Wednesday, January 12, 2011 5:15:55 PM
Our Father, which art in heaven,
hallowed be thy name;
thy kingdom come;
thy will be done,
in earth as it is in heaven.
Give us this day our daily bread.
And forgive us our trespasses,
as we forgive them that trespass against us.
And lead us not into temptation;
but deliver us from evil.
[For thine is the kingdom,
the power, and the glory,
for ever and ever.]
Amen.
Friday, May 8, 2009 1:03:43 PM
Psalm 34:
13Keep thy tongue from evil, and thy lips from speaking guile.
14Depart from evil, and do good; seek peace, and pursue it.
15The eyes of the LORD are upon the righteous, and his ears are open unto their cry.
16The face of the LORD is against them that do evil, to cut off the remembrance of them from the
earth.
17The righteous cry, and the LORD heareth, and delivereth them out of all their troubles.
18The LORD is nigh unto them that are of a broken heart; and saveth such as be of a contrite spirit.
19Many are the afflictions of the righteous: but the LORD delivereth him out of them all.
20He keepeth all his bones: not one of them is broken.
21Evil shall slay the wicked: and they that hate the righteous shall be desolate.
22The LORD redeemeth the soul of his servants: and none of them that trust in him shall be desolate.
Saturday, December 23, 2006 1:30:23 PM
Lord,
Each day is a day when we seek guidance, protection, comfort and happiness.
And today,
We pray for strength, for understanding, for serenity
But most importantly,
Be with us, because we believe that peacefulness only be gained when we're with You and in You.
[Inspired by sacred pages]
Wednesday, November 1, 2006 9:20:50 PM
We choose solitude. We think loneliness chooses us.
People fight loneliness because they think it is a statement about their self-worth,
instead of choice they have made.
You might be lonely because you’ve defined only a few unavailable
or select individuals as worthy companions:
your ex-lover or ex-spouse, your adult children,
someone who is dead, or someone of your “class” and accomplishments.
You are lonely because you are a discriminating person.
There are lots of people available to be with if you are willing to seek them out.
Loneliness doesn’t choose you,
you choose loneliness in preference to the alternatives.
There is nothing wrong with your preference—just recognize it
and adapt to the circumstances that result.
Solitude is quiet different.
It is wonderful because you want to be with the person you’re with: yourself.
You cherish solitude.
The difference between loneliness and solitude is your perception
of who you are alone with and who made the choice.
[Shared by a friend from the past]
Wednesday, April 19, 2006 3:42:53 AM
Our Kids beingReligious
NationalistConsiderateBright w high competencyThink globally[/ALIGN][/ALIGN]
So help me God to fulfill the mission
Monday, March 27, 2006 6:11:33 PM
PSALM 6
To the chief Musician of Neginoth upon Sheminith, A Psalm of David
1.LORD, rebuke me not in thine anger, neither chasten me in thy hot displeasure.
2.Have mercy upon me, O LORD; for I am weak: O LORD, heal me; for my bones are vexed.
3.My soul is also sore vexed: but thou, O LORD, how long?
4.Return, O LORD, deliver my soul: oh save me for thy mercies' sake.
5.For in death there is no remembrance of thee: in the grave who shall give thee thanks?
6.I am weary with my groaning; all the night make I my bed to swim; I water my couch with my tears.
7.Mine eye is consumed because of grief; it waxeth old because of all mine enemies.
8.Depart from me, all ye workers of iniquity; for the LORD hath heard the voice of my weeping.
9.The LORD hath heard my supplication; the LORD will receive my prayer.
10.Let all mine enemies be ashamed and sore vexed: let them return and be ashamed suddenly.
[KJV Version][/SIZE]
Sunday, March 26, 2006 6:35:03 AM
Sent by a very considerate friend
Titik Terendah
Oleh : Kafi Kurnia (peka@indo.net.id)
TITIK terendah, atau yang populer disebut "the lowest point",
seringkali menjadi posisi yang dihindari banyak orang.
Secara strategis tidak akan menguntungkan. Tetapi bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan. Paul Arden, penulis buku kontroversial, It's not How
Good You Are, It's How Good You Want to be, menulis bahwa titik
terendah seringkali menjadi posisi terbaik untuk beriklan.
Misalnya saja Bali saat ini. Sejak peristiwa bom kedua di Jimbaran, Bali
secara perlahan dan pasti terasa semakin sepi. Hampir semua industri
pariwisata berteriak karena bisnis menurun secara drastis.
Tingkat hunian hotel banyak yang hanya di bawah 20%.
