Monday, January 3, 2011 12:44:23 AM
Ibu yang Memaksakan
Kehendak
Kata orang, kasih ibu itu
sepanjang masa. Ibu, sosok yang
senantiasa ada saat anak-
anaknya menghadapi kesulitan.
Namun ada kalanya, seorang
anak merasa kehadiran ibunya
terasa mengancam bahkan
mengusik kebebasan memilih
sang anak. Baik kebebasan
memilih pendidikan, memilih
pasangan hidup sampai
kebebasan menentukan jenis
pekerjaan yang akan digeluti.
Ambil contoh, Tini, seorang ibu
yang memiliki 2 anak. Ibu yang
satu ini memiliki keinginan yang
agak di atas langit. Ia
mengharapkan Sinta, anak
perempuannya, masuk jurusan
kedokteran, padahal selama
sekolah, Sinta bukanlah murid
yang terlalu menonjol. Yang lebih
parah lagi, Sinta termasuk ‘cewek
pesta’, yang tahunya hanya
menikmati masa mudanya. Sinta,
seperti kebanyakan remaja
lainnya, tidak terlalu
memusingkan masalah sekolah.
Asalkan ia naik kelas, meski
dengan nilai pas-pasan juga ia
tak ambil pusing. Maka itu, saat
Tini memintanya masuk jurusan
kedokteran, Sinta malah bingung.
Bagaimana tidak, mahasiswa
jurusan kedokteran kan mesti
memahami ilmu biologi, fisika,
kimia, padahal letak jantung
dimana saja, Sinta tak paham.
Namun demi sang bunda, Sinta
akhirnya mengambil juga
jurusan itu dengan terpaksa. Saat
dilakukan tes, ternyata Sinta
dinyatakan tidak sanggup
memasuki jurusan ini.
Sinta bernafas lega, sang bunda
tentu saja marah-marah tak
karuan, soalnya di matanya,
jurusan kedokteran itu termasuk
jurusan bergengsi. Kan bangga
kalau kita bisa mengatakan,
“Anak saya kuliah kedokteran,
lho.” Akhirnya, Sinta masuk
jurusan komputer yang
dianggap ibunya kurang
bergengsi. Setahun kemudian,
Heru, adik Sinta lulus sekolah.
Kali ini sang bunda ingin Heru
masuk akademi kepolisian.
Namun ternyata, saat dilakukan
uji fisik, nafas Heru tak cukup
kuat saat ia diminta lari keliling
lapangan. Ya, gagal deh impian
sang bunda melihat anaknya jadi
polisi. Heru akhirnya masuk
fakultas pertanian yang di mata
ibunya, petani itu pekerjaan yang
sangat tidak berkualitas.
Mungkin saja saat itu sang
bunda sedang setengah sadar,
kalau tidak ada petani, darimana
pula datangnya makanan yang
kita makan tiap hari.
Itu baru mengenai pendidikan,
belum lagi soal pilihan hati. Tini
selalu mengkritik pilihan Sinta.
Ada-ada saja yang dicelanya,
mulai dari kurang tinggi, kurang
berwibawa, padahal intinya ya
hanya satu, semua yang
dikenalkan Sinta itu kurang tebal
koceknya. Soalnya, keluarga Sinta
termasuk kaya. Jadi supaya
sederajat ya minimal Sinta mesti
bisa menarik perhatian pemuda
yang orang tuanya pemilik SPBU
juga.
Belum lagi, Heru selepas kuliah,
eh malah disuruh menunggui
pom bensin milik ayahnya. Heru
sudah berulang kali protes, “ Ma,
kalau untuk menjaga pom
bensin, tak perlu kuliah. Tamat
SMA pun cukup, orang hanya
mencet tombol berapa liter aja
kok. ” Heru merasa hidupnya
terkekang, ia ingin
mengembangkan pertanian
tanaman organik, bukan disuruh
menunggui berapa liter bensin
yang terjual. Mungkin karena
sudah tak tahan disuruh
menjaga pom bensin, Heru malah
pergi ke luar kota, ia lebih
memilih tinggal di pelosok sambil
mengembangkan hobi bercocok
tanamnya.
Memang sekilas kalau kita lihat,
kesan dari cerita di atas kok
mengekang banget figur sang
ibu. Padahal kalau kita pikir-pikir
sih, mungkin saja maksud sang
ibu baik demi masa depan
anaknya.
