Biografi Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al- Wadi’i
Friday, October 1, 2010 4:27:05 PM
Beliau adalah Muqbil bin Hadi bin
Muqbil bin Qanidah Al-Hamadani
Al-Wadi’i Al-Khallaaly dari
kabilah Aalu Rasyid dan di timur
Sha’dah dari lembah Dammaj.
Pada permulaan mencari ilmu,
beliau belajar pada sebuah jami’
Al-Hadi dan tak ada seorangpun
pada waktu itu yang
membantunya dalam thalabul
ilmi. Selang beberapa waktu
beliau pergi menuju Al-Haramain
dan Najd.
Muqbil bin Qanidah Al-Hamadani
Al-Wadi’i Al-Khallaaly dari
kabilah Aalu Rasyid dan di timur
Sha’dah dari lembah Dammaj.
Pada permulaan mencari ilmu,
beliau belajar pada sebuah jami’
Al-Hadi dan tak ada seorangpun
pada waktu itu yang
membantunya dalam thalabul
ilmi. Selang beberapa waktu
beliau pergi menuju Al-Haramain
dan Najd.
Suatu ketika seorang penceramah
memberinya nasihat tentang
kitab-kitab yang ber-manfaat dan
menunjukkannya pada Shahih
Bukhari, Bulughul Maram,
Riyadlush Shalihin, Fathul Majid
dan memberinya satu nuskhah
dari Kitab Tauhid. Beliau
menekuni dan mempelajari buku-
buku tersebut. Beberapa waktu
kemudian beliau pulang ke
negerinya dan mengingkari setiap
apa yang dilihatnya yang
menyelisihi tauhid dari
penyembelihan yang
diperuntukkan selain kepada
Allah, membangun kubah di atas
kuburan dan berdoa kepada
orang-orang yang telah mati.
Ketika berita ini terdengar oleh
orang-orang Syi’ah pada waktu
itu, mereka mengatakan,
“Barang-siapa yang mengubah
ajaran agamanya, maka
bunuhlah!” Sebagian dari
mereka mengadukan kepada
kerabat-kerabat Syaikh, “Jika
kalian tidak melarangnya, maka
kami akan memenjarakannya.”
Setelah itu mereka memutuskan
untuk memasukkannya kembali
ke Jami’ Al-Hadi untuk belajar
pada mereka dan menghilangkan
syubhat-syubhat yang ada pada
Syaikh (menurut anggapan
mereka pent). Berkata Syaikh,
“Ketika aku melihat kurikulum
yang ditetapkan adalah Syi’ah
Mu’tazilah maka aku putuskan
untuk konsentrasi dalam ilmu
nahwu.” Dan tatkala terjadi
perubahan politik antara Republik
dan Kerajaan (Yaman), beliau
meninggalkan negerinya dan
pergi ke Najran untuk ber-
mulazamah kepada Abul Husain
Majduddin Al-Muayyid dan men-
dapatkan faedah darinya, terlebih
khusus dalam bahasa Arab. Beliau
tinggal di sana selama kurang
lebih selama dua tahun, kemudian
ber-’azzam untuk ber-rihlah
(menempuh perjalanan pent) ke
negeri Haramain dan Najd dan
belajar pada sebuah madrasah
tahfizh Al-Qur’an Al-Karim.
Kemudian bertekad lagi untuk
safar ke Makkah dan beliau
menghadiri durus (halaqoh-
halaqoh ilmu pent) di antaranya
adalah Syaikh Yahya bin Utsman
Al-Baqistani dan Syaikh Al-Qadhi
Yahya Asywal dan Syaikh
Abdurrazzaq Asy-Syahidi Al-
Mahwithi. Lalu beliau masuk ke
ma’had Al-Haram Al-Makki dan
selesai dari tingkatan mutawasith
dan tsanawi beliau pindah ke
Madinah dan masuk ke Jami’ah
Al-Islamiyah pada fakultas
da’wah dan ushuluddin. Saat
tiba waktu liburan Syaikh merasa
takut kehilangan waktunya,
sehingga beliau mengikutsertakan
dirinya pada fakultas syari’ah
untuk menambah ilmu. Karena
materi-materinya saling
berdekatan dan sebagiannya
sama, maka hal itu dianggap
sebagai murajaah (pengulangan)
atas yang beliau pelajari di
fakultas da’wah.
Selesai dari dua fakultas ini,
Syaikh berkata, “Aku diberi dua
ijazah, namun alhamdulillah aku
tidak menghiraukannya, yang
terpenting bagiku adalah ilmu.”
Setelah selesai dari dua fakultas
ini dibukalah di jami’ah untuk
tingkatan lanjutan yaitu magister,
beliaupun mendaftarkan dirinya
dan beliau berhasil dalam ujian
penerimaannya yaitu dalam
bidang ilmu hadits. Berkata
Syaikh, “Setelah ini semua, aku
tinggal di perpustakaanku. Hanya
beberapa saat berdatanganlah
sebagian saudara-saudara dari
Mesir, maka aku buka pelajaran-
pelajaran dari sebagian kitab-
kitab hadits dan kitab-kitab
bahasa. Dan masih saja para
thalabul ilmi berdatangan dari
Mesir, Kuwait, Haramain, Najd,
‘Adn, Hadramaut, Al-Jazair, Libia,
Somalia, Belgia dan dari
kebanyakan negeri-negeri Islam
dan yang lainnya.”
