Sticky post
Monday, April 16, 2012 7:07:33 AM
cintaku padamu :/TI
dalam sujudku ku pinta dirinya,
ku serukan namamu ya alloh..ya alloh..ya alloh..
Satukan cintaku,kami,dan kuatkan..
Dalam setiap jengkal penantian...
Dalam sujudku dan dalam tetesan air mataku..
Ku pinta dirinya..
Kuserukan
Namamu ya alloh..ya alloh..ya alloh...
Kuatkan kesabaran,dalam setiap jengkal harapanku padamu...
Tiada daya,kesanggupan..
Apa upaya yg hendak ku buat..
Hatiku sungguh takut memiliki dirimu..
Aku yang sungguh biasa hina nan fana..
Memilikimu anugrah lebih dari apa pintaku..
Dalam tangisku,sujudku padamu kuserukan namamu..
Ya alloh..ya alloh..ya alloh..
Sengajakah kau ciptakan dia untukku,atau kah sebagai uji dan cobaanku..
Lapangkan hati ini,
andai dia menyakiti,
luaskan maafku,andai dia kelak mendustai..
Ya alloh ya alloh ya alloh..
Wednesday, July 18, 2012 11:01:49 AM
perasaan ini sungguh semakin dalam..
Menembus ruang dan waktu..
Menembus hati dan jantung..
Bersemayam dalam lubuk hati..
Tak bisa ku lupa,tak kan mampu meskipun kau memaksa..
Sejatinya cintaku..
Hanya untukmu..
Thursday, July 12, 2012 10:30:23 AM
bagi dunia mungkin kamu hanya seseorang,tapi bagiku dirimu adalah duniaku,yg sgat berarti... Sesuatu deh;-)
Thursday, July 12, 2012 10:30:06 AM
bagi dunia mungkin kamu hanya seseorang,tapi bagiku dirimu adalah duniaku,yg sgat berarti... Sesuatu deh;-)
Saturday, April 21, 2012 2:58:54 AM
Untukmu Bidadari Syurgaku...
Untukmu BIDADARIKU...
dimanapun dikau berada....
kutulis surat ini khusus untuk mu
wahai bidadariku...
yang sedang berkaca di depan
bulan.....
yang memegang bintang di
tangannya....
yang sedang bersujud di sepertiga
malamNya.....
yang sedang menyiapkan dirinya
untuk menyambut
kedatanganku......
Jadilah air bagiku....
yang akan menyirami imanku....
Jadilah sayap untuk ku...
yang akan menerbangkanku ke
langit Arsyi....
Jadilah embun bagiku....
yang akan menyejukkan qalbu ini
hingga menjadi bersinar...
Jadilah pengingatku...
dikala diri ini ditepi jurang.....
Jadilah pendamping hidupku....
sampai ke jannahNya......
Jadilah Bidadariku di Dunia dan
Akhirat....
dariku calon suamimu Hati
Muhasabah Sang Ikhwan....
Ya Allah....
Pertemukanlah kami.....
Jadikanlah pertemuan kami
pertemuan yang engkau Ridhoi....
Pertemukan kami di dalam
pernikahan.....
Jadikan Cinta kami cinta yang
halal....
Ya Allah....
Pertemukanlah kami dalam ikatan
yang halal....
Satukanlah hati kami karenaMu....
Ya Allah....
Mudahkanlah jalan kami.....
Mudahkanlah urusan kami ini.....
Janganlah biarkan kami jatuh
dalam jurang maksiat.......
Ya Allah.....
Hadirkan Kebahagiaan dalam
pertemuan kami....
Jadikan Cinta kami abadi sampai
ke JannahMu.....
Karuniakan kami Cinta
karenaMu.....
Ya Allah...
Sempurnakanlah separuh iman
kami.....
dan akan kami sempurnakan
separuhnya lagi dengan Taqwa
kepadaMu......
Ya Allah....
Sampaikan Doaku ini pada
Bidadariku....
Agar ia merasa tenang.....
Agar ia menjaga dirinya
untukku.....
Ya Allah.....
ku tau Engkau maha melihat.....
dah Engkau selalu memberikan
yang terbaik untuk hambanya....
Ya Allah.....
Hamba ridho atas segala
ketetapanMu...
Hamba yakin, Engkau tak akan
mengingkari janjiMu.....
Ya Allah....
Karena-Mu kami akan
bertemu.....
Ya Allah....
Hamba serahkan segala urusanku
padaMu...
Tuesday, April 17, 2012 5:00:11 PM
islam
Kisah Nabi ISMAIL As
Kisah Nabi Ismail - Kisah 25 Nabi -
Setelah membahas sejarah dan Kisah Nabi
Ibrahim, sampailah kita pada pembahasan
riwayat dan Kisah nabi Ismail As. Berikut
ini kisah lengkapnya.
Kisah Nabi Ismail - Sampai Nabi Ibrahim
yang berhijrah meninggalkan Mesir
bersama Sarah, isterinya dan Hajar,
dayangnya di tempat tujuannya di Palestin.
Ia telah membawa pindah juga semua
binatang ternaknya dan harta miliknya
yang telah diperolehinya sebagai hasil
usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari
meriwayatkan daripada Ibnu Abbas
r.a.berkata:
Pertama-tama
yang menggunakan setagi
(setagen) ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan
untuk menyembunyikan kandungannya
dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul
dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum
juga hamil. tetapi walaubagaimana pun
juga akhirnya terbukalah rahsia yang
disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi
Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya seorang
isteri sebagai Siti Sarah merasa telah
dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai seorang
dayangnya yang diberikan kepada Nabi
Ibrahim a.s. Dan sejak itulah Siti Sarah
merasakan bahawa Nabi Ibrahim a.s. lebih
banyak mendekati Hajar karena merasa
sgt gembira dengan puteranya yang
tunggal dan pertama itu, hal ini yang
menyebabkan permulaan ada keratakan
dalam rumahtangga Nabi Ibrahim a.s.
sehingga Siti Sarah merasa tidak tahan hati
jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi
Ibrahim a.s. supaya menjauhkannya dari
matanya dan menempatkannya di lain
tempat.
Untuk suatu hikmah yang belum diketahui
dan disadari oleh Nabi Ibrahim Allah s.w.t.
mewahyukan kepadanya agar keinginan
dan permintaan Sarah isterinya dipenuhi
dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar
ibunya dan Sarah ke suatu tempat di
mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail
puteranya
bersama ibunya akan di
tempatkan dan kepada siapa akan
ditinggalkan.
Maka
dengan tawakkal kepada Allah
berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan
rumah membawa Hajar dan Ismail yang
diboncengkan di atas untanya tanpa
tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya
berserah diri kepada Allah yang akan
memberi arah kepada binatang
tunggangannya. Dan berjalanlah unta
Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah
yang berada di atas punggungnya keluar
kota masuk ke lautan pasir dan padang
terbuka di mana terik matahari dengan
pedihnya menyengat tubuh dan angin
yang kencang menghembur-hamburkan
debu-debu pasir.
Ismail dan Ibunya Hajar Ditingalkan di
Makkah
Setelah berminggu-minggu berada dalam
perjalanan jauh yang memenatkan tibalah
pada akhirnya Nabi Ibrahim bersama
Ismail dan ibunya di Makkah kota suci
dimana Kaabah didirikan dan menjadi
pujaan manusia dari seluruh dunia. di
tempat di mana Masjidil Haram sekarang
berada, berhentilah unta Nabi Ibrahim
mengakhiri perjalanannya dan disitulah ia
meninggalkan Hajar bersama puteranya
dengan hanya dibekali dengan serantang
bekal makanan dan minuman sedangkan
keadaan sekitarnya tiada tumbuh-
tumbuhan, tiada air mengalir, yang terlihat
hanyalah batu dan pasir kering . Alangkah
sedih dan cemasnya Hajar ketika akan
ditinggalkan oleh Ibrahim seorang diri
bersama dengan anaknya yang masih kecil
di tempat yang sunyi senyap dari segala-
galanya kecuali batu gunung dan pasir. Ia
seraya merintih dan menangis, memegang
kuat-kuat baju Nabi Ibrahim memohon
belas kasihnya, janganlah ia ditinggalkan
seorang diri di tempat yang kosong itu,
tiada seorang manusia, tiada seekor
binatang, tiada pohon dan tidak terlihat
pula air mengalir, sedangkan ia masih
menanggung beban mengasuh anak yang
kecil yang masih menyusu. Nabi Ibrahim
mendengar keluh kesah Hajar merasa
tidak tergamak meninggalkannya seorang
diri di tempat itu bersama puteranya yang
sangat disayangi akan tetapi ia sedar
bahwa apa yang dilakukan nya itu adalah
kehendak Allah s.w.t. yang tentu
mengandungi hikmat yang masih
terselubung baginya dan ia sedar pula
bahawa Allah akan melindungi Ismail dan
ibunya dalam tempat pengasingan itu dan
segala kesukaran dan penderitaan. Ia
berkata kepada Hajar :
"Bertawakkallah kepada Allah yang telah
menentukan kehendak-Nya, percayalah
kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya.
Dialah yang memerintah aku membawa
kamu ke sini dan Dialah yang akan
melindungi mu dan menyertaimu di
tempat yang sunyi ini. Sesungguh kalau
bukan perintah dan wahyunya, tidak
sesekali aku tergamak meninggalkan kamu
di sini seorang diri bersama puteraku yang
sangat ku cintai ini. Percayalah wahai Hajar
bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak akan
melantarkan kamu berdua tanpa
perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-
Nya akan tetap turun di atas kamu untuk
selamanya, insya-Allah."
Mendengar kata-kata Ibrahim itu
segeralah Hajar melepaskan
genggamannya pada baju Ibrahim dan
dilepaskannyalah beliau menunggang
untanya kembali ke Palestin dengan
iringan air mata yang bercurahan
membasahi tubuh Ismail yang sedang
menetak. Sedang Nabi Ibrahim pun tidak
dapat menahan air matanya keetika ia
turun dari dataran tinggi meninggalkan
Makkah menuju kembali ke Palestin di
mana isterinya Sarah dengan puteranya
yang kedua Ishak sedang menanti. Ia tidak
henti-henti selama dalam perjalanan
kembali memohon kepada Allah
perlindungan, rahmat dan barakah serta
kurniaan rezeki bagi putera dan ibunya
yang ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia
berkata dalam doanya:" Wahai Tuhanku!
Aku telah tempatkan puteraku dan anak-
anak keturunannya di dekat rumah-Mu
{ Baitullahil Haram } di lembah yang sunyi
dari tanaman dan manusia agar mrk
mendirikan solat dan beribadat kepada-
Mu. Jadikanlah hati sebahagian manusia
cenderung kepada mrk dan berilah mrk
rezeki dari buah-buahan yang lazat,
mudah-mudahan mrk bersyukur kepada-
Mu."
Mata Air Zamzam
Sepeninggal Nabi Ibrahim tinggallah Hajar
dan puteranya di tempat yang terpencil
dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib
yang telah ditakdirkan oleh Allah atas
dirinya dengan kesabaran dan keyakinan
penuh akan perlindungan-Nya. Bekalan
makanan dan minuman yang dibawanya
dalam perjalanan pada akhirnya habis
dimakan selama beberapa hari
sepeninggalan Nabi Ibrahim. Maka
mulailah terasa oleh Hajar beratnya beban
hidup yang harus ditanggungnya sendiri
tanpa bantuan suaminya. Ia masih harus
meneteki anaknya, namun air teteknya
makin lama makin mengering disebabkan
kekurangan makan .Anak yang tidak
dapat minuman yang memuaskan dari
tetek ibunya mulai menjadi cerewet dan
tidak henti-hentinya menangis. Ibunya
menjadi panik, bingung dan cemas
mendengar tangisan anaknya yang sgt
menyayat hati itu. Ia menoleh ke kanan
dan ke kiri serta lari ke sana ke sini
mencari sesuap makanan atau seteguk air
yang dpt meringankan kelaparannya dan
meredakan tangisan anaknya, namun sia-
sialah usahanya. Ia pergi berlari harwalah
menuju bukit Shafa kalau-kalau ia boleh
mendapatkan sesuatu yang dapat
menolongnya tetapi hanya batu dan pasir
yang didapatnya disitu, kemudian dari
bukit Shafa ia melihat bayangan air yang
mengalir di atas bukit Marwah dan larilah
ia berharwahlah ke tempat itu namun
ternyata bahawa yang disangkanya air
adalha fatamorangana {bayangan} belaka
dan kembalilah ke bukit Shafa karena
mendengar seakan-akan ada suara yang
memanggilnya tetapi gagal dan melesetlah
dugaannya. Demikianlah maka karena
dorongan hajat hidupnya dan hidup
anaknya yang sangat disayangi, Hajar
mundar-mundir berlari sampai tujuh kali
antara bukit Shafa dan Marwah yang pada
akhirnya
ia duduk termenung merasa
penat dan hampir berputus asa.
Diriwayatkan bahawa selagi Hajar berada
dalam keadaan tidak berdaya dan hampir
berputus asa kecuali dari rahmat Allah
dan pertolongan-Nya datanglah
kepadanya malaikat Jibril bertanya:"
Siapakah sebenarnya engkau ini?" " Aku
adalah hamba sahaya Ibrahim". Jawab
Hajar." Kepada siapa engkau dititipkan di
sini?"tanya Jibril." Hanya kepad
Allah",jawab Hajar.Lalu berkata Jibril:" Jika
demikian, maka engkau telah dititipkan
kepada Dzat Yang Maha Pemurah Lagi
Maha Pengasih, yang akan melindungimu,
mencukupi keperluan hidupmu dan tidak
akan mensia-siakan kepercayaan ayah
puteramu kepada-Nya."
Kemudian diajaklah Hajar mengikuti-nya
pergi ke suatu tempat di mana Jibril
menginjakkan telapak kakinya kuat-kuat di
atas tanah dan segeralah memancur dari
bekas telapak kaki itu air yang jernih
dengan kuasa Allah .Itulah dia mata air
Zamzam yang sehingga kini dianggap
keramat oleh jemaah haji, berdesakan
sekelilingnya bagi mendapatkan setitik
atau seteguk air daripadanya dan kerana
sejarahnya mata air itu disebut orang "
Injakan Jibril ".
Alngkah
gembiranya dan lega dada Hajar
melihat air yang mancur itu. Segera ia
membasahi bibir puteranya dengan air
keramat itu dan segera pula terlihat wajah
puteranya segar kembali, demikian pula
wajah si ibu yang merasa sgt bahagia
dengan datangnya mukjizat dari sisi Tuhan
yang mengembalikan kesegaran hidup
kepadanya dan kepada puteranya sesudah
dibayang-bayangi
oleh bayangan mati
kelaparan yang mencekam dada.
Mancurnya air Zamzam telah menarik
burung-burung berterbangan mengelilingi
daerah itu menarik pula perhatian
sekelompok bangsa Arab dari suku
Jurhum yang merantau dan sedang
berkhemah di sekitar Makkah. Mereka
mengetahui dari pengalaman bahwa di
mana ada terlihat burung di udara,
nescaya dibawanya terdapat air, maka
diutuslah oleh mrk beberapa orang untuk
memeriksa kebenaran teori ini. Para
pemeriksa itu pergi mengunjungi daerah di
mana Hajar berada, kemudian kembali
membawa berita gembira kepada
kaumnya tentang mata air Zamzam dan
keadaan Hajar bersama puteranya. Segera
sekelompok suku Jurhum itu
memindahkan perkhemahannya ke
tempat sekitar Zamzam ,dimana
kedatangan mrk disambut dengan
gembira oleh Hajar karena adanya
sekelompok suku Jurhum di sekitarnya, ia
memperolehi jiran-jiran yang akan
menghilangkan kesunyian dan kesepian
yang selama ini dirasakan di dalam
hidupnya berduaan dengan puteranya
saja.
