Skip navigation

Lost password? | Help

Kelompokstudipembebasandanpemberdayaan

KMK-L & KSPP

Posts tagged with "pilkada"

demagog

Trik Meloloskan Diri: Pentingkah Demagogi?
(Catatan awal Pilkada NTT 2008-2013)
Oleh Yohanes Efraim More Meto

MANUSIA, pada dasarnya, menghendaki sesuatu yang baik bagi dirinya. Ia menghendaki agar selalu sukses dalam karier, pergaulan dan lain sebagainya. ehendak yang demikian senantiasa mendorong dirinya untuk berjuang, bahkan dengan cara apa saja (termasuk cara yang tidak halal) demi memperoleh “yang baik” tersebut. Di sini, manusia kerap kali terjebak dalam arena persaingan menebar pesona palsu demi merebut simpati, perhatian, kepercayaan dan pengakuan sebagai pribadi dengan predikat “baik”. Karena itu, tidak heran kalau orang akan selalu mendandani diri dan institusi politik yang mengusungnya atau daerah-daerah basis pendukungnya dengan aneka “ornamen politik” menggiurkan yang berdampak menguntungkan dan meningkatkan credit poin, untuk lulus seleksi.
Selain itu, dalam upaya mendapatkan predikat “yang baik”, orang juga kerap memperlihatkan perubahan pola hidup dan tingkah laku yang terkesan mendadak. Sebagai misal, orang cenderung menjadi pribadi yang lebih beriman, makin banyak beramal, tahu berterimakasih, dermawan, solider, toleran, tanggap, perhatian dan bermoral baik. Karena itu, tidak heran kalau seorang calon pemimpin akan selalu mengutip ayat-ayat Kitab Suci entah dalam pembicaraan-pembicaran nonformal maupun dalam pidato atau sambutan-sambutan resmi di hadapan warganya pada acara-acara tertentu. Atau, dia akan sangat beramal dan dermawan bila ada yang meminta bantuan darinya atau dari instansinya. Inti dari perjuangan itu adalah untuk memenuhi syarat umum yang telah ditetapkan.
Sudah lazim terjadi bahwa, para (calon) pemimpin di negara-negara yang berpaham demokrasi sering berlomba semaksimal mungkin untuk memenuhi syarat massal (warga). Mengapa? Sebab, di negara yang berpaham demokrasi, warga menjadi penentu perubahan, objek perubahan dan penggerak perubahan itu sendiri. Misalnya, Amerika Serikat yang mempunyai tradisi debat publik.
Akan tetapi, sebagaimana sudah disebutkan di atas, bahwa dalam perjuangan memenuhi syarat massal tersebut, kebanyakan calon pemimpin atau pemimpin di negara demokrasi lebih pandai ‘berakal-akalan’ untuk mengibuli daya kritis rakyat. Karena itu, kita tidak perlu segan untuk mengatakan bahwa usaha pemenuhan syarat massal oleh segelintir calon pemimpin atau pemimpin sebenarnya hanyalah sebuah trik politik yang dipakai untuk menarik dukungan warga.
Dalam tayangan acara News Dot Com, Minggu, 21 Oktober lalu di Metro TV, presiden Republik Mimpi, Si Butet Jogya (SBY) ketika dimintai komentarnya mengenai perjalanan Wapres Republik Mimpi, Jarwo Kuat (JK) saat bersilaturahmi Lebaran di berbagai tempat di beberapa wilayah negara Republik Mimpi mengatakan, kegiatan Wapres hanya untuk mencari dan menjaring dukungan dari warga menjelang helatan Pilpres 2009-2014. Apakah perjalanan JK ini merupakan gambaran perilaku demagog? Terserah pada penilaian anda.
Apa yang dilakonkan Wapres, Jarwo Kuat, dalam “Republik Mimpi” tidak jauh berbeda dengan calon-calon orang nomor satu di NTT saat ini. Menjelang Pilkada NTT 2008-2013, calon-calon yang telah mendapat kendaraan politik mulai ke sana ke mari meretas lobi mencari dukungan. Bahkan, mereka bersedia hadir pada ivent-ivent publik kapan dan di mana saja kalau dimintai kehadirannya. Mereka tidak segan-segan menyumbang dalam jumlah besar bila suatu kelompok, organisasi, LSM dan komunitas masyarakat menyodorkan proposal. Apakah ini juga merupakan perilaku demagogis yang “menghasut” massa agar mendukung dirinya?
