Skip navigation.

My Dynasis

Pelatihan Online

Antara APLI atau Tidak (1)

, ,

Beberapa Postingan di Forum Dynasis menanyakan apakah ada kemungkinan Untuk Dynasis masuk dalam keanggotaan APLI. Ini saya kutip artikel dari majalah TRUST:

Ketua Umum Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) ”Multitipu Marketing Perlu Dibasmi”

Setiap kali sebuah produk multilevel marketing (mlm) diluncurkan, selalu saja diserbu peminat. Namun, meskipun korban sudah banyak berjatuhan, toh masyarakat seolah tutup mata. Dalam pikiran mereka, dengan mengikuti program yang ditawarkan perusahaan mlm itu, uang mereka akan beranak-pinak dalam sekejap.

Untung, pemerintah cukup tanggap. Bersama APLI, Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) baru saja merampungkan penyusunan aturan main bisnis MLM. Tinggal menunggu sedikit revisi, agaknya peraturan ini akan segera ditandatangani oleh Menperindag.

Guna mengetahui peta bisnis MLM di Indonesia serta aturan apa saja yang dimuat dalam ketentuan baru itu, Jumat dua pekan lalu wartawan TRUST Yus Ariyanto, Taty Haryati, dan Bajo Winarno mewawancarai Ketua APLI Helmy Attamimi di kantornya, Gedung Graha Irama, Kuningan, Jakarta. Petikannya:

APA SEBENARNYA PERBEDAAN ANTARA DIRECT SELLING DENGAN SISTEM PIRAMIDA?
Perbedaannya ada 12. Tetapi saya hanya akan pilih enam saja. Multilevel marketing adalah bagian dari direct selling. Ada single level, unlimited level, dan multilevel. Keseluruhannya disebut direct selling.

Pada direct selling, keuntungan atau keberhasilan mitra usaha ditentukan dari hasil kerja dalam bentuk produk atau jasa yang bernilai dan berguna untuk konsumen. Sementara dalam sistem piramida, keuntungan atau keberhasilan anggota ditentukan dari seberapa banyak yang bersangkutan merekrut orang lain yang menyetor sejumlah uang sampai terbentuk satu format piramida.

Ini kan jelas artinya bahwa pada MLM, keberhasilan didapat dari menjual barang. Sementara dalam sistem piramida, keberhasilan terletak pada merekrut orang. Kalau kita mengambil istilah dari World Federation Direct Selling Association, dikatakan bahwa pendapatan utama dalam direct selling harus didapatkan dari penjualan barang atau jasa. Bukan dari merekrut orang saja.

LALU?
Yang kedua, pada direct selling, setiap orang hanya berhak menjadi mitra usaha sebanyak satu kali saja. Kalau sudah sekali menjadi anggota, you tidak bisa menjadi anggota lagi atau ”membeli kaveling”. Sedangkan pada sistem piramida, setiap orang boleh menjadi anggota berkali-kali dalam satu waktu tertentu.

Perbedaan berikutnya, pada direct selling, biaya untuk mendaftar menjadi anggota tidak terlalu mahal, masuk akal, dan imbalannya adalah starter kit yang senilai. Biaya pendaftaran tidak dimaksudkan untuk memaksakan pembelian produk dan bukan untuk mencari untung dari biaya pendaftaran. Artinya, kalau kita mendaftar, kita tidak mutlak diharuskan membeli sekian banyak produk. Kita kan memberikan starter kit kepada mereka, dan itu nilainya harus berimbang dengan apa yang tercantum di dalam starter kit-nya, apakah hanya brosur, kertas stensilan, atau ada produknya.

MEMANGNYA PADA SISTEM PIRAMIDA BAGAIMANA?
Biaya pendaftarannya bisa setinggi langit. Misalnya ada satu perusahaan—yang saya tahu—di mana starter kit-nya paling hanya Rp 10.000, tapi dia jual dengan harga Rp 65.000. Itu kan artinya dia mengambil keuntungan dari starter kit. Dan starter kit bisa dibeli berulang-ulang oleh orang yang sama supaya cepat naik peringkat. Ini perusahaan mau cari untung dari starter kit atau mau menjual barang?

Dan dalam penjualan barang pun mestinya kan anggota harus beli dalam batas kemampuan dia untuk menjualnya kembali. Tentu dia boleh membeli untuk memakainya sendiri. Itu boleh saja. Tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa you harus beli minimal sekian. Jadi, dia beli sebanyak mungkin, lalu apakah nanti barangnya mau dia buang ke laut, bodo amat. Yang penting barangnya dibeli. Itu yang di MLM tidak boleh.

