Sunday, November 10, 2013 1:19:12 AM
BAHAYA DARI GABUS/STYROFOAM PEMBUNGKUS MAKANAN
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi
salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis
pangan, karena bentuknya yang ringan, mudah dibawa dan
tentunya tidak bocor. Tetapi, riset telah membutikan
styrofoam sangat diragukan kemanannya untuk
kesehatan.Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styrene ini
menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah
kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat
dipegang.
Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan
panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang,
mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang
dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan. Pada Juli
2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang
mengungkapkan bahwa residu Styrofoam dalam makanan
sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan
endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi
akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan
reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam
makanan.
Styrofoam jadi berbahaya karena terbuat dari butiran-
butiran styrene, yang diproses dengan menggunakan
benzana. Padahal benzana termasuk zat yang bisa
menimbulkan berbagai penyakit, seperti tyroid,
mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan mudah
lelah, mempercepat detak jantung, anemia, badan
gemetaran, dan mudah gelisah. Bahkan di beberapa kasus,
benzana bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan
kematian. Saat benzana termakan, dia akan masuk ke sel-
sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang
belakang. Akibatnya produksi sel darah merah berkurang
dan timbullah penyakit anemia. Efek lainyya, seperti sistem
imun berkurang sehingga mudah terinfeksi. Pada wanita,
zat ini berakibat buruk terhadap siklus mentruasi,
mengancam kehamilan bahkan menyebabkan kanker
payudara dan kanker prostat. Terlebih WHO sudah
mengkategorikan Styrofoam sebagai bahan carsinogen
(bahan penyebab kanker).
Perpindahan bahan kimia pada Styrofoam (yang digunakan
sebagai wadah makanan) akan semakin cepat jika kadar
lemak (fat) dalam suatu makanan atau minuman semakin
tinggi. Makanan yang mengandung alkohol dan asam
(seperti lemon tea) juga dapat mempercepat laju
perpindahannya. Semakin panas makanan, semakin cepat
pula migrasi bahan kimianya.
Styrofoam juga berdampak buruk pada lingkungan.
Styrofoam tidak bisa diuraikan oleh alam dan akan
menumpuk begitu dan mencemari lingkungan. Bila terbawa
ke laut dapat merusak ekosistem dan biota laut. Styrofoam
hanya bisa didaur ulang, karena itu Styrofoam
dikategorikan sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5
terbesar di dunia. Bahkan pembuatannya saja menimnulkan
bau tak sedap yang mengganggu pernapasan dan
melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.
Bungkus yang biasanya untuk POP MIE gelas
Berbahaya Bagi Kesehatan
Mengapa styrofoam berbahaya? Styrofoam jadi berbahaya
karena terbuat dari butiran-butiran styrene, yang diprosese
dengan menggunakan benzana (alias benzene). Padahal
benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan banyak
penyakit.
Benzana bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid,
mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan
kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan
menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah.
Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan
hilang kesadaran dan kematian. Saat benzana termakan, dia
akan masuk ke sel-sel darah dan lama-kelamaan akan
merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi sel
darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia.
Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita
mudah terinfeksi. Pada wanita, zat ini berakibat buruk
terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan.
Dan yang paling berbahaya, zat ini bisa menyebabkan
kanker payudara dan kanker prostat.
Beberapa lembaga dunia seperti World Health
Organization’ s International Agency for Research on
Cancer dan EPA (Enviromental Protection Agency)
styrofoam telah dikategorikan sebagai bahan karsinogen
(bahan yang dapat menyebabkan kanker)
Buruk Bagi Lingkungan
Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam juga tak
ramah lingkungan. Karena tidak bisa diuraikan oleh alam,
styrofoam akan menumpuk begitu saja dan mencemari
lingkungan. Styrofoam yang terbawa ke laut, akan dapat
merusak ekosistem dan biota laut. Beberapa perusahaan
memang mendaur ulang styrofoam. Namun sebenarnya,
yang dilakukan hanya menghancurkan styrofoam lama,
membentuknya menjadi styrofoam baru dan
menggunakannya kembali menjadi wadah makanan dan
minuman.
Proses pembuatan styrofoam juga bisa mencemari
lingkungan.
Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986
menyebutkan, limbah berbahaya yang dihasilkan dari
proses pembuatan styrofoam sangat banyak. Hal itu
menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan
styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5
terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan styrofoam
menimbulkan bau yang tak sedap yang mengganggu
pernapasan dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.
Melihat sedemikian besar dampak negatif bagi kesehatan
dan lingkungan, beberapa kota di Amerika seperti Berkeley
dan Ohio telah melarang penggunaan styrofoam sebagai
kemasan makanan.