Hal itu saya rasakan ketika mengunjungi Bali, minggu lalu. Ketika tiba
di depan hotel, saya disambut secara ramah dan luar biasa. Guest relations hotel malah memberikan pelayanan istimewa. Kamar hotel saya di-"upgrade" ke tingkat yang lebih mewah. Tapi, ketika esoknya membayar biaya kamar, saya kaget bukan main. Harganya cuma Rp 600.000 nett, sudah termasuk pajak dan makan pagi. Murah sekali. Ini harga 50% dari biasanya. Saya kaget bukan main.
Selama di Bali, saya sempat jalan-jalan. Biasanya saya menyewa mobil dan
sopir seharga Rp 350.000 untuk 10 jam. Kali ini, karena sepi luar biasa,
sang sopir pasrah dan tidak menentukan tarif. Menurut pegawai hotel, tarif
mereka turun hingga Rp 250.000. Ketika berjalan-jalan, saya sempat kecewa, beberapa toko favorit saya untuk berbelanja ternyata tutup. Mereka bangkrut karena sepi pengunjung.
Restoran-restoran juga mengalami hal yang sama. Uniknya, karena situasi sepi ini, kualitas pelayanan naik tajam. Hal ini saya rasakan ketika makan di
restoran dan berbelanja. Saya mendapat pelayanan khusus. Lebih diperhatikan.
Saya merasa tersanjung sekali. Tiba-tiba saya merasakan kenikmatan yang ekstra dan berlebih, tetapi uang yang saya keluarkan justru lebih sedikit.
Kesimpulannya, kalau Anda ingin menikmati Bali, inilah saat yang paling
baik. Murah, sepi, tetapi Anda bisa menikmati pelayanan lebih baik.
Sepulang dari Bali, saya kirim e-mail ke teman-teman saya yang doyan
pelesir ke Bali, satu di Milan, satu di Amerika, dan satu lagi di Singapura.
Berkat cerita saya yang menggiurkan, akhirnya mereka semua langsung ingin berlibur di Bali bulan depan. Peristiwa ini menampar imajinasi saya. Andaikata pemerintah memanfaatkan nasihat Paul Arden, dan mempromosikan Bali di titik terendah ini, maka situasi Bali justru akan cepat pulih. Sayangnya, pemerintah lebih kelihatan kehilangan akal.
Pak Bob Sadino, pemilik pasar swalayan terkenal Kem Chicks, pernah bercerita kepada saya. Katanya, harga cabe di pasar seringkali tidak stabil. Pasar sering mengeluh banyak pasokan, dan harga cabe jatuh. Tidak jarang pasokan menjadi terlampau banyak, dan cabe membusuk.
Menurut pengamatan Pak Bob Sadino, hal ini terjadi karena petani gagal
memanfaatkan titik terendah.
Umumnya petani bergairah ikut menanam cabe ketika harganya sedang naik karena pasokan rendah. Malah petani tidak jarang berebut menanam cabe ketika harga cabe sedang berada di titik tertinggi. Akibatnya, ketika mereka rame-rame panen, pasokan cabe berlimpah, dan harga cabe mau tak mau ambruk.
Andai kata mereka jeli, justru mereka harus menanam cabe pada saat cabe
berada di titik harga terendah. Ketika panen, harga cabe akan berada di
titik tinggi karena pasokan kurang.
Teori Pak Bob Sadino ini saya ceritakan kepada sejumlah perternak unggas, minggu lalu, dalam serangkaian seminar marketing yang disponsori Asosiasi Pemasaran Kacang Kedelai dari Amerika. Peternak unggas mengeluhkan hal yang sama bahwa mereka berada pada situasi yang SOS, yaitu titik terendah karena flu burung.
Saya justru memotivasi mereka dengan memanfaatkan studi kasus Bali dan petani cabe. Saya anjurkan mereka menjadi aktivis flu burung, dan memanfaatkan situasi ini untuk mempromosikan perusahaan mereka.
Teori Paul Arden memang ampuh. Titik terendah bukanlah situasi yang ideal.
Tetapi titik terendah punya peluang yang unik dimanfaatkan.
Yaitu situasi kondusif untuk berpromosi. Dosen komunikasi saya pernah
memberikan nasihat unik. Menurut beliau, bayangkan di sebuah ruangan yang penuh sesak dengan orang. Dan semua orang berbicara hiruk-pikuk.
Ruangan akan sangat ribut, dan saat itu proses komunikasi akan sangat sulit karena kita harus bicara keras-keras. Menguras energi dan membuat
tenggorokan lecet.
Tapi, sebaliknya, kalau pada titik terendah, ketika semua orang diam.
Lalu hanya satu orang berbicara. Mungkin orang itu cukup berbicara pelan
saja, tapi semua orang akan mendengar dan menyimak. Semua atensi ditujukan pada pembicara. Komunikasi berjalan lancar.
Jadi, kalau Anda berada di titik terendah, jangan putus asa. Manfaatkan!
TUHAN Memberkati