Namun mungkin tangan besi
sang bunda dalam memaksakan
kehendak yang membuat si anak
merasa tersiksa.
“ Ibu yang terlalu mengatur
kehidupan anak itu tidak bagus.
Kalau si anak termasuk orang
yang tidak punya pendirian,
akibat jangka panjangnya itu
jelek, si anak bisa sedikit-sedikit
mengandalkan si ibu. Anak jadi
tak punya rasa percaya diri,
soalnya selama ini, bila ia
menghadapi masalah kan sang
ibu yang menyelesaikan
masalahnya. Bila si anak
termasuk anak yang punya
pendirian kuat, bisa saja ia
terlibat konflik dengan ibunya
terus, ” kata Indah Kemala
Hasibuan, SPsi, MPSi pada
MedanBisnis sabtu siang (16/10).
Ya, tentu saja, si anak ingin ini, si
ibu ingin itu, cekcok mulut pun
tak terhindarkan. Akibatnya,
kedua belah pihak bisa stress
sendiri. Setiap bertemu, sebelum
si anak sempat duduk, bisa saja
sang ibu sudah nyerocos ini itu,
si anak juga tak mau kalah, “
Yang paling bagus, ya
komunikasi.
Ditanya pada si anak, apa
maunya dia. Itu kan masa depan
si anak, ibu sebagai orang tua
hanya bisa menyarankan apa
yang menurut si ibu itu terbaik
bagi anaknya. Meski begitu,
keputusan mesti tetap di tangan
si anak, ” jelas psikolog ramah ini.
Intinya ya, siapa yang menjalani
kehidupan, dialah yang mesti
membuat keputusan. Bila si anak
sudah membuat keputusan
mengenai masa depannya, ya
sebagai orang tua, tinggal
memantau bagaimana
pelaksanaan putusan anak.
Umumnya, bila seseorang
memutuskan sesuatu
berdasarkan hasrat pribadinya,
ia akan jadi gigih melaksanakan
putusannya itu. Saat penulis SMU,
guru sosiologi di sekolah, Bapak
Siuco Telambanua pernah
mengatakan, ” Sesuatu yang
dipaksakan itu tidak akan baik
akibatnya. ”
( natalia dewi)
Kehendak
Kata orang, kasih ibu itu
sepanjang masa. Ibu, sosok yang
senantiasa ada saat anak-
anaknya menghadapi kesulitan.
Namun ada kalanya, seorang
anak merasa kehadiran ibunya
terasa mengancam bahkan
mengusik kebebasan memilih
sang anak. Baik kebebasan
memilih pendidikan, memilih
pasangan hidup sampai
kebebasan menentukan jenis
pekerjaan yang akan digeluti.
Ambil contoh, Tini, seorang ibu
yang memiliki 2 anak. Ibu yang
satu ini memiliki keinginan yang
agak di atas langit. Ia
mengharapkan Sinta, anak
perempuannya, masuk jurusan
kedokteran, padahal selama
sekolah, Sinta bukanlah murid
yang terlalu menonjol. Yang lebih
parah lagi, Sinta termasuk ‘cewek
pesta’, yang tahunya hanya
menikmati masa mudanya. Sinta,
seperti kebanyakan remaja
lainnya, tidak terlalu
memusingkan masalah sekolah.
Asalkan ia naik kelas, meski
dengan nilai pas-pasan juga ia
tak ambil pusing. Maka itu, saat
Tini memintanya masuk jurusan
kedokteran, Sinta malah bingung.
Bagaimana tidak, mahasiswa
jurusan kedokteran kan mesti
memahami ilmu biologi, fisika,
kimia, padahal letak jantung
dimana saja, Sinta tak paham.
Namun demi sang bunda, Sinta
akhirnya mengambil juga
jurusan itu dengan terpaksa. Saat
dilakukan tes, ternyata Sinta
dinyatakan tidak sanggup
memasuki jurusan ini.
Sinta bernafas lega, sang bunda
tentu saja marah-marah tak
karuan, soalnya di matanya,
jurusan kedokteran itu termasuk
jurusan bergengsi. Kan bangga
kalau kita bisa mengatakan,
“Anak saya kuliah kedokteran,
lho.” Akhirnya, Sinta masuk
jurusan komputer yang
dianggap ibunya kurang
bergengsi. Setahun kemudian,
Heru, adik Sinta lulus sekolah.
