Penyucian I II III
Monday, September 5, 2011 9:04:22 PM
Semacam timbul, dari biru ke warna emas bercahaya bagai mentari pagi, mengingatkan aku waktu umurku 7-8 tahun di ruang dapur rumah bersama ibu.
" لا إله إلا الله"
Dengan di apit nama Muhammad di kiri, dan Allah di kanan, dan ***** di bawah.
" لا إله إلا الله"
Dengan di apit nama Muhammad di kiri, dan Allah di kanan, dan ***** di bawah.
PENYUCIAN I
Loteng dapur memberi ruang cahaya mentari pagi masuk nyelinap panah lurus menempel ke lantai. Asap kayu api yang aku belah setiap Jumaat bersama abang ipar aku membantu cahaya bagai di garis lurus keras, semacam tongkat. Aku terlonjak bermain mencapai garis yang tertinggi. Di pojok sana aku barusan selesai membantu siapkan bunga rampai, banyak sekali di mata kala umur 7-8 tahun itu.
"Untuk apa ni, mak ?" ...sedang dia sibuk memasak kuah sop daging, periuknya besar.
"Ye le, itu abah ko punye. Nanti kita bagi-bagi orang datang. Ko letak di setiap sudut rumah, kat atas lantai cukup" ... katanya sambil mengelap peluh dahi.
Sekejapan abah aku menarek tangan aku dan kami melangkah ke belakang rumah memintas laman tetangga mau ke pasar. Lengan besar bapa aku tak dapat aku tepis, kulitnya yang putih-kuning dan tingginya lebih 6 kaki itu hanya bisa aku lihat dadanya saja yang bidang. Tak puas aku memandang mukanya, hanya hidung saja yang kelihatan tinggi panjang dari bawah.
"Kenapa nama dia lain bah, ada Raden, kenapa abah tak ada"
"Biarkan die, die cuma mengaku, die tak patut ade sini"
"Kenapa, abah tak mengaku?" aku menyentak tangan dia. Dia berhenti dan bercangkung, di tepi ada pohon ros di laman orang, dia memetik setangkai yang berwarna putih, di berikan pada aku.
“Kite tak boleh ngaku, nanti kene bunuh” … melangkah dia mengheret tangan aku yang kecil.
“Siapa nak bunuh?” …aku terus pegang bunga tu dan dia menjawab
“Nama kite lebih dari die, kite Agung” … aku tak pernah mendapat jawaban soalan akhir itu dengan sepenuhnya.
“Tapi janji jangan bagi tau orang di mane abah ade”
40 tahun berlalu dengan pantas. Dia pergi. Aku tak tahu bahasa Jawa. Kami di larang keras belajar bahasa itu oleh bapa ku. Pagi itu, aku duduk diam menganyam daun kelapa untuk buat bunga rampai. Di bawah pohon besar itu aku bisa jadi paham lagu yang di mainkan di pura, yang ada di depan rumah ku. Apakah benar apa yang aku dengar ini.
Pengunjung siang hadir dari Jakarta kota megapolitan. Beg putihnya di pegang erat. Kami berbual dan dia mengisahkan keadaannya dan lingkungan Betawi di yayasan nya. Aku senyum mendengar. Suaminya duduk jauh di sudut sana, memerhatikan isterinya yang rapi kebaya cantik mulus itu berbual mesra dengan aku. Terkadang tangannya tersentuh mengusap-ngusap tanganku yang sangat dekat letak duduknya seperti kami bisa aja berbisik. Suaminya mencuri pandang tapi didiamkan. Tangan aku jadi gigil dan menuding jari ke tas nya yang tertutup rapi. Sesaat, dia terus menitis airmata.
“Bagi kan pada saya yang di dalam tas itu, yang berwarna putih berikat biru itu. Aku mahu liat tinta nya. Itu milik saya.” … ucapan ku lembut dan terasa pusing di kepala. Dia segera membuka dan berikan kertas yang bergulung, berikat, seperti sertifikat.