Hajar bersyukur kepada Allah yang
dengan rahmatnya telah membuka hati
orang-orang itu cenderung datang
meramaikan dan memecahkan kesunyian
lembah di mana ia ditinggalkan sendirian
oleh Ibrahim.
Nabi Ismail Sebagai Qurban
Nabi Ibrahim dari masa ke semasa pergi ke
Makkah
untuk mengunjungi dan
menjenguk Ismail di tempat
pengasingannya bagi menghilangkan rasa
rindu hatinya kepada puteranya yang ia
sayangi serta menenangkan hatinya yang
selalu rungsing bila mengenangkan
keadaan puteranya bersama ibunya yang
ditinggalkan di tempat yang tandus, jauh
dari masyarakat kota dan pengaulan
umum.
Sewaktu
Nabi Ismail mencapai usia
remajanya Nabi Ibrahim a.s. mendapat
mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail
puteranya. Dan mimpi seorang nabi
adalah salah satu dari cara-cara turunnya
wahyu Allah , maka perintah yang
diterimanya dalam mimpi itu harus
dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Ia duduk
sejurus termenung memikirkan ujian yang
maha berat yang ia hadapi. Sebagai
seorang ayah yang dikurniai seorang
putera yang sejak puluhan tahun diharap-
harapkan dan didambakan ,seorang
putera yang telah mencapai usia di mana
jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan
oleh si ayah , seorang putera yang
diharapkan menjadi pewarisnya dan
penyampung kelangsungan keturunannya,
tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus
direnggut
nyawa oelh tangan si ayah
sendiri.
Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh
Allah dan pembawa agama yang
seharusnya menjadi contoh dan teladan
bagi para pengikutnya dalam bertaat
kepada Allah ,menjalankan segala
perintah-Nya dan menempatkan cintanya
kepada Allah di atas cintanya kepada
anak, isteri, harta benda dan lain-lain. Ia
harus melaksanakan perintah Allah yang
diwahyukan melalui mimpinya, apa pun
yang akan terjadi sebagai akibat
pelaksanaan perintah itu.
Sungguh
amat berat ujian yang dihadapi
oleh Nabi Ibrahim, namun sesuai dengan
firman Allah yang bermaksud:" Allah lebih
mengetahui di mana dan kepada siapa Dia
mengamanatkan risalahnya." Nabi Ibrahim
tidak membuang masa lagi, berazam {niat}
tetap akan menyembelih Nabi Ismail
puteranya sebagai qurban sesuai dengan
perintah Allah yang telah diterimanya.Dan
berangkatlah serta merta Nabi Ibrahim
menuju ke Makkah untuk menemui dan
menyampaikan kepada puteranya apa
yang Allah perintahkan.
Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang
sgt taat kepada Allah dan bakti kepada
orang tuanya, ketika diberitahu oleh
ayahnya maksud kedatangannya kali ini
tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang
berkata kepada ayahnya:" Wahai ayahku!
Laksanakanlah apa yang telah
diperintahkan oleh Allah kepadamu.
Engkau akan menemuiku insya-Allah
sebagai seorang yang sabar dan patuh
kepada perintah. Aku hanya meminta
dalam melaksanakan perintah Allah itu ,
agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya
aku tidak banyak bergerak sehingga
menyusahkan ayah, kedua agar
menanggalkan pakaianku supaya tidak
terkena darah yang akan menyebabkan
berkurangnya pahalaku dan terharunya
ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah
parangmu dan percepatkanlah
perlaksanaan penyembelihan agar
menringankan penderitaan dan rasa
pedihku, keempat dan yang terakhir
sampaikanlah salamku kepada ibuku
berikanlah kepadanya pakaian ku ini
untuk menjadi penghiburnya dalam
kesedihan dan tanda mata serta kenang-
kenangan baginya dari putera
tunggalnya."Kemudian dipeluknyalah
Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi
Ibrahim seraya berkata:" Bahagialah aku
mempunyai seorang putera yang taat
kepada Allah, bakti kepada orang tua
yang dengan ikhlas hati menyerahkan
dirinya untuk melaksanakan perintah
Allah."
Saat penyembelihan yang mengerikan
telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki
Ismail, dibaringkanlah
ia di atas lantai, lalu
diambillah parang tajam yang sudah
tersedia dan sambil memegang parang di
tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang
tergenang air berpindah memandang dari
wajah puteranya ke parang yang mengilap
di tangannya, seakan-akan pada masa itu
hati beliau menjadi tempat pertarungan
antara perasaan seorang ayah di satu
pihak dan kewajiban seorang rasul di satu
pihak yang lain. Pada akhirnya dengan
memejamkan matanya, parang diletakkan
pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan
di lakukan . Akan tetapi apa daya, parang
yang sudah demikian tajamnya itu ternyata
menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan
tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya dan sebagaimana diharapkan.
Kejadian tersebut merupakan suatu
mukjizat dari Allah yang menegaskan
bahwa perintah pergorbanan Ismail itu
hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan
Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan
taat mereka kepada Allah. Ternyata
keduanya telah lulus dalam ujian yang
sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah
menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan
pergorbanan puteranya. untuk berbakti
melaksanakan perintah Allah sedangkan
Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau
bimbang dalam memperagakan
kebaktiannya kepada Allah dan kepada
orang tuanya dengan menyerahkan jiwa
raganya untuk dikorbankan, sampai-
sampai terjadi seketika merasa bahwa
parang itu tidak lut memotong lehernya,
berkatalah ia kepada ayahnya:" Wahai
ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak
sampai hati memotong leherku karena
melihat wajahku, cubalah telangkupkan
aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa
melihat wajahku."Akan tetapi parang itu
tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik
darah pun dari daging Ismail walau ia
telah ditelangkupkan dan dicuba
memotong lehernya dari belakang.
Dalam keadaan bingung dan sedih hati,
karena gagal dalam usahanya
menyembelih puteranya, datanglah
kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan
firmannya:" Wahai Ibrahim! Engkau telah
berhasil melaksanakan mimpimu,
demikianlah Kami akan membalas orang-
orang yang berbuat
kebajikkan ."Kemudian sebagai tebusan
ganti nyawa Ismail telah diselamatkan itu,
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim
menyembelih seekor kambing yang telah
tersedia di sampingnya dan segera
dipotong leher kambing itu oleh beliau
dengan parang yang tumpul di leher
puteranya Ismail itu. Dan inilah asal
permulaan sunnah berqurban yang
dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari
raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia.
Demikianlah Kisah Nabi Ismail As.
Semoga Bermanfaat!
Tuesday, April 17, 2012 4:04:22 PM
islam
dia kisah nabi ibrahim,
Ini
selamat membaca.
Cekidottt!!
Nabi
Ibrahim adalah putera Aaazar
(Tarih) bin Tahur bin Saruj bin
Rau' bin Falij bin Aaabir bin
Syalih bin Arfakhsyad bin Saam
bin Nuh A.S. Ia dilahirkan di
sebuah tempat bernama
"Faddam A'ram" dalam
kerajaan "Babylon" yang pd
waktu itu diperintah oleh
seorang raja bernama "Namrud
bin Kan'aan."
Kerajaan
Babylon pd masa itu
termasuk kerajaan yang
makmur rakyat hidup senang,
sejahtera dalam keadaan serba
cukup sandang mahupun
pandangan serta saranan-
saranan yang menjadi
keperluan pertumbuhan
jasmani mrk.Akan tetapi
tingkatan hidup rohani mrk
masih berada di tingkat
jahiliyah. Mrk tidak mengenal
Tuhan Pencipta mereka yang
telah memberi karunia mereka
dengan segala kenikmatan dan
kebahagiaan duniawi.
Persembahan mrk adalah
patung-patung yang mereka
pahat sendiri dari batu-batu
atau terbuat dari lumpur dan
tanah.
Raja
mereka Namrud bin
Kan'aan menjalankan tampuk
pemerintahnya dengan tangan
besi dan kekuasaan
mutlak.Semua kehendaknya
harus terlaksana dan segala
perintahnya merupakan
undang-undang yang tidak dpt
dilanggar atau di tawar.
Kekuasaan yang besar yang
berada di tangannya itu dan
kemewahan hidup yang
berlebuh-lebihanyang ia nikmati
lama-kelamaan menjadikan ia
tidak puas dengan
kedudukannya sebagai raja. Ia
merasakan dirinya patut
disembah oleh rakyatnya
sebagai tuhan. Ia berfikir jika
rakyatnya mahu dan rela
menyembah patung-patung
yang terbina dari batu yang
tidal dpt memberi manfaat dan
mendtgkan kebahagiaan bagi
mrk, mengapa bukan dialah
yang disembah sebagai
tuhan.Dia yang dpt berbicara,
dapat mendengar, dpt berfikir,
dpt memimpin mrk, membawa
kemakmuran bagi mrk dan
melepaskan dari kesengsaraan
dan kesusahan. Dia yang dpt
mengubah orang miskin
menjadi kaya dan orang yang
hina-dina diangkatnya menjadi
orang mulia. di samping itu
semuanya, ia adalah raja yang
berkuasa dan memiliki negara
yang besar dan luas.
Di
tengah-tengah masyarakat
yang sedemikian buruknya lahir
dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim
dari seorang ayah yang bekerja
sebagai pemahat dan pedagang
patung. Ia sebagai calun Rasul
dan pesuruh Allah yang akan
membawa pelita kebenaran
kepada kaumnya,jauh-jauh
telah diilhami akal sihat dan
fikiran tajam serta kesedaran
bahwa apa yang telah diperbuat
oleh
kaumnya termasuk
ayahnya sendiri adalah perbuat
yang sesat yang menandakan
kebodohan dan kecetekan
fikiran dan bahwa persembahan
kaumnya kepada patung-
patung itu adalah perbuatan
mungkar yang harus dibanteras
dan diperangi agar mrk kembali
kepada persembahan yang
benar ialah persembahan
kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Tuhan pencipta alam semesta
ini.
Semasa
remajanya Nabi Ibrahim
sering disuruh ayahnya keliling
kota menjajakan patung-patung
buatannya namun karena iman
dan tauhid yang telah
diilhamkan oleh Tuhan
kepadanya ia tidak bersemangat
untuk menjajakan barang-
barang itu bahkan secara
mengejek ia menawarkan
patung -patung ayahnya
kepada calon pembeli dengan
kata-kata:" Siapakah yang akan
membeli patung-patung yang
tidak berguna ini? "
Nabi
Ibrahim Ingin Melihat
Bagaimana Makhluk Yang
Sudah Mati Dihidupkan Kembali
Oleh Allah
Nabi
Ibrahim yang sudah
berketetapan hati hendak
memerangi syirik dan
persembahan berhala yang
berlaku dalam masyarakat
kaumnya ingin lebih dahulu
mempertebalkan iman dan
keyakinannya, menenteramkan
hatinya
serta membersihkannya
dari keragu-raguan yang
mungkin esekali mangganggu
fikirannya dengan memohon
kepada Allah agar diperlihatkan
kepadanya bagaimana Dia
menghidupkan kembali
makhluk-makhluk yang sudah
mati.Berserulah ia kepada Allah:
" Ya Tuhanku! Tunjukkanlah
kepadaku bagaimana engkau
menghidupkan makhluk-
makhluk yang sudah mati."Allah
menjawab
seruannya dengan
berfirman:Tidakkah engkau
beriman dan percaya kepada
kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim
menjawab:" Betul, wahai
Tuhanku, aku telah beriman
dan percaya kepada-Mu dan
kepada kekuasaan-Mu, namun
aku ingin sekali melihat itu
dengan mata kepala ku sendiri,
agar aku mendapat
ketenteraman dan ketenangan
dan hatiku dan agar makin
menjadi tebal dan kukuh
keyakinanku kepada-Mu dan
kepada kekuasaan-Mu."
Allah
memperkenankan
permohonan Nabi Ibrahim lalu
diperintahkanlah ia menangkap
empat ekor burung lalu setelah
memperhatikan dan meneliti
bahagian tubuh-tubuh burung
itu, memotongnya menjadi
berkeping-keping mencampur-
baurkan kemudian tubuh
burung yang sudak hancur-
luluh dan bercampur-baur itu
diletakkan di atas puncak setiap
bukit dari empat bukit yang
letaknya berjauhan satu dari
yang lain.
Setelah
dikerjakan apa yang
telah diisyaratkan oleh Allah itu,
diperintahnyalah Nabi Ibrahim
memanggil burung-burung yang
sudah terkoyak-koyak
tubuhnya
dan terpisah jauh tiap-tiap
bahagian tubuh burung dari
bahagian yang lain.
Dengan
izin Allah dan kuasa-
Nya datanglah berterbangan
enpat ekor burung itu dalam
keadaan utuh bernyawa seperti
sedia kala begitu mendengar
seruan dan panggilan Nabi
Ibrahim kepadanya lalu
hinggaplah empat burung yang
hidup kembali itu di depannya,
dilihat dengan mata kepalanya
sendiri bagaimana Allah YAng
Maha Berkuasa dpt
menghidupkan kembali
makhluk-Nya yang sudah mati
sebagaimana Dia
menciptakannya dari sesuatu
yang tidak ada. Dan dengan
demikian tercapailah apa yang
diinginkan oleh Nabi Ibrahim
untuk mententeramkan hatinya
dan menghilangkan
kemungkinan ada keraguan di
dalam iman dan keyakinannya,
bahwa kekuasaan dan
kehendak Allah tidak ada
sesuatu pun di langit atau di
bumi yang dpt menghalangi
atau menentangnya dan hanya
kata "Kun" yang difirmankan
Oleh-Nya maka terjadilah akan
apa yang dikenhendaki "
Fayakun".
Nabi
Ibrahim Berdakwah
Kepada Ayah Kandungnya
Aazar,
ayah Nabi Ibrahim tidak
terkecuali sebagaimana
kaumnya yang lain, bertuhan
dan menyembah berhala bah ia
adalah pedagang dari patung-
patung yang dibuat dan
dipahatnya sendiri dan drpnya
orang membeli patung-patung
yang dijadikan persembahan.
Nabi
Ibrahim merasa bahwa
kewajiban pertama yang harus
ia lakukan sebelum berdakwah
kepada orang lain ialah
menyedarkan ayah kandungnya
dulu orang yang terdekat
kepadanya bahwa kepercayaan
dan persembahannya kepada
berhala-berhala itu adalah
perbuatan yang sesat dan
bodoh.Beliau merasakan
bahawa kebaktian kepada
ayahnya mewajibkannya
memberi penerangan
kepadanya agar melepaskan
kepercayaan yang sesat itu dan
mengikutinya beriman kepada
Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan
sikap yang sopan dan
adab yang patut ditunjukkan
oleh seorang anak terhadap
orang tuanya dan dengan kata-
kata yang halus ia dtg kepada
ayahnya menyampaikan bahwa
ia diutuskan oleh Allah sebagai
nabi dan rasul dan bahawa ia
telah diilhamkan dengan
pengetahuan dan ilmu yang
tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia
bertanya kepada ayahnya
dengan lemah lembut gerangan
apakah yang mendorongnya
untuk menyembah berhala
seperti lain-lain kaumnya
padahal ia mengetahui bahwa
berhala-berhala itu tidak
berguna sedikit pun tidak dpt
mendtgkan keuntungan bagi
penyembahnya atau mencegah
kerugian atau musibah.
