat Almarhum Ayah Bonda ku, Ummah, Rasul, dan makanan Mu Ya Allah Azza Wajalla.

PENCARIAN SYARIAT MUSAFIR : HUJUNG RAMADHAN II
KEMUNGKARAN HARTA
Tak mungkin lah kita seorang lelaki berebut harta si ibu atau bapa yang telah meninggal sebab itu bukan harta kita yang kita bangunkan kecuali itu ialah harta makbapak. Kerna, sebaga lelaki, bisa aja mencari kehidupan sendiri sebab lelaki seharusnya kuat, dan bisa bernikah sama wanita kaya. Dan. nasib baik ibubapanya yang meninggal itu dia punya harta dan nasib baik manusia ada agama. Maka harta selepas kematian sesaorang bisa dibagikan samarata kepada pewaris yang ditetapkan. Ada hukum pembagiannya.
Maka datang pada si bungsu seorang Arab dari Bani Quraisy mengajar pewaris bungsu subjek pembagian harta. Di dengar dan di jawab.... "Tak mungkin lah aku sorang lelaki yang punya upaya mau aku rebutkan dari saudaraku yang perempuan, yang lemah. Tak mungkin lah aku akan patuh pada ajaran kamu sesuai adat agama kamu kecuali aku hibahkan kepada wasiat uang simpanan ibubapaku itu sesuai mahunya mereka untuk melihat harta mereka dibagikan kepada orang fakir lagi memerlukan, sementara tanah yang ada itu janganlah dipecahkan kepada bagian kecil tetapi disiapkan tanah itu untuk saudara-saudara yang tidak punya rumah dan dialah yang menjaga harta itu ke anak cucu ibuku." Pak Arab Bani Quraisy tergamam dan menunjukkan GIGI nya.
Namun saudara perempuan menghadapkan isu itu ke mahkamah Malaysia untuk pembagian dan mereka di marahi oleh si hakim, kerna si bungsu gak hadir di mahkamah. Begitu selesai arahan pembagian, si bungsu menetapkan wang yang ditetapkan dibahagian nya dihibahkan kepada fakir, dan tanah yang ditetapkan itu di simpan atas maksudnya ibubapa mereka. Perhimpunan keluarga diadakan selang beberapa hari bertemu si bugsu. Saudara perempuan hadir disaksikan oleh suami-suami mereka, ada yang berpangkat dan memiliki hartanah yang lebih banyak dari apa yang dibagikan oleh ibubapanya, dan seorang menuntut bahagianya itu sah kerna bapaknya berhutang 1/200 nilai hartanah semasa mau kerjakan haji. Seorang lagi saudara perempuannya bilang sah bagiannya kerna dia membelanja 1/100 nilai hartanah kerana bina pagar keliling rumah. Dan masing-masing yang lainnya punya alasan syarat sah hak mereka.
Si bungsu bangun dan memberitahu kesemua saudaranya :
"Sedangkan kamu ke universiti berseronok dan belajar tinggi, aku si kecil menolong bapa yang tua di kebun dan hasil itu kami tak pernah guna untuk kami selain dari berbelanja untuk sekolah kamu, sementara kami hanya makan nasi berlauk garam. Kamu perempuan dan bernikah kepada lelaki yang miskin, dan kemudiannya jadi kaya berstatus, suami yang tinggi darjatnya, Dato, Tan Sri, Wakil Rakyat, Doktor dan Pemilik bank, dan kekayaan kamu setiap satunya melebihi harta si ibubapa kita, tapi ibubapa kamulah yang telah membelanjakan wang modal untuk kamu memulai hidup untuk berharta. Sedangkan aku sorang yang tiada, kerana umurku yang jauh beda dan persaingan hidup amat tertekan sekali malah sekolah universiti ku di tanggung sendiri kerana agama kamu, sedangkan aku minta bantuan dulu kamu tidak pernah memberi, malah agama mengajar kamu mengatakan segala arahan itu dari suami maka kamu kena patuh pada suami sedangkan waktu itu ibubapa kita sudah tidak berdaya, dan kamu semua tiada pernah membantu aku. Wahai saudara-saudaraku yang perempuan, kubur kamu ialah kubur kamu, agama kamu adalah agama kamu, kau peliharalah kemahuan suami mu dan ingkarlah kamu dari pesan amanah orangtua mu. Sesungguhnya mulai saat ini aku keluar dari garis pemisah kita berkeluarga, kerna aku tidak lagi bersubahat dengan kamu, dengan acara agama kamu dan saatnya kita akan bertemu di neraka, aku tak akan mengampunkan kamu keluar duluan dariku."
Sahsiah Jumaat Pribadi : Hujung Ramadhan 1432 Hijrah
Hadiah untuk si gembala. Hadiah untuk si peminta sedakah. Hadiah untuk yang sudah bernikah wanita yang kaya hasil dari kebun bapa mertuanya.
Alfatehah buat Almarhum Ayah Bonda ku, Ummah, Rasul, dan makanan Mu Ya Allah Azza Wajalla.