“Saya maukan saksi sebelum saya membukanya”…anak-anak di sekeliling cepat tempiaran mencari ponsel dan menghubungi. Maghrib kami berangkat. Malam itu kami bermain sakthi. Sepupu kepercayaan ku ada di sebelah kiri memerhati.
“Tunjuk keliling, siapa yang bisa baca” …kata si tua yang buta, sambil di ramas langsir kamarnya, dan menghentak ke lantai, geger lantai rumah simen itu, aku mendongak, langsir dah jadi semacam keras kayu jati lama, tongkat. Aku tunduk. Saatnya sampai ke isteri orang itu, dia mengaku itu miliknya dan terus menangis tak mau di serah ke orang sebelah yang patut membaca. Semua menggeleng tak bisa baca. Saat nya untuk aku sampai. Tulisannya yang cakar ayam tadi, semacam timbul, dari biru ke warna emas bercahaya bagai mentari pagi, mengingatkan aku waktu umurku 7-8 tahun di ruang dapur rumah bersama ibu.
" لا إله إلا الله"
Dengan di apit nama Muhammad di kiri, dan Allah di kanan, dan ***** di bawah.
Si tua buta melontar "Itulah bapa mu" ... sesuatu jatuh kepada aku dan kami bermain. Dia menghentak lantai sekali lagi dengan tongkat nya dan permainan di lanjutkan. Malam itu kesemua kami kecapean. Lewat subuh aku pulang ke rumah, Pak Made Abdul ***** tetap menunggu ku dalam gelap di banjar rumah, dia lah yang sepatutnya menjadi bapa mertua ku, tapi tak menjadi, dan dia terus patuh menanti. Kaki ku di cuci nya begitu aku masuk langkah pertama.
Bunga rampai menanti aku di segenap ruang kamar ku yang di penuhi cahaya lilin.

PENYUCIAN II
"Kalo begitu baeknya bapak dipindahkan ajja" ...
Pelayan langsung membantu aku.
"Diam di sini ajja sampe upacara nya. Kalender masih lamma" ... setibanya aku di usung tak bisa berjalan, aku cuma mendengar perbualan Pak Gusti dan Agus.
Setiap malam si Ketut mendatangi aku dan meraba, mengubati, dan pada malam yang akher, aku bisa duduk dan berbual sama tamu-tamu yang hadir. Kami membicarakan soal ketuhanan dan dewa. Mentol lampu yang di atas kepala aku, dari banyak-banyak lampu di dalam rumah itu, tiba-tiba terpadam. Pak Gusti bergegas menyucikan diri dan terus bersembahyang. Kami terdiam. Kamar mula bergema dengan tetamu mula membaca mantra.
Subuh menjelma dan aku membantu mereka dengan persiapan. Perjalanan kami ke desa hanya memakan masa 45 menit. Agus yang memandu dan kami singgah di pemukiman. Sudah lama aku tak ketemu ibu tua yang menjaga rumah belanda peninggalan keluarga besar. Ibunya Pak Gusti terus memperkenalkan aku kepada menantunya yang perempuan, iaitu balu kepada arwah anak lelaki nya, iaitu adik Pak Gusti yang baru meninggal. Pak Gusti tahu aku tak semudah berkata apapun di saat kali pertama jumpa. Anak babi berlari di belakangku, comel Biru nama nya. Aku di bawa naik ke banjar rumah, upacara dijalankan, aku dipersiapkan. Malam itu mereka bersembahyang. Aku baring di pelantar kayu lama rumah padi se usia 200 tahun itu.
Subuh menjelma lagi. Aku dipersiapkan oleh si Putu dan ibu tua Pak Gusti. Mantra pagi dikumat kamit mulut ku. Aku mengadap ke kiblat. Aku sudah mula boleh berjalan.