PERBEDAAN LAINNYA?
Perbedaan lainnya adalah, pada direct selling, keuntungan yang didapat mitra usaha dihitung berdasarkan hasil penjualan dari setiap anggota jaringannya. Artinya, keuntungan didapat dari hasil jualan dia sendiri dan dari seluruh grupnya.

Pada sistem piramida, keuntungan yang didapat anggota dihitung berdasarkan sistem recruiting. Pokoknya, you bisa merekrut berapa orang, maka you punya untung sekian banyak. Jadi keuntungan bukan dari barang yang dijual oleh kelompoknya dia.

Dalam direct selling, pelatihan produk menjadi hal yang sangat penting, karena produk harus dijual sampai ke tangan konsumen. Tetapi, pada sistem piramida tidak ada pelatihan produk. Sebab, komoditi hanyalah rekrut keanggotaan. Produk dalam sistem ini hanyalah satu kedok saja.

MISALNYA APA?
Contohnya Probest. Dia punya show room yang bagus. Dijual segala macam barang, termasuk lukisan. Bahkan lukisan murah dijual mahal. Mereka beralasan bahwa lukisan itu barang seni yang berharga. Dan itu dijual tidak dengan paksa. Padahal, barang di situ hanya sebagai kedok saja. Yang jelas, mereka yang menyetor uang setiap bulan harus belanja.

Contoh lainnya, komputer yang paling-paling seharga US$ 1.500 dijual dengan harga US$ 15.000. Mereka beralasan lain dengan menganalogikan secangkir kopi Rp 1.500 yang dijual di warung tegal, tetapi kalau di hotel bintang lima harganya Rp 15.000.

CONTOH LAIN?
Ada, di Medan dulu. Namanya BMA. Selusin kemeja dipasang harga Rp 500.000. Kalau kemeja tidak mau you ambil, you mendapat kembali Rp 75.000. Sebab, yang paling penting adalah you belanja itu barang, You merekrut dua orang dan menyuruh mereka membeli lagi. You tinggal tunggu saja. Nanti mereka akan merekrut lagi. Dan you mendapatkan keuntungan. Itu yang saya bilang multitipu marketing (MTM). Barang tidak penting. Yang penting adalah rekrut, rekrut, dan rekrut. Arisan berantai pun bisa dikategorikan sebagai MTM.

Nah, ada dua macam kelompok masyarakat. Pertama, mereka yang sebenarnya tahu bahwa itu perjudian. Pokoknya, mereka ingin menang. Kalau mereka rugi, itu sudah menjadi risiko. Tetapi ada kelompok masyarakat yang tidak tahu. Itu yang paling sedih. Mereka terbawa oleh orang-orang yang menang. Bahkan jumlah setoran mereka sudah besar-besaran. Sekarang ini mainnya bukan lagi Rp 500.000, tapi Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Mereka menyetor Rp 5 juta, dan disuruh membeli barang yang harganya mungkin hanya Rp 100.000. Sebab, yang penting kan setor uang. Nah, itu yang APLI paling tidak setuju.

SEBENARNYA PEMERINTAH KAN SUDAH MEMPUNYAI ATURAN MAIN SOAL MLM INI?
Ada, yaitu SK tentang Izin Usaha Penjualan Berjenjang atau IUPB (dalam SK Menperindag No. 73 /MPP/Kep/3/2000). Tetapi ternyata ini pun setelah berjalan dua tahun masih ada banyak loophole.

DI MANA LOOPHOLE-NYA?
Pemerintah keluar dengan 1.000 aturan, pengusaha yang lihai keluar dengan 1.001 akal. Loophole yang ada di aturan itu antara lain dimanfaatkan oleh Probest. Mereka mengatakan bahwa mereka bukan MLM, tetapi e-commerce. Jadi, mereka merasa tidak perlu punya IUPB.
Tetapi jika mereka dipertanyakan mengenai cara recruiting member, mereka akan katakan bahwa itu tidak benar. Padahal, kalau kita lihat ke lapangan, gaya recruiting mereka adalah cara MLM. MLM seperti itu lebih tepat disebut multitipu marketing, dan harus diberantas.
Kini pemerintah sedang mengupayakan penyempurnaan dari aturan tersebut dengan membuat SK baru, di dalamnya antara lain akan dikatakan bahwa semua perusahaan yang menggunakan sistem recruiting dengan network, harus memakai izin usaha penjualan langsung (IUPL). Dan APLI sendiri sedang mempersiapkan satu draf rancangan Undang-Undang Anti-Piramid.

