Skip navigation.

My Story

Tak pernah membayangkan. Saya jadi wedding photographer. for now. Entah besok. Bagi saya memotret adalah kenikmatan.

PS2>Powershot 5MP+hibah>DSLR=Wedding+street photographer aka tukang poto keliling.

Need your help guys APABILA saya punya dana 3-4jt pengen beli komputer mohon dikasih tau spek dan kisaran harga untuk olah digital. terima kasih.

Grazie Paolo

The Living Legend. 5 piala/liga Champions. Grazie Paolo!

Halloween di hari Valentine

Saya jarang merayakan hari. Entah mengapa, hari2 bersejarah dalam hidup saya, bertepatan dengan hari2 yang dirayakan oleh sebagian orang. Mungkin hanya kebetulan. Hujan malam ini mengingatkan saya kejadian setahun lalu. Hari itu, saya menjajal nasib. Berikhtiar menjadi abdi negara, abdi masyarakat. Saya mengikuti tes final di Sragen. Tes berlangsung dari jam 7 pagi sampai jam 1 dinihari. Memang tidak melulu diisi tes. Saya mendapat giliran tes kompiuter jam 10 pagi, tes kompetensi bidang jam 3 sore, interviu Inggeris jam 7 malam dan one on one interviu pak Bupati jam 1 dinihari. Beberapa pertanyaan dari asisten pak Bupati melahirkan tulisan ini dan itu.

Malam itu hujan deras mengguyur SoloRaya. Saya ragu2 antara pulang kerumah ato menginap di Sragen. Jarak Sragen-mbekonank sekitar 40an km. Kebetulan ada 2 teman senasib yang sama2 motor rider. Domisili mereka di Solo. Sedangkan saya luar kota Solo. Akhirnya saya putuskan pulang ke rumah.

Diiringi hujan gerimis, Kami bertiga menyusuri jalan Sragen-Solo. Berkonvoi lebih aman. Disamping kondisi jalan licin dan menyempit dibeberapa bagian, kami mungkin masih harus menghadapi 'monster2 jalanan' bus2 AKAP Jogja-Solo-Surabaya yang terkenal beringas dan 'yak-yakan'.
Beruntung, malam itu jalan tidak begitu ramai.

Kami berpisah di pertigaan palur. jarum jam menunjukkan pukul 01.45 dinihari ketika saya belok kiri dan masih harus melewati mbulak, sendirian. Dengan stamina yang masih tersisa perjalanan Palur-mbekonank sejauh 10an km itu terasa begitu panjang dan lama. Setelah belok kanan di asrama 413, suasana makin mencekam. tidak nampak manusia seekorpun. Warung2 wedangan yang biasa buka sampai dinihari sudah tutup. Tentu lebih nyaman berselimut sarung daripada harus nongkrong di pinggir jalan. Pohon2 trembesi tua yang disiang hari memeyungi pemakai jalan dari terpaan sinar sang surya, malam itu nampak seperti raksasa yang siap menerkam. Jalanan yang licin karena basah habis diguyur hujan dan berlubang disana-sini meaksa saya menahan grip gas di kisaran 40 km/jam.

Duh, saya baru ingat, tadi adalah malam jumat. Malam yang diyakini makhluk2 halus keluar menampakkan wujudnya dalam mitologi Jawa. Masih ada tempat uji nyali yang harus saya lewati yakni Pancuran. Sebuah jembatan yang konon menurut cerita orang2 adalah tempat favorit 'barang2 halus' menampakkan wujudnya. Percaya gak percaya saya melewati pancuran...
Saat itu saya pengen berdoa tapi rasanya lidah kelu dan gak keluar sepatah katapun...
Duh Gusti...kalaupun saya harus melihat ciptaan-Mu mohon yang berpenampilan menarik...bisik saya.
Akhirnya saya nyampe rumah tanpa kurang satu apapun.
sebuah pengalaman yang berharga.
Life Goes on.

Panambangan

Membaca buku Ekspedisi Bengawan Solo tentang Panambangan (tempat penyeberangan sungai), ingatan saya melayang ke akhir tahun 80an. Pada masa itu, jembatan Mojo belum dibangun. penduduk mbekonang dan sekitarnya kalo mau pergi ke kota ato nagari (sebutan untuk pusat kekuasaan keraton di Solo) melewati panambangan Mojo. Lewat jembatan Jurug juga bisa tapi jauh dan memutar.