"Bapak okay ?" tanya si Putu, balu yang tadi. Tangan nya lembut memegang perutku dan memapah aku naek ke mata tangga pertama. Agus menyusul dari belakang. Tangga semakin tinggi menaek. Pohon besar adalah matlamat mereka. Aku di tarek ke banjar paling belakang di pura itu. Sekejapan aku di bisik dan bersama Pak Gusti dan Agus, kami masuk ke dalam batu.
Tiada perbualan yang disampaikan dan dihujahkan.
Gunung menyambutku, di tebing sawah yang mula menguning dan merah di sirami cahaya langit remang fajar subuh. Air di kali meraung kuat bunyinya seperti jatuh ke lurah tebing yang tinggi. Tanah Jawa Surabaya Gunung ***** menjadi saksi. Aku tidak sangsi. Pak Gusti dan Agus masih di situ, mengangkat sembah di depan aku dan membaca mantra. Pesan datang memberi salam dan meminta aku pulang dan selesaikan urusan yang di Muar, di situlah punca segalanya.
Sesaat, aku terjaga dan di ajak keluar dari batu. Upacara dijalankan, Putu menjadi menurun dan menghikayatkan kesah Legian Jawa dan Legian Bali, Majapahit dan Kerajaan *****.
Aku menghampiri gamelan yang terus bermain sampai subuh ketiga menjelang.

PENYUCIAN III
WARKAH KEPADA PEMIMPIN POLITIK, KEPALA ADAT, DAN AKTIVIS KEMANUSIAAN
Menjelang Kemerdekaan Pertama Syawal berhimpitan Hari Kemerdekaan Kedua
Mencari Kemerdekaan Murni
Ini Malaysia, dari setiap lapisan, kesemua mereka ada hak nak cakap mengikut garisan hukum, sebab semua belajar hukum, sebab atas segala hak yang ada status kerakyatan di Malaysia, atas nama Reserve Land Melayu, Tanah Tradisi, dan segala macam yang ada, semua nya atas akta, enakmen pindaan undang-undang lokal dan antarabangsa, terutama England dan Perancis yang mempengaruhi England, yang mampu desak macamana cara nak hidup di Malaysia jika berlaku kelahi. Itu lah Malaysia setelah kemerdekaan.
Takda apa kau nak reverse kan lagi kau dah berjanji dengan British nak beri dia makan, nak beri semua bangsa makan, kau gaduh macamana pun, kau nak nobat macamana pun negeri kebudayaan kau sebagai puak suku apa pun, agama apa pun, kau akan ikut teladan cara budaya British yang sekongkol dengan Amerika. British dan Amerika tak salah, datuk nenek kita yang salah. Kita tak salah, datuk nenek kita yang jadi acuan, pilih acuan yang salah. Kita cuma pengikutnya saja. Kita cuma dimainkan oleh politik yang mengikut acuan dan lama-lama jadi kebiasaan dan amalan, malah ada yang menjadikan nya aqidah. Tak terkecuali senario politik yang kau tengok dalam berita tiap-tiap hari yang membosankan telinga anak kecil, yang tak tahu arti politik, yang tak tahu arti Anwar, Mahathir, Najib, Seks, Video, Khairy, Yatch, Lim Guan Eng, Rasuah, Sultan, Agung, pentadbir negeri korup, dan macam-macam lagi. Kalau kau dah investasi di Malaysia beratus/ribu/juta, atas tanah sekeping dan jika orang lain nak ambil, apa kau benarkan? Apa kau serah bulat-bulat seluar dalam biar orang cek air kencing kau? Undang-undang manusia sangat besar dan banyak kes kasus hukum hakam yang terkait. Takda apa yang boleh direversekan lagi, kecuali...kemerdekaan sekali lagi di buat untuk cari merdeka murni.