Diterangkan pula kepada
ayahnya bahwa penyembahan
kepada berhala-berhala itu
adalah semata-mata ajaran
syaitan yang memang menjadi
musuh kepada manusia sejak
Adam diturunkan ke bumi lagi.
Ia berseru kepada ayahnya agar
merenungkan dan memikirkan
nasihat dan ajakannya berpaling
dari berhala-berhala dan
kembali menyembah kepada
Allah yang menciptakan
manusia dan semua makhluk
yang dihidupkan memberi mrk
rezeki dan kenikmatan hidup
serta menguasakan bumi
dengan segala isinya kepada
manusia.
Aazar
menjadi merah mukanya
dan melotot matanya
mendengar kata-kata seruan
puteranya Nabi Ibrahim yyang
ditanggapinya sebagai dosa dan
hal yang kurang patut bahwa
puteranya telah berani
mengecam dan menghina
kepercayaan ayahnya bahkan
mengajakkannya untuk
meninggalkan kepercayaan itu
dan menganut kepercayaan dan
agama
yang ia bawa. Ia tidak
menyembunyikan murka dan
marahnya tetapi dinyatakannya
dalam kata-kata yang kasar dan
dalam maki hamun seakan-
akan tidak ada hunbungan
diantara mereka. IA berkata
kepada Nabi Ibrahim dengan
nada gusar: " Hai Ibrahim!
Berpalingkah engkau dari
kepercayaan dan
persembahanku ? Dan
kepercayaan apakah yang
engkau berikan kepadaku yang
menganjurkan agar aku
mengikutinya? Janganlah
engkau membangkitkan
amarahku dan cuba
mendurhakaiku.Jika engkau
tidak menghentikan
penyelewenganmu dari agama
ayahmu tidak engkau hentikan
usahamu mengecam dan
memburuk-burukkan
persembahanku,
maka
keluarlah engkau dari rumahku
ini. Aku tidak sudi bercampur
denganmu didalam suatu
rumah di bawah suatu atap.
Pergilah engkau dari mukaku
sebelum aku menimpamu
dengan batu dan mencelakakan
engkau."
Nabi
Ibrahim menerima
kemarahan ayahnya,
pengusirannya dan kata-kata
kasarnya dengan sikap tenang,
normal selaku anak terhadap
ayah seray berkaat: " Oh
ayahku! Semoga engkau
selamat, aku akan tetap
memohonkan ampun bagimu
dari Allah dan akan tinggalkan
kamu dengan persembahan
selain kepada Allah. Mudah-
mudahan aku tidak menjadi
orang yang celaka dan malang
dengan doaku utkmu." Lalu
keluarlah Nabi Ibrahim
meninggalkan rumah ayahnya
dalam keadaan sedih dan
prihati karena tidak berhasil
mengangkatkan ayahnya dari
lembah syirik dan kufur.
Nabi
Ibrahim Menghancurkan
Berhala-berhala
Kegagalan
Nabi Ibrahim dalam
usahanya menyedarkan
ayahnya yang tersesat itu sangat
menusuk hatinya karena ia
sebagai putera yang baik ingin
sekali melihat ayahnya berada
dalam jalan yang benar
terangkat dari lembah
kesesatan dan syirik namun ia
sedar bahwa hidayah itu adalah
di tangan Allah dan bagaimana
pun ia ingin dengan sepenuh
hatinya agar ayahnya mendpt
hidayah ,bila belum dikehendaki
oleh Allah maka sia-sialah
keinginan dan usahanya.
Penolakan
ayahnya terhadap
dakwahnya dengan cara yang
kasar dan kejam itu tidak sedikit
pun mempengaruhi ketetapan
hatinya dan melemahkan
semangatnya untuk berjalan
terus memberi penerangan
kepada kaumnya untuk
menyapu bersih persembahan-
persembahan yang bathil dan
kepercayaan-kepercayaan yang
bertentangan dengan tauhid
dan iman kepada Allah dan
Rasul-Nya
Nabi
Ibrahim tidak henti-henti
dalam setiap kesempatan
mengajak kaumnya berdialog
dan bermujadalah tentang
kepercayaan yang mrk anut dan
ajaran
yang ia bawa. Dan
ternyata bahwa bila mrk sudah
tidak berdaya menilak dan
menyanggah alasan-alasan dan
dalil-dalil yang dikemukakan
oleh Nabi Ibrahim tentang
kebenaran ajarannya dan
kebathilan kepercayaan mrk
maka dalil dan alasan yang
usanglah yang mrk kemukakan
iaitu bahwa mrk hanya
meneruskan apa yang oleh
bapa-bapa dan nenek moyang
mrk dilakukan dan sesekali mrk
tidak akan melepaskan
kepercayaan dan agama yang
telah mrk warisi.
Nabi
Ibrahim pada akhirnya
merasa tidak bermanfaat lagi
berdebat dan bermujadalah
dengan kaumnya yang
berkepala batu dan yang tidak
mahu menerima keterangan
dan bukti-bukti nyata yang
dikemukakan oleh beliau dan
selalu berpegang pada satu-
satunya alasan bahwa mrk tidak
akan menyimpang dari cara
persembahan nenek moyang
mrk, walaupun oleh Nabi
Ibrahim dinyatakan berkali-kali
bahwa mrk dan bapa-bapa mrk
keliru dan tersesat mengikuti
jejak syaitan dan iblis.
Nabi
Ibrahim kemudian
merancang akan membuktikan
kepada kaumnya dengan
perbuatan yang nyata yang
dapat mrk lihat dengan mata
kepala mrk sendiri bahwa
berhala-berhala dan patung-
patung mrk betul-betul tidak
berguna bagi mrk dan bahkan
tidak dapat menyelamatkan
dirinya sendiri.
Adalah
sudah menjadi tradisi
dan kebiasaan penduduk
kerajaan Babylon bahwa setiap
tahun mrk keluar kota beramai-
ramai pd suatu hari raya yang
mrk anggap sebagai keramat.
Berhari-hari mrk tinggal di luar
kota di suatu padang terbuka,
berkhemah dengan membawa
bekalan makanan dan minuman
yang
cukup. Mrk bersuka ria
dan bersenang-senang sambil
meninggalkan kota-kota mrk
kosong dan sunyi. Mrk berseru
dan mengajak semua penduduk
agar keluar meninggalkan
rumah dan turut beramai -
ramai menghormati hari-hari
suci itu. Nabi Ibrahim yang juga
turut diajak turut serta berlagak
berpura-pura sakit dan
diizinkanlah ia tinggal di rumah
apalagi mrk merasa khuatir
bahwa penyakit Nabi Ibrahim
yang dibuat-buat itu akan
menular dan menjalar di
kalangan mrk bila ia turut serta.
" Inilah dia
kesempatan yang ku
nantikan," kata hati Nabi
Ibrahim tatkala melihat kota
sudah kosong dari
penduduknya, sunyi senyap
tidak terdengar kecuali suara
burung-burung yang berkicau,
suara daun-daun pohon yang
gemerisik ditiup angin kencang.
Dengan membawa sebuah
kapak ditangannya ia pergi
menuju tempat beribadatan
kaumnya yang sudah
ditinggalkan tanpa penjaga,
tanpa juru kunci dan hanya
deretan patung-patung yang
terlihat diserambi tempat
peribadatan itu. Sambil
menunjuk kepada semahan
bunga-bunga dan makanan
yang berada di setiap kaki
patung berkata Nabi Ibrahim,
mengejek:" Mengapa kamu
tidak makan makanan yang
lazat yang disaljikan bagi kamu
ini? Jawablah aku dan berkata-
katalah kamu."Kemudian
disepak, ditamparlah patung-
patung itu dan dihancurkannya
berpotong-potong dengan
kapak yang berada di
tangannya. Patung yang besar
ditinggalkannya utuh, tidak
diganggu yang pada lehernya
dikalungkanlah kapak Nabi
Ibrahim itu.
Terperanjat
dan terkejutlah
para penduduk, tatkala pulang
dari berpesta ria di luar kota
dan melihat keadaan patung-
patung, tuhan-tuhan mrk
hancur berantakan dan menjadi
potongan-potongan terserak-
serak di atas lantai. Bertanyalah
satu kepada yang lain dengan
nada hairan dan takjub:
"Gerangan siapakah yang telah
berani melakukan perbuatan
yang jahat dan keji ini terhadap
tuhan-tuhan persembahan mrk
ini?" Berkata salah seorang
diantara mrk:" Ada
kemungkinan bahwa orang
yang selalu mengolok-olok dan
mengejek persembahan kami
yang bernama Ibrahim itulah
yang melakukan perbuatan
yang berani ini." Seorang yang
lain menambah keterangan
dengan berkata:" Bahkan dialah
yang pasti berbuat, karena ia
adalah satu-satunya orang yang
tinggal di kota sewaktu kami
semua berada di luar
merayakan hari suci dan
keramat itu." Selidik punya
selidik, akhirnya terdpt
kepastian yyang tidak diragukan
lagi bahwa Ibrahimlah yang
merusakkan dan memusnahkan
patung-patung itu. Rakyat kota
beramai-ramai membicarakan
kejadian yang dianggap suatu
kejadian atau penghinaan yang
tidak dpt diampuni terhadap
kepercayaan dan persembahan
mrk. Suara marah, jengkel dan
kutukan terdengar dari segala
penjuru, yang menuntut agar si
pelaku diminta
bertanggungjawab dalam suatu
pengadilan terbuka, di mana
seluruh rakyat penduduk kota
dapat turut serta
menyaksikannya.
Dan
memang itulah yang
diharapkan oleh Nabi Ibrahim
agar pengadilannya dilakukan
secara terbuka di mana semua
warga masyarakat dapat turut
menyaksikannya. Karena
dengan cara demikian beliau
dapat secara terselubung
berdakwah menyerang
kepercayaan mrk yang bathil
dan sesat itu, seraya
menerangkan kebenaran agama
dan
kepercayaan yang ia bawa,
kalau diantara yang hadir ada
yang masih boleh diharapkan
terbuka hatinya bagi iman dari
tauhid yang ia ajarkan dan
dakwahkan.
Hari
pengadilan ditentukan dan
datang rakyat dari segala
pelosok berduyung-duyung
mengujungi padang terbuka
yang disediakan bagi sidang
pengadilan itu.
Ketika
Nabi Ibrahim datang
menghadap para hakim yang
akan mengadili ia disambut oleh
para hadirin dengan teriakan
kutukan dan cercaan,
menandakan sangat gusarnya
para penyembah berhala
terhadap beliau yang telah
berani menghancurkan
persembahan mrk.
Ditanyalah
Nabi Ibrahim oleh
para hakim:" Apakah engkau
yang melakukan penghancuran
dan merusakkan tuhan-tuhan
kami?" Dengan tenang dan
sikap dingin, Nabi Ibrahim
menjawab:
"
Patung besar yang
berkalungkan kapak di lehernya
itulah yang melakukannya.
Cuba tanya saja kepada patung-
patung
itu siapakah yang
menghancurkannya."
Para
hakim penanya terdiam
sejenak seraya melihat yang
satu kepada yang lain dan
berbisik-bisik, seakan-akan
Ibrahim yang mengandungi
ejekan itu. Kemudian berkata si
hakim:" Engkaukan tahu bahwa
patung-patung itu tidak dapat
bercakap dan berkata mengapa
engkau minta kami bertanya
kepadanya?" Tibalah waktunya
yang memang dinantikan oleh
Nabi Ibrahim, maka sebagai
jawapan atas pertanyaan yang
terakhir itu beliau berpidato
membentangkan kebathilan
persembahan mrk,yang mrk
pertahankan mati-matian,
semata-mata hanya karena adat
itu
adalah warisan nenek-
moyang. Berkata Nabi Ibrahim
kepada para hakim itu:" Jika
demikian halnya, mengapa
kamu sembah patung-patung
itu, yang tidak dapat berkata,
tidak dapat melihat dan tidak
dapat mendengar, tidak dapat
membawa manfaat atau
menolak mudharat, bahkan
tidak dapat menolong dirinya
dari kehancuran dan
kebinasaan? Alangkah
bodohnya kamu dengan
kepercayaan dan persembahan
kamu itu! Tidakkah dapat kamu
berfikir dengan akal yang sihat
bahwa persembahan kamu
adalah perbuatan yang keliru
yang hanya difahami oleh
syaitan. Mengapa kamu tidak
menyembah Tuhan yang
menciptakan kamu,
menciptakan alam sekeliling
kamu dan menguasakan kamu
di atas bumi dengan segala isi
dan kekayaan. Alangkah hina
dinanya kamu dengan
persembahan kamu itu."
Setelah
selesai Nabi Ibrahim
menguraikan pidatonya iut,
para hakim mencetuskan
keputusan bahawa Nabi Ibrahim
harus
dibakar hidup-hidup
sebagai ganjaran atas
perbuatannya menghina dan
menghancurkan tuhan-tuhan
mrk, maka berserulah para
hakim kepada rakyat yang hadir
menyaksikan pengadilan itu:"
Bakarlah ia dan belalah tuhan-
tuhanmu , jika kamu benar-
benar setia kepadanya."
Nabi
Ibrahim Dibakar Hidup-
hidup
Keputusan
mahkamah telah
dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus
dihukum dengan membakar
hidup-hidup dalam api yang
besar sebesar dosa yang telah
dilakukan. Persiapan bagi
upacara pembakaran yang akan
disaksikan oleh seluruh rakyat
sedang diaturkan. Tanah lapang
bagi tempat pembakaran
disediakan dan diadakan
pengumpulan kayu bakar
dengan banyaknya dimana tiap
penduduk secara gotong-
royong harus mengambil
bahagian membawa kayu bakar
sebanyak yang ia dapat sebagai
tanda bakti kepada tuhan-
tuhan persembahan mrk yang
telah dihancurkan oleh Nabi
Ibrahim.
Berduyun-duyunlah
para
penduduk dari segala penjuru
kota membawa kayu bakar
sebagai sumbangan dan tanda
bakti kepada tuhan mrk. Di
antara terdapat para wanita
yang hamil dan orang yang sakit
yang
membawa sumbangan
kayu bakarnya dengan harapan
memperolehi barakah dari
tuhan-tuhan mereka dengan
menyembuhkan penyakit
mereka atau melindungi yang
hamil di kala ia bersalin.
Setelah
terkumpul kayu bakar
di lanpangan yang disediakan
untuk upacara pembakaran dan
tertumpuk serta tersusun
laksan
sebuah bukit, berduyun-
duyunlah orang datang untuk
menyaksikan pelaksanaan
hukuman atas diri Nabi Ibrahim.
Kayu lalu dibakar dan
terbentuklah gunung berapi
yang dahsyat yang sedang
berterbangan di atasnya
berjatuhan terbakar oleh
panasnya wap yang ditimbulkan
oleh api yang menggunung itu.
Kemudian dalam keadaan
terbelenggu, Nabi Ibrahim
didtgkan dan dari atas sebuah
gedung yang tinggi
dilemparkanlah ia kedalam
tumpukan kayu yang menyala-
nyala itu dengan iringan firman
Allah:" Hai api, menjadilah
engkau dingin dan keselamatan
bagi Ibrahim."
