SEJARAH GAM YANG DI BUAT Dr.Husaini Hasan

Atjeh 2


Sejarah GAM (bagian ke –II)

Dr. Husaini Hasan


Pengepungan asrama Puntjeuëk dan keputusan Wali Negara berangkat ke Luar Negeri


30 December 1978



Hari menjelang petang. Sinar mentari telah rebah ke ufuk Barat, menembusi celah-celah daun pepohonan yang tinggi menjulang. Suasana lengang dan tenang didalam rimba Puntjeuëk di Wilajah Pidië. Kami, 14 orang berada di asrama Komando , bersama dengan WN(Wali Negara) Tgk. Hasan di Tiro, Dr. Zaini Abdullah, Tgk. Ilyas Cot Pliëng, Tgk. Ibrahim Abdullah, Asgadi, Tgk. Imum Wahab, Usuh Blang Mane, Geutjhik Sammaun, Tgk. Ben Dadeh, Tgk. Harun dan penulis. Geutjhik Uma, Komandan Pengawal WN, berada dipos jaga diatas bukit bersama dua orang pengawal. Asrama terdiri dari dua barak diatas tebing ditepi sungai kecil yang dangkal tapi sangat jernih airnya. Hawa gunung sangatlah nyaman jauh dari keributan hiruk pikuk keramaian kota, tenang dan damai diselingi oleh musik unggas hutan yang sibuk mencari makanan untuk kelanjutan kehidupan mereka. Barak I langsung ditepi sungai, kira-kira 3 meter dari tepi air, dihuni a.l.: oleh Geutjhik Sjammaun Gumpuëng, Panglima Wilayah Pidië, Tgk. Ben Dadéh. Barak II bersudut 90 deradjat dari barak I didiami oleh Gubernur Wilajah Pidië, Tgk. Ilyas Cot Pliëng, dan wakil beliau, Tgk. Ibrahim Abdullah. Menteri Kesehatan, Dr. Zaini Abdullah, Tgk. Abdussamad Gadéng, yang dikenal dengan nama Asgadi, Wakil dari Wilajah Pasè.



Jam tanganku menunjukkan pukul tiga petang. Kami sedang duduk-duduk diasrama, sedang makan rudjak kulit pisang mentah. Sudah dua minggu kami tidak mencium bau nasi. Makanan yang terakhir kami makan adalah pisang mentah dua buah seorang, dua hari lalu. Kulit pisang tersebut telah kami buang dan berserak disekitar asrama. Disebabkan sudah sangat lapar, kami memungut kemabli kulit pisang yang sudah kami buang tersebut, membersihkannya dari kotoran dan kami iris-iris dan bubuh sedikit garam dan beberapa butir cabe. Utusan-utusan yang kami kirim ke kampung untuk mengambil makanan belum kembali. Utusan pertama kami kirim 2 minggu yang lalu belum lagi kembali. Utusan kedua kami kirim dua hari yang lalu untuk mengambil makanan dikampung terdekat, sehari bermalam berjalan kaki, belum juga kembali. Bagi kami para gerilyawan yang sudah bertahun didalam rimba sudah menjadi tanda jika makanan susah naik kepada kami itu berarti musuh kami TNI berada didalam hutan, dan orang-orang kami dikampung sangat berhati-hati untuk masuk hutan. Dan setiap utusan yang kami kirim akan kembali dengan makanan ataupun dengan tembakan peluru. Karena kalau utusan kami terpergok dengan musuh dihutan maka mereka akan ditangkap dan dipaksa kembali menunjukkan jalan ke asrama kami. Kalau tidak mau maka mereka akan ditembak langsung ditempat.



Wali Negara baru saja selesai mandi dan sedang menggunting misainya, duduk relax dipondoknya yang terletak diujung asrama. Disebelahnya, terletak tempat tidur Sekretaris Negara, Dr. Husaini Hasan, yang juga merangkap sebagai Menteri Pendidikan dan Penerangan. SekNeg(Sekretaris Negara) selalu berada disamping WN sudah 1½ tahun. Kemana saja WN pergi, dimana WN duduk, SekNeg selalu berada disamping WN. Mesin tulis Olivetti tua, satu-satunya mesintulis dimarkas WN digunakan bergantian diantara kedua mereka, WN dan SekNeg.

Sambil mengunyah kulitpisang mentah, kami mendengarkan ceramah yang diberikan oleh Tgk. Ibrahim Abdullah mengenai arti dan pemahaman ayat tudjuh didalam madjmu’ syarif.

