Pekan Depan Satelit 6,5 ton Bisa Hantam Bumi
Wednesday, September 21, 2011 12:34:32 AM
Para
pakar sampah luar
angkasa NASA telah
mengoreksi
perhitungan mereka
terhadap antisipasi
jatuhnya sebuah
satelit raksasa. Kini,
badan luar angkasa AS
itu memperkirakan,
satelit pemantau
cuaca berbobot 6,5
ton itu akan jatuh
menghantam Bumi
Jumat depan, 23
September 2011--
sehari lebih cepat
dibanding perkiraan
sebelumnya.
Satelit ruang angkasa
Upper Atmospheric
Research Satellite
(UARS) sebesar bus itu
diluncurkan pada tahun
1991 dan sudah
dimatikan pada tahun
2005 setelah
menuntaskan misinya.
“Satelit itu
diperkirakan akan
kembali masuk ke
Bumi pada 23
September, plus minus
satu hari,” kata Beth
Dickey, juru bicara
NASA, seperti dikutip
dari Scientific
American, 17
September 2011.
“UARS masuk lebih
cepat karena Matahari
mengalami
peningkatan aktivitas
secara signifikan mulai
pekan ini."
Seperti diketahui,
radiasi Matahari bisa
menghasilkan efek
dorongan ekstra
terhadap satelit di
ruang angkasa karena
mereka bisa
memperpanas
atmosfir Bumi dan
menyebabkannya jadi
memuai. Lalu, di mana
UARS akan jatuh?
NASA belum memiliki
gambaran di mana
satelit raksasa itu
akan jatuh.
Diperkirakan,
setidaknya akan ada
26 potongan satelit itu
yang mampu bertahan
dari panasnya
temperatur akibat
gesekan dengan
atmosfir Bumi.
Kepingan-kepingan
titanium dan tanki
bahan bakar
kemungkinan akan jadi
salah satunya.
Untungnya tidak ada
bahan bakar beracun
yang akan jatuh
karena seluruh bahan
bakar milik satelit itu
sudah habis digunakan
pada tahun 2005 lalu.
Menurut kalkulasi
NASA, pecahan-
pecahan itu akan jatuh
tersebar di kawasan
seluas 804 kilometer
persegi. Ada peluang
sebesar 1:3.200 bahwa
kepingan bisa
menghantam manusia
yang sedang berada di
daratan. Namun
demikian, jika
mengingat sebagian
besar kawasan Bumi
merupakan lautan,
tampaknya satelit itu
akan langsung jatuh ke
laut.
pakar sampah luar
angkasa NASA telah
mengoreksi
perhitungan mereka
terhadap antisipasi
jatuhnya sebuah
satelit raksasa. Kini,
badan luar angkasa AS
itu memperkirakan,
satelit pemantau
cuaca berbobot 6,5
ton itu akan jatuh
menghantam Bumi
Jumat depan, 23
September 2011--
sehari lebih cepat
dibanding perkiraan
sebelumnya.
Satelit ruang angkasa
Upper Atmospheric
Research Satellite
(UARS) sebesar bus itu
diluncurkan pada tahun
1991 dan sudah
dimatikan pada tahun
2005 setelah
menuntaskan misinya.
“Satelit itu
diperkirakan akan
kembali masuk ke
Bumi pada 23
September, plus minus
satu hari,” kata Beth
Dickey, juru bicara
NASA, seperti dikutip
dari Scientific
American, 17
September 2011.
“UARS masuk lebih
cepat karena Matahari
mengalami
peningkatan aktivitas
secara signifikan mulai
pekan ini."
Seperti diketahui,
radiasi Matahari bisa
menghasilkan efek
dorongan ekstra
terhadap satelit di
ruang angkasa karena
mereka bisa
memperpanas
atmosfir Bumi dan
menyebabkannya jadi
memuai. Lalu, di mana
UARS akan jatuh?
NASA belum memiliki
gambaran di mana
satelit raksasa itu
akan jatuh.
Diperkirakan,
setidaknya akan ada
26 potongan satelit itu
yang mampu bertahan
dari panasnya
temperatur akibat
gesekan dengan
atmosfir Bumi.
Kepingan-kepingan
titanium dan tanki
bahan bakar
kemungkinan akan jadi
salah satunya.
Untungnya tidak ada
bahan bakar beracun
yang akan jatuh
karena seluruh bahan
bakar milik satelit itu
sudah habis digunakan
pada tahun 2005 lalu.
Menurut kalkulasi
NASA, pecahan-
pecahan itu akan jatuh
tersebar di kawasan
seluas 804 kilometer
persegi. Ada peluang
sebesar 1:3.200 bahwa
kepingan bisa
menghantam manusia
yang sedang berada di
daratan. Namun
demikian, jika
mengingat sebagian
besar kawasan Bumi
merupakan lautan,
tampaknya satelit itu
akan langsung jatuh ke
laut.