Sejak
keputusan hukuman
dijatuhkan sampai saat ia
dilemparkan ke dalam bukit api
yang menyala-nyala itu, Nabi
Ibrahim tetap menunjukkan
sikap tenang dan tawakkal
karena iman dan keyakinannya
bahwa Allah tidak akan rela
melepaskan hamba pesuruhnya
menjadi makanan api dan
kurban keganasan orang-orang
kafir musuh Allah. Dan memang
demikianlah
apa yang terjadi
tatkala ia berada dalam perut
bukit api yang dahsyat itu ia
merasa dingin sesuai dengan
seruan Allah Pelindungnya dan
hanya tali temali dan rantai
yang mengikat tangan dan
kakinya yang terbakar hangus,
sedang tubuh dan pakaian yang
terlekat pada tubuhnya tetap
utuh, tidak sedikit pun
tersentuh oleh api, hal mana
merupakan suatu mukjizat yang
diberikan oleh Allah kepada
hamba pilihannya, Nabi Ibrahim,
agar
dapat melanjutkan
penyampaian risalah yang
ditugaskan kepadanya kepada
hamba-hamba Allah yang
tersesat itu.
Para
penonton upacara
pembakaran hairan
tercenggang tatkala melihat
Nabi Ibrahim keluar dari bukit
api yang sudah padam dan
menjadi abu itu dalam keadaan
selamat, utuh dengan
pakaiannya yang tetap berda
seperti biasa, tidak ada tanda-
tanda sentuhan api sedikit jua
pun. Mereka bersurai
meninggalkan lapangan dalam
keadaan hairan seraya
bertanya-tanya pada diri sendiri
dan di antara satu sama lain
bagaimana hal yang ajaib itu
berlaku, padahal menurut
anggapan mereka dosa Nabi
Ibrahim sudah nyata
mendurhakai tuhan-tuhan yang
mereka puja dan sembah.Ada
sebahagian drp mrk yang dalam
hati kecilnya mulai meragui
kebenaran agama mrk namun
tidak berani melahirkan rasa
ragu-ragunya itu kepada orang
lain, sedang para pemuka dan
para pemimpin mrk merasa
kecewa dan malu, karena
hukuman yang mrk jatuhkan ke
atas diri Nabi Ibrahim dan
kesibukan rakyat
mengumpulkan kayu bakar
selama berminggu-minggu telah
berakhir dengan kegagalan,
sehingga mrk merasa malu
kepada Nabi Ibrahim dan para
pengikutnya.
Mukjizat
yang diberikan oleh
Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim
sebagai
bukti nyata akan
kebenaran dakwahnya, telah
menimbulkan kegoncangan
dalam kepercayaan sebahagian
penduduk terhadap
persembahan dan patung-
patung mrk dan membuka
mata hati banyak drp mrk
untuk memikirkan kembali
ajakan Nabi Ibrahim dan
dakwahnya, bahkan tidak
kurang drp mrk yang ingin
menyatakan imannya kepada
Nabi Ibrahim, namun khuatir
akan mendapat kesukaran
dalam penghidupannya akibat
kemarahan dan balas dendam
para pemuka dan para
pembesarnya yang mungkin
akan menjadi hilang akal bila
merasakan bahwa pengaruhnya
telah bealih ke pihak Nabi
Ibrahim.
Para
pembaca yang budiman,
itulah sedikit cerita tentang
keteguhan hati dan keyakinan
Nabi Ibrahim AS. Semoga Kisah
Nabi Ibrahim ini bisa menjadi
hal bermanfaat buat anda
semua. Jangan lupa baca juga
artikel tentang Kisah Nabi Musa,
Kisah
Nabi Muhammad, Kisah
Nabi Isa, dan Kisah Nabi
Muhammad Dari Lahir Sampai
Wafat.
Rating: 4.5
Related posts:
1. Kisah Nabi YAHYA As
2. Kisah Nabi ZAKARIA As
3. Kisah Nabi YUNUS As
4. Kisah Nabi ILYASA As
5. Kisah Nabi ILYAS As
← Posting Lebih Baru Beranda
Subscribe to our RSS
Feed and We will let
you know when we
have new posts!
Or get the latest posts via
Email
Submit
Celebrity
Cerita Lucu
Cerita rakyat
Cerpen
Download
Fashion
Gadget
Games
Humor
Karir
Kata Mutiara
Kesehatan
Kisah Nabi
Lifestyle
Tuesday, April 17, 2012 8:47:01 AM
islam
KISAH NABI SALEH ALAI HIS
SALAM
Tsamud adalah nama suatu
suku yang oleh sementara ahli
sejarah dimasukkan bahagian
dari bangsa Arab dan ada pula
yang menggolongkan mereka
ke dalam bangsa Yahudi.
Mereka bertempat tinggal di
suatu dataran bernama "Alhijir"
terletak antara Hijaz dan Syam
yang dahulunya termasuk
jajahan dan dikuasai suku Aad
yang telah habis binasa disapu
angin taufan yang di kirim oleh
Allah s.w.t. sebagai
pembalasan atas
pembangkangan dan
pengingkaran mereka terhadap
dakwah dan risalah Nabi Hud
a.s. Kemakmuran dan
kemewahan hidup serta
kekayaan alam yang dahulu
dimiliki dan dinikmati oleh kaum
Aad telah diwarisi oleh kaum
Tsamud. Tanah-tanah yang
subur yang memberikan hasil
berlimpah ruah, binatang-
binatang perahan dan lemak
yang berkembang biak, kebun-
kebun bunga yag indah-indah,
bangunan rumah-rumah yang
didirikan di atas tanah yang
datar dan dipahatnya dari
gunung. Semuanya itu
menjadikan mereka hidup
tenteram ,sejahtera dan bahgia,
merasa aman dari segala
gangguan alamiah dan bahawa
kemewahan hidup mereka akan
kekal bagi mereka dan anak
keturunan mereka.
Kaum Tsamud tidak mengenal
Tuhan. Tuhan mereka adalah
berhala-berhala yang mereka
sembah dan puja, kepadanya
mereka berqurban, tempat
mereka minta perlindungan dari
segala bala dan musibah dan
mengharapkan kebaikan serta
kebahagiaan. Mereka tidak
dapat melihat atau memikirkan
lebih jauh dan apa yang dapat
mereka jangkau dengan
pancaindera.
Nabi Saleh Berdakwah
Kepada Kaum Tsamud
Allah Yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang tidak
akan membiarkan hamba-
hamba-
Nya berada dalam
kegelapan terus-menerus tanpa
diutusnya nabi pesuruh disisi-
Nya untuk memberi
penerangan dan memimpin
mereka keluar dari jalan yang
sesat ke jalan yang benar.
Demikian pula
Allah s.w.t.
tidak akan menurunkan azab
dan seksaan kepada suatu umat
sebelum mereka diperingatkan
dan diberi petunjukkan oleh-
Nya dengan perantara seorang
yang dipilih untuk menjadi
utusan dan rasul-
Nya.
Sunnatullah ini berlaku pula
kepada kaum Tsamud, yang
kepada mereka telah diutuskan
Nabi Saleh seorang yang telah
dipilih-
Nya dari suku mereka
sendiri, dari keluarga yang
terpandang dan dihormati oleh
kaumnya, terkenal tangkas,
cerdik pandai, rendah hati dan
ramah-tamah dalam pergaulan.
Dikenalkan mereka oleh Nabi
Saleh kepada Tuhan yang
sepatut mereka sembah,
Tuhan
Allah Yang Maha Esa, yang
telah mencipta mereka,
menciptakan alam sekitar
mereka, menciptakan tanah-
tanah yang subur yang
menghasilkan bahan-bahan
keperluan hidup mereka,
mencipta binatang-binatang
yang memberi manfaat dan
berguna bagi mereka dan
dengan demikian memberi
kepada mereka kenikmatan dan
kemewahan hidup dan
kebahagiaan lahir dan batin.
Tuhan Yang Esa itulah yang
harus mereka sembah dan
bukan patung-patung yang
mereka pahat sendiri dari batu-
batu gunung yang tidak
berkuasa memberi sesuatu
kepada mereka atau melindungi
mereka dari ketakutan dan
bahaya.
Nabi Saleh memperingatkan
mereka bahawa ia adalah
seorang daripada mereka,
terjalin antara dirinya dan
mereka ikatan keluarga dan
darah. Mereka adalah kaumnya
dan sanak keluarganya dan dia
adalah seketurunan dan sesuku
dengan mereka. Ia
mengharapkan kebaikan dan
kebajikan bagi mereka dan
sesekali tidak akan
menjerumuskan mereka ke
dalam hal-hal yang akan
membawa kerugian,
kesengsaraan dan kebinasaan
bagi mereka. Ia menerangkan
kepada mereka bahawa ianya
adalah pesuruh dan utusan
Allah s.w.t. dan apa yang
diajarkan dan didakwahkan
kepada mereka adalah amanat
Allah s.w.t. yang harus dia
sampaikan kepada mereka
untuk kebaikan mereka semasa
hidup mereka dan sesudah
mereka mati di akhirat kelak. Ia
mengharapkan kaumnya
mempertimbangkan dan
memikirkan sungguh-sungguh
apa yang ia serukan dan
anjurkan dan agar mereka
segera meninggalkan
persembahan kepada berhala-
berhala itu dan percaya
beriman kepada Allah Yang
Maha Esa seraya bertaubat dan
mohon ampun kepada-Nya
atas dosa dan perbuatan syirik
yang selama ini telah mereka
lakukan.
Allah s.w.t. dekat
kepada mereka mendengarkan
doa mereka dan memberi
ampun kepada yang salah bila
dimintanya.
Terperanjatlah kaum Saleh
mendengar seruan dan
dakwahnya yang bagi mereka
merupakan hal yang baru yang
tidak diduga akan datang dari
saudara atau anak mereka
sendiri. Maka serentak
ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu
seraya berkata mereka
kepadanya: "Wahai Saleh! Kami
mengenalmu seorang yang
pandai, tangkas dan cerdas,
fikiranmu tajam dan pendapat
serta semua pertimbangan mu
selalu tepat. Pada dirimu kami
melihat tanda-tanda kebajikan
dan sifat-sifat yang terpuji. Kami
mengharapkan dari engkau
sebetulnya untuk memimpin
kami menyelesaikan hal-hal
yang rumit yang kami hadapi,
memberi petunjuk dalam soal-
soal yang gelap bagi kami dan
menjadi ikutan dan kepercayaan
kami di kala kami menghadapi
krisis dan kesusahan. Akan
tetapi segala harapan itu
menjadi meleset dan
kepercayaan kami kepadamu
tergelincir hari ini dengan
tingkah lakumu dan tindak
tandukmu yang menyalahi adat-
istiadat dan tatacara hidup
kami. Apakah yang engkau
serukan kepada kami? Engkau
menghendaki agar kami
meninggalkan persembahan
kami dan nenek moyang kami,
persembahan dan agama yang
telah menjadi darah daging
kami menjadi sebahagian hidup
kami sejak kami dilahirkan dan
tetap menjadi pegangan untuk
selama-lamanya. Kami sesekali
tidak akan meninggalkannya
kerana seruanmu dan kami
tidak akan mengikutimu yang
sesat itu. Kami tidak
mempercayai cakap-cakap
kosongmu bahkan meragukan
kenabianmu. Kami tidak akan
mendurhakai nenek moyang
kami dengan meninggalkan
persembahan mereka dan
mengikuti jejakmu."
Nabi Saleh memperingatkan
mereka agar jangan
menentangnya dan agar
mengikuti ajakannya beriman
kepada
Allah s.w.t. yang telah
mengurniai mereka rezeki yang
luas dan penghidupan yang
sejahtera. Diceritakan kepada
mereka kisah kaum-kaum yang
mendapat seksa dan azab dari
Allah s.w.t. kerana menentang
rasul-Nya dan mendustakan
risalah-Nya. Hal yang serupa itu
boleh terjadi di atas mereka jika
mereka tidak mahu menerima
dakwahnya dan mendengar
nasihatnya, yang diberikannya
secara ikhlas dan jujur sebagai
seorang anggota dari keluarga
besar mereka dan yang tidak
mengharapkan atau menuntut
upah daripada mereka atas
usahanya itu. Ia hanya
menyampaikan amanat
Allah
s.w.t. yang ditugaskan
kepadanya dan Allah s.w.t.lah
yang akan memberinya upah
dan ganjaran untuk usahanya
memberi pimpinan dan
tuntutan kepada mereka.
Sekelompok kecil dari kaum
Tsamud yang kebanyakkannya
terdiri dari orang-orang yang
kedudukan sosial lemah
menerima dakwah Nabi Saleh
dan beriman kepadanya
sedangkan sebahagian yang
terbesar terutamanya mereka
yang tergolong orang-orang
kaya dan berkedudukan tetap
berkeras kepala dan
menyombongkan diri menolak
ajakan Nabi Saleh dan
mengingkari kenabiannya dan
berkata kepadanya: "Wahai
Saleh! Kami kira bahawa
engkau telah kerasukan syaitan
dan terkena sihir. Engkau telah
menjadi gila. Akalmu sudah
berubah dan fikiranmu sudah
kacau sehingga engkau dengan
tidak sedar telah mengeluarkan
kata-kata ucapan yang tidak
masuk akal dan mungkin
engkau sendiri tidak
memahaminya. Engkau
mengaku bahawa engkau telah
diutuskan oleh Tuhanmu
sebagai nabi dan rasul-
Nya.
Apakah kelebihanmu daripada
kami semua sehingga engkau
dipilih menjadi rasul, padahal
ada orang-orang di antara kami
yang lebih patut dan lebih
cekap untuk menjadi nabi atau
rasul drp engkau. Tujuanmu
dengan bercakap kosong dan
kata-katamu hanyalah untuk
mengejar kedudukan dan ingin
diangkat menjadi kepala dan
pemimpin bagi kaummu. Jika
engkau merasa bahawa engkau
sihat badan dan sihat fikiran
dan mengaku bahawa engkau
tidak mempunyai arah dan
tujuan yang terselubung dalam
dakwahmu itu maka
hentikanlah usahamu
menyiarkan agama barumu
dengan mencerca persembahan
kami dan nenek moyangmu
sendiri. Kami tidak akan
mengikuti jalanmu dan
meninggalkan jalan yang telah
ditempuh oleh orang-orang tua
kami lebih dahulu.
Nabi Saleh menjawab: "Aku
telah berulang-ulang
mengatakan kepadamu bahawa
aku tidak mengharapkan
sesuatu apapun daripadamu
sebagai imbalan atas usahaku
memberi tuntunandan
penerangan kepada kamu. Aku
tidak mengharapkan upah atau
mendambakan pangkat dan
kedudukan bagi usahaku ini
yang aku lakukan semata-mata
atas perintah
Allah s.w.t. dan
daripada-Nya kelak aku
harapkan balasan dan ganjaran
untuk itu. Dan bagaimana aku
dapat mengikutimu dan
menterlantarkan tugas dan
amanat
Tuhan kepadaku,
padahal aku talah memperoleh
bukti-bukti yang nyata atas
kebenaran dakwahku.
Janganlah sesekali kamu
harapkan bahawa aku akan
melanggar perintah
Tuhanku
dan melalaikan kewajibanku
kepada-
Nya hanya semata-
mata untuk melanjutkan
persembahan nenek moyang
kami yang bathil itu. Siapakah
yang akan melindungiku dari
murka dan azab
Tuhan jika aku
berbuat demikian?
Sesungguhnya kamu hanya
akan merugikan dan
membinasakan aku dengan
seruanmu itu."
