Ibuku Titisan Kartini
Monday, April 30, 2012 4:49:42 PM
Setiap menjelang hari Kartini, sosok perempuan yang selalu kuingat adalah almarhumah ibuku. Selain wajahnya yang mirip (kata orang sih), semangat juangnya pun menjadi tauladan bagi kami anak-anaknya. Sebagai istri dari seorang prajurit, ibuku sadar betul bahwa gaji bapaknya anak-anak tidaklah mencukupi untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari. Ditambah untuk biaya sekolah anak-anak yang pada waktu itu belum ada program biaya sekolah gratis seperti saat ini. Begitulah, keadaan itu memaksa ibuku untuk turut 'berjuang' menyingsingkan lengan baju demi kelangsungan hidup dan demi masa depan pendidikan kami anak-anaknya. Akhirnya dia memberanikan diri meminta restu pada suami untuk turut berjuang bersama-sama. Tentunya dalam dimensi yang berbeda, bapakku berjuang demi membela negara sedang ibuku berjuang demi membela keluarga.Sebagai lulusan sekolah kejuruan, keahliannya hanyalah mengetik. Pada saat itu masih jamannya mesin tik dan belum ada komputer. Ibuku melamar pekerjaan pada sebuah instansi pemerintahan. Alhamdulillah diterima di bagian administrasi, tugasnya sebagai juru ketik. Seiring berjalannya waktu, akhirnya diangkat juga dia menjadi pegawai negeri.
Seperti yang dikisahkan ibu kepadaku (pada saat itu aku belum lahir), jarak antara rumah dan tempat kerja ibuku sangatlah jauh. Entah berapa kilometer, yang jelas untuk sampai di tempat kerja ibuku menempuh perjalanan dengan berjalan kaki hingga dua jam. Belum lagi setelah lelah bekerja dia harus kembali pulang dengan berjalan kaki pula. Oh sedihnya diriku, ketika membayangkan betapa kuat dan tegarnya ibuku berjuang demi membantu suami dan kelangsungan hidup anak-anaknya. Bahkan seperti diceritakannya, saat ibuku hamil tua pun dia masih kuat berjalan walau di sepanjang perjalanan dia harus sering duduk beristirahat. Demikianlah, dari kerasnya tempaan hidup membuat ibuku menjadi sosok perempuan yang tangguh dan pantang mengeluh.
Dari kisah perjuangan hidup ibuku ini, telah menginspirasi kami anak-anaknya untuk tetap tegar menjalani kehidupan yang kadang terasa manis dan adakalanya juga pahit. Semangat hidup dan kegigihannya dalam bekerja serta tekad yang kuat menjadi suri tauladan bagi kami sekeluarga. Bahkan akan menjadi cerita yang heroik bagi cucu-cucunya kelak. Dan aku akan menceritakannya pada anak-anakku kelak bahwa neneknya adalah seorang wonder woman layaknya titisan Kartini. Bagiku itu tidaklah berlebihan.
Saat ini terkadang aku membayangkan dia masih hidup. Dalam lamunanku, dia sedang bercerita dikelilingi cucu-cucunya yang asik mendengarkan kisah hidupnya seperti yang telah diceritakan pada kami anak-anaknya. Ah, rindunya diriku.... Andai saja dia masih hidup, rasanya ingin mendengar kembali kisah perjuangan hidupnya.
























