Biografi Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz
Friday, October 1, 2010 3:34:48 PM
Penulis: Al Ustadz Ahmad
Hamdani Ibnu Muslim
Syaikh Bin Baz, menurut Syaikh
Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, adalah
seorang tokoh ahli fiqih yang
diperhitungkan di jaman kiwari
ini, sebagaimana Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani
juga seorang ulama ahlul hadits
yang handal masa kini. Untuk
mengenal lebih dekat siapa beliau,
mari kita simak penuturan beliau
mengungkapkan data pribadinya
berikut ini.
Syaikh Bin Baz, menurut Syaikh
Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, adalah
seorang tokoh ahli fiqih yang
diperhitungkan di jaman kiwari
ini, sebagaimana Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani
juga seorang ulama ahlul hadits
yang handal masa kini. Untuk
mengenal lebih dekat siapa beliau,
mari kita simak penuturan beliau
mengungkapkan data pribadinya
berikut ini.
Syaikh mengatakan, “Nama
lengkap saya adalah Abdul ‘Aziz
Bin Abdillah Bin Muhammad Bin
Abdillah Ali (keluarga) Baz. Saya
dilahirkan di kota Riyadh pada
bulan Dzulhijah 1330 H. Dulu
ketika saya baru memulai belajar
agama, saya masih bisa melihat
dengan baik. Namun qodarullah
pada tahun 1346 H, mata saya
terkena infeksi yang membuat
rabun. Kemudian lama-kelamaan
karena tidak sembuh-sembuh
mata saya tidak dapat melihat
sama sekali. Musibah ini terjadi
pada tahun 1350 Hijriyah. Pada
saat itulah saya menjadi seorang
tuna netra. Saya ucapkan
alhamdulillah atas musibah yang
menimpa diri saya ini. Saya
memohon kepada-Nya semoga
Dia berkenan menganugerahkan
bashirah (mata hati) kepada saya
di dunia ini dan di akhirat serta
balasan yang baik di akhirat
seperti yang dijanjikan oleh-Nya
melalui nabi Muhammad
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam atas
musibah ini. Saya juga memohon
kepadanya keselamatan di dunia
dan akhirat.
Mencari ilmu telah saya tempuh
semenjak masa anak-anak. Saya
hafal Al Qur’anul Karim sebelum
mencapai usia baligh. Hafalan itu
diujikan di hadapan Syaikh
Abdullah Bin Furaij. Setelah itu
saya mempelajari ilmu-ilmu
syariat dan bahasa Arab melalui
bimbingan ulama-ulama kota
kelahiran saya sendiri. Para guru
yang sempat saya ambil ilmunya
adalah:
1. Syaikh Muhammad Bin Abdil
Lathif Bin Abdirrahman Bin Hasan
Bin Asy Syaikh Muhammad Bin
Abdul Wahhab, seorang hakim di
kota Riyadh.
2. Syaikh Hamid Bin Faris, seorang
pejabat wakil urusan Baitul Mal,
Riyadh.
3. Syaikh Sa’d, Qadhi negeri
Bukhara, seorang ulama Makkah.
Saya menimba ilmu tauhid
darinya pada tahun 1355 H.
4. Samahatus Syaikh Muhammad
Bin Ibrahim Bin Abdul Lathief Alu
Syaikh, saya bermuzalamah
padanya untuk mempelajari
banyak ilmu agama, antara lain:
aqidah, fiqih, hadits, nahwu,
faraidh (ilmu waris), tafsir, sirah,
selama kurang lebih 10 tahun.
Mulai 1347 sampai tahun 1357 H.
Semoga Allah membalas jasa-jasa
mereka dengan balasan yang
mulia dan utama.
