Saya jarang merayakan hari. Entah mengapa, hari2 bersejarah dalam hidup saya, bertepatan dengan hari2 yang dirayakan oleh sebagian orang. Mungkin hanya kebetulan. Hujan malam ini mengingatkan saya kejadian setahun lalu. Hari itu, saya menjajal nasib. Berikhtiar menjadi abdi negara, abdi masyarakat. Saya mengikuti tes final di Sragen. Tes berlangsung dari jam 7 pagi sampai jam 1 dinihari. Memang tidak melulu diisi tes. Saya mendapat giliran tes kompiuter jam 10 pagi, tes kompetensi bidang jam 3 sore, interviu Inggeris jam 7 malam dan one on one interviu pak Bupati jam 1 dinihari. Beberapa pertanyaan dari asisten pak Bupati melahirkan tulisan
ini dan
itu.Malam itu hujan deras mengguyur SoloRaya. Saya ragu2 antara pulang kerumah ato menginap di Sragen. Jarak Sragen-mbekonank sekitar 40an km. Kebetulan ada 2 teman senasib yang sama2 motor rider. Domisili mereka di Solo. Sedangkan saya luar kota Solo. Akhirnya saya putuskan pulang ke rumah.
Diiringi hujan gerimis, Kami bertiga menyusuri jalan Sragen-Solo. Berkonvoi lebih aman. Disamping kondisi jalan licin dan menyempit dibeberapa bagian, kami mungkin masih harus menghadapi 'monster2 jalanan' bus2 AKAP Jogja-Solo-Surabaya yang terkenal beringas dan 'yak-yakan'.
Beruntung, malam itu jalan tidak begitu ramai.
Kami berpisah di pertigaan palur. jarum jam menunjukkan pukul 01.45 dinihari ketika saya belok kiri dan masih harus melewati
mbulak, sendirian. Dengan stamina yang masih tersisa perjalanan Palur-mbekonank sejauh 10an km itu terasa begitu panjang dan lama. Setelah belok kanan di asrama 413, suasana makin mencekam. tidak nampak manusia seekorpun. Warung2 wedangan yang biasa buka sampai dinihari sudah tutup. Tentu lebih nyaman berselimut sarung daripada harus nongkrong di pinggir jalan. Pohon2 trembesi tua yang disiang hari memeyungi pemakai jalan dari terpaan sinar sang surya, malam itu nampak seperti raksasa yang siap menerkam. Jalanan yang licin karena basah habis diguyur hujan dan berlubang disana-sini meaksa saya menahan grip gas di kisaran 40 km/jam.
Duh, saya baru ingat, tadi adalah malam jumat. Malam yang diyakini makhluk2 halus keluar menampakkan wujudnya dalam mitologi Jawa. Masih ada tempat uji nyali yang harus saya lewati yakni Pancuran. Sebuah jembatan yang konon menurut cerita orang2 adalah tempat favorit 'barang2 halus' menampakkan wujudnya. Percaya gak percaya saya melewati pancuran...
Saat itu saya pengen berdoa tapi rasanya lidah kelu dan gak keluar sepatah katapun...
Duh Gusti...kalaupun saya harus melihat ciptaan-Mu mohon yang berpenampilan menarik...bisik saya.
Akhirnya saya nyampe rumah tanpa kurang satu apapun.
sebuah pengalaman yang berharga.
Life Goes on.