APAKAH SUDAH DIAJUKAN KE PEMERINTAH?
Ada dua cara, apakah akan diajukan ke DPR atau bisa juga lewat pemerintah. Mungkin kita akan memilih lewat pemerintah. Dalam artian lewat Depperindag. Isinya tentang larangan skema piramida dan skema ponzi. Sebab, asal muasal money game adalah ponzi game. Itu muncul pada tahun 1800-an di Amerika. Yang mengenalkannya adalah seorang imigran Italia.

Kalau kita lihat direct selling yang single level, itu istilahnya direct selling yang konvensional, yang sudah kuno. Pada tahun 1950-an, lahirlah MLM. Sesudah itu, lahirlah sistem piramida. Direct selling yang diakui oleh World Federation of Direct Selling Association (WFDSA) adalah yang bukan sistem piramida.

KABARNYA RANCANGAN SK ITU MASIH MENTOK DI DITJEN PERDAGANGAN LUAR NEGERI, TERUTAMA SOAL DEFINISI IUPL DENGAN SIUP. BAGAIMANA SOLUSINYA?
Saya katakan kepada Depperindag, kalau perlu poin itu dikeluarkan. Tidak apa-apa. Kalau itu satu-satunya hambatan, dikeluarkan tidak apa-apa. IUPL tidak perlu disamakan dengan SIUP. Sebab, dulu memang menurut Ditjen Perdagangan Luar Negeri, kalau mau mengurus izin angka pengenal impor (API) harusnya SIUP. Tadinya mau disamakan SIUP dan IUPL. Kalau memang itu satu-satunya hambatan, jika poin itu dikeluarkan juga tidak apa-apa. Biarkan memakai SIUP juga untuk bikin angka pengenal impor.

SEBENARNYA, SEJARAH DIRECT SELLING DI INDONESIA DIMULAI KAPAN DAN SIAPA PERINTISNYA?
Kita mulai dari definisi APLI, Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia. Ini merupakan wadah persatuan dan kesatuan, tempat berhimpunnya perusahaan-perusahaan penjualan langsung. Di dalam bahasa Inggris, APLI disingkat IDSA (Indonesian Direct Selling Association).

Tadinya, pertama kali lahir adalah di zaman Pak Eddy Budiman, yang sekarang berada di Perusahaan Busana Sejati. Waktu itu, Pak Eddy di Tiga Raksa. Dia melahirkan IDSA, yang lahir sekitar tahun 1980. Saat itu, di Indonesia belum ada direct selling. Hanya ada Tiga Raksa tok.
Kemudian IDSA itu betul-betul aktif lagi setelah Avon dan Amway masuk ke Indonesia. Dan CNI berkembang. Maka, waktu itu Pak Eddy menghubungi saya. Padahal, sebelumnya saya tidak kenal Pak Eddy. Saya di Avon.

Avon itu adalah Join Venture dengan Konimex dari Solo, partner lokalnya. Waktu itu, Avon punya beberapa pilihan. Pilihan terakhir itu adalah antara Tiga Raksa dengan Konimex. Avon memilih Konimex. Saya orang Konimex yang ditempatkan di PT Avon Indonesia untuk mewakili sahamnya Avon di sana.

APA SYARAT UNTUK MENJADI ANGGOTA APLI?
Kami sekarang melakukan semacam fit and proper test untuk menjadi anggota. Pertama, kirim dulu you punya marketing plan. Kedua, you punya kode etik. Ketiga, you punya product claim. Dari segi kode etik, kami menginginkan kode etik minimum seperti APLI atau lebih baik dari kode etik APLI. Jangan di bawah kode etik APLI. Dan kita punya kode etik harus lebih baik daripada undang-undang (UU).

SETELAH ITU?
Kami mengundang mereka untuk melakukan presentasi dari semua itu. Kalau you pakai sistem binary (kembar), itu tidak boleh. Sebab, dalam ketentuan WFDSA dikatakan bahwa binary bukan usaha yang ilegal, tetapi harus diawasi, karena gampang sekali diselewengkan menjadi sistem penggandaan uang. Karena itulah kami melarang sistem binary.