Bagaimana dengan kita di Indonesia, masih tetap mau
memakai styrofoam??
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi
salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis
pangan, karena bentuknya yang ringan, mudah dibawa dan
tentunya tidak bocor. Tetapi, riset telah membutikan
styrofoam sangat diragukan kemanannya untuk
kesehatan.Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styrene ini
menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah
kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat
dipegang.
Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan
panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang,
mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang
dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan. Pada Juli
2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang
mengungkapkan bahwa residu Styrofoam dalam makanan
sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan
endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi
akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan
reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam
makanan.
Styrofoam jadi berbahaya karena terbuat dari butiran-
butiran styrene, yang diproses dengan menggunakan
benzana. Padahal benzana termasuk zat yang bisa
menimbulkan berbagai penyakit, seperti tyroid,
mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan mudah
lelah, mempercepat detak jantung, anemia, badan
gemetaran, dan mudah gelisah. Bahkan di beberapa kasus,
benzana bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan
kematian. Saat benzana termakan, dia akan masuk ke sel-
sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang
belakang. Akibatnya produksi sel darah merah berkurang
dan timbullah penyakit anemia. Efek lainyya, seperti sistem
imun berkurang sehingga mudah terinfeksi. Pada wanita,
zat ini berakibat buruk terhadap siklus mentruasi,
mengancam kehamilan bahkan menyebabkan kanker
payudara dan kanker prostat. Terlebih WHO sudah
mengkategorikan Styrofoam sebagai bahan carsinogen
(bahan penyebab kanker).
Perpindahan bahan kimia pada Styrofoam (yang digunakan
sebagai wadah makanan) akan semakin cepat jika kadar
lemak (fat) dalam suatu makanan atau minuman semakin
tinggi. Makanan yang mengandung alkohol dan asam
(seperti lemon tea) juga dapat mempercepat laju
perpindahannya. Semakin panas makanan, semakin cepat
pula migrasi bahan kimianya.
Styrofoam juga berdampak buruk pada lingkungan.
Styrofoam tidak bisa diuraikan oleh alam dan akan
menumpuk begitu dan mencemari lingkungan. Bila terbawa
ke laut dapat merusak ekosistem dan biota laut. Styrofoam
hanya bisa didaur ulang, karena itu Styrofoam
dikategorikan sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5
terbesar di dunia. Bahkan pembuatannya saja menimnulkan
bau tak sedap yang mengganggu pernapasan dan
melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.
Bungkus yang biasanya untuk POP MIE gelas
Berbahaya Bagi Kesehatan
Mengapa styrofoam berbahaya? Styrofoam jadi berbahaya
karena terbuat dari butiran-butiran styrene, yang diprosese
dengan menggunakan benzana (alias benzene). Padahal
benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan banyak
penyakit.
Benzana bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid,
mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan
kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan
menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah.
Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan
hilang kesadaran dan kematian. Saat benzana termakan, dia
akan masuk ke sel-sel darah dan lama-kelamaan akan
merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi sel
darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia.
Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita
mudah terinfeksi. Pada wanita, zat ini berakibat buruk
terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan.
Dan yang paling berbahaya, zat ini bisa menyebabkan
kanker payudara dan kanker prostat.
Beberapa lembaga dunia seperti World Health
Organization’ s International Agency for Research on
Cancer dan EPA (Enviromental Protection Agency)
styrofoam telah dikategorikan sebagai bahan karsinogen
(bahan yang dapat menyebabkan kanker)
Buruk Bagi Lingkungan
Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam juga tak
ramah lingkungan. Karena tidak bisa diuraikan oleh alam,
styrofoam akan menumpuk begitu saja dan mencemari
lingkungan. Styrofoam yang terbawa ke laut, akan dapat
merusak ekosistem dan biota laut. Beberapa perusahaan
memang mendaur ulang styrofoam. Namun sebenarnya,
yang dilakukan hanya menghancurkan styrofoam lama,
membentuknya menjadi styrofoam baru dan
menggunakannya kembali menjadi wadah makanan dan
minuman.
Proses pembuatan styrofoam juga bisa mencemari
lingkungan.
Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986
menyebutkan, limbah berbahaya yang dihasilkan dari
proses pembuatan styrofoam sangat banyak. Hal itu
menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan
styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5
terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan styrofoam
menimbulkan bau yang tak sedap yang mengganggu
pernapasan dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.
Melihat sedemikian besar dampak negatif bagi kesehatan
dan lingkungan, beberapa kota di Amerika seperti Berkeley
dan Ohio telah melarang penggunaan styrofoam sebagai
kemasan makanan.
Bagaimana dengan kita di Indonesia, masih tetap mau
memakai styrofoam??













How to use Quote function: