Làm thế nào để để bạn hiểu rằng tôi bị mất Làm thế nào để để bạn hiểu mà tôi yêu Sẽ được Trái tim thỏa thích Tôi chấp nhận những trái tim cho bạn
Tình yêu tôi như đại dương bầu trời cao trên bầu trời để bạn Tình yêu tôi như một thế giới lớn Như này vũ trụ bao la Để bạn Để bạn
Như thế nào để bạn hiểu rằng anh yêu em mãi mãi Như thế nào để bạn hiểu mà tôi nhớ bạn mãi mãi
Tình yêu tôi như đại dương Giống như bầu trời cao trên bầu trời Để bạn Tình yêu tôi như đại dương Giống như bầu trời cao trên bầu trời Để bạn
This below is the original version (by Agnes Monica)
Bagaimana caranya untuk agar kau mengerti bahwa aku rindu Bagaimana caranya untuk agar kau mengerti bahwa aku cinta Masihkah mungkin Hatimu berkenan menerima hatiku untukmu
Cintaku sedalam samudra setinggi langit di angkasa kepadamu Cintaku sebesar dunia Seluas jagat raya ini Kepadamu Kepada kamu
Cintaku selam samudra Setinggi langit di angkasa Kepadamu Cinta aku sedalam samudra Setinggi langit di angkasa Kepada kamu
Tôi nhớ thời thơ ấu Bạn ôm và bạn tha Vẻ đẹp thời điểm Hãy cho tôi bay lên, Trên mặt của tôi nghe bạn Hơi thở ấm của câu chuyện mỗi bạn Bạn Nói cho tất cả những ước mơ và hy vọng của bạn
Bạn muốn tôi là tốt nhất cho bạn Tuân theo đơn đặt hàng của bạn Tránh xa những cám dỗ mà tôi có thể làm Trong thời gian tôi lớn lên Đừng làm cho tôi chuỗi, đã giảm, và nghiền
Đức Chúa Trời giúp đỡ Hãy cho tôi một tình yêu triệu đồng cho anh ta Tôi cứ hứa hẹn Sẽ không phản bội yêu cầu của cô
Cha lắng nghe Những gì tôi thực sự yêu bạn Tôi sẽ chứng minh điều đó Tôi muốn bạn để có thể thực hiện đầy đủ
Giả sử giây sẽ được cuộn lại Tôi sẽ lặp lại Lần tốt trong quá khứ Dành cho bạn Bởi vì, tôi vẫn đói cho tình yêu và tình bạn
Nhưng, Tạm biệt cha Mặc dù điều này là rất khó khăn đối với tôi Cho phép tôi khóc
Nhưng, Phần còn lại trong hòa bình Bạn là mãi mãi trong trái tim tôi Và tôi sẽ dành cuộc sống của tôi tôi Để làm cho bạn tự hào
Seorang anak teman di kantor di bawah ke rumah sakit tadi pagi karena demam berdarah. Kami semua satu kantor janjian untuk menjenguknya sore tadi sepulang dari kantor. Karena rumah saya paling dekat ke rumah sakit, maka teman-teman berkumpul di rumahku, baru barengan kita ke rumah sakit. Ketika kita sampai ke rumah sakit, ternyata si anak masih di ruang UGD karena kamar-kamar semuanya sudah penuh, bahkan di UGD pun sudah hampir penuh dengan pasien.
Si anak sudah di infus dan sepertinya tidak terlalu parah dibandingkan beberapa pasien lainnya. Tapi kedua orang tuanya benar-benar kelihatan gelisah dan khawatir. Anak itu kelihatannya cukup sabar dan tidak mengeluh. Namun kedua orang tuanya tidak henti-hentinya bertanya apanya yang sakit? Apanya yang mau di pijit? Adek mau apa? Kami tentu saja juga turut sedih melihat kawan kami.
Tiba-tiba fikiran saya kembali pada para teroris (sory kawan, kalian lagi) Apa yang mereka fikirkan tentang keluarga mereka? Anak-anak mereka? Istri-istri mereka? Saudara-saudara mereka? Tetangga-tetangga mereka? Orang-orang yang mencintai mereka dengan tulus?