SOAL PRODUCT CLAIM BAGAIMANA?
Dalam hal ini, kami paling menyorot product claim makanan kesehatan. Kami akan kejar, ”Anda ini menjual makanan kesehatan atau obat dewa? Kok bisa menyembuhkan kudis, koreng, dan sebagainya.” Atau misalnya makanan kesehatan yang bisa sekaligus menyembuhkan darah tinggi dan darah rendah. Itu namanya obat dewa.
Selain itu, khusus untuk makanan kesehatan dan kosmetik juga harus ada nomor registrasi dari Badan POM. Tanpa itu, kami tolak.

TANPA MENJADI ANGGOTA APLI, APAKAH KEMUDIAN MEREKA TIDAK BISA BEROPERASI?
Tidak. Yang memberikan izin operasi itu kan pemerintah, bukan APLI. Itu kan hak pemerintah untuk memberikan izin. Terus terang, sebelumnya APLI dan pemerintah memang sering jalan sendiri-sendiri. Jadi, misalnya pemerintah memberikan izin, tapi APLI menolak. Atau sebaliknya. Sampai akhirnya lambat laun terjadi pendekatan.

Jadi sekarang, sebelum izin diberikan, berkas perusahaan itu dikirim ke APLI untuk dipelajari. Untuk itu, memang APLI harus hati-hati, sebab ini kan berkaitan dengan mangkok nasi orang lain. Jadi, jangan sampai ada sentimen.
Kedua, harus tegas. Sebab, ini menyangkut masyarakat. Jadi, jangan sampai hanya karena satu perusahaan, lalu merugikan banyak masyarakat.

APAKAH PIHAK APLI SELALU DILIBATKAN DALAM SETIAP PRESENTASI, ATAU JUSTRU HANYA DEPPERINDAG SAJA?
Nah, setelah ada kerja sama dengan Depperindag, kami menyarankan agar perusahaan-perusahaan mengajukan izin untuk presentasi di Depperindag. Lalu, Depperindag mengundang APLI.

KETIKA PRESENTASI ITU DILAKUKAN, POSISI APLI SEBAGAI APA?
Kami sebagai pendengar. Dan kami juga mengajukan pertanyaan. Setelah selesai, kami memberikan pertimbangan dan saran mengenai perusahaan direct selling itu.
Kami memang tidak berwenang memberikan izin. Itu adalah tugas pemerintah. Kami hanya memberikan saran. Apakah saran kami kemudian diterima atau tidak, itu kewenangan pemerintah.

SAMPAI TAHUN 2003, ANGGOTA APLI SUDAH BERAPA BANYAK?
Ada 53 atau 54 anggota.

SEBENARNYA, SEBERAPA PROSPEKTIF BISNIS DIRECT SELLING INI DI INDONESIA DENGAN KONDISI YANG SEPERTI SEKARANG?
Sayang, kami tidak punya angkanya. Tetapi kalau angka di dunia pada waktu kongres terakhir kali, tahun lalu di Toronto, itu keluar angka bahwa penjualan direct selling di dunia belum mencapai 2% dari angka penjualan ritel toko-toko sedunia. Kalau kita ambil segi positifnya saja, artinya masih bisa berkembang.

APAKAH KECILNYA ANGKA DIRECT SELLING TERSEBUT KARENA MEMANG KURANG DIMINATI DI INDONESIA?
Banyak kalangan pengusaha yang tidak mengerti mengenai direct selling ini. Sementara ketidakmengertian dari distributor karena mereka menganggap tidak perlu melakukan usaha apa-apa, tapi bisa cepat kaya meski ongkang-ongkang kaki. Kalau you tidak merekrut orang, you tidak mendidik dia bagaimana cara menjual produk, bagaimana? Tidak ada product knowledge. Misalnya, Tupperware itu kan lifetime guarantee.

KALAU DILIHAT DARI DATA WFDSA, NEGARA MANA YANG DIRECT SELLING-NYA PALING BERKEMBANG?
Anda lihat saja angka-angka penjualannya. Cobalah lihat dari jumlah distributor: Indonesia pada tahun 2001 distributornya 4,2 juta dengan penjualan US$ 343.144 juta. Kalau kita bandingkan dengan Argentina, yang penjualannya US$ 1,135 miliar dengan distributor lebih sedikit, yaitu 468.000. Itu artinya out put per orang lebih tinggi. Dan itu terjadi karena daya beli lebih tinggi.

Jepang, misalnya. Pada tahun 2000, penjualannya US$ 22,8 miliar dengan distributor hanya 2 juta. Itu kan artinya distributornya separuh dari Indonesia. Itu artinya harga satuan barang lebih mahal. Karena daya beli lebih tinggi.


