Independent Writing

Mengungkap Fakta yang Tersembunyi dibalik Berita

Kisah Perampok 3 Negara: “Ombouk…Maafkan Aku”

, , ,

Suara Azan Mahgrib dari Mesjid raya Johor,- membuat aku teringat sebelum aku sampai disini. Di jalan Setulang laut Apartemen Bros. Waktu itu,- dusun Suka Penimur sudah mulai gelap,- ayam-ayam kembali kekandang. Ombouk memberikan aku sebuah kopiah yang sebelumnya aku tidak pernah lihat. Aku tidak berani tanya dari mana datangnya kopiah itu,- karena aku begitu hormat dengan wanita yang melahirkan dan membesarkan aku ini. Ombouk adalah wanita desa yang setia. Pada waktu aku kecil dan belum mengerti soal kematian,- ubak (Di dusunku orang tua laki-laki di panggil Ubak) tewas tertembak di perantauan. Ini aku ketahui,- setelah usia menginjak masuk SMP. Ombouk,- mengerti betul arti sebuah rahasia keluarga,- dia menutup rapat kisah kematian ubak kepadaku termasuk kisah kematiannya. dia hanya menjelaskan Ubakku meninggal di perantauan.

Azan dari pengeras suara seperti terus memuja kebesaran tuhan semsta alam ini,- pikiran mengembara ke dusun, seang apa umbouk ? Padahal setamat SMP,- Ombouk telah merelakan aku untuk sekolah di Jambi. SMAku barulah selesai 3 tahun yang lalu. Oleh Kiai,- aku dititipkan pada saudara perempuannya yang menjadi pegawai kejaksaan di Jambi. Adik kiai yang jaksa itu,- memang tidak memiliki anak, Sepertinya aku diadopsi secara adat. Secara persaudaraan. Siapa Kiai ?

Pertanyaan ini itu aku ajukan kepada umbouk, saat itu usiaku sudah menginjak kelas 2 SMP di dusun Suka Penimur. Aku bertanya kepada Ombouk,- karena kiyai yang kakinya pincang setiap bulan selalu datang ke rumah. Mengantarkan Sekarung beras,- dan sebuah amplop berisi uang yang diserakan kepadaku. “Untuk kau sekolah” Katanya suatu saat. Dari Mulut Ombouk aku ketahui Kiai adalah kawan Ubak. Konon ketika mereka marantau bersama, kesetiakawanan antara Ubak dan Kiai selalu terjaga. Mereka saling menjaga,- saling merasakan sulitnya di perantau di negara orang. Apalagi di negara yang bahasanya mereka tidak mengerti. Alat komunikasi belum secanggih sekarang.

Aku teringat Kia,-i ketika Azan mahgrib di dusun Suka Penimur hari terakhirku di kampung. Dia hadir dengan mengenakan kopiah yang sama seperti emak berikan padaku hari itu. Kopiaj itu terbuat dari rotan yang dibelah halus, dan presisi. Disulam seperti anyaman kursi rotam, disamping kopiah juga disusun benang-benang emas. Diatas kopiah juga adalah sulaman benang mas berbantuk bunga matahari.

Maka pada hari itu,- hari pembacaan syukuran rencana perjalananku ke Malaysia. Praktis hanya aku dan kiai yang menggunakan kopiah seperti itu. Undangan yang hadir hari ini,- semuanya menggunakan kopiah warna hitam,- sebagaimana sedekah di kampung,- dari pagi orang-orang dusun mulai sibuk memotong ayam. Mambawa ayam datang kerumahku. Dan kiai mengirimkan seekor kerbau melalui orang kepercayaannya.

Kiai adalah seorang lelaki yang cacat,- tapi dia didusun penimur adalah tokoh masyarakat yang sangat dihormati. Kepala desa saja jika berbicara dengan dengan Kiai,- tidak berani melihat matanya. Semua orang kalau bicara dengan kiai salu menunduk. Ketika Kiai lewat,- orang-oranr tua dikampung tidak berani bersuara. Kecuali diajak bicara oleh Kiai,- dari bisik-bisik tetangga di dusun aku mengetahui kiai adalah tokoh para duta dikampungku. Penampilannya sederhana,- uang tidak pernah kurang. Setiap orang yang mau berangkat atau pulang dari luar negeri. Pasti datang dan bercerita dengan kiai. Walau mereka “berhasil” tidak berani gagah di mata tau didepan kiai.

Banyak duta berhasil ketika pulang ke dusun suka penimur,- menggunakan rantai yang bear atau membeli mobil yang bagus,- tidak berani memakainya untuk sawon ke rumah kiai. Mobil dititipkan dulu rumah temannya didusun lain, sebelum dia sampai di kampung. duta yang “berhasil ” dengan kalung besar pasti dibuka dan dititipkan dulu dirumah. Pakaian yang bagus,- sepatu yang bagus pasti ditanggal dulu sebelum ketemu kiai.

Azan Mahgrib memanggilku untuk menghadap penguasah langit dan bumi. Tapi pikiranku menuju ke Ombouk, didusun setiap kali orang yang mau merantau. Kami menyebut pergi keluar negeri dengan bekal dan persiapan untuk menjadi perampok,- adalah merantau. Di kampung suka penimur,- sebutan perantau adalah orang yang baru pergi. Sedangkan perantau yang berhasil menggondol uang dan harta pulang ke kampung disebut duta. Konon Kiai adalah mantan duta yang saat ini masih berpengaruh. ***

Dari pilot aku mendapat perintah untuk persiapan. sebutan pilot ini adalah seorang penunjuk jalan,- dan mengetahui seluk beluk rencana target operasi. Di Johor jaringan pilot sangatlah luas. dia ada koneksi di Batam, di jakarta dan kota-kota besar di Indonesia- di Singapura, di hongkong dan di Macau. Serta semua tempat di semenanjung Malaysia. Pilotku kali ini dengan nama panggilan godek,- aku tidak tahu nama sebenarnya. Begitu juga Godek dia juga tidak tahu namaku yang tertulis di paspor dia dan semua kaki di Johor memanggilku Apek. Mereka memanggilku apek karena tampungku yang seperti china,- dan bisa berbahasa mandarin membuat aku mendapat jajuluk,- sebagai Apek.

