My Opera is closing 1st of March

Arun Delau

Opera Blog By Arun Delau

LTE Masa Depan Teknologi Jaringan 4G Mobile Broadband di Indonesia

Teknologi Jaringan LTE (Long Term Evolution) dan
WiMAX (Worldwide interoperability for Microwave
Access) berdasarkan ketetapan ITU (International
Telecommunications Union, badan PBB yang
mengatur
telekomunikasi dunia) masuk pada kategori teknologi
jaringan Mobile Broadband generasi ke 4 (4G), yang di
masa depan akan menggantikan teknologi jaringan
generasi ke-3 (3G juga 3.5G) akan segera bersaing di
Indonesia. Walaupun perebedaan keduanya amat
tipis, namun tentu kedua teknologi itu masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Lalu siapa
yang akan memenangkan persaingan itu?
Kita belum tahu karena baik Pemerintah cq Dirjen
Postel Kemkominfo sebagai satu-satunya regulator
telekomunikasi di Indonesia, maupun para operator jaringan, dan masyarakat pengguna, masih
menunggu
perkembangan lebih lanjut teknologi itu di berbagai
negara. Jika tidak ada perubahan dan perkembangan
yang signifikan, menurut perkiraan kita masih harus
menunggu 2 hingga 3 tahun lagi untuk menikmati teknologi tersebut, karena mungkin baru bisa
operasional dan dipasarkan secara komersial di
Indonesia sekitar tahun 2015. Kronologi Secara
kronologis dapat dijelaskan disini bahwa dari
sisi regulator, Pemerintah cq Dirjen Postel
Depkominfo (kini Kemenkominfo) pada 26 Februari 2008 telah
menandatangani peraturan mengenai aspek
persyaratan teknis untuk band frekuensi 2,3 GHz.
Walaupun tidak disebutkan secara spesifik bahwa
lebar pita (bandwidth) frekuensi ini merupakan
alokasi untuk teknologi WiMAX (saat itu masih teknologi
WiMAX Standard IEEE 802.16d), tetapi dalam
dokumen
siaran persnya disebutkan bahwa Dirjen Postel
bersama-sama dengan Lembaga Penelitian dan
Perguruan Tinggi akan membuat program penelitian perangkat radio WiMAX di frekuensi kerja 2,3 GHz
sehingga besar kemungkinan teknologi WiMAX akan
diimplementasikan di Indonesia. Akan tetapi seiring
dengan perkembangan teknologi
jaringan yang terjadi, terutama perkembangan
teknologi jaringan LTE yang melesat cepat, kini Pemerintah justru sedang mempertimbangkan opsi
mengganti rencana pengembangan teknologi pita
lebar bergerak (mobile broadband) dari WiMAX ke
LTE dengan menyiapkan pita 2,5GHz. Hal ini
diungkapkan
oleh PLT Dirjen Kementerian Kominfo Muhammad Budi
Setiawan beberapa waktu lalu yang menyatakan
bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan opsi
membatalkan WiMax dan memilih teknologi LTE untuk
menggelar layanan pita lebar bergerak. Hal ini akan
diputuskan sambil mempersiapkan lebar pita yang akan dialokasikan bagi kehadiran teknologi LTE
secara
komersial sekitar 2 hingga 3 tahun ke depan.
Kemudian beberapa bulan yang lalu, ITU telah
membuat keputusan bahwa selain LTE-Advanced dan
WiMAX-2 yang terlebih dahulu sudah ditetapkan sebagai teknologi jaringan generasi ke-4, HSPA+
(High
Speed Packet Access Plus) juga dimasukkan ke
dalam
teknologi jaringan generasi ke-4, padahal
sebelumnya hanya LTE-Advanced dan WiMAX-2 lah yang masuk
dalam kategori generasi ke-4. Juru bicara ITU dalam
siaran persnya menyatakan:
“In an about face, the International
Telecommunications Union has expanded the term 4G
to include WiMAX, LTE and HSPA+. Previously, the ITU had established WiMAX 2 and LTE-Advanced as the
only
networking technologies worthy of the 4G name.”
Hal ini tentu akan menjadi bahan pertimbangan yang
akan
turut mempengaruhi Pemerintah sebagai regulator telekomunikasi di Indonesia dalam mengambil
keputusan mengenai jenis teknologi jaringan
generasi
ke-4 yang akan segera di implementasikan di
Indonesia, kini dan ke depan. Faktor yang menjadi