Setelah gagal dan berhasil
menghentikan usaha dakwah
Nabi Saleh dan dilihatnya ia
bahkan makin giat menarik
orang-orang mengikutinya dan
berpihak kepadanya para
pemimpin dan pemuka kaum
Tsamud berusaha hendak
membendung arus dakwahnya
yang makin lama makin mendpt
perhatian terutama dari
kalangan bawahan menengah
dalam masyarakat. Mereka
menentang Nabi Saleh dan
untuk membuktikan kebenaran
kenabiannya dengan suatu
bukti mukjizat dalam bentuk
benda atau kejadian luar biasa
yang berada di luar kekuasaan
manusia.
Allah s.w.t. Memberi Mukjizat
Kepada Nabi Saleh a.s.
Nabi Saleh sedar bahawa
tentangan kaumnya yang
menuntut bukti daripadanya
berupa mukjizat itu adalah
bertujuan hendak
menghilangkan pengaruhnya
dan mengikis habis
kewibawaannya di mata
kaumnya terutama para
pengikutnya bila ia gagal
memenuhi tentangan dan
tuntutan mereka. Nabi Saleh
membalas tentangan mereka
dengan menuntut janji dengan
mereka bila ia berhasil
mendatangkan mukjizat yang
mereka minta bahawa mereka
akan meninggalkan agama dan
persembahan mereka dan akan
mengikuti Nabi Saleh dan
beriman kepadanya.
Sesuai dengan permintaan dan
petunjuk pemuka-pemuka
kaum Tsamud berdoalah Nabi
Saleh memohon kepada Allah
s.w.t. agar memberinya suatu
mukjizat untuk membuktikan
kebenaran risalahnya dan
sekaligus mematahkan
perlawanan dan tentangan
kaumnya yang masih berkeras
kepala itu. Ia memohon dari
Allah s.w.t. dengan
kekuasaan-Nya menciptakan
seekor unta betina
dikeluarkannya dari perut
sebuah batu karang besar yang
terdapat di sisi sebuah bukit
yang mereka tunjuk.
Maka sejurus kemudian dengan
izin Allah Yang Maha Kuasa
lagi Maha Pencipta
terbelahlah batu karang yang
ditunjuk itu dan keluar dari
perutnya seekor unta betina.
Dengan menunjuk kepada
binatang yang baru keluar dari
perut batu besar itu berkatalah
Nabi Saleh kepada mereka:
"Inilah dia unta
Allah s.w.t.,
janganlah kamu ganggu dan
biarkanlah ia mencari
makanannya sendiri di atas
bumi
Allah s.w.t. ia
mempunyai giliran untuk
mendapatkan air minum dan
kamu mempunyai giliran untuk
mendapatkan minum bagimu
dan bagi ternakanmu juga dan
ketahuilah bahawa
Allah s.w.t.
akan menurunkan azab-Nya
bila kamu sampai mengganggu
binatang ini."
Kemudian berkeliaranlah unta
di ladang-ladang memakan
rumput sesuka hatinya tanpa
mendapat gangguan. Dan
ketika giliran minumnya tiba
pergilah unta itu ke sebuah
perigi yang diberi nama perigi
unta dan minumlah sepuas
hatinya. Dan pada hari-hari
giliran unta Nabi Saleh itu
datang minum tiada seekor
binatang lain berani
menghampirinya, hal mana
menimbulkan rasa tidak senang
pada pemilik-pemilik binatang
itu yang makin hari makin
merasakan bahawa adanya unta
Nabi Saleh di tengah-tengah
mereka itu merupakan
gangguan laksana duri yang
melintang di dalam kerongkong.
Dengan berhasilnya Nabi Saleh
mendatangkan mukjizat yang
mereka tuntut gagallah para
pemuka kaum Tsamud dalam
usahanya untuk menjatuhkan
kehormatan dan
menghilangkan pegaruh Nabi
Saleh bahkan sebaliknya telah
menambah tebal kepercayaan
para pengikutnya dan
menghilang banyak keraguan
dari kaumnya. Maka dihasutlah
oleh mereka pemilik-pemilik
ternakan yang merasa jengkel
dan tidak senang dengan
adanya unta Nabi Saleh yang
merajalela di ladang dan
kebun-kebun mereka serta
ditakuti oleh binatang-binatang
peliharaannya.
Unta Nabi Saleh Dibunuh
Persekongkolan diadakan oleh
orang-orang dari kaum Tsamud
untuk mengatur rancangan
pembunuhan unta Nabi Saleh.
Dan selagi orang masih
dibayangi oleh rasa takut dari
azab yang diancam oleh Nabi
Saleh bila untanya diganggu di
samping adanya dorongan
keinginan yang kuat untuk
melenyapkan binatang itu dari
atas bumi mereka, muncullah
tiba-tiba seorang janda
bangsawan yang kaya raya
menawarkan akan menyerah
dirinya kepada siapa yang dapat
membunuh unta Saleh. Di
samping janda itu ada seorang
wanita lain yang mempunyai
beberapa puteri cantik-cantik
menawarkan akan
menghadiahkan salah seorang
dari puteri-puterinya kepada
orang yang berhasil membunuh
unta itu.
Dua macam hadiah yang
menggiurkan dari kedua wanita
itu di samping hasutan para
pemuka Tsamud mengundang
dua orang lelaki bernama
Mushadda' bin Muharrij dan
Gudar bin Salif berkemas-kemas
akan melakukan pembunuhan
bagi meraih hadiah yang
dijanjikan di samping sanjungan
dan pujian yang akan
diterimanya dari para kafir suku
Tsamud bila unta Nabi Saleh
telah mati dibunuh. Dengan
bantuan tujuh orang lelaki lagi
bersembunyilah kumpulan itu di
suatu tempat di mana biasanya
dilalui oleh unta dalam
perjalanannya ke perigi tempat
ianya minum. Dan begitu unta
yang tidak berdosa itu lalu
segeralah dipanah betisnya oleh
Musadda' yang disusul oleh
Gudar dengan menikamkan
pedangnya di perutnya.
Dengan perasaan megah dan
bangga pergilah para
pembunuh unta itu ke ibu kota
menyampaikan berita matinya
unta Nabi Saleh yang mendapat
sambutan sorak-sorai dan
teriakan gembira dari pihak
musyrikin seakan-akan mereka
kembali dari medan perang
dengan membawa kemenangan
yang gilang gemilang. Berkata
mereka kepada Nabi Saleh:
"Wahai Saleh! Untamu telah
mati dibunuh, cubalah
datangkan akan apa yang
engkau katakan dulu akan
ancamannya bila unta itu
diganggu, jika engkau betul-
betul termasuk orang-orang
yang terlalu benar dalam kata-
katanya."
Nabi Saleh menjawab: "Aku
telah peringatkan kamu,
bahawa
Allah s.w.t. akan
menurunkan azab-Nya atas
kamu jika kamu mengganggu
unta itu. Maka dengan
terbunuhnya unta itu maka
tunggulah engkau akan tibanya
masa azab yang
Allah s.w.t.
talah janjikan dan telah aku
sampaikan kepada kamu. Kamu
telah menentang
Allah s.w.t.
dan terimalah kelak akibat
tentanganmu kepada-
Nya. Janji
Allah s.w.t. tidak akan meleset.
Kamu boleh bersuka ria dan
bersenang-senang selama tiga
hari ini kemudian terimalah
ganjaranmu yang setimpal pada
hari keempat. Demikianlah
kehendak
Allah s.w.t. dan
takdir-Nya yang tidak dapat
ditunda atau dihalang."
Ada kemungkinan menurut ahli
tafsir bahawa
Allah s.w.t.
melalui rasul-Nya Nabi Saleh
memberi waktu tiga hari itu
untuk memberi kesempatan,
kalau-kalau mereka sedar akan
dosanya dan bertaubat minta
ampun serta beriman kepada
Nabi Saleh kepada risalahnya.
Akan tetapi dalam
kenyataannya tempoh tiga hari
itu bahkan menjadi bahan
ejekan kepada Nabi Saleh yang
ditentangnya untuk
mempercepat datangnya azab
itu dan tidak usah ditangguhkan
tiga hari lagi.
Turunnya Azab Allah s.w.t.
Yang Dijanjikan
Nabi Saleh memberitahu
kaumnya bahawa azab
Allah
s.w.t. yang akan menimpa di
atas mereka akan didahului
dengan tanda-tanda, iaitu pada
hari pertama bila mereka
terbangun dari tidurnya akan
menemui wajah mereka menjadi
kuning dan berubah menjadi
merah pada hari kedua dan
hitam pada hari ketiga dan
pada hari keempat turunlah
azab
Allah s.w.t. yang pedih.
Mendengar ancaman azab yang
diberitahukan oleh Nabi Saleh
kepada kaumnya kelompok
sembilan orang ialah kelompok
pembunuh unta merancang
pembunuhan atas diri Nabu
Saleh mendahului tibanya azab
yang diancamkan itu. Mereka
mengadakan pertemuan rahsia
dan bersumpah bersama akan
melaksanakan rancangan
pembunuhan itu di waktu
malam, di saat orang masih
tidur nyenyak untuk
menghindari tuntutan balas
darah oleh keluarga Nabi Saleh,
jika diketahui identiti mereka
sebagai pembunuhnya.
Rancangan mereka ini
dirahsiakan sehingga tidak
diketahui dan didengar oleh
siapa pun kecuali kesembilan
orang itu sendiri.
Ketika mereka datang ke
tempat Nabi Saleh bagi
melaksanakan rancangan
jahatnya di malam yang gelap-
gulita dan sunyi-senyap
berjatuhanlah di atas kepala
mereka batu-batu besar yang
tidak diketahui dari arah mana
datangnya dan yang seketika
merebahkan mereka di atas
tanah dalam keadaan tidak
bernyawa lagi. Demikianlah
Allah s.w.t. telah melindingi
rasul-Nya dari perbuatan jahat
hamba-hamba-Nya yang kafir.
Satu hari sebelum hari turunnya
azab yang telah ditentukan itu,
dengan izin
Allah s.w.t.
berangkatlah Nabi Saleh
bersama para mukminin
pengikutnya menuju Ramlah,
sebuah tempat di Palestin,
meninggalkan Hijir dan
penghuninya, kaum Tsamud
habis binasa, ditimpa halilintar
yang dahsyat beriringan dengan
gempa bumi yang mengerikan.
Kisah Nabi Saleh Dalam Al-
Quran
Kisah Nabi Saleh diceritakan
oleh 72 ayat dalam 11 surah di
antaranya surah Al-A'raaf, ayat
73 hingga 79 , surah " Hud "
ayat 61 sehingga ayat 68 dan
surah " Al-Qamar " ayat 23
sehingga ayat 32.
Pengajaran Dari Kisah Nabi
Saleh a.s.
Pengajaran yang menonjol yang
dapat dipetik dari kisah Nabi
Saleh ini ialah bahawa dosa dan
perbuatan mungkar yang
dilakukan oleh sekelompok
kecil warga masyarakat dapat
membinasakan masyarakat itu
seluruhnya. Lihatlah betapa
kaum Tsamud menjadi binasa,
hancur dan bahkan tersapu
bersih dari atas bumi kerana
dosa dan pelanggaran perintah
Allah s.w.t. yang dilakukan
oleh beberapa gelintir orang
pembunuh unta Nabi Saleh a.s.
Di sinilah letaknya hikmah
perintah
Allah s.w.t. agar kita
melakukan amar makruf nahi
mungkar. Kerana dengan
melakukan tugas amar makruf
nahi mungkar yang menjadi
fardu kifayah itu, setidak-
tidaknya kalau tidak berhasil
mencegah kemungkaran yang
terjadi didalam masyarakat dan
lindungan kita, kita telah
membebaskan diri dari dosa
menyetujui atau merestui
perbuatan mungkar itu Bersikap
pasif acuh tak acuh terhadap
maksiat dan kemungkaran yang
berlaku di depan mata dapat
diertikan sebagai persetujuan
dan penyekutuan terhadap
perbuatan mungkar itu.
Tuesday, April 17, 2012 8:28:52 AM
islam
KISAH NABI HUD A.S.
"Aad" adalah nama bapa suatu
suku yang hidup di jazirah Arab
di suatu tempat bernama "Al-
Ahqaf" terletak di utara
Hadramaut antara Yaman dan
Umman dan termasuk suku
yang tertua sesudah kaum Nabi
Nuh serta terkenal dengan
kekuatan jasmani dalam bentuk
tubuh-tubuh yang besar dan
sasa. Mereka dikurniai oleh
Allah s.w.t. tanah yang subur
dengan sumber-sumber airnya
yang mengalir dari segala
penjuru sehinggakan
memudahkan mereka bercucuk
tanam untuk bahan makanan
mereka dan memperindah
tempat tinggal mereka dengan
kebun-kebun bunga yang
indah-indah. Berkat kurnia
Allah s.w.t. itu mereka hidup
menjadi makmur, sejahtera dan
bahagia serta dalam waktu yang
singkat mereka berkembang
biak dan menjadi suku yang
terbesar diantara suku-suku
yang hidup di sekelilingnya.
Sebagaimana dengan kaum
Nabi Nuh kaum Hud ialah suku
Aad ini adalah penghidupan
rohaninya tidak mengenal
Allah
Yang Maha Kuasa Pencipta
alam semesta. Mereka
membuat patung-patung yang
diberi nama " Shamud" dan "
Alhattar" dan itu yang disembah
sebagai tuhan mereka yang
menurut kepercayaan mereka
dapat memberi kebahagiaan,
kebaikan dan keuntungan serta
dapat menolak kejahatan,
kerugian dan segala musibah.
Ajaran dan agama Nabi Idris
dan Nabi Nuh sudah tidak
berbekas dalam hati, jiwa serta
cara hidup mereka sehari-hari.
Kenikmatan hidup yang mereka
sedang tenggelam di dalamnya
berkat tanah yang subur dan
menghasilkan yang melimpah
ruah menurut anggapan
mereka adalah kurniaan dan
pemberian kedua berhala
mereka yang mereka sembah.
Kerananya mereka tidak putus-
putus sujud kepada kedua
berhala itu mensyukurinya
sambil memohon
perlindungannya dari segala
bahaya dan mushibah berupa
penyakit atau kekeringan.
Sebagai akibat dan buah dari
aqidah yang sesat itu pergaulan
hidup mereka menjadi dikuasai
oleh tuntutan dan pimpinan
Iblis laknatullah, di mana nilai-
nilai moral dan akhlak tidak
menjadi dasar penimbangan
atau kelakuan dan tindak-
tanduk seseorang tetapi
kebendaan dan kekuatan
lahiriahlah yang menonjol
sehingga timbul kerusuhan dan
tindakan sewenang-wenang di
dalam masyarakat di mana yang
kuat menindas yang lemah yang
besar memperkosa yang kecil
dan yang berkuasa memeras
yang di bawahnya. Sifat-sifat
sombong, congkak, iri-hati,
dengki, hasut dan benci-
membenci yang didorong oleh
hawa nafsu merajalela dan
menguasai penghidupan
mereka sehingga tidak memberi
tempat kepada sifat-sifat belas
kasihan, sayang menyayang,
jujur, amanat dan rendah hati.
Demikianlah gambaran
masyarakat suku Aad tatkala
Allah s.w.t. mengutuskan Nabi
Hud sebagai nabi dan rasul
kepada mereka.