Benarkah yang dikatakan para fakar teroris bahwa mereka beranggapan orang-orang yang mereka tinggalkan akan di urus oleh tuhan? Sebegitu sederhanakah fikiran mereka? Kalau memang begitu. Kenapa mereka tidak berfikir sebaliknya? Bahwa urusan jihad biarlah tuhan yang mengurusnya. Sebegitu lemahkan Tuhan sehingga ia harus dibela oleh manusia? Sebegitu picikkah agama yang mereka pahami, sehingga mesti dengan kekerasan sebuah perubahan dapat diwujudkan.
Apakah mereka tidak memikirkan pilihan-pilihan lainnya? Sebegitu egoiskah mereka? Memilih surga untuk diri mereka sendiri. Bagaimana dengan anak mereka? Bagaimana anak mereka akan tumbuh? Dimana mereka akan sekolah? Siapa yang akan membimbing hari-harinya? Dalam lingkungan apa mereka akan berkembang? Apa mereka akan menuju surga? Bagaimana dengan istri mereka? Siapa yang akan menafkahinya? Bagaimana dengan orang tua, saudara, teman tetangga, dan lainnya? Apakah mereka tidak memikirkan alternatif lainnya? Kalau mereka tahu jalan menuju surga, kenapa tidak berusaha mengajak anak, istri, saudara, tetangga dan lain-lainnya?
Apakah mereka tidak mengingat kisah Abdul Muththaalib ketika tentara Abrahah ingin menghancurkan Ka’bah? Abdul Muththalib menemui Abrahah hanya untuk membicarakan unta-unta, serta harta para orang-orang Makkah lainnya. Dan ketika Abrahah bertanya, Kenapa kau tidak meminta agar Ka’bah tidak kuhancurkan? Dengan enteng, Abdul Muththalib menjawab, “Unta-unta serta harta-harta ini adalah milik kami, maka itu urusan kami, sedangkan Ka’bah, Tuhan yang punya biarlah Dia yang mengurusnya”. Ini kemudian tidak berarti bahwa kita tidak usah peduli dengan segala hal yang menyangkut agama karena itu urusan Tuhan. Tidak! Kita tetap harus peduli. Tapi kita juga harus memahami sampai sejauh mana itu menjadi urusan kita.
Bahwa mengajak orang lain beriman dan beramal saleh itu adalah wajib, tapi urusan memberikan hidayah atau p etunjuk itu bukan wilayah kita. Bahwa mencegah orang lain untuk berbuat kemungkaran atau kemudaratan pada sesama manusia ataupun kepada alam semesta itu wajib sejauh kemampuan terbaik kita, karena itu akan berefek secara sosial dan universal, tapi hanya benar-benar kepada orang yang berbuat itu tanpa merusak atau mengganggu yang tidak bersalah. Tapi bagaimana dengan para teroris itu? Mereka hanya memberikan sedikit gangguan kepada kepentingan atau yang mereka anggap sebagai kepentingan orang yang berbuat mudarat dengan mengorbankan demikian banyak orang yang tidak terkait dengan itu semua.
Kekerasan tidak akan pernah memberikan perubahan menuju ke arah perbaikan, kecuali untuk mempertahankan diri sendiri.
Apakah kemudian sebuah agama dapat dipertahankan dengan model seperti itu? Saya kira tidak. Agama akan semakin ditinggalkan. Ideologi kebencian tidak akan pernah dapat bertahan, karena manusia di lahirkan atas dasar cinta bukan benci.
Loh kok pikiran saya sampai jauh begini. Kembali saya perhatikan teman saya dan istrinya mencoba meresapi kegundahan mereka akan putranya. Dalam hati saya bertasbih, Subhanallah, Maha Suci Engkau ya Allah yang telah menciptakan manusia dengan penuh rasa kasih sayang, karena jika tanpa itu, tidak akan ada anak manusia yang akan bertahan hidup walaupun hanya seminggu.
