Pertemuan I II III
Monday, September 5, 2011 8:33:41 PM
Keras si Chris menelepon dan menjemput ku di bandara, untuk melihat tanah yang mahu dibangunkan, dan usai makan malam di pojok pulau itu aku tidur, dan terbangun jam 3 pagi. lemes, cemas, apakah aku di lautan. Mentari pagi cepat sinarnya jam setengah 6 kami minum pagi.
PERTEMUAN I
Jendela dan anjung, banjar dan bangsal adalah kesukaan saya. Aku ingat sekitar umurku 15 sewaktu mau menduduki peperiksaan LCE kelas SM3, seperti SMP3, malam itu kencang anginnya hujan keras, dinding kayu rumah kami yang tinggi itu terasa dingin. Aku diam, terhenti dari membaca, rumah sepi. Dan ku lihat kalender tepat 1 ke 2 hari tempoh Lailatul Qadar Ramadhan. Esok pagi ialah Jumaat, cuti bagi sekolah negeri. Di depan meja tulis yang aku bikin sendiri di perbuat dari kayu itu terasa dingin. Kuat sekali bunyi dentuman guruh di langit. Aku jadi gigil. Di depan ku jendela tertutup rapat. Jendela ini adalah jendela pendek 4x4 dan tak sama ukuran dengan yang lain semuanya 8x4 keliling rumah. Hanya ini yang satu dan kamar aku ini memang aku rebut dari ayahku, yang menggunakannya untuk solat. Kamar ini di pojok sudut rumah dan pas mengadap kiblat, tepat. Entah kenapa, aku jadi gigil ketakutan melihat jendela pada malam itu. (Nota: *Malam ini, sama di jendela, gerimis hujan dan kilat di kota ini, agak keras di luar. Membawa aku ke malam 34 tahun yang lalu).
Aku intip sesaat ketakutan dari celah jendela dan aku lihat gelap di luar sana. Hujan keras kayak nya ribut taufan. Tapi, apa yang jadi tiba-tiba langsung kedinginan amat dingin ini. Guruh yang terakhir, aku bangun dan terseret kaki kerusi kayu tapi lantai tak berbunyi. Sepi. Aku mengucap, dan mencapai selak jendela dan, nah, buka..dan sesaat aku melihat ribut dan sesaat aku melihat cahaya kilat menerjah seluruh kebun pohon di depan kamar ini. Sesaat aku melihat cahaya bagaikan cermin menerjah daun daun pohon, tetapi... ''tiada pohon ??'' keluh terkeluar kata dari mulut, hanya cahaya semacam dedaun yang terpancar. Sesaat habis aku ucapkan, yallah, aku melihat pohon kelapa berdiri semula bagai di bangunkan setelah tumbang, menjadi pohon-pohon seperti suasana biasa di kebun yang biasa aku lihat. Yang aku lihat tadi hanyalah padang luas dengan cahaya kilat menerjah putih bagai cermin. Aku gamam. Sesaat aku menutup tingkap ketakutan dengan cepat, dan terpikir, apakah ini. Tingkap tak tertutup, daun yang sebelah kanan menghempas ke dinding, lepas kerna angin kencang, tapi hempasan itu sepi, tiada bunyinya. Tangan aku capai keluar dan air membasahi tangan ku, dan saat itu, aku dengar seperti suara ayah ku memanggil dari belakang dinding kayu kamar, dengan sayup halus, dia bertanya, kayak berbisik, ... "apa yang kau nampak" ? ... aku terjerit, terperanjat, memusing kepala ku ke arah dinding dan terkeluar kata,... "Bahhh.." dan sesaat aku pusing kepala ke jendela dan aku lihat...hujan terus jadi reda, itu hanya gerimis ?, tapi, tadi, tangan ku tak basah.
PERTEMUAN II
Begitu aku tidak mengiyakan, begitu aku tidak menidakkan, aku hanya kelu, melihat seorang tua yang terbaring di katil sakit di bawah sana, dan aku di atas tangga rumah tinggi, mendengar dia berkata seperti...''yang sudah itu ya udah''... Lamunan ku yang baru bangun tidur tiba-tiba tertampar dengan katanya dan aku tanya, ..''apa yang abah bilang tadi ?"..sambil aku terjah terbang turun dari tangga tinggi merapati ke katil dan mulutnya, dia bisa bicara dengan ku, setelah tidak lagi bicara sejak aku berumur 12, dia membisik..dia jawab, .."kau pergi lah ke Lempuyang, pulang aja ke sana, aku ke Lahut..kita ketemu di Lahut". Diterjah ke muka aku dengan banyak persoalan. Terbaring dia di situ dengan banyak musykil. Sudah hampir 3 tahun terbaring dan tidak melihat angkasa, sebaiknya aku pulang dari Amerika terus aku beli kerusi roda hadiah untuknya, aku menolak keluar rumah kayu yang di bina dengan pasak lama, dan dia bilang, .."aku sudah lama tak melihat dunia". Bagaimana bisa. Bonda ku hanya tersenyum, aku bertanyakan rumah yang agak rapi siapa yang membantu. Ibu ku bilang, (dia) masih melakukan sewaktu orang tiada, waktu semua pada tidur. Ini keyakinan, sedangkan aku sendiri memapah angkat nya ke kerusi roda dan memandikannya.