Nabi Hud Berdakwah Di
Tengah-tengah Sukunya
Sudah menjadi sunnah Allah
s.w.t. sejak diturunkannya
Adam Ke bumi bahawa dari
masa ke semasa jika hamba-
hamba-
Nya sudah berada
dalam kehidupan yang sesat
sudah jauh menyimpang dari
ajaran-ajaran agama yang
dibawa oleh Nabi-nabi-
Nya
diutuslah seorang Nabi atau
Rasul yang bertugas untuk
menyegarkan kembali ajaran-
ajaran nabi-nabi yang
sebelumnya mengembalikan
masyarakat yang sudah tersesat
ke jalanlurus dan benar dan
mencuci bersih jiwa manusiadari
segala tahayul dan syirik
menggantinya dan mengisinya
dengan iman tauhid dan aqidah
yang sesuia dengan fitrah.
Demikianlah maka kepada suku
Aad yang telah dimabukkan
oleh kesejahteraan hidup dan
kenikmatan duniawi sehingga
tidak mengenalkan Tuhannya
yang mengurniakan itu semua.
Di utuskan kepada mereka Nabi
Hud seorang daripada suku
mereka sendiri dari keluarga
yang terpandang dan
berpengaruh terkenal sejak
kecilnya dengan kelakuan yang
baik budi pekerti yang luhur
dan sgt bijaksana dalam
pergaulan dengan kawan-
kawannya. Nabi Hud memulai
dakwahnya dengan menarik
perhatian kaumnya suku Aad
kepada tanda-tanda wujudnya
Allah s.w.t. yang berupa alam
sekeliling mereka dan bahawa
Allah s.w.t. lah yang mencipta
mereka semua dan
mengurniakan mereka dengan
segala kenikmatan hidup yang
berupa tanah yang subur, air
yang mengalir serta tubuh-
tubuhan yang tegak dan kuat.
Dialah yang seharusnya mereka
sembah dan bukan patung-
patung yang mereka perbuat
sendiri. Mereka sebagai manusia
adalah makhluk Tuhan paling
mulia yang tidak sepatutnya
merendahkan diri sujud
menyembah batu-batu yang
sewaktunya dapat mereka
hancurkan sendiri dan
memusnahkannya dari
pandangan.
Di terangkan oleh Nabi Hud
bahawa dia adalah pesuruh
Allah s.w.t. yang diberi tugas
untuk membawa mereka ke
jalan yang benar beriman
kepada
Allah s.w.t. yang
menciptakan mereka
menghidup dan mematikan
mereka memberi rezeki atau
mencabutnya daripada mereka.
Ia tidak mengharapkan upah
dan menuntut balas jasa atas
usahanya memimpin dan
menuntut mereka ke jalan yang
benar. Ia hanya menjalankan
perintah
Allah s.w.t. dan
memperingatkan mereka
bahawa jika mereka tetap
menutup telinga dan mata mrk
menghadapi ajakan dan
dakwahnya mereka akan
ditimpa azab dan dibinasakan
oleh Allah s.w.t. sebagaimana
terjadinya atas kaum Nuh yang
mati binasa tenggelam dalam air
bah akibat kecongkakan dan
kesombongan mereka menolak
ajaran dan dakwah Nabi Nuh
seraya bertahan pada pendirian
dan kepercayaan mereka
kepada berhala dan patung-
patung yang mereka sembah
dan puja itu.
Bagi kaum Aad seruan dan
dakwah Nabi Hud itu
merupakan barang yang tidak
pernah mereka dengar ataupun
menduga. Mereka melihat
bahawa ajaran yang dibawa
oleh Nabi Hud itu akan
mengubah sama sekali cara
hidup mereka dan membongkar
peraturan dan adat istiadat
yang telah mereka kenal dan
warisi dari nenek moyang
mereka. Mereka tercengang
dan merasa hairan bahawa
seorang dari suku mereka
sendiri telah berani berusaha
merombak tatacara hidup
mereka dan menggantikan
agama dan kepercayaan
mereka dengan sesuatu yang
baru yang mereka tidak kenal
dan tidak dapat dimengertikan
dan diterima oleh akal fikiran
mereka. Dengan serta-merta
ditolaklah oleh mereka dakwah
Nabi Hud itu dengan berbagai
alasan dan tuduhan kosong
terhadap diri beliau serta
ejekan-ejekan dan hinaan yang
diterimanya dengan kepala
dingin dan penuh kesabaran.
Berkatalah kaum Aad kepada
Nabi Hud: "Wahai Hud! Ajaran
dan agama apakah yang
engkau hendak anjurkan
kepada kami? Engkau ingin agar
kami meninggalkan
persembahan kami kepada
tuhan-tuhan kami yang
berkuasa ini dan menyembah
tuhan mu yang tidak dapat
kami jangkau dengan
pancaindera kami dan tuhan
yang menurut kata kamu tidak
bersekutu. Cara persembahan
yang kami lakukan ini ialah yang
telah kami warisi dari nenek
moyang kami dan tidak sesekali
kami tidak akan
meninggalkannya bahkan
sebaliknya engkaulah yang
seharusnya kembali kepada
aturan nenek moyangmu dan
jangan mencederai kepercayaan
dan agama mereka dengan
memebawa suatu agama baru
yang tidak kenal oleh mereka
dan tentu tidak akan
direstuinya."
Wahai kaumku! jawab Nabi
Hud, "Sesungguhnya
Tuhan
yang aku serukan ini kepada
kamu untuk menyembah-
Nya
walaupun kamu tidak dapat
menjangkau-
Nya dengan
pancainderamu namun kamu
dapat melihat dan merasakan
wujudnya dalam diri kamu
sendiri sebagai ciptaan
Nya dan
dalam alam semesta yang
mengelilingimu beberapa langit
dengan matahari bulan dan
bintang-bintangnya bumi
dengan gunung-ganangnya
sungai tumbuh-tumbuhan dan
binatang-binatang yang
kesemuanya dapat bermanfaat
bagi kamu sebagai manusia.
Dan menjadi kamu dapat
menikmati kehidupan yang
sejahtera dan bahagia.
Tuhan
itulah yang harus kamu sembah
dan menundukkan kepala
kamu kepada-
Nya, Tuhan
Yang Maha Esa tiada
bersekutu tidak beranak dan
diperanakan yang walaupun
kamu tidak dpt menjangkau-
Nya dengan pancainderamu,
Dia dekat daripada kamu
mengetahui segala gerak-geri
dan tingkah lakumu mengetahui
isi hati mu denyut jantungmu
dan jalan fikiranmu.
Tuhan
itulah yang harus disembah
oleh manusia dengan
kepercayaan penuh kepada
keesaan-
Nya dan kekuasaan-
Nya dan bukan patung-patung
yang kamu perbuat pahat dan
ukir dengan tangan kamu
sendiri kemudian kamu sembah
sebagai tuhan padahal ia suatu
barang yang tidak dapat
berbuat sesuatu yang
menguntungkan atau
merugikan kamu. Alangkah
bodohnya dan dangkalnya
fikiranmu jika kamu tetap
mempertahankan agamamu
yang sesat itu dan menolak
ajaran dan agama yang telah
diwahyukan kepadaku oleh
Allah Tuhan Yang Maha Esa
itu."
Wahai Hud! jawab kaumnya,
"Gerangan apakah yang
menjadikan engkau
berpandangan dan berfikiran
lain daripada yang sudah
menjadi pegangan hidup kami
sejak dahulu kala dan
menjadikan engkau
meninggalkan agama nenek
moyangmu sendiri bahkan
sehingga engkau menghina dan
merendahkan martabat tuhan-
tuhan kami dan
memperbodohkan kami dan
menganggap kami berakal
sempit dan berfikiran dangkal?
Engkau mengaku bahawa
engkau terpilih menjadi rasul
pesuruh oleh Tuhanmu untuk
membawa agama dan
kepercayaan baru kepada kami
dan mengajak kami keluar dari
jalan yang sesat menurut
pengakuanmu ke jalan yang
benar dan lurus. Kami merasa
hairan dan tidak dapat
menerima oleh akal kami sendiri
bahwa engkau telah dipilih
menjadi pesuruh Tuhan.
Apakah kelebihan kamu di atas
seseorang daripada kami,
engkau tidak lebih tidak kurang
adalah seorang manusia biasa
seperti kami hidup makan
minum dan tidur tiada bedanya
dengan kami, mengapa engkau
yang dipilih oleh Tuhanmu?
Sungguh engkau menurut
anggapan kami seorang
pendusta besar atau mungkin
engkau berfikiran tidak sihat
terkena kutukan tuhan-tuhan
kami yang selalu engkau ejek
hina dan cemuhkan."
"Wahai kaumku" jawab Nabi
Hud, "Aku bukanlah seorang
pendusta dan fikiran ku tetap
waras dan sihat tidak kurang
sesuatu pun dan ketahuilah
bahawa patung-patungmu yang
kamu pertuhankan itu tidak
dapat mendatangkan sesuatu
gangguan atau penyakit bagi
badanku atau fikiranku. Kamu
kenal aku, sejak lama aku hidup
di tengah-tengah kamu bahawa
aku tidak pernah berdusta dan
bercakap bohong dan
sepanjang pergaulanku dengan
kamu tidak pernah terlihat pada
diriku tanda-tanda ketidak
wajaran perlakuanku atau
tanda-tanda yang meragukan
kewarasan fikiranku dan
kesempurnaan akalku. Aku
adalah benar pesuruh Allah
s.w.t. yang diberi amanat untuk
menyampaikan wahyu-Nya
kepada hamba-hamba-Nya
yang sudah tersesat kemasukan
pengaruh ajaran Iblis
laknatullah dan sudah jauh
menyimpang dari jalan yang
benar yang diajar oleh nabi-
nabi yang terdahulu kerana
Allah s.w.t. tidak akan
membiarkan hamba-hamba-
Nya terlalu lama terlantar
dalam kesesatan dan hidup
dalam kegelapan tanpa
diutuskan seorang rasul yang
menuntun mereka ke jalan yang
benar dan penghidupan yang
diredhai-
Nya. Maka percayalah
kamu kepada ku gunakanlah
akal fikiran kamu berimanlah
dan bersujudlah kepada
Allah
s.w.t., Tuhan seru sekalian
alam, Tuhan yang menciptakan
kamu menciptakan langit dan
bumi menurunkan hujan bagi
menyuburkan tanah ladangmu,
menumbuhkan tumbuhan bagi
meneruskan hidupmu.
Bersembahlah kepada-Nya dan
mohonlah ampun atas segala
perbuatan salah dan tindakan
sesatmu, agar
Dia menambah
rezekimu dan kemakmuran
hidupmu dan terhindarlah
kamu dari azab dunia
sebagaimana yang telah dialami
oleh kaum Nuh dan kelak azab
di akhirat. Ketahuilah bahawa
kamu akan dibangkitkan
kembali kelak dari kubur kamu
dan dimintai bertanggungjawab
atas segala perbuatan kamu
didunia ini dan diberi ganjaran
sesuai dengan amalanmu yang
baik dan soleh mendapat
ganjaran baik dan yang hina
dan buruk akan diganjarkan
dengan api neraka. Aku hanya
menyampaikannya risalah
Allah
s.w.t. kepada kamu dan
dengan ini telah memperingati
kamu akan akibat yang akan
menimpa kepada dirimu jika
kamu tetap mengingkari
kebenaran dakwahku."
Kaum Aad menjawab: "Kami
bertambah yakin dan tidak ragu
lagi bahawa engkau telah
mendapat kutukan tuhan-tuhan
kami sehingga menyebabkan
fikiran kamu kacau dan akalmu
berubah menjadi tidak siuman.
Engkau telah mengucapkan
kata-kata yang tidak masuk akal
bahawa jika kami mengikuti
agamamu, akan bertambah
rezeki dan kemakmuran hidup
kami dan bahawa kami akan
dibangkitkan kembali dari kubur
kami dan menerima segala
ganjaran atas segala amalan
kami.Adakah mungkin kami
akan dibangkitkan kembali dari
kubur kami setelah kami mati
dan menjadi tulang. Dan
apakah azab dan seksaan yang
engkau selalu menakutkan kami
dan mengancamkannya kepada
kami? Semua ini kami anggap
kosong dan ancaman kosong
belaka. Ketahuilah bahawa kami
tidak akan menyerah kepadamu
dan mengikuti ajaranmu kerana
bayangan azab dan seksa yang
engkau bayangkannya kepada
kami bahkan kami menentang
kepadamu datangkanlah apa
yang engkau janjikan dan
ancaman itu jika engkau betul-
betul benar dalam kata-katamu
dan bukan seorang pendusta."
"Baiklah" jawab Nabi Hud," Jika
kamu meragukan kebenaran
kata-kataku dan tetap berkeras
kepala tidak menghiraukan
dakwahku dan meninggalkan
persembahanmu kepada
berhala-berhala itu maka
tunggulah saat tibanya
pembalasan
Tuhan di mana
kamu tidak akan dapat
melepaskan diri dari
bencananya.
Allah s.w.t.
menjadi saksiku bahawa aku
telah menyampaikan risalah-
Nya dengan sepenuh tenagaku
kepada mu dan akan tetap
berusaha sepanjang hayat
kandung badanku memberi
penerangan dan tuntunan
kepada jalan yang baik yang
telah digariskan oleh
Allah
s.w.t. bagi hamba-hamba-
Nya."
Pembalasan Allah s.w.t. Atas
Kaum Aad
Pembalasan Allah s.w.t.
terhadap kaum Aad yang kafir
dan tetap membangkang itu
diturunkan dalam dua perinkat.
Tahap pertama berupa
kekeringan yang melanda
ladang-ladang dan kebun-
kebun mereka, sehingga
menimbulkan kecemasan dan
kegelisahan, kalau-kalau
mereka tidak memperolehi hasil
dari ladang-ladang dan kebun-
kebunnya seperti biasanya.
Dalam keadaan demikian Nabi
Hud masih berusaha
meyakinkan mereka bahawa
kekeringan itu adalah suatu
permulaan seksaan dari
Allah
s.w.t. yang dijanjikan dan
bahawa Allah s.w.t. masih lagi
memberi kesempatan kepada
mereka untuk sedar akan
kesesatan dan kekafiran mereka
dan kembali beriman kepada
Allah s.w.t. dengan
meninggalkan persembahan
mereka yang bathil kemudian
bertaubat dan memohon
ampun kepada
Allah s.w.t.
agar segera hujan turun
kembali dengan lebatnya dan
terhindar mereka dari bahaya
kelaparan yang mengancam.
Akan tetapi mereka tetap belum
mahu percaya dan menganggap
janji Nabi Hud itu adalah janji
kosong belaka. Mereka bahkan
pergi menghadap berhala-
berhala mereka memohon
perlindungan dari musibah yang
mereka hadapi.
Tentangan mereka terhadap
janji
Allah s.w.t. yang
diwahyukan kepada Nabi Hud
segera mendapat jawapan
dengan datangnya pembalasan
tahap kedua yang dimulai
dengan terlihatnya gumpalan
awan dan mega hitam yang
tebal di atas mereka yang
disambutnya dengan sorak-sorai
gembira, kerana dikiranya
bahawa hujan akan segera
turun membasahi ladang-
ladang dan menyirami kebun-
kebun mereka yang sedang
mengalami kekeringan. Melihat
sikap kaum Aad yang sedang
bersuka ria itu berkatalah Nabi
Hud dengan nada mengejek:
"Mega hitam itu bukanlah mega
hitam dan awam rahmat bagi
kamu tetapi mega yang akan
membawa kehancuran kamu
sebagai pembalasan
Allah
s.w.t. yang telah ku janjikan
dan kamu ternanti-nanti untuk
membuktikan kebenaran kata-
kataku yang selalu kamu
sangkal dan kamu dusta."