Tiba-tiba kami mendengar suara tembakan dan teriakan ”Allahu Akbar” dari Tgk. Ben Dadeh yang sedang mandi disungai. Dengan reflek dan tangkas Geutjhik Sammaun langsung membalas tembakan tersebut yang datang dari arah sungai. Dari arah pos diatas bukit pun terdengar tembakan dari Geutjhik Umar. Suara tembakan senapan mesin berlangsung sangat gencar. Peluru bersimpang siur disekitar kami. Dari tempat duduk saya bangkit melompat mengambil ransel saya yang terletak dibarak Tengku WN. Ketika hendak memasang ransel aku merasa sebutir peluru menyentuh dadaku sebelah kiri dekat jantung, dan terasa dingin. Aku berkata kepada Tengku WN didepanku yang juga sedang bergegas mengambil bagnya: ”Tengku saya terkena tembakan. ” Yang terlintas didalam pikiranku adalah peluru telah menembus perutku. Agar ususku tidak terburai keluar aku melilitkan kain sarungku sekitar perutku dan dengan sigap melompat turun dari barak . Aku melihat Geutjhik Sammaun telah tiba dekat dengan kepondok kami sambil membalas tembakan musuh dan mengaba-abakan supaja kami turun ke sungai . Aku mengikuti Tengku WN berlari turun kearah sungai yang berkelok-kelok dengan tebing yang terjal. Dibelakangku terlihat menyusul Dr. Zaini Abdullah dan Tgk. Harun.. Kami menyeberangi sungai kecil tersebut dan menaiki tebing batu yang terjal kira-kira 7-8 meter tingginya dan memasuki hutan lebat. Kira-kira 50meter kami berjalan kami bertemu dengan Tgk. Usuh Blang Mane dan Tgk. Imum Wahab yang sedang duduk beristirahat melepaskan lelah. Disitulah baru aku merasa bahwa darah telah berlumuran ditubuhku, tidak begitu kelihatan karena bajukupun berwarna merah. Baru aku mentjium amisnya bau darahku sendiri yang mengalir dari leherku sebelah kanan yang terluka kena serpihan peluru. Rupanya aku tertembak ditiga tempat yaitu di sebelah kanan leherku hanya beberapa melimeter dari carotis. Luka tembak yang kedua adalah disebelah lambung kiriku, hanya beberapa millimeter dari jantung. Luka tembak ketiga adalah disebelah lengan kananku. Ketiga-tiga luka tembak tersebut hanyalah dibawah kulit sahaja. Pecahan peluru dapat kurasakan dibawah kulitku, tapi tidak terasa sakit, dan darah dari lukatembak tersebut sudahpun berhenti tidak mengalir lagi. Subhanallah yang melindungi hambanya.



Setelah duduk sebentar melepaskan lelah, kami membuat rencana kemana kami akan menuju. Kami memutuskan harus berjalan semalaman untuk mendekati Kruëng Meuk , sebelum musuh sempat memagar jalan keluar dari kepungan mereka. Rencana kami adalah menuju ke Blang Mane, daerah Tengku Usuh. Hutan didaerah Gunung Puntjeuëk ini sangatlah sukar untuk dilalui. Bukit-bukit terjal dan lurah-lurah yang curam, serta lereng-lereng yang licin membutuhkan semangat yang kuat untuk sanggup melaluinya. Apalagi dimalam yang gelap gulita hanya berpedoman kepada bintang-bintang yang muncul disela-sela dedaunan rimba yang lebat. Kami berjalan semalaman kearah Timur Laut dipimpin oleh Tgk. Usuh Blang Mane sebagai pawang, sampai kami mendengar suara air Kruëng Meuk, menandakan kami telah dekat dengan sungai. Tgk. Usuh memberikan isjarat supaja kami berhenti dan mencari bertempat berteduh. Kami berhenti dibawah sebatang pohon besar yang menjulang tinggi kelangit.. Rumpun batang pohon tersebut sebesar 5meter persegi dan kami berkumpul dicelah-celah akar pohon yang bersih dan tinggi seperti sebuah kamar. Kami beristirahat bersandarkan pada pohon tersebut, terlindung dari gerimis yang menetes dari dedaunan yang lebat 50-60 meter diatas kami. Kami beristirahat sambil menunggu subuh dan akan menyeberang Krueng Meuk sebelum fajar menyingsing.