PENCARIAN SYARIAT MUSAFIR : HUJUNG RAMADHAN III
PERTAPHAAN RINDU
1.
Setiap percikan air itu aku hitung jatuhnya di betis, terasa dingin dan sejuk, mungkin hanyir airnya. Seluar ku aku jinjing di lutut untuk elak air percik ke kaki seluar. Kaki-kaki meja deretan sebelah laluan pejalan kaki juga terkena simbahan air itu. Selipar yang aku pakai juga terbenam di paras satu senti. Langkah aku terhenti-henti, terhenjut-henjut kaki aku melayan arus air yang semakin banyak mendatangi dari arah depan. Aku lupa membawa kamera untuk merakam suasana. Air semakin menaik ke selipar ku. Pucuk depan selipar mula melawan tantangan air dan percikan menjadi semakin banyak naik ke betis. Aku tak dapat menahannya. Ibu jari ku terasa agak tenggelam dan kuku ibujari kaki kanan sudah mula terasa seperti di gigit semut hitam. Dingin betul air ini. Aku menghentikan langkah. Air yang di simbah menerpa banyak ke buku lali. Dingin.
2.
Terjatuh terurai rambutku yang panjang saatnya aku mula tundukkan kepala ku ke depan, melangkahi ruang gua yang rendah di mulut nya, tak mungkin bisa kita berdiri tegak melangkah masuk ke pojok sana. Kangkang ku menapak berjalan itik. Kerikil batu di lantai terasa tajam di tapak kaki yang tidak di lapik kasut, telanjang menjajaki perjalanan. Colok pelita cahayanya berjoget di dinding gua yang semakin mengecil, bebayang badan semakin besar menyimbah menjadi wayang. Ruang roma semakin mengecil menghirup udara yang semakin menipis, tajam terasa. Di elak kepala aku senget ke kiri bendul batu pertama aku lewati, kedua dan ketiga, mata hitam ku semakin membesar untuk melihat yang di depan, dan tangan kiri ku yang memegang pelita di unjur ke belakang agar aku bisa melihat tapak langkah menuruni muka pintu gua ke lembah dalam, di depan. Dalam gua ini. Lembahnya jauh ke bawah. Besar gua ini, cantik pasir nya. Cahaya remang subuh mula menerpa di lubang atas gua, dinding nya mulai bewarna ke emasan. Alangkah indah jika aku bisa rakamkan situasi dengan fotografinya. Itulah kekuasaanNya. Keindahan mata hanya pada mata. Pelita aku padamkan. Aku di dalam gelap. Aku yang di beri izin melihat. Allahhhh Akbar.
3.
Jatuh sampul surat ke meja ku, punya stempel dari kantor majlis daerah. Empat kali empat inci besarnya, putih, masih keras kertas tiada satu tanda ianya di robek orang. Tangan ku masih diam tak mau menyentuhnya. Mataku hanya membelai ayat dan typo yang tertera nama ku jelas hitam pekat warnanya di bahagian yang jauh tiga kaki dari paras mataku tapi masih bisa aku lihat, ia di atas sampul surat yang satu lagi ada di bawahnya. Jalur-jalur halus membelangi muka sampul, menunjukkan kualiti kertas ini dari mutu yang baik, terpegun aku melihat nama ku siap dengan statusnya aku di kantor. Retina mataku memfokus kecil ke besar ke kecil semula membaca setiap titik ejaan nama ku. Cahaya putih lampu mentol meja tulis ini sangat membantu walau pun kertasnya putih yang sudah cukup bisa menonjolkan tinta hitam yang memahat namaku di situ. Tangan ini masih belum mau bergerak mengambil. Aku masih bermain mata membaca sampul putih ini. Bersih.
4.
Berbuai dia melayang turun ke kiri dan kanan, angin yang meniup sepoi bahasa membantu dia menari gembira. Secebis hijau kuning warnanya aku hanya memeluk tubuh menanti saatnya dia turun sampai kepada ku. Mendung remang senja sekeliling hanya membantu acara tariannya di buai perlahan, menyanyi lembut, sentap jatuh perlahan dan laju dan buai perlahan, semakin laju melayang di udara. Speda motor lewat di belakang ku sempat aku elak di lorong kecil batas menghala ke bendang depan. Pesawah mericik tangkai padi yang mau di potong sebelum senja hadir. Kejauhan aku rasa layangan ini belum tiba. Aku mendongak lagi. Jauh. Melihat dia menari bersama bayu yang menyisip ke telingaku, bersama angin timur yang paham bahasa jiwa ini. Layangan mu akan hadir di kaki ku. Entah bila se saat nanti mungkin. Tersilau aku di mata kiri cahaya mentari menyucuk sudut retina, mulai bergerak sinar nya mau nyembah bumi senja. Layangan mu aku tunggu. Tarian mu akan terhenti, di hati ini. Di bawah Pohon Beringin ini aku tetap abadi. Menanti.
Nota ARDK2011