Sejurus kemudian menjadi
kenyataanlah apa yang
dikatakan oleh Nabi Hud itu
bahawa bukan hujan yang
turun dari awan yang tebal itu
tetapi angin taufan yang
dahsyat dan kencang disertai
bunyi gemuruh yang
mencemaskan yang telah
merosakkan bangunan-
bangunan rumah dari dasarnya
membawa berterbangan semua
perabot-perabot dan milik harta
benda dan melempar jauh
binatang-binatang ternak.
Keadaan kaum Aad menjadi
panik mereka berlari kesana sini
mencari perlindungan Suami
tidak tahu di mana isterinya
berada dan ibu juga kehilangan
anaknya sedang rumah-rumah
menjadi sama rata dengan
tanah. Bencana angin taufan itu
berlangsung selama lapan hari
tujuh malam sehingga sempat
menyampuh bersih kaum Aad
yang congkak itu dan
menamatkan riwayatnya dalam
keadaan yang menyedihkan itu
untuk menjadi pengajaran dan
ibrah bagi umat-umat yang
akan datang.
Adapun Nabi Hud dan para
sahabatnya yang beriman telah
mendapat perlindungan
Allah
s.w.t. dari bencana yang
menimpa kaumnya yang kacau
bilau dan tenang seraya melihat
keadaan kaumnya yang kacau
bilau mendengar gemuruhnya
angin dan bunyi pohon-pohon
dan bangunan-bangunan yang
berjatuhan serta teriakan dan
tangisan orang yang meminta
tolong dan mohon
perlindungan. Setelah keadaan
cuaca kembali tenang dan
tanah "Al-Ahqaf " sudah
menjadi sunyi senyap dari kaum
Aad pergilah Nabi Hud
meninggalkan tempatnya
berhijrah ke Hadramaut, di
mana ia tinggal menghabiskan
sisa hidupnya sampai ia wafat
dan dimakamkan di sana
dimana hingga sekarang
makamnya yang terletak di atas
sebuah bukit di suatu tempat
lebih kurang 50 km dari kota
Siwun dikunjungi para
penziarah yang datang beramai-
ramai dari sekitar daerah itu,
terutamanya dan bulan
Syaaban pada setiap tahun.
Kisah Nabi Hud Dalam Al-
Quran
Kisah Nabi Hud diceritakan oleh
68 ayat dalam 10 surah di
antaranya surah Hud, ayat 50
hingga 60 , surah " Al-
Mukminun " ayat 31 sehingga
ayat 41 , surah " Al-Ahqaaf "
ayat 21 sehingga ayat 26 dan
surah " Al-Haaqqah " ayat 6 ,7
dan 8.
Pengajaran Dari Kisah Nabi
Hud A.S.
Nabi Hud telah memberi contoh
dan sistem yang baik yang patut
ditiru dan diikuti oleh juru
dakwah dan ahli penerangan
agama. Beliau menghadapi
kaumnya yang sombong dan
keras kepala itu dengan penuh
kesabaran, ketabahan dan
kelapangan dada. Ia tidak
sesekali membalas ejekan dan
kata-kata kasar mereka dengan
serupa tetapi menolaknya
dengan kata-kata yang halus
yang menunjukkan bahawa
beliau dapat menguasai
emosinya dan tidak sampai
kehilangan akal atau kesabaran.
Nabi Hud tidak marah dan tidak
gusar ketika kaumnya mengejek
dengan menuduhnya telah
menjadi gila dan tidak siuman.
Ia dengan lemah lembut
menolak tuduhan dan ejekan
itu dengan hanya mengata:
"Aku tidak gila dan bahawa
tuhan-tuhanmu yang kamu
sembah tidak dapat
menggangguku atau
mengganggu fikiranku sedikit
pun tetapi aku ini adalah rasul
pesuruh Allah s.w.t. kepadamu
dan betul-betul aku adalah
seorang penasihat yang jujur
bagimu menghendaki
kebaikanmu dan kesejahteraan
hidupmu dan agar kamu
terhindar dan selamat dari azab
dan seksaan Allah s.w.t. di
dunia mahupun di akhirat."
Dalam berdialog dengan
kaumnya. Nabi Hud selalu
berusaha mengetuk hati nurani
mereka dan mengajak mereka
berfikir secara rasional,
menggunakan akal dan fikiran
yang sihat dengan memberikan
bukti-bukti yang dapat diterima
oleh akal mereka tentang
kebenaran dakwahnya dan
kesesatan jalan mereka namun
hidayah iu adalah dari Allah
s.w.t., Dia akan memberinya
kepada siapa yang Dia
kehendakinya.
Tuesday, April 17, 2012 8:18:48 AM
islam
KISAH NABI NUH ALAI HIS
SALAM
Nabi Nuh adalah nabi keempat
sesudah Adam, Syith dan Idris
dan keturunan kesembilan dari
Nabi Adam. Ayahnya adalah
Lamik bin Metusyalih bin Idris.
Dakwah Nabi Nuh Kepada
Kaumnya
Nabi Nuh menerima wahyu
kenabian dari
Allah s.w.t.
dalam masa "fatrah" masa
kekosongan di antara dua rasul
dimana biasanya manusia secara
beransur-ansur melupakan
ajaran agama yang dibawa oleh
nabi yang meninggalkan mereka
dan kembali bersyirik
meninggalkan amal kebajikan,
melakukan kemungkaran dan
kemaksiatan di bawah pimpinan
Iblis laknatullah. Demikianlah
maka kaum Nabi Nuh tidak
luput dari proses tersebut,
sehingga ketika Nabi Nuh
datang di tengah-tengah
mereka, mereka sedang
menyembah berhala iaitu
patung-patung yang dibuat oleh
tangan-tangan mereka sendiri
disembahnya sebagai tuhan-
tuhan yang dapat membawa
kebaikan dan manfaat serta
menolak segala kesengsaraan
dan kemalangan. Berhala-
berhala yang dipertuhankan
dan menurut kepercayaan
mereka mempunyai kekuatan
dan kekuasaan ghaib ke atas
manusia itu diberinya nama-
nama yang silih berganti
menurut kehendak dan selera
kebodohan mereka.Kadang-
kadang mereka namakan
berhala mereka "Wadd" dan
"Suwa" kadangkala "Yaguts"
dan bila sudah bosan digantinya
dengan nama "Yatuq" dan
"Nasr".
Nabi Nuh berdakwah kepada
kaumnya yang sudah jauh
tersesat oleh iblis laknatullah
itu, mengajak mereka
meninggalkan syirik dan
penyembahan berhala dan
kembali kepada tauhid
menyembah
Allah s.w.t.,
Tuhan sekalian alam melakukan
ajaran-ajaran agama yang
diwahyukan kepadanya serta
meninggalkan kemungkaran
dan kemaksiatan yang diajarkan
oleh Syaitan dan Iblis
laknatullah. Nabi Nuh menarik
perhatian kaumnya agar melihat
alam semesta yang diciptakan
oleh
Allah s.w.t. berupa langit
dengan matahari, bulan dan
bintang-bintang yang
menghiasinya, bumi dengan
kekayaan yang ada di atas dan
di bawahnya, berupa tumbuh-
tumbuhan dan air yang
mengalir yang memberi
kenikmatan hidup kepada
manusia, pengantian malam
menjadi siang dan sebaliknya
yang kesemua itu menjadi bukti
dan tanda nyata akan adanya
ke Esaan Tuhan yang harus
disembah dan bukan berhala-
berhala yang mereka buat
dengan tangan mereka
sendiri.Di samping itu Nabi Nuh
juga memberitakan kepada
mereka bahwa akan ada
gajaran yang akan diterima oleh
manusia atas segala amalannya
di dunia iaitu syurga bagi
amalan kebajikan dan neraka
bagi segala pelanggaran
terhadap perintah agama yang
berupa kemungkaran dan
kemaksiatan.
Nabi Nuh yang dikurniakan
Allah s.w.t. dengan sifat-sifat
yang patut dimiliki oleh seorang
nabi, fasih dan tegas dalam
kata-katanya, bijaksana dan
sabar dalam tindak-tanduknya
melaksanakan tugas risalahnya
kepada kaumnya dengan penuh
kesabaran dan kebijaksanaan
dengan cara yang lemah lembut
mengetuk hati nurani mereka
dan kadang kala dengan kata-
kata yang tajam dan nada yang
kasar bila menghadapi para
pembesar kaumnya yang keras
kepala yang enggan menerima
hujjah dan dalil-dalil yang
dikemukakan kepada mereka
yang tidak dapat mereka
membantahnya atau
mematahkannya.
Akan tetapi walaupun Nabi Nuh
telah berusaha sekuat
tanaganya berdakwah kepda
kaumnya dengan segala
kebijaksanaan, kecekapan dan
kesabaran dan dalam setiap
kesempatan, siang mahupun
malam dengan cara berbisik-
bisik atau cara terang dan
terbuka ternyata hanya sedikit
sekali dari kaumnya yang dapat
menerima dakwahnya dan
mengikuti ajakannya, yang
menurut sementara riwayat
tidak melebihi bilangan seratus
orang Mereka pun terdiri dari
orang-orang yang miskin
berkedudukan sosial lemah.
Sedangkan orang yang kaya-
raya, berkedudukan tingi dan
terpandang dalam masyarakat,
yang merupakan pembesar-
pembesar dan penguasa-
penguasa tetap membangkang,
tidak mempercayai Nabi Nuh
mengingkari dakwahnya dan
sesekali tidak merelakan
melepas agamanya dan
kepercayaan mereka terhadap
berhala-berhala mereka,
bahkan mereka berusaha
dengan mengadakan
persekongkolan hendak
melumpuhkan dan
mengagalkan usaha dakwah
Nabi nuh.
Berkata mereka kepada Nabi
Nuh: "Bukankah engkau hanya
seorang daripada kami dan
tidak berbeda daripada kami
sebagai manusia biasa. Jikalau
betul Allah s.w.t. akan
mengutuskan seorang rasul
yang membawa perintah-
Nya,
nescaya Ia akan mengutuskan
seorang malaikat yang patut
kami dengarkan kata-katanya
dan kami ikuti ajakannya dan
bukan manusia biasa seperti
engkau hanya dapat diikuti
orang-orang rendah kedudukan
sosialnya seperti para buruh
petani orang-orang yang tidak
berpenghasilan yang bagi kami
mereka seperti sampah
masyarakat. Pengikut-
pengikutmu itu adalah orang-
orang yang tidak mempunyai
daya fikiran dan ketajaman
otak, mereka mengikutimu
secara buta tuli tanpa
memikirkan dan menimbangkan
masak-masak benar atau
tidaknya dakwah dan ajakanmu
itu. Cuba agama yang engkau
bawa dan ajaran -ajaran yang
engkau sadurkan kepada kami
itu betul-betul benar, nescaya
kamilah dulu mengikutimu dan
bukannya orang-orang yang
mengemis pengikut-pengikutmu
itu. Kami sebagai pemuka-
pemuka masyarakat yang
pandai berfikir, memiliki
kecerdasan otak dan
pandangan yang luas dan yang
dipandang masyarakat sebagai
pemimpin-pemimpinnya,
tidaklah mudah kami menerima
ajakanmu dan dakwahmu.
Engkau tidak mempunyai
kelebihan di atas kami tentang
soal-soal kemasyarakatan dan
pergaulan hidup. Kami jauh
lebih pandai dan lebih
mengetahui daripadamu
tentang hal itu semuanya.
Anggapan kami terhadapmu,
tidak lain dan tidak bukan,
bahawa engkau adalah
pendusta belaka."
Nuh berkata, menjawab ejekan
dan olok-olokan kaumnya:
"Adakah engkau mengira
bahawa aku dapat memaksa
kamu mengikuti ajaranku atau
mengira bahawa aku
mempunyai kekuasaan untuk
menjadikan kamu orang-orang
yang beriman jika kamu tetap
menolak ajakanku dan tetap
membuta-tuli terhadap bukti-
bukti kebenaran dakwahku dan
tetap mempertahakan
pendirianmu yang tersesat yang
diilhamkan oleh kesombongan
dan kecongkakan kerana
kedudukan dan harta-benda
yang kamu miliki.Aku hanya
seorang manusia yang
mendapat amanat dan diberi
tugas oleh Allah s.w.t. untuk
menyampaikan risalah-Nya
kepada kamu. Jika kamu tetap
berkeras kepala dan tidak mahu
kembali ke jalan yang benar
dan menerima agama
Allah
s.w.t. yang diutuskan-Nya
kepada ku maka terserahlah
kepada
Allah s.w.t. untuk
menentukan hukuman-Nya dan
gajaran-Nya keatas diri kamu.
Aku hanya pesuruh dan rasul-
Nya yang diperintahkan untuk
menyampaikan amanat-Nya
kepada hamba-hamba-Nya.
Dialah yang berkuasa memberi
hidayah kepadamu dan
mengampuni dosamu atau
menurunkan azab dan seksaan-
Nya di atas kamu sekalian jika
Ia kehendaki. Dialah pula yang
berkuasa menurunkan seksa
dan azab-nya di dunia atau
menangguhkannya sampai hari
kemudian.
Dialah Tuhan
pencipta alam semesta ini,
Maha Kuasa, Maha
Mengetahui, maha pengasih
dan Maha Penyayang.
".
Kaum Nuh mengemukakan
syarat dengan berkata: "Wahai
Nuh! Jika engkau menghendaki
kami mengikutimu dan memberi
sokongan dan semangat kepada
kamu dan kepada agama yang
engkau bawa, maka jauhkanlah
para pengikutmu yang terdiri
dari orang-orang petani, buruh
dan hamaba-hamba sahaya itu.
Usirlah mereka dari
pengaulanmu kerana kami tidak
dapat bergaul dengan mereka
duduk berdampingan dengan
mereka mengikut cara hidup
mereka dan bergabung dengan
mereka dalam suatu agama dan
kepercayaan. Dan bagaimana
kami dapat menerima satu
agama yang menyamaratakan
para bangsawan dengan orang
awam, penguasa dan pembesar
dengan buruh-buruhnya dan
orang kaya yang berkedudukan
dengan orang yang miskin dan
papa."
Nabi Nuh menolak pensyaratan
kaumnya dan berkata: "Risalah
dan agama yang aku bawa
adalah untuk semua orang
tiada pengecualian, yang pandai
mahupun yang bodoh, yang
kaya mahupun miskin, majikan
ataupun buruh ,diantara
peguasa dan rakyat biasa
semuanya mempunyai
kedudukan dan tempat yang
sama terhadap agama dan
hukum
Allah s.w.t.. Andai kata
aku memenuhi pensyaratan
kamu dan meluluskan
keinginanmu menyingkirkan
para pengikutku yang setia itu,
maka siapakah yang dapat ku
harapkan akan meneruskan
dakwahku kepada orang ramai
dan bagaimana aku sampai hati
menjauhkan daripadaku orang-
orang yang telah beriman dan
menerima dakwahku dengan
penuh keyakinan dan
keikhlasan di kala kamu
menolaknya serta
mengingkarinya, orang-orang
yang telah membantuku dalam
tugasku di kala kamu
menghalangi usahaku dan
merintangi dakwahku. Dan
bagaimanakah aku dapat
mempertanggungjawabkan
tindakan pengusiranku kepada
mereka terhadap
Allah s.w.t.
bila mereka mengadu bahawa
aku telah membalas kesetiaan
dan ketaatan mereka dengan
sebaliknya semata-mata untuk
memenuhi permintaanmu dan
tunduk kepada pensyaratanmu
yang tidak wajar dan tidak
dapat diterima oleh akal dan
fikiran yang sihat. Sesungguhnya
kamu adalah orang-orang yang
bodoh dan tidak berfikiran
sihat.