Aku yang berada disamping Tengku WN menyusulkan kepada beliau supaya beliau mengambil kesempatan ini untuk keluar negeri .Sebetulnya beliau telah mempersiapkan aku untuk keluar negeri mencari bantuan dan membuat kembali hubungan dengan rekan-rekan beliau semasa beliau di LN. Beliau telah membuat beberapa pucuk surat kepada rekan-rekan beliau di Malaysia, di Thailand, di USA dll. dan telah diserahkannya kepadaku. Sebelum terjadi penyerbuan hari ini memang aku sedang menunggu utusan yang kami kirim untuk mengatur keberangkatanku ke LN. Mengingat akan kejadian pengepungan hari ini dan banyak anggota kami yang kocar-kacir membuat lebih mudah untuk menyembunjikan kehilangan Tengku WN beberapa waktu. Aku sendiri yang menyusulkan kepada Tengku WN lebih baik beliau sendiri keluar dan menggunakan persiapan yang telah dibuat untuk keberangkatanku. Usulanku ini disambut baik oleh Tengku WN dan beliau menyadari urgency kami waktu itu untuk mencari bantuan senjata dan support dunia Internasional. Aku tidak menyadari akan akibat dari usulanku ini terjadi perubahan besar dalam sejarah perjuangan GAM dikemudian hari.



31 December 1978

Sesudah 2-3 jam kami beristirahat, Tgk. Usuh membangunkan kami. Ia masih mempunyai sedikit bekal yaitu sedikit gula dan bubuk kopi. Ia membagikan kopi dan gula tersebut satu sendok setiap orang dan itulah yang menjadi sarapan kami pagi itu. Sedang kami sarapan, Tgk. Usuh pergi menyelidik ke tepi sungai mememeriksa dimana kami akan menyeberang dan melihat kalau-kalau ada tanda musuh sudah lebih dahulu dari kami. Ia kembali dan menyatakan keadaan aman. Ia melihat ada sepasang babihutan sedang sibuk mencari makan sambil mengorek-ngorek pasir tepi sungai. Kelihatannya babi hutan tersebut begitu tenang, menandakan bahwa tidak ada tanda-tanda ada manusia disekitar itu.

Setelah shalat dua raka’at kami langsung berangkat menyeberangi sungai disaat cuaca masih remang-remang. Ketika fajar menyingsing kami telah jauh dari Krueng Meuk dan terus berjalan kearah utara. Hutan belantara antara Kruëng Meuk dan Kruëng Tiro ini tidak kurang lebatnya dibandingkan dengan rimba disekitar Puntjeuëk. Kami berjalan sekuat tenaga kami dan berhenti melepaskan lelah beberapa saat, kemudian meneruskan perjalanan sampai hari dekat magrib. Begitu malam gelap, Tgk. Mat Usuh menghidupkan api dan membuat bubur nasi dari sedikit sisa beras yang ada padanya dan membubuh beberapa butir saccharin untuk pemanis. Ia juga masih mempunyai sedikit bubuk kopi dan memasaknya. Itulah hidangan malam kami yang terasa cukup lazat setelah perjalanan yang cukup melelahkan siang tadi.

Sekitar jam 2.00petang kami berhenti disebuah tempat yang banyak sekali rumpun Kala dan rumpun pisang hutan. Kami memasuki rumpun Kala tersebut dan mencari tempat yang bersih dibawah pohon dan berteduh disitu. Setelah berhenti sebentar melepaskan lelah, WN memanggil Tgk. Usuh Blang Mane dan mengirimnya turun kekampung mengambil makanan dan mencari berita apa yang telah terjadi terhadap kawan-kawan kami di Puntjeuëk. Disamping itu WN menugaskan Tgk. Harun untuk pergi ke asrama Mawas mengambil periuk dan peralatan dapur yang kami simpan dalam gudang di asrama Mawas. Kedua mereka segera pergi menjalankan tugasnya.

Sepeninggal Tgk. Usuh dan Tgk. Harun, aku dan Tgk. Imum Wahab keluar dari rumpun Kala tersebut dan mencari apa yang dapat dimakan disekitar hutan tersebut, sambil mengadakan survey disekitar hutan yang akan kami jadikan tempat persembunyian kami sementara sampai kedua orang yang kami kirim kembali ketempat. Aku melihat beberapa batang pohon enau disekitar itu, tetapi aku tidak mempunyai peralatan apa-apa kecuali sebilah pisau. Aku mendekati sebuah anak pohon enau yang tumbuh hanya sehasta dari tanah dan dengan pisau kecil itu dan dengan tenaga sisa yang masih ada pada diriku, aku mengerat sedikit demi sedikit putjuk pohon enau tersebut dan mengambil umbut dari pucuk enau tersebut. Umbut pucuk enau ini sangat sedap dan manis menghilangkan lapar yang telah berhari-hari. Kami mengambil pucuk enau ini dan membagikannya kepada Tengku WN, Dr. Zaini dan Geutjhik Sammaun ditempat peristirahatannya. . Seperti biasa suasana dihutan sangatlah tenang. Angin hutan dipuntjak bukit bertiup sepoi-sepoi. Terik mentari diwaktu asar membuat margasatwa hutan beristirahat . Hanya suara ”dén-dén khuëng” yang berlagu memecah kesjahduan kesunyian rimba. Setelah makan beberapa kerat pucuk enau tersebut, kami semua terlelap disebabkan oleh sangat penat dan lapar.

