Skip navigation.

At The Cafe

Kaki kananku berpijak memasuki cafe ini. Tempat dan suasananya masih sama, hanya saja bukan dengan chubby. Aku segan menuju ke halaman belakang cafe yang tempatnya lesehan. Aku melihat beberapa pasangan sedang sibuk rayu merayu dengan pasangannya masing-masing [Weleh... weleh... kalo dateng WH, pasti langsung kabur tuh, atau minimal aktivitasnya berhenti sesaat. Yang kancing baju segera kancingkan, yang narik ritsleting celana, langsung tarik]. Ah, aku melihat lesehan 57 [atau 53 ya?], yang sudah dua kali ku tempati dengan chubby dan kami merusak sandaran lesehannya [kenapa aku selalu menghancurkan lesehan-lesehan di cafe ini ya?].

Ingat dulu waktu aku dan chubby biasanya sering ke tempat ini. Hehehe... biasanya sih cuma buat makan dan sambil live show orang-orang pacaran. Kita sih punya tempat pribadi untuk yang kaya beginian, “terminal undercover”.

Makanan tersaji, mie tiaw kesukaanku. Ada yang beda, kok porsinya jadi sedikit ya? Padahal harganya naik 20%. Menikmati mie tiaw tanpa suapannya. Dulu, disuapin malu-malu. Sekarang giliran nggak ada orangnya, malah mau. Huhuhuhu... menyedihkan sekali nasibku di pojok cafe ini.

Sepi... ya iyalah... yang lain kan udah pada mojok di lesehan. Berharap sekali chubby datang. Aku duduk di pinggir jendela dengan sebuah catatan harian di atas meja, melihat dia tiba-tiba berbelok dan markir di parkiran. Tapi sejak aku datang tadi, belum ada yang datang ataupun pulang. Jadi dari tadi aku hanya melihat seorang pelayan dan seorang kasir di arah jam 11 ku.

Aku seperti melihat bayangan aku dan chubby berjalan masuk dari pintu depan langsung lurus ke lesehan. Mengambil lesehan sebelah kiri dan di belakang kami diikuti seorang pelayan sambil membawa menu list. Lalu terlihat saat kami pulang, aku sedang sibuk merapikan tas sambil mengikat tali sepatuku. Tapi chubby sudah berlalu ke kasir. Ketika aku menyusulnya, dia sudah menunggu dengan manis di parkiran. Temannya bilang, dia greh groh atau serba cepat, terburu-buru, tapi teledor. Jadi kalau aku selalu tertinggal di cafe dan dia sudah di parkiran, hal itu sudah biasa.

Aku memukul-mukul kepalaku, aku mulai berhalusinasi ke masa laluku. Kukira ini efek kopi susu dingin di atas meja yang sudah kuminum hampir setengah gelas.

sebuah lagu mengalun dari loudspeaker di atas kepalaku...

Sampai kapan ku harus
Menunggumu di sini
Selalu di sini
Lama jadi jomblowati
Ditinggalmu oh kasih
Sendiri

Pusing..Pusing..
Stop thinking about you boy
Can't stop thinking about you boy
Karna kamulah jantung hatiku
Simpan semua cintaku
Sayang ini untukmu
Tapi kamu tak ada di sampingku
I miss you so
[She - Jomblowati]

... hufft... rasanya jadi soundtrack untuk statusku sekarang.

Aku menyukai cafe ini karena sepi. Sepi bukan berarti bebas berbuat yang aneh-aneh seperti para pasangan-pasangan lain lakukan. Aku tidak terlalu menyukai tempat yang rame. Jadi suasana hening, hanya terdengar suaranya dan aku saja rasanya bisa menambah suasana romantis [suasana yang paling sulit kudapat dari orang yang 24 jam cuma bisa buat aku ketawa].

Oh, tidak!! Kurasa kopi susu dingin ini memang membuat aku berhalusinasi yang tidak-tidak dari tadi. Kopi ini tinggal sepertiga gelas lagi. Harus segera kuhabiskan dan cabut dari tempat ini.
Download Opera, the fastest and most secure browser
November 2009
S M T W T F S
October 2009December 2009
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30