Kali ini sang bunda ingin Heru
masuk akademi kepolisian.
Namun ternyata, saat dilakukan
uji fisik, nafas Heru tak cukup
kuat saat ia diminta lari keliling
lapangan. Ya, gagal deh impian
sang bunda melihat anaknya jadi
polisi. Heru akhirnya masuk
fakultas pertanian yang di mata
ibunya, petani itu pekerjaan yang
sangat tidak berkualitas.
Mungkin saja saat itu sang
bunda sedang setengah sadar,
kalau tidak ada petani, darimana
pula datangnya makanan yang
kita makan tiap hari.
Itu baru mengenai pendidikan,
belum lagi soal pilihan hati. Tini
selalu mengkritik pilihan Sinta.
Ada-ada saja yang dicelanya,
mulai dari kurang tinggi, kurang
berwibawa, padahal intinya ya
hanya satu, semua yang
dikenalkan Sinta itu kurang tebal
koceknya. Soalnya, keluarga Sinta
termasuk kaya. Jadi supaya
sederajat ya minimal Sinta mesti
bisa menarik perhatian pemuda
yang orang tuanya pemilik SPBU
juga.
Belum lagi, Heru selepas kuliah,
eh malah disuruh menunggui
pom bensin milik ayahnya. Heru
sudah berulang kali protes, “ Ma,
kalau untuk menjaga pom
bensin, tak perlu kuliah. Tamat
SMA pun cukup, orang hanya
mencet tombol berapa liter aja
kok. ” Heru merasa hidupnya
terkekang, ia ingin
mengembangkan pertanian
tanaman organik, bukan disuruh
menunggui berapa liter bensin
yang terjual. Mungkin karena
sudah tak tahan disuruh
menjaga pom bensin, Heru malah
pergi ke luar kota, ia lebih
memilih tinggal di pelosok sambil
mengembangkan hobi bercocok
tanamnya.
Memang sekilas kalau kita lihat,
kesan dari cerita di atas kok
mengekang banget figur sang
ibu. Padahal kalau kita pikir-pikir
sih, mungkin saja maksud sang
ibu baik demi masa depan
anaknya.
Namun mungkin tangan besi
sang bunda dalam memaksakan
kehendak yang membuat si anak
merasa tersiksa.
“ Ibu yang terlalu mengatur
kehidupan anak itu tidak bagus.
Kalau si anak termasuk orang
yang tidak punya pendirian,
akibat jangka panjangnya itu
jelek, si anak bisa sedikit-sedikit
mengandalkan si ibu. Anak jadi
tak punya rasa percaya diri,
soalnya selama ini, bila ia
menghadapi masalah kan sang
ibu yang menyelesaikan
masalahnya. Bila si anak
termasuk anak yang punya
pendirian kuat, bisa saja ia
terlibat konflik dengan ibunya
terus, ” kata Indah Kemala
Hasibuan, SPsi, MPSi pada
MedanBisnis sabtu siang (16/10).
Ya, tentu saja, si anak ingin ini, si
ibu ingin itu, cekcok mulut pun
tak terhindarkan. Akibatnya,
kedua belah pihak bisa stress
sendiri. Setiap bertemu, sebelum
si anak sempat duduk, bisa saja
sang ibu sudah nyerocos ini itu,
si anak juga tak mau kalah, “
Yang paling bagus, ya
komunikasi.
Ditanya pada si anak, apa
maunya dia. Itu kan masa depan
si anak, ibu sebagai orang tua
hanya bisa menyarankan apa
yang menurut si ibu itu terbaik
bagi anaknya. Meski begitu,
keputusan mesti tetap di tangan
si anak, ” jelas psikolog ramah ini.
Intinya ya, siapa yang menjalani
kehidupan, dialah yang mesti
membuat keputusan. Bila si anak
sudah membuat keputusan
mengenai masa depannya, ya
sebagai orang tua, tinggal
memantau bagaimana
pelaksanaan putusan anak.
Umumnya, bila seseorang
memutuskan sesuatu
berdasarkan hasrat pribadinya,
ia akan jadi gigih melaksanakan
putusannya itu. Saat penulis SMU,
guru sosiologi di sekolah, Bapak
Siuco Telambanua pernah
mengatakan, ” Sesuatu yang
dipaksakan itu tidak akan baik
akibatnya. ”
( natalia dewi)