Bahan Pertimbangan Terlepas dari semua itu, penulis meyakini bahwa LTE,
terutama versi terbarunya LTE-Advanced (3GPP
Release 10) yang hingga saat ini masih terus
dikembangkan dan disempurnakan oleh 3GPP (3rd
Generation Partnership Project), nampaknya akan
memiliki peluang yang lebih besar untuk memenangkan persaingan sebagai Teknologi Mobile
Broadband Generasi ke-4 di Indonesia menggantikan
jaringan Generasi ke-3 saat ini, ketimbang WiMax-2
(WiMAX Mobile Profile 2, atau IEEE 802.16m).
Mengapa?
Keyakinan ini bukan tanpa alasan, melainkan justru karena berbagai alasan atas perkembangan yang
terjadi dan dukungan dari berbagai pihak, sebagai
berikut: Pertama, karena kinerja teknologi LTE-
Advanced pada
uji laboratorium terakhir oleh 3GPP, jaringan ini
menunjukkan kemampuan menyediakan kecepatan akses data yang signifikan, yaitu hingga 1 Gbps
(down-
link) dan 500 Mbps (up-link), jauh melampaui
kecepatan akses data WiMAX yang hanya kisaran
500Mbps (down-link) dan 200Mbps (up-link), juga
High Speed Packet Access Plus (HSPA+ 3GPP Release 7)
yang kecepatan datanya pada kisaran 60-70Mbps
saja. Kedua, selain dari keunggulan teknologinya itu,
kita
tahu bahwa suatu teknologi banyak
diimplementasikan di berbagai negara karena menyangkut dukungan dari vendor jaringan itu
sendiri.
Vendor jaringan besar dunia seperti Nokia dan
Siemens juga mendukung LTE. Hal ini dikemukakan
oleh Nils Kleemann, Head of Mobile Broadband Sales
Asia Pacific Nokia Siemens Networks di acara Nokia Siemens Networks Barcelona Revisited beberpa
waktu
lalu, yang menyatakan bahwa terdapat banyak
pendekatan yang dapat dipertimbangkan regulator
maupun operator di Indonesia untuk menuju ke
implementasi LTE. Ketiga, kini ada lebih dari 64 operator dari lebih 31
negara di dunia yang melanjutkan evolusi
jaringannya
ke LTE, dan 22 operator jaringan dunia malah akan
menargetkan agar LTE dapat diluncurkan dan
beroperasi pada akhir tahun ini, walau ada juga sedikit
operator yang melakukan pendekatan engineering
dengan melalukan pengembangan jaringan dari
teknologi HSPA+ (HSPA Plus). Keempat, dari sisi
dukungan operator jaringan di
Indonesia sendiri, saat ini sudah ada tiga operator telekomunikasi seluler yang telah mendukung dan
mengajukan permintaan untuk mulai memanfaatkan
teknologi LTE, yaitu PT. Telkomsel, PT. Indosat Tbk,
dan
PT. XL Axiata Tbk (XL). Bahkan salah satu diantaranya
sudah mulai operasional meskipun masih dalam tahap
percobaan. Kita tahu bahwa operator-operator
jaringan tersebut adalah tiga operator jaringan
seluler
terbesar di Indonesia, dan tentunya hal ini akan turut
mempengaruhi keputusan regulator untuk segera mengimplemetasikan LTE-Advance (Standard 3GPP
Release 10) di Indonesia. Melihat perkembangan
teknologi jaringan di tingkat
dunia seperti itu dan juga dukungan dari berbagai
pihak, baik vendor terbesar dunia sebagai penyedia
perangkat jaringan maupun dukungan operator dalam
dan luar negeri, kita tentu berharap Pemerintah cq
Dirjen Postel Kemkominfo selaku regulator jaringan
telekomunikasi di Indonesia dapat segera
mengimplementasikan dan merealisasikan teknologi
jaringan LTE di Indonesia, sehingga kita tidak perlu terlalu lama lagi menunggu dan menikmati fasilitas
itu
dengan akses yang semakin cepat dan tarif yang
semakin murah. Semoga.

Polisi Tetapkan 1 Tersangka Bentrokan Bekasi ...'Percantik' Jaringan, Indosat Kucurkan Rp 6 Triliun

Comments

Unregistered user Wednesday, April 11, 2012 8:17:09 AM

th3r1us writes: Yeah..spertinya memang menarik teknologi ini..ayuk kita riset bareng2..

Arun Delauarundelau Monday, April 16, 2012 8:58:55 AM

benar mas, mari sama kita riset.. Hehehe..

Write a comment

New comments have been disabled for this post.