Janganlah Berputus Asa Dari Rahmat Allah
Monday, October 18, 2010 3:01:43 AM
Salah satu fasa yang agak kritikal dalam pembinaan diri adalah menerima kelemahan yang ada pada diri sendiri. Secara fitrahnya manusia memang memiliki banyak kelebihan dan kelemahan. Namun berdiri didepan hakikat ini bukanlah sesuatu yang mudah. Seringkali kelebihan yang banyak menjadikan seseorang itu bongkak dan banggakan diri lalu jatuh kelembah yang dihina oleh Allah SWT. Bukankah kebanyakan ahli neraka itu ialah golongan Mutakabbirin (Orang-orang yang takbur atau sombong). Manakala ada manusia yang terlalu inferior hingga merasakan dirinya tidak bernilai atau ada juga yang terlalu defensive bila berdepan dengan kelemahan diri hingga manusia lain takut untuk memberi nasihat apatah lagi memimpin tangannya apada jalan kebaikan lalu membiarkan jiwanya terkapar-kapar menderita.Kenapa kita tidak memandang diri kita sebagai HAMBA. Hamba yang jiwanya Allah ilhamkan dengan kefujuran (keburukan) dan ketaqwaan. Bahkan kecenderungan kita kepada kefujuran itu kata Ibnu Jauzi seperti air yang menuruni bukit sedangkan kecenderungan pada ketaqwaan ini seperti air yang menaiki bukit hingga memerlukan satu tenaga tambahan untuk naik keatas. Tidakkah kita menyedari bahwa sedikit saja kelalaian kita dalam mengingati Allah akan mendekatkan kita pada kefujuran lalu kita akan kjatuh kelembah maksiat dan dosa. Oleh itu, bukankah kita perlu sibukkan diri kita dengan taubat kepada Allah SWT. Bukankah kita juga perlukan sibukkan diri dengan doa agar kita mampu mendaki kebaikan yang akan mendekatkan kita pada Allah SWT.
Janganlah pula kelemahan diri yang banyak menjadikan kita lupakan kebaikan Allah SWT terhadap kita hingga kita melihat diri kita ini tidak berguna lalu kita duduk menyalahkan diri kita sendiri. Mustahil Allah jadikan kita tanpa satupun kebaikan hingga kita tidak mampu melakukan apa-apapun. setiap kita telah Allah sediakan kebaikan yang banyak, cuma bagaimana kita menggali keluar segala potensi yang kita miliki lalu kita bersihkan dan kita gilapkan.
Kelemahan itu sebahagian dari diri tetapi bukan keseluruhannya. Kelemahan itu adalah sebahagian yang Allah sediakan sebagai peluang untuk kita mujahadah dan Allahpun tidak biarkan kita bersendirian bahkan Allah sentiasa bersedia mendengar doa dan munajat kita memohon kekuatan dariNya. Kelemahan juga adalah pintu masuk syaithan kedalam jiwa kita lalu dibisikkannya keraguan, kekecewaan, kegelisahan dan keputus asaan. Sentiasalah kita mujahadah diri disamping berdoa kepada Allah dalam setiap detik yang kita lalui. Sambutlah segala kegelisahan hati dengan ISTIGHFAR bukan keluhan, rawatlah segala kekecewaan dengan DOA dan gantikan keputus asaan kita dengan HARAPAN.
Janganlah kita berpuus asa dari hidayah Allah SWT. Bagi jiwa-jiwa yang merasakan dirinya terlalu lemah dan sering melakukan dosa, saya ingin sampaikan satu berita gembira bahawa Allah tidak pernah melupakan kita bahkan begitu rindukan doan dan taubat kita.