Diambil dari Artikel Majalah TRUST: Related link

Syarat (Tidak Mutlak) Untuk Sukses (bagian II)

,

Setiap orang pasti mau sukses. Tapi sejauh mana orang berpikir dan mengartikan sukses, memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Banyak yang menganggap sukses itu punya kekayaan, punya uang banyak, punya kekuasaan, punya jabatan dan banyak lagi yang berhubungan dengan materi.

Tapi kalau sukses menurut ukuran saya adalah tercapainya semua hal yang saya inginkan dan rencanakan. Apapun bentuk rencana itu apabila tercapai sesuai dengan apa yang saya inginkan maka saya katakan saya sukses. Walaupun bentuknya bukan materi tapi abstrak.

Misalnya kita memiliki rencana untuk mengajak anak kita pergi jalan-jalan. Pada hari yang direncanakan ternyata tidak terlaksana, maka saya akan mengatakan kalau saya gagal mengajak anak saya untuk berlibur.

Saat ini yang menjadi target sukses saya adalah bagaimana membangun jaringan Dynasis saya agar besar dan menghasilkan income yang cukup lumayan.

Bagaimana caranya? :confused:

Dengan mengedukasi member saya untuk bergerak seperti saya bahkan kalau bisa melebihi saya. Dan apabila mereka bisa melebihi saya (baik dalam jumlah jaringan maupun bonus), saya tidak akan kecewa karena saya telah berhasil membentuk mereka menjadi apa yang saya inginkan.

Bagi anda yang ingin mengetahui tips dan trik dalam mencari Downline dan membina jaringan silahkan ikuti terus blog ini.

Salam Sukses

DYNASIS GANGGUAN

hi, There.

Pada Jam 13.30 WIB hujan deras melanda Kota Malang kota tempat Dynasis berpusat. Akan tetapi hujan yang disertai petir telah menyambar beberapa rumah di Komplek Griya Shanta. Salah satunya yang terkena sambaran petir adalah kantor Dynasis.:furious:

Akibat yang ditimbulkan saat itu Instalasi Listrik kantor Dynasis mengalami kerusakan yang hebat dan akibatnya beberapa kabel utama mengalami kebakaran. Untuk itu listrik padam :ko: dan manajemen harus memperbaiki instalasi listrik hingga selesai.

Pada dasarnya kerusakan hanya pada beberapa titik saja. Akan tetapi untuk mengantisipasi agar tidak terjadi lagi hal ini, pihak Dynasis memutuskan untuk mengatur ulang instalasi listrik. Alhasil hingga sekarang ini pukul 11.17 WIB sms Center masih Off.

Karena semua server yang digunakan oleh Dynasis sudah Dedicated, maka imbasnya semua web resmi mengalami hal yang sama, tidak bisa Online.

Berita dari manajemen Dynasis, Sore ini paling cepat sekitar jam 17.00 WIB dan paling lambat besok pagi jam 10.00 WIB SMS Center sudah bisa di pergunakan dan member bisa bertransaksi kembali.

Akan Tetapi untuk web resmi baru bisa diakses paling cepat hari Sabtu tanggal 12.04.2008.

Semua komponen Dynasis saat ini sedang bekerja keras termasuk Marketing Support yang sejak kemarin gak bisa istirahat karena telp yang berbunyi terus untuk jawab pertanyaan dan komplain member. :cry: :zzz:

Tapi tidak usah khawatir :worried: , data member aman koq. Karena Data anda sudah di back up setiap satu jam sekali.:yes: Akan tetapi data yang tidak terback Up hanya selama 35 menit :cry: . Bagi anda yang melakukan transaksi sekitar jam 13.00 WIB s.d. 13.35 besar kemungkinan transaksi anda tidak terupdate. :no:

Tapi jangan takut dulu pak. Anda bisa lakukan konfirmasi dengan menyampaikan bukti yang diperlukan (jika anda isi deposit via bank maka bukti transfer anda bisa di faks ke 0341402843):up:

Mohon doa dan pengertiannya. Atas perhatian member semua kami ucapkan terima kasih.

Viral Marketing, Anda, Saya dan kita semua


Sebuah kutipan saya ambil dari blog yang dipandu oleh Adhitya Sofyan dan Iim Fachima Jachja:

Sering mendapat SMS atau pesan di YM yang berisi informasi penting dan pengirim pesan itu meminta kita menyebarkan beritanya ke orang lain? Atau Anda sering tanpa diminta men-forward email atau SMS lucu ke teman sekedar untuk sharing jokes? Ingat kasus foto Mayangsari dan Bambang Tri atau video Bejah The Fly yang sukses menyebar melalui email dan blue tooth?