Terus, apa nak kau pura-pura rebutkan. Fakta politik kau tak jelas, memeningkan. Seluar dalam orang pun diceritakan dalam newspaper muka depan. Kau marah tengok bini kau dimainkan, tapi kau suka tengok seluar dalam orang yang bermusuh dengan kamu, di tayang masuk paper muka depan. Kau jenis manusia apa? Kitab kau ajar apa? Kau tak da hak batil macam manusia dan kemanusiaan sebenar-benarnya. Apa itu arti Merdeka pun, kau boleh jadikan isu, kau tak hormat inti kemerdekaan yang wajib menjanjikan pembangunan kemanusiaan ke depan, sedangkan kau tak paham apa maksud kebebasan hidup, macam kau, kau dan kau yang telanjang dan melacur, jual dadah dan laundering money, depan mata kau --mereka main dalam lif, dalam toilet pun kau tahu mereka buat hal dan kau pura-pura tak tahu. Tapi orang berendut nak madu asmara nak kautim untuk berkahwin, kau tangkap berpuluh ribu, kau gunakan akta tangkap basah. Kau jenis apa punya manusia. Kau merusakkan adab susila kau sebagai manusia di diri kau sendiri, merusakkan hak kemanusiaan mencari hak kemerdekaan mereka.
Terus, apa yang kau pening melalak kata orang itu baik ini orang jahat, kau labelkan orang itu si setan orang itu si malaikat. Kau belum paham semacam si Yahudi yang melihat kau-yang-tak-paham kenapa mereka rebut tanah datuk nenek mereka untuk hidup. *Apa ke hal tuhan nak jadikan dia Yahudi tak boleh hidup? *Kenapa dia harus hidup ? *Apa ke Tuhan lupa dia tak payah dijadikan, bikin orang lain susah ? atau kau, kita mansuia yang tak paham nak kawal negeri bagi muka kat setan uruskan negeri ? Agama kau cuma mengatakan mereka itu Yahudi itu jahat, tapi kau tak paham Yahudi juga nak hidup, Melayu Cina India juga nak hidup. Kau belum masuk “zaman bangsa yang dipinggirkan” seperti Yahudi, yang boleh dijadikan cerminan. Ajaran adat atau agama jugak banyak yang dah sesat, sesat tak mau bantu orang lain hidup, nak pijak kepala nesan kubur orang lain yang dulu kau perjuangkan mereka sebagai pahlawan nak merdekakan negeri, mereka yang telah memberi negeri setelah di tipu dengan cara kamu yang berpolitik zalim. Kau sanjung raja arab kaya minyak, tapi kau lupa bahawa dia perah hempas pulas kau, buli kau sokong dan beli minyak mahal. Kau lupa ?
Tapi dalam negeri, kalau nak cakap, kau nak menang kan parti, nak ber-parti. Kalau campur semua anggota yang berparti, berapa juta anggota manusia yang berparti dalam Malaysia ? Kau nak menangkan parti, atau nak menangkan kemerdekaan setiap manusia, kemanusiaan setiap insan, kebersamaan sesama manusia, apalah jadi jika orang berniaga semua tutup kedai tak berniaga tak beri kau makan besok hari. Kau lupa. Kau nak menangkan orang berparti. Kau lupa, orang yang berniaga ialah orang paling susah di dunia. Sewengannya kau yang dah kaya kerana kau telah berjaya meloloskan kroni kau dulu, sekarang kau kata zaman takda kroni-kroni lagi, sedangkan status zaman kau yang dulu dah naik ke level atas, dan piramid manusia kelas menengah ke bawah dan kelas rendah di hinjak pijak di bawah semakin membesar, kau semakin kuat dan kau semakin mencabar, sedangkan manusia dan kemanusiaan tercalar ? Cabarlah diri kamu, letakkan harta kekayaan kamu berbagi balik kat agensi kemanusiaan pada setiap hari sebanyak 30% hitung dari untung kekayaan kamu milik setiap hari, setiap hari agar tak perlu kau menyalahkan sistem zakat, apa kira zakat jika zakat tipu? 54 tahun, 100 tahun dah kita bayar zakat, mana agihan serata kebersamaan zakat, kenapa halangan kemiskinan masih mencabar kemerdekaan kamu ? Apakah cukai tipu ? Elak bayar cukai dengan laporan tipu ? Aset nilai air sebagai hasil galian tanahair yang dijanjikan kemerdekaan, yang terbalik pulak menjadi mengejar kemerdekaan untuk rakyat, di caj mahal menipu, dengan meletakkan status tanah tertentu dan pura-pura tak tahu ? Penswastaan letrik bagi tujuan tipu?