“Allah lebih gembira menerima taubat hambaNya daripada hamba yang berjalan di padang pasir, lalu ia kehilangan kenderaannya yang memuatkan makanan dan minumannya. Ia menyangka akan mati, lalu ia menggali lubang, dan tidur di dalamnya sambil berkata,’Aku akan tidur di dalam lubang ini sehinggalah kematian datang menjemput’ Tiba-tiba kenderaan dan makanan yang ia bawa berada di atasnya.’Sampaikan ia berkata, ‘Ya Allah Kau hambaku, dan aku TuhanMu.(sampai tersalah kata akibat terlalu gembira) Maka Allah lebih gembira menerima taubat hambaNya daripada kegembiraan hamba tadi. (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)















Unregistered user # Sunday, October 24, 2010 9:19:56 AM
Abu Umarazmibhr # Wednesday, October 27, 2010 3:15:15 AM
Ilmu yang paling tinggi dan penting dalam Islam ialah ilmu AQIDAH. ilmu yang paling penting dan tertinggi dalam ilmu aqidah ialah TAUHID.
tidak memahami dan menghayati Tauhidullah akan menjadikan kita lemah hubungan kepada Allah bahkan terlalu jauh untuk mengahyati dan meyakini janji-janji Allah SWT
Unregistered user # Sunday, December 5, 2010 3:28:20 PM
Abu Umarazmibhr # Monday, December 6, 2010 12:59:37 AM
Jika kita bertaubat..yakinlah Allaj akan ampunkan dosa kita walau seluas langit dan bumi, walau dosa kita bertimbun hingga ke awan (Mahfhum hadith; lihat hadith arba'in Imam Nawawi). Jika kita lemah dan mengharapkan kekuatan dari Allah maka yakinlah dengan pertolonganNya.
Dalam satu hadith Qudsi, mafhumnya...Allah mengikut apa yang disangkakan oleh hambaNya. Kalau kita rasa Allah tak ampunkan dosa kita maka Allah tidak akan ampunkan dosa kita. Jadi sentiasalah bersangka baik terhadap Allah SWT
Unregistered user # Monday, December 27, 2010 6:52:37 AM
Abu Umarazmibhr # Wednesday, December 29, 2010 3:27:05 AM
Unregistered user # Saturday, March 19, 2011 2:25:18 AM
Abu Umarazmibhr # Thursday, March 24, 2011 2:22:36 AM
Sebenarnya kematian akan mendorong kita untuk beramal lebih banyak dan lebih baik. Jika berlaku sebaliknya, bermakna ada sesuatu yang tidak kena. Banykkanlah berdoa minta kekuatan dan taufiq(bimbingan) Allah SWT
Unregistered user # Thursday, October 13, 2011 9:41:21 AM
Abu Umarazmibhr # Tuesday, October 18, 2011 3:06:00 AM
Jadi persoalannya apakah jalan untuk kita mengenali Allah dan bagaimana kita cuba mengenaliNya.
Sebenarnya mempercayai tuhan itu adalah fitrah insan sebagaimana yang saya bincangkan dalam artikel saya Bahagiakah Hidup Tanpa Iman(http://my.opera.com/azmibhr/blog/2007/03/28/bahagiakah-hidup-tanpa-i).
Unregistered user # Sunday, February 12, 2012 6:53:30 PM
Abu Umarazmibhr # Sunday, February 19, 2012 12:25:55 AM
Unregistered user # Sunday, February 26, 2012 10:08:34 AM
Unregistered user # Sunday, February 26, 2012 10:09:09 AM
Abu Umarazmibhr # Thursday, March 1, 2012 1:01:43 AM
Oleh itu, jangan kita terlalu tertekan dengan fitnah manusia kerana Allahlah yang memelihara maruah dan harga diri kita. Yang penting ialah kita dan Allah SWT. Walaupun manusia menabur fitnah keatas kita, semuanya bergantung pada Allah.
Oleh itu kita cuba utk membetulkannya mengikut kemampuan kita, selebihnya kita anggap sebagai ujian Allah utk menguji keikhlasan dan keimanan kita. Tidak seharusnya fitnah itu mengganggu kehidupan kita.