Mahabbah 2
Wednesday, October 31, 2007 1:13:19 PM
C. Cinta pandangan pertama
Sebuah syair berbunyi :
Semua peristiwa berawal dari pandangan
Banyak manusia yang masuk neraka karena dosa kecil
Mulanya pandangan
Kemudian senyuman, lalu memberi salam
Setelah itu berbicara
Lalu berjanji………
Dan akhirnya bertemu dan seterusnya …
Seorang penyair berkata :
Apabila engkau melepaskan pandangan
Untuk mencari kepuasan hati
Pada suatu saat pandangan-pandangan itu
Akan menyusahkan juga
Engkau tidak mampu melihat
Semua yang engkau lihat
Tetapi untuk sebagiannya
Maka engkau tidak bisa tahan
Berapa banyak malam yang terasa lebih lama
Dari helaan nafas cinta
Yang terputus talinya
Helaan nafas orang jatuh cinta
Yang bertubi-tubi pertanda derita cinta
Yang terpendam direlung hati
Detak-detak cinta menghentak dinding sanubari
Menghela nafas panjang untuk mengusir ta’bir di hati
Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Asy-Syaish :
Cintaku bersemi apapun dirimu
Tak perduli keadaanmu dulu dan kini
Kau tak perduli padaku akupun begitu
Siapa tak pedulikan dirimu hendak memuji
Aku menyukai mereka
Sekalipun engkau seperti musuhku
Penilaianku terhadapmu sama terhadap mereka aku menilaimu
Kudapatkan kenikmatan jika ada yang melecehkanmu
Biarkan orang yang mencelaku
Karena cinta telah terpatri
Berikut puisi dari “ Pemandu rindu “ yang diberi judul
Pelukan Perpisahan
Tatkala kami bertemu untuk perpisahan
Cukuplah dalam pelukan dan dekapan
Sebagai dirinya yang ditasydidkan
Meskipun kami dua kepribadian
Yang tampak tak lain hanya satu kesatuan
Hal itu karena kecengikanku dan cahayanya
Kalau tidak karena rintanganku
Dia takkan menyaksikan adegan itu
Selanjutnya Robi’ah al-adawiyah melantukan syair :
Alangkah sedikitnya perasaan yang dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apa yang terjadi
Kalau putus, ia sambung seperti mula
Liku-liku cinta terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah nan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan hidup yang tiada berpantai
D. Dahsyatnya Cinta
Dalam sebuah syairnya, Jalaludin Rumi pernah berucap :
Suatu malam kutanya cinta, katakana, siapa sesungguhnya dirimu ?
katanya, “ aku ini kehidupan abadi, aku memperbanyak kehidupan indah itu “
kataku, “ duhai yang diluar tempat, dimanakah rumahmu ?
katanya, “ aku ini bersama api hati, dan diluar mata yang basah, aku ini tukang cat, karena akulah setiap pipi berubah menjadi warna kuning, akulah utusan yang ringan kaki, sedangkan pecinta adalah kuda kurusku, akulah manisnya meratap, penyibak segala yang berta’biri…”.
Lewat cintalah semua yang pahit menjadi manis
Lewat cintalah semua yang tembaga menjadi emas
Lewat cintalah semua yang endapan akan menjadi anggur murni
Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat
Lewat cintalah semua raja jadi budak
Sabda Rosullulloh :
“ Pandangan mata itu laksana anak panah beracun dari berbgai macam anak panah iblis, barang siapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita, maka Allah SWT, mewariskan kelezatan didalam hatinya, yang akan dia dapatkan hingga hari dia bertemu dengan-Nya “.
Ada syair yang sungguh menggugah :
Selagi pandangan matamu berkeliaran
Segala pemandangan akan membebani hati
Kau pandang segala sesuatu
Diluar kemampuan
Sebagaian yang lain tiadalah kebenaran lagi.
Akhirnya saya sendiripun terhanyut didalamnya, dan pasti saya yakin juga anda akan terhanyut walau hanya membaca sekilas saja, berikut adalah syair yang bisa kupersembahkan kepada setiap insan yang menelaah arti mahabbah dan pujangga-pujangga baru.
Jejak Pujangga Menjaga Amanat
Dari mula aku hanya berdamba
Setiap jengkal kehidupan pujangga tidaklah terkadang realita
Hanya bisa meluapkan dengan kata-kata……
Adakah kegilaan ini sampai pada waktunya
Ketika Al-Asyr menggerogoti raga
Siapakah yang melewatkan
Kecupan manis dalam peraduan
Sungguhpun hanya berprasangka
Keikhlasan sebagai jiwa
Ketahuilah Amanat itu bagai busur panah
Melesat pada tujuan arah
Sayang amanat jadi bahan gurauan
Semenjak “insya Allah” jadi pemanis yang menawan
Begitulah nasib amanat
Kerajaan hati dan indra tidak bisa menjaga
Layaknya ucapan yang cukup tersirat
Dari bibir manis yang melupakan makna
Insya Allah …
Tetapi anda jangan melupakan akhir dari perjalanan perahu cinta adalah diperaduan (pernikahan) yang merupakan satu pengesahan dan saat itulah setiap dua insan akan memulai siklus perjalanan ruang dan waktu yang berotasi pada satu ikrar. Tidak sedikit orang menggampangkan urusan ini namun ada tuntutan setelah nikah, Rosulullah bersabda ;” Jika seseorang sudah kawin maka berarti dia memperoleh separuh agamanya mengenai kesempurnaanya, karena itu hendaknya dia bertakwa kepada Allah (berhati-hatilah) akan separuh agamanya yang tersisa “ (HR. Baihaqi).
Rosululloah dalam hadits diatas memberi penghargaan kepada umatnya yang baru melaksanakan akad nikah yaitu, bahwa seseorang sesudah nikah dinilai telah menyempurnakan separuh agamanya. Artinya dia telah memiliki separuh perjalanan keagamaannya dalam bertakwa kepada Allah sesudah akad nikah, berarti sebelum nikah dia telah berhasil memelihara diriya dari perbuatan dosa besar terutama zina.