Panambangan Mojo menggunakan perahu di musim hujan, sang nahkoda menggunakan sebilah bambu panjang yang ditancapkan ke dasar sungai agar perahu bergerak. di musim kemarau fungsi perahu digantikan jembatan yang terbuat dari bilah2 anyaman bambu. lebarnya hanya 1-2 m dan tanpa pagar! Seringkali bila ada banjir kiriman dari hulu, jembatan bambu hanyut tersapu air sedangkan nahkoda tidak berani menjalankan perahu dengan tenaga manual. kalo sudah begini biasanya para penumpang kecele dan harus mutar balik lewat jembatan Jurug.

Apakah tempat penyeberangan sungai di mojo yang menghubungkan kec. Mojolaban dengan Semanggi termasuk dalam prasasti Canggu?
Entahlah, yang jelas ada panambangan kuno di jaman Majapahit yang lebih dekat ke hulu, yaitu prasasti Tlang (masa pemerintahan Raja Balitung pada tahun 907 masehi) di desa Praon. Nama desa ini mungkin berasal dari kata perahu, berperahu = naik perahu dalam bahasa jawa disebut Praon. Sekarang Desa ini tinggal kenangan karena sudah tergenang air waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.


Mupus

Duh Gusti Pangeran
Setelah semua yang saya alami selama ini
Saya hanyalah seorang anak manusia yang masih belajar bersyukur
Memunguti keping-keping kearifan kehidupan
Berjuang menjemput rejeki
Wish me luck.

Photo Blogging

Beberapa posting terakhir saya adalah photo blogging. Jujur, saya terinspirasi dari "SEMENTARA ITU..." Jawa Pos. Poto2 dgn jepretan kamera hape saya sendiri. Dulu saya pake aplikasi kayak ShoZu, scanR. Setelah coba2 ternyata lebih mudah photo blogging dgn opera mini 4.1.

Biasanya setelah uploading poto akan muncul opsi photo replacement tapi pagi ini yg muncul ''copy n paste this code to...''

Bagaimana cara copy paste dgn hape W700i ya?

Sepotong Perjalanan


Kadang saya merasa seperti Christopher McCandless, tentu dalam ruang dan waktu berbeda.
Indah, hening tiba-tiba menyergap.
Kalo Christopher bener-bener pernah tinggal di alam liar Alaska, saya hanya melintasi dan berhenti sejenak di Alaska-ret :smile:

Jalan panjang dan sunyi

Ini adalah outer ringroad Sukoharjo. Kalo Anda naik bus Solo-Wonogiri, Anda tidak akan melalui Sukoharjo kota tetapi lewat jalan ini.

Orang2 menyebutnya mbulak, ditambah huruf 'm' biar lebih afdol.

poto dijepret jam 10:22 sejauh mata memandang dikiri-kanan jalan hanya ada sawah.

The limit is your imagination

Ketika sedang asik hunting bambu untuk acara 17-an, tiba-tiba seorang temen saya nyeletuk (maap) "Eh ini kayak t*m**k!" (makanan terbuat dari kedelai ditambah akhiran k, pasangan tahu, bahasa jawa dari alat vital perempuan).
Sambil menunjuk ke rimbunan semak-semak.

Saya penasaran sekali dengan guyonan temen tadi. Ah, iseng-iseng saya cari tau tentang tanaman ini di buku 500 Popular Tropical Plants terbitan Periplus.
Aha, ternyata namanya adalah Clitoria ternatea! termasuk jenis climbers. Pemberi namanya adalah Linnaeus seorang botanis abad ke-18.


Ternate diberi kehormatan untuk nama tanaman ini karena spesies pertama kali dicatat di pulau yang termasuk wilayah Maluku ini.

Ah, jangan-jangan Mbah Linnaeus ini selain sebagai botanis side jobnya adalah dokter kandungan! :D

Sempurna

Tanpa disengaja, ketika saya hendak memandikan alamanda dan kawan-kawan, saya lihat seekor bunglon (Chameleon) nangkring di cardinal creeper (ipomoea horsfillae).

Sebagai binatang pemburu (dan juga diburu) bunglon memiliki sistem persenjataan yang canggih: mata yang mampu digerakkan dan melihat ke segala penjuru, lidah yang mampu "menembak" menangkap mangsa serta kemampuan kamuflase dengan mengubah warna kulit sesuai dengan tempatnya berpijak.

Sungguh mahakarya yang sempurna.
Download Opera, the fastest and most secure browser
November 2009
M T W T F S S
October 2009December 2009
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30