Inilah esensi viral. Penyebaran berita secara suka rela dari satu orang ke orang lain dengan memanfaatkan teknologi, baik internet mau pun mobile. Jika medium penyebarannya non teknologi, disebutnya ‘Word of Mouth’.

Untuk membuat seseorang menyebarkan berita secara suka rela, ada dua poin pertimbangan. Berita itu sangat penting atau berita itu begitu menarik (lucu, controversial, hot gossip).

Oleh orang marketing, fenomena ini ditunggangi dengan pesan komersial sehingga muncullah istilah Viral Marketing. Untuk semakin mendorong penyebaran pesan, selain membuat pesan begitu menarik/lucu/controversial, disediakan juga iming iming hadiah bagi penyebar berita yang beruntung.

Di luar negeri, banyak contoh viral marketing yang sukses seperti www.subservientchicken.com yang dibuat oleh Burger King ketika mempromosikan chicken burgernya. Dengan hit yang mencapai 40 juta dalam seminggu, Viral ini tak sekedar menciptakan buzz di US namun bahkan topeng ayamnya juga sempat menjadi merchandise yang paling dicari!

Viral juga digunakan Trojan ketika mempromosikan kondomnya. Hasilnya, viral kondom.swf yang dibuat dalam beberapa seri ini berhasil mencapai 35 juta hit dalam beberapa bulan!

Bagaimana dengan Indonesia? Brand seperti Close Up yang merilis viral DJ Mouth dan kabarnya sempat menjadi buzz di kalangan anak muda serta promo undian berhadiah kalung berlian dari Fox, adalah beberapa contohnya.

Lalu, bagaimana menghitung efektifitas (penyebaran) viral marketing? Ada beberapa cara. Jika disebar melalui website, maka penyebaran viral bisa dihitung berdasarkan hit. Jika melalui email, bisa di cek melalui jumlah email yang terbuka. Jika melalui mobile, bisa di cek dari jumlah sms yang terkirim oleh provider telekomunikasi tersebut.

Namun jangan lupa, sebelum diluncurkan, pastikan ide viral Anda sangat menarik, sangat penting atau sangat menguntungkan (berhadiah) sehingga konsumen rela mem-foward-kan viral Anda ke orang lain.

Selamat mencoba!


related link

Lantas Bagaimana dengan Dynasis?

Dynasis yang mengklaim sebagai Viral Marketing dengan produk utama pulsa, kini memiliki member dengan jumlah 120752 orang walau dengan usia yang masih muda yaitu 1 tahun.

Ada beberapa alasan mengapa Dynasis saat ini bisa menghimpun member sejumlah sebesar itu.

  • Pendaftaran yang gratis
    Ada beberapa kompetitor seperti Dynasis kita ambil contoh V***, dimana untuk bisa bergabung anda harus membayar sejumlah Rp 129.000 yang akan dialokasikan untuk member kit, bonus sponsor, bonus jaringan dan lain-lain.

    Lain halnya dengan Dynasis yang menggratiskan biaya bergabung dan ini berlaku untuk siapa saja. Heree genee gak mau Gratisan?


  • Produk yang ditawarkan menjadi kebutuhan member

    Pada waktu pertama kali phonecell muncul di Indonesia, barang tersebut masih tergolong barang mewah. Karena tidak semua orang bisa memilikinya. Akan tetapi sekarang ini, siapa sih yang tidak punya HP? Bisa dikatakan HP sekarang ini menjadi barang yang bisa kita peroleh dimana saja. Selain harganya yang kini makin murah, bentuk serta kemampuannyapun semakin bervariasi.


Hingga hari ini, setiap orang yang memiliki HP agar bisa digunakan untuk berkomunikasi harus memiliki pulsa. Bisa dikatakan pulsa sudah menjadi kebutuhan pokok para pemilik HP.

Hal ini bisa dilihat dari penjual pulsa yang menjamur dimana-mana. Dari perkotaan hingga pelosok kampung. Ini membuktikan bahwa HP dan Pulsa sudah menjadi urat nadi masyarakat.

Dynasis melihat peluang ini dengan cara membuat sebuah sistem seperti Multi Level Marketing tetapi di modifikasi dengan menghilangkan beberapa hal yang menjadikan MLM kurang disukai oleh masyarakat.