3/4 kemanusiaan yang tak berparti, masih boleh bangun dan tumbangkan semua yang berparti, atau yang ada, akan keluar parti. Untuk apa parti, tanpa melihat kemerdekaan kemanusiaan, mahkamah hari ni hampir semua sivil kes hanya urusan nak selesaikan isu politik atau tokoh politik yang tak selesai sejak 1957, yang problem hanya berkisar di lingkungan parti politik yang ada sekarang. Tapi kau lupa, mana kontribusi duit Tengku Rahman kepada rakyat ? Mana duit Tun Tan Siew Sin yang boleh kontribusi kepada rakyat ? Lorraine Osman, dan anggota korporat yang melarikan diri, yang berpura-pura menggunakan sistem hukum elit menjatuhkan diri sendiri sebagai bankrap supaya tak perlu bayar wang rakyat. Mana duit negara yang di rompak oleh pemimpin yang boleh di rebutrampas semula untuk dibagi agihkan kepada pembanguan rakyat ?
Politik serata dunia, Malaysia dah jadi terlalu glamour tetapi melupakan aqidah kemanusiaan. Apa yang agama kau, kau dan kau ajarkan dalam kitab....tak lain, hanya ilmu makan. Apa yang kau buat lepas puasa 8 jam 30 hari...makan. Kalau perut orang lain kau cerut, kau tahan, maka satu hari nanti akan hadir kemanusiaan akan berdiri dan rebut curi rompak semula, sebab tekanan nak makan. Kau terlalu hipokrit dan taksub dengan kedudukan kau dengan status, darjat dan pengangkatan, di negeri yang takda lingkaran api merapi Rings of Fire, kau terlalu taksub dengan kekayaan kau satu malam dapat beratus juta jual air liur, tapi kau lupa....DIA akan datang. Di Pintu Pagar Mu.
Itu yang aku maksudkan. Ramai kawan kita sebagai pemimpin, beri aku ruang bercakap, demi manusia dan mengingatkan diri kau dan aku juga, yang menyambut kemerdekaan.
Apa yang kau buat ialah ketik-ketik video YouTube dan CD dan Video. Apa jadi? ternyata kau hanya melakonkan aksi FITNAH : Banyak lagi orang boleh bercakap nak kan realiti nak bangun nak hidup. Fitnah kiri kanan ni, orang dah jelak. Kalau setakat nak dapat duit guna duit yang di sumpah (cursed money), sebaiknya kau pergilah ke Libya dan Cordoba, rampas balik tamaddun kamu yang semunya asal dari situ, bukan di Arab, bukan di Cina. Lihat balik, tengok Umaiyyah Cordoba.
Sejarah Umaiyyah mirip akan berulang, dan kemerdekaan pertama sedang di hitung, Allah Azza Wajalla sangat pemurah lagi PENYAYANG, diberikan kemerdekaan bertindih 1 Syawal yang menghimpit Hari Kemerdekaan.
Manusia dah berubah. Jangan salahkan dunia, sedangkan dunia telah terjadi lebih awal dari kejadian manusia. Manusia saja yang dah berubah.
Selamat Menyambut Hari Kemerdekaan Murni
NOTA : ARDK2011~2013