Kini, di ambang pesta Pilkada NTT, suhu politik propinsi miskin ini kian dibakar oleh aksi para calon yang tak henti-hentinya mencari aneka ivent rakyat sebagai “ojek politik” yang dapat menghantarnya ke kursi orang nomor satu di NTT. Selain ivent-ivent publik itu, para calon juga sering menggalang dan membentuk tim sukses. Karena itu, tidak heran bila obrolan atau cerita basa-basi warga selalu seputar Pilkada NTT. Sebagai misal, waktu saya menemui sebuah kelompok di Iligetang-Maumere, warga di sana sudah sangat familiar dengan beberapa nama calon Gubernur dan wakil gubernur NTT 2008-2013.
Menarik bahwa, entah siapa yang memberitahu, kelompok ini sudah mengetahui orang-orang yang akan mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di NTT nanti. Bahkan, mereka sudah mengetehui banyak hal mulai dari kebaikan-kebaikan moral sampai pada keburukan-keburukan yang dimiliki setiap calon. Selain itu, mereka juga mengetahui jumlah kekayaan serta kekuatan finansial yang dimiliki oleh setiap calon. Tanpa rasa segan, mereka berani mengatakan: “Calon A memang kaya harta, tapi moralnya buruk. Atau calon C, kekayaannya pas-pasan, tetapi dia benar-benar berhati baik. Kalau ia jadi gubernur, pasti dia memperhatikan kebutuhan rakyat seluruhmya.” Petanyaannya, apakah kelompok warga ini termasuk dalam tim sukses? Sekali lagi, terserah pada penilaian anda.
Mekipun demikian, upaya meloloskan diri lewat tim sukses tidak begitu berjalan mulus. Sebab, ada tim sukses yang menjadi “kendaraan” politik untuk beberapa calon sekaligus. Alasan mereka sederhana saja. Mereka menawarkan jasa “angkutan” mereka semata-mata untuk mencari uang. Lalu kita dapat bertanya: “Apakah mereka adalah para tim sukses yang membelot? Sabar dulu. Sebab, masyarakat kita sudah paham betul apa yang disampaikan setiap calon waktu kempanye. Mereka bisa membedakan mana yang benar dan mana hanya merupakan janji muluk yang tidak akan pernah dilaksanakan (Bdk. Kompas, Kamis, 17 Juni 2004). Sudah sekian sering masyarakat merasa dibohongi dengan janji-janji manis yang realisasinya tidak kunjung datang. Karena itu, menjadi “ojek” politik (baca: tim sukses) merupakan kesempatan emas meraup “uang bayaran” sebanyak-banyaknya.
Masyarakat NTT sudah seharusnya memahami situasi sosial yang tengah terjadi di kawasan ini agar tidak terkecoh dengan munculnya para demagogis. Mereka akan mempromosikan diri dengan tampil sebagai pahlawan-pahlawan yang akan mengatasi persoalan-persoalan seperti masalah tambang lembata, Korem Flores, Pemkot Ende, pengentas kemiskinan dan gizi buruk yang sedang melanda warga. Atau mereka akan menempuh pendekatan-pendekatan emosional primordial. Karena itu, menjadi pekerjaan rumah untuk kita sekarang adalah bagaimana meningkatkan kesadaran politik masyarakat agar tidak tergiur pada popularitas, ketokohan, kekayaan, kharisma, agama dan suku calon, tetapi memilih pemimpin yang kredibel, dan diyakini mampu membebaskan masyarakat dari persoalan konkret yang sedang dihadapi. Di sini, satu hal yang perlu dibuat sebelum memilih calon adalah memetakan persoalan dominan yang melanda masyarakat saat ini. Sebab, dari hasil pemetaan tersebut kita dapat mengetahui kira-kira pemimpin macam mana yang sedang kita butuhkan di NTT. Dengan demikian, para demagogis akan terdepak tak berguna.
Penulis Lahir di Ende, 30 Nopember 1982. Sekarang Belajar Filsafat dan teologi di STFK Ledalero-Maumere-Flores. Anggota Kelompok Studi Pembebasan dan Pemberdayaan (KSPP), bergiat dalam Kelompok Menulis di Koran Ledalero (KMK-L), tinggal di Biara Arnoldus Janssen-Nitapleat-Ledalero.

December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31