Dalam memahami fiqih saya
memakai thariqah (mahdzab -red)
Ahmad Bin Hanbal [1]
rahimahullah. Hal ini saya lakukan
bukan semata-mata taklid kepada
beliau, akan tetapi yang saya
lakukan adalah mengikuti dasar-
dasar pemahaman yang beliau
tempuh. Adapun dalam
menghadapi ikhtilaf ulama, saya
memakai metodologi tarjih, kalau
dapat ditarjih dengan mengambil
dalil yang paling shahih. Demikian
pula ketika saya mengeluarkan
fatwa, khususnya bila saya
temukan silang pendapat di
antara para ulama baik yang
mencocoki pendapat Imam
Ahmad atau tidak. Karena AL HAQ
itulah yang pantas diikuti. Allah
berfirman (yang artinya -red),
“Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul
dan Ulil Amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu maka
kembalikanlah dia kepada Allah
(Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As
Sunnah) jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya” (An Nisa:59)”
TUGAS-TUGAS SYAR’I
” Banyak jabatan yang
diamanahkan kepada saya yang
berkaitan dengan masalah
keagamaan. Saya pernah
mendapat tugas sebagai:
1. Hakim dalam waktu yang
panjang, sekitar 14 tahun. Tugas
itu berawal dari bulan Jumadil
Akhir tahun 1357 H.
2. Pengajar Ma’had Ilmi Riyadh
tahun 1372 H dan dosen ilmu
fiqih, tauhid, dan hadits sampai
pada tahun 1380 H.
3. Wakil Rektor Universitas Islam
Madinah pada tahun 1381-1390
H.
4. Rektor Universitas Islam
Madinah pada tahun 1390 H
menggantikan rektor sebelumnya
yang wafat yaitu Syaikh
Muhammad Bin Ibrahim Ali
Syaikh. Jabatan ini saya pegang
pada tahun 1389 sampai dengan
1395 H.
5. Pada tanggal 13 bulan 10 tahun
1395 saya diangkat menjadi
pimpinan umum yang
berhubungan dengan penelitian
ilmiah, fatwa-fawa, dakwah dan
bimbingan keagamaan sampai
sekarang. Saya terus memohon
kepada Allah pertolongan dan
bimbingan pada jalan kebenaran
dalam menjalankan tugas-tugas
tersebut.
Disamping jabatan-jabatan resmi
yang sempat saya pegang
sekarang, saya juga aktif di
berbagai organisasi keIslaman lain
seperti:
1. Anggota Kibarul Ulama di
Makkah.
2. Ketua Lajnah Daimah (Komite
Tetap) terhadap penelitian dan
fatwa dalam masalah keagamaan
di dalam lembaga Kibarul Ulama
tersebut.
3. Anggota pimpinan Majelis
Tinggi Rabithah ‘Alam Islami.
4. Pimpinan Majelis Tinggi untuk
masjid-masjid.
5. Pimpinan kumpulan penelitian
fiqih Islam di Makkah di bawah
naungan organisasi Rabithah
‘Alam Islami.
6. Anggota majelis tinggi di
Jami’ah Islamiyah (universitas
Islam -red), Madinah.
7. Anggota lembaga tinggi untuk
dakwah Islam yang berkedudukan
di Makkah.
Mengenai karya tulis, saya telah
menulis puluhan karya ilmiah
antara lain:
1. Al Faidhul Hilyah fi Mabahits
Fardhiyah.
2. At Tahqiq wal Idhah li Katsirin
min Masailil Haj wal Umrah Wa
Ziarah (Tauhdihul Manasik – ini
yang terpenting dan bermanfaat
– aku kumpulkan pada tahun
1363 H). Karyaku ini telah dicetak
ulang berkali-kali dan
diterjemahkan ke dalam banyak
bahasa (termasuk bahasa
Indonesia -pent).
3. At Tahdzir minal Bida’
mencakup 4 pembahasan
(Hukmul Ihtifal bil Maulid Nabi wa
Lailatil Isra’ wa Mi’raj, wa
Lailatun Nifshi minas Sya’ban
wa Takdzibir Ru’yal Mar’umah
min Khadim Al Hijr An Nabawiyah
Al Musamma Asy Syaikh Ahmad).
4. Risalah Mujazah fiz Zakat was
Shiyam.
5. Al Aqidah As Shahihah wama
Yudhadhuha.
6. Wujubul Amal bis Sunnatir
Rasul Sholallahu ‘Alaihi
Wasallam wa Kufru man
Ankaraha.