Kami berbaring diatas tanah dengan beralaskan daun-daun kala dan daun pisang sebagai atap.

Sampai malam hari Tgk. Harun belum pulang. Kami merasa cemas kalau-kalau ia tersesat atau ia bertemu musuh dan ditangkap. Hal ini membuat kami gelisah kalau-kalau tempat kami bersembunyi diketahui oleh musuh dan kami pindah ketempat lain tidak jauh dari tempat tersebut dan Geutjhik Sammaun mengawasi dari jauh tempat tersebut kalau-kalau kedua utusan kami(Tgk. Harun dan Tgk. Usuh telah kembali). Gudang kami diasrama Mawas tidaklah begitu jauh dari tempat tersebut. Kalau Tgk. Harun tidak tersesat ia akan sampai kembali setelah maghrib. Sampai besok pagi Tgk. Harun belum juga kembali. Kami tetap diam bersembunji dan tidak melakukan gerakan-gerakan yang mencurigakan. Kira-kira jam 10.00 pagi kami melihat gerakan daun kala seperti ada sesuatu bergerak didalam rumpun kala tersebut. Dan tidak lama kemudian terdengar suara pekikan signal kode Tgk. Harun. Kalaulah tidak ada kode tersebut tentu kami tidak mengenal lagi Tgk. Harun. Karena ia telah sangat berubah dalam satu hari sadja. Seluruh badannya telah hitam terkena debu hitam bekas pantat kuali yang dibawanya. Badannya penuh dengan goresan-goresan duri-duri dan semak-semak yang dimasukinya. Ia terheran melihat tempat kami kosong dan ia hendak berbalik lari menjauhi tempat itu. Untunglah ia mendengar kode jawaban dari Geutjhik Sammaun sehingga Tgk. Harun menjadi lega dan melihat kami menyongsong menemuinya. Kami berpelukan, dengan linangan air mata, sangat terharu melihat keadaan Tgk. Harun dan senang hati melihat ia kembali dengan selamat.

Tgk. Harun bercerita bahwa ia tersesat djalan dan harus menerobos hutan dan semak-belukar yang rapat untuk menghindari bertemu dengan musuh yang sedang mengepung hutan sekitar kami. Selama dalam perjalanan pulang pergi ke asrama mawas Tgk. Harun tidak mendapat makanan apa-apa.

Aku pergi keluar mencari sebatang enau kecil yang mungkin dikerat dengan pisau, disekitar tempat kami bersembunyi dan memberikan umbutnya kepada Tgk. Harun sekedar untuk mengganjal perutnya yang sudah sangat kelaparan.

Alhamdulillah, syukur dan puji kepada Allah yang telah menyelamatkan hambanya.


2Januari 1979

Suasana hutan seperti biasa, tenang dan njaman diselingi suara unggas hutan dan burung-burung yang bernyanyi membawa pulang makanan malam kembali kesarang mereka. Makanan kami hari itu adalah umbut pisang hutan dicampur dengan rebong kala disekitar kami, yang kami rebus semalam. Kami memasak hanya dimalam hari supaya asap api tidak kelihatan dan pagi hari asap tersebut hilang bersama dengan kabut pagi. Siang hari tidak boleh memasang api sebab akan terlihat dari jauh. Siang harinya kami hanya berdiam diri bersembunyi dibawah daun-daun didalam hutan kala tersebut menunggu tgk. Usuh yang telah turun ke kampung mentjari bantuan dan makanan.

Setelah dzhuhur aku tertidur diatas tanah beralaskan daun-daun pisang. Aku terbangun mendengar pekikan suara kijang yang rupanya suara signal yang dibalas oleh Geutjhik Maun. Aku melihat Tgk. Usuh muntjul dari tjelah-tjelah daun kala. Dibelakangnya kelihatan Tgk. Daud Husin, Pawang Him. Begitu mereka melihat kami langsung memeluk kami satu persatu, dengan bercucuran air mata. Pawang Him menangis tersedu-sedu. Aliran air mata memang tak dapat ditahan pada saat pertemuan hidup mati seperti itu. Aliran air mata ini merupakan simbol ikatan jiwa spontan antara pejuang-pejuang Atjèh Meurdéhka yang melalui penderitaan didalam hutan dan rasa haru antar sesama mereka yang terlepas dari maut dan bertemu kembali masih hidup.

SEJARAH PENDIDIKAN PADA MASA RASULULLAHPERJUANGAN BANGSA BELOMLAH SELESAI

Write a comment

You must be logged in to write a comment. If you're not a registered member, please sign up.

February 2012
M T W T F S S
January 2012March 2012
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29