Lebih lanjut mengenai Dynasis bisa klik disini

Syarat (tidak mutlak) Untuk Sukses

Syarat (tidak mutlak) Untuk Sukses (bagian I)

Ada beberapa syarat untuk sukses:
1. Jangan pernah mengatakan kalau kita sedang dalam kesusahan. Always Smile, karena jika kita terlihat sedang dalam kesulitan orang tidak akan mau mendekati kita (walaupun sebenarnya kita sedang terlilit hutang).:lol: :jester:

2. Penampilan harus selalu rapi. Jika penampilan kita dekil, kucel bin kumel gimana orang bisa mempercayai kita. Ingat: Kesan pertama begitu menggoda.:queen:

3. Sifat kekanak-kanakan sangat besar.
Mungkin banyak orang yang tidak setuju, tapi dari dulu saya tidak pernah menghilangkan sifat kekanak-kanakan saya karena menurut pendapat saya, masa kanak-kanak adalah masa yang paling terindah. Saya akan membahas masalah ini lebih jauh. penguin

Pernahkah kita lihat anak kita (maaf saya baru punya 1 orang anak), yang begitu lucu dan menggemaskan sekaligus ngeselin (hayo yang belum nikah cepetan deh gak usah lama-lama biar cepet ngerasain susah senengnya punya anak). Jika kita perhatikan, mereka begitu lugu, so innocent dan tanpa beban. Mereka tidak perduli seberat apapun masalah yang mereka timbulkan tetap saja mereka bermain ceria.

Begitu juga kita, walaupun kita memilik banyak masalah, tapi jangan pernah menganggap bahwa masalah yang kita hadapi adalah masalah yang terbesar di dunia. Sebab masih banyak lagi masalah yang dihadapi oleh orang lain yang mungkin lebih besar dari yang sedang kita hadapi. Always smile (lihat no 1). :D

Hidup ini sudah susah jangan ditambah susah. Jika kita memiliki masalah jangan dipikirkan tapi dicari penyelesaiannya. Orang sering termenung akan lebih cepat terlihat tua. Nikmati hidup ini jangan di ambil terlalu pusing dengan masalah yang ada. Ingat: Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umat-Nya.

Masalah tidak akan pernah berhenti mendatangi kita, semakin tinggi pohon semakin besar pula terpaan angin. Setiap kita bisa menyelesaikan masalah, semakin bertambah pula kedewasaan kita.

Sebesar apapun masalah yang kita miliki kita harus berani menghadapi, jangan lari dari kenyataan. Orang yang lari dari kenyataan adalah seorang pengecut. Ada ungkapan, jika kita sudah bisa mengetahui akar permasalahan, berarti 50% masalah kita sudah selesai, tinggal bagaimana kita memilih cara penyelesaian yang baik bagi semuanya.

Hidup tanpa beban merupakan dambaan bagi semua orang. Saya punya tetangga yang usianya lebih dari 60 tahun lebih tapi wajahnya masih seperti usia 40 tahun. Saya tanya apa sih resepnya, ucap beliau hidup tanpa beban, selalu tersenyum, walaupun banyak masalah tapi jangan ditunjukkan kepada orang lain. Memang, setiap hari saya perhatikan beliau selalu bercanda, setiap pertanyaan yang kita ajukan kepad beliau selalu dijawab pertama kali dengan gurauan baru dijawab dengan serius, dan jawabannya tepat apa yang seperti kita inginkan. Menyelesaikan masalah kita.
So, gak usah takut dengan kesuksesan. Karena dengan menjalani hidup kita sudah mendapatkan kesuksesan.

Salam,

Eka Johansjah

MLM VS Viral Marketing

, , , ...

MLM vs Viral Marketing

Berdasarkan penelitian, di masa yang akan datang ada satu macam bisnis yang akan berkembang dengan pesat di Indonesia. Yaitu, Bisnis Jasa yang ditambah dengan produk retail, sekarang ini kita kenal dengan bisnis MLM.

Sayangnya, bisnis ini saat ini mulai tercemar karena banyak oknum yang menyalah gunakan system guna mempercepat jenjang karier mereka digunakan cara instant.

Pada bisnis MLM, produk yang dijual, tidak diperjual belikan dengan bebas dipasaran. Walaupun ada produk sejenis, tetapi kualitas yang dimiliki perusahaan MLM lebih baik dari produk yang sama di pasaran. Ini dikarenakan, mereka hanya menjual dengan tujuan dan kalangan tertentu dan tidak di produksi secara massal. Hal ini juga yang membuat harga sebuah produk MLM menjadi mahal. Ada beberapa pertimbangan yang menjadikan harga menjadi 2 kali lipat dari produk sejenis.