Pada akhirnya, kerana merasa
tidak berdaya lagi mengingkari
kebenaran kata-kata Nabi Nuh
dan merasa kehabisan alasan
dan hujjah untuk melanjutkan
dialog dengan beliau, maka
berkatalah mereka: "Wahai
Nabi Nuh! Kita telah banyak
bermujadalah dan berdebat
dan cukup berdialog serta
mendengar dakwahmu yang
sudah menjemukan itu. Kami
tetap tidak akan mengikutimu
dan tidak akan sesekali
melepaskan kepercayaan dan
adat-istiadat kami sehingga tidak
ada gunanya lagi engkau
mengulang-ulangi dakwah dan
ajakanmu dan bertegang lidah
dengan kami. Datangkanlah apa
yang engkau benar-benar
orang yang menepati janji dan
kata-katanya. Kami ingin
melihat kebenaran kata-katamu
dan ancamanmu dalam
kenyataan kerana kami masih
tetap belum mempercayaimu
dan tetap meragukan
dakwahmu."
Nabi Nuh Berputus Asa Dari
Kaumnya
Nabi Nuh berada di tengah-
tengah kaumnya selama 950
tahun berdakwah
menyampaikan risalah
Allah
s.w.t., mengajak mereka
meninggalkan penyembahan
berhala dan kembali
menyembah dan beribadah
kepada
Allah Yang maha
Kuasa memimpin mereka
keluar dari jalan yang sesat dan
gelap ke jalan yang benar dan
terang, mengajar mereka
hukum-hukum syariat dan
agama yang diwahyukan oleh
Allah s.w.t. kepadanya,
mangangkat darjat manusia
yang tertindas dan lemah ke
tingat yang sesuai dengan fitrah
dan qudratnya dan berusaha
menghilangkan sifat-sifat
sombong dan bongkak yang
melekat pada para pembesar
kaumnya dan medidik agar
mereka berkasih sayang,
tolong-menolong diantara
sesama manusia. Akan tetapi
dalam waktu yang cukup lama
itu, Nabi Nuh tidak berhasil
menyedarkan dan menarik
kaumnya untuk mengikuti dan
menerima dakwahnya beriman,
bertauhid dan beribadat kepada
Allah s.w.t. kecuali
sekelompok kecil kaumnya yang
tidak mencapai seramai seratus
orang, walaupun ia telah
melakukan tugasnya dengan
segala dayausahanya dan
sekuat tenaganya dengan
penuh kesabaran dan kesulitan
menghadapi penghinaan, ejekan
dan cercaan makian kaumnya,
kerana ia mengharapkan akan
datang masanya di mana
kaumnya akan sedar diri dan
datang mengakui kebenarannya
dan kebenaran dakwahnya.
Harapan Nabi Nuh akan
kesedaran kaumnya ternyata
makin hari makin berkurangan
dan bahawa sinar iman dan
takwa tidak akan menebus ke
dalam hati mereka yang telah
tertutup rapat oleh ajaran dan
bisikan Iblislaknatullah. Hal
mana Nabi Nuh berupa
berfirman
Allah s.w.t. yang
bermaksud:
"Sesungguhnya tidak akan
seorang daripada kaumnya
mengikutimu dan beriman
kecuali mereka yang telah
mengikutimu dan beriman
lebih dahulu, maka janganlah
engkau bersedih hati kerana
apa yang mereka
perbuatkan."
Dengan penegasan firman
Allah s.w.t. itu, lenyaplah sisa
harapan Nabi Nuh dari
kaumnya dan habislah
kesabarannya. Ia memohon
kepada
Allah s.w.t. agar
menurunkan azab-Nya di atas
kaumnya yang berkepala batu
seraya berseru: "Ya
Allah!
Janganlah Engkau biarkan
seorang pun daripada orang-
orang kafir itu hidup dan tinggal
di atas bumi ini. Mereka akan
berusaha menyesatkan hamba-
hamba-
Mu, jika Engkau biarkan
mereka tinggal dan mereka
tidak akan melahirkan dan
menurunkan selain anak-anak
yang berbuat maksiat dan anak-
anak yang kafir seperti mereka."
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh
Allah s.w.t. dan
permohonannya diluluskan dan
tidak perlu lagi menghiraukan
dan mempersoalkan kaumnya,
kerana mereka itu akan
menerima hukuman
Allah
s.w.t. dengan mati tenggelam.
Nabi Nuh Membuat Kapal
Setelah menerima perintah
Allah s.w.t. untuk membuat
sebuah kapal, segeralah Nabi
Nuh mengumpulkan para
pengikutnya dan mulai mereka
mengumpulkan bahan yang
diperlukan untuk maksud
tersebut, kemudian dengan
mengambil tempat di luar dan
agak jauh dari kota dan
keramaiannya mereka dengan
rajin dan tekun bekerja siang
dan malam menyelesaikan
pembinaan kapal yang
diperintahkan itu. Walaupun
Nabi Nuh telah menjauhi kota
dan masyarakatnya, agar dapat
bekerja dengan tenang tanpa
gangguan bagi menyelesaikan
pembinaan kapalnya namun ia
tidak luput dari ejekan dan
cemuhan kaumnya yang
kebetulan atau sengaja melalui
tempat kerja membina kapal itu.
Mereka mengejek dan
mengolok-olok dengan
mengatakan: "Wahai Nuh! Sejak
bila engkau telah menjadi
tukang kayu dan pembuat
kapal? Bukankah engkau
seorang nabi dan rasul menurut
pengakuanmu, kenapa
sekarang menjadi seorang
tukang kayu dan pembuat
kapal.Dan kapal yang engkau
buat itu di tempat yang jauh
dari air ini adalah maksudmu
untuk ditarik oleh kerbau
ataukah mengharapkan angin
yang ankan menarik kapalmu
ke laut?" Dan lain-lain kata
ejekan yang diterima oleh Nabi
Nuh dengan sikap dingin dan
tersenyum seraya menjawab:
"Baiklah tunggu saja saatnya
nanti, jika kamu sekarang
mengejek dan mengolok-olok
kami maka akan tibalah
masanya kelak bagi kami untuk
mengejek kamu dan akan kamu
ketahui kelak untuk apa kapal
yang kami siapkan ini.
Tunggulah saatnya azab dan
hukuman
Allah s.w.t. menimpa
atas diri kamu."
Setelah selesai pekerjaan
pembuatan kapal yang
merupakan alat pengangkutan
laut pertama di dunia, Nabi Nuh
menerima wahyu dari
Allah
s.w.t.: "Siap-siaplah engkau
dengan kapalmu, bila tiba
perintah-
Ku dan terlihat
tanda-tanda darrpada-Ku
maka segeralah angkut
bersamamu di dalam
kapalmu dan kerabatmu dan
bawalah dua pasang dari
setiap jenis makhluk yang
ada di atas bumi dan
belayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari
langit dan memancur dari bumi
air yang deras dan dahsyat yang
dalam sekelip mata telah
menjadi banjir besar melanda
seluruh kota dan desa
menggenangi daratan yang
rendah mahupun yang tinggi
sampai mencapai puncak bukit-
bukit sehingga tiada tempat
berlindung dari air bah yang
dahsyat itu kecuali kapal Nabi
Nuh yang telah terisi penuh
dengan para orang mukmin
dan pasangan makhluk yang
diselamatkan oleh Nabi Nuh
atas perintah
Allah s.w.t..
Dengan iringan "Bismillah
majraha wa mursaha"
belayarlah kapal Nabi Nuh
dengan lajunya menyusuri
lautan air, menentang angin
yang kadang kala lemah lembut
dan kadang kala ganas dan
ribut. Di kanan kiri kapal
terlihatlah orang-orang kafir
bergelut melawan gelombang
air yang menggunung berusaha
menyelamat diri dari
cengkaman maut yang sudah
sedia menerkam mereka di
dalam lipatan gelombang-
gelombang itu. Tatkala Nabi
Nuh berada di atas geladak
kapal memperhatikan cuaca
dan melihat-lihat orang-orang
kafir dari kaumnya sedang
bergelimpangan di atas
permukaan air, tiba-tiba
terlihatlah olehnya tubuh
putera sulungnya yang bernama
"Kan'aan" timbul tenggelam
dipermainkan oleh gelombang
yang tidak menaruh belas
kasihan kepada orang-orang
yang sedang menerima
hukuman
Allah s.w.t. itu. Pada
saat itu, tanpa disadari,
timbullah rasa cinta dan kasih
sayang seorang ayah terhadap
putera kandungnya yang
berada dalam keadaan cemas
menghadapi maut ditelan
gelombang.
Nabi Nuh secara spontan,
terdorong oleh suara hati
kecilnya berteriak dengan
sekuat suaranya memanggil
puteranya: "Wahai anakku!
Datanglah kemari dan
gabungkan dirimu bersama
keluargamu. Bertaubatlah
engkau dan berimanlah kepada
Allah s.w.t. agar engkau
selamat dan terhindar dari
bahaya maut yang engkau
menjalani hukuman
Allah
s.w.t.." Kan'aan, putera Nabi
Nuh, yang tersesat dan telah
terkena racun rayuan syaitan
laknatullah dan hasutan
kaumnya yang sombong dan
keras kepala itu menolak
dengan keras ajakan dan
panggilan ayahnya yang
menyayanginya dengan kata-
kata yang menentang:
"Biarkanlah aku dan pergilah,
jauhilah aku, aku tidak sudi
berlindung di atas geladak
kapalmu aku akan dapat
menyelamatkan diriku sendiri
dengan berlindung di atas bukit
yang tidak akan dijangkau oleh
air bah ini."
Nuh menjawab: "Percayalah
bahawa tempat satu-satunya
yang dapat menyelamatkan
engkau ialah bergabung dengan
kami di atas kapal ini. Masa
tidak akan ada yang dapat
melepaskan diri dari hukuman
Allah s.w.t. yang telah
ditimpakan ini kecuali orang-
orang yang memperolehi
rahmat dan keampunan-
Nya."
Setelah Nabi Nuh mengucapkan
kata-katanya tenggelamlah
Kan'aan disambar gelombang
yang ganas dan lenyaplah ia
dari pandangan mata ayahnya,
tergelincirlah ke bawah lautan
air mengikut kawan-kawannya
dan pembesar-pembesar
kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan
berdukacita atas kematian
puteranya dalam keadaan kafir
tidak beriman dan belum
mengenal
Allah s.w.t.. Beliau
berkeluh-kesah dan berseru
kepada
Allah s.w.t.: "Ya
Tuhanku, sesungguhnya
puteraku itu adalah darah
dagingku dan adalah bahagian
dari keluargaku dan
sesungguhnya janji-
Mu adalah
janji benar dan Engkaulah
Maha Hakim yang Maha
Berkuasa
." Kepadanya Allah
s.w.t. berfirman: "Wahai Nuh!
Sesungguhnya dia puteramu
itu tidaklah termasuk
keluargamu, kerana ia telah
menyimpang dari ajaranmu,
melanggar perintahmu
menolak dakwahmu dan
mengikuti jejak orang-orang
yang kafir daripada
kaummu.Coretlah namanya
dari daftar
keluargamu.Hanya mereka
yang telah menerima
dakwahmu mengikuti jalanmu
dan beriman kepada-
Ku
dapat engkau masukkan dan
golongkan ke dalam barisan
keluargamu yang telah
Aku
janjikan perlindungannya dan
terjamin keselamatan
jiwanya. Adapun orang-orang
yang mengingkari risalah mu,
mendustakan dakwahmu dan
telah mengikuti hawa
nafsunya dan tuntutan Iblis,
pastilah mereka akan binasa
menjalani hukuman yang
telah
Aku tentukan walau
mereka berada dipuncak
gunung. Maka janganlah
engkau sesekali menanyakan
tentang sesuatu yang engkau
belum ketahui.
Aku ingatkan
janganlah engkau sampai
tergolong ke dalam golongan
orang-orang yang bodoh."
Nabi Nuh sedar segera setelah
menerima teguran dari
Allah
s.w.t. bahawa cinta kasih
sayangnya kepada anaknya
telah menjadikan ia lupa akan
janji dan ancaman
Allah s.w.t.
terhadap orang-orang kafir
termasuk puteranya sendiri. Ia
sedar bahawa ia tersesat pada
saat ia memanggil puteranya
untuk menyelamatkannya dari
bencana banjir yang didorong
oleh perasaan naluri darah
yang menghubungkannya
dengan puteranya padahal
sepatutnya cinta dan taat
kepada
Allah s.w.t. harus
mendahului cinta kepada
keluarga dan harta-benda. Ia
sangat sesalkan kelalaian dan
kealpaannya itu dan
menghadap kepada
Allah
s.w.t. memohon ampun dan
maghfirahnya dengan berseru:
"Ya Tuhanku aku berlindung
kepada-
Mu dari godaan syaitan
yang terlaknat, ampunilah
kelalaian dan kealpaanku
sehingga aku menanyakan
sesuatu yang aku tidak
mengetahuinya. Ya
Tuhanku
bila Engkau tidak memberi
ampun dan maghfirah serta
menurunkan rahmat bagiku,
nescaya aku menjadi orang
yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai
puncak keganasannya dan habis
binasalah kaum Nuh yang kafir
dan zalim sesuai dengan
kehendak dan hukum
Allah
s.w.t., surutlah lautan air
diserap bumi kemudian
bertambatlah kapal Nuh di atas
bukit " Judie " dengan iringan
perintah
Allah s.w.t. kepada
Nabi Nuh: "Turunlah wahai
Nuh ke darat engkau dan
para mukmin yang
menyertaimu dengan selamat
dilimpahi barakah dan inayah
dari sisi-
Ku bagimu dan bagi
umat yang menyertaimu."
Kisah Nabi Nuh Dalam Al-
Quran
Al-Quran menceritakan kisah
Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28
surah di antaranya surah Nuh
dari ayat 1 sehinga 28, juga
dalam surah "Hud" ayat 27
sehingga 48 yang mengisahkan
dialog Nabi Nuh dengan
kaumnya dan perintah
pembuatan kapal serta keadaan
banjir yang menimpa di atas
mereka.
Pengajaran Dari Kisah Nabi
Nuh Alai his salam
Bahawasanya hubungan antara
manusia yang terjalin kerana
ikatan persamaan kepercayaan
atau penamaan aqidah dan
pendirian adalah lebih erat dan
lebih berkesan daripada
hubungan yang terjalin kerana
ikatan darah atau kelahiran.
Kan'aan yang walaupun ia
adalah anak kandung Nabi
Nuh, oleh
Allah s.w.t.
dikeluarkan dari bilangan
keluarga ayahnya karena ia
menganut kepercayaan dan
agama berlainan dengan apa
yang dianut dan didakwahkan
oleh ayahnya sendiri, bahkan ia
berada di pihak yang memusuhi
dan menentangnya.
Maka dalam pengertian inilah
dapat difahami firman
Allah
s.w.t. dalam Al-Quran yang
bermaksud: "Sesungguhnya
para mukmin itu adalah
bersaudara."
Demikian pula
hadis Rasulullah s.a.w. yang
bermaksud: "Tidaklah sempurna
iman seseorang kecuali jika ia
menyintai saudaranya yang
beriman sebagaimana ia
menyintai dirinya sendiri." Juga
peribahasa yang berbunyi:
"Adakalanya engkau
memperolehi seorang saudara
yang tidak dilahirkan oleh
ibumu."
1 2 Next »