7. Ad Dakwah Ilallah wa Akhlaqud
Da’iyah.
8. Wujubu Tahkim Syar’illah wa
Nabdzu ma Khalafahu.
9. Hukmus Sufur wal Hijab wa
Nikah As Sighar.
10. Naqdul Qawiy fi Hukmit
Tashwir.
11. Al Jawabul Mufid fi Hukmit
Tashwir.
12. Asy Syaikh Muhammad Bin
Abdil Wahhab (Da’wah wa
Siratuhu).
13. Tsalatsu Rasail fis Shalah:
Kaifa Sholatun Nabi Sholallahu
‘Alaihi Wasallam, Wujubu
Ada’is Shalah fil Jama’ah, Aina
Yadha’ul Mushalli Yadaihi hinar
Raf’i minar Ruku’.
14. Hukmul Islam fi man
Tha’ana fil Qur’an au fi
Rasulillah Sholallahu ‘Alaihi
Wasallam.
15. Hasyiyah Mufidah ‘Ala Fathil
Bari – hanya sampai masalah haji.
16. Risalatul Adilatin Naqliyah wa
Hissiyah ‘ala Jaryanis Syamsi wa
Sukunil ‘Ardhi wa Amakinis
Su’udil Kawakib.
17. Iqamatul Barahin ‘ala Hukmi
man Istaghatsa bi Ghairillah au
Shaddaqul Kawakib.
18. Al Jihad fi Sabilillah.
19. Fatawa Muta’aliq bi Ahkaml
Haj wal Umrah wal Ziarah.
20. Wujubu Luzumis Sunnah wal
Hadzr minal Bid’ah.”
Sampai di sini perkataan beliau
yang saya (Ustadz Ahmad
Hamdani -red) kutip dari buku
Fatwa wa Tanbihat wa Nashaih
hal 8-13.
AKIDAH DAN MANHAJ DAKWAH
Akidah dan manhaj dakwah
Syaikh ini tercermin dari tulisan
atau karya-karyanya. Kita lihat
misalnya buku Aqidah Shahihah
yang menerangkan aqidah Ahlus
Sunnah wal Jama’ah,
menegakkan tauhid dan
membersihkan sekaligus
memerangi kesyirikan dan
pelakunya. Pembelaannya kepada
sunnah dan kebenciannya
terhadap kebid’ahan tertuang
dalam karya beliau yang ringkas
dan padat, berjudul At Tahdzir
‘alal Bida’ (sudah
diterjemahkan -pent). Sedangkan
perhatian (ihtimam) dan
pembelaan beliau terhadap
dakwah salafiyah tidak diragukan
lagi. Beliaulah yang menfatwakan
bahwa firqatun najiyah (golongan
yang selamat -red) adalah para
salafiyyin yang berpegang dengan
kitabullah dan sunnah Nabi
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
dalam hal suluk (perilaku) dan
akhlaq serta aqidah. Beliau tetap
gigih memperjuangkan dakwah
ini di tengah-tengah rongrongan
syubhat para da’i penyeru ke
pintu neraka di negerinya
khususnya dan luar negeri beliau
pada umumnya, hingga al haq
nampak dan kebatilan
dilumatkan. Agaknya ini adalah
bukti kebenaran sabda Nabi
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
(yang artinya), “Akan tetap ada
pada umatku kelompok yang
menampakkan kebenaran (al
haq), tidak memudharatkan
mereka orang yang mencela atau
menyelisihinya”
Foot note:
[1] Mahdzab secara istilah yakni
mengikuti istilah-istilah Ahmad
Bin Hanbal dalam mempelajari
masalah fiqih atau hadits. Bukan
Mahdzab syakhsyi yaitu
mengambil semua hadits yang
diriwayatkannya.
WAFAT:
Beliau wafat pada hari Kamis, 27
Muharram 1420 H / 13 Mei 1999
M. Semoga Allah Subhanahu
Wata’ala merahmatinya. Amin.
Sumber:ulamasunnah.wordpress.com