Perbedaan yang mendasar dari MLM dan Viral Marketing:

1. Segi Produk

Dari sisi MLM, produk yang ditawarkan bervariatif. Mereka memiliki banyak varian produk. Misalnya, produk kecantikan, kesehatan, makanan, perawatan diri, perawatan rumah tangga dan lain-lain.

Segi Viral Marketing, dalam hal ini Dynasis atau Viral Marketing lainnya, produk yang ditawarkan hanya satu macam yaitu pulsa terlepas apakah itu Telkomsel, Indosat, XL atau CDMA.

2. Kebutuhan Produk

Produk MLM terkadang kita butuhkan terkadang tidak sama sekali. Misalnya produk kesehatan, jika kita biasa membeli produk MLM tapi suatu saat kita tidak membelinya apakah kita masih bisa membeli produk sejenis tapi lain merk? Jawabannya ya tentu saja bisa. Tapi yang namanya pulsa, sudah pasti setiap bulan kita membutuhkan. dan bahkan tidak ada produk yang bisa menggantikan pulsa. Apalagi bagi wanita yang julukannya miss ring-ring. Sudah pasti butuh pulsa setiap bulan.

3. Marketing Plan

Banyak perbedaan mendasar tentang marketing Plan yang ditawarkan antara MLM dengan Viral Marketing.
a. Tingkatan:
MLM (seperti namanya Multi Level Marketing atau penjualan banyak jenjang) memiliki berbagai tingkatan yang tiap tingkatan memiliki nilai yang berbeda. Semakin tinggi tingkatan semakin banyak pula point yang harus kita raih dan semakian besar pula bonus yang akan kita terima. Terkadang MLM memiliki lebih dari 7 tingkatan yang masing-masing tingkatan memiliki nama yang berbeda. Setelah tingkat ke tujuh, masih ada lagi tingkatan yang akan membuat kita lebih kaya.

Viral Marketing (menurut info Mas Budy via SMS), Viral merupakan adjective dari kata virus, yang maksudnya sistem pemasaran yang menyerupai virus yang akan menyebar dengan cepat. Di Viral Marketing tidak mengenal tingkatan seperti MLM. Posisi member equal atau setara. Hubungan yang satu dengan yang lain ya sama.

Misalnya Mas Budy, bagi Mas Sutan, Mas Budy adalah upline atau Level 0. Tapi bagi saya Mas Budy adalah Downline atau Level 1. Begitu seterusnya. Tapi di MLM, jika seseorang sudah meraih tingkatan tertentu, misalnya Supervisor A, dimanapun ia akan dipanggil sebagai Supervisor A.

b. Target Point

Biasanya lebih dikenal sebagai Tutup point (tupo).
Pada MLM, tupo yang dikenakan akan bertambah tinggi seiring tingginya tingkatan kita.
Pada VM, berapa banyakpun downline kita, baik banyak atau sedikit (padahal banyak atau sedikit itu relatif) ya tetap saja hanya sekali transaksi berapapun nilai transaksi kita.

4. Harga Produk

Berhubung produk yang ditawarkan oleh MLM (walaupun variantnya sama tapi merk berbeda) memiliki qualitas lebih baik dibanding produk sejenis dan juga tidak dijual bebas, maka MLM bisa menentukan besaran harga produk yang akan dijual dan yang diperbolehkan membeli hanya member saja.
Berbeda dengan pulsa dimana-mana orang bisa menjual pulsa dengan bebas dan siapapun bebas membeli tanpa harus memiliki kartu anggota.


Mengapa Harga tidak dibuat khusus member dan konsumen seperti halnya MLM?

Pulsa produk massal dimana-mana orang menjual pulsa. Pulsa bisa dijual atau dibeli oleh siapa saja tanpa harus memiliki hak tertentu untuk bisa memperjual belikan pulsa.

Terkadang satu penjual dengan penjual yang lain mengenakan harga yang berbeda, bisa lebih mahal atau lebih murah. Walaupun mahal tapi saat kita butuh, ya dibeli. Tapi produk MLM jika terlalu mahal orang masih bisa beralih dengan produk yang nomor 2, 3 atau 4.

Selain itu, yang namanya kebutuhan, jika jauhpun masih dikejar. Tapi produk MLM, jika jauh, ngejar? Cappe deeh.Homer: Doh!
November 2009
M T W T F S S
October 2009December 2009
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30