Gunung-gunung dan pasir serta
lembah-lembah menjadi saksi
bagi Abu Abdirrahman (nama
kunyah Syaikh Muqbil pent) dalam
penyebaran Sunnah dan
kesabarannya dalam
menanamkan pada hati manusia
serta permusuhannya terhadap
bid’ah dengan fadhilah dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Guru-guru beliau yang paling
masyhur :
1. Abdul Aziz As-Subail
2. Abdullah bin Muhammad bin
Humaid
3. Abdul Aziz bin Rasyid An-Najdi
4. Muhammad bin Abdillah Ash-
Shoumali
5. Muhammad Al-Amin Al-Mishri
6. Hammad bin Muhammad Al-
Anshori
7. Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz
(beliau pernah hadir mengikuti
sebagian halaqoh ilmunya di
Haramun Madani yaitu pada kitab
Shahih Muslim)
8. Muhammad Nashiruddin Al-
Albani (beliau mengambil faidah
darinya pada pertemuan khusus
para thalabatul ilmi dan pada
kesempatan-kesempatan yang
lainnya).
Sebagian dari karya-karya Syaikh :
1. Ash-Shahih Al-Musnad min
Asbabin Nuzul
2. Al-Ilzamaat wat-Tatabbu’
3. Asy-Syafa’at
4. Ash-Shahih Al-Musnad mimma
laisa fish-Shahihaini
5. Ash-Shahih Al-Musnad min
Dalaailin Nubuwwati
6. Al-Jami’u Ash-Shahih fil-
Qadari
7. Al-jami’u Ash-Shahih mimma
laisa fish- Shahihaini (tersusun
sesuai dengan bab-bab fiqhiyyah)
8. Tatabbu’u Awhamil Hakim fi
al-Mustadrak al-lati lam yunabbih
‘alaiha Adz-Dzahabi ma’a
Tarajimi lir-ruwati alladzina laisu
min rijali Tahdzibi At-Tahdzib
9. As-Suyufu Al-Bathirat li ilhadi
Asy-Syuyuiyyah Al-Kafirah
10. Ijabatu As-Saili ‘an ahammi
Al-Masaili
11. Dan beliau juga mempunyai
sekitar 33 karya yang lain.
Beberapa murid-murid Syaikh
yang menonjol, murid-murid
beliau sangat banyak sekali tidak
ada yang mengetahui jumlah
mereka kecuali Allah, kami
sebutkan beberapa di antaranya
yang menonjol dari kalangan
muallifin (penulis buku), para dai-
dai, dan selain mereka :
1. Ahmad bin Ibrahim Abul Ainain
Al-Mishri
2. Ahmad bin Sa’id Al-Asyhabi
Al-Hajari Abul Mundzir
3. Usamah bin Abdul Latif Al-
Kushi, penulis kitab Al-Adzan
4. Abdullah bin Utsman Ad-
Damari, beliau terkenal sebagai
pemberi ceramah kalangan
Ahlussunnah di Yaman
5. Abdul Aziz bin Yahya Al-Bura’i
6. Abdul Mushawwir bin
Muhammad Al- Ba’dani
7. Muhammad bin Abdul Wahhab
Al-Wushobi Abdali
8. Muhammad bin Abdillah Al-
Imam Abu Nashr Ar-Raimi
9. Musthofa bin Ismail Abul Hasan
As- Sulaimani Al-Maghribi
10. Musthofa ibnul Adawi Al-
Mishry
11. Yahya bin Ali Al-Muri
12. Abdur Raqib bin Ali Al-Ibbi
13. Qasim bin Ahmad Abu Abdillah
At-Taizi
14. Jamil bin Ali Asy-Syaja’ Ash-
Shobari
15. Ali bin Abdillah Abul Hasan
Asy-Syaibani
16. Auf bin Abdillah Al-Bakkari
Abu Harun
17. Utsman bin Abdillah Al-Utmi
18. Ummu Abdillah binti Muqbil
bin Hadi al-Wadi’i, penulis kitab
Ash-Shahihul Musnad min Asy-
Syamaili Al-Muhammadiyyah dan
yang lainnya.
Diringkas oleh Abu Malik Adnan Al-
Maqthori
Dinukil dari “Silsilah Al Muntaqo
min Fatawa
As Syaikh Al Allamah Muqbil bin
Hadi AL Wadi’i”
Judul Indonesia “Risalah
Ramadan untuk Saudaraku
Kumpulan 44 Fatwa Syaikh Muqbil
bin Hadi”
Penerbit Pustaka At Tsiqaat Press
Sumber:ulamasunnah.wordpress.com