Dalam perjalanan ke Makassar beberapa hari yang lalu, sambil mendengarkan lagu We Will not Go Down- nya Michael H. Hart, saya mengkhayal ngelantur kemana-mana. Sampai di Limbung jalan macet, mobil hanya merayap.
Sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan yang semakin lama semakin ramai, tiba-tiba fikiran saya tertuju pada teroris yang meledakkan diri di beberapa tempat serta orang yang menyuruh meledakkan orang-orang.
Apa yach yang ada dalam fikiran mereka? Kembali saya memperhatikan lalu lintas di kiri kanan. Mobil, motor, sepeda, becak dan orang-orang lalu-lalang sepertinya tak saling memperhatikan satu sama lain. Semuanya memandang ke depan, dengan fikiran dan khayalan mereka masing-masing. Akan kemana mereka? Apa pekerjaan mereka? Apa yang ada dalam fikiran mereka semua.
Walaupun tidak saling memperhatikan, tapi di tengah kermaian yang semakin mendekati Makassar semakin ramai dan semakin macet, tapi jarang sekali ada yang bersenggolan. Mereka semua sepertinya saling mengerti satu sama lain. Saling menghargai, saling memberi tanda, dan sepertinya sudah saling memahami siapa yang mesti di dahulukan dan siapa yang mesti menuggu giliran. Di tengah-tengah kemacetan saya melihat sebuah keindahan. Keindahan untuk saling memberikan jalan. Karena jika ada satu saja yang melanggar keindahan ini, maka semua kendaraan ini pasti akan stuck dan tidak akan bisa bergerak lagi.
Kemudian pikiran saya kembali pada para teroris (maaf kawan beberapa hari belakangan kalian banyak mengisi kekosongan pikiranku). Apa mereka tidak bisa menyaksikan keindahan ini semua?
Di jalan. Setiap orang bergerak, maju menuju tujuan masing-masing, tapi pada dasarnya semua bergerak ke depan, maju. Walaupun ada yang mundur terkadang itu hanya untuk memperlebar ruang bagi diri mereka atau untuk orang lain, namun kemudian semuanya bergerak maju. Seperti pertanyaan Alice in Wonderland, akan kemana mereka? Mereka semua sesungguhnya satu tujuan, yaitu ke depan, atau dalam fikiran philosopis untuk kemajuan, untuk kebaikan dan perbaikan. Dan memang begitulah Tuhan menciptakan kita.
Mata kita dua tapi dua-duanya menatap ke depan, agar kita lebih mempersiapkan masa depan dari pada sekedar meratapi masa lalu. Hidung dan mulut kita di depan, agar kita dapat meramal atau merencanakan masa depan kita dengan landasan rasa dan bau kekinian. Telinga kita dua, dua-duanya di samping agar kita awas dan waspada terhadap suara-suara kritikan, bukan untuk di bungkam tapi untuk memperbaiki langkah-langkah kita. Tangan kita dua, dua-duanya dirancang untuk menjangkau dan menarik agar kita menjangkau ke depan dan menarik saudara kita yang tertinggal di belakang. Kaki kita dua, dua-duanya juga dirancang untuk selalu dan senantiasa melangkah ke depan, kemanapun kita menghadap, karena kemanapun kita menghadap, kita sedang berjalan di bumi dan di alam semesta yang satu.
Nach fikiran saya melantur lagi. Apa hubungannya dengan teroris? Jika tuhan merancang kita untuk sebuah tujuan perbaikan serta dirancang untuk bersama-sama maju ke depan menuju kepada yang sempurna baiknya (Surga), kenapa ada orang yang dengan terburu-buru ingin sampai dengan mengorbankan orang-orang di sekitarnya.
Dan benarkah mereka telah sampai? Saya terus terang tidak bisa memahami pikiran mereka. Sebegitu sempitkah surga? Sebegitu instankah surga? Sebegitu pastikah surga hanya bagi mereka?
Kembali saya melihat ke jalan. Setiap orang bergerak maju, maju dan maju entah akan kemana mereka, tapi mereka semua maju. Tiba-tiba air mata saya menetes (maaf kawan mungkin saya termasuk manusia setengah tiang seperti istilah Andrea Hirata).