Mengapa aku yang kelahiran dusun Suka Penimur bisa berbahasa mandarin ? Saat itu aku baru smester pertama di SMU di thehok Jambi. Datanglah kiai kerumah adik perempuannya. Setelah bertanya soal sekolahku,- soal biaya sekolah dan bagaimana aku berangkat ke sekolah, naik apa, berapa jauh dan siapa saja kawan-kawn di sekolah ?

Sepertinya aku sengaja disekolahkan di SMU,- yang memiliki ekstra pelajaran bahasa mandarin. kiai sadar betul ketika dia dan ayahku menjadi perantau merasa kesulitan berbahasa. Singkatnya kiai memerintahkan disamping belajar di sekolah,- aku juga harus kursus bahasa mandarin di jambi. Konon bahasa mandarin ini baru dibolehkan dipelajari secara terbuka, setelah jatuhnya pemerintah Soeharto.

“pek,-macan kita kali ini adalah para penyelundup uang rupiah ke Johor” Selanjutnya mungkin aku perlu menjelaskan sebutan macan adalah bahasa sandi di group kami soal sasaran. Godek menjelaska,- dari informasi napi,- sebuah untuk juru gambar,- sama seperti cepu,- istilah di penjara,- sama dengan sebutan anjing,- untuk informan polisi. Aku mengerti bahwa target berikutnya adalah para penyundup uang dari Batam, uang dileundupkan dengan cara; diikat dan dilem ke tubuh manusia. Biasanya uang pecahan seratus ribu untuk ditukarkan dengan dollar Singapura dan dibawah kembali ke Batam. Bisnis gelap para pengelolah manoy change ini,- tergambar oleh napi. Rencana operasi kami adalah merampas dollar milik para penjahat ekonomi di Batam yang menghalalkan cara mencari uang secara tidak betul.***

Datang tanggal Hnya. Godek menjemput aku di Apartemen Bros. Aku lihat Godek tidak datang sendiri dia bersama seorang lelaki berkebangsaan Pakistan,- memilihat jenggotnya yang lebat menanda dia adalah Orang Pakistan yang bertemperamen keras. tetapi melihat bahasa sandi,- sepertinya operasi kali ini dipimpin oleh Godek. Godek bertugas untuk mengalihkan perhatian orang disekitar target,- di Tegak,- sebutan untuk lelaki Pakistan itu,- bertugas untuk menghantam macan,- dan membuat shok macan dan baru tugasku untuk melarikan hasil rampokan. Tugas itu mungkin diberikan kepadaku,- karena badanku kecil,- dianggap gesit untuk berlari. Sesuai dengan saran Godek ketika Macan terkurung,- aku harus tarik tasnya,- dan lari. ***

Operasi pertamaku menjadi perampok,- di Johor berhasil, Hasil rampokan sudah kami serakan kepada carik,- di apartemen Bros. Selanjutnya Carik dan godek memerintah aku harus berangkat meninggalkan Johor setelah Azan Mahgrib,- konon waktunya kami berpindah wilayah,- dan biasanya untuk rotasi lokasi kami menggunakan waktu malam hari. Carik yang mengatur semunya di Johor,- memberi wejangan setelah Azan mahgrib, aku disuruh naik taksi menuju ke stasiun bus larkin,- dari larkin,- aku akan naek bus menuju ke Singapura, menyebrangi selat Johor,- melewati pemeriksaan imigrasi Johor, lalu kembali naik ke bis, setelah itu bisa berjalan lagi lebih kurang 3 menit turun lagi, untuk pemeriksaan imigrasi Singapura.

Carik mengembalikan pasporku,- dan sudah terlampir imigrasi form untuk masuk ke singapura. Dilampirkan pula sepuluh lembar uang Singapura prcahan seratus dollar. Nanti setelah sampai Quen street,- kau turun dan langsung mencari taksi untuk menuju ke Cangi, disana nanti kau aktifkan HP, kira-kira jam 00 waktu cangi akan ada yang menhubungi HP,-dan menyerahkan tiket untuk kau berangkat ke Jakarta pada jam 02.00. Dan Sampai di Jakarta kau ganti nomor singapura dengan kartu ini. Nanti jam 04.00 waktu jakarta ad yang menghubungi nomor ini. Carik kembali menunjuk kartu sebuah operator Indonesia. ***

Azan Mahgrib sudah berakhir,- artinya sebagai wayang aku sudah harus menuju ke larkin sekarang. “Ombouk maafkan aku ” aku sudah melakoni diri sebagai perampok untuk pertama kali pada hari ini…

(Bersambung) silakan kunjungi:www.kompasiana.com/etempos
berani sumpah sampai bisulan,- kisah diatas hanya fiksi belaka. mohon maaf kalau kebetulan ada nama, nama negara,- lokasi kejadian,- itu hanya fikses. Hanya rekaan imajinasiku.

berani sumpah sampai bisulan,- kisah diatas hanya fiksi belaka. mohon maaf kalau kebetulan ada nama, nama negara,- lokasi kejadian,- itu hanya fikses. Hanya rekaan imajinasiku.

PSK Indonesia Nomor 2 Termurah di SingapuraDua Casino Singapura, Menanti WNI ?

Write a comment

New comments have been disabled for this post.