15 tahun setelah keberangkatannya si bapa, dan 2 tahun selepas keberangkatanya si ibu, aku terima panggilan dari jauh undangan wajib, keras, upacara keagamaan. Aku bergegas persiapan dan mengajak seorang sepupu kepercayaan ku. Lempuyang adalah suatu yang maha suci buat peradaban daerah itu. Aku punya agenda ku sendiri. Lautan yang di pagari dengan kalimah Bismillah ke ayat yang terakhir dalam Quran melingkari lautan dunia, se akan timbul di muka lautan bercahaya cantik kekuningan warnya mentari pagi, aku kagum melihat mimpi yang ditunjukkan, aku pasrah kepada Laila-ha-illaLLah. (Siapa yang harus aku tujukan pertanyaan). Lempuyang adalah wasiat dan amanah yang aku harus jelaskan, dan sudah aku jelaskan. Jauh di gaung lembah sana, gema tahrim sambung menyambung antara timur dan barat, di saksikan Lempuyang, Lombok dan Kerajaan Karengasem. Aku menuruni lurah dalam kabus yang masih tebal dingin. Jalan licin bisa saja aku terbalik.
Sesampai aku pulang ke rumah ku, yang aku bina demi hasrat bersama dengan bakal isteriku, pada waktu itu, banjar itu penuh leak. Sehingga saat nya mereka "menyimpan" dan memberi aku makan dan minum tanpa keluar dari kediaman yang di sediakan, aku hitung hampir 20 hari dengan biji nasi kering yang aku kumpulkan setiap kali masuk waktu solat subuh. Malam itu aku di'pakai'kan. Kesemua sudah pergi dengan persyaratan, aku wajib melangkah sendiri hanya setelah jatuh terbenam mentari dan di antara saat waktu wajibnya solat Maghrib, remang merah di langit, dan setelah solat serta wirid. Siap, aku melangkah. Kebetulan, rumahku memang dalam lingkungan ketetapan persyaratan. Pohonnya besar, upacara agama disaksikan, aku masuk menyelinap ke depan tanpa di sadari atau lihat aku hadir. Tempat ku di situ ditetapkan, sama paras kepala banjar yang hadir. 18 wanita cantik yang membawa junjungan, hanya 14 yang masuk ke upacara. Yang 4, berterbangan dengan kebaya, melayang ke udara, wajah manis gadis seperti gambaran yang biasa kamu lihat pasangan-pasangan potret 2-dara kebaya biru dan kuning di pasar seni. Majlis usai. Sesampai di rumah ku, aku di tanya ... "Ada?"..
"Pak, katakan, apa yang bapak liat" ... mereka berkumpul di kaki sambil menangis. Aku gamam, dan aku hanya meng-anggukkan kepala kata ...ya, dan mau aku menceritakan dan melukiskan, tapi tangan ku di tepis keras oleh KK, jari tua nya di titip ke bibir ku, dengan matanya yang bersinar nyala merah dan menangis, menyuruh aku diam.
"Syukurlah" ... katanya, semuga arwah bapa dan ibu sama-sama diberkati, di lingkungan mereka yang soleh di alam barzakh, ujar mereka. Malam itu mereka meneruskan upacara keagaaman cara mereka, dan aku dengan cara aku.
Aku diam.

PERTEMUAN III
Keras si Chris menelepon dan menjemput ku di bandara, untuk melihat tanah yang mahu dibangunkan, dan usai makan malam di pojok pulau itu aku tidur, dan terbangun jam 3 pagi. lemes, cemas, apakah aku di lautan. Mentari pagi cepat sinarnya jam setengah 6 kami minum pagi. Dan aku terkebil kebil meramas siku yang tak gatal.
Di persimpangan jalan aku meletakkan bunga.
Jam 9 pagi tepat, kami langsung ke lokasi dan aku bicarakan ke Chris dan broker perihal sejarah tanah sejarah 200 tahun sehingga kami gagal meneruskan urusan belinya tanah, kerna telah kita jumpa tapak yang di cari, bekas masjid di daerah sepi, tamadun yang dihancurkan kerana tsunami, ikut mimpi yang bangunkan aku dari tidur jam 3 pagi tadi, yang mencemaskan, dan ''pengliatan'', nah diceritakan di PERTEMUAN pagi.
Segala sesuatu kebaikan bagi Allah, segala sesuatu yang menakutkan bagi manusia, tak mungkin kita panjangkan untuk kemanusiaan yang tidak mengerti, kerna akan terbit satu kata ~ Fitnah.
Maka kita "kembalian", bersama kalangan manusia, kembali menyelinap berdiri di belakang kita, tanpa kita sadar, tanpa kita tahu, kita berada di kalangan kita, kita masih berada di ''masa dan lokasi'' yang sama, berbicara kepada diri sendiri, melihat pembangunan evolusi yang baru, sedangkan kita tahu kita telah berada di situ dalam peng`liatan lama, untuk hanya kita yang tau, dan bisa melihat.
Aku diam. Aku akan pergi.
Nota ARDK2011.



